UNISRI Perkuat Jejaring Akademik di Lubuklinggau, Jalin Kerja Sama dengan UNPARI dan UNMURA

    LUBUKLINGGAU – majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta terus memperluas jejaring kerja sama akademik lintas pulau. Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan kerja sama ke dua perguruan tinggi di Lubuklinggau, Sumatera Selatan, yakni Universitas PGRI Silampari (UNPARI) dan Universitas Musi Rawas (UNMURA), 1 Oktober 2026.

    Kunjungan tersebut menjadi bagian dari komitmen UNISRI untuk mengembangkan kerja sama perguruan tinggi yang tidak berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi dilanjutkan dengan implementasi berbagai program akademik yang memberikan manfaat bagi dosen dan mahasiswa.

    Kunjungan ke UNPARI merupakan kunjungan balasan setelah sebelumnya UNPARI melakukan sharing session bersama mahasiswa dan dosen Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris UNISRI.


    Dalam kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Rektor UNISRI Prof. Dr. Drs. Sutoyo, M.Pd. dan Rektor UNPARI Dr. Rudi Erwandi, M.Pd.

    Rektor UNPARI Dr. Rudi Erwandi menyambut baik kunjungan UNISRI sekaligus menyampaikan apresiasi atas kerja sama yang mulai diwujudkan melalui kegiatan akademik.

    "Kerja sama ini sudah mulai kita implementasikan melalui kegiatan akademik. Ke depan tentu masih banyak kegiatan yang dapat dikembangkan bersama, baik yang berkaitan dengan dosen, mahasiswa, maupun bidang akademik lainnya," ujar Dr. Rudi.

    Rektor UNISRI Prof. Sutoyo menjelaskan pentingnya menjaga keberlanjutan komunikasi dan program kerja sama yang telah dibangun kedua perguruan tinggi.

    "Hubungan yang sudah terjalin perlu terus dikembangkan. Kunjungan balasan ini menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan komunikasi dan kerja sama yang telah dimulai sebelumnya," kata Prof. Sutoyo.

    Kegiatan di UNPARI turut dihadiri jajaran pimpinan perguruan tinggi, antara lain Wakil Rektor Bidang Akademik, Administrasi, dan Kerja Sama serta para dekan.


    Usai melakukan kunjungan ke UNPARI, rombongan UNISRI melanjutkan agenda ke Universitas Musi Rawas (UNMURA). Di perguruan tinggi tersebut, kerja sama diperkuat melalui penandatanganan MoU tingkat universitas, Memorandum of Agreement (MoA) tingkat fakultas antara FISIP UNISRI dan FISIP UNMURA, serta Implementation Agreement (IA).

    IA ditandatangani Sekretaris Program Studi Ilmu Administrasi Negara UNISRI Riska Wirawan, S.Sos., M.Si. dan Ketua Program Studi Ilmu Administrasi Publik UNMURA Drs. Mardi Murahman, M.Si.

    Kerja sama tersebut langsung diimplementasikan melalui kegiatan guest lecture yang menghadirkan dosen Program Studi Ilmu Administrasi Negara UNISRI untuk memberikan materi kepada mahasiswa UNMURA.

    Wakil Rektor I UNMURA, Dr. Etty Safriyani, SP., M.Si., berharap kerja sama yang telah dibangun dapat mendukung pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi sekaligus berkembang melalui berbagai program kolaboratif lainnya.

    "Kami berharap kerja sama ini tidak berhenti pada kegiatan hari ini, tetapi dapat dilanjutkan dengan berbagai kegiatan lainnya. Ke depan kami ingin melakukan kunjungan balasan ke UNISRI bersama mahasiswa," ujarnya.

    Rencana tersebut mendapat sambutan positif dari Rektor UNISRI. Prof. Sutoyo menjelaskan kunjungan mahasiswa dapat menjadi sarana untuk memperluas pengalaman sekaligus wawasan akademik.

    "Kami tentu menyambut baik kunjungan balasan bersama mahasiswa. Selain mempererat kerja sama, ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperoleh pengalaman dan wawasan baru," pungkas Prof. Sutoyo.

    Rangkaian kunjungan ke Lubuklinggau dipimpin Rektor UNISRI Prof. Dr. Drs. Sutoyo, M.Pd., didampingi Dekan FISIP Dr. Dra. Herning Suryo Sardjono, M.Si., Sekretaris Program Studi MAP Dr. Purbayakti Purbo, Sekretaris Program Studi AN Riska Wirawan, S.Sos., M.Si., serta Kepala UPT Kerja Sama Andri Astuti Itasari, S.Sos., M.I.Kom.

    Melalui kerja sama dengan UNPARI dan UNMURA, UNISRI berupaya memperluas kolaborasi Tri Dharma Perguruan Tinggi antara perguruan tinggi di Jawa dan Sumatera. Kolaborasi tersebut mencakup pertukaran dosen dan mahasiswa, penelitian bersama, pengabdian kepada masyarakat, seminar, guest lecture, hingga rekognisi dosen antarperguruan tinggi.

    Kerja sama lintas pulau ini diharapkan tidak hanya memperkuat jejaring kelembagaan, tetapi juga membuka semakin banyak ruang bagi sivitas akademika UNISRI, UNPARI, dan UNMURA untuk saling berbagi pengetahuan, pengalaman, serta mengembangkan inovasi akademik secara berkelanjutan. (Sofyan)


    Baca juga: Wawali Astrid Widayani Buka Pameran Seni Rupa Alumni ISI Surakarta Sinergi 4 “Tenun Imagi”

     


    Kolaborasi Sekolah dan Wali Murid Siap Wujudkan Pembelajaran Digital

     BOYOLALI – majalahlarise.com - Sebanyak 583 wali murid SD Muhammadiyah PK Banyudono mengikuti pengambilan hasil Asesmen Sumatif Tengah Semester (ASTS) 1 sekaligus Rapat Pleno Wali Murid yang digelar di Gedung Serbaguna Desa Bendan, Banyudono, Sabtu (3/10/2026).

    Rapat pleno mengangkat tema “Bersama Sekolah dan Orang Tua, Mewujudkan Fasilitas Pembelajaran Digital untuk Membentuk Generasi yang Cakap Teknologi dan Berakhlaq Mulia.” Tema tersebut menjadi gambaran komitmen sekolah bersama orang tua dalam menghadirkan pendidikan yang mampu mengikuti perkembangan teknologi sekaligus tetap menguatkan akhlak dan karakter peserta didik.

    Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, dalam sambutannya menyampaikan pentingnya sinergi sekolah dan orang tua dalam membangun lingkungan pendidikan yang mampu menjawab tantangan zaman.

    “Anak-anak kita akan hidup di zaman yang semakin digital. Karena itu, sekolah harus menyiapkan fasilitas dan pembelajaran yang membuat mereka cakap teknologi, tetapi tetap memiliki adab dan akhlak yang mulia,” pesannya.

    Sementara itu, Ketua Majelis Dikdasmen PNF PCM Banyudono menyampaikan apresiasi terhadap berbagai prestasi yang telah diraih SD Muhammadiyah PK Banyudono, baik di bidang akademik maupun nonakademik.

    “Catatan tahun 2026 saja, SD Muhammadiyah PK Banyudono telah meraih 33 piala tingkat kecamatan, 20 piala tingkat kabupaten, dan dua piala tingkat nasional. Yang barusan MAPSI tingkat kecamatan juga menjadi juara umum dengan meraih 18 piala, terdiri atas sembilan juara 1, lima juara 2, dan empat juara 3,” ungkapnya.

    Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari pengelolaan sekolah yang kompak serta dukungan berbagai pihak. Ia juga menyampaikan apresiasi atas predikat yang diterima SD Muhammadiyah PK Banyudono sebagai Sekolah Unggul Madya dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

    “Ini karena pengelolaan yang kompak. Alhamdulillah, SD Muhammadiyah PK Banyudono juga dinobatkan sebagai Sekolah Unggul Madya oleh Pimpinan Pusat. Peningkatan mutu pendidikan membutuhkan dukungan dan kebersamaan seluruh unsur, termasuk sekolah, orang tua, dan persyarikatan. Mari kita sama-sama kuatkan demi cita-cita anak-anak kita,” ajaknya.

    Penguatan juga disampaikan Ketua Komite SD Muhammadiyah PK Banyudono, Danto Krissuwarno. Ia mengajak para wali murid melihat kebutuhan fasilitas pendidikan sebagai investasi bersama bagi masa depan anak-anak.

    “Menurut survei kami, SD Muhammadiyah PK Banyudono meski murah, prestasinya luar biasa. Kami mengapresiasi bapak dan ibu guru. Jujur, kami belum bisa memberikan penghargaan seperti yang diinginkan. Semoga ke depan kita sama-sama bisa mewujudkannya,” tuturnya.

    Dalam rapat tersebut, sekolah bersama wali murid memiliki kesamaan tekad untuk mewujudkan Laboratorium Komputer SD Muhammadiyah PK Banyudono. Fasilitas ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran yang dapat dimanfaatkan seluruh peserta didik untuk meningkatkan keterampilan teknologi, literasi digital, kreativitas, sekaligus kesiapan menghadapi perkembangan zaman.

    Pembangunan laboratorium komputer tidak hanya dipandang sebagai upaya menghadirkan ruang dan perangkat komputer. Lebih dari itu, fasilitas tersebut diharapkan mampu menghadirkan pengalaman belajar yang relevan dengan kebutuhan generasi masa kini.

    Sekolah akan menyiapkan program dan pengelolaan pembelajaran, sedangkan orang tua memberikan dukungan sesuai kemampuan dan kesepakatan bersama. Pola kolaborasi tersebut menjadi modal penting dalam mewujudkan fasilitas pembelajaran digital yang berkelanjutan.

    Rapat pleno juga menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bersama bahwa pendidikan anak bukan hanya tanggung jawab sekolah. Peran orang tua dan dukungan persyarikatan menjadi bagian penting dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang mampu mengembangkan potensi peserta didik secara menyeluruh.

    Dengan semangat kebersamaan, SD Muhammadiyah PK Banyudono terus berikhtiar menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman dan akhlak. Teknologi boleh maju, adab tetap nomor satu. (Sofyan)


    Baca juga: Wawali Astrid Widayani Buka Pameran Seni Rupa Alumni ISI Surakarta Sinergi 4 “Tenun Imagi”

     


    SVC Sukoroyom Kulon Tuntaskan Misi di Kades Cup V, Berakhir dengan Pesta Juara

    WONOGIRI – majalahlarise.com - Perjuangan panjang SVC Sukoroyom Kulon akhirnya berbuah manis. Tampil dalam Turnamen Bola Voli Kades Cup V di Lapangan Bola Voli Sawit, Pucanganom, Kecamatan Giritontro, Sabtu (3/10/2026), SVC (Sukoroyom Voli Ball) berhasil merebut gelar juara pertama setelah melewati sejumlah pertandingan sengit hingga partai final.

    Gelar tersebut terasa semakin istimewa karena SVC berhak membawa pulang piala tetap sekaligus piala bergilir Kades Cup V.

    Sejak pertandingan dimulai, Lapangan Sawit dipadati masyarakat dan pecinta bola voli. Antusiasme penonton semakin tinggi ketika turnamen memasuki pertandingan-pertandingan penentuan. Ribuan pasang mata menyaksikan perjuangan tim-tim yang tampil untuk memperebutkan gelar juara.

    Salah satu pertandingan yang menyita perhatian terjadi ketika SVC Sukoroyom Kulon menghadapi Ingak Inguk dalam perebutan tiket menuju partai final.

    Ingak Inguk bukan lawan sembarangan. Tim tersebut tercatat telah empat kali meraih juara pertama, sehingga menjadi ujian berat bagi SVC untuk melangkah ke partai puncak.


    Pertandingan berlangsung ketat sejak awal. Kedua tim saling memberikan tekanan dan berusaha mempertahankan momentum. Setiap poin diperjuangkan dengan konsentrasi tinggi.

    Dalam tekanan pertandingan tersebut, SVC mampu menunjukkan permainan solid. Kekompakan, komunikasi antarpemain dan kegigihan menjadi kekuatan yang terus dijaga hingga akhirnya SVC berhasil mengatasi perlawanan Ingak Inguk dan memastikan tiket menuju final.

    Tantangan berat kembali menanti SVC di partai final. Kali ini mereka harus menghadapi Putra Sawit Lor, tim tuan rumah yang mendapat dukungan penuh dari penonton di Lapangan Sawit.

    Atmosfer pertandingan semakin panas. Suara dukungan suporter menggema dari sisi lapangan. Setiap serangan, blok dan perolehan angka langsung disambut sorakan penonton.

    Namun, SVC tidak membiarkan tekanan tersebut mengganggu konsentrasi. Para pemain tetap menjaga kekompakan dan berjuang hingga pertandingan berakhir.

    Perjuangan tersebut akhirnya membuahkan hasil. SVC Sukoroyom Kulon berhasil keluar sebagai juara pertama Kades Cup V Sawit Pucanganom 2026.

    Kemenangan sontak disambut kegembiraan para pemain dan SVC Mania. Selebrasi kemenangan menjadi pemandangan yang mewarnai akhir pertandingan. Piala tetap dan piala bergilir pun menjadi simbol keberhasilan SVC dalam menuntaskan misi di turnamen tersebut.

    Kebahagiaan atas keberhasilan tersebut dirasakan seluruh skuad SVC Sukoroyom Kulon. Afif, salah satu pentolan pemain SVC, menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi kepada seluruh pemain dan masyarakat yang memberikan dukungan.

    “Alhamdulillah, kami sangat bersyukur atas hasil ini. Semua pemain sudah berjuang dan bermain dengan penuh kekompakan. Juara ini kami persembahkan untuk masyarakat Sukoroyom Kulon dan seluruh SVC Mania yang selama ini selalu memberikan dukungan,” kata Afif.

    Menurutnya, dukungan suporter menjadi suntikan semangat bagi para pemain, terutama ketika menghadapi pertandingan dengan tekanan tinggi.

    Semangat dari tribun penonton membuat pemain semakin termotivasi untuk memberikan permainan terbaik hingga pertandingan terakhir.

    Sementara itu, Farid Ismu, ofisial SVC Sukoroyom Kulon, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pemain, ofisial dan masyarakat Sukoroyom Kulon yang telah memberikan dukungan sepanjang perjalanan tim di Kades Cup V.

    Ia menyampaikan terima kasih kepada para pemain yang telah menunjukkan semangat juang dan kekompakan selama turnamen.

    “Terima kasih kepada semua pemain, ofisial dan terutama masyarakat Sukoroyom Kulon serta SVC Mania. Dukungan mereka luar biasa. Kemenangan ini merupakan hasil perjuangan bersama,” ujar Farid.

    Menurutnya, keberhasilan meraih juara bukan hanya hasil kerja para pemain di dalam lapangan. Dukungan masyarakat dan suporter juga menjadi bagian penting dalam perjalanan SVC hingga mampu mengangkat trofi juara.

    Kades Cup V Sawit Pucanganom tidak sekadar menjadi ajang perebutan gelar juara. Turnamen tersebut juga menjadi magnet masyarakat untuk berkumpul, menikmati pertandingan bola voli sekaligus mempererat silaturahmi.

    Antusiasme penonton terlihat sejak pertandingan dimulai. Ketika turnamen memasuki babak-babak penting, jumlah penonton semakin bertambah sehingga suasana Lapangan Sawit semakin meriah.

    Bagi SVC Sukoroyom Kulon, perjalanan di Kades Cup V akhirnya ditutup dengan cerita manis. Mereka datang membawa semangat, menghadapi lawan-lawan tangguh, melewati pertandingan penuh tekanan, hingga akhirnya pulang sebagai kampiun dengan membawa piala tetap dan piala bergilir.

    Sabtu malam di Sawit menjadi malam penuh kebanggaan bagi masyarakat Sukoroyom Kulon.

    SVC juara, SVC Mania bersorak, dan trofi Kades Cup V akhirnya dibawa pulang ke Sukoroyom Kulon. (Sofyan)


    Baca juga: Wawali Astrid Widayani Buka Pameran Seni Rupa Alumni ISI Surakarta Sinergi 4 “Tenun Imagi”

     

    Wawali Astrid Widayani secara simbolis melukis sebuah Vespa sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pameran.


    Wawali Astrid Widayani Buka Pameran Seni Rupa Alumni ISI Surakarta Sinergi 4 “Tenun Imagi”

    SURAKARTA – majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani membuka Pameran dan Bursa Seni Rupa Alumni ISI Surakarta Sinergi #4 “Tenun Imagi” di Galeri Seni Rupa, Taman Budaya Jawa Tengah, Jumat (2/10/2026) malam. Dalam pembukaan tersebut, Astrid turut secara simbolis melukis sebuah Vespa sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pameran.

    Pameran yang berlangsung pada 2–9 Oktober 2026 tersebut menjadi ruang bagi para alumni STSI/ISI Surakarta untuk kembali berkarya, bersilaturahmi sekaligus mempertemukan beragam gagasan dan ekspresi seni rupa. Masyarakat dapat mengunjungi pameran secara gratis setiap hari mulai pukul 10.00–21.00 WIB.

    Astrid menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Alumni STSI/ISI Surakarta yang terus menjaga semangat berkesenian dan berkarya. Menurutnya, seni tidak lahir dalam ruang kosong, tetapi tumbuh dari pengalaman, lingkungan, kebudayaan, perjumpaan antar manusia, serta keberanian seniman menerjemahkan apa yang dilihat, dirasakan dan dipikirkan ke dalam karya.

    “Tema Tenun Imagi memiliki makna yang menarik. Tenun merupakan proses mempertemukan banyak helai menjadi satu kesatuan. Satu benang mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dipadukan dengan benang lainnya, dengan warna, pola, tekstur, dan keterampilan manusia, dapat menjadi sebuah karya yang memiliki makna,” kata Astrid.

    Ia menjelaskan, konsep tersebut menggambarkan bagaimana pengalaman, ingatan, tradisi, perubahan zaman, persoalan sosial, lingkungan hingga harapan masa depan dapat menjadi benang-benang gagasan bagi seorang seniman. Berbagai gagasan itu kemudian dirangkai menjadi karya yang memiliki karakter dan makna.

    Karena itu, Astrid menyebut Pameran Sinergi #4 “Tenun Imagi” bukan sekadar ruang untuk menghadirkan dan menikmati karya seni. Pameran tersebut juga menjadi ruang dialog antara seniman dengan penikmat seni, pengalaman masa lalu dengan realitas hari ini, serta tradisi dengan berbagai kemungkinan baru di masa depan.

    “Surakarta memiliki perjalanan panjang sebagai kota budaya. Dalam kehidupan kota, seni bukan hanya menjadi pelengkap, tetapi menjadi bagian dari identitas sekaligus dinamika masyarakat,” ujarnya.

    Astrid menambahkan, keberlangsungan ekosistem kebudayaan membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, seniman, akademisi, komunitas, dunia usaha dan masyarakat. Pameran menjadi salah satu ruang penting untuk memberikan kesempatan kepada seniman berekspresi sekaligus membuka akses masyarakat untuk menikmati, memahami dan mengapresiasi karya seni.

    Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai ruang silaturahmi alumni, tetapi berkembang menjadi ruang regenerasi, apresiasi, eksperimentasi dan pertemuan berbagai gagasan yang memperkaya kehidupan seni dan budaya di Surakarta serta Jawa Tengah.

    “Dunia terus berubah, teknologi berkembang, cara manusia berkomunikasi berubah, dan cara masyarakat melihat lingkungan serta kebudayaan juga terus berkembang. Namun, seni tetap memiliki kekuatan yang tidak tergantikan, yaitu kemampuan manusia untuk memberikan makna terhadap apa yang terjadi di sekitarnya,” katanya.

    Pameran dan Bursa Seni Rupa Alumni ISI Surakarta Sinergi #4 “Tenun Imagi” menghadirkan puluhan seniman alumni STSI/ISI Surakarta dengan beragam karya seni rupa. Pembukaan pameran juga dimeriahkan penampilan Solo Guitar oleh Yoga Major Guitar serta Tari Kreasi Tradisi Dayak Kenyah Kutai Timur oleh Punati Mahinukia Alyaista.

    Selain menghadirkan karya seni rupa, kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan para alumni dan pelaku seni untuk memperkuat jejaring sekaligus memperkenalkan karya seni kepada masyarakat.

    Puluhan seniman turut berpartisipasi dalam pameran tersebut, di antaranya Agus Ari Nugroho, Agus Prayono, Agus Wahyudi, Agus Ardianto, Agus Satria, Agus Tri Purwanto, Agus Widiatmoko, Ana Nurhayati, Arif Rachman, Arianto Suryono, C. Wahyu Wicaksono, Cipyo Wibowo, Darto Setyow, Desi Anggraeni, Dian Setiawan, Eko Prasetyo, Elyia Susanti, Ferry Wibowo, Herianto, Hermininggih, Irawan Kurniawan, Joko Santoso, Lilik Bambang, Lufli B. Santoso, M. Dani Nursyam, Mulyana, Nanik Rahayu, Nia Kurniawati, Oktaviana R. Dwi Kristianto, P. M. Wulandari, Sari Yanti, Siti Aminah, Taufik Hidayat, Totok Sugiarto, Tri Wibowo, Wahyu Setyawan, Widi Astuti, Yudi Hermawan, Yudi Wuryanto, Zainal Arifin, Zahra Fadilah, Agus Prasetyo dan Rian Maulana.

    Melalui Sinergi #4 “Tenun Imagi”, karya seni tidak hanya hadir sebagai objek untuk dinikmati, tetapi juga sebagai medium untuk mempertemukan pengalaman, gagasan, tradisi dan perkembangan zaman. Kehadiran pameran tersebut sekaligus memperlihatkan keberlanjutan proses kreatif para alumni STSI/ISI Surakarta dalam menjaga kehidupan seni rupa di tengah perubahan zaman.

    Pameran terbuka untuk masyarakat secara gratis hingga 9 Oktober 2026 di Galeri Seni Rupa, Taman Budaya Jawa Tengah, setiap hari pukul 10.00–21.00 WIB. (Sofyan)


    Baca juga: 7 Tahun Menanti, Anak Tunarungu di Sukoharjo Kini Bisa Mendengar Berkat Bantuan Alat Dengar Kemensos



    7 Tahun Menanti, Anak Tunarungu di Sukoharjo Kini Bisa Mendengar Berkat Bantuan Alat Dengar Kemensos

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Penantian selama tujuh tahun akhirnya menghadirkan harapan baru bagi Firdaus Aziz, anak penyandang tunarungu asal Sukoharjo. Sejak kecil, Firdaus mengalami gangguan pendengaran. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kemampuan pendengarannya hanya sekitar 15 persen.

    Harapan keluarga untuk membantu Firdaus mendengar dan berkomunikasi lebih baik kini mulai terwujud. Firdaus mendapatkan alat bantu dengar secara gratis melalui bantuan sosial Kementerian Sosial (Kemensos).

    Bantuan tersebut disalurkan melalui kerja sama Kemensos dengan DPD LDII Sukoharjo serta Anggota DPR RI Singgih Januratmoko. Firdaus menjadi salah satu dari 25 penerima manfaat bantuan sosial berupa alat bantu dengar, kursi roda, dan sejumlah alat bantu lainnya.


    Orang tua Firdaus, Dwi, mengaku sangat bersyukur atas bantuan yang diterima anaknya. Selama tujuh tahun, keluarga menantikan adanya bantuan yang dapat membantu Firdaus mendengar dan berkomunikasi lebih baik.

    Menurut Dwi, gangguan pendengaran yang dialami Firdaus sejak kecil turut memengaruhi kemampuan berbicaranya. Kondisi tersebut membuat keluarga terus berupaya mencari solusi agar Firdaus dapat memperoleh dukungan yang dibutuhkan.

    “Dengan bantuan alat dengar ini, kami berharap anak kami bisa mendengar dan nantinya dapat berbicara. Kami sudah tujuh tahun menunggu. Ini menjadi harapan baru untuk meniti masa depan anak kami,” ujar Dwi.

    Dwi berharap alat bantu dengar tersebut dapat memberikan perubahan dalam kehidupan Firdaus, terutama dalam proses belajar, berkomunikasi dengan keluarga, serta berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

    Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Singgih Januratmoko, mengatakan bantuan tersebut diberikan sebagai bentuk kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan alat bantu untuk menunjang aktivitas sehari-hari.

    Menurut Singgih, terdapat 25 penerima manfaat yang mendapatkan bantuan. Bantuan terdiri atas beberapa jenis alat bantu, di antaranya kursi roda dan alat bantu dengar, dengan total nilai sekitar Rp83 juta.

    “Kita membantu saudara-saudara yang memang membutuhkan, ada kursi roda, alat bantu dengar dan alat bantu lainnya. Hari ini ada 25 penerima manfaat yang kita bantu melalui kerja sama dengan berbagai pihak,” kata Singgih.

    Singgih menjelaskan penyaluran bantuan serupa diharapkan dapat terus dilakukan dengan menjangkau masyarakat yang membutuhkan di berbagai daerah. Ia juga mengajak masyarakat turut menyampaikan informasi apabila mengetahui penyandang disabilitas yang membutuhkan alat bantu.

    “Kalau ada saudara atau tetangga yang membutuhkan, nanti bisa disampaikan kepada teman-teman LDII untuk didata. Mudah-mudahan bisa kita bantu,” ujarnya.

    Bagi keluarga Firdaus, alat bantu dengar tersebut bukan sekadar perangkat pendukung aktivitas sehari-hari. Bantuan itu menjadi pintu menuju harapan baru setelah selama bertahun-tahun Firdaus hidup dengan keterbatasan pendengaran.

    Kini, Firdaus memiliki kesempatan untuk mendengar suara di sekitarnya dan belajar berkomunikasi dengan lebih baik. Keluarga berharap kemampuan mendengarnya dapat terus berkembang sehingga ke depan Firdaus mampu berbicara, belajar, berinteraksi, dan menjalani kehidupan dengan lebih percaya diri.

    Bantuan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa dukungan yang tepat dapat membuka kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.(Din/ Sofyan)


    Baca juga: SMA Veteran 1 Sukoharjo Apresiasi Siswa Berprestasi, Orang Tua Diajak Saksikan Penyerahan Penghargaan

     

    Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo, Koyem, S.Pd., M.Si saat menyerahkan apresiasi penghargaan kepada siswa berprestasi.


    SMA Veteran 1 Sukoharjo Apresiasi Siswa Berprestasi, Orang Tua Diajak Saksikan Penyerahan Penghargaan

    SUKOHARJO – majalahlarise.com - SMA Veteran 1 Sukoharjo terus memberikan apresiasi kepada siswa yang berhasil meraih prestasi, baik di bidang akademik maupun non akademik. Penghargaan tersebut menjadi bentuk perhatian sekolah sekaligus motivasi bagi siswa untuk terus mengembangkan potensi dan meraih prestasi. Pemberian penghargaan dilaksanakan usai upacara bendera. Senin (28/9/2026).

    Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo, Koyem, S.Pd., M.Si., menyampaikan sambutan dalam kegiatan pemberian apresiasi tersebut. Perhatian terhadap siswa berprestasi menjadi bagian dari upaya sekolah dalam memberikan ruang penghargaan kepada peserta didik atas capaian yang telah diraih.

    Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan Drs. Sukino turut memberikan perhatian terhadap pelaksanaan program apresiasi bagi siswa. Penghargaan diberikan kepada siswa yang berhasil meraih prestasi, baik melalui bidang akademik maupun berbagai kegiatan nonakademik.


    Pemberian penghargaan dilakukan ketika terdapat siswa yang berhasil meraih juara. Beberapa penghargaan yang telah terkumpul kemudian diserahkan dalam momentum upacara sekolah, termasuk pada peringatan hari-hari besar maupun kegiatan penting lainnya.

    Program tersebut juga melibatkan orang tua siswa. Orang tua diundang untuk menyaksikan secara langsung penyerahan penghargaan kepada putra-putrinya. Kehadiran orang tua mendapat respons positif karena mereka merasa bangga sekaligus mendapatkan penghargaan atas dukungan yang diberikan kepada anak.

    “Alhamdulillah tanggapan dari orang tua sangat merespons. Mereka merasa bangga diundang ke sekolah dan bisa menyaksikan anak-anaknya yang punya prestasi, baik akademik maupun nonakademik,” ungkap Sukino.

    Menurutnya, program apresiasi yang dilakukan SMA Veteran 1 Sukoharjo menjadi salah satu bentuk perhatian sekolah terhadap perkembangan siswa. Kepala sekolah juga terus mendorong dan memperhatikan siswa yang memiliki prestasi agar mereka dapat berkembang serta meraih keberhasilan lebih baik pada masa mendatang.

    Melalui pemberian apresiasi tersebut, sekolah berharap prestasi siswa tidak hanya menjadi kebanggaan bagi penerima penghargaan dan orang tua, tetapi juga menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus berusaha, mengembangkan bakat, dan mengukir prestasi sesuai bidang yang diminati. (Sofyan)


    Baca juga: Semarak Hari Batik Nasional, Murid SD Muhammadiyah PK Solo Sulam Peta Budaya Nusantara



    Semarak Hari Batik Nasional, Murid SD Muhammadiyah PK Solo Sulam Peta Budaya Nusantara

    Solo - majalahlarise.com - Sebanyak 81 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo tampak antusias mengikuti serangkaian kegiatan edukatif yang mengusung konsep seni, geografi, dan kebudayaan pada momentum peringatan Hari Batik Nasional di ruang kelas sekolah setempat, Jumat (2/10/2026).

    Koordinator tim kelas III, Lusia Wahyu Purbowati, menyampaikan melalui pendekatan belajar yang interaktif, para murid diajak untuk tidak sekadar mengenal batik sebagai kain tradisional, melainkan juga memahaminya sebagai simbol identitas bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. 

    "Kegiatan ini dirancang secara khusus untuk menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus mengasah kecerdasan spasial dan motorik halus anak sejak usia dini," terangnya.

    Pada sesi pertama, guru membagikan lembar kertas bergambar pulau-pulau besar di Indonesia secara acak kepada setiap murid. Uniknya, di dalam garis outline setiap pulau tersebut telah disematkan ornamen motif batik khas daerah yang mewakili wilayah geografis yang bersangkutan. Proses pengundian lembar kerja secara acak ini memberikan kejutan tersendiri bagi para murid. Keadaan ini memicu rasa ingin tahu yang besar, karena setiap murid ditantang untuk mengeksplorasi estetika visual batik dari wilayah nusantara yang mungkin belum pernah mereka jumpai sebelumnya.


    Dengan berbekal alat warna seperti pensil warna dan krayon, jemari kecil para murid mulai menari di atas kertas, menghidupkan garis-garis motif tradisional dengan paduan warna yang cerah dan kreatif. Suasana riuh mewarnai proses kreatif saat mereka saling bertukar cerita mengenai motif unik yang sedang mereka kerjakan. Keberagaman corak tampak jelas saat pulau Jawa dihiasi gradasi warna khas motif Parang dan Megamendung, sementara pulau Kalimantan tampak gagah dengan tegasnya ukiran khas Dayak. Tak ketinggalan, pulau Papua memikat perhatian melalui keanggunan siluet burung Cendrawasih yang dipadukan dengan corak kain lokal.

    Setelah tahapan mewarnai selesai, kegiatan berlanjut ke fase kolaboratif yang tidak kalah seru. Para murid dikelompokkan sesuai dengan bagian peta yang mereka dapatkan untuk kemudian menyatukan potongan-potongan pulau tersebut menjadi satu kesatuan peta Indonesia yang utuh dan megah. Proses penyatuan mozaik peta ini menjadi simbolik yang kuat akan kebhinekaan bangsa. Para murid belajar secara langsung bahwa meski setiap pulau memiliki corak batik yang berbeda-beda, semuanya tetap berpadu harmonis dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Salah satu murid kelas III, Hilda Husam Sungkar merasa senang mendapatkan pengalaman belajar berbasis praktik kali ini.  

    "Tak hanya mewarnai dan menempel saja, kita juga diberi wawasan tentang jenis-jenis batik nusantara melalui tayangan video. Lewat kegiatan ini kita telah berhasil menyemai benih-benih pelestarian salah satu budaya Indonesia," ucapnya.

    Puncak acara ditandai dengan sesi presentasi kelompok di hadapan guru dan teman-teman sekelas. Dengan percaya diri dan penuh keberanian, setiap perwakilan murid melangkah ke depan kelas untuk memaparkan hasil karya mereka, menyebutkan nama pulau, serta menjelaskan identitas motif batik yang telah selesai diwarnai. Tidak hanya melatih keterampilan berkomunikasi di depan umum, kegiatan ini juga berhasil menanamkan pemahaman mendalam mengenai kekayaan warisan budaya Indonesia. (Sofyan)


    Baca juga: Jejak Kolaborasi Sejak 2015 Berlanjut, Perpustakaan UNISRI dan UMY Perkuat Kerja Sama Literasi

⬆
Top