MIM Grinting Nogosari Gelar Seminar Parenting, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Madrasah

    Boyolali - majalahlarise.com – MI Muhammadiyah Grinting, Kecamatan Nogosari, Kabupaten Boyolali, menggelar kegiatan Awwalussanah dan Seminar Parenting Tahun Ajaran 2026/2027, Sabtu (25/7/2026). Mengusung tema "Sinergi Bersama Madrasah–Orang Tua: Wujudkan Generasi Berkarakter, Beriman, dan Berprestasi," kegiatan ini menjadi momentum memperkuat kolaborasi antara madrasah, orang tua, dan masyarakat dalam membentuk generasi Islami yang unggul.

    Kegiatan dihadiri oleh wali murid, tokoh masyarakat, pengurus Muhammadiyah, komite madrasah, serta pemerintah desa. Kehadiran berbagai unsur tersebut menunjukkan komitmen bersama untuk mendukung penyelenggaraan pendidikan yang berkualitas melalui sinergi antara lingkungan keluarga, madrasah, dan masyarakat.

    Kepala MI Muhammadiyah Grinting, Ika Rahmawati, memaparkan berbagai program unggulan yang akan dijalankan pada Tahun Ajaran 2026/2027. Ia menjelaskan keberhasilan program madrasah membutuhkan dukungan penuh dari para orang tua agar proses pendidikan berlangsung selaras antara pembelajaran di madrasah dan pembinaan di rumah.

    "Kami berharap seluruh orang tua dapat mendukung setiap program madrasah sehingga anak-anak memperoleh pendidikan yang berkesinambungan antara keluarga dan madrasah. Dengan sinergi yang baik, kami optimistis dapat mencetak generasi yang berkarakter, beriman, dan berprestasi," jelas Ika Rahmawati.

    Acara diawali dengan sambutan Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Tegalgiri, Kasino, yang mengajak seluruh warga Muhammadiyah untuk terus menjaga keberadaan madrasah sebagai pusat dakwah dan pendidikan umat. Selanjutnya, Ketua Komite Madrasah, Sujarwo, mengajak seluruh wali murid untuk menjaga kekompakan bersama komite dan pihak madrasah demi kemajuan MI Muhammadiyah Grinting.

    Dukungan juga disampaikan Kepala Desa Tegalgiri, Ngateman, yang mengapresiasi kontribusi MI Muhammadiyah Grinting dalam membentuk generasi berakhlak mulia. Ia berharap madrasah terus berkembang menjadi lembaga pendidikan yang membanggakan masyarakat.

    Sesi utama seminar parenting menghadirkan Pujiono, S.Si., M.M., Ketua Forum Guru Muhammadiyah Kabupaten Boyolali sekaligus Mudir Pondok Pesantren Muhammadiyah Manafiul Ulum Sambi. Dengan penyampaian yang komunikatif, ia mengawali materi dengan mengajak seluruh peserta menyanyikan lagu "Tanggung Jawab Bersama" sebagai pengingat bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab semua pihak.

    Dalam paparannya, Pujiono menjelaskan pendidikan tidak dapat dibebankan hanya kepada guru. Orang tua, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa memiliki peran penting dalam mendampingi tumbuh kembang anak sehingga mampu melahirkan generasi yang saleh, cerdas, dan berakhlak mulia.

    "Pendidikan bukan hanya tugas guru di sekolah. Orang tua dan masyarakat harus turut hadir mendampingi anak-anak agar tumbuh menjadi generasi saleh, cerdas, dan berakhlak mulia," ujar Pujiono.

    Ia juga mengingatkan para orang tua agar memandang pendidikan anak sebagai investasi dunia dan akhirat. Menurutnya, setiap pengorbanan untuk pendidikan merupakan amal yang akan memberikan manfaat berkelanjutan.

    "Jangan pernah mengeluh mengeluarkan biaya pendidikan untuk anak. Setiap rupiah yang digunakan untuk mendidik anak adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir," tuturnya.

    Kepada pengurus komite dan seluruh warga Muhammadiyah, Pujiono mengajak untuk bersama-sama menjaga dan memajukan madrasah sebagai bagian dari perjuangan dakwah.

    "Merawat madrasah sama dengan merawat dakwah dan melanjutkan risalah Rasulullah SAW. Siapa pun yang berjuang membesarkan madrasah, insyaallah menjadi bagian dari perjuangan yang bernilai ibadah dan mengantarkan kepada kebaikan," ungkapnya.

    Seminar parenting berlangsung interaktif dan penuh antusias. Para wali murid mengikuti seluruh sesi dengan semangat, berdiskusi mengenai pola pengasuhan anak, serta berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan. Melalui sinergi yang semakin kuat antara keluarga, madrasah, dan masyarakat, MI Muhammadiyah Grinting optimistis mampu melahirkan generasi Islam yang berkarakter, beriman, berprestasi, serta siap menghadapi tantangan zaman. (Sofyan)


    Baca juga: Investasi Abadi Tanpa Rugi, Ustaz Dwi Jatmiko Ajak Umat Berniaga dengan Allah

    Ustaz Dwi Jatmiko


    Investasi Abadi Tanpa Rugi, Ustaz Dwi Jatmiko Ajak Umat Berniaga dengan Allah

    SOLO - majalahlarise.com – Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif dan berorientasi pada keuntungan materi, Islam menawarkan konsep investasi yang tidak mengenal kerugian, yakni berniaga dengan Allah SWT melalui amal saleh. Pesan tersebut disampaikan dalam kegiatan Safari Dakwah Pencerahan Putaran Kedua yang digelar Korp Mubaligh Muhammadiyah (KMM) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Solo Utara di Masjid Al Muthmainnah, Nusukan, Minggu (26/7/2026).

    Dalam tausiyahnya, Ustaz Dwi Jatmiko mengupas kandungan Surah Fathir ayat 29 yang menurutnya menjadi pedoman meraih keberuntungan sejati, baik di dunia maupun di akhirat. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang senantiasa membaca Al-Qur'an, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezekinya merupakan hamba yang melakukan perdagangan dengan Allah yang tidak akan pernah merugi.

    "Investasi abadi tanpa rugi, lebih jelas lihat QS. Fathir ayat 29," ujar Ustaz Dwi Jatmiko yang juga Guru Pendidikan Agama Islam SD Muhammadiyah 1 Solo.

    Menurutnya, amalan pertama yang menjadi fondasi investasi terbaik adalah membaca Al-Qur'an. Kegiatan tersebut tidak hanya sebatas melafalkan ayat-ayat suci, tetapi juga membangun kedekatan dengan petunjuk Allah SWT. Ia mengutip Surah Al-Isra ayat 9 yang menjelaskan bahwa Al-Qur'an memberikan petunjuk menuju jalan yang paling lurus serta kabar gembira bagi orang-orang beriman yang mengerjakan amal saleh.

    "Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala berlipat ganda, sekaligus menjadi cahaya yang membimbing kehidupan seorang muslim," jelasnya.

    Amalan kedua, lanjut Jatmiko, adalah menegakkan salat secara istiqamah. Salat merupakan tiang agama sekaligus sarana komunikasi paling mulia antara seorang hamba dengan Allah SWT. Konsistensi dalam menjaga salat menjadi bukti ketundukan dan komitmen seorang mukmin dalam menjalankan perintah-Nya.

    Sementara itu, amalan ketiga adalah menginfakkan sebagian rezeki yang telah dikaruniakan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Menurutnya, infak mencerminkan keyakinan bahwa harta hanyalah titipan Allah yang harus dimanfaatkan untuk menghadirkan kemaslahatan bagi sesama.

    "Amalan ketiga adalah menginfakkan sebagian rezeki yang telah Allah karuniakan, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan," terangnya.

    Dalam kesempatan tersebut, Jatmiko juga mengingatkan bahwa investasi dalam urusan dunia tidak selalu memberikan keuntungan. Ia mencontohkan berbagai bentuk investasi yang berpotensi mengalami kegagalan sehingga menimbulkan kerugian bagi para investor. Sebaliknya, investasi kepada Allah melalui membaca Al-Qur'an, menegakkan salat, dan bersedekah merupakan investasi yang dijamin memberikan keberkahan.

    "Bisnis dengan manusia bisa menghasilkan keuntungan, tetapi juga bisa mendatangkan kerugian. Sementara itu, berniaga dengan Allah melalui Al-Qur'an, salat, dan sedekah merupakan satu-satunya transaksi yang pasti menghadirkan keberkahan hidup di dunia sekaligus keselamatan di akhirat," pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Desain Interior ISI Surakarta Hadirkan Karya Mebel dan Aksesoris di Tahir Solo Museum


    Pameran karya mebel dan aksesoris interior hasil kreativitas dosen dan mahasiswa. 


    Desain Interior ISI Surakarta Hadirkan Karya Mebel dan Aksesoris di Tahir Solo Museum

    Surakarta - majalahlarise.com - Program Studi Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta berkolaborasi dalam Soft Launching Tahir Solo Museum, Sabtu (25/7/2026), dengan menghadirkan pameran karya mebel dan aksesoris interior hasil kreativitas dosen dan mahasiswa. Kolaborasi tersebut menjadi bentuk sinergi antara perguruan tinggi seni dengan institusi budaya dalam menghadirkan ruang publik yang edukatif, inspiratif, dan bernilai estetika tinggi.

    Tahir Solo Museum hadir sebagai salah satu destinasi budaya dan edukasi baru di Kota Surakarta yang berfungsi sebagai ruang pembelajaran, apresiasi seni, sekaligus pengembangan ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Kehadiran karya-karya Desain Interior ISI Surakarta di museum ini memperkuat identitas ruang sekaligus menunjukkan peran aktif perguruan tinggi seni dalam mendukung pembangunan ekosistem budaya dan desain di Indonesia.

    Dosen Program Studi Desain Interior ISI Surakarta, Dr. Dhian Lestari Hastuti, M.Sn, menjelaskan kolaborasi tersebut menghadirkan berbagai karya mebel dan aksesoris interior yang dirancang secara khusus dengan mempertimbangkan aspek fungsi, estetika, kenyamanan, serta keselarasan dengan karakter ruang museum.


    "Setiap karya merupakan hasil eksplorasi desain yang memadukan kreativitas, inovasi, serta nilai-nilai budaya lokal sebagai ciri khas pendidikan desain di ISI Surakarta," jelas Dr. Dhian Lestari Hastuti, M.Sn.

    Ia menambahkan, keterlibatan dosen dan mahasiswa dalam proyek tersebut merupakan implementasi pembelajaran berbasis praktik (project-based learning). Melalui pendekatan ini, proses akademik tidak hanya menghasilkan karya di lingkungan kampus, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan.

    "Kolaborasi ini menjadi pengalaman berharga bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan kompetensi desain pada proyek nyata sekaligus berkontribusi dalam pengembangan ruang budaya yang memiliki fungsi sosial dan edukatif," tambahnya.

    Program Studi Desain Interior ISI Surakarta berharap kerja sama semacam ini dapat terus berkembang sehingga membuka lebih banyak peluang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dunia industri, dan institusi budaya dalam menghasilkan karya desain yang berkualitas dan inovatif.

    Partisipasi dalam Soft Launching Tahir Solo Museum menjadi bukti komitmen ISI Surakarta untuk terus berkontribusi dalam pengembangan seni, desain, dan budaya Indonesia melalui karya-karya yang tidak hanya memiliki nilai estetis, tetapi juga memberikan manfaat sosial serta edukatif bagi masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: UNISRI Gelar Capacity Building dan Amazing Race, Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Kolaboratif

     


    UNISRI Gelar Capacity Building dan Amazing Race, Perkuat Budaya Kerja Profesional dan Kolaboratif

    SEMARANG - majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar kegiatan Capacity Building dan Amazing Race 2026 di Dusun Semilir, Semarang, Sabtu (25/7/2026). Kegiatan yang diikuti Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi (YPT) Slamet Riyadi, pimpinan universitas, dosen, dan tenaga kependidikan ini mengusung tema "Membangun Budaya Kerja Profesional dan Kolaboratif Menuju UNISRI Unggul" sebagai upaya memperkuat sinergi dan meningkatkan kapasitas sumber daya manusia di lingkungan kampus.

    Kegiatan dikemas dalam suasana santai namun sarat makna melalui berbagai agenda yang mendorong kerja sama tim, komunikasi, dan kepemimpinan. Para peserta mengikuti Fun Amazing Race Game yang menguji kekompakan, strategi, dan kolaborasi, dilanjutkan dengan materi Leadership sebagai bekal menghadapi tantangan pengelolaan perguruan tinggi yang semakin dinamis.

    Wakil Ketua Panitia, Kris Agung, S.Kom., M.Kom., menjelaskan kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang penyegaran, tetapi juga momentum memperkuat budaya kerja yang profesional dan berintegritas.

    "Melalui capacity building ini kita tidak hanya refreshing, tetapi juga mengasah kembali nilai-nilai profesionalisme, integritas, dan kolaborasi. Karena untuk menjadi UNISRI yang unggul, kita harus kuat dari dalam," jelas Kris Agung.

    Rektor UNISRI, Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd., saat membuka acara menyampaikan bahwa kualitas sumber daya manusia merupakan faktor utama yang menentukan kemajuan sebuah institusi pendidikan tinggi. Menurutnya, keberhasilan UNISRI tidak hanya bergantung pada fasilitas maupun program yang dimiliki, tetapi juga pada kekuatan budaya kerja seluruh civitas akademika.

    "UNISRI unggul tidak bisa hanya ditopang oleh fasilitas atau program. Yang paling utama adalah manusianya. Melalui kegiatan ini saya ingin kita semua memperkuat budaya kerja yang profesional, saling menghargai, dan kolaboratif. Mari kita bangun UNISRI bersama-sama, dari YPT, pimpinan, dosen, hingga tenaga kependidikan. Kita satu tim untuk memajukan UNISRI," tegas Prof. Sutoyo.

    Ia juga mengapresiasi antusiasme seluruh peserta yang aktif mengikuti setiap rangkaian kegiatan, mulai dari permainan kolaboratif hingga sesi kepemimpinan. Semangat kebersamaan tersebut diharapkan menjadi modal penting dalam memperkuat tata kelola universitas.

    Melalui kegiatan Capacity Building dan Amazing Race 2026 ini, UNISRI berharap tercipta iklim kerja yang semakin solid, inovatif, dan produktif. Sinergi antara YPT, pimpinan universitas, dosen, serta tenaga kependidikan diharapkan mampu meningkatkan daya saing UNISRI di tingkat regional, nasional, hingga internasional. Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen UNISRI dalam membangun perguruan tinggi yang unggul tidak hanya dari sisi akademik, tetapi juga memiliki budaya organisasi yang kuat sebagai fondasi menuju universitas berkarakter dan berdaya saing. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar dan Membelajarkan Bahasa Indonesia Berbasis Seni, Budaya, dan Sastra untuk Memotivasi, Menginspirasi, dan Memantik Gerakan Literasi Ratulisa bagi Multigenerasi NKRI pada Era Digital

    Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Eny Idayati, S.Pd., M.Pd, Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menyerahkan sertifikat dan bantuan alat rintisan usaha secara simbolis kepada Mutiara Cantika, Mutoharoh Faisah, dan Faradina Dian. 

    .

    PKBM Syifa Surakarta Tutup Short Pastry Class 2026, Siapkan Wirausaha Kuliner Mandiri

    SOLO - majalahlarise.com – PKBM Syifa Surakarta yang beralamat di Jalan Jamsaren No. 44, Kelurahan Serengan, Kecamatan Serengan, Kota Surakarta, Jawa Tengah, resmi menutup rangkaian Pelatihan Mandiri Short Pastry Class 2026 bertema "Kreatif, Terampil, dan Siap Berwirausaha" di kampus PKBM Syifa Surakarta, Sabtu (25/7/2026). Penutupan ini menandai berakhirnya program peningkatan keterampilan tata boga yang membekali peserta dengan kemampuan membuat aneka produk short pastry sekaligus menumbuhkan jiwa kewirausahaan sebagai bekal menciptakan peluang usaha mandiri.

    Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menjelaskan pelatihan tetap dapat terlaksana meski menghadapi kendala pendanaan dari Direktorat. Menurutnya, penyelenggara berkomitmen memberikan pembelajaran terbaik dengan menghadirkan instruktur berpengalaman di bidang pemasaran, manajemen usaha, pengembangan media sosial, serta dukungan dari Persatuan Koki Indonesia (ICA) Jawa Tengah. 

    "Harapan kami, setelah kegiatan ini teman-teman tidak berdiri sendiri-sendiri, tetapi bisa langsung bergabung dengan Syifa Berdaya agar usahanya terus berkembang," ujarnya.

    Puri menjelaskan, pendampingan kepada peserta tidak berhenti setelah pelatihan selesai. Seluruh alumni akan difasilitasi melalui komunitas Syifa Berdaya yang memberikan pendampingan lanjutan, mulai dari pengurusan PIRT, sertifikasi halal, Hak Kekayaan Intelektual (HAKI), hingga peningkatan kualitas kemasan produk. Selain itu, PKBM Syifa juga membuka akses permodalan melalui kerja sama dengan BRI, BNI, dan Koperasi Bunda sesuai ketentuan yang berlaku. 

    "Semoga nanti kita bisa berkembang bersama menjadi lebih baik dan bermanfaat," tuturnya.


    Ketua Penyelenggara, Hartanto, melaporkan pelatihan diikuti sekitar 10 peserta selama kurang lebih satu bulan dengan delapan kali pertemuan. Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi teori dan praktik secara langsung, mulai dari pengenalan bahan, penggunaan peralatan, teknik pembuatan adonan, proses pemanggangan, hingga penyajian produk. Peserta juga dibekali kemampuan menghitung Harga Pokok Produksi (HPP) sebagai bekal mengembangkan usaha. 

    "Para peserta tidak hanya belajar membuat produk soft pastry, tetapi juga memahami cara menghitung HPP sehingga memiliki bekal untuk berwirausaha dan bergabung dalam UMKM, khususnya di bidang kuliner," jelasnya.

    Hartanto mengapresiasi para instruktur yang telah membimbing peserta hingga menunjukkan peningkatan keterampilan pada setiap pertemuan. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan pelatihan. 


    "Kami menyadari pelaksanaan pelatihan ini masih memiliki kekurangan. Karena itu, kami terbuka terhadap setiap masukan sebagai bahan evaluasi agar penyelenggaraan pelatihan pada tahun mendatang dapat berlangsung lebih baik," katanya.

    Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang PAUD dan PNF Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Eny Idayati, S.Pd., M.Pd., yang menutup kegiatan tersebut mengajak peserta memanfaatkan keterampilan yang diperoleh menjadi peluang usaha. Ia menilai sektor kuliner memiliki prospek besar karena Kota Solo dikenal sebagai salah satu destinasi wisata kuliner. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya diraih melalui profesi sebagai pegawai, tetapi juga dapat dicapai melalui kewirausahaan yang didukung karakter ulet, kreatif, inovatif, disiplin, serta mampu membaca kebutuhan pasar. 

    "Kesuksesan itu adalah hak semua orang yang mau berusaha. Kalau ingin menjadi wirausaha, harus punya jiwa wirausaha, yaitu ulet, kreatif, berinovasi, kerja keras, disiplin, dan mampu mengikuti kebutuhan pasar," ujarnya.

    Di akhir sambutannya, Eny mengajak seluruh peserta terus mengembangkan ilmu yang telah diperoleh agar bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Ia juga memberikan apresiasi kepada para instruktur yang telah mendampingi peserta selama pelatihan. 

    "Atas nama Dinas Pendidikan kami mengucapkan selamat kepada seluruh peserta. Tolong ilmu yang diperoleh dikembangkan, jangan berhenti di sini. Hidup itu pilihan, pilih sukses atau pilih sengsara. Kalau memilih sukses, mulailah hari ini dengan bekerja keras dan jangan mudah menyerah," tuturnya.

    Salah seorang peserta, Riski Agustina, mengaku memperoleh pengalaman berharga selama mengikuti pelatihan. Selain mendapatkan pengetahuan baru tentang dasar-dasar pembuatan pastry, ia juga memiliki kesempatan memperluas relasi dengan sesama peserta. 

    "Kesan saya mengikuti kegiatan ini, saya merasa senang karena mendapat ilmu baru dan juga kenalan baru. Ilmu yang kami dapatkan sangat bermanfaat untuk ke depannya," ujarnya. 

    Riski berharap materi pelatihan terus dikembangkan dengan variasi yang lebih beragam, praktik yang lebih banyak, serta durasi pelatihan yang lebih panjang. Ia pun berencana mulai merintis usaha kuliner secara bertahap. 

    "Ke depannya kami akan mencoba membuat usaha mulai dari kecil, sedikit demi sedikit, semoga bisa berkembang," katanya.

    Dengan berakhirnya pelatihan ini, PKBM Syifa Surakarta kembali menegaskan perannya sebagai lembaga pendidikan nonformal yang berkomitmen mengembangkan keterampilan masyarakat melalui pelatihan yang relevan dengan kebutuhan dunia usaha. Diharapkan kompetensi yang diperoleh peserta tidak berhenti sebagai bekal pribadi, tetapi berkembang menjadi usaha yang produktif, membuka lapangan kerja, dan memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: Mahasiswa DKV ISI Surakarta Rancang Maskot Media Sosial Museum dan Galeri SBY*ANI Pacitan



    Mahasiswa DKV ISI Surakarta Rancang Maskot Media Sosial Museum dan Galeri SBY*ANI Pacitan

    PACITAN - majalahlarise.com – Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta berhasil merancang maskot untuk media sosial Museum dan Galeri SBY*ANI Pacitan melalui Program Mahasiswa Berdampak (ProMaDam). Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat identitas visual museum sekaligus meningkatkan daya tarik komunikasi digital kepada masyarakat, khususnya generasi muda.

    Program Mahasiswa Berdampak (ProMaDam) skema magang tersebut diikuti oleh dua mahasiswa DKV ISI Surakarta, yakni Tunjung Norma Sidhi Hastuty dan Firah Aniq Imtinansyah, yang menjalani magang selama empat bulan, mulai 13 Mei hingga 13 Agustus 2026. Selama magang, keduanya terlibat dalam berbagai pekerjaan desain visual, termasuk mengelola akun Instagram @sahabatmuseum_ sebagai media promosi dan edukasi Museum dan Galeri SBY*ANI.

    Dalam proses perancangan identitas visual, Tunjung dan Firah, di bawah bimbingan mentor Ristian Winda A. dan Ratih Nur Imamah, mengembangkan maskot yang diharapkan mampu menghadirkan citra museum yang lebih akrab, komunikatif, dan mudah diingat masyarakat. Proses kreatif tersebut diawali dengan riset, wawancara, pengajuan konsep kepada direktur museum, hingga digitalisasi desain menggunakan aplikasi Adobe Illustrator.

    Mahasiswa DKV ISI Surakarta, Tunjung Norma Sidhi Hastuty, menjelaskan proses tersebut memberikan pengalaman baru dalam menerjemahkan nilai-nilai museum ke dalam bentuk visual yang menarik.

    "Saya mendapatkan tantangan dalam mengemas narasi museum menjadi bentuk visual dengan nuansa yang lebih ceria dan informal. Proses ini memberikan pengalaman berharga karena kami harus mampu menerjemahkan nilai dan cerita museum menjadi karakter yang dekat dengan masyarakat," jelas Tunjung.

    Hasil perancangan tersebut pertama kali diperkenalkan kepada publik pada Grand Final Lomba Bercerita "Untuk Bumi Kita" yang digelar di Museum dan Galeri SBY*ANI pada 24 Mei 2026. Pada kesempatan itu, maskot tidak hanya ditampilkan dalam media digital, tetapi juga diwujudkan dalam bentuk fisik sebagai elemen pendukung estetika panggung.

    Maskot tersebut merupakan personifikasi burung elang yang dipadukan dengan atribut khas Kabupaten Pacitan, berupa baju blarang dan kain lilit bermotif flamboyan berwarna biru. Karakter itu diberi nama "Sani", yang merupakan gabungan nama dua tokoh inspirasi berdirinya museum, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Ani Yudhoyono.

    Dosen pembimbing, Anung Rachman, menjelaskan keterlibatan mahasiswa dalam Program Mahasiswa Berdampak membuktikan bahwa keilmuan Desain Komunikasi Visual tidak hanya berfokus pada estetika, tetapi juga memiliki peran strategis dalam membangun identitas lembaga.

    "Keterlibatan mahasiswa dalam Program Mahasiswa Berdampak skema magang ini menunjukkan bahwa DKV tidak hanya berorientasi pada aspek estetika, tetapi juga mampu menghasilkan perancangan strategis dalam membangun identitas sebagai bentuk komunikasi visual sebuah institusi," jelas Anung.

    Melalui program magang tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman profesional secara langsung di dunia kerja sekaligus memahami pentingnya desain komunikasi visual dalam membangun identitas, citra, dan strategi komunikasi sebuah institusi budaya. Kehadiran maskot "Sani" diharapkan mampu memperkuat branding Museum dan Galeri SBY*ANI serta menjadi media edukasi yang lebih menarik bagi masyarakat luas, terutama generasi muda yang aktif memanfaatkan media sosial. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar dan Membelajarkan Bahasa Indonesia Berbasis Seni, Budaya, dan Sastra untuk Memotivasi, Menginspirasi, dan Memantik Gerakan Literasi Ratulisa bagi Multigenerasi NKRI pada Era Digital

    Sebanyak 100 UMKM terpilih mengikuti Program Semarang RISE 2026 bertema "Digital & Market Acceleration" yang digelar di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kota Semarang pada 21–22 Juli 2026.


    Semarang RISE 2026 Perkuat Daya Saing 100 UMKM Lewat Akselerasi Digital dan Akses Pasar

    Semarang - majalahlarise.com – Program Semarang RISE 2026 (Revitalize, Innovate, Scale, Empower) terus memperkuat daya saing pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui akselerasi digital dan perluasan akses pasar. Sebanyak 100 UMKM terpilih mengikuti Pertemuan ke-3 bertema "Digital & Market Acceleration" yang digelar di Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) Kota Semarang pada 21–22 Juli 2026 sebagai bagian dari program inkubasi bisnis selama 90 hari.

    Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas Koperasi dan UKM Kota Semarang bersama Asia Small Business Federation (ASBF) Regional Jawa Tengah, ASBF Solo Raya, dan DnA Entrepreneur Academy ini terbagi dalam dua sesi. Pada 21 Juli diikuti 50 pelaku UMKM sektor kuliner, sedangkan 22 Juli diikuti 50 UMKM sektor craft. Program tersebut dirancang untuk mempersiapkan UMKM agar mampu naik kelas, memasuki pasar modern, hingga menembus pasar global.

    Pada sesi pertama, peserta memperoleh materi "Digital Presence yang Menjual, Bukan Sekadar Posting" dari praktisi digital marketing sekaligus Chief Operating Area ASBF, Angga Prasetyo. Materi berfokus pada strategi membangun kepercayaan pasar, meningkatkan konversi melalui konten yang tepat, serta pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam mendukung produktivitas pemasaran digital. Selain teori, peserta juga mendapat pendampingan mengoptimalkan profil bisnis digital agar lebih profesional dan kompetitif di marketplace maupun media sosial.

    "Di era digital, konsumen membeli karena percaya. Konten bukan sekadar ramai dilihat, tetapi harus mampu mengubah perhatian menjadi transaksi. AI hadir sebagai alat bantu agar UMKM dapat bekerja lebih cepat, lebih efektif, dan lebih konsisten," jelas Angga Prasetyo.


    Sesi berikutnya menghadirkan Anastasia Dhevi Retnaningrum, S.H., trader ekspor, Direktur PT Sri Subagya Berkah Abadi, Ketua DPD Go Export Solo, Affiliate TikTok Shop dan Shopee, sekaligus Trainer DnA Entrepreneur. Melalui materi "Strategi Akses Pasar & Buyer Mapping", peserta dibimbing memahami pentingnya menentukan target pasar sebelum memasarkan produk. Materi meliputi penyusunan buyer persona, strategi memilih pasar B2B maupun retail, hingga pengenalan peluang ekspor. Setiap peserta juga menyusun Target Market Map sebagai panduan pengembangan bisnis pasca program inkubasi.

    "Produk yang baik belum tentu langsung diterima pasar. Yang paling penting adalah mengetahui siapa pembelinya, kebutuhan mereka, serta bagaimana cara menjangkaunya secara tepat. Ketika target pasar sudah jelas, strategi pemasaran akan menjadi jauh lebih efektif," ungkap Anastasia Dhevi Retnaningrum.

    Project Manager Semarang RISE 2026, Arman Hadi, menjelaskan program tersebut tidak sekadar memberikan pelatihan, melainkan pendampingan bisnis secara bertahap agar UMKM berkembang secara berkelanjutan.

    "Semarang RISE 2026 adalah program pendampingan bagi UMKM yang telah memiliki kesiapan untuk berkembang lebih cepat. Kami membangun fondasi usaha mulai dari penguatan model bisnis, digitalisasi, peningkatan kualitas produk, strategi pemasaran, hingga membuka akses kepada buyer, investor, dan peluang ekspor. Harapannya, peserta tidak hanya bertambah pengetahuan, tetapi benar-benar mengalami peningkatan kapasitas dan pasar," jelas Arman.

    Sementara itu, Project Manager 2 Semarang RISE 2026, Ika Rosyada Fitriati, menyampaikan setiap tahapan pelatihan disusun berdasarkan kebutuhan riil pelaku UMKM sehingga materi yang diberikan bersifat aplikatif dan relevan.

    "Kami ingin menghadirkan proses pembelajaran yang aplikatif dan relevan. Oleh karena itu, para pemateri yang hadir merupakan praktisi yang telah memiliki pengalaman langsung di bidang digital marketing, perdagangan, dan ekspor. Semarang RISE menjadi ruang kolaborasi agar UMKM Kota Semarang dapat tumbuh lebih adaptif, inovatif, dan memiliki daya saing yang kuat di pasar nasional maupun internasional," tutur Ika.

    Melalui kolaborasi antara pemerintah, komunitas bisnis, akademisi, dan praktisi, Semarang RISE 2026 menghadirkan ekosistem pendampingan yang mempertemukan peserta dengan mentor, pelaku usaha, serta jejaring bisnis yang membuka peluang kemitraan dan ekspor. Program ini diharapkan mampu melahirkan UMKM yang tidak hanya kuat dalam pemasaran digital, tetapi juga siap menjadi bagian dari rantai pasok nasional dan global.

    Mengusung semangat "Revitalize. Innovate. Scale. Empower.", Semarang RISE 2026 menegaskan komitmennya untuk mendorong UMKM Kota Semarang bertumbuh lebih adaptif, inovatif, berdaya saing tinggi, serta mampu menembus pasar internasional melalui kolaborasi dan penguatan kapasitas usaha. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar dan Membelajarkan Bahasa Indonesia Berbasis Seni, Budaya, dan Sastra untuk Memotivasi, Menginspirasi, dan Memantik Gerakan Literasi Ratulisa bagi Multigenerasi NKRI pada Era Digital


Top