GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Zona Ramadhan
![]() |
| Sesi story telling bersama Kak Amin. Melalui kisah inspiratif, para murid diajak untuk menumbuhkan sikap hormat dan bakti kepada orang tua. |
Perkuat Karakter Sejak Dini, Murid Kelas I SD Muhammadiyah PK Solo Ikuti Pesantren Ramadan
Solo - majalahlarise.com - Sebanyak 84 murid kelas I SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan Pesantren Ramadan 1447 Hijriah guna menanamkan nilai religiusitas dan kemandirian sejak dini. Kegiatan ini dilaksanakan di Ruang Haji Isa sekolah setempat, Jumat (13/3/2026).
Mengusung tema “Ramadan Vibe: One Day, One Kindness”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga sebuah gerakan moral untuk menanamkan komitmen berbuat baik setiap hari. Melalui tema tersebut, para murid diajak memahami bahwa kebaikan merupakan perilaku berkelanjutan yang dapat menciptakan dampak positif di lingkungan sekitar.
Ketua Pesantren Ramadan kelas I, Wahyu Widodo, menekankan pentingnya pembentukan adab dan kesantunan sejak usia dini.
“Kami menanamkan sikap santun dan komitmen untuk melakukan setidaknya satu kebaikan setiap hari. Meski terlihat sederhana bagi orang dewasa, hal ini merupakan fondasi karakter yang kuat bagi anak-anak,” ujarnya saat pembukaan kegiatan.
Kegiatan inti diawali dengan edukasi kreatif Do It Yourself (DIY). Para murid melatih keterampilan sensorik dan motorik melalui pembuatan amplop Lebaran hasil karya mandiri. Guru pendamping turut membimbing murid yang mengalami kesulitan dalam proses melipat dan menggunting. Kegiatan ini juga memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan kreativitas melalui desain, warna, dan ukuran amplop yang beragam.
Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan salat Asar berjemaah sebagai bentuk penguatan spiritual sekaligus implementasi pembiasaan ibadah di lingkungan sekolah. Usai salat, para murid mengikuti Lomba Ranking 1 yang menguji literasi keagamaan, ketepatan berpikir, numerasi, serta kejujuran dalam menjawab soal dengan sistem gugur hingga tersisa satu pemenang.
Koordinator tim kelas I, Lusia Wahyu Purbowati, menjelaskan bahwa kompetisi tersebut dirancang sebagai sarana edukasi yang menyenangkan sekaligus untuk menumbuhkan semangat kompetisi yang sehat.
“Mereka baru pertama kali mengikuti lomba seperti ini, tetapi konsentrasi mereka sangat baik dan kemampuan berpikirnya cukup cepat. Semoga kegiatan ini dapat membentuk mental kompetitif sekaligus meningkatkan rasa percaya diri murid,” ungkapnya.
Menjelang penutupan, kegiatan semakin semarak dengan sesi story telling bersama Kak Amin. Melalui kisah inspiratif, para murid diajak untuk menumbuhkan sikap hormat dan bakti kepada orang tua.
“Cara menghormati dan menyayangi orang tua dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti membantu pekerjaan rumah, mendoakan, tidak membantah, serta berbicara dengan lembut dan sopan,” pesannya.
Salah satu peserta, Clareen Jenafayze Kalfani, mengaku terharu dengan cerita yang disampaikan.
“Aku terharu dengan cerita Kak Amin. Ternyata orang tua tidak membutuhkan balasan besar, mereka hanya butuh perhatian dan waktu dari kita. Kalau sudah besar nanti, aku ingin membahagiakan mereka dengan cara sederhana,” tuturnya dengan senyum.
Kegiatan Pesantren Ramadan ditutup dengan suasana hangat melalui buka puasa bersama yang semakin mempererat kebersamaan antara murid dan guru. Program ini diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga berkarakter mulia. (Sofyan)
Baca juga: Safari Ramadhan SD Muhammadiyah PK Banyudono, Meneguhkan Guru Profesional, Amanah, dan Dirindu Surga
Zona Ramadhan
![]() |
| Kegiatan Safari Ramadhan pada Kamis (12/3/2026) di Pawon Teras. |
Safari Ramadhan SD Muhammadiyah PK Banyudono, Meneguhkan Guru Profesional, Amanah, dan Dirindu Surga
Boyolali – majalahlarise.com - Dalam rangka mengisi kegiatan bulan suci Ramadhan 1447 H, SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono menggelar kegiatan Safari Ramadhan pada Kamis (12/3/2026) di Pawon Teras. Kegiatan ini menghadirkan narasumber Agus Sutrisno dengan tema inspiratif “Guru Profesional, Guru Amanah, dan Guru yang Dirindu Surga.”
Kegiatan berlangsung khidmat dan penuh semangat kebersamaan. Seluruh guru dan karyawan hadir mengikuti rangkaian acara, didukung pula oleh perwakilan paguyuban kelas yang turut memberikan semangat dalam peningkatan kualitas pendidikan di lingkungan sekolah.
Ketua panitia, Ustaz Habibi, menyampaikan kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyegarkan kembali niat dan komitmen para pendidik, khususnya di bulan penuh berkah. Ia menguraikan Ramadhan merupakan waktu terbaik untuk memperbaiki diri dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam menjalankan amanah sebagai guru.
“Ramadhan menjadi momen yang tepat untuk introspeksi dan memperkuat niat. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga membawa amanah besar dalam membentuk karakter generasi,” tuturnya.
Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, S.Si., M.M., dalam sambutannya mengajak seluruh pendidik untuk terus meningkatkan profesionalisme yang dilandasi keikhlasan dan tanggung jawab. Ia mengatakan peran guru tidak sekadar menyampaikan materi, melainkan juga mendidik dengan hati.
“Guru bukan hanya mengajar, tetapi mendidik dengan keteladanan. Guru yang amanah akan melahirkan generasi yang kuat, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan zaman,” jelasnya.
Sementara itu, narasumber Agus Sutrisno menguraikan tiga pilar utama yang harus dimiliki seorang guru. Pertama, profesional, yakni menjalankan tugas dengan kompetensi yang terus diasah dan diperbarui. Kedua, amanah, yaitu menjaga kepercayaan dalam mendidik siswa dengan penuh tanggung jawab. Ketiga, menjadi guru yang dirindu surga, yakni sosok pendidik yang ikhlas, sabar, serta senantiasa mengharap ridha Allah dalam setiap pengabdian.
“Menjadi guru bukan sekadar profesi, tetapi panggilan jiwa. Ketika dijalani dengan ikhlas, maka setiap langkah akan bernilai ibadah,” ungkapnya.
Suasana semakin hangat saat sesi diskusi dan refleksi berlangsung. Para peserta tampak antusias berbagi pengalaman sekaligus memperdalam pemahaman mengenai peran strategis guru dalam membangun peradaban yang berlandaskan nilai-nilai spiritual dan moral.
Kegiatan diakhiri dengan doa bersama, memohon kekuatan dan keistiqamahan bagi seluruh guru dalam menjalankan amanah mulia sebagai pendidik.
Melalui Safari Ramadhan ini, SD Muhammadiyah PK Banyudono menunjukkan komitmennya dalam membina guru yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kekuatan spiritual dan integritas moral. Semangat Ramadhan diharapkan terus menginspirasi setiap langkah pengabdian dalam dunia pendidikan. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Peserta saat praktik penggunaan papan interaktif digital. |
Guru SMP Negeri 2 Manyaran Tingkatkan Kompetensi Digital, Gelar Pelatihan Papan Interaktif dan Platform Ruang Murid
Wonogiri – majalahlarise.com - SMP Negeri 2 Manyaran terus berupaya mendorong transformasi pembelajaran berbasis teknologi dengan menggelar kegiatan pengimbasan pengoperasian dasar papan interaktif digital, instalasi aplikasi Ruang Murid offline, serta pemanfaatan website dan pembuatan materi pembelajaran interaktif. Kegiatan ini diselenggarakan pada Selasa, 17 Maret 2026, bertempat di Laboratorium sekolah setempat.
Seluruh guru SMP Negeri 2 Manyaran mengikuti kegiatan ini dengan antusias. Pelatihan menghadirkan narasumber Nur Musthofa, S.Pd yang memberikan pendampingan secara langsung, mulai dari pengenalan perangkat, praktik penggunaan papan interaktif digital, hingga penyusunan materi ajar berbasis teknologi.
Dalam penyampaiannya, Nur Musthofa menjelaskan pentingnya penguasaan teknologi digital bagi guru di era pembelajaran modern. Menurutnya, pemanfaatan papan interaktif dan platform pembelajaran digital dapat menjadi solusi untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar mengajar.
“Guru perlu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Papan interaktif digital dan aplikasi Ruang Murid dapat membantu menciptakan suasana belajar yang lebih menarik, sehingga siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga aktif berpartisipasi,” ujar Nur Musthofa.
Selain itu, peserta juga dibimbing untuk menginstal dan mengoperasikan aplikasi Ruang Murid secara offline, sehingga dapat tetap digunakan meskipun terbatas akses internet. Materi pelatihan juga mencakup pemanfaatan website sebagai media pembelajaran serta pembuatan konten interaktif yang mendukung berbagai gaya belajar siswa.
Kepala SMP Negeri 2 Manyaran, Dra. Siti Khumaidah Hidayati, dalam kesempatan tersebut menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah.
Ia menjelaskan, pelatihan digitalisasi pembelajaran melalui platform Ruang Murid menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan di era digital.
“Tujuan utama pelatihan ini adalah meningkatkan kompetensi guru dalam mengadopsi teknologi digital untuk menciptakan pembelajaran yang interaktif, menyenangkan, dan berpusat pada siswa,” tuturnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan bahwa penguasaan teknologi tidak hanya menjadi nilai tambah, tetapi sudah menjadi kebutuhan dasar bagi tenaga pendidik dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.
Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal bagi para guru untuk terus berinovasi dalam merancang pembelajaran kreatif berbasis digital, sehingga mampu meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa di SMP Negeri 2 Manyaran. (Sofyan)
Zona Ramadhan
![]() |
| Kepala SMPN 2 Pracimantoro, Asih Budi Utami, S.Pd saat memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan Ramadan. |
Siswa Antusias, SMP Negeri 2 Pracimantoro Gelar Pesantren Ramadan dan Berbagi Takjil
WONOGIRI – majalahlarise.com - Peningkatan keimanan dan ketakwaan, penanaman karakter religius, penguatan disiplin, serta rasa empati menjadi fokus utama kegiatan Ramadan di SMP Negeri 2 Pracimantoro. Berbagai program diselenggarakan secara terencana dan melibatkan seluruh siswa dengan penuh antusias.
Kegiatan tersebut meliputi Pesantren Ramadan yang berlangsung pada 11–14 Maret 2026, serta aksi berbagi takjil pada 12 Maret 2026. Sebanyak 450 paket takjil dibagikan kepada masyarakat di depan sekolah dan di kawasan Balai Desa Pracimantoro sebagai wujud kepedulian sosial siswa.
Kepala sekolah, Asih Budi Utami, S.Pd menyampaikan kegiatan Ramadan dirancang tidak sekadar sebagai agenda rutin, melainkan sebagai sarana pembentukan karakter siswa secara menyeluruh.
“Kegiatan yang diselenggarakan pada bulan Ramadan ini dalam rangka peningkatan keimanan dan ketakwaan, penanaman karakter religius, penguatan disiplin dan rasa empati, serta perilaku-perilaku baik sehingga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
![]() |
| Kegiatan pesantren Ramadan. |
Ia menguraikan, rangkaian kegiatan meliputi pesantren Ramadan, berbagi takjil, pengajian akbar, salat dhuha berjamaah, hafalan Juz Amma, hingga penguatan iman bagi siswa nonmuslim. Seluruh program dirancang agar siswa tidak hanya memahami nilai-nilai kebaikan, tetapi juga membiasakannya dalam kehidupan nyata.
Menurutnya, tujuan utama kegiatan tersebut adalah membentuk karakter siswa yang beriman, disiplin, peduli terhadap sesama, serta terbiasa melakukan hal-hal positif dalam keseharian.
“Aspek yang ditanamkan meliputi peningkatan keimanan dan ketakwaan, penanaman karakter religius, penguatan disiplin, serta rasa empati. Semua itu diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan siswa,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan antusiasme siswa sangat tinggi selama mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Para siswa terlihat semangat, aktif, dan proaktif dalam setiap agenda yang dilaksanakan.
![]() |
| Aksi berbagi paket takjil kepada masyarakat di depan sekolah. |
“Antusiasme siswa luar biasa, mereka mengikuti kegiatan dengan semangat dan proaktif,” tambahnya.
Pihak sekolah berharap kegiatan Ramadan ini dapat menumbuhkan keikhlasan dalam diri siswa dalam menjalankan ibadah maupun aktivitas kebaikan lainnya.
“Harapannya, siswa melaksanakan puasa dan mengikuti kegiatan dengan rasa keikhlasan. Karena setiap keikhlasan pasti ada kebaikan. Hal-hal baik yang disampaikan menjadi pembiasaan, dan dari perilaku baik akan teriring doa-doa baik untuk keberhasilan semua siswa,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, SMP Negeri 2 Pracimantoro terus berupaya mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga kuat dalam karakter dan nilai-nilai spiritual. (Sofyan)
Artikel Pengembangan Profesi
Pentingnya Kolaborasi Guru dan Dosen Abad XXI untuk Wujudkan Pendidikan Keluarga, Sekolah, dan Masyarakat sebagai Media Pembentukan Karakter Anak Indonesia
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & Komunitas DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum. |
“Anak adalah amanah, harapan, dan investasi masa depan kita. Peluklah dan berikanlah cakrawala pengetahuan akhirat dan dunia dengan kepedulian dan kasih sayang yang berbasis literasi dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa”
Mari diingat bersama! Asyiknya saat makan bersama keluarga waktu bersama bapak, ibu, dan saudara di kampung kala senja mulai menuju ke peraduannya. Dalam kesederhanaan di masa lampau, masih terngiang di benak kita makan di atas tikar dengan lauk seadanya, telur yang dibelah sejumlah keluarga, urapan daun singkong, bayung, bayam, dengan wajah ceria, kebersamaan, dan keharmonisan keluarga di desa yang jauh dari keramaian kota dan ditemani suara jangkrik dan katak waktu malam hari. Keluarga akan selalu menjadi surga terindah di dunia bagi kita sepanjang masa. Bapak dan ibu menjadi teladan pendidikan bagi anak-anak pada ranah keluarga sebagai upaya untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang baik, berkarakter, kretaif, inovatif, produktif, dan inspiratif sebagai generasi emas Indonesia 2045.
Pembentukan karakter dan sikap mental yang kuat dalam diri anak harus dimulai pada ranah keluarga. Ibu dan bapak sebagai model guru dan teladan sejati harus selalu membiasakan sikap tindak tutur, gaya tutur, etika, sopan santun, pembiasaan diri, keberanian, rasa percaya diri, kesabaran, dan terus berdoa mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kemudian bapak dan ibu harus terus menanamkan nilai-nilai aqidah keimanan, mental yang kuat, integritas, kerja keras, komunikasi, kerja sama, tidak mudah putus asa, disiplin, rajin belajar, berliterasi dengan ratulisa, dan berusaha terus-menerus untuk berbagi ilmu dan kebaikan untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat. Komitmen bapak dan ibu pada ranah pendidikan keluarga untuk menanamkan nilai-nilai karakter yang kuat dapat menjadi modal awal bagi anak-anak Indonesia untuk bersikap dan berkomunikasi dengan bahasa yang santun dan etika ketika bertemu dengan teman, guru di sekolah, dosen di kampus, dan masyarakat dalam multikonteks kehidupan ketika terjun di masyarakat. Dengan demikian, pendidikan keluarga yang dikolaborasikan dengan pendidikan pada ranah sekolah dan masyarakat akan menjadi media kolaborasi utama pendidikan nonformal dan formal untuk membentuk karakter anak berbasis pendidikan dan keteladanan kedua orang tua di rumah, guru dan dosen di sekolah dan kampus, dan masyarakat dalam multikonteks kehidupan.
Ibu dan bapak sebagai model guru dan dosen sejati harus menjadi teladan mendidik dengan kepedulian dan kasih sayang. Kepedulian dan kasih sayang yang diajarkan kepada anak-anak di rumah menjadi role model bagi anak ketika bertindak dan bersikap di luar rumah. Selain itu, ibu dan bapak harus benar-benar dapat menjadi cerminan bagi anak-anak untuk berbuat dan bertanggung jawab terhadap apa yang harus dikerjakan di rumah sebagai bentuk implementasi pendidikan karakter bagi anak-anak. Contoh, Ibu dan bapak selalu mengingatkan dan mengajak anak untuk menjalankan ibadah, bangun tidur sepagi mungkin, membereskan tempat tidur secara mandiri, mandi dan gosok gigi setalah bangun tidur, menyiapkan perangkat sekolah, belajar membaca dan menulis, mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah, dan juga melatih kerja sama di rumah untuk saling membantu dnegan saudara-saudara dan juga membantu kedua orang tua.
Bapak dan ibu sebagai kepala keluarga harus menanamkan sikap keteladanan bekerja keras dan disiplin. Komitmen karakter ini harus dimiliki anak-anak untuk membangun komitmen dan integritas dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya. Selain itu, anak-anak harus selalu diajak berlatih bekerja di ranah keluarga, seperti kerja bakti membersihkan rumah dan lingkungan sekitarnya setiap hari Minggu, masing-masing anak diberi tanggung jawab untuk membersihkan lantai dan kamar mandi setiap hari. Bagi anak putri ditugasi untuk menyiapkan sarapan dan membantu ibunya memasak di dapur. Hal ini sebagai upaya untuk membentuk dan membangun karakter anak-anak sejak dini di ranah keluarga, kemudian akan dilanjutkan pada ranah sekolah, dan masyarakat. Dengan demikian keteladanan seorang bapak dapat menjadi contoh dan cermin bagi anak-anaknya untuk bekal tumbuh menjadi anak remaja dan dewasa dengan mental yang kuat dan berintegritas.
Komitmen dan kerja sama antara bapak dan ibu harus diikuti dengan komunikasi, keterbukaan, dan keharmonisan bersama. Perkembangan teknologi yang sangat pesat kadang kala memisahkan yang dekat menjadi terasa sangat jauh (lihat yang paling dekat dengan anak-anak sekarang Adalah HP atau gawai yang ada dalam genggaman mereka). Hal ini tidak boleh terjadi di dalam keluarga dengan cara membangun komunikasi lisan secara rutin antara bapak, ibu, dan anak-anaknya setiap saat di rumah. Kemudian dalam komunikasi tersebut harus selalu dibangun sistem keterbukaan informasi, apa pun, di mana pun, dan kapan pun. Ibaratnya meskipun yang dibicarakan itu tidak penting tetapi harus diupayakan untuk ngobrol bersama di dalam berbagai kesempatan di rumah.
Komunikasi dan keterbukaan inilah yang nantinya akan mengantarkan keluarga dalam situasi yang sejuk dan harmonis. Keharmonisan keluarga akan dapat terbentuk ketika masing-masing anggota keluarga dapat memahami posisi dan peran masing masing. Dengan demikian perwujudan pendidikan karakter dalam keluarga akan dapat terbentuk sejak dini ketika masing-masing anggota keluarga dapat saling menghargai satu dengan yang lain dan menjadi teladan bagi keluarga dan masyarakat di sekitarnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dalam bermasyarakat. Pendidikan yang ditanamkan pada ranah keluarga akan menjadi modal dasar untuk memasuki pendidikan formal pada sekolah, dan akan menjadi modal anak-anak Indonesia yang berkarakter dan hebat luar biasa memasuki kampus kehidupan Masyarakat dalam multikonteks kehidupan.
Pendidikan pada ranah keluarga merupakan tahapan penanaman. Aneka nilai-nilai karakter dan kebaikan mulai ditanamkan oleh ibu, bapak, kakak di ranah keluarga. Kemudian dalam proses untuk menanamkan nilai-nilai pendidikan karakter tersebut harus dimulai dan biasakan secara rutin di ranah keluarga sehingga akan menghasilkan budaya dan kebiasaan bagi anak. Sebagai contoh, mengajak sholat magrib, subuh, isyak, dan subuh berjamaah di masjid. Bagaimanapun caranya tugas ibu memotivasi dan menguatkan anak-anak untuk semangat ke masjid, dan tugas seorang ayah untuk mengeksekusi mengajak ke masjid. Kemudian waktu sholat subuh pasti sulit bangun, maka dengan kelembutan kita bangunkan kemudian kita ajak ke masjid. Apabila belum bangun juga, langsung digendong saja. Ini salah satu upaya orang tua untuk menjadi teladan bagi anak-anaknya dalam berbuat dan menanamkan nilai-nilai karakter kedisiplinan bagi anak-anaknya. Demikian untuk belajar ngaji dan ilmu dunia. Semua kita targetkan setiap hari untuk bercerita santai dan berbagi cerita mengenai kegiatan seharian di sekolah dan juga sekaligus kita menambahkan informasi-informasi penting bagi anak-anak.
Tahap pendidikan pada ranah sekolah sebagai bentuk penguatan. Salah besar ketika kita menyekolahkan anak kemudian diserahkan 100% menyerahkan sepenuhnya kepada pihak sekolah pendidikan nak kita. Sekolah sebagai media pendidikan formal bagi anak untuk menguatkan nilai-nilai pendidikan yang sudah diterima dari ibu dan bapaknya. Oleh karena itu, keberanian anak di sekolah juga bergantung pola pendampingan dan pendidikan anak-anak di rumah. Oleh karena itu, nilai-nilai penguatan yang dimiliki anak-anak di rumah akan dapat dikuatkan dan dikembangkan di sekolah bersama guru dan teman-temannya. Khususnya untuk menguatkan nilai-nilai individu, sosial, dan religius yang bersinergi dengan lingkungannya. Hal ini sebagai bentuk penguatan diri dan mental dalam rangka mewujudkan mimpi dan cita-citanya di masa yang akan datang.
Masyarakat sebagai laboratorium kehidupan menjadi media pendidikan karakter bagi anak-anak Indonesia untuk mengimplementasikan dan mengembangkan. Proses pendidikan yang diperoleh dari bapak dan ibu pada ranah pendidikan keluarga, akan sangat terasa pada saat anak-anak belajar di sekolah dan terjun dalam kehidupan bermasyarakat. Pada saat di rumah diajari untuk saling tersenyum, menyapa, menghargai, menghormati, saling membantu, bersodakoh, belajar, bekerja keras, berusaha, beribadah,berdoa, berdisiplin, jujur,dan saling berbagai kepada yang kurang mampu maka saat anak-anak saat bertemu teman di sekolah dan masyarakat, baik di sekolah dan ranah masyarakat sosial akan tampak hasilnya. Praktik nyata inilah yang harus dikuatkan sinergisitas dan kolaborasi nyata pendidikan antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.
Merujuk deskripsi dan pemikiran di atas, diperlukan peran guru, dosen abad XXI, dan pemerintah pusat dan daerah untuk terus membangun super tim pendidikan yang mengolaborasikan pendidikan berbasis orang tua, guru di sekolah, dosen di kampus, masyarakat, dan dunia usaha dan dunia industry (DUDI) pada kampus kehidupan. Upaya sinergis ini tentu akan berdampak sangat baik untuk menyiapkan generasi emas Indonesia 2045 yang tangguh, berkarakter, bermental baja, tidak mudah menyerah, tidak mudah putus asa, berintegritas, kreatif, kritis,inovatif, komunikatif, kolaboratif, produktif, dan inspiratif. Ruang gerak yang berdampak guru & dosen abad XXI, pemerintah pusat dan daerah, DUDI, sangat ditunggu agar dapat menjadi mediator dan inisiator untuk mewujudkan pendidikan kolaboratif yang diimpi-impikan oleh seluruh rakayat Indoensia.
Mimpi dan imajinasi lebih kuat dari pengetahuan kita. Hal ini bukan hal yang mudah untuk merealisasikannya. Fakta dan data empirik yang ditemukan dalam dunia pendidikan sejak Negera Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Merdeka, 17 Agustus 1945 sampai sekarang 17 Maret 2026 (saat penulis menulis artikel ini) masih banyak yang harus diperbaiki dengan rumus 5M: (1) mengidentifikasi keunggulan dan kelemahan Pendidikan di Indonesia; (2) merencanakan aneka program unggulan pendidikan yang realistis; (3) melaksanakan aneka program unggulan pendidikan yang realistis dan berdampak untuk semua masyarakat NKRI; (4) mengevaluasi semua program unggulan pendidikan yang berdampak, kinerja guru, dan dosen di seluruh wilayah NKRI; dan (5) menindaklanjuti secara cepat dan tepat sasaran berdasarkan semua hasil evaluasi dan audit yang dilakukan setiap tahun untuk meningkatkan kualitas dan akses pendidikan di Indonesia. Peran guru, dosen, pemerintah pusat dan daerah, DUDI untuk mewujudkan pendidikan kolaboratif ini akan sangat penting dan dinantikan hasilnya oleh seluruh masyarakat NKRI hari ini, besok, dan yang akan datang.
Dengan demikian, pola pendidikan yang dibangun pada ranah keluarga, sekolah, dan masyarakat akan tampak hasilnya secara utuh dan merata bagi seluruh Masyarakat NKRI. Kalau pun ada yang kurang itu hal yang wajar dan manusiawi sehingga kita terus evaluasi untuk terus berbenah dan memperbaiki diri bersama anak-anak kita. Kunci utama gunakan hati dan kelembutan dalam mendidik anak-anak kita, karena sebenarnya tidak ada satu manusia pun yang mau dihardik atau dibentak-bentak dengan kasar, disalahkan, dianggap kurang, dianggap miskin, dianggap tidak mampu. Dengan demikian, sebagai guru dan dosen abad XXI agar dirindukan sepanjang hayat oleh murid dan mahasiswa kita maka jadilah fasilitator dan teman belajar murid dan mahasiswa sebagai orang tua kedua bagi mereka di sekolah dan masyarakat. Guru dan dosen abad XXI harus mulai bergerak mengolaborasikan Pendidikan kolaboratif Bersama orang tua, Masyarakat, Dudi, dan pemerintah pusat dan daerah secara sinergis, berkesinambungan, dan berkelanjutan untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat.
Akhirnya, di akhir bulan Ramadhan ini segala kekurangan dan kesalahan penulis bersama Keluarga Besar Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa dan Komunitas Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra (DIKLISA) mohon dimaafkan lahir dan batin. Dengan tulus ikhlas, penulis mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita dipertemukan kembali dalam waktu dan gelombang yang berbeda dengan semangat belajar dan membelajarkan diri sepanjang hayat untuk terus berliterasi dengan Ratulisa bersama Diklisa sepanjang masa.
“Berkatalah lembut dan sabar dengan senyum ikhlas dari hati (senyum 228) maka setiap orang akan selalu menyambutmu dengan ceria dan menyenangkan hati sebagai wujud implementasi pendidikan karakter dalam multikonteks kehidupan”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 17 Maret 2026
News
Pengkaderan Berkemajuan Tidak Harus Mahal, MPKSDI Surakarta Dorong Terobosan Baru
SOLO – majalahlarise.com - Pengkaderan Muhammadiyah yang berkemajuan tidak harus selalu identik dengan biaya mahal. Hal tersebut disampaikan Ketua Majelis Pembina Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta, Suyanto, saat memberikan sambutan dalam kegiatan Buka Bersama di SFA Steak dan Resto Klodran, Kecamatan Colomadu, Kabupaten Karanganyar, Senin (16/3/2026).
Suyanto menguraikan, proses pengkaderan akan terus berkembang apabila mampu menghadirkan terobosan baru, bersikap adaptif, serta mengikuti dinamika zaman. Menurutnya, penguatan organisasi harus dimulai dari tingkat paling dasar.
“Ranting itu penting, cabang harus berkembang, dan masjid harus makmur serta mampu memakmurkan. Pengkaderan tidak harus mahal, peserta bahkan bisa tidur di ruang kelas atau di masjid,” ujarnya.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat silaturahmi dan konsolidasi kader.
“Terima kasih atas kehadiran konsultan MPKSDI Haji Sukidi dan Ketua PCM Jebres. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi antara Ortom dan MPKSDI PCM. Kita perlu mengubah sudut pandang, karena ranting memiliki peran penting. Banyak pengalaman bagaimana menggerakkan organisasi dan menghidupkan amal usaha sebagai ujung tombak, seperti best practice yang disampaikan Bambang Condro Haryadi,” tuturnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Jebres, Bambang Condro Haryadi, yang hadir sebagai pembicara menekankan pentingnya bekal ketakwaan bagi kader Muhammadiyah.
Ia mengutip Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 197 yang menekankan pentingnya ketakwaan sebagai bekal utama.
“Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa, dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal,” katanya.
Selain bekal spiritual, Bambang juga menjelaskan pentingnya penguasaan hukum dan informasi bagi kader persyarikatan. Menurutnya, dua hal tersebut menjadi kekuatan strategis dalam menghadapi dinamika masyarakat modern.
“Solo memiliki daya tarik luar biasa. Kiblat Muhammadiyah berada di Yogyakarta, Sumatra Barat, dan Solo. Karena itu kader Muhammadiyah harus mampu memahami hukum dan menguasai arus informasi,” ujarnya.
Ia mengingatkan arus informasi saat ini bergerak sangat cepat dan sering kali direkayasa, termasuk melalui perkembangan teknologi seperti kecerdasan buatan (AI). Oleh sebab itu kader Muhammadiyah harus memiliki kemampuan literasi informasi agar tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan.
“Yang menguasai hukum dan informasi itulah yang berkuasa. Informasi bisa menjadi seperti pisau, tergantung siapa yang memegangnya. Pisau di tangan koki menjadi hidangan lezat. Sebaliknya, hukum dan informasi jika dipegang kader yang tepat akan membawa kemajuan bagi persyarikatan Muhammadiyah,” jelasnya.
Kegiatan buka bersama tersebut menjadi momentum penguatan silaturahmi sekaligus ruang diskusi tentang strategi pengkaderan Muhammadiyah yang adaptif, efektif, dan tetap berorientasi pada nilai-nilai keislaman serta kemajuan organisasi. (Sofyan)
Baca juga: Pesantren Ramadan 1447 H SMA Negeri 1 Nguntoronadi Menjemput Ampunan, Mengukir Perubahan
Zona Ramadhan
![]() |
| Tim penyuluh dari KUA Nguntoronadi saat menyampaikan materi keagamaan. |
Pesantren Ramadan 1447 H SMA Negeri 1 Nguntoronadi Menjemput Ampunan, Mengukir Perubahan
Wonogiri — majalahlarise.com - SMA Negeri 1 Nguntoronadi menyelenggarakan kegiatan Pesantren Ramadan 1447 H pada Selasa (10/3/2026) hingga Jumat (13/3/2026) di lingkungan sekolah. Kegiatan tersebut menjadi momentum pembinaan spiritual bagi para siswa selama bulan suci Ramadan sekaligus sarana menanamkan nilai keimanan, ketakwaan, serta kepedulian sosial.
Pesantren Ramadan dilaksanakan oleh pengurus Organisasi Intra Sekolah (OSIS) dengan melibatkan seluruh siswa kelas X, XI, dan XII yang beragama Islam. Selama empat hari kegiatan, para siswa mengikuti berbagai aktivitas ibadah dan kajian keislaman yang bertujuan meningkatkan pemahaman serta pengamalan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Setiap hari para siswa melaksanakan shalat dhuha berjamaah, dilanjutkan khotmil Al-Qur’an, kemudian shalat dzuhur berjamaah, dan diakhiri dengan shalat ashar berjamaah. Rangkaian kegiatan tersebut dirancang untuk membiasakan siswa menjalankan ibadah secara disiplin sekaligus menumbuhkan suasana religius di lingkungan sekolah.
Selain kegiatan ibadah, para siswa juga mengikuti sesi unjuk bakat Islami. Dalam kegiatan ini, perwakilan setiap kelas menampilkan satu pertunjukan yang menampilkan berbagai bakat, seperti qiraatul Qur’an, hafalan Al-Qur’an, nasyid, rebana, serta berbagai ekspresi seni Islami lainnya.
![]() |
| Panitia membagikan sekitar 300 paket takjil kepada para pengguna jalan di sepanjang ruas jalan depan Alun-alun Nguntoronadi hingga Kantor Kecamatan Nguntoronadi. |
Dalam rangkaian Pesantren Ramadan tersebut, siswa juga mendapatkan materi keagamaan yang mencakup keimanan, ibadah, Al-Qur’an, akhlak, muamalah, serta tarikh atau sejarah kebudayaan Islam. Materi disampaikan oleh tim penyuluh dari KUA Nguntoronadi serta Novrida Aryani Puspitasari, S.S., penyuluh KUA Giriwoyo.
Materi tersebut mengusung tema “Menjemput Ampunan, Mengukir Perubahan”, yang mengajak para siswa menjadikan Ramadan sebagai momentum refleksi diri untuk memperbaiki kebiasaan serta meningkatkan kualitas ibadah.
Sementara itu, bagi siswa yang beragama Kristen dan Katolik, sekolah juga menyelenggarakan kegiatan pembinaan keimanan yang dilaksanakan di ruang perpustakaan sekolah. Kegiatan tersebut dibimbing oleh guru yang beragama Kristen dengan fokus pada refleksi spiritual, penguatan iman, serta pembinaan karakter sesuai ajaran agama masing-masing.
Rangkaian kegiatan mencapai puncaknya pada Jumat (13/3/2026) melalui kegiatan Takjil On The Road. Dalam kegiatan tersebut, siswa bersama panitia membagikan sekitar 300 paket takjil kepada para pengguna jalan di sepanjang ruas jalan depan Alun-alun Nguntoronadi hingga Kantor Kecamatan Nguntoronadi.
Kegiatan tersebut menjadi wujud nyata kepedulian sosial sekaligus praktik langsung nilai berbagi di bulan Ramadan.
Masih pada hari yang sama, kegiatan dilanjutkan dengan buka puasa bersama yang diikuti seluruh guru, karyawan, serta siswa SMA Negeri 1 Nguntoronadi. Kebersamaan semakin terasa melalui pelaksanaan shalat Maghrib berjamaah, kemudian dilanjutkan shalat Isya dan Tarawih berjamaah sebagai penutup kegiatan.
Kepala SMA Negeri 1 Nguntoronadi, Istuti, menyampaikan kegiatan Pesantren Ramadan merupakan bagian penting dari upaya sekolah dalam membentuk karakter siswa.
“Pesantren Ramadan bukan hanya kegiatan rutin tahunan, tetapi momentum bagi siswa untuk memperdalam iman sekaligus melatih kepedulian sosial. Kami berharap nilai-nilai yang diperoleh selama kegiatan ini dapat terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Senada dengan hal tersebut, Guru Pendidikan Agama Islam SMA Negeri 1 Nguntoronadi, Rosyida Nur Rahmawati, menguraikan kegiatan ini dirancang untuk menanamkan kebiasaan baik kepada para siswa.
“Melalui rangkaian ibadah, kajian keagamaan, serta kegiatan sosial seperti berbagi takjil, siswa diajak menyadari Ramadan merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri dan membangun perubahan yang lebih baik dalam kehidupan mereka,” ujarnya.
Melalui kegiatan Pesantren Ramadan ini, SMA Negeri 1 Nguntoronadi berharap para siswa mampu menjadikan bulan suci Ramadan sebagai momentum meningkatkan kualitas iman, memperkuat akhlak, serta menumbuhkan kepedulian terhadap sesama. (Grina/ Sofyan)
Baca juga: Dosen DKV ISI Surakarta Lolos Kurasi Pameran Poster Internasional di Turki
Top 5 Popular of The Week
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Proses pembuatan jenang tradisional. Melihat Lebih Dekat Usaha Jenang Tradisional 'UD TEGUH' Kedung Gudel Kenep Sukoharjo- majala...
-
FILSAFAT JAWA KIDUNGAN “ANA KIDUNG RUMEKSA ING WENGI” Oleh: Sri Suprapti Guru Bahasa Jawa di Surakarta Sri Suprapti Filsafat Jawa a...
-
ALAT PERAGA ULAR TANGGA NORMA DAN KEADILAN SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN PPKn Oleh: Sulistiani, S.Pd Guru SMP Negeri 3 Satu Atap Mijen, Demak J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...












