GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
![]() |
| Kepala sekolah, Sri Sayekti, menyampaikan arah strategis dalam kegiatan perdana Project Management Office (PMO) Sekolah Model PM-K (Pembelajaran Mendalam–Koding). |
Peta Jalan Masa Depan Sekolah Berkemajuan, SD Muhammadiyah 1 Solo Perkuat AI dan Koding dalam Pembelajaran
Solo – majalahlarise.com - Peta jalan masa depan sekolah berkeunggulan dan berkemajuan mulai dirancang secara sistematis oleh SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah. Kepala sekolah, Sri Sayekti, menyampaikan arah strategis tersebut dalam kegiatan perdana Project Management Office (PMO) Sekolah Model PM-K (Pembelajaran Mendalam–Koding).
Kegiatan berlangsung di Aula Sekolah Sehat, Jalan Kartini Barat, Pura Mangkunegaran, Jumat (10/4/2026), mulai pukul 13.00 WIB. Dalam pengantarnya, Sri Sayekti menguraikan tahapan implementasi program yang akan dijalankan secara bertahap hingga pertengahan tahun.
“Pada April 2026 diawali dengan penyusunan rencana tindak lanjut (RTL) dan diskusi komunitas belajar bersama fasilitator kepala sekolah maupun guru,” kata Sri Sayekti.
Ia menjelaskan, program akan berlanjut pada pekan pertama hingga kedua Mei 2026 melalui kegiatan coaching dan supervisi pembelajaran. Selanjutnya, pada Juni 2026 digelar workshop intensif pembelajaran berdiferensiasi di kelas.
“Pekan 1–2 Mei 2026 dilakukan coaching dan supervisi pembelajaran bersama fasilitator kepala sekolah. Dan akhirnya sampai bulan Juni dengan workshop intensif pembelajaran berdiferensiasi di kelas,” ujarnya.
Menurutnya, masa depan SD Muhammadiyah 1 Ketelan yang telah berdiri sejak 1935 akan semakin gemilang jika mampu memadukan kearifan kurikulum ISMUBA dengan kekuatan analitis pembelajaran mendalam, kecerdasan buatan (AI), dan koding.
Ia menuturkan, pendekatan tersebut menjadi solusi komprehensif dalam menjembatani kesenjangan kompetensi di era digital. “Belajar teori AI dan koding melalui PMM, mempraktikkannya dalam lesson study bersama komunitas belajar, lalu menyempurnakannya melalui coaching oleh kepala sekolah,” jelasnya.
Sri Sayekti juga mengajak seluruh pendidik untuk bersama-sama mengawal implementasi RTL melalui komunitas belajar sebagai motor penggerak perubahan.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan tiga harapan utama dari program ini. Pertama, menciptakan ekosistem pendidikan di mana teknologi tidak menggantikan peran guru, tetapi justru memberdayakan. Kedua, menjawab tantangan Rapor Pendidikan melalui metode pembelajaran interaktif yang terukur. Ketiga, mengokohkan posisi sekolah sebagai rujukan nasional yang berbudaya mutu.
“Harapannya, sekolah mampu menciptakan ekosistem di mana teknologi memberdayakan guru, menjawab tantangan Rapor Pendidikan secara terukur, serta mengokohkan posisi sebagai sekolah rujukan berbudaya mutu di tingkat nasional,” katanya.
Dalam implementasinya, Sri Sayekti menekankan pentingnya langkah taktis melalui lesson study dan komunitas belajar yang diawali dengan perencanaan bersama. Guru didorong memaksimalkan peran kelompok belajar di setiap rombongan belajar untuk merancang modul ajar yang mengintegrasikan koding sederhana dan pemanfaatan AI.
Selain itu, dilakukan observasi terjadwal melalui lesson study secara bergantian, sehingga guru dapat saling mengamati dan memperkaya praktik pembelajaran interaktif.
“Guru tidak belajar sendiri, tetapi saling mengamati dan menguatkan praktik pembelajaran di kelas,” ungkapnya.
Ia menambahkan, refleksi praktik baik menjadi kunci penguatan program, dengan berbagi strategi dalam mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa, baik audio, visual, maupun kinestetik, melalui perangkat digital.
“Jurus selanjutnya adalah refleksi praktik baik, berbagi strategi untuk mengakomodasi gaya belajar siswa melalui perangkat digital,” pungkasnya. (Sofyan)
Baca juga: Poster Mahasiswa DKV ISI Surakarta Lolos Seleksi Internasional, Angkat Isu Bahaya Plastik di Turki
Pendidikan
![]() |
| Karya berjudul “It’s Time to See” hasil rancangan Utami Kusumah Dewi, mahasiswa DKV angkatan 2024. |
Poster Mahasiswa DKV ISI Surakarta Lolos Seleksi Internasional, Angkat Isu Bahaya Plastik di Turki
SURAKARTA – majalahlarise.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan mahasiswa Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta. Salah satu karya poster mahasiswa berhasil lolos seleksi internasional dan dipamerkan di Turki setelah bersaing dengan ratusan karya dari berbagai negara.
Karya berjudul “It’s Time to See” hasil rancangan Utami Kusumah Dewi, mahasiswa DKV angkatan 2024, terpilih dalam pameran internasional bertajuk Gönen'den Marmara'ya: SUYA BAKAN GÖZ, Turki 2026. Poster tersebut berhasil melewati proses kurasi ketat dari lebih dari 300 karya yang berasal dari 37 negara.
Dalam karyanya, Utami mengangkat isu lingkungan tentang bahaya sampah plastik yang sulit terurai dan berpotensi mencemari perairan. Visual yang ditampilkan terinspirasi dari kondisi nyata pencemaran sungai akibat pembuangan sampah plastik secara sembarangan.
“Perancangan desain poster ini memerlukan waktu sekitar dua minggu, mulai dari proses pencarian ide hingga tahap finishing dengan teknik ilustrasi digital,” ujar Utami dalam rilis yang diterima.
Pameran internasional tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Air Sedunia yang jatuh pada 22 Maret. Kegiatan berlangsung pada 30 Maret hingga 2 April 2026 di Gönen Cumhuriyet Meydanı, Turki, dengan melibatkan peserta dari berbagai negara seperti Amerika Serikat, Italia, China, India, hingga Indonesia.
Dosen pembimbing, Basnendar Herry Prilosadoso, menyampaikan rasa bangga atas capaian tersebut. Ia menuturkan keberhasilan ini menjadi bukti kualitas mahasiswa DKV ISI Surakarta di kancah global.
“Saya sangat bangga dengan raihan prestasi Utami ini. Semoga capaian ini dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus berprestasi, baik di bidang akademik maupun non akademik,” tuturnya.
Sementara itu, Utami mengaku tidak menyangka karyanya dapat lolos seleksi internasional mengingat waktu pengerjaan yang relatif singkat. Meski demikian, ia bersyukur karyanya bisa dipamerkan bersama peserta dari berbagai negara.
“Jujur saya tidak menyangka bisa lolos kurasi. Proses pembuatannya cukup singkat, tetapi bisa dipamerkan bersama karya dari luar negeri. Semoga ke depan saya bisa lebih sering mengikuti pameran internasional dengan karya yang membawa dampak positif bagi audiens yang lebih luas,” ungkapnya.
Keikutsertaan dalam pameran ini tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya, tetapi juga sebagai upaya meningkatkan kesadaran global terhadap pentingnya menjaga kelestarian air dari ancaman pencemaran, khususnya sampah plastik. (Sofyan)
Baca juga: Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Unisri Solo, Prof Dr Nanik Suhartatik Soroti Program MBG
Pendidikan
![]() |
| Prof Dr Nanik Suhartatik |
Dikukuhkan Sebagai Guru Besar Unisri Solo, Prof Dr Nanik Suhartatik Soroti Program MBG
SOLO - majalahlarise.com - Nanik Suhartatik meraih gelar profesor bidang mikrobiologi pangan. Dengan predikat itu, Prof Dr Nanik Suhartatik menjadi guru besar ke-8 di Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta.
Perempuan kelahiran 1 Januari 1978 itu menyelesaikan studi program sarjana (S1) di Universitas Gajahmada jurusan / Program Studi Teknologi Pangan dan Hasil Pertanian (TPHP) di Fakultas Teknologi Pertanian.
Demikian juga dengan program S2 (master) dan S3 (Doktor) juga diselesaikan di UGM Yogyakarta, dengan konsentrasi mikrobiologi pangan. Saat ini Prof Dr Nanik Suhartatik menjabat Dekan Fakultas Teknologi dan Industri Pangan (FATIPA), sekaligus anggota senat Unisri Surakarta.
Dalam pengukuhannya yang akan dilaksanakan 15 April 2026 di kampus Unisri Surakarta, orasi ilmiah Prof Dr Nanik Suhartatik menyoroti program Makan Bergizi Gratis (MBG), program Presiden Prabowo Subianto yang sampai saat ini masih terus menjadi perhatian publik.
Ia mengatakan, kasus-kasus keracunan pangan yang terjadi dalam pelaksanaan program MBG di berbagai daerah menunjukkan adanya kelemahan dalam pengendalian mutu dan keamanan pangan. Secara umum, terdapat beberapa faktor utama yang menjadi penyebab.
Pertama, kualitas bahan baku yang tidak sesuai standar, misalnya penggunaan bahan pangan yang sudah tidak segar atau terkontaminasi sejak tahap penerimaan.
Kedua, sanitasi peralatan dan lingkungan produksi yang kurang memadai, sehingga memungkinkan terjadinya kontaminasi silang antara bahan mentah dan produk jadi.
Ketiga, higienitas pekerja yang tidak terjaga, baik karena kurangnya pelatihan maupun lemahnya disiplin dalam menjaga kebersihan personal.
Keempat, pengendalian proses teknis yang tidak konsisten, seperti suhu memasak yang tidak mencapai titik aman atau penyimpanan yang tidak sesuai dengan karakteristik bahan pangan.
Kelima, pengemasan dan distribusi yang tidak higienis, termasuk kendaraan distribusi yang tidak bersih atau tidak dilengkapi fasilitas rantai dingin untuk produk yang mudah rusak.
"Kombinasi dari faktor-faktor tersebut memperlihatkan bahwa keracunan pangan bukanlah akibat dari satu kesalahan tunggal, melainkan hasil dari serangkaian kelalaian dalam penerapan prinsip CPPOB," kata Prof Dr Nanik Suhartatik.
Dikatakan, program pengendalian potensi bahaya dalam industri pangan dapat dilakukan dengan merujuk pada pedoman HACCP, sistem manajemen keamanan pangan yang dilakukan dengan cara mengidentifikasi, mengevaluasi dan mengendalikan bahaya yang signifikan bagi keamanan pangan.
Bahaya ini mencakup cemaran fisik, biologis ataupun fisik yang mungkin muncul sepanjang rantai produksi pangan. HACCP digunakan sebagai acuan untuk memproduksi pangan yang aman, terutama untuk program pemberian makan siang gratis kepada peserta didik.
Untuk mencegah terulangnya kasus keracunan dalam program MBG, diperlukan langkah-langkah perbaikan yang menyeluruh dan berkesinambungan.
Pertama, penguatan sistem pengadaan bahan baku melalui seleksi pemasok yang memiliki sertifikasi keamanan pangan serta penerapan standar pemeriksaan mutu yang ketat.
Kedua, peningkatan sanitasi fasilitas dan peralatan produksi, dengan jadwal pembersihan yang terstruktur dan penggunaan material yang sesuai standar higienitas.
Ketiga, program pelatihan berkelanjutan bagi tenaga kerja, agar setiap individu memahami pentingnya higienitas personal dan disiplin dalam menjalankan prosedur produksi.
Keempat, pengendalian proses teknis secara konsisten, termasuk penggunaan alat ukur suhu dan waktu yang terkalibrasi untuk menjamin keamanan pangan.
Kelima, penguatan sistem pengemasan dan distribusi, dengan memastikan rantai dingin berjalan efektif serta kendaraan distribusi memenuhi standar kebersihan.
Terakhir, penerapan dokumentasi dan audit internal yang transparan, sehingga setiap tahapan produksi dapat ditelusuri dan diperbaiki bila ditemukan kelemahan.
"Dengan kombinasi langkah-langkah tersebut, program MBG tidak hanya mampu menyediakan pangan bergizi, tetapi juga menjamin keamanan konsumsi, sehingga tujuan meningkatkan kualitas gizi anak bangsa dapat tercapai secara berkelanjutan," pungkasnya. (Sofyan)
Baca juga: Booth Camp Kemdiktisaintek 2026, Asep Yudha Wirajaya Tekankan Kepatuhan Panduan dalam Penyusunan PKM
Pendidikan
![]() |
| Murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo saat mengunjungi sentra pembuatan wayang kulit. |
Murid SD Muhammadiyah PK Solo Belajar Tatah Sungging di Bantul
Solo - majalahlarise.com - Sebanyak 83 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan field trip dengan mengunjungi sentra pembuatan wayang kulit milik Suprih di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (6/4/2026).
Kegiatan bertajuk Cultural Creation: Learning to Creatively Carve Wayang ini menjadi jembatan antara pembelajaran akademik dan upaya pelestarian warisan budaya leluhur. Kunjungan tersebut tidak sekadar wisata edukatif, melainkan implementasi pembelajaran kontekstual yang memadukan mata pelajaran Bahasa Jawa dan Seni Budaya.
Koordinator Tim Kelas III, Yuli Ekowati, menegaskan pentingnya pengalaman belajar yang bersifat empiris dan bersentuhan langsung dengan objek nyata.
“Kami tidak ingin para murid hanya menjadi penonton budaya, tetapi juga pelaku yang memahami proses di balik layar. Kegiatan ini memberikan wawasan tentang seni tradisional sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap para perajin,” ujarnya.
Selama kegiatan berlangsung, para murid dipandu langsung oleh Suprih, maestro wayang kulit yang karyanya telah menembus pasar internasional, seperti Jerman, Belanda, hingga Amerika Serikat. Dalam kesempatan tersebut, Suprih mengajak murid mengamati secara langsung proses pembuatan wayang kulit yang autentik melalui tiga tahapan utama.
Tahap pertama adalah pengolahan bahan baku. Kulit kerbau berkualitas dipilih, kemudian direndam selama satu malam, dibentangkan, dan dikeringkan hingga sempurna. Tahap kedua, pembersihan, yaitu proses pengerokan lemak dan rambut hingga permukaan kulit siap diberi pola. Tahap ketiga adalah tatah dan sungging. Proses pemahatan (tatah) disesuaikan dengan karakter tokoh pewayangan, sedangkan pewarnaan (sungging) menuntut ketelitian dan estetika tinggi.
Di sela-sela kegiatan, Suprih juga menyampaikan pesan agar generasi muda senantiasa mencintai dan bangga terhadap kekayaan budaya Indonesia. Di tengah derasnya arus digitalisasi, seni tatah sungging dinilai mampu mengasah sensitivitas estetika serta keterampilan motorik halus murid. Ia berharap regenerasi perajin dan penikmat wayang terus tumbuh agar kesenian ini tidak tergerus zaman.
Salah satu murid, Gibran Alfan Mahardika, mengungkapkan kesan mendalam dari kegiatan tersebut. Menurutnya, field trip ini tidak hanya memberikan pengalaman seni, tetapi juga pembelajaran tentang manajemen waktu dan kesabaran.
“Ketelitian adalah kunci untuk menghasilkan wayang berkualitas tinggi. Satu wayang kulit bisa dikerjakan hingga dua bulan. Belajar seni budaya sejak dini adalah wujud nyata cinta tanah air,” tuturnya.
Kegiatan ini diharapkan mampu menanamkan nilai karakter, seperti kesabaran, ketekunan, serta kecintaan terhadap budaya bangsa, sekaligus memperkuat pembelajaran berbasis pengalaman nyata bagi para murid. (Sofyan)
Baca juga: Booth Camp Kemdiktisaintek 2026, Asep Yudha Wirajaya Tekankan Kepatuhan Panduan dalam Penyusunan PKM
Pendidikan
Booth Camp Kemdiktisaintek 2026, Asep Yudha Wirajaya Tekankan Kepatuhan Panduan dalam Penyusunan PKM
SURAKARTA – majalahlarise.com - Booth camp Kemdiktisaintek 2026 yang diselenggarakan di Universitas Sahid Surakarta menghadirkan Asep Yudha Wirajaya sebagai reviewer dan narasumber utama. Senin (6/4/2026). Kegiatan ini bertujuan memberikan pembekalan bagi mahasiswa yang akan mengajukan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), sebuah program pendanaan pemerintah dengan seleksi yang sangat ketat.
Dalam paparannya, Asep Yudha Wirajaya menekankan bahwa kesesuaian proposal dengan template atau panduan yang telah ditetapkan adalah hal yang paling utama. Menurutnya, kepatuhan terhadap aturan administratif merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh setiap pengusul.
"Kepatuhan terhadap panduan dalam PKM merupakan suatu hal yang tidak bisa ditawar lagi," tegas Asep.
Lebih lanjut, ia menjabarkan proses seleksi secara mendetail, termasuk batasan teknis seperti judul yang tidak boleh melebihi 20 kata dan jumlah halaman proposal maksimal 10 halaman. Ia juga mengingatkan agar mahasiswa membawa ide yang segar dan orisinal. Kualitas proposal juga dipengaruhi oleh kedalaman konten, di mana proposal yang kurang dari 8 halaman biasanya dinilai kurang maksimal oleh reviewer.
"Reviewer memiliki waktu kerja yang terbatas. Tahap pertama adalah meninjau judul, apakah ide tersebut segar atau sudah banyak ditemukan di Google," tambahnya.
Sebagai strategi tambahan untuk menghadapi seleksi yang kompetitif, Asep memberikan rahasia teknis bagi para mahasiswa. Ia menyarankan agar mahasiswa menyertakan data kuantitatif di bagian akhir proposal untuk memudahkan reviewer dalam memahami esensi penelitian secara cepat, mengingat terbatasnya waktu untuk membaca data deskriptif yang panjang.
Menutup penyampaiannya, Asep turut memberikan pandangan mengenai penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam penyusunan proposal. Ia mendukung pemanfaatan AI, namun mengingatkan agar mahasiswa tetap kritis dalam menggunakannya.
"Kita jangan terlalu polos menggunakan AI, kalau bisa gunakan sebagai partner kritis," tutupnya.
Melalui pembekalan ini, diharapkan mahasiswa Universitas Sahid Surakarta dapat lebih mudah dalam menyusun proposal yang berkualitas sehingga mampu lolos tahap uji dan meraih pendanaan PKM.
Penulis: Musa Pratama & Wisnu Agung Wicaksono
Editor: Sofyan
Baca juga: Gigih Sejak 2011, Usaha Pastel Sri Yatmi Tembus Pasar Solo Raya dengan Kualitas Unggulan
Featured
![]() |
| Stand pameran produk usaha kuliner Sri Yatmi saat dikunjungi Bupati Sukoharjo, Hj. Etik Suryani. |
Gigih Sejak 2011, Usaha Pastel Sri Yatmi Tembus Pasar Solo Raya dengan Kualitas Unggulan
SUKOHARJO – majalahlarise.com - Usaha kuliner rumahan terus menunjukkan geliat positif di tengah persaingan pasar. Salah satunya datang dari Sri Yatmi, pelaku UMKM asal Nguter, Sukoharjo, yang sukses mengembangkan bisnis pastel dengan kualitas khas yang membedakannya dari produk sejenis.
Sri Yatmi, pemilik brand Gandok Cempluk, menguraikan perjalanan usahanya yang dimulai sejak tahun 2011. Berawal dari produksi kecil-kecilan berbagai kue basah seperti sosis solo dan putu ayu, kini usahanya berkembang dengan produk unggulan berupa pastel yang menjadi favorit konsumen.
“Kami memproduksi aneka kue basah, terutama yang best seller saat ini pastel. Pastel kami minim minyak dan tetap empuk walaupun sudah dingin, itu yang menjadi kelebihan produk kami,” tutur Sri Yatmi.
Ia menjelaskan, kualitas menjadi kunci utama dalam menghadapi persaingan usaha kuliner yang semakin ketat. Menurutnya, menjaga cita rasa dan konsistensi produk menjadi strategi yang terus diterapkan hingga saat ini.
“Strategi saya tetap mengutamakan kualitas produk dan apa yang menjadi keunggulan produk saya tetap saya jaga,” jelasnya.
Perjalanan usaha Sri Yatmi tidak lepas dari dukungan berbagai pihak, termasuk pendamping UMKM. Ia mulai aktif mengikuti pembinaan sejak tahun 2019, hingga akhirnya memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan tergabung dalam jaringan UMKM di Solo Raya.
Upaya peningkatan kualitas juga dilakukan melalui sertifikasi halal yang berhasil diperoleh pada tahun 2023, seiring program pemerintah dalam mendorong legalitas produk UMKM.
“Alhamdulillah sertifikat halal sudah terbit. Itu sangat membantu kepercayaan konsumen,” ungkapnya.
Dari sisi produksi, Sri Yatmi mampu menghasilkan minimal 150 potong pastel setiap hari, belum termasuk pesanan tambahan dari pelanggan. Jangkauan pemasaran pun kini telah meluas hingga wilayah Solo Raya dan terbuka untuk kolaborasi dengan berbagai pihak.
“Minimal satu hari 150 potong pastel, itu belum termasuk pesanan lain,” katanya.
Dalam menghadapi berbagai tantangan usaha, Sri Yatmi mengedepankan sikap pantang menyerah dan terus belajar. Ia juga aktif mengikuti program inkubasi dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Provinsi Jawa Tengah pada tahun 2025 sebagai upaya meningkatkan kapasitas usahanya.
“Usaha dan tawakal kepada Allah. Kita wajib belajar, tidak harus formal. Rezeki utama kita itu dari sahabat,” ujarnya.
Saat ini, usaha Gandok Cempluk berlokasi di Pandanan, Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Kabupaten Sukoharjo. Sri Yatmi berharap usahanya terus berkembang dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar.
Dengan konsistensi kualitas dan semangat belajar, kisah Sri Yatmi menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya untuk terus bertahan dan berkembang di tengah dinamika dunia usaha. (Sofyan)
Baca juga: Sekolah Unggulan Jadi Kunci Cetak Kader Berkemajuan, Ini Strategi SD Muhammadiyah 1 Solo
Pendidikan
![]() |
| Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah, Sri Sayekti saat dialog interaktif Dinamika Pendidikan di Studio Radio Mentari FM. |
Sekolah Unggulan Jadi Kunci Cetak Kader Berkemajuan, Ini Strategi SD Muhammadiyah 1 Solo
SOLO – majalahlarise.com - Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah, Sri Sayekti, menyampaikan pentingnya seluruh warga sekolah memahami visi dan misi sebagai fondasi utama dalam mencetak generasi berkemajuan.
Hal tersebut disampaikannya dalam dialog interaktif Dinamika Pendidikan di Studio Radio Mentari FM bersama Humas sekolah, Dwi Jatmiko, Rabu (8/4/2026). Dalam kesempatan tersebut, Sayekti menguraikan arah pengembangan sekolah yang telah berdiri sejak 1935 itu sebagai lembaga pendidikan unggul dan kompetitif.
“Sekolah ini memiliki visi mewujudkan lembaga pendidikan unggul kompetitif dengan sumber daya insani yang bertakwa dan berakhlak mulia, menguasai IPTEK, sehat jasmani dan rohani, berwawasan global, serta peduli lingkungan hidup melalui Profil Pelajar Pancasila yang berkemajuan,” ujar Sayekti.
Ia menjelaskan, sekolah unggulan memiliki peran strategis sebagai kunci dalam mencetak kader berkemajuan. Hal ini dilakukan dengan membaca berbagai fenomena pendidikan saat ini serta mengantisipasi perkembangan keilmuan di masa depan.
Sebagai bentuk implementasi, sekolah yang berlokasi di Jalan Kartini Nomor 1 Ketelan Barat, kawasan Pura Mangkunegaran tersebut menerapkan model pembelajaran mendalam (deep learning). Pendekatan ini mendorong peserta didik tidak hanya memahami materi secara konseptual, tetapi juga mampu mengaitkannya dengan kehidupan nyata.
“Sekolah model memiliki sejumlah tugas strategis, di antaranya membentuk tim kerja khusus untuk mengawal pelaksanaan program, mengintegrasikan pembelajaran mendalam dengan teknologi digital dalam kurikulum, serta mengembangkan proyek pembelajaran inovatif yang melibatkan peserta didik secara aktif,” jelasnya.
Selain itu, pihak sekolah juga berupaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, kontekstual, dan menyenangkan bagi siswa. Penguatan kompetensi guru menjadi salah satu fokus utama dalam mendukung transformasi pembelajaran.
“Para guru tergabung dalam kelompok belajar khusus untuk memperkuat kompetensi, khususnya dalam pembelajaran berbasis koding dan kecerdasan artifisial. Setiap Jumat ada kegiatan PMO, yaitu Project Management Office sekolah model PM KKA, dan Sabtu dilaksanakan workshop pembelajaran mendalam, koding, serta kecerdasan artifisial sebagai fondasi transformasi pendidikan dan ekosistem pembelajaran masa depan,” menguraikan.
Dalam menjaga kualitas sebagai sekolah unggulan, SD Muhammadiyah 1 Solo terus menjalin kolaborasi dengan Dinas Pendidikan serta Majelis Pendidikan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surakarta, khususnya dalam pengelolaan kurikulum dan penguatan akademik.
“Integrasi kurikulum dilakukan dengan mengombinasikan Kurikulum Merdeka dan kurikulum ISMUBA, yaitu Al-Islam, Kemuhammadiyahan, dan Bahasa Arab. Kami juga menerapkan kurikulum internasional seperti Cambridge untuk Bahasa Inggris, Matematika, dan Sains, serta pembelajaran bilingual untuk mempersiapkan siswa dalam komunikasi global,” pungkasnya. (Sofyan)
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
Murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta mengikuti kegiatan Parents Day dengan tema “Reuse, Membuat Hiasan Bunga ...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...







