GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
Karhutla Kembali Mengancam, PENDIKS GEONUSA Serukan “Jangan Panik, Jangan Abai!”
JAKARTA - majalahlarise.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Indonesia. Perkumpulan Pendidik Sains Geografi Nusantara (PENDIKS GEONUSA) menyerukan penguatan literasi kebencanaan, kewaspadaan masyarakat, serta pendidikan geografi berbasis sains untuk menghadapi ancaman karhutla yang kembali terjadi pada 2026.
Sikap tersebut disampaikan PENDIKS GEONUSA melalui pernyataan resmi bertajuk “Menguatkan Literasi Kebencanaan, Kewaspadaan Masyarakat, dan Pendidikan Geografi Berbasis Sains” yang ditetapkan di Jakarta, 7 September 2026.
PENDIKS GEONUSA menilai karhutla bukan persoalan baru bagi Indonesia. Fenomena kebakaran hutan dalam skala besar pernah terjadi pada 1997–1998, 2015, dan 2019. Pada 2026, ancaman serupa kembali muncul dan membutuhkan kewaspadaan bersama.
Organisasi profesi pendidik sains geografi tersebut juga merujuk analisis data NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS). Pemantauan kebakaran berbasis satelit pada periode 1–18 Agustus 2026 menunjukkan peningkatan akumulasi persebaran kebakaran. Analisis terhadap lima provinsi di Kalimantan juga memperlihatkan peningkatan aktivitas api.
PENDIKS GEONUSA mengingatkan karhutla tidak semestinya hanya dilihat dari aspek api, asap, angin, dan hujan. Kondisi tanah memiliki peranan penting dalam menentukan ketahanan suatu bentang alam menghadapi periode tanpa hujan.
Tanah berfungsi sebagai penyimpan air. Struktur tanah, bahan organik, porositas, muka air tanah, serta tutupan vegetasi turut menentukan seberapa lama air dapat bertahan setelah hujan berhenti.
“Ketika fungsi-fungsi tersebut terganggu, bentang alam menjadi lebih sensitif terhadap periode tanpa hujan,” demikian salah satu penjelasan dalam pernyataan sikap PENDIKS GEONUSA.
Kondisi tersebut semakin penting pada ekosistem gambut. Menurut PENDIKS GEONUSA, lahan gambut pada dasarnya cukup tahan terhadap api selama muka air tetap tinggi. Karena itu, pemanfaatan sumber daya hutan secara berlebihan dan perubahan fungsi lahan yang dilandasi keserakahan dinilai turut menjadi sumber persoalan dan ancaman karhutla.
Sampaikan Tujuh Sikap
Menghadapi persoalan tersebut, PENDIKS GEONUSA menyampaikan tujuh sikap. Pertama, pemerintah diminta memperkuat koordinasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta perusahaan pemegang Hak Guna Usaha.
Kebijakan pemerintah juga diharapkan tetap arif dan bijaksana agar pemanfaatan sumber daya hutan berlandaskan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.
Kedua, masyarakat didorong memperkuat kepedulian terhadap hutan dengan menaati aturan serta mengedepankan kearifan lokal warisan leluhur. Pemuka masyarakat dan tokoh agama dinilai memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi mengenai kecintaan terhadap hutan.
Masyarakat juga diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, masyarakat diimbau segera melaporkannya agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.
Ketiga, PENDIKS GEONUSA mengingatkan pentingnya menghormati masyarakat adat. Pengetahuan lokal masyarakat adat dinilai memiliki kontribusi penting dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, pelestarian budaya, menjaga keseimbangan ekologi, melindungi keanekaragaman hayati, sekaligus mengendalikan emisi karbon.
Keempat, penguatan pendidikan kehutanan perlu dilakukan. Materi mengenai jasa ekosistem hutan, isu sosial, nilai budaya, pengetahuan tradisional, serta peran masyarakat adat dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih besar.
Dalam konteks tersebut, pendidikan geografi memiliki posisi strategis untuk membantu peserta didik memahami hubungan antara hutan, manusia, dan lingkungan dalam perspektif sistem geografi.
Kelima, PENDIKS GEONUSA mendorong penguatan literasi hutan di sekolah dan masyarakat. Karhutla dapat menjadi momentum pembelajaran nyata untuk memahami fungsi hutan, menjaga kelestarian lingkungan, membedakan informasi ilmiah dengan hoaks, serta memanfaatkan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk memahami persebaran hutan.
“Pendidikan geografi memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat yang lebih sadar ruang dan sadar risiko,” tegas PENDIKS GEONUSA.
Para pendidik geografi di seluruh Indonesia juga diajak tidak menjadikan karhutla semata-mata sebagai materi tentang bencana. Fenomena tersebut dapat digunakan untuk membangun kemampuan berpikir berbasis bukti dan sains, termasuk membaca fenomena geosfer, memahami risiko, menggunakan data, membaca peta, serta mengambil keputusan secara rasional.
Keenam, PENDIKS GEONUSA mendukung penguatan komunikasi risiko berbasis sains. Pemerintah, media, satuan pendidikan, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan komunitas hutan didorong menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa mengurangi ketepatan ilmiahnya.
Informasi mengenai karhutla, menurut PENDIKS GEONUSA, tidak boleh terjebak pada dua ekstrem, yakni menyepelekan ancaman atau justru menimbulkan kepanikan. Masyarakat membutuhkan informasi yang mampu menjawab tiga hal utama: apa yang sedang terjadi, apa risikonya, dan apa yang harus dilakukan.
Ketujuh, PENDIKS GEONUSA menyatakan kesiapan mengambil bagian dalam penguatan literasi geografi dan kebencanaan masyarakat. Setiap peristiwa kebencanaan diharapkan dapat menjadi momentum membangun masyarakat yang lebih sadar ruang, sadar risiko, berbasis bukti, dan tangguh menghadapi bencana kebakaran hutan.
PENDIKS GEONUSA kemudian menyampaikan seruan kepada masyarakat, “Jangan panik, jangan abai, jangan percaya pada informasi yang tidak terverifikasi. Kenali ruang, pahami risikonya, ikuti informasi resmi, dan bertindak berdasarkan sains.”
Pernyataan sikap tersebut menjadi bentuk kepedulian PENDIKS GEONUSA terhadap keselamatan masyarakat sekaligus komitmen organisasi dalam membangun literasi sains geografi dan ketangguhan bencana di Indonesia.
PENDIKS GEONUSA berharap penguatan literasi hutan, pendidikan geografi, komunikasi risiko berbasis sains, serta kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan berbagai pihak dapat menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman karhutla secara lebih bijaksana dan berkelanjutan. (Sofyan)
Baca juga: Maulid Nabi 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo Ajak Siswa Hidupkan Akhlak Rasulullah
Pendidikan
Jelang MAPSI, MGMP PAI SMP SR 03 Mantapkan Kompetensi Guru dan Persiapan PSTS
WONOGIRI – majalahlarise.com -Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP Sub Rayon (SR) 03 menggelar kegiatan peningkatan kompetensi guru sekaligus persiapan menghadapi lomba MAPSI (Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami), Selasa (8/9/2026). Kegiatan berlangsung di SMP Negeri 1 Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, dan diikuti para guru PAI SMP yang tergabung dalam MGMP PAI SMP SR 03.
Pertemuan tersebut menjadi forum untuk mematangkan persiapan MAPSI yang direncanakan berlangsung pada pertengahan September 2026. Para guru membahas teknis perlombaan, strategi pembinaan, kesiapan peserta didik, serta materi yang perlu dikuasai. Selain persiapan lomba, kegiatan juga dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi dan meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran PAI di sekolah.
Hadir sebagai pemateri awal, Pengawas PAI SMP Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri, Tutik Rijani, S.Ag., M.Si. Ia mengingatkan para guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme di tengah dinamika dunia pendidikan. Menurutnya, guru PAI tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga perlu memiliki integritas, kreativitas, serta mampu menjadi teladan bagi peserta didik.
“Guru profesional harus senantiasa belajar, mengembangkan kompetensi, dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan peserta didik serta perkembangan dunia pendidikan,” pesan Tutik Rijani.
Selain membahas profesionalisme guru, Tutik Rijani memberikan arahan terkait persiapan Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS). Para guru diminta mempersiapkan perangkat dan instrumen penilaian secara matang agar pelaksanaan evaluasi berjalan objektif, terarah, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
Pembahasan PSTS mencakup kesiapan materi, penyusunan instrumen evaluasi, kesesuaian soal dengan capaian pembelajaran, serta penyusunan penilaian yang mampu menggambarkan perkembangan kompetensi peserta didik secara menyeluruh. Persiapan tersebut dinilai penting untuk memastikan proses evaluasi tidak sekadar mengukur hasil belajar, tetapi juga memberikan gambaran perkembangan kompetensi siswa.
Sementara itu, koordinasi menghadapi MAPSI menjadi agenda penting dalam pertemuan tersebut. Para guru membahas berbagai cabang lomba, kesiapan peserta didik, materi yang harus dikuasai, serta strategi pembinaan agar siswa mampu tampil optimal. Koordinasi antarguru diharapkan dapat menghasilkan pola pembinaan yang lebih terarah dan efektif.
Kegiatan MGMP PAI SMP SR 03 tidak hanya menjadi forum persiapan menghadapi MAPSI dan PSTS, tetapi juga ruang berbagi pengalaman serta praktik baik antarguru. Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan semakin solid dan profesional dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PAI.
Dengan persiapan yang matang dan koordinasi yang kuat, MGMP PAI SMP SR 03 optimistis para peserta didik yang mewakili sekolah dalam MAPSI mampu memberikan penampilan terbaik serta membawa nama baik sekolah dan wilayah SR 03.
Semangat “Guru profesional, siswa berprestasi, PAI semakin menginspirasi” menjadi dorongan bersama untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di Kabupaten Wonogiri. (Sofyan)
Baca juga: Maulid Nabi 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo Ajak Siswa Hidupkan Akhlak Rasulullah
Pendidikan
![]() |
| Gus Maulana Miftakhur Ridho Al-Arief. Dalam tausiyahnya mengajak para siswa lebih mengenal sosok Rasulullah Muhammad SAW. |
Maulid Nabi 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo Ajak Siswa Hidupkan Akhlak Rasulullah
Sukoharjo - majalahlarise.com - SMA Veteran 1 Sukoharjo menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Senin (7/9/2026). Mengusung tema “Menghidupkan Akhlak Rasulullah di Tengah Arus Globalisasi”, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga sekolah untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menerapkan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan diikuti seluruh siswa kelas X, XI, dan XII bersama guru serta karyawan SMA Veteran 1 Sukoharjo. Rangkaian acara diawali dengan persiapan siswa, penataan barisan, dan pengarahan agar kegiatan berlangsung tertib. Suasana semakin semarak dengan penampilan Hadrah Syafaatul Ummah yang melantunkan selawat serta mengiringi pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo, Koyem, S.Pd., M.Si., mengajak para siswa menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Nilai keteladanan Rasulullah, menurutnya, perlu diwujudkan melalui perilaku nyata, termasuk dalam kehidupan di lingkungan sekolah.
“Yang paling penting dari peringatan Maulid Nabi ini adalah bagaimana kita bisa meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan kita. Anak-anak juga harus memanfaatkan kesempatan belajar di sekolah dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.
Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Veteran 1 Sukoharjo, Drs. Sukino, menjelaskan kegiatan pengajian Maulid Nabi dilaksanakan tidak hanya sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi sarana bagi siswa untuk mengambil hikmah dari kehidupan Rasulullah. Nilai yang ditekankan meliputi akhlak, sikap, perjuangan, kesabaran, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
“Harapannya anak-anak tidak hanya mengetahui sejarah perjuangan Nabi, tetapi juga mampu mengambil pelajaran dari perjalanan hidup beliau dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.
Menurut Sukino, kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari pembinaan karakter siswa. Pelaksanaan kegiatan diprakarsai pembina Rohani Islam (Rohis) dengan melibatkan OSIS dan anggota Rohis. Kolaborasi tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab dalam menyiapkan dan menyukseskan kegiatan keagamaan di sekolah.
Pengajian diisi Gus Maulana Miftakhur Ridho Al-Arief. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para siswa lebih mengenal sosok Rasulullah Muhammad SAW. Menurutnya, pengenalan terhadap kehidupan Nabi menjadi pintu tumbuhnya kecintaan kepada Rasulullah.
“Kalau kita ingin mencintai Rasulullah, maka kita harus mengenal beliau. Dari mengenal akan tumbuh cinta, dan cinta kepada Rasulullah harus dibuktikan dengan mengikuti akhlak dan keteladanan beliau,” pesan Gus Maulana.
Ia juga mengingatkan para siswa agar tetap memiliki landasan akhlak dan adab di tengah perkembangan teknologi serta arus globalisasi. Kemajuan zaman perlu diimbangi dengan karakter yang baik sehingga generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah.
Peringatan Maulid Nabi kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Para siswa menjawab pertanyaan seputar sirah Nabi Muhammad SAW dan materi tausiyah yang disampaikan. Siswa yang berhasil menjawab memperoleh door prize, membuat suasana penutup berlangsung meriah sekaligus edukatif.
Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo berharap kecintaan kepada Rasulullah semakin tumbuh di kalangan siswa. Tema “Menghidupkan Akhlak Rasulullah di Tengah Arus Globalisasi” menjadi pengingat agar generasi muda tetap menjadikan akhlak, adab, dan nilai-nilai keislaman sebagai pedoman dalam menghadapi perkembangan zaman. (Sofyan)
Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
Pendidikan
Monev KKN Univet Bantara di Wuryantoro, Mahasiswa Pamerkan Beragam Inovasi
Wonogiri - majalahlarise.com – Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo melaksanakan monitoring kegiatan mahasiswa KKN di Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri, Senin (7/9/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Expo KKN yang menampilkan berbagai karya, program pemberdayaan, dan inovasi mahasiswa kepada masyarakat.
Tim Monev terdiri atas Rektor Univet Bantara Sukoharjo Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum, Wakil Rektor I Dr. Ir. Sri Hartati, M.P, Dekan FKIP Dr. Pranichayudha Rohsulina, M.Pd, Kepala LPPM Dr. Ir. Ahimsa Kandi Sariri, M.Sc, Ketua Pusat KKN Univet Ainur Komariah, S.T., M.Sc, Prita Devy Igiany, S.Kep., MP.H dan Mulyo Agung, S.Ikom.
Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum mengapresiasi mahasiswa yang telah melaksanakan program pengabdian di Kecamatan Wuryantoro. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Camat Wuryantoro beserta jajaran, pemerintah desa dan kelurahan, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan yang telah menerima dan mendukung mahasiswa selama menjalankan KKN.
“Alhamdulillah, kegiatan monitoring dan evaluasi KKN di Kecamatan Wuryantoro berlangsung dengan baik. Kami sangat mengapresiasi dan bangga kepada Camat beserta seluruh jajaran yang telah menerima dan mendukung pelaksanaan kegiatan mahasiswa KKN,” ujar Prof. Farida.
![]() |
| Rektor Univet Bantara Sukoharjo Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum saat meninjau stand produk sekaligus monev mahasiswa KKN. |
Menurutnya, Expo KKN menjadi momentum penting untuk memperlihatkan program dan hasil kegiatan mahasiswa secara langsung kepada masyarakat. Pelaksanaan expo secara bersama-sama di tingkat kecamatan juga menjadi harapan sejak awal karena masyarakat dapat melihat hasil kerja mahasiswa sekaligus berbagai potensi daerah yang berhasil digali selama KKN.
“Kami berharap expo ini menjadi ruang untuk menunjukkan hasil kerja mahasiswa dan berbagai potensi yang ada di wilayah Wuryantoro. Dengan melibatkan masyarakat, program-program yang telah dilaksanakan mahasiswa dapat diketahui dan dirasakan manfaatnya,” jelasnya.
Prof. Farida mengaku bangga melihat beragam karya dan inovasi mahasiswa yang disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi wilayah. Sejumlah inovasi dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut, antara lain alat untuk membantu menabur pupuk dan alat untuk menjebak nyamuk.
“Beberapa inovasi mahasiswa cukup menarik dan memiliki peluang untuk dikembangkan. Bahkan ada karya yang berpotensi mendapatkan hak paten. Kami berharap karya mahasiswa tidak berhenti setelah KKN selesai, tetapi terus dikembangkan dan dimanfaatkan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, tindak lanjut program dapat dilakukan melalui kerja sama dengan Ketua-Ketua PKK serta pemangku kepentingan setempat. Hasil pemberdayaan UMKM maupun sarana-prasarana yang telah dibuat mahasiswa diharapkan tetap dimanfaatkan dan dikembangkan setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Koordinator KKN Kecamatan Wuryantoro, Rohmadi Bagus Permana, menyampaikan KKN menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung di tengah masyarakat. Selain menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, mahasiswa belajar berkomunikasi, bekerja sama, memahami kehidupan sosial, dan memberikan kontribusi melalui berbagai program kerja.
“Pelaksanaan KKN menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk belajar langsung di tengah masyarakat. Kami juga belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan memberikan kontribusi positif melalui berbagai program yang telah disusun,” ujarnya.
Rohmadi menyampaikan terima kasih kepada Univet Bantara, LPPM, dosen pembimbing lapangan, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, serta masyarakat yang telah menerima dan mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan KKN. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama kegiatan masih terdapat kekurangan dalam perkataan, sikap, maupun pelaksanaan program.
Sementara itu, Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari menyambut baik kedatangan Rektor beserta sivitas akademika Univet Bantara Sukoharjo. Ia mengapresiasi keputusan Univet memilih Wuryantoro sebagai lokasi pelaksanaan KKN dan berharap kegiatan tersebut memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami mengucapkan selamat datang kepada Ibu Rektor beserta seluruh sivitas akademika Univet Bantara di Kecamatan Wuryantoro. Kami berharap KKN tidak berhenti setelah program selesai, tetapi terus memberikan manfaat dan membangun sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa dan kelurahan, sekolah, serta masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Soemardjono, keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat dapat menjadi sarana berbagi ilmu sekaligus memberikan pengalaman kepada pelajar dan masyarakat. KKN juga menjadi momentum untuk memperkenalkan perguruan tinggi kepada masyarakat, sehingga dapat menumbuhkan minat generasi muda melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Ia menyebut sosialisasi mengenai Univet Bantara telah dilakukan dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pertemuan kader Posyandu. Menurutnya, pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat sehingga masyarakat perlu terus didorong untuk meningkatkan jenjang pendidikan.
“Kami berharap Univet semakin maju dan berkembang serta mampu mencetak mahasiswa dan lulusan yang berprestasi. Terima kasih sudah memilih Wuryantoro sebagai lokasi KKN. Semoga seluruh kegiatan expo berjalan lancar, aman, dan memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat,” katanya.
Dalam Expo KKN tersebut, mahasiswa juga mempresentasikan berbagai program yang telah dilaksanakan di wilayah masing-masing. Salah satunya dipaparkan Risanjaya Sangaji selaku Ketua KKN Kelompok 12 Kelurahan Wuryantoro.
Ia menjelaskan sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan meliputi gerakan menabung, pembuatan outbound di Taman Kanak-Kanak (TK), kegiatan bersama ibu-ibu Program Keluarga Harapan (PKH), pembuatan ecoprint, serta program digitalisasi UMKM.
“Program yang kami jalankan mencakup kegiatan pemberdayaan dan edukasi masyarakat. Kami berusaha menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan warga sehingga mahasiswa tidak hanya hadir, tetapi juga memberikan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat,” jelas Risanjaya.
Melalui Monev dan Expo KKN, Univet Bantara berharap berbagai program dan inovasi mahasiswa dapat terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah wilayah, sekolah, pelaku UMKM, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi keberlanjutan hasil pengabdian mahasiswa di Kecamatan Wuryantoro. (Sofyan)
Baca juga: KKN UNS Kelompok 21 Ubah Limbah Plastik Menjadi Paving Blok Lewat Green Block
Pendidikan
![]() |
| Demonstrasi pembuatan paving blok yang dipandu Rizki bersama Arya. |
KKN UNS Kelompok 21 Ubah Limbah Plastik Menjadi Paving Blok Lewat Green Block
Blora - majalahlarise.com - Sampah plastik yang selama ini identik dengan limbah sulit terurai mulai dilirik sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 21 mengenalkan program Green Block, sebuah inovasi pemanfaatan limbah plastik menjadi paving blok bernilai guna di Desa Sambonganyar, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora.
Program tersebut berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di Desa Sambonganyar yang masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Belum tersedianya tempat pembuangan sementara (TPS) dan layanan pengangkutan sampah membuat sebagian warga terbiasa membakar atau membuang limbah rumah tangga, termasuk sampah plastik.
Melalui Green Block, mahasiswa KKN UNS Kelompok 21 berupaya mengenalkan alternatif pengelolaan sampah melalui sosialisasi, demonstrasi, hingga praktik langsung pembuatan paving blok.
![]() |
| Muhammad Ridho Rizki Abadi selaku PIC Green Block menyampaikan materi sosialisasi mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbah plastik. |
Kegiatan berlangsung Kamis, 13 Agustus 2026, di Balai Desa Sambonganyar mulai pukul 09.00 WIB. Sebanyak 32 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas unsur RT/RW, BPD, pemuda, serta perangkat Desa Sambonganyar.
Kepala Desa Sambonganyar, Teguh Mulyo Utomo, memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Respons positif masyarakat juga terlihat dari banyaknya sampah plastik yang berhasil dikumpulkan untuk mendukung kegiatan Green Block.
Kegiatan dipandu Anugrah Putri Maharani dan Yuniar Ayu Pamungkas. Sementara materi sosialisasi mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbah plastik disampaikan Muhammad Ridho Rizki Abadi selaku PIC Green Block.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah plastik tidak harus selalu dibakar atau dibuang. Sampah plastik dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna. Hal ini sejalan dengan SDGs 12 melalui upaya pemanfaatan kembali limbah, sekaligus mendukung pengembangan usaha produktif dan hilirisasi produk desa yang sesuai dengan tema KKN kami,” jelas Rizki.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai tujuan Green Block, urgensi pengolahan sampah, tahapan pembuatan paving blok, hingga manfaat dan penggunaannya.
Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan paving blok yang dipandu Rizki bersama Arya. Limbah plastik terlebih dahulu dipanaskan hingga meleleh. Plastik cair tersebut kemudian dicampurkan dengan pasir sebelum dimasukkan ke dalam cetakan paving blok.
Campuran yang sudah berada di dalam cetakan kemudian menjalani proses pendinginan. Cetakan dimasukkan ke dalam ember berisi air dan didiamkan hingga material menjadi dingin serta mengeras. Setelah itu, paving blok dapat dikeluarkan dari cetakan.
Peserta mengikuti setiap tahapan secara langsung. Antusiasme terlihat dari berbagai pertanyaan yang muncul selama demonstrasi.
Salah satu peserta menanyakan perbedaan hasil antara paving blok tanpa campuran pasir dan paving blok yang menggunakan campuran pasir.
“Ada perbedaan. Dari segi ketahanan, paving blok tanpa campuran pasir menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan paving blok dengan campuran pasir. Namun, paving blok tanpa campuran pasir memiliki beberapa kekurangan, yaitu permukaannya cenderung lebih licin dan bobotnya lebih ringan. Sementara itu, penambahan pasir membuat paving blok memiliki bobot yang lebih berat dan permukaan yang lebih bertekstur,” terang Rizki.
Tidak hanya melihat demonstrasi, peserta juga diberi kesempatan mempraktikkan langsung proses pembuatan paving blok dari limbah plastik. Praktik tersebut menjadi bagian penting untuk memberikan pengalaman sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi pemanfaatan sampah plastik.
Green Block tidak diposisikan sebagai solusi tunggal untuk menyelesaikan seluruh persoalan sampah plastik di Desa Sambonganyar. Program tersebut lebih diarahkan sebagai langkah awal untuk membuka wawasan masyarakat bahwa limbah plastik masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan tepat.
“Kami menyadari bahwa produk ini masih memiliki kekurangan. Ke depannya, kami berharap paving blok ini dapat terus diperbaiki dan diuji dari berbagai aspek agar kualitasnya semakin baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai salah satu alternatif pemanfaatan limbah plastik dari kehidupan sehari-hari,” ungkap Rizki.
Melalui Green Block, KKN UNS Kelompok 21 berharap masyarakat Desa Sambonganyar dapat terus mengembangkan pemanfaatan limbah plastik menjadi produk bernilai guna. Program tersebut sekaligus menjadi langkah awal mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik dan membuka peluang pengembangan paving blok dengan kualitas lebih baik serta dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. (Sofyan)
Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
Prestasi
![]() |
| Dhimas Pandu Aji Aryanata saat meraih juara 1 lomba MAPSI cabang adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah. |
Dari Suara Adzan hingga Panggung Seni, Dua Mimpi Besar Dhimas Pandu Aji Aryanata Siswa SMP Negeri 8 Kota Surakarta
Surakarta - majalahlarise.com - Suara adzan bagi Dhimas Pandu Aji Aryanata bukan sekadar penanda masuknya waktu salat. Dari lantunan kalimat-kalimat penuh makna itu, tumbuh sebuah perjalanan panjang yang membawanya dari latihan sederhana di rumah hingga menjadi juara adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Siswa kelas 7F SMP Negeri 8 Surakarta itu mulai mengenal dan menekuni adzan sejak duduk di kelas 4 SD. Tidak ada pelatih khusus yang mendampinginya. Di tengah masa pandemi Covid-19, ketika sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah, Arya begitu nama panggilannya justru menemukan ruang untuk mengasah kemampuan.
YouTube menjadi salah satu gurunya.
Ia menyimak berbagai lantunan adzan, kemudian mencoba menirukan suara, irama, hingga tekniknya. Salah satu lantunan yang menjadi referensinya adalah adzan Syekh Syabah. Dari sana, Arya belajar sedikit demi sedikit. Tidak sekali dua kali, tetapi berulang-ulang.
Latihan pun menjadi rutinitas. Pagi dan sore hari, suara Arya digunakan untuk berlatih. Ia belajar mengatur napas, menjaga kestabilan suara, sekaligus memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi agar kualitas vokalnya tetap terjaga.
“Kalau latihan biasanya dua kali sehari, pagi dan sore,” ujarnya.
Kerja keras itu kemudian menemukan panggungnya.
Pada 2024, ketika masih duduk di kelas 4 SD, Arya mengikuti lomba MAPSI cabang adzan. Ia berhasil melaju hingga tingkat Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Kota Magelang. Hasilnya, ia meraih juara harapan II.
Bagi sebagian orang, capaian tersebut mungkin menjadi sebuah akhir. Bagi Dhimas, justru menjadi awal untuk berlatih lebih keras.
Setahun berikutnya, ketika duduk di kelas 5 SD, ia kembali mengikuti kompetisi adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kudus. Kali ini hasilnya meningkat. Dhimas berhasil meraih juara II.
Ia belum puas. Pada 2025, saat kelas 6 SD, Arya kembali berada di arena yang sama. Pengalaman dua tahun sebelumnya menjadi bekal. Ia tampil dengan persiapan lebih matang dan berhasil meraih juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Prestasi itu tidak membuatnya berhenti. Setelah memasuki SMP Negeri 8 Surakarta, semangat berkompetisinya tetap menyala. Ia kembali mengikuti perlombaan mocopat berhasil masuk 20 besar.
Bagi Arya, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Setiap perlombaan menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan dan menemukan bagian yang masih harus diperbaiki.
Menariknya, kemampuan adzan tersebut tidak berhenti di panggung perlombaan. Dhimas juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mulai dipercaya menjadi muadzin di masjid.
Pada minggu pertama, ia mendapat kesempatan mengumandangkan adzan salat Jumat di Masjid Dinas Pendidikan Kota Surakarta. Pada minggu kedua dan keempat, ia mengisi adzan di Masjid Nuraini, Mojosongo.
Di tempat-tempat itulah suara yang dahulu dilatih seorang diri di rumah kini didengar oleh jamaah.
Dukungan keluarga dan sekolah menjadi energi tersendiri bagi Dhimas. Putra pasangan Endah Sarianti, S.Pd. dan Aji Pamungkas, A.Md. tersebut mendapatkan dorongan dari orang tua dan guru untuk terus berkembang.
Namun, dunia Arya ternyata tidak hanya berisi lantunan adzan.
Di balik sosok yang tekun berlatih vokal, terdapat anak muda yang juga memiliki kecintaan kuat terhadap seni tradisional.
Ketertarikan itu pula yang menjadi salah satu alasan Arya memilih SMP Negeri 8 Surakarta. Ia melihat perkembangan seni di sekolah tersebut sangat maju. Lingkungan itu membuatnya semakin dekat dengan dunia yang sudah akrab dalam keluarganya.
Sosok guru bernama Radhian menjadi salah satu figur yang menginspirasinya. Guru yang juga seorang dalang tersebut membuat Arya memiliki cita-cita baru yaitu menjadi dalang.
Darah seni memang tidak asing dalam keluarganya. Sang kakek dikenal sebagai sosok yang dituakan di lingkungan seni. Ibunya pernah menekuni seni tari dan bahkan memiliki pengalaman tampil hingga Eropa. Sementara sang kakak aktif berkesenian dan berlatih di Sanggar Gedung Kuning serta Sanggar Minang Padang.
Bagi Arya, seni bukan sekadar kegiatan tambahan. Seni menjadi bagian dari kehidupan yang ingin terus ia pelajari.
![]() |
| Dhimas Pandu Aji Aryanata saat tampil memerankan tokoh Bagong. |
Ia mulai memberi perhatian lebih pada karawitan dan tari. Sejumlah pengalaman tampil pun telah dirasakannya. Ia pernah membawakan Tari Eko Prawiro dan tari Bagong dalam berbagai kegiatan, termasuk di Sanggar Gedung Kuning, Graha Wisata, lingkungan SMP Negeri 8 Surakarta, hingga Loji Gandrung.
Di atas panggung, Arya menemukan kegembiraan yang berbeda. Jika melalui adzan ia belajar mengolah suara dan membangun keberanian, melalui seni ia belajar mengenal budaya sekaligus menjaga warisan leluhur.
Ia memiliki harapan sederhana, tetapi penting: semakin banyak anak muda yang mencintai seni tradisional.
Menurutnya, tari dan karawitan harus tetap hidup meski zaman terus berubah. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, kemudian mengembangkan kesenian daerah dengan cara mereka sendiri.
Lebih jauh, Arya memiliki sebuah gagasan untuk sekolahnya. Ia berharap suatu saat SMP Negeri 8 Surakarta dapat berkembang menjadi sekolah yang memiliki kekhususan di bidang seni, seperti halnya Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang menjadi wadah pengembangan atlet.
“Semoga semakin banyak generasi muda yang mencintai seni tradisional, terutama tari dan karawitan,” harapnya.
Di usianya yang masih belia, Arya sudah memiliki dua mimpi besar yang mungkin terdengar jauh, tetapi justru menjadi kompas dalam langkahnya.
Ia ingin menjadi muadzin di Masjidil Haram. Di saat yang sama, ia juga ingin menjadi dalang.
Dua cita-cita itu seolah berasal dari dua dunia berbeda. Yang satu lahir dari suara adzan dan kecintaan terhadap kehidupan religi. Yang lain tumbuh dari panggung seni, gamelan, tari, wayang, dan tradisi keluarga.
Namun bagi Arya, keduanya memiliki benang merah yang sama yaitu latihan, ketekunan, keberanian untuk tampil, dan kecintaan terhadap apa yang dijalaninya.
Perjalanan Arya masih panjang. Ia baru mengawali masa SMP. Masih ada banyak kompetisi, panggung seni, latihan, kegagalan, dan kesempatan yang akan datang.
Tetapi satu hal sudah terlihat sejak sekarang. Arya tidak sedang sekadar mengejar piala.
Ia sedang membangun dirinya sendiri dengan suara adzan di satu sisi, dan seni tradisional di sisi lainnya.
Dari latihan sederhana di rumah, ia belajar mengejar prestasi. Dari panggung perlombaan, ia belajar percaya diri. Dari keluarga dan guru, ia belajar arti dukungan. Dan dari seni tradisional, ia belajar mencintai akar budayanya.
Kelak, entah suara adzannya bergema di Masjidil Haram atau namanya dikenal sebagai seorang dalang, perjalanan itu akan selalu bermula dari seorang anak yang memilih untuk terus berlatih ketika kesempatan belum tentu datang. Dan Arya memilih untuk tidak berhenti bermimpi. (Sofyan)
Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
Pendidikan
Tanamkan Keimanan, SD Muhammadiyah PK Banyudono Gelar Shalat Istisqa
Boyolali - majalahlarise.com - Menanamkan keimanan dan membangun sikap tawakal kepada Allah SWT, SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono menggelar Shalat Istisqa di lapangan sekolah, Jumat (4/9/2026). Sebanyak 583 siswa kelas 1 hingga 6 bersama guru dan karyawan mengikuti ibadah tersebut dengan tertib dan khusyuk.
Kegiatan Shalat Istisqa menjadi bagian dari pembelajaran keagamaan yang mengajak siswa memahami sikap seorang muslim ketika menghadapi persoalan, kesulitan, maupun musibah. Para siswa tidak hanya diajak menjalankan ibadah, tetapi juga memahami pentingnya memperbanyak doa, istighfar, introspeksi diri, dan berserah diri kepada Allah SWT.
Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, S.Si., MM, mengatakan Shalat Istisqa menjadi momentum bagi warga sekolah untuk kembali menguatkan keimanan, terutama di tengah kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Kita sebagai orang beriman, jika ada masalah atau musibah, maka kita kembali dan bersandar kepada Allah. Termasuk ketika menghadapi kekeringan yang terjadi di beberapa kecamatan di wilayah Boyolali Utara,” tutur Pujiono.
Menurut Pujiono, pelaksanaan Shalat Istisqa tidak sebatas ritual memohon turunnya hujan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana pendidikan karakter dan spiritual bagi siswa agar memiliki kesadaran untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.
Ia juga mengajak seluruh warga sekolah mendoakan masyarakat yang tengah menghadapi bencana ekologis, termasuk kebakaran hutan di Kalimantan. Doa bersama tersebut diharapkan menjadi bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar spiritual.
“Mari kita berdoa agar hujan yang Allah turunkan menjadi rahmat, keberkahan, dan membawa kebaikan bagi kehidupan manusia serta lingkungan,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaan Shalat Istisqa, Ust. Zumaro, S.Pd.I, Guru Mata Pelajaran Al Islam SD Muhammadiyah PK Banyudono, bertindak sebagai imam. Sementara itu, khutbah disampaikan Ust. Habibi, yang juga merupakan Guru Mata Pelajaran Al Islam, dengan tema “Perkuat Iman di Saat Bencana Ekologis.”
Dalam khutbahnya, Ust. Habibi mengingatkan siswa dan seluruh warga sekolah agar berbagai fenomena alam tidak hanya dipandang sebagai sebuah peristiwa, tetapi juga menjadi bahan renungan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menurutnya, kondisi bencana ekologis juga menjadi pengingat bagi manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Manusia memiliki tanggung jawab untuk tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.
Ia mengajak seluruh peserta memperkuat iman, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, serta senantiasa memohon pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Sementara itu, Muhammad Zumaro selaku koordinator kegiatan memberikan penjelasan mengenai teknis dan tata cara pelaksanaan Shalat Istisqa. Penjelasan tersebut diberikan agar siswa memahami proses pelaksanaan ibadah sekaligus mengetahui makna di balik setiap rangkaian kegiatan.
Bagi siswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pembelajaran yang berbeda. Mereka dapat mempraktikkan secara langsung ibadah yang sebelumnya dipelajari melalui pembelajaran Al Islam di kelas.
Kegiatan berlangsung penuh khidmat. Selain menjadi sarana memohon turunnya hujan, Shalat Istisqa juga menjadi media pembelajaran tentang ketauhidan, kepedulian terhadap lingkungan, kesadaran menghadapi bencana, serta sikap tawakal.
Melalui kegiatan tersebut, SD Muhammadiyah PK Banyudono berupaya memastikan nilai-nilai keimanan tidak berhenti pada pemahaman teori di ruang kelas. Nilai tersebut dihidupkan melalui praktik ibadah dan kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen sekolah dalam membentuk generasi yang sholeh, cerdas, kreatif, dan mandiri serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. (Sofyan)
Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...











