IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN PROYEK IPAS

Print Friendly and PDF

IMPLEMENTASI MODEL PEMBELAJARAN PROJECT BASED LEARNING PADA MATA PELAJARAN PROYEK IPAS

Oleh : Deny Mariyana

Guru SMK Negeri 1 Pracimantoro, Wonogiri Jawa Tengah

Deny Mariyana


       Salah satu mata pelajaran yang muncul pada kurikulum merdeka adalah Proyek IPAS yang merupakan penggabungan dari ilmu sains dan sosial. Proyek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang makhluk hidup dan benda mati di alam semesta serta interaksinya, dan mengkaji kehidupan manusia sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya. Menurut Indayatmi (2022), mata pelajaran Proyek Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial ini berfungsi untuk membekali peserta didik agar mampu menyelesaikan permasalahan di kehidupan nyata pada abad 21 ini, yang berkaitan dengan fenomena alam dan sosial di sekitarnya secara ilmiah dengan menerapkan konsep sains.

       PjBL merupakan model pembelajaran yang menekankan belajar kontekstual melalui kegiatan-kegiatan kompleks, di mana peserta didik belajar dalam situasi problem nyata. Hal ini sesuai dengan prinsip yang mendasari pembelajaran berbasis proyek, yakni: pertama, pembelajaran berpusat pada peserta didik yang melibatkan tugas-tugas pada kehidupan nyata; kedua, tugas proyek menekankan pada kegiatan penelitian berdasarkan tema yang telah ditentukan; ketiga, penyelidikan dilakukan secara otentik dan menghasilkan produk nyata. Produk, laporan atau hasil karya tersebut selanjutnya dikomunikasikan untuk mendapat tanggapan dan umpan balik guna perbaikan proyek berikutnya.

       Pada materi makhluk hidup dan lingkungannya, sebagian besar peserta didik hanya dapat memahami secara definisi saja, sehingga konsep materi tersebut akan mudah hilang dari ingatan peserta didik. Melalui kegiatan proyek, dari mempersiapkan alat dan bahan, merancang percobaan, melakukan percobaan, melakukan pengamatan, menganalisa data, dan membuat kesimpulan sendiri, serta mengkomunikasikan hasil percobaan melalui presentasi, maka peserta didik dapat mengkonstruk dan memadukan antara pengalaman, pengetahuan dan pengamatan secara langsung. Pada pembelajaran proyek setidaknya terdapat tiga hal yang harus dinilai guru, penilaian kognitif, proyek, dan produk. Pada penilaian proyek setidaknya ada 3 hal yang perlu dipertimbangkan yaitu: pertama, kemampuan pengelolaan, yakni kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan; kedua, relevansi yakni kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan; ketiga, keaslian.

       Berdasarkan pengamatan selama dua kali kegiatan proyek, peserta didik telah menunjukkan kemampuan yang baik dalam menyelesaikannya. Hal tersebut dibuktikan dengan perolehan skor dengan rata-rata baik. Secara umum masing-masing kelompok telah mampu membuat rancangan proyek atas inisiatif mereka yang didukung dengan kemampuan menggunakan TIK yang cukup baik, menyiapkan alat/ bahan, menggunakan alat/ bahan, melakukan pengamatan dan analisis data, membuat laporan tertulis, dan mampu mempresentasikan data hasil pengamatan.

       Pada model PjBL ini peserta didik tidak hanya memahami konten, tetapi model PjBL ini juga dapat menumbuhkan keterampilan pada peserta didik bagaimana berperan di masyarakat. Beberapa keterampilan yang dapat tumbuh dari model PjBL ini diantaranya keterampilan komunikasi dan presentasi, keterampilan manajemen organisasi dan waktu, keterampilan penelitian dan penyelidikan, keterampilan penilaian diri dan refleksi, partisipasi kelompok dan kepemimpinan serta pemikiran kritis.



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top