Safety Rangers Goes to School, KAI Daop 6 Edukasi Keselamatan Perkeretaapian kepada Siswa SDN 5 Gayam

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 6 Yogyakarta melalui Tim Humas menggelar program Safety Rangers Goes to School di SDN 5 Gayam, Sukoharjo, Selasa (8/9/2026). Kegiatan edukasi keselamatan perkeretaapian tersebut diikuti sekitar 80 siswa yang terdiri dari 50 siswa sekolah dasar dan 30 siswa taman kanak-kanak.

    Program ini menjadi sarana edukasi keselamatan perkeretaapian sejak usia dini. Para siswa mendapatkan pemahaman mengenai pentingnya menjaga keselamatan ketika berada di sekitar jalur dan perlintasan kereta api.

    Manager Humas KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menjelaskan materi yang diberikan mencakup keselamatan saat berada di perlintasan sebidang, larangan beraktivitas di jalur kereta api, serta pengenalan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007 tentang Perkeretaapian.

    “Kami berusaha agar pesan keselamatan lebih mudah dipahami oleh anak-anak. Kegiatan sosialisasi dikemas secara edukatif, interaktif, dan menyenangkan. Tim Daop 6 menggunakan topeng karakter superhero yang digemari anak-anak. Selain itu, kami juga menghadirkan pendongeng yang menyampaikan pesan-pesan keselamatan dengan cara yang dekat dengan dunia anak,” ujar Feni.

    Menurut Feni, keselamatan di lingkungan perkeretaapian merupakan tanggung jawab bersama sehingga pemahamannya perlu ditanamkan sejak usia dini.

    “Keselamatan di perkeretaapian bukan hanya menjadi tanggung jawab KAI, tetapi merupakan tanggung jawab kita bersama. Karena itu, melalui Safety Rangers Goes to School, kami ingin menanamkan pemahaman kepada anak-anak sejak dini bahwa kereta api memiliki jalur dan ruang operasional yang harus dihormati dan dijaga bersama,” jelasnya.

    Feni menambahkan, anak-anak memiliki peran penting dalam menyebarluaskan pesan keselamatan kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Edukasi yang diterima di sekolah diharapkan tidak berhenti pada pemahaman pribadi, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Kami berharap anak-anak tidak hanya memahami aturan keselamatan untuk dirinya sendiri, tetapi juga dapat menjadi agen keselamatan kecil di lingkungan sekolah dan keluarga. Kami juga berharap para siswa mulai paham tentang bahaya bermain di sekitar jalur rel kereta api, apalagi sampai melakukan aksi-aksi yang membahayakan perjalanan kereta api,” tambah Feni.

    Selain keselamatan, KAI Daop 6 Yogyakarta mengajak para siswa mencintai kereta api dengan cara yang benar. Hal tersebut dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan, tidak melakukan vandalisme, serta ikut menjaga lingkungan perkeretaapian agar tetap aman dan nyaman.

    Melalui program Safety Rangers Goes to School, KAI Daop 6 Yogyakarta berkomitmen memperluas edukasi keselamatan kepada berbagai lapisan masyarakat, khususnya generasi muda. Edukasi sejak dini diharapkan membentuk budaya keselamatan yang kuat dan meningkatkan kesadaran bersama dalam mewujudkan perjalanan kereta api yang aman, nyaman, dan selamat.

    “Kami ingin anak-anak tumbuh dengan pemahaman bahwa kereta api adalah moda transportasi yang harus kita dukung dan cintai bersama. Caranya sederhana, mulai dari disiplin mematuhi aturan, menjaga lingkungan perkeretaapian, dan selalu mengutamakan keselamatan,” pungkas Feni. (Sofyan)


    Baca juga: HILLSI Wonogiri Gandeng Univet Bantara Tingkatkan Kompetensi Lulusan LPK

    Bupati Boyolali Agus Irawan melakukan. peletakan batu pertama atau groundbreaking.


    Tingkatkan Kualitas Layanan, RS PKU Aisyiyah Boyolali Groundbreaking Gedung Baru

    BOYOLALI – majalahlarise.com – Rumah Sakit (RS) PKU Aisyiyah Boyolali resmi memulai pembangunan perluasan Gedung A melalui prosesi peletakan batu pertama atau groundbreaking, Selasa (8/9/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Resepsi Milad ke-27 RS PKU Aisyiyah Boyolali.

    Gedung baru tersebut dirancang setinggi lima lantai dan satu lantai basement. Bangunan berdiri di atas lahan seluas 501 meter persegi dengan total luas bangunan mencapai 2.960 meter persegi. Pembangunan ditargetkan mulai berjalan pada akhir September 2026 dan diharapkan selesai serta diresmikan pada akhir 2027.

    Bupati Boyolali Agus Irawan yang hadir sekaligus melakukan groundbreaking memberikan apresiasi terhadap kontribusi Muhammadiyah dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya melalui sektor kesehatan dan pendidikan.

    “Pemerintah Daerah Boyolali mengapresiasi Muhammadiyah yang mempunyai kontribusi luar biasa dalam membantu program pemerintah. Bukan hanya melalui layanan kesehatan berupa rumah sakit atau klinik, namun juga dalam bidang pendidikan,” ujar Agus Irawan.

    Menurut Agus, Pemerintah Kabupaten Boyolali berkomitmen meningkatkan kualitas pelayanan publik. Kolaborasi antara pemerintah dan elemen masyarakat, termasuk Muhammadiyah, dinilai penting untuk mempercepat pembangunan daerah.

    “Pemerintah tidak bisa membangun daerah sendirian. Kolaborasi dengan seluruh elemen masyarakat menjadi sebuah keharusan,” jelasnya.

    Dukungan terhadap pengembangan RS PKU Aisyiyah Boyolali juga disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah (PWA) Jawa Tengah, Mardiyah. Ia meminta rumah sakit terus melakukan transformasi agar mampu menjawab perubahan dan tantangan layanan kesehatan.

    “RS PKU Aisyiyah harus senantiasa melakukan transformasi perubahan untuk mengantisipasi berbagai tantangan ke depan. Perluasan Gedung A ini adalah bagian nyata dari transformasi tersebut,” tegas Mardiyah.

    Direktur RS PKU Aisyiyah Boyolali, dr. Zahrosofi Ahmadah, M.A.R.S., menyampaikan pembangunan perluasan Gedung A menjadi bagian dari keberlanjutan perjuangan para perintis, pendiri, dan direktur terdahulu dalam mengembangkan rumah sakit.

    “Pembangunan perluasan Gedung A ini adalah simbol komitmen kami untuk bertumbuh dan memperluas akses layanan kesehatan yang menghadirkan layanan yang aman, nyaman, dan berkualitas bagi masyarakat Boyolali,” kata dr. Zahrosofi.

    Ketua Panitia Pembangunan, Thontowi Jauhari, menjelaskan perluasan gedung dilakukan seiring meningkatnya tuntutan regulasi dan komitmen rumah sakit untuk meningkatkan mutu pelayanan. Setiap lantai dirancang memiliki fungsi pelayanan yang berbeda.

    Lantai pertama akan digunakan sebagai Wellness Center atau pusat kebugaran dan Poliklinik Eksekutif. Lantai kedua diperuntukkan bagi ruang rawat inap setara Kelas 1. Lantai ketiga menjadi bangsal persalinan, sedangkan lantai keempat digunakan sebagai ruang KRIS (Kelas Rawat Inap Standar) khusus pasien bedah. Sementara lantai atas difungsikan sebagai aula untuk kegiatan internal, edukasi, dan berbagai kegiatan lainnya.

    “Dengan penambahan gedung baru ini, insya Allah RS PKU Aisyiyah Boyolali akan kian memenuhi harapan masyarakat,” pungkas Thontowi.

    Sementara itu, Ketua Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah, dr. H. Bugar Wijiseno, M.A.R.S., FISQua, mengingatkan pentingnya konsistensi rumah sakit dalam memenuhi regulasi dan menjaga standar operasional.

    Ia berpesan agar pengembangan fasilitas fisik diikuti peningkatan kualitas tata kelola dan pelayanan. Pemenuhan berbagai regulasi menjadi bagian penting untuk memastikan RS PKU Aisyiyah Boyolali mampu memberikan layanan kesehatan secara berkelanjutan, bermutu, dan berkemajuan.

    Groundbreaking Gedung A tersebut menjadi momentum penting bagi RS PKU Aisyiyah Boyolali untuk memperkuat kapasitas layanan sekaligus memperluas akses masyarakat terhadap fasilitas kesehatan yang aman, nyaman, dan berkualitas.(Sofyan)


    Baca juga: HILLSI Wonogiri Gandeng Univet Bantara Tingkatkan Kompetensi Lulusan LPK



    HILLSI Wonogiri Gandeng Univet Bantara Tingkatkan Kompetensi Lulusan LPK

    WONOGIRI – majalahlarise.com – DPC Himpunan Lembaga Latihan Seluruh Indonesia (HILLSI) Kabupaten Wonogiri bekerja sama dengan Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menggelar kegiatan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) lulusan Lembaga Pelatihan Kerja (LPK), Rabu (9/9/2026).

    Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB tersebut berlangsung di RM Rumpun Padi (Jolly Bakery & Shop), Jalan Diponegoro, Pokoh, Wonoboyo, Wonogiri. Kegiatan diikuti para pengelola LPK dengan mengikutsertakan dua peserta didik dari masing-masing lembaga.

    Ketua DPC HILLSI Kabupaten Wonogiri, Dwi Suswatiningsih, SE, menjelaskan kerja sama dengan Univet Bantara menjadi langkah untuk memperluas jaringan kemitraan sekaligus membuka akses peningkatan pendidikan dan kompetensi bagi lulusan LPK.




    “DPC HILLSI bekerja sama dengan Universitas Veteran Bangun Nusantara bermaksud menyosialisasikan peluang peningkatan kualitas pendidikan dan kompetensi lulusan melalui program pendidikan yang diselenggarakan Univet Bantara,” jelas Dwi Suswatiningsih.

    Menurutnya, lulusan LPK tidak hanya membutuhkan keterampilan teknis untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga perlu mendapatkan kesempatan mengembangkan pendidikan dan kompetensi secara berkelanjutan.

    Selain sosialisasi program pendidikan dan pengembangan kompetensi Univet Bantara, kegiatan tersebut juga diisi pembinaan dari Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Kabupaten Wonogiri. Agenda tersebut menjadi ruang untuk memperkuat sinergi antara lembaga pelatihan kerja, pemerintah daerah, dan perguruan tinggi.

    Kepala Bidang Pelatihan Produktivitas Penempatan Tenaga Kerja dan Transmigrasi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Wonogiri, Joko Pramono, S.Si., mengatakan peningkatan akses pendidikan menjadi salah satu bagian penting dalam mendorong peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Wonogiri.

    “Tujuan sosialisasi ini turut serta meningkatkan IPM Kabupaten Wonogiri. Saat ini rata-rata pendidikan masyarakat Wonogiri masih pada jenjang lulusan SMP,” ujar Joko.

    Ia berharap kerja sama tersebut dapat memberikan peluang lebih luas bagi lulusan LPK untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi sekaligus meningkatkan kompetensi yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

    Sementara itu, Ketua Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Univet Bantara, Yoppy Syahrial, S.E., M.M., memaparkan profil Univet Bantara, mulai dari fakultas, program studi, hingga berbagai keunggulan yang dimiliki perguruan tinggi tersebut.

    Dalam kesempatan itu, Yoppy juga menjelaskan mekanisme pendaftaran mahasiswa baru yang dapat dilakukan secara offline maupun online. Peserta memperoleh informasi mengenai biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) serta sejumlah jalur pendaftaran, yakni jalur reguler, transfer, dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

    “Melalui kegiatan ini kami berharap semakin banyak lulusan LPK yang mengetahui peluang melanjutkan pendidikan di Univet Bantara. Kami juga membuka peluang kerja sama dengan LPK sebagai mitra dalam penerimaan mahasiswa baru,” jelas Yoppy.

    Sejumlah LPK di Kabupaten Wonogiri turut menjadi peserta undangan, di antaranya LPK PT Matahari Abadi Jaya Indonesia, LPK Mutiara Aji Jaya Utama, LPK Restu Bumi Nusantara, LPK Regar Sport Industri Indonesia, LPK I-On Manabu Sentaa, LPK Erube, LPK PT Sepakat Maju Bareng, serta LPK Mugen Indo Japanese Training Centre.

    Melalui kegiatan tersebut, DPC HILLSI Wonogiri dan Univet Bantara berupaya memperkuat jejaring kemitraan sekaligus mendorong lulusan LPK meningkatkan pendidikan, keterampilan, dan kompetensi agar semakin siap menghadapi kebutuhan dunia kerja. (Sofyan)


    Camat Baturetno, Hery Indrastiyono, S.STP saat menggunting pita tandai pembukaan expo produk KKN Univet Bantara Sukoharjo.


    Tim Monev KKN Univet Bantara Tinjau Expo Produk Mahasiswa di Baturetno

    WONOGIRI - majalahlarise.com - Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo meninjau pelaksanaan program KKN sekaligus mengunjungi stand Expo produk mahasiswa di Kecamatan Baturetno, Wonogiri, Selasa (8/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari evaluasi pelaksanaan KKN sekaligus melihat secara langsung hasil inovasi mahasiswa selama berkolaborasi dengan masyarakat desa.

    Wakil Rektor 2 Univet Bantara Sukoharjo, Ir. Yos Wahyu Harinta, M.Si., menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kecamatan Baturetno dan pemerintah desa yang telah mendukung pelaksanaan KKN di delapan desa. Menurutnya, dukungan pemerintah dan masyarakat menjadi bagian penting dalam keberhasilan program KKN.

    “Kami bersyukur kepada Allah SWT karena seluruh hadirin dapat mengikuti kegiatan Monitoring dan Evaluasi KKN Tahun 2026. Kami juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Camat Baturetno beserta jajaran serta para kepala desa yang telah mendukung pelaksanaan KKN,” ujarnya.

    Camat Baturetno Hery Indrastiyono, S.STP bersama tim monev KKN saat mengunjungi stand display produk karya mahasiswa KKN.


    KKN Univet Bantara 2026 berlangsung sejak 3 Agustus hingga 17 September 2026. Kegiatan mengusung tema “Univet Berdampak, Sinergi Kampus dan Masyarakat dalam Mengembangkan Potensi Lokal dan Produk Unggulan Daerah melalui Inovasi dan Kolaborasi.”

    Yos Wahyu Harinta menjelaskan, melalui tema tersebut mahasiswa didorong tidak hanya menjalankan program kerja, tetapi juga berkolaborasi dengan masyarakat dalam mengembangkan potensi lokal dan produk unggulan desa.

    Dalam Monev, tim universitas turut melihat berbagai produk inovasi mahasiswa yang dipamerkan melalui Expo. Produk tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai hasil kegiatan KKN, tetapi dapat dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan berpeluang menembus pasar yang lebih luas.

    “Produk-produk ini diharapkan bisa dikembangkan hingga menembus pasar yang lebih luas dan global. Univet Bantara juga mendapat kesempatan mengikuti Expo di Tangerang pada 14 Oktober 2026 setelah sebelumnya mengikuti kegiatan di Purwokerto. Kami berharap ada produk mahasiswa yang dapat difasilitasi untuk naik kelas melalui akses dan peluang yang diberikan Kementerian Perdagangan,” jelasnya.

    Wakil Rektor 2 Univet Bantara Sukoharjo, Ir. Yos Wahyu Harinta, M.Si. saat melakukan monitoring dan evaluasi di salah satu stand expo KKN.


    Menurut Yos Wahyu Harinta, pengembangan produk unggulan desa pada akhirnya diharapkan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat dan daerah. Berdasarkan komunikasi dengan Camat dan Kapolsek Baturetno, pelaksanaan KKN dinilai berjalan baik dan menghasilkan kolaborasi positif bagi kemajuan desa.

    Sementara itu, Koordinator DPL KKN Kecamatan Baturetno, R. Adi Deswijaya, S.S., M.Hum., menjelaskan KKN di wilayah tersebut diikuti 160 mahasiswa yang tersebar di delapan desa dalam 16 kelompok. Expo digelar sebagai bentuk penyampaian hasil kerja mahasiswa selama melaksanakan program di tengah masyarakat.

    “Expo ini menampilkan berbagai capaian dan program yang telah dilaksanakan mahasiswa. Ada produk unggulan, pengembangan produk UMKM lokal, inovasi pembelajaran bagi masyarakat maupun siswa, serta berbagai bentuk kreativitas mahasiswa,” ungkapnya.

    Ia menambahkan, KKN menjadi sarana bagi mahasiswa untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di kampus sekaligus belajar hidup bersama masyarakat. Mahasiswa dituntut mampu memahami kebutuhan desa dan memberikan solusi sesuai potensi yang dimiliki masyarakat.

    “Harapannya, program kerja dan produk yang dihasilkan tidak berhenti setelah KKN selesai. Hasilnya dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat dan dampak berkelanjutan bagi masyarakat,” katanya.

    Camat Baturetno, Hery Indrastiyono, S.STP., menyampaikan rasa syukur dan kebanggaan karena wilayahnya dipercaya menjadi lokasi KKN Univet Bantara 2026. Kehadiran mahasiswa selama lebih dari satu bulan dinilai memberikan manfaat melalui transfer pengetahuan, keterampilan, dan ilmu kepada pemerintah desa serta masyarakat.

    Ia juga mengapresiasi Expo KKN yang untuk pertama kalinya digelar di Kecamatan Baturetno. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi sarana untuk memperlihatkan hasil kerja mahasiswa sekaligus membuka ruang kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dan masyarakat.

    “Kami berharap kegiatan KKN tidak berhenti pada kegiatan formal. Komunikasi dan kerja sama dapat terus dilanjutkan sehingga potensi yang ada di Kecamatan Baturetno bisa dikembangkan bersama,” tuturnya.

    Hery menyebut sejumlah potensi yang dapat dikembangkan, mulai dari pemberdayaan perempuan melalui Tim Penggerak PKK Kecamatan Baturetno, UMKM, hingga desa wisata. Potensi wisata menurutnya tidak hanya berkaitan dengan wisata alam, tetapi juga UMKM dan sektor hortikultura, seperti komoditas semangka di Desa Botoh.

    “Kami berharap Univet Bantara dapat terus berkontribusi, termasuk menyediakan narasumber dan pendampingan untuk meningkatkan wawasan serta kapasitas masyarakat,” katanya.

    Salah satu peserta Expo, Ferdi Erianto, Ketua Kelompok 55 KKN Desa Belikurip, menjelaskan kelompoknya memamerkan sejumlah produk hasil kreativitas mahasiswa selama menjalankan program KKN. Produk yang ditampilkan antara lain hasil karya dari siswa SD kolase biji-bijian serta beberapa produk dari UMKM yaitu tempe kripik dan makanan srabi.

    “Produk unggulan yang menjadi fokus utama dalam pameran adalah master plan untuk perangkat desa dan peta. Kami berharap produk tersebut dapat memberikan manfaat serta mendukung kebutuhan masyarakat dan pengembangan desa,” jelas Ferdi.

    Melalui kegiatan Monev dan Expo, Univet Bantara mendorong hasil KKN menjadi pijakan untuk membangun kerja sama yang lebih berkelanjutan antara kampus dan masyarakat. Program dan produk mahasiswa diharapkan mampu terus dikembangkan sehingga memberikan dampak nyata bagi penguatan potensi lokal serta perekonomian masyarakat di wilayah Baturetno. (Sofyan)


    Baca juga: Maulid Nabi 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo Ajak Siswa Hidupkan Akhlak Rasulullah



    Karhutla Kembali Mengancam, PENDIKS GEONUSA Serukan “Jangan Panik, Jangan Abai!”

    JAKARTA - majalahlarise.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Indonesia. Perkumpulan Pendidik Sains Geografi Nusantara (PENDIKS GEONUSA) menyerukan penguatan literasi kebencanaan, kewaspadaan masyarakat, serta pendidikan geografi berbasis sains untuk menghadapi ancaman karhutla yang kembali terjadi pada 2026.

    Sikap tersebut disampaikan PENDIKS GEONUSA melalui pernyataan resmi bertajuk “Menguatkan Literasi Kebencanaan, Kewaspadaan Masyarakat, dan Pendidikan Geografi Berbasis Sains” yang ditetapkan di Jakarta, 7 September 2026.

    PENDIKS GEONUSA menilai karhutla bukan persoalan baru bagi Indonesia. Fenomena kebakaran hutan dalam skala besar pernah terjadi pada 1997–1998, 2015, dan 2019. Pada 2026, ancaman serupa kembali muncul dan membutuhkan kewaspadaan bersama.

    Organisasi profesi pendidik sains geografi tersebut juga merujuk analisis data NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS). Pemantauan kebakaran berbasis satelit pada periode 1–18 Agustus 2026 menunjukkan peningkatan akumulasi persebaran kebakaran. Analisis terhadap lima provinsi di Kalimantan juga memperlihatkan peningkatan aktivitas api.

    PENDIKS GEONUSA mengingatkan karhutla tidak semestinya hanya dilihat dari aspek api, asap, angin, dan hujan. Kondisi tanah memiliki peranan penting dalam menentukan ketahanan suatu bentang alam menghadapi periode tanpa hujan.

    Tanah berfungsi sebagai penyimpan air. Struktur tanah, bahan organik, porositas, muka air tanah, serta tutupan vegetasi turut menentukan seberapa lama air dapat bertahan setelah hujan berhenti.

    “Ketika fungsi-fungsi tersebut terganggu, bentang alam menjadi lebih sensitif terhadap periode tanpa hujan,” demikian salah satu penjelasan dalam pernyataan sikap PENDIKS GEONUSA.

    Kondisi tersebut semakin penting pada ekosistem gambut. Menurut PENDIKS GEONUSA, lahan gambut pada dasarnya cukup tahan terhadap api selama muka air tetap tinggi. Karena itu, pemanfaatan sumber daya hutan secara berlebihan dan perubahan fungsi lahan yang dilandasi keserakahan dinilai turut menjadi sumber persoalan dan ancaman karhutla.

    Sampaikan Tujuh Sikap

    Menghadapi persoalan tersebut, PENDIKS GEONUSA menyampaikan tujuh sikap. Pertama, pemerintah diminta memperkuat koordinasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta perusahaan pemegang Hak Guna Usaha.

    Kebijakan pemerintah juga diharapkan tetap arif dan bijaksana agar pemanfaatan sumber daya hutan berlandaskan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

    Kedua, masyarakat didorong memperkuat kepedulian terhadap hutan dengan menaati aturan serta mengedepankan kearifan lokal warisan leluhur. Pemuka masyarakat dan tokoh agama dinilai memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi mengenai kecintaan terhadap hutan.

    Masyarakat juga diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, masyarakat diimbau segera melaporkannya agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.

    Ketiga, PENDIKS GEONUSA mengingatkan pentingnya menghormati masyarakat adat. Pengetahuan lokal masyarakat adat dinilai memiliki kontribusi penting dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, pelestarian budaya, menjaga keseimbangan ekologi, melindungi keanekaragaman hayati, sekaligus mengendalikan emisi karbon.

    Keempat, penguatan pendidikan kehutanan perlu dilakukan. Materi mengenai jasa ekosistem hutan, isu sosial, nilai budaya, pengetahuan tradisional, serta peran masyarakat adat dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih besar.

    Dalam konteks tersebut, pendidikan geografi memiliki posisi strategis untuk membantu peserta didik memahami hubungan antara hutan, manusia, dan lingkungan dalam perspektif sistem geografi.

    Kelima, PENDIKS GEONUSA mendorong penguatan literasi hutan di sekolah dan masyarakat. Karhutla dapat menjadi momentum pembelajaran nyata untuk memahami fungsi hutan, menjaga kelestarian lingkungan, membedakan informasi ilmiah dengan hoaks, serta memanfaatkan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk memahami persebaran hutan.

    “Pendidikan geografi memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat yang lebih sadar ruang dan sadar risiko,” tegas PENDIKS GEONUSA.

    Para pendidik geografi di seluruh Indonesia juga diajak tidak menjadikan karhutla semata-mata sebagai materi tentang bencana. Fenomena tersebut dapat digunakan untuk membangun kemampuan berpikir berbasis bukti dan sains, termasuk membaca fenomena geosfer, memahami risiko, menggunakan data, membaca peta, serta mengambil keputusan secara rasional.

    Keenam, PENDIKS GEONUSA mendukung penguatan komunikasi risiko berbasis sains. Pemerintah, media, satuan pendidikan, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan komunitas hutan didorong menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa mengurangi ketepatan ilmiahnya.

    Informasi mengenai karhutla, menurut PENDIKS GEONUSA, tidak boleh terjebak pada dua ekstrem, yakni menyepelekan ancaman atau justru menimbulkan kepanikan. Masyarakat membutuhkan informasi yang mampu menjawab tiga hal utama: apa yang sedang terjadi, apa risikonya, dan apa yang harus dilakukan.

    Ketujuh, PENDIKS GEONUSA menyatakan kesiapan mengambil bagian dalam penguatan literasi geografi dan kebencanaan masyarakat. Setiap peristiwa kebencanaan diharapkan dapat menjadi momentum membangun masyarakat yang lebih sadar ruang, sadar risiko, berbasis bukti, dan tangguh menghadapi bencana kebakaran hutan.

    PENDIKS GEONUSA kemudian menyampaikan seruan kepada masyarakat, “Jangan panik, jangan abai, jangan percaya pada informasi yang tidak terverifikasi. Kenali ruang, pahami risikonya, ikuti informasi resmi, dan bertindak berdasarkan sains.”

    Pernyataan sikap tersebut menjadi bentuk kepedulian PENDIKS GEONUSA terhadap keselamatan masyarakat sekaligus komitmen organisasi dalam membangun literasi sains geografi dan ketangguhan bencana di Indonesia.

    PENDIKS GEONUSA berharap penguatan literasi hutan, pendidikan geografi, komunikasi risiko berbasis sains, serta kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan berbagai pihak dapat menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman karhutla secara lebih bijaksana dan berkelanjutan. (Sofyan)


    Baca juga: Maulid Nabi 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo Ajak Siswa Hidupkan Akhlak Rasulullah



    Jelang MAPSI, MGMP PAI SMP SR 03 Mantapkan Kompetensi Guru dan Persiapan PSTS

    WONOGIRI – majalahlarise.com -Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Pendidikan Agama Islam (PAI) SMP Sub Rayon (SR) 03 menggelar kegiatan peningkatan kompetensi guru sekaligus persiapan menghadapi lomba MAPSI (Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Seni Islami), Selasa (8/9/2026). Kegiatan berlangsung di SMP Negeri 1 Tirtomoyo, Kabupaten Wonogiri, dan diikuti para guru PAI SMP yang tergabung dalam MGMP PAI SMP SR 03.

    Pertemuan tersebut menjadi forum untuk mematangkan persiapan MAPSI yang direncanakan berlangsung pada pertengahan September 2026. Para guru membahas teknis perlombaan, strategi pembinaan, kesiapan peserta didik, serta materi yang perlu dikuasai. Selain persiapan lomba, kegiatan juga dimanfaatkan untuk memperkuat koordinasi dan meningkatkan profesionalisme guru dalam melaksanakan pembelajaran PAI di sekolah.

    Hadir sebagai pemateri awal, Pengawas PAI SMP Kementerian Agama Kabupaten Wonogiri, Tutik Rijani, S.Ag., M.Si. Ia mengingatkan para guru untuk terus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme di tengah dinamika dunia pendidikan. Menurutnya, guru PAI tidak cukup hanya menguasai materi pembelajaran, tetapi juga perlu memiliki integritas, kreativitas, serta mampu menjadi teladan bagi peserta didik.

    “Guru profesional harus senantiasa belajar, mengembangkan kompetensi, dan mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan peserta didik serta perkembangan dunia pendidikan,” pesan Tutik Rijani.

    Selain membahas profesionalisme guru, Tutik Rijani memberikan arahan terkait persiapan Penilaian Sumatif Tengah Semester (PSTS). Para guru diminta mempersiapkan perangkat dan instrumen penilaian secara matang agar pelaksanaan evaluasi berjalan objektif, terarah, dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.

    Pembahasan PSTS mencakup kesiapan materi, penyusunan instrumen evaluasi, kesesuaian soal dengan capaian pembelajaran, serta penyusunan penilaian yang mampu menggambarkan perkembangan kompetensi peserta didik secara menyeluruh. Persiapan tersebut dinilai penting untuk memastikan proses evaluasi tidak sekadar mengukur hasil belajar, tetapi juga memberikan gambaran perkembangan kompetensi siswa.

    Sementara itu, koordinasi menghadapi MAPSI menjadi agenda penting dalam pertemuan tersebut. Para guru membahas berbagai cabang lomba, kesiapan peserta didik, materi yang harus dikuasai, serta strategi pembinaan agar siswa mampu tampil optimal. Koordinasi antarguru diharapkan dapat menghasilkan pola pembinaan yang lebih terarah dan efektif.

    Kegiatan MGMP PAI SMP SR 03 tidak hanya menjadi forum persiapan menghadapi MAPSI dan PSTS, tetapi juga ruang berbagi pengalaman serta praktik baik antarguru. Melalui kegiatan ini, para guru diharapkan semakin solid dan profesional dalam meningkatkan kualitas pembelajaran PAI.

    Dengan persiapan yang matang dan koordinasi yang kuat, MGMP PAI SMP SR 03 optimistis para peserta didik yang mewakili sekolah dalam MAPSI mampu memberikan penampilan terbaik serta membawa nama baik sekolah dan wilayah SR 03.

    Semangat “Guru profesional, siswa berprestasi, PAI semakin menginspirasi” menjadi dorongan bersama untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan agama Islam di Kabupaten Wonogiri. (Sofyan)


    Baca juga: Maulid Nabi 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo Ajak Siswa Hidupkan Akhlak Rasulullah

    Gus Maulana Miftakhur Ridho Al-Arief. Dalam tausiyahnya mengajak para siswa lebih mengenal sosok Rasulullah Muhammad SAW. 


    Maulid Nabi 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo Ajak Siswa Hidupkan Akhlak Rasulullah

    Sukoharjo - majalahlarise.com - SMA Veteran 1 Sukoharjo menyelenggarakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Senin (7/9/2026). Mengusung tema “Menghidupkan Akhlak Rasulullah di Tengah Arus Globalisasi”, kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga sekolah untuk meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah sekaligus menerapkan keteladanannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Kegiatan diikuti seluruh siswa kelas X, XI, dan XII bersama guru serta karyawan SMA Veteran 1 Sukoharjo. Rangkaian acara diawali dengan persiapan siswa, penataan barisan, dan pengarahan agar kegiatan berlangsung tertib. Suasana semakin semarak dengan penampilan Hadrah Syafaatul Ummah yang melantunkan selawat serta mengiringi pembacaan Maulid Nabi Muhammad SAW.

    Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo, Koyem, S.Pd., M.Si., mengajak para siswa menjadikan peringatan Maulid Nabi bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Nilai keteladanan Rasulullah, menurutnya, perlu diwujudkan melalui perilaku nyata, termasuk dalam kehidupan di lingkungan sekolah.

    “Yang paling penting dari peringatan Maulid Nabi ini adalah bagaimana kita bisa meneladani akhlak Rasulullah dalam kehidupan kita. Anak-anak juga harus memanfaatkan kesempatan belajar di sekolah dengan sebaik-baiknya,” ujarnya.

    Sementara itu, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Veteran 1 Sukoharjo, Drs. Sukino, menjelaskan kegiatan pengajian Maulid Nabi dilaksanakan tidak hanya sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi sarana bagi siswa untuk mengambil hikmah dari kehidupan Rasulullah. Nilai yang ditekankan meliputi akhlak, sikap, perjuangan, kesabaran, dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.

    “Harapannya anak-anak tidak hanya mengetahui sejarah perjuangan Nabi, tetapi juga mampu mengambil pelajaran dari perjalanan hidup beliau dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari,” jelasnya.

    Menurut Sukino, kegiatan tersebut rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai bagian dari pembinaan karakter siswa. Pelaksanaan kegiatan diprakarsai pembina Rohani Islam (Rohis) dengan melibatkan OSIS dan anggota Rohis. Kolaborasi tersebut sekaligus memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar bertanggung jawab dalam menyiapkan dan menyukseskan kegiatan keagamaan di sekolah.

    Pengajian diisi Gus Maulana Miftakhur Ridho Al-Arief. Dalam tausiyahnya, ia mengajak para siswa lebih mengenal sosok Rasulullah Muhammad SAW. Menurutnya, pengenalan terhadap kehidupan Nabi menjadi pintu tumbuhnya kecintaan kepada Rasulullah.

    “Kalau kita ingin mencintai Rasulullah, maka kita harus mengenal beliau. Dari mengenal akan tumbuh cinta, dan cinta kepada Rasulullah harus dibuktikan dengan mengikuti akhlak dan keteladanan beliau,” pesan Gus Maulana.

    Ia juga mengingatkan para siswa agar tetap memiliki landasan akhlak dan adab di tengah perkembangan teknologi serta arus globalisasi. Kemajuan zaman perlu diimbangi dengan karakter yang baik sehingga generasi muda tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga kepribadian yang mencerminkan nilai-nilai keteladanan Rasulullah.

    Peringatan Maulid Nabi kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif. Para siswa menjawab pertanyaan seputar sirah Nabi Muhammad SAW dan materi tausiyah yang disampaikan. Siswa yang berhasil menjawab memperoleh door prize, membuat suasana penutup berlangsung meriah sekaligus edukatif.

    Melalui peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo berharap kecintaan kepada Rasulullah semakin tumbuh di kalangan siswa. Tema “Menghidupkan Akhlak Rasulullah di Tengah Arus Globalisasi” menjadi pengingat agar generasi muda tetap menjadikan akhlak, adab, dan nilai-nilai keislaman sebagai pedoman dalam menghadapi perkembangan zaman. (Sofyan)


    Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan


Top