GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
Parenting SMA Manafiul Ulum Canden Bahas “Panduan Cerdas Remaja Jatuh Cinta”
Boyolali - majalahlarise.com - Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden menggelar kegiatan parenting bertajuk “Panduan Cerdas Remaja Jatuh Cinta”, Sabtu (26/9/2026), di Aula Ponpes Muhammadiyah Canden. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus silaturahmi antara orang tua dan pihak pesantren dalam mendampingi perkembangan remaja menghadapi berbagai tantangan zaman.
Kegiatan menghadirkan Etik Rahmawati, S.Psi., MM., Psikolog sebagai narasumber dan diikuti para wali santri SMA Manafiul Ulum Canden. Parenting tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua mengenai cara membangun komunikasi dan pendampingan yang tepat terhadap putra-putrinya, terutama ketika memasuki fase remaja dan mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis.
Acara diawali pembacaan Al-Qur’an oleh Aulia Azkiatuz Zahra dan dipandu Triana N selaku MC. Kegiatan turut dihadiri Mudir Ponpes Manafiul Ulum Canden Ustaz Pujiono, S.Si., MM., didampingi Wadir Ustaz Suradi, S.P.
Dalam sambutannya, Mudir Ponpes Manafiul Ulum Canden Ustaz Pujiono menjelaskan masa remaja merupakan fase penting yang membutuhkan perhatian, kedekatan, dan pendampingan dari orang tua.
Menurut Pujiono, persoalan ketertarikan dan jatuh cinta pada remaja tidak cukup dihadapi dengan larangan maupun kemarahan. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang mampu membangun komunikasi terbuka sehingga anak memiliki ruang yang aman untuk bercerita.
“Anak-anak kita tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan, memahami dunianya, kemudian mengarahkannya dengan nilai-nilai agama dan akhlak,” pesan Pujiono.
Ia juga menjelaskan pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan. Pesantren memberikan pembinaan selama santri berada di lingkungan pendidikan, sedangkan keluarga memiliki peran penting dalam membangun karakter dan kebiasaan anak di rumah.
“Ketika anak mulai mengenal rasa cinta, tugas kita bukan memusuhi rasa itu, tetapi mengajarkan bagaimana mengelolanya agar cinta tidak menjadi jalan menuju kemaksiatan, melainkan menjadi energi untuk menjaga kehormatan, prestasi, dan masa depan,” tambahnya.
Sementara itu, Etik Rahmawati, S.Psi., MM., Psikolog memberikan penguatan kepada para wali santri mengenai karakteristik psikologis remaja, dinamika perasaan pada masa pubertas, serta strategi komunikasi orang tua ketika menghadapi anak yang mulai mengenal hubungan dengan lawan jenis.
Melalui materi tersebut, orang tua diajak memahami perubahan yang dialami remaja secara lebih utuh. Pendekatan komunikasi yang terbuka dan penuh empati diharapkan dapat membantu orang tua memberikan arahan tanpa membuat anak merasa dihakimi atau dijauhi.
Ketua Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden, Triana N, menyampaikan kegiatan parenting tersebut menjadi bagian dari upaya paguyuban mempererat ukhuwah dan meningkatkan kebersamaan antara wali santri dengan pihak pesantren.
“Melalui kegiatan ini kami berharap hubungan antara wali santri dan pesantren semakin dekat. Orang tua juga mendapatkan wawasan untuk mendampingi anak-anak menghadapi fase remaja dengan lebih baik,” ujarnya.
Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden terdiri atas Triana N sebagai ketua, Sri Yamtini sebagai sekretaris, dan Wahyono sebagai bendahara.
Kegiatan parenting tersebut diharapkan memperkuat sinergi keluarga dan pesantren dalam mendampingi generasi muda. Dengan komunikasi yang baik, orang tua diharapkan mampu menjadi sahabat bagi anak sekaligus tetap menjalankan peran sebagai pendidik dan pengarah.
Melalui pendampingan yang tepat, keluarga dan pesantren dapat membangun kesamaan visi agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, memiliki kendali diri, serta mampu menghadapi dinamika kehidupan remaja secara bijak.(Sofyan)
Baca juga: Wakil Walikota Astrid Widayani Ajak Gen-Z Bangun Gaya Hidup Halal, Cerdas dan Sehat
Pendidikan
![]() |
| Astrid saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan MES Surakarta & ASBISINDO Goes to School: Gaya Hidup Halal Gen-Z di SMA Al-Islam 1 Surakarta, Sabtu (26/9/2026). |
Wakil Walikota Astrid Widayani Ajak Gen-Z Bangun Gaya Hidup Halal, Cerdas dan Sehat
SURAKARTA - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta Astrid Widayani mengajak generasi muda membangun gaya hidup halal yang diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup halal tidak hanya berkaitan dengan makanan dan produk yang dikonsumsi, tetapi juga mencakup cara mengelola keuangan, menggunakan media sosial, menjaga kesehatan mental, memilih pergaulan, hingga mengambil keputusan.
Pesan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan MES Surakarta & ASBISINDO Goes to School: Gaya Hidup Halal Gen-Z di SMA Al-Islam 1 Surakarta, Sabtu (26/9/2026). Astrid hadir sebagai Wawali Surakarta sekaligus Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta.
Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi para siswa untuk mengenal konsep gaya hidup halal sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan dunia kerja.
Di hadapan para siswa, Astrid mengingatkan pentingnya setiap anak muda memiliki cita-cita dan optimisme dalam menatap masa depan.
“Semua harus memiliki cita-cita. Untuk meraih masa depan yang sukses, kita perlu membangun gaya hidup yang halal, cerdas dan sehat,” kata Astrid.
Astrid menjelaskan, halal lifestyle perlu dimaknai secara luas. Halal tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.
“Apa yang kita makan, dengan siapa kita berteman, apa yang kita tonton, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana menggunakan uang, bagaimana memperlakukan orang lain, sampai apa yang kita upload di media sosial, semuanya perlu kita pertimbangkan,” ujarnya.
Bijak Mengelola Keuangan
Astrid juga mengajak siswa menjadi generasi yang financially wise atau bijak dalam mengelola keuangan. Menurutnya, kebiasaan mengatur keuangan perlu dibangun sejak usia sekolah melalui langkah sederhana, seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran serta membedakan kebutuhan dengan keinginan.
Para siswa juga didorong menggunakan uang untuk hal-hal yang produktif. Kemampuan tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam persoalan keuangan, termasuk risiko pinjaman online.
“Jangan sampai karena ingin mengikuti gaya hidup, kita justru terjebak masalah keuangan. Mulai dari sekarang belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran, bedakan mana kebutuhan dan mana keinginan,” tutur Astrid.
Jaga Kesehatan Mental
Selain literasi keuangan, Astrid menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental. Menurutnya, kesehatan mental menjadi salah satu fondasi bagi generasi muda dalam mempersiapkan masa depan.
“Tekanan yang dihadapi Gen-Z saat ini tidak sedikit. Karena itu, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Kita harus optimis dan mampu mengenali diri sendiri,” katanya.
Astrid juga mengajak para siswa menggunakan gadget dan media sosial secara bijak. Menurutnya, setiap unggahan dapat menjadi bagian dari jejak digital yang perlu dipertimbangkan dengan baik.
“Media sosial bukan hanya tempat kita berekspresi. Jejak digital kita juga bisa dilihat ketika memasuki dunia kerja. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum mengunggah sesuatu,” ujarnya.
Edukasi Halal Lifestyle
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai bidang. Dani Ilham Pratama dari Paragon Corp membahas pentingnya memilih produk halal, Salwaa Fauziyyah Jatmiko dari OJK membahas Islamic financial planning, sedangkan H. Muhammad Ismail dari Bank Syariah Indonesia membahas perbankan syariah untuk remaja.
Astrid berharap edukasi gaya hidup halal tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Halal lifestyle harus menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Jadikan itu sebagai bagian dari cara kita memilih, mengambil keputusan dan membangun masa depan,” pungkasnya.(Mas Is/Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dosen Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) selaku narasumber saat menyampaikan materi menulis ilmiah diera AI: Etika, Strategi dan Publikasi. |
MPBI Pascasarjana Univet Bantara Gelar Seminar Akademik Bahas Pemanfaatan AI untuk Publikasi Jurnal Bereputasi
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Program Pascasarjana Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menggelar Seminar Akademik Pascasarjana bertema “Pemanfaatan AI secara Etis dan Efektif dalam Penulisan Karya Ilmiah Pembelajaran Bahasa menuju Publikasi Jurnal Bereputasi”, Sabtu (26/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Gedung H Lantai 3 Univet Bantara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dosen Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS), sebagai narasumber. Seminar diikuti mahasiswa MPBI Pascasarjana dan menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk meningkatkan wawasan serta keterampilan mahasiswa dalam penulisan dan publikasi karya ilmiah.
Direktur Pascasarjana Univet Bantara, Dr. Veronika Unun Pratiwi, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang membahas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara aktif dan praktis dalam dunia akademik.
Menurutnya, perkembangan AI semakin berpengaruh dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, pembelajaran, teknologi, penelitian, serta pengembangan karya ilmiah. Pendidik dan mahasiswa perlu mengikuti perkembangan tersebut sekaligus memahami cara memanfaatkan AI secara tepat.
“AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses kerja. Namun, hasil yang diberikan AI tidak selalu benar sehingga tetap membutuhkan pemeriksaan dan penyuntingan manusia,” jelasnya.
Ia menjelaskan, AI tidak semestinya menggantikan peran manusia dalam proses pendidikan maupun akademik. Kemampuan manusia untuk memahami persoalan, mengarahkan penggunaan teknologi, memeriksa informasi, serta mengembangkan gagasan tetap diperlukan untuk menghasilkan karya berkualitas.
Direktur Pascasarjana Univet Bantara berharap pemanfaatan AI dilakukan secara bijak dan produktif, terutama untuk mendukung pendidik dan mahasiswa menghasilkan artikel maupun karya ilmiah yang layak dipublikasikan.
Sementara itu, Ketua Panitia, Arif Wahyudi, S.Pd., menyampaikan kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari tugas perkuliahan mahasiswa sekaligus merespons perkembangan kecerdasan artifisial yang semakin luas digunakan dalam dunia pendidikan dan penelitian.
“Workshop ini bertujuan meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta dalam memanfaatkan AI untuk penulisan karya ilmiah dengan tetap memperhatikan etika, integritas akademik, dan kualitas publikasi,” ujarnya.
Ia menyebut kegiatan diikuti 79 peserta yang terdiri atas 60 mahasiswa kelas I, 10 mahasiswa kelas RPL, dan 9 mahasiswa kelas reguler. Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari pimpinan, dosen Pascasarjana, serta Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.
Kegiatan dilaksanakan secara mandiri melalui kontribusi peserta sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk membangun tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan mengelola kegiatan akademik secara profesional.
Sementara itu, Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., selaku keynote speaker, menyampaikan apresiasi atas seminar yang mengangkat pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara etis dan efektif dalam pendidikan, khususnya pembelajaran bahasa dan publikasi karya ilmiah.
Prof. Farida menjelaskan kehadiran AI telah membawa perubahan dalam ekosistem pendidikan. AI tidak hanya berfungsi sebagai perangkat teknologi, tetapi juga dapat mendukung transformasi pedagogis melalui adaptive learning, analitik pembelajaran, pemberian umpan balik secara real time, serta dukungan data dalam pengambilan keputusan selama proses pembelajaran.
Menurutnya, AI dapat memberikan manfaat dalam mendukung penguasaan keterampilan abad ke-21, meningkatkan efisiensi administrasi, serta mendukung peningkatan kualitas pendidikan agar lebih inklusif, relevan, dan responsif terhadap perkembangan global.
Namun, pemanfaatan AI juga menghadirkan tantangan, antara lain bias algoritmik, privasi dan keamanan data, ketimpangan akses teknologi, ketergantungan terhadap teknologi, serta perubahan peran manusia dalam pembelajaran.
“AI perlu ditempatkan sebagai mitra yang membantu pekerjaan manusia, bukan sebagai pengganti manusia,” jelas Prof. Farida.
Ia mengingatkan mahasiswa, guru, kepala sekolah, pengawas, calon pendidik, dan akademisi untuk menggunakan AI secara aktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab. AI dapat membantu proses analisis maupun penyusunan karya ilmiah, tetapi integritas akademik tetap perlu menjadi landasan.
Prof. Farida berharap seminar tersebut memberikan pengetahuan praktis kepada peserta dalam memanfaatkan AI secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mengembangkan karya ilmiah.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., menjelaskan AI dapat diposisikan sebagai tool atau alat yang membantu mahasiswa maupun dosen dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan penulisan karya ilmiah.
“AI sebagai tool dapat membantu kita dalam berbagai pekerjaan akademik. Namun, pemanfaatannya harus tetap berlandaskan kejujuran dan etika akademik,” tuturnya.
Menurut Prof. Sarwiji, AI sebaiknya digunakan sebagai mitra yang memperkuat proses berpikir manusia, membantu menemukan informasi, mengolah gagasan, dan mendukung pekerjaan akademik. Penggunaan AI secara tidak bertanggung jawab berpotensi menimbulkan persoalan akademik, termasuk plagiarisme dan menghasilkan karya yang tidak mencerminkan kemampuan penulis.
Karena itu, tanggung jawab penggunaan AI tidak hanya berada pada mahasiswa atau penulis. Dosen dan supervisor juga memiliki peran dalam mengawasi serta mengarahkan mahasiswa agar menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.
Supervisor, lanjutnya, tidak cukup hanya mengingatkan mahasiswa mengenai etika penggunaan AI, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab. Apabila ditemukan persoalan seperti plagiarisme atau penggunaan sumber tanpa mencantumkan rujukan, dosen dapat memberikan penilaian sekaligus mengarahkan mahasiswa untuk memperbaiki karya ilmiahnya.
Pada tingkat institusi, Prof. Sarwiji juga mendorong adanya regulasi atau pedoman yang jelas mengenai penggunaan AI. Pedoman tersebut diperlukan agar dosen dan mahasiswa memiliki acuan yang sama dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk kepentingan akademik.
Selain pemanfaatan AI, Prof. Sarwiji mengajak mahasiswa pascasarjana memperhatikan kualitas sumber referensi dalam penyusunan karya ilmiah. Menurutnya, kemudahan memperoleh buku, jurnal, dan artikel melalui internet membuat mahasiswa memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber ilmiah. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilih sumber yang kredibel.
Mahasiswa perlu mampu menemukan jurnal bereputasi dan membedakan publikasi ilmiah yang berkualitas dengan jurnal yang kurang kredibel. Dalam penulisan karya ilmiah, mahasiswa dapat memanfaatkan artikel dari jurnal internasional yang terindeks Scopus atau Web of Science serta jurnal nasional terakreditasi Sinta.
Meski demikian, ia mengingatkan kualitas artikel tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan peringkat jurnal. Artikel yang diterbitkan pada jurnal Sinta 5 atau Sinta 6, misalnya, tidak otomatis memiliki kualitas yang rendah.
“Artikel tetap perlu dibaca dan dikaji. Kita perlu melihat metodologi, argumentasi, data, serta relevansinya dengan penelitian yang sedang dilakukan,” jelasnya.
Prof. Sarwiji juga mengingatkan mahasiswa agar cermat dalam memilih jurnal untuk publikasi. Perkembangan industri penerbitan membuat publikasi ilmiah juga bersinggungan dengan kepentingan bisnis. Karena itu, peneliti perlu mencermati karakteristik pengelolaan jurnal sebelum menjadikannya sebagai tempat publikasi maupun sumber referensi.
Salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah konsistensi jumlah artikel yang diterbitkan dalam setiap edisi. Namun, indikator tersebut tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kualitas jurnal. Penilaian tetap perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melihat berbagai aspek pengelolaan dan kualitas publikasi. (Sofyan)
Komunitas
![]() |
| Tri Haryoko bersama dua wayang jumbo karakter Janaka dan Srikandi dengan tinggi mencapai 150 sentimeter menggunakan bahan dasar sak semen yang telah didaur ulang. |
Empat Hari, Tri Haryoko Bikin Wayang Daur Ulang Janaka dan Srikandi Ukuran Jumbo untuk Kriya Nusa 2026
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Kreativitas mengolah bahan daur ulang menjadi karya seni kembali ditunjukkan Tri Haryoko dari Sanggar Omah Wayang Mas Kamto, Sukoharjo. Ia berhasil membuat dua wayang jumbo karakter Janaka dan Srikandi dengan tinggi mencapai 150 sentimeter menggunakan bahan dasar sak semen yang telah didaur ulang.
Karya tersebut akan dipamerkan dalam Kriya Nusa 2026, Pameran Kerajinan Nusantara yang berlangsung 26-30 September 2026 di Hall A-B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Pameran yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ini diikuti 257 peserta dengan 410 booth.
Pembuatan wayang jumbo tersebut membutuhkan waktu empat hari. Prosesnya diawali dengan membuat sketsa pada sak semen yang sudah dipress, kemudian dipahat seperti proses pembuatan wayang kulit. Setelah itu dilakukan pewarnaan dan pemasangan gapit menggunakan kayu sawo serta rotan.
Tri Haryoko sebagai dalang sekaligus Ketua Sanggar Omah Wayang Mas Kamto mengaku bersyukur mendapat kesempatan menghasilkan karya wayang dengan konsep berbeda.
“Dengan selesainya karya wayang jumbo ini, saya sangat bersyukur diberi kesempatan membuat wayang yang tidak seperti biasanya. Bahannya menggunakan sak semen daur ulang. Walaupun menggunakan bahan daur ulang, proses pembuatannya masih sama seperti pembuatan wayang kulit,” ungkap Tri Haryoko dalam rilis yang dikirim.
Menurutnya, ukuran jumbo menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengerjaan. Ukuran yang mencapai 150 sentimeter membuat proses pembuatan membutuhkan kehati-hatian lebih dibandingkan wayang berukuran normal.
“Yang paling berkesan, wayang ini ukurannya jumbo, jadi harus ekstra hati-hati membuatnya karena berbeda dengan ukuran pada umumnya,” jelasnya.
Tri Haryoko berharap karya tersebut membuka peluang kolaborasi dan pengembangan seni wayang dengan berbagai bentuk kesenian serta material yang tersedia di lingkungan sekitar.
“Kami berharap ke depannya ada pihak-pihak yang mau menggandeng Sanggar Omah Wayang Mas Kamto agar tetap berkarya. Semoga wayang tidak hanya berjalan di ranah tradisi, tetapi juga bisa dikolaborasikan dengan apa saja, misalnya musik kontemporer maupun musik Barat,” katanya.
Ia menambahkan, bahan pembuatan wayang tidak selalu harus menggunakan kulit. Pemanfaatan material daur ulang seperti sak semen dapat menjadi alternatif untuk mengeksplorasi bentuk baru dalam seni pewayangan.
“Bahan pembuatan wayang ternyata bisa menggunakan bahan yang ada di sekitar kita. Semoga bisa menambah inspirasi dalam mengembangkan seni wayang dengan bahan selain kulit,” pungkasnya. (Sofyan)
Baca juga: Super Hero Sanggar Bhinneka dan TK Teladan Kenalkan Kereta Api Lewat Dongeng Wisata
News
![]() |
| Yoga Pratista Kepala Stasiun Sukoharjo Daop 6 Yogyakarta saat meniup lilin roti ulang tahun bersama anak-anak TK Teladan. |
Super Hero Sanggar Bhinneka dan TK Teladan Kenalkan Kereta Api Lewat Dongeng Wisata
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Upaya mengenalkan dunia perkeretaapian kepada anak-anak dilakukan melalui kegiatan edukatif dan menyenangkan. Super Hero Sanggar Bhinneka bekerja sama dengan TK Teladan Sukoharjo, Literasi Dongeng Wisata Gatotkoco Disporapar, dan Duta Wisata mengajak anak-anak menikmati perjalanan sekaligus belajar tentang kereta api melalui kegiatan bertajuk Sehari Ceria Bersama Kereta Api, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kereta Api Nasional tersebut dikemas dengan konsep mendongeng wisata di dalam Kereta Wisata Batara Kresna. Peserta terdiri atas murid TK Teladan Sukoharjo dan anak-anak yatim binaan Sanggar Bhinneka, termasuk anak-anak yang menjadi korban Covid-19.
Selama perjalanan, karakter Super Hero menjadi daya tarik bagi anak-anak. Mereka diajak berinteraksi, menikmati perjalanan kereta api, sekaligus menyimak dongeng yang mengangkat kisah Kancil dan Monyet penghuni kawasan tepian Sungai Bengawan Solo di wilayah Nguter.
Dongeng juga dikaitkan dengan berbagai potensi wisata dan lingkungan yang dilewati kereta. Anak-anak dikenalkan dengan kawasan Nguter yang dikenal sebagai sentra jamu. Saat kereta berhenti di Stasiun Nguter, mereka mendapatkan pengalaman mengenai jamu sebagai salah satu potensi khas daerah.
Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Wonogiri. Setibanya di Stasiun Wonogiri, anak-anak diajak berjalan-jalan ke kawasan pasar di depan stasiun dan mengenal kuliner khas, salah satunya bakmi pentil. Setelah itu rombongan kembali menuju Sukoharjo menggunakan kereta api.
Danar, Super Hero Sanggar Bhinneka, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi edukasi perkeretaapian dan literasi wisata yang dilakukan bersama KAI Daop 6.
“Superhero Sanggar Bhinneka menjadi mitra KAI Daop 6 dalam kegiatan edukasi perkeretaapian sekaligus literasi wisata bagi anak-anak. Dalam kegiatan Sehari Ceria Bersama Kereta Api, kami mengajak anak-anak mengenal kereta api sekaligus berbagai potensi wisata yang dilalui selama perjalanan,” ujarnya.
Menurut Danar, konsep mendongeng di dalam kereta membuat anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Cerita yang disampaikan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi dikaitkan dengan lokasi yang secara langsung mereka lihat selama perjalanan.
“Kami mendongeng di dalam perjalanan Kereta Wisata Batara Kresna dengan mengangkat tempat-tempat yang dilewati kereta, seperti Sungai Bengawan Solo dan kawasan Nguter yang dikenal sebagai sentra jamu. Anak-anak tidak hanya diajak mencintai kereta api, tetapi juga mengenal lingkungan dan potensi wisata di sepanjang perjalanan,” jelasnya.
Danar menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan anak terhadap transportasi umum sekaligus budaya literasi. Menurutnya, pendekatan melalui pengalaman langsung membuat literasi terasa lebih menyenangkan bagi anak-anak.
Konsep tersebut sejalan dengan upaya KAI Daop 6 dalam mengenalkan literasi melalui kereta api, termasuk keberadaan Rail Library atau perpustakaan kereta. Anak-anak diharapkan semakin mengenal kereta api sekaligus memiliki pengalaman positif selama menggunakan transportasi umum tersebut.
Sementara itu, Yoga Pratista selaku Kepala Stasiun Sukoharjo Daop 6 Yogyakarta menyampaikan kegiatan ini bagian dari menyambut HUT KAI ke-81 sekaligus sarana mengenalkan dunia perkeretaapian kepada anak-anak sejak dini.
“Kegiatan edukasi ini kami apresiasi karena menjadi bentuk kebersamaan sekaligus edukasi untuk mengenalkan perkeretaapian sejak dini kepada anak-anak. Semoga kegiatan ini memberikan pengalaman yang menyenangkan dan menumbuhkan rasa bangga serta cinta terhadap kereta api,” kata Yoga.
Yoga mengatakan KAI terbuka memberikan edukasi perkeretaapian kepada anak-anak, mulai jenjang TK hingga SD. Edukasi secara langsung diharapkan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal lebih dekat berbagai hal terkait dunia perkeretaapian.
Rangkaian kegiatan ditutup di Sukoharjo dengan perayaan ulang tahun kereta api. Anak-anak bersama Super Hero Sanggar Bhinneka memberikan kue tart kepada masinis dan kepala stasiun serta bunga sebagai bentuk apresiasi.
Salah satu siswa TK Teladan Sukoharjo, Melova, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Ia merasa gembira dapat naik kereta api sekaligus berinteraksi dengan Super Hero.
“Senang naik kereta dan bertemu Super Hero. Nanti ikut lagi,” ungkap Melova.
Melalui kegiatan tersebut, pesan “Super Hero mendongeng wisata di dalam kereta wisata” menjadi cara kreatif memperkenalkan transportasi kereta api sekaligus literasi wisata kepada generasi muda. Semangat tersebut diwujudkan melalui pesan, “Selamat Hari Kereta Api Nasional, kami tetap cinta kereta api.” (Sofyan)
Baca juga: Univet Bantara Kembali Dipercaya Kelola PPG, Rektor Dorong Lahirkan Guru Profesional Berbasis Hati
Pendidikan
![]() |
| Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani meresmikan sekaligus meninjau Kantor Pusat Bahasa Mandarin (PBM)/Confucius Institute Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (24/9/2026). |
Wawali Astrid Widayani Apresiasi Peresmian Kantor Pusat Bahasa Mandarin UNS, Dorong Penguatan Kolaborasi Indonesia-Tiongkok
Surakarta - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menghadiri peresmian Kantor Pusat Bahasa Mandarin (PBM)/Confucius Institute Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (24/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Utara Javanologi UNS tersebut dirangkai dengan Perayaan Hari Confucius dan Festival Musim Gugur.
Astrid menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Surakarta atas hadirnya kantor baru PBM/Confucius Institute UNS. Ia juga menyambut kedatangan mitra dari Xihua University, para pendidik, mahasiswa, serta mitra dari Tiongkok yang hadir di Kota Surakarta.
“Pemerintah Kota Surakarta menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Universitas Sebelas Maret atas hadirnya kantor baru Pusat Bahasa Mandarin/Confucius Institute ini. Kami juga menyampaikan selamat datang kepada para mitra dari Xihua University, para pendidik, mahasiswa, serta seluruh sahabat dari Tiongkok yang hadir di Kota Surakarta,” kata Astrid.
Confucius Institute UNS merupakan hasil kerja sama UNS dengan Xihua University. Kerja sama kedua perguruan tinggi tersebut dimulai sejak 2018, sebelum Confucius Institute UNS resmi diresmikan pada 11 Maret 2019. Saat diresmikan, Confucius Institute UNS menjadi Confucius Institute pertama di Jawa Tengah dan ketujuh di Indonesia.
Menurut Astrid, keberadaan Confucius Institute tidak sekadar menyediakan ruang pembelajaran bahasa Mandarin. Lembaga tersebut juga menjadi ruang bertemunya pendidikan, kebudayaan, pertukaran pengetahuan, serta hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Tiongkok.
Hal tersebut terlihat dari berbagai program kerja sama yang telah dijalankan, termasuk program pendidikan dan double degree UNS bersama Xihua University. Pada 2026, sebanyak 17 mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok FIB UNS menyelesaikan studi selama dua tahun di Xihua University dan meraih gelar Bachelor of Arts. Pada tahun yang sama, 12 mahasiswa BMKT UNS mengikuti program double degree di Tiongkok.
“Ini tentu menjadi modal penting dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi, memahami budaya, serta membangun jejaring dalam lingkungan global,” ujar Astrid.
Ia menjelaskan, pengalaman belajar di lingkungan internasional memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal langsung masyarakat dan kebudayaan negara lain. Karena itu, pembelajaran bahasa perlu berjalan beriringan dengan pemahaman budaya.
Astrid melihat keberadaan Confucius Institute semakin memperkuat posisi Surakarta sebagai kota pendidikan sekaligus kota budaya yang terbuka terhadap kerja sama internasional.
“Surakarta memiliki ruang yang sangat besar untuk terus mempertemukan berbagai budaya melalui pendidikan, seni, kreativitas, dan pertukaran pengetahuan. Ini yang harus terus kita kembangkan,” katanya.
Ia juga menjelaskan pentingnya akulturasi budaya dalam proses pertemuan masyarakat Indonesia dan Tiongkok. Menurut Astrid, Surakarta memiliki pengalaman panjang dalam mempertemukan budaya Jawa dan Tionghoa dalam kehidupan masyarakat.
“Pertemuan budaya bukan berarti menghilangkan identitas masing-masing. Justru dari pertemuan itu kita bisa saling mengenal, saling menghargai, kemudian melahirkan akulturasi yang memperkaya kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Jejak pertemuan budaya Jawa dan Tionghoa tersebut dapat dilihat dalam berbagai tradisi dan kehidupan masyarakat Surakarta. Sejumlah bentuk akulturasi berkembang dalam tradisi Grebeg Sudiro dan Cap Go Meh, kuliner, hingga interaksi sosial masyarakat Jawa dan Tionghoa.
“Nilai-nilai budaya yang kita miliki sebenarnya banyak yang memiliki titik temu. Semangat guyub rukun, gotong royong, kebersamaan dan keharmonisan merupakan nilai yang bisa menjadi ruang bersama dalam pertemuan budaya,” ujarnya.
Perayaan Festival Musim Gugur yang menjadi bagian kegiatan tersebut, menurut Astrid, juga memiliki pesan yang relevan dengan kehidupan masyarakat Surakarta. Tradisi Festival Pertengahan Musim Gugur identik dengan bulan purnama, kebersamaan, keharmonisan, serta berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai.
Ia berharap kegiatan semacam itu tidak berhenti sebagai perayaan budaya, tetapi berkembang menjadi ruang pertukaran dan kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok.
“Kita tidak hanya belajar budaya Tiongkok, tetapi juga harus menjadikan ruang seperti ini untuk memperkenalkan budaya Jawa dan budaya Indonesia kepada masyarakat Tiongkok,” kata Astrid.
Kolaborasi tersebut telah berjalan dalam berbagai bentuk. Salah satunya melalui program pertukaran dan pembelajaran kebudayaan Jawa yang melibatkan mahasiswa Xihua University. Program kolaborasi PBM Confucius Institute UNS dan PUI Javanologi UNS bahkan pernah diikuti 35 mahasiswa Tiongkok untuk mempelajari keris, batik, tari, bahasa dan aksara Jawa, serta kebudayaan Surakarta.
Astrid berharap mahasiswa dan generasi muda Surakarta dapat memanfaatkan keberadaan Confucius Institute. Belajar bahasa Mandarin, menurutnya, bukan hanya tentang kemampuan berkomunikasi, tetapi juga membuka pintu untuk memahami masyarakat dan kebudayaan Tiongkok serta memperluas peluang pendidikan dan pekerjaan.
PBM UNS juga telah mengembangkan jejaring dengan dunia industri. Dalam kegiatan UNS pada 2025 disebutkan sejumlah mahasiswa dan alumni memperoleh kesempatan bekerja di perusahaan yang berada di Batang, Morowali, Palembang maupun di Tiongkok. Selain pendidikan dan kebudayaan, kerja sama tersebut juga diarahkan pada kebutuhan dunia kerja dan industri.
“Ke depan, kami berharap hubungan dan pertukaran antara Surakarta dengan berbagai perguruan tinggi maupun kota dan provinsi di Tiongkok dapat terus berkembang, khususnya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, perdagangan, dan bidang-bidang lain yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Astrid.
Ia berharap peresmian kantor baru tersebut menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi sekaligus memperkuat hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok.
“Semoga peresmian kantor baru ini menjadi awal dari semakin banyaknya program kolaborasi, semakin luasnya pertukaran pengetahuan dan budaya, serta semakin kuatnya persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok,” pungkasnya.(Sofyan)
Baca juga: Univet Bantara Kembali Dipercaya Kelola PPG, Rektor Dorong Lahirkan Guru Profesional Berbasis Hati
Pendidikan
![]() |
| Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Univet Bantara dan Dirjen GTK di Jakarta. Kamis (24/9/2026). |
Univet Bantara Kembali Dipercaya Kelola PPG, Rektor Dorong Lahirkan Guru Profesional Berbasis Hati
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) kembali mendapat kepercayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) untuk mengelola mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). Kepercayaan tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Univet Bantara dan Dirjen GTK di Jakarta. Kamis (24/9/2026).
Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum menyampaikan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pemerintah menyiapkan calon guru profesional. Setiap tahun Univet Bantara dipercaya mengelola mahasiswa PPG yang dipersiapkan menjadi guru profesional.
"Alhamdulillah pada setiap tahunnya Univet Bantara senantiasa dipercaya oleh Dirjen GTK untuk mengelola mahasiswa PPG, yaitu mahasiswa calon guru profesional," ujarnya.
Menurutnya, dalam kesempatan penandatanganan PKS tersebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan harapan agar perguruan tinggi membangun kerja sama secara baik untuk menghasilkan guru profesional. Guru tidak hanya dituntut memiliki ilmu, tetapi juga mampu mengajar dengan hati serta memiliki kepedulian terhadap peserta didik.
"Guru itu mempunyai kepedulian terhadap muridnya. Peran guru itu sesungguhnya tidak akan pernah bisa tergantikan dengan mesin ataupun dengan teknologi," jelasnya.
Prof. Farida menjelaskan, perkembangan artificial intelligence (AI) saat ini memang memberikan banyak kemudahan dalam membantu pekerjaan manusia. Namun, guru memiliki peran yang berbeda karena pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan sentuhan hati dan perasaan.
Guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar tanpa tekanan sehingga peserta didik memiliki semangat untuk belajar dan berkembang. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan harapan penerapan kurikulum deep learning dalam pendidikan Indonesia.
"Guru diharapkan tidak berperan sebagaimana artificial intelligence dalam memberikan pengetahuan maupun keterampilan kepada murid-muridnya, tetapi lebih pada pekerjaan yang menggunakan hati dan perasaannya," jelasnya.
Kepercayaan Dirjen GTK kepada Univet Bantara akan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Univet Bantara berkomitmen terus membantu pemerintah menghasilkan guru-guru profesional yang memiliki kompetensi sekaligus kepedulian terhadap peserta didik.
Dari sisi kesiapan penyelenggaraan, Univet Bantara memiliki Program Studi PPG yang telah meraih akreditasi unggul. Selain itu, sumber daya manusia yang dimiliki juga memenuhi ketentuan Dirjen GTK, bahkan memiliki kualifikasi yang mendukung pengelolaan program PPG.
"Univet tentu saja sudah cukup representatif dalam mengelola PPG karena program studi PPG yang ada di Univet juga sudah terakreditasi unggul. SDM-nya juga sesuai dengan ketentuan dari GTK," ujarnya.
Melalui kerja sama tersebut, Univet Bantara berharap dapat terus memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Pengelolaan PPG diarahkan untuk menghasilkan guru profesional yang tidak hanya menguasai ilmu dan keterampilan, tetapi juga mampu mendidik dengan kepedulian, empati, dan hati. (Sofyan)
Baca juga: Univet Bantara dan Kemendag RI Jalin Kerja Sama Tridharma, Dorong UMKM dan Wirausaha Mahasiswa
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...










