GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Prestasi
![]() |
| Dhimas Pandu Aji Aryanata berhasil meraih Juara II Lomba Nembang Macapat dan Alexander Arrondya Iswara Bumi meraih Juara II pada Lomba Maca Geguritan. |
Prestasi FTBI 2026, SMP Negeri 8 Kota Surakarta Raih Juara II Nembang Macapat dan Geguritan
Surakarta - majalahlarise.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan peserta didik SMP Negeri 8 Kota Surakarta melalui ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SMP Tingkat Kota Surakarta Tahun 2026.
Dalam ajang tersebut, SMP Negeri 8 Kota Surakarta berhasil meraih dua Juara II. Prestasi tersebut diraih melalui cabang Lomba Nembang Macapat dan Lomba Maca Geguritan.
Pada Lomba Nembang Macapat yang berlangsung 20 Agustus 2026 di Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dhimas Pandu Aji Aryanata berhasil meraih Juara II. Sementara itu, Alexander Arrondya Iswara Bumi meraih Juara II pada Lomba Maca Geguritan yang dilaksanakan 24 Agustus 2026 di tempat yang sama.
Kedua peserta didik tersebut mengikuti perlombaan dengan bimbingan Sri Murwani, S.Pd. Persiapan dan latihan yang dilakukan mampu mengantarkan Dhimas dan Alexander menunjukkan kemampuan terbaik dalam bidang bahasa dan seni budaya Jawa.
Prestasi tersebut tidak hanya menjadi capaian dalam perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan sekaligus melestarikan bahasa dan budaya Jawa di kalangan generasi muda.
Lomba Nembang Macapat dan Maca Geguritan menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, melatih kepercayaan diri, serta mengenal kekayaan budaya daerah.
Ucapan selamat dan Apresiasi juga disampaikan keluarga besar SMP Negeri 8 Kota Surakarta oleh Kepala Sekolah Sarjoko, S.Pd.
“Selamat untuk tim FTBI. Semoga prestasinya membawakan berkah. Depanska jaya, pasti bisa,” ujarnya.
Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi peserta didik untuk terus mengembangkan potensi dan meraih prestasi di berbagai bidang.
Capaian Dhimas Pandu Aji Aryanata dan Alexander Arrondya Iswara Bumi sekaligus menunjukkan pentingnya ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan seni serta bahasa daerah.
Dengan prestasi tersebut, SMP Negeri 8 Kota Surakarta terus mendorong peserta didik untuk berkarya, berprestasi, sekaligus ikut menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Jawa. (Sofyan)
Artikel Pengembangan Profesi
Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Berbagai Perspektif untuk Hasilkan Generasi Unggul, Kreatif, Kritis, Inovatif, Produktif, dan Inspiratif Era Digital
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik
Dosen PBSI FKIP UNS, Pendiri dan Penggiat Literasi Arfzh Ratulisa, serta Komunitas DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
"Kawan, bercerita dengan segala pengalaman nyata dalam proses belajar dan membelajarkan diri akan selalu terasa indah dan menyenangkan sepanjang masa”
Pemahaman kata dengan beribu makna akan terus menjadi semangat para murid dan mahasiswa dalam proses belajar dan membelajarkan diri, baik di kelas maupun luar kelas. Hal ini sebagai bukti bahwa setiap murid, mahasiswa, guru, dan dosen abad XXI memiliki semangat dan integritas untuk tahu dan lebih banyak tahu melalui proses pembelajaran yang nyata. Dengan berbagai proses dan pengalaman nyata yang dimiliki murid dan mahasiswa dalam berbagai konteks kehidupan akan terus menjadi pelita dan harapan setiap proses untuk bertindak dan berkarya dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa. Aneka kegiatan yang mendukung proses pembelajaran, baik secara mandiri maupun berkelompok akan memantik semangat untuk terus berliterasi dengan ratulisa dan berbagai ilmu dalam multikonteks kehidupan.
Peran guru dan dosen abad XXI sebagai fasilitator dan motivator untuk terus belajar dan bersilaturahmi dalam multikonteks pembelajaran sangat kuat sepanjang hayat. Hal ini sebagai bentuk komitmen dan integritas sebagai guru dan dosen abad XXI yang terus mengabdi untuk menyiapkan generasi abad XXI. Proses pembelajaran aktif yang difasilitasi oleh guru dan dosen abad XXI tentu akan menjadi model keteladanan bagi para murid dan mahasiswa di mana pun berada. Kehadiran guru dan dosen abad XXI yang terus dirindukan oleh murid dan mahasiswa dalam berbagai ruang kelas, ruang digital, dan aneka ruang kesemestaan nusantara akan ditunggu dan terus dirindukan sepanjang masa. Oleh karena itu, diperlukan guru dan dosen abad XXI yang harus terus bergerak dan menggerakkan multigenerasi NKRI untuk berliterasi dengan ratulisa, bersilaturahmi, berkomunikasi, berkolaborasi, beraksi, dan berliterasi dengan ratulisa sepanjang masa.
Guru dan dosen abad XXI harus terus menemani diskusi dan bercerita dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang sangat bervariatif. Variasi model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan aneka model dan ruang-ruang belajar dengan aneka sumber literasi digital dan nondigital yang beragam sangat diharapkan dan diwujudkan di seluruh wilayah NKRI. Kegiatan-kegiatan belajar dan membelajarkan diri yang dilaksankan oleh murid dan mahasiswa dalam multikonteks pembelajaran tentu akan terus memantik semangat bergerak dan menggerakkan semua sendi-sendi kehidupan dalam kebhinekaan untuk mewujudkan mimpi dan imajinasi multigenerasi NKRI. Dengan demikian akan Lahiri multigenarsi NKRI yang cerdas, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif.
Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang dilaksankan oleh guru dan dosen abad XXI pada jenjang TK, SD, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, Sekolah Vokasi, dan Perguruan Tinggi diharapkan dapat menghasilkan generasi muda Indonesia yang menguasai keterampilan abad XXI, yaitu: (1) berpikir kreatif, (2) berpikir kritis, (3) kolaboratif, (4) komunikatif dan enam literasi dasar, yaitu literasi: (1) menulis dan membaca, (2) numerik, (3) sains, (4) digital, (5) keuangan, dan (6) budaya dan kewargaan. Kolaborasi guru dan dosen abad XXI dalam pembalajaran di kelas dan luar kelas era digital dengan aneka model, teknik, dan metode pembelajaran aktif, mendalam, kasus, proyek, dan aneka media digital yang dimanfaatkan tentu akan menghasilkan generasi Indonesia yang unggul, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif. Jangan sampai kalah lulusan Diploma, S-1, S-2, dan S3 dengan lulusan SMK pada era digital.
Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, LIterasi, Bahasa, dan Sastra) tanggal 15 September 2026 dalam giat DIKLISA#16 menghadirkan narasumber Mas Deni Setiawan, pelaku bisnis digital Kulintang Batik dari Pengkol, Sragen ternyata dengan kreativitas dan keberaniannya memiliki omset penjualan per hari antara Rp 75 - Rp 100 juta dan per tahun rata-rata Rp 5 miliar - Rp 7 miliar. Mas Deni Setiawan sekitar tahun 2009-2015 bekerja sebagai karyawan pada Yuma Perkasa Group Surakarta yang bergerak dalam bidang penerbit, percetakan, dan perdagangan umum dan ternyata dengan perjuangan dan keberaniannya sepuluh tahun kemudian sudah berekonstruksi mindset menjadi salah satu owner Kulintang Batik yang bergerak dalam bisnis digital Hal ini sebagai bukti bahwa proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia harus ditumbuhkembangkan menjadi penguatan komunikasi verbal dan nonverbal dalam berkomunikasi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat NKRI melalu mata kuliah edupreneur, wirausaha literasi, dan wirausaha digital.
Buku DIKLISA#5 dan DIKLISA#6 ini diterbitakan atas kolaborasi nyata dalam proses berliterasi dengan Ratulisa dan giat bersama Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) didirikan dan diluncurkan oleh Muhammad Rohmadi Ratulisa pada tanggal 2 Mei 2025 sebagai penggagas dan koordinator dalam multikonteks kegiatannya. Akhirnya pada Jumat, 18 September 2026 secara resmi diluncurkan Buku DIKLISA#5 dan Buku DIKLISA#6 kepada seluruh Masyarakat Indonesia, sesuai tagline DIKLISA: Cerdas, Kreatif untuk Indonesia. Selamat membaca dan memahami hasil karya bersama keluarga besar DIKLISA pada buku DIKLIS#6 yang di tanggan dan gawai Bapak dan Ibu pembaca yang Budiman.
“Ruang-ruang belajar digital dan nondigital terbuka dan tersedia kapan saja dan di mana saja untuk multigenerasi NKRI tinggal mau atau tidak untuk memanfaatkannya sebagai sumber belajar dalam multikonteks kehidupan”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 18 September 2026
#Tulisan ini dikembangkan dari Pengantar Buku DIKLISA#6 yang ada ditangan Bapak dan Ibu yang Budiaman#
Pendidikan
![]() |
| Diskusi Mahasiswa untuk Peningkatan Kegiatan Penalaran bertema “Komunikasi Visual untuk Perubahan Perilaku Masyarakat”. |
Tak Sekadar Estetika, Mahasiswa DKV ISI Surakarta Bedah Strategi Komunikasi Visual Bersama Penyuluh KB Sukoharjo
Surakarta - majalahlarise.com - Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menggelar Diskusi Mahasiswa untuk Peningkatan Kegiatan Penalaran bertema “Komunikasi Visual untuk Perubahan Perilaku Masyarakat”.
Kegiatan yang diikuti sekitar 200 mahasiswa tersebut berlangsung di Gedung Sungging Prabangkara, FSRD Kampus 2 Mojosongo ISI Surakarta, Selasa (16/9/2026). Diskusi menghadirkan Karlina Puspitasari, Penyuluh Keluarga Berencana dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Sukoharjo, sebagai narasumber.
Turut hadir Koordinator Prodi DKV M. Harun Rosyid, Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI Surakarta Anung Rachman, serta dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), Ipung Kurniawan Yunianto, yang bertindak sebagai moderator.
Dalam diskusi tersebut, Ipung menyoroti pola pikir mahasiswa desain yang sering kali berfokus pada bentuk fisik sebuah karya. Menurutnya, proses perancangan komunikasi visual perlu diawali dengan pemahaman terhadap persoalan yang hendak diselesaikan dan karakter khalayak yang menjadi sasaran.
“Sebelum bertanya ‘media apa yang akan kita buat?’, mahasiswa harus terlebih dahulu bertanya ‘masalah apa yang ingin kita selesaikan?’. Seorang perancang harus memahami karakter sasaran dan perubahan apa yang ingin dicapai. Desain KIE yang berhasil bukan sekadar yang estetik di mata, melainkan yang mampu menjembatani informasi dengan realitas psikologis dan sosiologis khalayaknya,” jelas Ipung.
Perspektif tersebut kemudian diperkuat Karlina Puspitasari melalui pengalaman yang ditemuinya dalam kegiatan penyuluhan di lapangan. Ia menyampaikan, keberhasilan program pemerintah di tingkat masyarakat juga membutuhkan dukungan komunikasi visual yang mampu menyesuaikan pesan dengan karakter dan budaya setempat.
“Seringkali kami di lapangan menemukan materi penyuluhan yang secara visual sangat bagus, namun bahasanya terlalu kaku atau tidak menyentuh kearifan lokal. Kami butuh desainer yang mampu menerjemahkan program pengendalian penduduk menjadi visual yang renyah, mudah dicerna, dan sesuai dengan budaya masyarakat, sehingga pesan perubahan perilaku benar-benar mengena,” jelas Karlina.
Kehadiran penyuluh KB sebagai narasumber memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi masyarakat. Mulai dari karakter khalayak, kebutuhan penyuluhan, fenomena di lapangan, hingga berbagai persoalan media komunikasi visual KIE pada mitra binaan.
Informasi tersebut menjadi data primer bagi mahasiswa DKV untuk mengembangkan proyek perancangan komunikasi visual. Dengan demikian, proses desain tidak hanya berangkat dari pertimbangan estetika, tetapi juga didukung riset terhadap kebutuhan dan karakter sasaran.
Koordinator Prodi DKV FSRD ISI Surakarta M. Harun Rosyid menilai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan proses pembelajaran dengan kebutuhan nyata di masyarakat.
“Kami melihat potensi besar untuk sinergi jangka panjang. Ke depan, rencana kerja sama ini akan diarahkan pada pemanfaatan sumber daya bersama untuk meningkatkan kompetensi SDM di bidang kreativitas seni rupa dan desain. Ruang lingkup yang akan kita jajaki sangat komprehensif, mulai dari pemanfaatan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), pertukaran praktisi, penelitian dan kajian studio bersama, hingga pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan produk komunikasi visual bersama,” jelas Harun.
Diskusi tersebut sekaligus menjadi langkah awal penjajakan kerja sama kelembagaan antara FSRD ISI Surakarta dengan DPPKBP3A Kabupaten Sukoharjo. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kompetensi akademik dan desain dengan kebutuhan komunikasi pemerintah di tengah masyarakat.
Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI Surakarta Anung Rachman menyampaikan dukungan institusi terhadap kolaborasi lintas sektor tersebut.
“Kolaborasi lintas sektor ini membuka mata mahasiswa bahwa seni dan desain memiliki tanggung jawab sosial. Kami mendukung penuh inisiatif ini agar mahasiswa terbiasa berpikir kritis, empatik, dan solutif, sekaligus membuka jalan bagi kerja sama strategis seperti publikasi ilmiah, pameran, hingga kompetisi mahasiswa di masa mendatang,” tambah Anung.
Antusiasme juga terlihat dari mahasiswa yang mengikuti diskusi. Mumtazah Abdul Rauf, mahasiswa DKV semester 5, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai peran seorang desainer dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.
“Selama ini saya berpikir bahwa tugas utama desainer adalah membuat karya yang indah. Tapi setelah mendengar pengalaman Ibu Karlina, saya sadar bahwa desain yang baik harus bisa menyelesaikan masalah. Saya jadi lebih memahami pentingnya riset audiens dan konteks sosial sebelum mulai membuat karya untuk proyek KIE saya,” ujar Mumtaz.
Hal senada disampaikan Fajar Haditiya, mahasiswa tingkat akhir. Menurutnya, pengalaman narasumber mengenai respons masyarakat terhadap materi penyuluhan membantu mahasiswa menghubungkan teori yang dipelajari di kampus dengan realitas di lapangan.
“Yang paling berkesan adalah ketika narasumber bercerita tentang bagaimana masyarakat merespons berbagai materi penyuluhan. Saya jadi mengerti bahwa tidak semua desain yang bagus di mata desainer itu efektif di lapangan. Ini membuka mata saya untuk lebih banyak turun ke masyarakat dan memahami kebutuhan mereka secara langsung, bukan hanya mendesain dari dalam studio,” ungkap Fajar.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Prodi DKV FSRD ISI Surakarta untuk membentuk desainer komunikasi visual yang tidak hanya memiliki kemampuan estetika, tetapi juga mampu membaca persoalan sosial, memahami karakter masyarakat, melakukan riset, dan menghasilkan karya yang memiliki manfaat nyata.
Melalui pertemuan antara mahasiswa, akademisi, dan praktisi penyuluhan, komunikasi visual ditempatkan tidak sekadar sebagai persoalan tampilan, melainkan sebagai sarana menyampaikan pesan dan mendorong perubahan perilaku masyarakat secara lebih tepat sasaran.(Sofyan)
Baca juga: Inagurasi PKKMB Univet Bantara Tandai Penyerahan Mahasiswa Baru kepada Rektor
Pendidikan
Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 di Manyaran, Dorong Pelestarian Bahasa dan Budaya Jawa
Wonogiri - majalahlarise.com - Upaya melestarikan bahasa daerah dan budaya Jawa terus dilakukan melalui lingkungan pendidikan. Salah satunya melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri Tahun 2026 yang digelar di SDN 1 Manyaran, Kamis (17/9/2026).
Mengusung tema “Berkolaborasi, Berprestasi, dan Berbudaya”, kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dan diikuti siswa-siswi sekolah dasar (SD) se-Kecamatan Manyaran. Festival tersebut menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal, menggunakan, sekaligus mengembangkan kemampuan berbahasa, bersastra, dan berkesenian Jawa.
Sejumlah cabang perlombaan digelar dalam FTBI tersebut, di antaranya nulis lan maca aksara Jawa, ndongeng, sesorah, nulis cerkak, geguritan, macapat, dan ndagel ijen. Berbagai cabang tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, kreativitas, keberanian, dan kepercayaan diri.
Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Manyaran, Sutrisno, S.Pd., M.Pd., menyampaikan FTBI tingkat Kecamatan Manyaran memiliki tujuan penting dalam rangka menguri-uri dan melestarikan budaya Jawa.
“Festival Tunas Bahasa Ibu ini tentunya memiliki banyak hal yang berkaitan dengan upaya menguri-uri dan melestarikan budaya Jawa. Harapannya, budaya Jawa tetap dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang sehingga anak-anak tidak kehilangan akar budaya daerahnya,” jelasnya.
Menurut Sutrisno, pelestarian budaya Jawa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan bahasa daerah. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Jawa juga dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik.
“Budaya Jawa juga mengajarkan tata krama, etika, dan sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut penting bagi anak-anak, terutama dalam berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.
FTBI Kecamatan Manyaran Tahun 2026 diikuti 31 sekolah dasar di wilayah Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Manyaran dengan tujuh mata lomba. Sutrisno berharap dari kegiatan tersebut dapat terpilih peserta didik yang memiliki kemampuan dan potensi untuk melanjutkan kompetisi di tingkat Kabupaten Wonogiri.
Sementara itu, Ketua K3S SD Kecamatan Manyaran, Arif Dwi Prastyanto, menjelaskan pelaksanaan kegiatan yang melibatkan seluruh sekolah dasar di Kecamatan Manyaran merupakan bentuk dukungan Korwil dan K3S dalam menjaga keberadaan kebudayaan Jawa, khususnya penggunaan dan pengembangan bahasa daerah di kalangan peserta didik.
“Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan seluruh sekolah dasar yang ada di Kecamatan Manyaran. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan kebudayaan Jawa dan mengenalkan bahasa daerah kepada anak-anak sejak dini,” jelas Arif.
Menurut Arif, perkembangan zaman turut memengaruhi kebiasaan berbahasa anak-anak. Penggunaan bahasa Indonesia semakin dominan dalam kehidupan sehari-hari, sementara penggunaan bahasa daerah cenderung semakin berkurang.
“Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap tumbuh rasa memiliki terhadap budaya daerah sejak usia dini. Anak-anak semakin mengenal, mencintai, dan mampu menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas budaya mereka di tengah perkembangan zaman,” ungkapnya.
Pesan “Lestarikan Bahasa Daerah, Jaga Budaya, Raih Masa Depan” menjadi semangat dalam pelaksanaan FTBI Kecamatan Manyaran Tahun 2026. Melalui kegiatan tersebut, sekolah bersama Korwil dan K3S berupaya memperkuat pengenalan budaya lokal sekaligus memberikan ruang kepada generasi muda untuk berprestasi.
Dengan semangat berkolaborasi, berprestasi, dan berbudaya, FTBI diharapkan terus menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kelestarian bahasa Jawa serta membentuk generasi muda yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan akar budaya yang kuat. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Abdul Aziz, menggelar pelatihan dan simulasi tanggap darurat di Kantor Pusat PT Reka Patria Ekaguna, Gandaria 8 Office Tower Lantai 5, Jakarta Selatan. |
Wujudkan Budaya K3L di Gedung Bertingkat, Mahasiswa Univet Bantara Gelar Pelatihan dan Simulasi Tanggap Darurat
JAKARTA – majalahlarise.com – Keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan (K3L) menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan di area perkantoran bertingkat. Hal tersebut mendorong mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, Abdul Aziz, menggelar pelatihan dan simulasi tanggap darurat di Kantor Pusat PT Reka Patria Ekaguna, Gandaria 8 Office Tower Lantai 5, Jakarta Selatan.
Kegiatan yang berlangsung pada 12–14 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri dalam program “Univet Berdampak”. Kegiatan mengusung tema “Sinergi Kampus dan Masyarakat dalam Mengoptimalkan Potensi Lokal dan Produk Unggulan Daerah Melalui Inovasi dan Kolaborasi”.
Program tersebut sekaligus menjadi bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan keilmuan Kesehatan Masyarakat, khususnya spesialisasi K3L, pada komunitas pekerja (working community) di lingkungan perkantoran modern.
![]() |
| Simulasi Evakuasi Darurat (Emergency Drill) secara real-time. |
Abdul Aziz, mahasiswa KKN dengan NIM 2551700011, menjelaskan risiko keselamatan kerja tidak hanya terdapat di sektor manufaktur maupun konstruksi. Lingkungan perkantoran bertingkat juga memiliki potensi bahaya yang membutuhkan kesiapsiagaan pekerja.
“Potensi bahaya seperti kebakaran akibat korsleting listrik maupun bencana gempa bumi memerlukan kesiapsiagaan sumber daya manusia yang terstruktur dan terlatih. Tanpa simulasi real-time, risiko kepanikan massal saat evakuasi dapat meningkatkan potensi kerugian jiwa maupun material,” ungkap Aziz.
Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi dan sosialisasi teori pada 12–13 Agustus 2026. Materi yang diberikan meliputi Fire Safety Management (FSM), regulasi K3 perkantoran, serta teknik perlindungan diri ketika terjadi gempa bumi menggunakan metode Drop, Cover, and Hold On.
Untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta, kegiatan dilengkapi dengan pengukuran melalui pretest dan posttest. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat perubahan pemahaman karyawan setelah mendapatkan materi K3L.
Puncak kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026 melalui Simulasi Evakuasi Darurat (Emergency Drill) secara real-time. Ketika alarm darurat dibunyikan secara simulatif, karyawan diarahkan oleh Tim Floor Warden yang menggunakan atribut helm dan rompi K3.
Para karyawan kemudian bergerak secara tertib melalui tangga darurat (emergency stairs) dari Lantai 5 menuju titik kumpul aman (Assembly Point) di luar gedung. Selama proses evakuasi, peserta tidak menggunakan lift.
Setibanya di titik kumpul, kegiatan dilanjutkan dengan prosedur presensi ulang (headcount). Prosedur tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh personel telah keluar dari gedung dan tidak ada karyawan yang tertinggal.
Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman karyawan mengenai K3L setelah mengikuti sesi edukasi. Proses pengosongan gedung juga berlangsung lancar dan aman dengan menerapkan prosedur evakuasi yang telah diberikan.
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Nur Ani, S.K.M., M.K.K.K., mengapresiasi pelaksanaan KKN Mandiri tersebut sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri.
Pihak manajemen PT Reka Patria Ekaguna melalui Departemen HRD & QHSE juga menyambut positif kegiatan tersebut. Pelatihan dan simulasi dinilai memberikan kontribusi terhadap penguatan safety culture serta mendukung kepatuhan terhadap standar keselamatan pada gedung bertingkat.
Melalui KKN Mandiri ini, kesiapsiagaan tanggap darurat di lingkungan PT Reka Patria Ekaguna diharapkan dapat terus dipelihara secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang kolaborasi antara Univet Bantara Sukoharjo dan dunia industri dalam penerapan ilmu Kesehatan Masyarakat, khususnya bidang K3L. (Sofyan)
Pendidikan
Tertib Berlalu Lintas, Bijak Bermedia Sosial: SMP N 2 Giritontro Gandeng Polsek Edukasi 650 Siswa
WONOGIRI - majalahlarise.com - Sebanyak 650 siswa SMP N 2 Giritontro mengikuti sosialisasi tata tertib lalu lintas dan bijak bermedia sosial bersama Polsek Giritontro, Kamis (17/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah tersebut diikuti para siswa dengan tertib dan penuh perhatian.
Sosialisasi menghadirkan AIPDA Rachmat Ary dari Polsek Giritontro sebagai pemateri. Dalam kegiatan tersebut, ia memberikan edukasi mengenai pentingnya memahami dan menaati aturan lalu lintas, khususnya bagi pelajar yang dalam kesehariannya beraktivitas menggunakan kendaraan di jalan raya.
AIPDA Rachmat Ary mengingatkan para siswa agar selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, menggunakan perlengkapan keselamatan, tidak berkendara secara ugal-ugalan, serta menghormati pengguna jalan lainnya.
“Ketertiban berlalu lintas bukan hanya tentang menaati aturan, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab kita untuk menjaga keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” pesan AIPDA Rachmat kepada para siswa.
Selain keselamatan berlalu lintas, sosialisasi juga membahas penggunaan media sosial di kalangan pelajar. Para siswa diajak menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.
AIPDA Rachmat mengingatkan siswa agar berhati-hati dalam membuat maupun membagikan unggahan. Menurutnya, jejak digital dapat tersimpan dalam waktu lama sehingga setiap pengguna perlu mempertimbangkan dampak dari konten yang dibuat atau dibagikan.
Para siswa juga diimbau tidak melakukan perundungan melalui media sosial, menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian maupun konten yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Media sosial diharapkan dimanfaatkan untuk kegiatan positif, seperti belajar, berbagi informasi bermanfaat dan mengembangkan kreativitas.
Kepala SMP N 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memberikan pembekalan kepada siswa agar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami aturan, tanggung jawab dan etika dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekolah sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi dari Polsek Giritontro. Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kehidupan siswa saat ini, terutama berkaitan dengan keselamatan berlalu lintas dan penggunaan media sosial,” tutur Retno.
Menurut Retno, edukasi semacam ini penting diberikan secara berkelanjutan karena siswa setiap hari berinteraksi dengan lingkungan jalan raya maupun dunia digital.
Ia berharap kegiatan tersebut semakin meningkatkan pemahaman siswa mengenai disiplin dan keselamatan berlalu lintas sekaligus membentuk kebiasaan bermedia sosial secara cerdas dan bertanggung jawab.
“Kami berharap anak-anak dapat menerapkan apa yang sudah disampaikan. Jadilah pelajar yang tertib di jalan, santun dalam pergaulan, serta bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial,” harapnya.
Kegiatan sosialisasi ini menjadi bentuk sinergi dunia pendidikan dan kepolisian dalam memberikan pembinaan kepada generasi muda. Dengan bekal pengetahuan tentang keselamatan berlalu lintas dan etika bermedia sosial, para siswa diharapkan mampu tumbuh sebagai pelajar yang disiplin, sadar aturan dan menggunakan teknologi secara positif. (Sofyan)
Baca juga: Inagurasi PKKMB Univet Bantara Tandai Penyerahan Mahasiswa Baru kepada Rektor
News
![]() |
| Salah satu anak yatim korban Covid-19, dik Rahma, 13 tahun, menyerahkan bunga kepada perwakilan wartawan, Mas Ari dari Merdeka.com. |
Anak Yatim Korban Covid dan Relawan Mahasiswa UIN Gelar Doa Bersama untuk Jurnalis Krakatau yang Hilang
Sukoharjo - majalahlarise.com - Sekitar 25 anak yatim korban Covid-19 dan anak duafa binaan Sanggar Bhinneka bersama relawan mahasiswa magang dari UIN Solo menggelar aksi doa bersama untuk para jurnalis yang dilaporkan hilang saat menjalankan tugas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau. Rabu (16/9/2026).
Aksi kepedulian tersebut diawali dengan menyalakan lilin bersama. Anak-anak juga membawa sejumlah poster berisi pesan dan doa untuk para jurnalis, di antaranya bertuliskan, “Semoga mas-mas wartawan segera ditemukan” dan “Semoga mereka ditemukan selamat”. Selain itu, anak-anak membuat gambar Gunung Anak Krakatau yang disertai tulisan harapan agar bencana gunung meletus tidak terjadi lagi.
Usai menyalakan lilin, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin Ustaz Darmanto, penyuluh agama Kementerian Agama Sukoharjo. Anak-anak, pengelola sanggar, relawan mahasiswa, dan sejumlah wartawan bersama-sama memanjatkan doa agar para jurnalis yang hilang segera ditemukan dalam kondisi selamat dan sehat.
![]() |
| Anak-anak dan menulis harapan pada sebuah kereta putih bergambar Gunung Anak Krakatau. |
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menulis harapan pada sebuah kereta putih bergambar Gunung Anak Krakatau. Anak-anak yatim Sanggar Bhinneka menuliskan berbagai pesan menyentuh, di antaranya, “Cepat ditemukan ya mas-mas ku wartawan”, “Semoga mas wartawan ditemukan sehat”, dan “Mas wartawan, doa kami padamu”. Harapan serupa juga dituliskan oleh para mahasiswa UIN Solo yang turut mengikuti aksi tersebut.
Sebagai bentuk cinta dan kepedulian kepada insan pers, salah satu anak yatim korban Covid-19, dik Rahma, 13 tahun, menyerahkan bunga kepada perwakilan wartawan, Mas Ari dari Merdeka.com. Penyerahan bunga tersebut menjadi simbol kasih sayang anak-anak kepada para wartawan yang selama ini turut memberitakan berbagai kegiatan sosial Sanggar Bhinneka.
Dik Rahma mengatakan dirinya ikut mendoakan para jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas peliputan Gunung Anak Krakatau.
“Saya ikut mendoakan mas-mas wartawan yang hilang karena sedang bertugas meliput Gunung Anak Krakatau. Semoga segera ditemukan dalam keadaan sehat,” ujar Rahma.
Sementara itu, Koordinator aksi sekaligus pendiri Sanggar Bhinneka, Agus Widanarko alias Danar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus ucapan terima kasih anak-anak yatim korban Covid-19 kepada para wartawan.
“Ini sebagai tanda kepedulian dan terima kasih adik-adik yatim korban Covid Sanggar Bhinneka kepada kakak-kakak wartawan. Sanggar Bhinneka sendiri dulu terbentuk juga karena bantuan liputan saat Covid. Dari pemberitaan itu, anak-anak yatim korban Covid akhirnya bisa berkumpul di sini dan berdirilah sanggar belajar untuk anak yatim korban Covid, anak duafa, dan masyarakat,” ungkap Danar.
Menurutnya, pemberitaan yang dilakukan para wartawan turut membuka kepedulian masyarakat terhadap keberadaan Sanggar Bhinneka. Karena itu, ketika terjadi musibah yang menimpa para jurnalis saat menjalankan tugas, anak-anak merasa perlu menunjukkan kepedulian melalui doa.
“Banyak masyarakat yang membaca berita dari mas-mas wartawan kemudian turut peduli pada sanggar kami. Maka sepantasnyalah apa yang terjadi pada wartawan, kami ikut prihatin dan peduli dengan mendoakan agar para wartawan yang sedang melakukan liputan Gunung Anak Krakatau segera ditemukan,” jelasnya.
Danar berharap doa yang dipanjatkan anak-anak yatim tersebut menjadi bentuk dukungan moral bagi para jurnalis dan keluarga mereka.
“Semoga doa anak-anak yatim ini bisa tembus langit dan besok ada kabar baik,” harapnya.
Aksi tersebut menjadi bentuk solidaritas kemanusiaan dari anak-anak Sanggar Bhinneka dan para mahasiswa. Di tengah keterbatasan, mereka menyampaikan pesan sederhana melalui lilin, bunga, gambar, tulisan harapan, dan doa agar para jurnalis yang hilang segera ditemukan dengan selamat. (Sofyan)
Baca juga: Inagurasi PKKMB Univet Bantara Tandai Penyerahan Mahasiswa Baru kepada Rektor
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...









