Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat menjadi keynote speaker dalam program edukasi Kelas Demokrasi Goes to School di SMP Negeri 11 Surakarta, Selasa (20/10/2026).


    Astrid Widayani Dorong Pendidikan Demokrasi Sejak Dini, Pelajar Disiapkan Jadi Pemilih Berintegritas

    Surakarta - majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong penguatan pendidikan demokrasi sejak dini untuk membentuk generasi muda yang kritis, cerdas, dan bertanggung jawab. Pemahaman demokrasi perlu ditanamkan tidak hanya melalui pembelajaran teori, tetapi juga praktik dalam kehidupan sehari-hari, termasuk di lingkungan sekolah.

    Hal tersebut disampaikan Astrid saat menjadi keynote speaker dalam program edukasi Kelas Demokrasi Goes to School di SMP Negeri 11 Surakarta, Selasa (20/10/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu upaya meningkatkan pemahaman pelajar tentang demokrasi sekaligus mempersiapkan mereka menjadi pemilih pemula yang berintegritas pada Pemilu 2029.

    Astrid menjelaskan, sekolah merupakan ruang yang tepat untuk mengenalkan nilai-nilai demokrasi melalui pengalaman langsung. Berbagai kegiatan sederhana, seperti pemilihan ketua kelas dan ketua Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), dapat menjadi sarana pembelajaran demokrasi bagi para siswa.

    “Praktik demokrasi itu sangat dekat dengan kehidupan kalian. Mulai dari pemilihan ketua kelas hingga ketua OSIS, semuanya merupakan bentuk nyata bagaimana kita belajar berdemokrasi, menghargai perbedaan pendapat, dan menggunakan hak suara secara bijak,” ujarnya.

    Menurut Astrid, melalui praktik tersebut, pelajar dapat belajar menyampaikan aspirasi, menentukan pilihan secara bertanggung jawab, menghormati perbedaan pendapat, serta menerima hasil keputusan bersama. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi generasi muda ketika kelak terlibat dalam kehidupan demokrasi yang lebih luas.

    Selain memahami proses demokrasi, Astrid mengingatkan pentingnya kemampuan berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi digital. Pelajar perlu memiliki kecakapan untuk memilah informasi, memeriksa kebenaran berita, dan mengenali informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terpengaruh hoaks maupun informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat. Literasi digital, menurutnya, menjadi bagian penting dalam membangun sikap demokratis karena setiap warga negara perlu memiliki dasar informasi yang benar sebelum mengambil sikap atau menentukan pilihan.

    Program Kelas Demokrasi Goes to School tersebut turut menghadirkan narasumber dari Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Surakarta, perwakilan DPRD Kota Surakarta Yudha Sindhu Riyanto, serta perwakilan Masyarakat Antifitnah Indonesia (Mafindo).

    Para narasumber memberikan pemahaman kepada siswa mengenai prinsip-prinsip demokrasi, sistem pemerintahan daerah, serta pentingnya literasi digital dalam menyikapi informasi yang beredar di tengah masyarakat. Materi tersebut diharapkan membantu pelajar memahami hubungan antara demokrasi, penyelenggaraan pemerintahan, dan partisipasi warga negara.

    Astrid menjelaskan, pendidikan demokrasi sejak bangku sekolah merupakan investasi penting untuk membangun kehidupan demokrasi yang sehat. Pelajar tidak cukup hanya mengetahui hak sebagai warga negara, tetapi juga perlu memahami tanggung jawab dalam menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan berpartisipasi secara positif di lingkungan masyarakat.

    Menurutnya, sikap demokratis perlu tumbuh melalui kebiasaan sehari-hari. Menghargai pendapat teman, menyelesaikan perbedaan melalui musyawarah, serta menerima keputusan bersama merupakan contoh penerapan nilai demokrasi yang dapat dilakukan pelajar di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal.

    “Demokrasi harus berasal dari rakyat, untuk rakyat, dan kembali kepada rakyat. Dengan memahaminya sejak di bangku sekolah, kita sedang mempersiapkan generasi yang mampu menjaga proses demokrasi agar berjalan secara terbuka, jujur, dan berintegritas,” pungkasnya.

    Melalui kegiatan ini, pelajar diharapkan semakin memahami demokrasi sebagai bagian dari kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bekal pengetahuan, sikap kritis, serta tanggung jawab sosial diharapkan dapat mendorong mereka menjadi warga negara yang mampu menggunakan hak pilih secara bijak dan berkontribusi positif dalam menjaga kualitas demokrasi Indonesia.(Sofyan)


    Kegiatan Pendidikan dan Latihan Pengembangan Kepribadian bagi Lulusan Sarjana Periode II Tahun 2026, Selasa (20/10/2026). 


    Unisri Surakarta Bekali Calon Lulusan dengan Personal Branding dan Keterampilan Kerja

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta menggelar Pendidikan dan Latihan Pengembangan Kepribadian bagi Lulusan Sarjana Periode II Tahun 2026, Selasa (20/10/2026). Mengusung tema “Personal Branding and Work-Ready Skills for Gen Z Professionals”, kegiatan ini diikuti 962 calon lulusan sebagai upaya mempersiapkan generasi muda menghadapi persaingan dunia kerja melalui penguatan citra diri profesional, karakter, dan keterampilan kerja.

    Rektor Unisri Surakarta, Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd., saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan menjelaskan, pembekalan tersebut menjadi bagian penting dalam mempersiapkan mahasiswa memasuki lingkungan profesional. Selain kompetensi akademik, calon lulusan perlu memiliki karakter, kepribadian, serta penampilan yang baik agar mampu menyesuaikan diri dengan tuntutan dunia kerja.

    Ia berharap para peserta mengikuti seluruh rangkaian pembekalan dengan serius sehingga dapat memperoleh manfaat yang maksimal. Kesiapan memasuki dunia kerja tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis, tetapi juga sikap, perilaku, dan kemampuan membawa diri dalam lingkungan profesional.

    Rektor juga menyampaikan optimisme terhadap perkembangan Unisri, baik dari sisi kualitas dan jumlah mahasiswa maupun peningkatan sarana dan prasarana. Ia mengapresiasi dukungan pengurus yayasan dan seluruh pihak yang berkontribusi terhadap kemajuan universitas.


    Menurutnya, pengembangan institusi perlu terus dilakukan agar Unisri mampu menghasilkan lulusan berkualitas, berkarakter, dan memiliki daya saing dalam menghadapi perubahan zaman.

    Ketua Pelaksana, Sarafuddin, S.Pd., M.Pd., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung terselenggaranya kegiatan pembekalan calon lulusan tahun 2026. Ia menjelaskan, kegiatan tersebut dirancang untuk memperkuat kompetensi, karakter, kepercayaan diri, dan profesionalisme mahasiswa sebelum memasuki dunia kerja.

    “Pembekalan ini menjadi bagian dari upaya universitas mempersiapkan lulusan agar memiliki kompetensi dan karakter profesional dalam menghadapi perkembangan teknologi serta kebutuhan dunia usaha dan dunia industri,” ujarnya.

    Sarafuddin menjelaskan, sebanyak 962 calon lulusan mengikuti kegiatan tersebut dalam dua sesi. Sesi pertama diikuti 507 peserta, sedangkan sesi kedua berjumlah 455 peserta. Mereka berasal dari sejumlah fakultas dan program studi, meliputi Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Fakultas Teknologi, serta Fakultas Pertanian.

    Sesi pertama berlangsung pukul 07.10–12.10 WIB, sementara sesi kedua dijadwalkan pukul 12.55–16.55 WIB. Melalui pembekalan ini, peserta memperoleh materi mengenai persiapan memasuki dunia kerja, perkembangan dunia usaha dan industri, peran lembaga pengembangan karier dalam penyaluran alumni, serta penguatan keterampilan personal dan profesional.

    Ia berharap materi yang disampaikan para narasumber dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh calon lulusan untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan kesiapan menghadapi persaingan kerja, serta memberikan kontribusi positif bagi masyarakat dan bangsa.

    Ketua Yayasan Perguruan Slamet Riyadi, Nuroso Bambang Wasisto Utomo, dalam kesempatan tersebut menjelaskan pentingnya pembentukan karakter profesional bagi lulusan perguruan tinggi. Setelah menyelesaikan pendidikan, mahasiswa memiliki berbagai pilihan, mulai dari bekerja, merintis usaha, hingga melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

    Karena itu, lulusan perlu mempersiapkan diri dengan kompetensi yang memadai, sikap profesional, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan. Ia mengingatkan, dunia perkuliahan memiliki perbedaan dengan dunia industri, terutama dalam hal kedisiplinan, perilaku, komunikasi, dan tanggung jawab.

    Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini juga menjadi tantangan bagi lulusan yang ingin memasuki dunia kerja maupun membangun usaha. Oleh sebab itu, para lulusan perlu terus meningkatkan kemampuan diri, memahami kebutuhan pasar, dan memanfaatkan peluang yang tersedia. Bagi mereka yang ingin merintis usaha, pertimbangan terhadap kondisi dan kemampuan diri menjadi hal penting sebelum mengambil keputusan.

    Nuroso juga menyampaikan komitmen yayasan untuk terus mengembangkan lembaga pendidikan melalui peningkatan kualitas, perluasan pasar, serta pembukaan program studi baru, termasuk jenjang magister (S-2). 

    "Pengembangan ini diharapkan dapat meningkatkan daya saing institusi sekaligus memperluas kesempatan masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi," tuturnya.

    Ia berharap para lulusan tetap menjaga hubungan baik dengan almamater dan terus mengembangkan diri setelah menyelesaikan pendidikan. Seiring perkembangan lembaga, peluang untuk berkarier di lingkungan yayasan juga diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan bagi lulusan yang memiliki kompetensi sesuai kebutuhan.

    Sementara itu, Manager PT Mandom Indonesia, Nurhidayati, mengapresiasi kerja sama dengan Unisri Surakarta yang telah berlangsung selama sepuluh tahun. 

    “Selama sepuluh tahun, kami melihat perkembangan yang luar biasa. Dari yang awalnya sekitar 100 peserta, sekarang jumlahnya mencapai hampir 1.000 orang. Kami tidak menyangka kegiatan ini dapat berkembang sebesar sekarang,” ungkapnya.

    Dalam sesi pembekalan bertema Personality Excellence, Nurhidayati menjelaskan pentingnya membangun personal branding sebagai salah satu faktor pendukung daya saing lulusan di dunia kerja. Menurutnya, citra diri profesional perlu dijaga, termasuk melalui aktivitas di media sosial yang kini menjadi salah satu ruang bagi perusahaan untuk mengenal calon karyawan.

    Ia mengingatkan mahasiswa agar lebih bijak dalam mengunggah konten di media sosial. Unggahan yang memberikan kesan negatif dapat memengaruhi penilaian perekrut atau human resources department (HRD) terhadap calon karyawan. Karena itu, mahasiswa perlu membangun citra diri yang positif, menunjukkan sikap profesional, dan menjaga reputasi digital.

    Selain personal branding, Nurhidayati juga mendorong calon lulusan untuk memperhatikan penampilan, meningkatkan kepercayaan diri, dan melatih kemampuan berkomunikasi. Keterampilan tersebut dibutuhkan ketika menghadapi proses seleksi kerja, termasuk wawancara dengan perusahaan.

    Ia juga mengingatkan para peserta agar tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Penolakan dalam proses melamar pekerjaan maupun tantangan saat merintis usaha perlu dijadikan pengalaman untuk memperbaiki diri dan mencoba kembali dengan persiapan yang lebih baik.

    Nurhidayati mengapresiasi Unisri yang telah memberikan pembekalan kepada mahasiswa melalui penguatan keterampilan teknis (hard skill) dan keterampilan interpersonal (soft skill). Menurutnya, keseimbangan kedua kemampuan tersebut menjadi modal penting bagi lulusan untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.

    Melalui kegiatan Pendidikan dan Latihan Pengembangan Kepribadian ini, Unisri Surakarta berharap para calon lulusan tidak hanya memiliki bekal akademik, tetapi juga mampu membangun citra diri profesional, menunjukkan karakter yang baik, serta mengembangkan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan persiapan tersebut, lulusan diharapkan lebih percaya diri dalam memasuki dunia kerja, merintis usaha, maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. (Sofyan)


    Baca juga: 82 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Membatik Langsung di Kampung Batik Laweyan

    Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani apresiasi terhadap kreativitas dan prestasi Rangga.


    Kunjungi Rumah Siswa SLB YRTRW Berprestasi, Astrid Widayani Apresiasi Karya Seni Rangga

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengunjungi rumah Christophorus Rangga Arsa Wijaya, siswa SLB YRTRW Surakarta yang berprestasi di bidang seni, Senin (19/10/2026). Kunjungan tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan prestasi Rangga sekaligus mendorong terciptanya lingkungan yang semakin inklusif bagi penyandang disabilitas.

    Dalam kunjungan tersebut, Astrid melihat secara langsung beragam karya seni yang dihasilkan Rangga. Karya-karya itu meliputi lukisan di atas kanvas, lukisan pada caping dan kaus, hingga karya membatik. Astrid juga menyaksikan deretan piala dan penghargaan yang telah diraih Rangga melalui berbagai kompetisi seni.

    Astrid mengatakan, dirinya telah beberapa kali bertemu Rangga dalam berbagai kegiatan. Namun, kunjungan langsung ke rumah Rangga memberikan kesempatan baginya untuk mengenal lebih dekat kreativitas, karya, serta perjalanan prestasi siswa tunarungu tersebut.

    “Saya sebelumnya sudah beberapa kali bertemu Rangga di berbagai kegiatan. Hari ini saya berkesempatan datang langsung ke rumahnya dan ternyata karya-karyanya banyak sekali. Bukan hanya melukis di kanvas, tetapi juga di caping, kaus, bahkan membatik. Piala dan prestasinya juga banyak. Ini luar biasa dan membuat saya semakin mengapresiasi bakat yang dimiliki Rangga,” ujar Astrid.

    Rangga merupakan siswa tunarungu yang mampu mengembangkan bakat seni hingga meraih prestasi di tingkat daerah maupun nasional. Salah satu pencapaiannya diraih dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) 2024. Rangga berhasil meraih juara II kategori Melukis SDLB tingkat Provinsi Jawa Tengah dan peringkat III di tingkat nasional.

    Sebelumnya, Rangga juga meraih juara II lomba menggambar dan mewarnai dalam rangka Milad ke-3 RSGM Soelastri pada 2021. Berbagai pencapaian tersebut menunjukkan konsistensi Rangga dalam mengembangkan kemampuan seni sekaligus membuktikan potensinya untuk berkompetisi dan berprestasi.

    Menurut Astrid, perjalanan Rangga menjadi inspirasi bagi masyarakat, khususnya para orang tua yang mendampingi anak-anak dengan beragam kebutuhan dan kemampuan. Setiap anak memiliki potensi yang berbeda sehingga perlu mendapatkan dukungan, bimbingan, serta kesempatan untuk mengembangkan bakatnya.

    “Rangga memberikan inspirasi bagi kita semua, terutama bagi para orang tua yang sedang mendampingi anak-anaknya. Dengan dukungan dan bimbingan yang tepat, anak-anak bisa tumbuh, berkembang, dan meraih prestasi meskipun memiliki keterbatasan. Setiap anak punya potensi masing-masing, dan tugas kita adalah membantu mereka menemukan serta mengembangkannya,” ungkapnya.

    Astrid menjelaskan, perhatian terhadap penyandang disabilitas perlu diwujudkan melalui kesempatan nyata untuk berkarya, berpartisipasi, dan menunjukkan kemampuan di tengah masyarakat. Dukungan tidak cukup hanya berupa apresiasi, tetapi juga perlu diwujudkan dengan membuka akses yang memungkinkan penyandang disabilitas mengembangkan potensi dan berkontribusi sesuai dengan kemampuannya.

    Pemerintah Kota Surakarta terus mendorong terciptanya lingkungan yang inklusif agar penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam berbagai bidang kehidupan. Melalui dukungan tersebut, anak-anak penyandang disabilitas diharapkan semakin percaya diri untuk mengembangkan kemampuan, meningkatkan kemandirian, serta meraih prestasi.

    Astrid juga membuka peluang agar karya-karya Rangga dapat diperkenalkan kepada masyarakat yang lebih luas melalui berbagai kegiatan Pemerintah Kota Surakarta. Kesempatan untuk memamerkan karya di ruang publik diharapkan dapat memperluas apresiasi masyarakat terhadap kreativitas Rangga sekaligus memberikan motivasi untuk terus berkarya.

    “Ke depan, kami berharap karya-karya Rangga bisa mendapat ruang untuk dipamerkan dalam kegiatan Pemkot Surakarta. Saya ingin masyarakat juga bisa melihat langsung hasil karya dan kreativitasnya. Semoga ini menjadi penyemangat bagi Rangga untuk terus berkarya sekaligus menginspirasi anak-anak lain dan para orang tua bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk sukses,” pungkas Astrid.

    Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mengajak masyarakat semakin menghargai potensi penyandang disabilitas. Prestasi Rangga memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan lingkungan masyarakat dalam menciptakan ruang tumbuh yang mendukung perkembangan bakat anak.

    Dengan dukungan yang berkelanjutan dan kesempatan yang terbuka, anak-anak penyandang disabilitas diharapkan dapat terus mengembangkan kreativitas, meningkatkan kemandirian, serta meraih prestasi di berbagai bidang. Karya-karya Rangga pun diharapkan tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk melihat kemampuan setiap anak dari potensi yang dimilikinya. (Sofyan)


    Baca juga: Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Luncurkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) untuk Tingkatkan Kompetensi Literasi bagi Mahasiswa, Guru, Dosen, Penggiat Literasi, dan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah Berbasis Literasi Kasus dan Proyek Nusantara


    Siswa dan guru pendamping saat kegiatan outing class.

    Siswa SMA Veteran 1 Sukoharjo Ikuti Outing Class ke Bali, Perkuat Pembelajaran Berbasis Pengalaman

    Sukoharjo - majalahlarise.com – Sebanyak 171 siswa kelas XI SMA Veteran 1 Sukoharjo mengikuti kegiatan outing class ke Bali selama lima hari, mulai Senin, 12 Oktober, hingga Jumat pagi, 16 Oktober. Kegiatan rutin tahunan sekolah ini bertujuan memperluas wawasan siswa melalui pembelajaran langsung di lapangan, mengenal sejarah dan kebudayaan, serta melatih keterampilan mengumpulkan dan mengolah data sebagai bahan penyusunan karya tulis ilmiah.

    Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Veteran 1 Sukoharjo, Drs. Sukino, menjelaskan outing class menjadi salah satu sarana pembelajaran berbasis pengalaman yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengamati secara langsung berbagai objek sesuai materi pembelajaran.

    “Outing class ini merupakan program rutin tahunan sekolah yang diikuti siswa kelas XI. Tujuannya memperluas pemahaman siswa terhadap materi pembelajaran melalui pengamatan langsung di lapangan. Selain itu, kegiatan ini menjadi latihan bagi siswa dalam mengumpulkan dan mengolah data untuk menyusun karya tulis ilmiah,” jelas Sukino.


    Selama kegiatan berlangsung, siswa mendapatkan pendampingan dari bapak dan ibu wali kelas. Para guru bertugas membimbing siswa dalam proses pengumpulan data, melakukan pengamatan terhadap objek yang dikunjungi, hingga mengolah informasi sebagai bahan penyusunan karya tulis. Dengan demikian, kegiatan di luar kelas tidak hanya menjadi pengalaman wisata, tetapi juga bagian dari proses pembelajaran yang terarah.

    Sukino menambahkan, outing class juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengenal lebih dekat sejarah, budaya, dan adat istiadat masyarakat Bali. Berbagai aspek kehidupan masyarakat menjadi bahan pembelajaran, mulai dari nilai-nilai religi, seni lukis, seni tari, hingga tradisi yang masih dijaga oleh masyarakat setempat.

    Melalui pengamatan langsung, siswa diajak memahami keberagaman budaya Indonesia sekaligus mengenali perbedaan lingkungan sosial antara masyarakat Bali dan Jawa. Perbedaan adat istiadat serta penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian dari pengalaman yang dapat memperkaya pengetahuan dan membangun sikap saling menghargai.


    Sejumlah destinasi dipilih untuk menunjang tujuan pembelajaran tersebut. Rombongan mengunjungi Istana Kepresidenan Tampaksiring untuk mengenal nilai sejarah, serta Garuda Wisnu Kencana (GWK) untuk mempelajari seni dan kebudayaan Bali. Siswa juga mengunjungi Pantai Pandawa dan Pantai Kuta guna mengamati lingkungan alam dan potensi wisata daerah.

    Selain destinasi sejarah, budaya, dan alam, siswa diajak mengunjungi pusat perbelanjaan untuk mengamati aktivitas ekonomi dan kehidupan masyarakat setempat. Pengalaman tersebut diharapkan membantu siswa memahami berbagai aspek kehidupan masyarakat secara lebih nyata, sekaligus menjadi bahan pengamatan yang dapat dikembangkan dalam karya tulis ilmiah.

    Dalam pelaksanaannya, rombongan menggunakan empat bus dengan dukungan biro perjalanan Puspita Tour. Kerja sama dengan biro perjalanan tersebut telah terjalin sejak SMA Veteran 1 Sukoharjo berdiri. Selama lima hari kegiatan, perjalanan rombongan berlangsung lancar tanpa kendala berarti.

    Kegiatan outing class ini menjadi bagian dari program pendidikan SMA Veteran 1 Sukoharjo yang mendapat dukungan Kepala Sekolah Koyem, S.Pd., M.Si. Sekolah berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan wawasan siswa, mengembangkan keterampilan penelitian sederhana, serta memberikan pengalaman belajar yang lebih beragam di luar lingkungan sekolah.

    Kebersamaan selama perjalanan juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk mempererat hubungan antarteman, membangun kerja sama, dan belajar bertanggung jawab dalam menyelesaikan tugas kelompok. 

    "Dengan pendampingan guru, pengalaman selama outing class diharapkan dapat menjadi bekal bagi siswa dalam mengembangkan kemampuan akademik sekaligus memahami keberagaman budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia," tuturnya. (Sofyan)


    Baca juga: Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Luncurkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) untuk Tingkatkan Kompetensi Literasi bagi Mahasiswa, Guru, Dosen, Penggiat Literasi, dan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah Berbasis Literasi Kasus dan Proyek Nusantara

    Murid kelas II SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti pembelajaran luar kelas (outing class) di Batik Puspita Mekar, Kampung Batik Laweyan, Solo.


    82 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Membatik Langsung di Kampung Batik Laweyan

    SOLO – majalahlarise.com – Sebanyak 82 murid kelas II SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti pembelajaran luar kelas (outing class) di Batik Puspita Mekar, Kampung Batik Laweyan, Solo, Kamis (15/10/2026). Melalui kegiatan bertema “The Color of Nusantara: The Joy of Learning Batik”, para murid diajak mengenal warisan budaya leluhur sekaligus mempraktikkan seni membatik secara langsung.

    Kegiatan ini dirancang untuk memperkaya pengalaman belajar murid, khususnya dalam pembelajaran seni rupa, melalui pengenalan ragam hias, teknik pewarnaan, serta proses pembuatan batik. Dengan terlibat langsung dalam setiap tahapan, murid diharapkan mampu mengembangkan kreativitas sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap budaya tradisional Indonesia sejak dini.

    Guru Seni Rupa Kelas II, Retno Indriyanti, menjelaskan kegiatan outing class dilaksanakan secara berkala setiap semester untuk menghadirkan pengalaman belajar kontekstual yang dekat dengan kehidupan nyata.

    “Kegiatan ini sangat bermanfaat untuk memperkaya pemahaman murid terkait materi ragam hias dan teknik pewarnaan dalam pembelajaran seni rupa, serta memberikan pengalaman langsung praktik membatik. Melalui langkah ini, kami berharap dapat menumbuhkan kreativitas sekaligus memperkuat kecintaan anak-anak terhadap budaya tradisional Indonesia,” ujar Retno.

    Menurutnya, pembelajaran di luar kelas memberikan kesempatan kepada murid untuk tidak hanya memahami materi melalui penjelasan guru, tetapi juga mencoba sendiri proses berkarya. Pengalaman tersebut menjadi sarana untuk melatih keterampilan, ketelitian, dan keberanian bereksplorasi dalam menghasilkan karya seni.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan pengenalan sejarah dan filosofi batik oleh pengelola Batik Puspita Mekar, Ferry Soeka Rochmadi. Di hadapan para murid, Ferry menceritakan perjalanan Batik Puspita Mekar yang berdiri sejak 1998 sekaligus menjelaskan pentingnya menjaga kelestarian warisan budaya lokal.

    Ferry mengajak para murid memahami batik bukan sekadar kain bermotif, melainkan bagian dari kekayaan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan filosofi. Pengenalan sejak usia sekolah dasar diharapkan menjadi langkah awal untuk menumbuhkan kesadaran generasi muda dalam merawat tradisi membatik.

    “Membatik harus dilestarikan, khususnya oleh generasi muda seperti murid SD PK, agar mereka memahami nilai filosofisnya. Proses awal pembuatan batik dimulai dari teknik mengecap. Jika proses pengecapannya tepat, maka hasil pewarnaannya pun akan semakin optimal,” jelas Ferry.

    Penjelasan tersebut menjadi bekal bagi para murid sebelum memasuki praktik membatik. Mereka memperoleh gambaran mengenai pentingnya ketepatan dalam setiap tahapan pembuatan batik, mulai dari membentuk motif hingga menghasilkan warna yang menarik.

    Memasuki kegiatan inti, para murid dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang terdiri atas murid laki-laki dan perempuan. Setiap murid mendapatkan kesempatan mencoba teknik batik cap menggunakan canting cap berbahan tembaga dan kain mori berukuran 30 x 30 sentimeter.

    Dengan arahan pendamping, para murid membubuhkan malam atau lilin batik pada kain menggunakan alat cap. Mereka belajar menempatkan alat secara tepat agar motif terbentuk dengan rapi dan malam dapat melekat dengan baik pada permukaan kain.

    Pengalaman tersebut menghadirkan tantangan tersendiri bagi anak-anak. Mereka perlu memperhatikan posisi alat, tekanan saat mengecap, serta ketepatan proses agar motif yang dihasilkan sesuai dengan harapan.

    Setelah tahap pengecapan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan proses pewarnaan. Para murid diberi kebebasan mengombinasikan empat warna, yakni hijau, kuning, biru, dan merah, sesuai kreativitas masing-masing.

    Perpaduan warna menjadi bagian yang paling menarik karena setiap murid dapat mengeksplorasi pilihan warna untuk menghasilkan karya dengan karakter berbeda. Mereka juga menyaksikan secara langsung bagaimana warna meresap dan menyebar pada kain.

    Tahapan berikutnya meliputi penjemuran dan pencelupan dalam larutan natrium klorida (NaCl) sesuai proses yang diterapkan dalam kegiatan tersebut untuk membantu mempertahankan warna kain. Hasil karya para murid dijadwalkan dikirimkan kembali ke sekolah dalam waktu sepekan agar proses pewarnaan dapat dipastikan mencapai hasil yang maksimal.

    Salah satu murid kelas II, Davis Rizky Pramana, mengaku senang mengikuti kegiatan membatik yang menjadi pengalaman pertamanya menggunakan canting cap tembaga dan malam.

    “Ini pengalaman pertamaku membatik menggunakan canting cap tembaga dan malam. Kegiatan ini cukup menantang namun sangat menyenangkan. Saat proses pewarnaan, aku merasa takjub melihat warna dapat menyebar secara indah di atas kain,” ungkap Davis.

    Pengalaman Davis menggambarkan pembelajaran seni yang tidak hanya berorientasi pada hasil karya, tetapi juga memberikan ruang bagi murid untuk merasakan proses, menghadapi tantangan, dan menemukan kegembiraan ketika mencoba keterampilan baru.

    Melalui kegiatan outing class di Kampung Batik Laweyan, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo berupaya menghadirkan pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan di sekolah dengan kekayaan budaya di lingkungan sekitar.

    Praktik membatik memberikan kesempatan kepada murid untuk mengenal salah satu warisan budaya Indonesia melalui pengalaman langsung. Selain mengasah kreativitas dan keterampilan seni rupa, kegiatan ini juga melatih ketelitian, kesabaran, serta penghargaan terhadap proses pembuatan karya.

    Sekolah berkomitmen untuk terus menghadirkan pengalaman belajar yang mendorong murid tumbuh menjadi generasi kreatif dan inovatif sekaligus memiliki kepedulian terhadap pelestarian budaya Nusantara.

    Pengenalan batik sejak dini diharapkan menjadi fondasi bagi tumbuhnya generasi penerus yang tidak hanya mengenal kekayaan budaya bangsanya, tetapi juga memiliki keinginan untuk menjaga dan meneruskannya kepada generasi berikutnya. (Sofyan)


    Baca juga: Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Luncurkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) untuk Tingkatkan Kompetensi Literasi bagi Mahasiswa, Guru, Dosen, Penggiat Literasi, dan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah Berbasis Literasi Kasus dan Proyek Nusantara

    Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Luncurkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) untuk Tingkatkan  Kompetensi Literasi bagi Mahasiswa, Guru, Dosen, Penggiat Literasi, dan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah Berbasis Literasi Kasus dan Proyek Nusantara


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

    Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik

    Dosen PBSI FKIP UNS, Pendiri, Penggiat Literasi Arfzh Ratulisa, dan Komunitas DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa




    "Kala kabut menyelimuti nusantara, ruang gerak dan cerita baik akan terus menjadi pemantik ide dan gagasan mulia sebagai wujud nyata berliterasi Ratulisa (rajin menulis & membaca) untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat"


    Komunitas Diklisa (Dialog Pendidikan  Literasi, Bahasa, dan Sastra) dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa telah meluncurkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) berkolabaorasi dengan mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan masyarkat di Provinsi Sulawesi Tengah. Kegiatan tersebut dilaksanakan dengan tujuan untuk mendukung gerakan literasi nasional dan untuk implementasikan pembelajaran bahasa Indonesia berbasis kasus dan proyek literasi nusantara. Kegiatan tersebut dilaksanakan sejak tgl 12 -19 Oktober 2026 yang dilaksakan dengam moda daring, luring, dan analisis  kasus secara mendalam, kritis, dan tugas proyek mandiri untuk berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca). Kegiatan tersebut mendapatkan fasilitas seminar kit, 3 buku cetak, dan 11 buku versi digital sebagai sumber literasi untuk menghasilkan satu tulisan sebagai luaran kegiatan yang akan diterbitkan menjadi tulisan bersama dalam Buku Diklisa#8 yang diterbitkan oleh Penerbit Yuma Pustaka Surakarta berkerja sama dengan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas Diklisa.

    Semua peserta kegiatan  pendidikan dan pelatihan (Diklat) GLN serta seminar mengikuti dengan sangat antusias, interaktif, dan kritis dalam berdiskusi untuk menyampaikan pendapat dan gagasan kritisnya. Hal ini tampak dalam giat dengan moda luring, Sabtu,  17 Oktober 2026 yang dilaksanakan di Aula FKIP UNTAD berkolaborasi dengan Unit Akreditasi Nasional dan Internasional LPPMP UNS, Laboratorium Bahasa FKIP UNTAD, Prodi PBSI FKIP UNTAD, Penerbit Yuma Pustaka, Penerbit Bumi Aksara, Lembaga Lolodolina Palu, MGMP Bahasa Indonesia Kota Palu, Keluarga Alumni PBSI FKIP UNTAD, Fakultas Sastra Universitas AlKhairaat (UNISA), Penggadean, UIN Kota Palu, guru-guru, dosen, penggiat literasi, mahasiswa, dan masyarakat di Sulawesi Tengah. 

    Kegiatan diklat dan seminar dalam rangka peningkatan kompetensi literasi nusantara digital dan nondigital untuk mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan Masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah diawali pengantar oleh Ketua Panitia Seminar sekaligus Ketua Laboratorium FKIP UNTAD, Dr. Ulinsa, M.Hum. kemudian dibuka oleh Dekan FKIP UNTAD, Dr. Jamaludin, M.Si. yang disampaikan oleh Wakil Dekan bidang akademik, Prof. Dr. Sahrul Saehana, M.Si yang didampingi Wakil Dekan bidang keuangan, Dr. Darsikin, M.Si.. Kegiatan GLN telah berjalan sangat lancar, menyenangkan, dan membahagiakan semua peserta yang hadir dalam giat tersebut karena diawali dengan penampilan tiga siswa SMP N Palu bimbingan Pak Haji Rasyid dan Pak Supriyadi untuk menampilkan tari selamat datang dengan khas lagu daerah Sulawesi Tengah.  Dalam giat tersebut dihadirkan narasumber  Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, M. Hum sekaligus sebagai pendiri dan penggiat Komunitas Diklisa dan LeGmbaga Literasi Arfuzh Ratulisa. 

    Kolaborasi mahasiswa dan dosen PBSI FKIP UNTAD dalam Gerakan Literasi Nusantara (GLN) Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa (Foto koleksi DKOmunitas Diklisa).


    Fokus utama dalam giat tersebut, Rohmadi menegaskan "Guru, dosen, mahasiswa, penggiat literasi, masyarakat abad XXI harus memiliki 3 modal utama, yaitu: (1) niatkan menjadi guru, dosen, mahasiswa, penggiat literasi Ratulisa dan Komunitas Diklisa untuk beribadah; (2) teruslah belajar  dan berliterasi Ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang hayat; dan (3) doakan orang tua, guru, dosen, pemimpin, teman sejawat, murid-murid, mahasiswa, sanak famili, handai taulan, dan seluruh masyarakat Indonesia agar sukses dan bahagia dunia akhirat". Selain itu, Rohmadi juga mengajak mahasiswa, guru, dan dosen, penggiat literasi, dan Masyarakat Sulawesi Tengah untuk terus bergerak  dan menggerakkan secara aktif, kreatif, inovatif, dan produktif pembelajaran bahasa Indonesia dengan berbasis kasus dan proyek di kelas, luar kelas, digital, dan nondigital  serta menghasilkan proyek yang komprehensif merujuk pada aneka kasus yang dianalisis secara kritis dan mendalam. Hal ini dalam rangka untuk mendukung implementasi pembelajaran berbasis metode pembelajaran mendalam (deep learning) di sekolah dasar dan menengah serta pembelajaran berbasis kasus dam proyek di perguruan tinggi. 

    Narasumber, Muhammad Rohmadi juga memberikan ice breaking “Senam KOLISA (Konsentrasi Literasi Diklisa)” dan semangat untuk selalu cinta dan bangga pada bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan seluruh masyarakat Indoensia. Semangat dan yel-yel yang diberikan Rohmadi yaitu: “Aku cinta bahasa Indonesia; Aku banga bahasa Indonesia; Bahasa Indonesia luar biasa. Dalam giat tersebut  dibahas dan didiskusikan aneka kasus pembelajaran  yang terjadi di Sekolah Islam Terpadu, sekolah satu atap, SMP, MTs, SMA, SMK, dan perguruan tinggi secara komprehensif. Beberapa diskusi dan pertanyaan disampaikan oleh beberapa dosen PBSI UNTAD, yaitu Dr. Syamsudin, M.Pd., Dr. Juniati, M. Pd. Yang mendukung program Gerakan Literasi Nusantara Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa. Selain itu, ada juga guru SMP Islam Terpadu, Mutmainah, M. Pd., Melati, S. Pd. yang mendeksripsikan dan menanyakan aneka kasus pembelajaran dan literasi Ratulisa bagi para muridnya. Diskusi yang sangat aktif dan kritis untuk membahas aneka kasus pembelajaran era digital yang dipantik oleh Masrin sebagai moderator giat Diklisa dalam rangka Bulan Bahasa, yang akan diperingati tanggal 28 Oktober 2026. 


    Kolaborasi Dekan, Wakil Dekan Bidang Akademik, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Koordinator Komunias Diklisa, mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan Masyarakat Sulawesi Tengah saat berpartisipasi dan menggaungkan peluncuran Gerakan Literasi Nusantara (GLN) Komunitas DIKLISA dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa. (Foto: dokumen pribadi Komunitas Diklisa)


    Akhirnya, giat tersebut ditutup oleh narasumber, Muhammad Rohmadi yang saat ini sebagai pengajar di Program Stusi PBSI FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta dengan mengajak dan  meyakinkan kepada mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi di Sulawesi Tengah untuk terus bergerak dan menggerakkan murid dan mahasiswanya untuk terus berliterasi dengan ratulisa, bersama Komunitas Diklisa dengan ikut berpartisipasi aktif dalam melancarkan Gerakan Literasi Nusantara (GLN) sehingga ke depan akan menjadi sosok guru dan dosen abad XXI yang selalu dirindukan oleh umat sepanjang hayat karena ilmu, amal, dan karya nyata bersama Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas Diklisa. Pesan Muhammad Rohmadi kepada seluruh mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan seluruh masyarakat di Indonesia, "Teruslah berliterasi dengan Ratulisa bersama Komunitas Diklisa. Membacalah untuk menulis dan menulislah untuk dibaca umat sepanjang hayat"

    Puncak giat peluncuran GLN dan Peningkatan Kompetensi Literasi Digital dan Nondigital Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dalam rangka memeringati bulan bahasa akhirnya telah dilaksanakan dengan lancar, sukses, maslahat, dan berkah sehingga dapat menghasilkan satu karya bersama Book  Chapter DIKLISA#8 sebagai wujud implementasi pembelajaran berbasis kasus dan proyek DIKLAT dan Seminar Peningkatan Kompetensi Literasi Nusantara yang diadakan oleh Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Ratulisa bersama semua panitia, peserta, Komunias Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Provinsi Sulawesi Tengah, yang terdiri atas mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi Ratulisa, dan masyarakat Provinsi Sulawesi Tengah. 


    "Gerakan literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) merupakan upaya nyata Komunitas Diklisa dan Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa untuk ikut serta mencerdaskan, membelajarkan, dan mengantarkan seluruh masyarakat Indonesia untuk terus bersilaturahmi, berliterasi ratulisa, berbagi cerita baik, dan berbahagia sepanjang masa"


    Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa, Palu, 18 Oktober 2026



    Tim Memoria HIMA DKV ISI Surakarta Lolos Abdidaya 2026, Siap Bersaing di Tingkat Nasional

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Himpunan Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (HIMA DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta kembali menorehkan prestasi melalui Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) 2026. Tim Memoria berhasil lolos sebagai peserta Abdidaya 2026 melalui program MEMORIA (Memory Exploration and Multimedia Record of Intangible Assets) yang mengembangkan Kampoeng Batik Laweyan menuju Living Heritage Museum berbasis wisata edukasi budaya.

    Keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri bagi ISI Surakarta. Tim Memoria tercatat sebagai satu-satunya organisasi mahasiswa tingkat program studi dari ISI Surakarta yang lolos dan mewakili institusi dalam ajang nasional yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek).

    Kelolosan Tim Memoria diumumkan pada 5 Oktober 2026 setelah melalui serangkaian program pemberdayaan masyarakat yang memadukan seni, budaya, dan teknologi. Tim ini selanjutnya akan berkompetisi bersama organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam Abdidaya 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 21–25 Oktober 2026 di Universitas Muslim Indonesia, Makassar, Sulawesi Selatan.

    Program MEMORIA mengusung pengembangan Kampoeng Batik Laweyan sebagai Living Heritage Museum, yakni destinasi wisata budaya yang mengintegrasikan pelestarian sejarah, warisan budaya, media multimedia, dan wisata edukasi. Program ini dirancang untuk memperkuat identitas kawasan Laweyan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah dan budaya melalui pendekatan kreatif dan inovatif.

    Dalam pelaksanaannya, Tim Memoria melibatkan berbagai mitra, di antaranya Forum Kampoeng Batik Laweyan (FBKL), komunitas, serta pemangku kepentingan di wilayah Kota Surakarta. Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun program pemberdayaan yang tidak hanya berorientasi pada pelestarian warisan budaya, tetapi juga mendukung pengembangan potensi wisata edukasi di kawasan Laweyan.

    Ketua Tim PPK Ormawa DKV ISI Surakarta, Rafifah Hafidha Putri Rashikhah, menjelaskan program Memoria dirancang sebagai bentuk apresiasi terhadap potensi sejarah dan budaya Kampoeng Batik Laweyan melalui pengembangan destinasi wisata berbasis edukasi.

    “Tim Memoria PPK Ormawa HIMA DKVISKA ini dirancang sebagai bentuk apresiasi atas program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan Kampoeng Batik Laweyan sebagai Living Heritage Museum, yaitu destinasi wisata budaya berbasis edukasi melalui pelestarian sejarah dan warisan budaya yang telah diperkuat dengan peluncuran museum kawasan dan desa wisata edukasi budaya,” jelas Rafifah.

    Menurutnya, integrasi seni, budaya, dan teknologi menjadi pendekatan penting untuk memperkenalkan warisan budaya kepada masyarakat secara lebih menarik. Pemanfaatan multimedia diharapkan mampu membantu mendokumentasikan, menyampaikan, dan memperluas jangkauan informasi mengenai sejarah serta kekayaan budaya Laweyan.

    Keberhasilan Tim Memoria lolos ke tingkat nasional juga memperpanjang capaian HIMA DKV ISI Surakarta dalam mengikuti ajang Abdidaya pada tahun-tahun sebelumnya. Konsistensi tersebut menunjukkan komitmen mahasiswa dalam mengembangkan program pengabdian yang menghubungkan kompetensi akademik dengan kebutuhan masyarakat.

    Dosen pembimbing Tim Memoria, Ipung Kurniawan Yunianto, menyampaikan keberhasilan tersebut mencerminkan karakter ISI Surakarta sebagai institusi pendidikan tinggi seni yang berupaya memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui kreativitas dan inovasi.

    “Tim kami menampilkan praktik terbaik yang sesuai dengan keahlian kami. Ini adalah representasi bagaimana seni dan budaya bisa memberikan kontribusi positif dan membangun peradaban,” jelas Ipung.

    Partisipasi dalam Abdidaya 2026 menjadi kesempatan bagi Tim Memoria untuk menunjukkan hasil pengembangan program sekaligus memperluas jejaring kolaborasi dengan mahasiswa, perguruan tinggi, dan mitra pemberdayaan masyarakat dari berbagai daerah.

    Melalui program MEMORIA, HIMA DKV ISI Surakarta berharap pelestarian warisan budaya dapat berjalan beriringan dengan inovasi teknologi dan pengembangan pariwisata edukatif. Pengembangan Kampoeng Batik Laweyan sebagai Living Heritage Museum diharapkan menjadi contoh pemanfaatan keilmuan desain komunikasi visual untuk mendukung keberlanjutan budaya sekaligus meningkatkan nilai edukasi dan daya tarik destinasi wisata.

    Dengan capaian tersebut, Tim Memoria siap membawa nama ISI Surakarta dalam kompetisi nasional Abdidaya 2026, sekaligus menunjukkan peran mahasiswa dalam menjaga warisan budaya dan menghadirkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.(Sofyan)


    Baca juga: Astrid Widayani Dorong Budaya Literasi di Solo, Perpustakaan Keliling Hadirkan Lapak Baca Gratis di Sriwedari

⬆
Top