GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
Tim KKN ISI Surakarta Dorong Penguatan Desa Wisata Kemuning melalui Kolaborasi Seni dan Teknologi
KARANGANYAR - majalahlarise.com - Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta melaksanakan program pemberdayaan masyarakat di Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, selama 27 Juni hingga 27 Agustus 2026. Program bertajuk “Pemberdayaan Masyarakat Desa Wisata Kemuning melalui Kolaborasi Seni dan Teknologi Kearifan Lokal” tersebut diarahkan untuk memperkuat potensi pariwisata, seni, budaya, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.
Desa Kemuning merupakan salah satu desa wisata di lereng barat Gunung Lawu yang memiliki beragam potensi alam dan ekonomi kreatif. Perkebunan teh, wisata buatan, seni tradisi, produk UMKM, hingga berbagai destinasi wisata seperti Mini Zoo Kemuning menjadi modal penting dalam pengembangan desa wisata.
Melalui program KKN, mahasiswa ISI Surakarta berupaya menghadirkan inovasi yang memadukan seni dan teknologi tanpa meninggalkan kearifan lokal masyarakat. Sejumlah kegiatan dirancang untuk memperkuat identitas sekaligus meningkatkan daya tarik Desa Wisata Kemuning.
Salah satu program yang dilakukan yakni rebranding Mini Zoo Kemuning melalui pembuatan mural, katalog, dan branding visual. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat identitas destinasi sekaligus memberikan pengalaman visual yang lebih menarik bagi pengunjung.
Selain itu, Tim KKN ISI Surakarta menciptakan tari ikon Desa Kemuning berjudul “Candra Muning”. Karya tari tersebut menjadi salah satu bentuk penggalian dan pengembangan seni berbasis karakter serta potensi lokal Desa Kemuning.
Promosi potensi desa juga diperkuat melalui produksi video promosi. Media audiovisual tersebut diarahkan untuk memperkenalkan berbagai potensi Desa Wisata Kemuning kepada masyarakat yang lebih luas sekaligus mendukung strategi promosi berbasis teknologi digital.
Koordinator KKN ISI Surakarta, Alung Mangku Buana, menjelaskan program yang dilaksanakan disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi masyarakat.
“Program KKN ini dirancang berdasarkan kebutuhan warga Desa Kemuning. Kami berharap rangkaian kegiatan yang dilaksanakan dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat, baik dalam pengembangan pariwisata, pelestarian budaya, penguatan UMKM, maupun peningkatan kreativitas masyarakat secara luas,” ujar Alung Mangku Buana.
Program pemberdayaan juga menyentuh sektor ekonomi kreatif melalui workshop eco print. Kegiatan ini mengenalkan teknik kriya ramah lingkungan kepada masyarakat dengan memanfaatkan potensi bahan alam di sekitar.
Melalui eco print, masyarakat tidak hanya mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru, tetapi juga berpeluang mengembangkan produk kreatif yang memiliki nilai tambah. Pemanfaatan bahan-bahan lokal menjadi salah satu pendekatan untuk menciptakan produk yang memiliki karakter khas Desa Kemuning.
Penguatan branding UMKM turut menjadi bagian penting dalam rangkaian kegiatan. Tim KKN memberikan pendampingan terkait aspek visual dan promosi agar produk UMKM Desa Kemuning memiliki identitas yang lebih kuat, mudah dikenali, serta berpotensi menjangkau pasar lebih luas.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat mendukung terbentuknya citra Desa Kemuning sebagai desa wisata yang kreatif, berbudaya, dan berkelanjutan. Seni dan teknologi ditempatkan sebagai instrumen untuk memperkuat potensi yang telah dimiliki masyarakat, bukan menggantikan karakter lokal yang menjadi kekuatan desa.
Sementara itu, Harun Waskito, selaku penanggung jawab Desa Kemuning, berharap program KKN dapat menjadi pintu masuk bagi kerja sama yang berkelanjutan antara masyarakat desa dan perguruan tinggi.
“Kami berharap kerja sama antara Tim KKN dan Desa Kemuning dapat terus terjalin. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendukung pengembangan potensi desa dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ungkap Harun Waskito.
Kolaborasi antara mahasiswa, masyarakat, pengelola destinasi, dan pelaku UMKM menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Keterlibatan berbagai unsur tersebut diharapkan mampu menciptakan proses pemberdayaan yang tidak berhenti pada pelaksanaan KKN, tetapi dapat dilanjutkan secara mandiri oleh masyarakat.
Tim KKN ISI Surakarta berharap berbagai program yang telah dilaksanakan dapat memberikan kontribusi terhadap penguatan identitas Desa Wisata Kemuning. Integrasi seni, teknologi, ekonomi kreatif, dan kearifan lokal diharapkan mampu mendorong Desa Kemuning semakin inovatif, inklusif, dan berdaya saing.
Program ini sekaligus menjadi bentuk kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan masyarakat melalui pendekatan seni dan kreativitas. Dengan keterlibatan aktif masyarakat, potensi Desa Kemuning diharapkan dapat terus dirawat, dikembangkan, dan dipromosikan secara berkelanjutan. (Sofyan)
Baca juga: UNISRI Gelar Seminar Motivasi untuk Wujudkan SDM Produktif Menuju UNISRI Unggul
Pendidikan
UNISRI Gelar Seminar Motivasi untuk Wujudkan SDM Produktif Menuju UNISRI Unggul
SOLO - majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar Seminar Motivasi bertema “Mewujudkan SDM yang Produktif Menuju UNISRI yang Unggul” di Kampus II UNISRI, Ruang Seminar Lantai 7, Kamis (20/8/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya kampus memperkuat budaya kerja sekaligus meningkatkan kualitas layanan pendidikan.
Seminar diikuti sekitar 300 peserta yang terdiri atas Pembina dan Pengurus Yayasan Perguruan Tinggi Slamet Riyadi, pimpinan, dosen, serta tenaga kependidikan di lingkungan UNISRI. Kegiatan tersebut diarahkan untuk membangun kesamaan semangat dan komitmen seluruh sumber daya manusia dalam mendukung perkembangan institusi.
Narasumber seminar, Eko Suseno Hendro Riyadi, S.E., M.M., memaparkan materi mengenai penguatan motivasi kerja, strategi meningkatkan produktivitas, serta pentingnya menjaga kesehatan mental di tengah tuntutan pekerjaan yang semakin dinamis. Peserta diajak memahami produktivitas bukan sekadar pencapaian target, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan, membangun kolaborasi, dan terus melakukan pengembangan diri.
Ketua Pelaksana, Ratna Indriani, S.H., mengatakan seminar tersebut merupakan langkah nyata UNISRI dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat fondasi budaya kerja di lingkungan kampus.
“Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan inspirasi dan strategi praktis kepada seluruh civitas akademika agar dapat meningkatkan produktivitas kerja tanpa mengorbankan kesehatan mental. Selain itu, kami ingin memperkuat nilai-nilai integritas dan kolaborasi sebagai fondasi SDM yang unggul, seiring dengan dinamika perkembangan institusi dan peningkatan mutu layanan pendidikan di UNISRI,” ujar Ratna.
Kegiatan secara resmi dibuka Rektor UNISRI, Prof. Dr. Sutoyo, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan setiap insan UNISRI memiliki peran penting sebagai penggerak dalam mewujudkan kampus yang unggul dan berdaya saing.
“SDM yang produktif, berintegritas, dan sehat secara mental adalah kunci utama dalam mewujudkan visi UNISRI. Saya berharap melalui seminar ini, seluruh pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan mendapatkan energi baru untuk terus berinovasi dan memberikan layanan pendidikan terbaik bagi mahasiswa dan masyarakat,” tegas Prof. Sutoyo.
Menurutnya, peningkatan kualitas institusi tidak hanya ditentukan oleh sarana dan program akademik, tetapi juga oleh kualitas manusia yang menjalankan seluruh proses pendidikan. Karena itu, penguatan motivasi, integritas, produktivitas, dan kemampuan beradaptasi menjadi bagian penting dalam perjalanan UNISRI menuju institusi pendidikan tinggi yang semakin unggul.
Melalui seminar motivasi ini, UNISRI berharap seluruh elemen kampus memiliki visi dan semangat yang sama dalam membangun lingkungan kerja yang produktif, sehat, kolaboratif, dan inovatif. Langkah tersebut diharapkan mampu mendukung UNISRI menjadi perguruan tinggi yang adaptif, kompetitif, serta memiliki daya saing tinggi di tengah perkembangan dunia pendidikan. (Sofyan)
Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia
Pendidikan
![]() |
| Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dr. Budi Santoso, M.Si. saat menyampaikan kuliah umum di Univet Bantara Sukoharjo. |
Menteri Perdagangan Dorong Kampus Univet Bantara dan UMKM Cetak Eksportir Muda dari Lokal untuk Global
SUKOHARJO – majalahlarise.com – Menteri Perdagangan Republik Indonesia Dr. Budi Santoso, M.Si. mendorong perguruan tinggi, mahasiswa, UMKM, dan pelaku usaha lokal mengambil peran lebih besar dalam memperkuat pasar domestik sekaligus memperluas ekspor. Hal itu disampaikan saat memberikan kuliah umum di Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, Rabu (20/8/2026).
Dalam kuliah umum tersebut, Menteri Perdagangan memaparkan tiga fokus utama kebijakan perdagangan nasional, yakni pengamanan pasar dalam negeri, perluasan pasar ekspor, serta program “Dari Lokal untuk Global”. Strategi tersebut diarahkan untuk mengoptimalkan pasar Indonesia yang memiliki sekitar 282 juta penduduk sekaligus memperkuat daya saing produk UMKM.
“Bagaimana kemudian pasar yang besar ini diisi oleh produk-produk dalam negeri? Salah satunya bagaimana kita memberdayakan UMKM dan produk-produk lokal,” ujar Budi Santoso.
Menurutnya, produk lokal harus memiliki kualitas dan daya saing agar mampu menembus pasar modern maupun pasar internasional. Pemerintah terus mendorong kerja sama dengan retail modern dan industri, sedangkan perguruan tinggi dapat mengambil peran melalui pendampingan UMKM, pengembangan produk, peningkatan kualitas, pengemasan, hingga pemenuhan standar ekspor.
“Retail modern hanya menyediakan tempat, menyediakan display untuk produk-produk kita. Kita yang harus bisa membina, termasuk kampus, bagaimana membina UMKM kita agar produknya bisa masuk,” jelasnya.
Budi Santoso juga menyampaikan pentingnya memperluas akses pasar melalui perjanjian perdagangan dengan berbagai negara. Saat ini, Indonesia telah memiliki 25 perjanjian dagang yang sudah diimplementasikan, sementara dua lainnya masih dalam proses ratifikasi dan sejumlah perjanjian masih dalam tahap negosiasi.
“Sekarang kita sudah mempunyai perjanjian dagang dengan negara lain sebanyak 25 yang sudah implementasi. Kemudian yang sekarang proses ratifikasi ada dua, sisanya masih dalam proses negosiasi,” katanya.
Ia mencontohkan Amerika Serikat sebagai salah satu pasar penting Indonesia. Menurutnya, perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat menghasilkan surplus yang besar. Produk seperti tekstil dan produk tekstil, alas kaki, serta elektronik menjadi komoditas yang banyak diekspor dan berkaitan erat dengan industri manufaktur padat karya.
“Jadi kita ingin memperbanyak akses pasar kita,” tegasnya.
Melalui program “Dari Lokal untuk Global”, pemerintah ingin semakin banyak UMKM menjadi eksportir. Kementerian Perdagangan memiliki jaringan Indonesia Trade Promotion Center (ITPC) dan perwakilan perdagangan Indonesia di berbagai negara yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk mencari calon pembeli.
“Kita ingin yang ekspor itu tidak hanya perusahaan besar, tetapi UMKM juga bisa ekspor. Kita harus mempunyai kesempatan yang sama,” katanya.
Budi Santoso menyebut transaksi program UMKM bisa ekspor pada tahun sebelumnya mencapai sekitar 134 juta dolar AS. Sementara Januari-Juli tahun berjalan, nilainya telah meningkat menjadi sekitar 330 juta dolar AS.
Selain UMKM, pemerintah juga mendorong mahasiswa terlibat melalui program “Kampus Ekspor”. Mahasiswa diharapkan tidak hanya berorientasi menjadi pencari kerja setelah lulus, tetapi mulai belajar menjadi pengusaha dan menciptakan lapangan pekerjaan sejak masih kuliah.
“Kita ingin adik-adik nanti setelah lulus tidak mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan,” ujarnya.
Mahasiswa tidak harus membuat produk sendiri. Mereka dapat menggandeng UMKM yang memiliki produk potensial, kemudian mendapatkan pendampingan kampus untuk meningkatkan kualitas dan kapasitas produksi.
“Produknya tidak harus membuat sendiri. Produknya cukup dari UMKM. Adik-adik punya binaan UMKM, kemudian nanti mahasiswa bisa mempunyai binaan UMKM yang siap ekspor,” jelasnya.
Ia mengingatkan pelaku UMKM agar mempersiapkan kapasitas produksi sebelum memperoleh pesanan ekspor. Menurutnya, mendapatkan buyer bukan akhir dari proses, melainkan harus diikuti kemampuan memenuhi jumlah pesanan dan menjaga konsistensi kualitas.
“Jangan sampai nanti ketika dapat buyer, tidak bisa produksi. Kadang-kadang UMKM pusing tidak dapat buyer, tetapi ada juga yang pusing karena dapat buyer,” ujarnya.
Pemerintah juga mengembangkan program “Desa Ekspor” untuk membawa aktivitas ekspor hingga tingkat desa. Dari sekitar 2.600 desa yang telah diidentifikasi memiliki potensi ekonomi, sekitar 700 desa dinilai mempunyai produk potensial untuk ekspor.
Produk-produk tersebut diarahkan mendapatkan standardisasi, penguatan produksi, serta akses pasar internasional.
“Jadi kita ingin yang ekspor itu tidak di kota saja, tetapi di desa-desa ekspor,” katanya.
Budi Santoso juga mengajak mahasiswa yang memiliki minat menjadi pengusaha dan eksportir untuk memulai sejak sekarang. Aktivitas ekspor dinilai dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran sekaligus pengalaman praktis sebelum mahasiswa memasuki dunia kerja.
“Kalau ada yang punya passion di ekspor atau pengusaha, belajarnya harus sekarang. Harus mulai sekarang,” ujarnya.
Ia menegaskan program Kampus Ekspor tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial. Perguruan tinggi harus mampu melahirkan mahasiswa yang benar-benar menjalankan usaha dan melakukan transaksi ekspor.
“Kami tidak mau program ini hanya menjadi program di atas kertas, tetapi harus ada realisasinya. Harus ada yang benar-benar ekspor,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., menyambut positif kehadiran Menteri Perdagangan. Menurutnya, kunjungan tersebut menjadi momentum strategis untuk mempertemukan dunia akademik dengan kebijakan perdagangan nasional sekaligus membuka peluang kolaborasi konkret.
“Saya berharap kehadiran Bapak Menteri di Universitas Bantara menjadi momentum yang mempertemukan dunia akademik dan kebijakan perdagangan nasional, sehingga berdampak terhadap kemajuan perguruan tinggi dan seluruh instansi yang berada di bawah YPP Veteran,” ujarnya.
Prof. Farida mengatakan Univet Bantara yang telah berusia 58 tahun terus berkembang dari lembaga pendidikan tenaga kependidikan menjadi perguruan tinggi dengan sejumlah fakultas dan program studi. Fakultas Ekonomi menjadi salah satu bidang yang memiliki keterkaitan erat dengan pengembangan kebijakan dan praktik perdagangan.
Univet Bantara, lanjutnya, tidak ingin hanya mencetak lulusan sebagai pencari kerja. Kampus juga diarahkan melahirkan pencipta lapangan kerja, inovator, entrepreneur, hingga eksportir muda melalui pembelajaran, kegiatan KKM, pendampingan masyarakat, serta pengembangan UMKM desa binaan.
“Kami berharap perguruan tinggi yang kami selenggarakan ini tidak hanya menjadi tempat mencetak para calon pencari kerja, tetapi menjadi tempat lahirnya pencipta lapangan kerja, inovator, entrepreneur dan syukur-syukur menjadi eksportir muda,” katanya.
Prof. Farida berharap kunjungan Menteri Perdagangan menjadi awal kolaborasi dalam program Kampus Trainer, pengembangan eksportir muda, pelatihan perdagangan internasional, riset kebijakan perdagangan, serta peluang magang mahasiswa di perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri.
“Kami berharap produk-produk yang hari ini kami pamerkan, baik dari Univet Bantara maupun SMK, mendapatkan pendampingan sehingga mampu mencapai pasar global,” pungkasnya.
Sebelum kuliah umum, Menteri Perdagangan meninjau sejumlah produk hasil karya siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo dan hasil penelitian Univet Bantara. Budi Santoso juga mencoba mengendarai motor listrik karya siswa SMK Veteran 1 Sukoharjo.
Kehadiran produk inovatif tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan pendidikan, riset, industri, dan kebijakan perdagangan. Menteri Perdagangan membuka peluang agar hasil riset dan karya siswa dapat dikembangkan bersama industri sehingga memiliki nilai ekonomi dan berpotensi menembus pasar ekspor. (Sofyan)
Baca juga: UNS Kembangkan SMARTIN-AJA, Teknologi Pengolahan Sampah Rumah Tangga Minim Abu, Asap, dan Jelaga
Pendidikan
UNS Kembangkan SMARTIN-AJA, Teknologi Pengolahan Sampah Rumah Tangga Minim Abu, Asap, dan Jelaga
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Tim peneliti Universitas Sebelas Maret (UNS) mengembangkan SMARTIN-AJA (Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga) untuk membantu pengelolaan sampah rumah tangga di Dukuh Kebakan, Desa Sapen. Inovasi ini dirancang sebagai alternatif pembakaran sampah secara terbuka yang berpotensi menghasilkan abu terbang, asap, dan jelaga serta mengganggu kualitas lingkungan permukiman.
SMARTIN-AJA memadukan teknologi pembakaran terkendali dengan wet scrubber untuk menangkap gas hasil pembakaran. Air yang digunakan untuk menangkap abu, asap, dan jelaga selanjutnya diproses melalui tahapan sedimentasi dan filtrasi serta pengendalian kualitas sebelum digunakan kembali atau dialirkan sesuai ketentuan.
Pengembangan teknologi tersebut dilakukan secara bertahap melalui pengujian lapangan. Instalasi unit utama selesai pada 31 Juli 2026, kemudian pengujian dilaksanakan hingga 14 Agustus 2026 dengan sejumlah penyempurnaan berdasarkan hasil evaluasi setiap tahapan.
Pada pengujian awal, pembakaran telah berhasil dilakukan, tetapi durasinya masih cukup panjang. Kemampuan sistem dalam menyaring asap dan jelaga juga masih perlu ditingkatkan. Perbaikan dilakukan pada sistem pembakaran maupun wet scrubber.
![]() |
| SMARTIN-AJA (Smart Incinerator Minim Abu, Asap, dan Jelaga) untuk membantu pengelolaan sampah rumah tangga. |
Memasuki pengujian tahap keempat, kinerja SMARTIN-AJA menunjukkan perkembangan. Durasi pembakaran menjadi lebih singkat dan asap serta jelaga dapat ditangkap secara signifikan. Berdasarkan hasil pengujian awal, kapasitas yang terukur mencapai sekitar 30 kilogram sampah basah per jam.
“Hasil ini masih merupakan pengujian awal dan akan kami evaluasi lebih lanjut. Target pengembangan berikutnya kapasitas optimal dapat mencapai sekitar 50 kilogram per jam,” jelas tim peneliti.
Burner Diganti, Sistem Wet Scrubber Disempurnakan
Hasil uji lapangan mendorong tim melakukan sejumlah penyesuaian teknologi. Kompor berbahan bakar oli diganti menggunakan burner berbahan bakar gas bertekanan tinggi yang dilengkapi blower.
Penggantian tersebut dilakukan untuk meningkatkan suplai oksigen sehingga proses pembakaran dapat berlangsung lebih cepat dan lebih sempurna. Tim juga melakukan penyesuaian konfigurasi nosel semprot dan tekanan air pada wet scrubber untuk meningkatkan kemampuan menangkap asap serta jelaga.
Selain aspek teknologi, keberadaan fasilitas di tengah kawasan permukiman menjadi perhatian tersendiri. Tim kemudian melengkapi area pengolahan dengan mural agar bangunan lebih menyatu dengan lingkungan dan mengurangi kesan kumuh.
Pengembangan SMARTIN-AJA juga tidak berhenti pada pembangunan perangkat. Tim membangun tata kelola pengolahan sampah berbasis masyarakat melalui Kelompok Masyarakat Dadi Berkah. Kelompok tersebut diharapkan menjadi penggerak kegiatan edukasi, pengumpulan, pemilahan, hingga pengelolaan sampah secara terorganisasi.
Kolaborasi Statistika, Informatika, dan Seni Rupa
Inovasi SMARTIN-AJA merupakan hasil kolaborasi lintas bidang di UNS. Getut Pramesti dari Pendidikan Matematika FKIP UNS berperan dalam pengukuran dan analisis optimasi.
Sementara itu, Ristu Saptono, Bambang Widoyono, dan Brilyan Hendrasuryawan dari Informatika FATISDA UNS menangani pengembangan sistem, analisis kinerja, rencana penerapan Internet of Things (IoT), serta sistem informasi.
Aspek mural dan estetika fasilitas didukung Sigit Purnomo Adi dari Seni Rupa FSRD UNS.
Tim peneliti juga memperoleh dukungan teknis dari Agus Hermawan, Thomas Apriyanto, Jepri Nur Sasongko, Agus Safitri, Surono, dan Agus Sukasno. Perangkat desa, pengurus RW dan RT, warga, Karang Taruna, serta mahasiswa UNS turut berkontribusi dalam pembangunan fasilitas dan penguatan pengelolaan masyarakat.
SMARTIN-AJA dikembangkan melalui Skema Pemberdayaan Desa Binaan Universitas Sebelas Maret berdasarkan Nomor 461/UN27.22/PT.01.03/2026. Inovasi tersebut masih berada dalam tahap pengembangan dan belum memperoleh penghargaan maupun pengakuan eksternal.
Ke depan, tim menargetkan peningkatan kapasitas hingga sekitar 50 kilogram per jam. Sistem juga diarahkan untuk diperluas ke Desa Sapen dan wilayah sekitar melalui model SMART-HUB.
“Pengembangan teknologi ini tidak hanya berorientasi pada alat, tetapi juga bagaimana masyarakat mampu mengelola sampah secara terorganisasi. Edukasi, pengumpulan, pemilahan, dan pengolahan perlu berjalan bersama agar teknologi dapat memberikan manfaat berkelanjutan,” ujar tim peneliti.
Melalui pendekatan tersebut, SMARTIN-AJA diharapkan mendukung peningkatan kualitas pendidikan warga melalui SDG 4, memperkuat kolaborasi masyarakat untuk mencapai tujuan pembangunan melalui SDG 17, serta berkontribusi pada upaya menekan dampak lingkungan dan perubahan iklim melalui SDG 13.
SMARTIN-AJA menjadi contoh pendekatan pengelolaan sampah yang menggabungkan teknologi pembakaran terkendali, wet scrubber, pengolahan air, estetika fasilitas, serta tata kelola berbasis masyarakat. Pengembangan dan evaluasi lanjutan masih diperlukan untuk memastikan kinerja sistem sekaligus memenuhi aspek lingkungan dan ketentuan yang berlaku.(Sofyan)
Pendidikan
24 Tahun INDONUSA Meneguhkan Perjalanan, Menyambut Transformasi, Menghadirkan Dampak
SURAKARTA - majalahlarise.com - Politeknik Indonusa Surakarta merayakan Dies Natalis ke-24 dengan penuh semangat kebersamaan dan optimisme menyambut transformasi kelembagaan. Perayaan yang berlangsung Rabu (19/8/2026) di Ballroom Sabha Kencana, Gedung C Kampus 1 Politeknik Indonusa Surakarta, mengusung tema “Bertransformasi Menjadi Universitas Unggul dan Berdampak.”
Dies Natalis ke-24 menjadi momentum bagi seluruh sivitas akademika untuk merefleksikan perjalanan Indonusa selama 24 tahun sekaligus meneguhkan langkah menuju perguruan tinggi yang semakin unggul, adaptif, inovatif, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Perayaan tersebut dihadiri berbagai unsur yang selama ini menjadi bagian dari perjalanan dan pengembangan Politeknik Indonusa Surakarta, mulai dari pemerintah, dunia industri, mitra kerja sama, sivitas akademika, hingga insan media. Kehadiran para stakeholder memperlihatkan kuatnya jejaring kolaborasi yang dibangun Indonusa dalam menghadapi dinamika pendidikan tinggi.
Salah satu agenda utama Dies Natalis adalah orasi ilmiah yang disampaikan Prof. Dr. Ir. Richardus Eko Indrajit, M.Sc., M.B.A., M.Phil., M.A. Orasi tersebut mengajak sivitas akademika memahami kembali posisi dan peran pendidikan tinggi di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.
Prof. Eko Indrajit memberikan perspektif mengenai pentingnya perguruan tinggi beradaptasi dengan perkembangan teknologi, kebutuhan industri, serta perubahan sosial. Pemikiran tersebut menjadi refleksi bagi Indonusa dalam mempersiapkan transformasi kelembagaan sekaligus memperluas manfaat pendidikan tinggi.
“Perguruan tinggi harus mampu membaca perubahan dan mempersiapkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan zaman. Transformasi tidak cukup hanya dilakukan pada aspek kelembagaan, tetapi juga harus menyentuh budaya akademik, teknologi, inovasi, dan kolaborasi,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut.
Di penghujung orasi, Prof. Eko Indrajit turut menyampaikan doa dan harapan untuk perjalanan Politeknik Indonusa Surakarta ke depan. Suasana perayaan kemudian semakin hangat ketika Prof. Eko Indrajit secara spontan berduet menyanyi bersama penyanyi legendaris Indonesia, Lisa A. Riyanto.
Penampilan tersebut mendapat sambutan meriah dari para tamu undangan. Momen itu sekaligus menghadirkan suasana kekeluargaan di tengah rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-24.
Kemeriahan perayaan juga ditandai dengan berbagai ucapan selamat dan apresiasi dari sejumlah tokoh. Dukungan dan doa untuk kemajuan Politeknik Indonusa Surakarta antara lain disampaikan artis Acha Septriasa serta politikus Sekar Tandjung.
Berbagai ucapan tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap perjalanan Indonusa agar terus berkembang, mampu beradaptasi dengan perubahan, serta memberikan kontribusi semakin luas bagi pendidikan, dunia industri, dan masyarakat.
Direktur Politeknik Indonusa Surakarta menyampaikan, usia 24 tahun bukan sekadar angka perjalanan institusi. Momentum tersebut menjadi kesempatan untuk melihat kembali berbagai capaian sekaligus menyiapkan langkah strategis menuju masa depan.
“Usia 24 tahun menjadi momentum untuk melakukan refleksi atas perjalanan yang sudah dilalui sekaligus mempersiapkan langkah yang lebih besar. Transformasi menuju universitas bukan sekadar perubahan status kelembagaan, tetapi transformasi menyeluruh,” ujarnya.
Menurutnya, transformasi tersebut mencakup penguatan budaya akademik, peningkatan kualitas sumber daya manusia, pengembangan inovasi, tata kelola, perluasan kolaborasi, hingga peningkatan kontribusi perguruan tinggi kepada masyarakat.
Tema “Bertransformasi Menjadi Universitas Unggul dan Berdampak” pun menjadi penegasan arah perjalanan Indonusa. Transformasi tidak hanya diarahkan untuk membangun institusi yang unggul secara akademik, tetapi juga perguruan tinggi yang mampu menghadirkan solusi dan dampak nyata.
Dengan memasuki usia ke-24, Politeknik Indonusa Surakarta meneguhkan komitmen untuk terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Perjalanan panjang yang telah dilalui menjadi modal untuk menyambut babak baru sebagai institusi pendidikan tinggi yang semakin unggul, adaptif, kolaboratif, dan berdampak bagi masyarakat serta pembangunan bangsa. (Sofyan)
Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia
Pendidikan
![]() |
| Ratusan siswa SMP Negeri 2 Giritontro tampil membawa beragam kreativitas, mulai dari pendidikan, kerohanian, seni, budaya, olahraga hingga kreasi inovatif yang sukses mencuri perhatian masyarakat. |
Seni Jaranan dan Batik Carnival SMP Negeri 2 Giritontro Curi Perhatian di Karnaval HUT RI ke-81
WONOGIRI - majalahlarise.com - Karnaval Budaya dan Pembangunan Kecamatan Giritontro dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (18/8/2026), berlangsung meriah. Ratusan siswa SMP Negeri 2 Giritontro tampil membawa beragam kreativitas, mulai dari pendidikan, kerohanian, seni, budaya, olahraga hingga kreasi inovatif yang sukses mencuri perhatian masyarakat.
Barisan SMP Negeri 2 Giritontro tidak sekadar mengikuti iring-iringan karnaval. Para siswa menampilkan berbagai potensi yang dikembangkan di lingkungan sekolah. Beragam kostum dan atribut menghiasi barisan siswa yang tampil kompak dan penuh percaya diri hingga tiba di depan panggung utama.
Salah satu penampilan yang menjadi magnet perhatian masyarakat yakni Batik Carnival. Busana yang dikenakan para siswa merupakan hasil kreativitas dengan memanfaatkan bahan bekas, seperti plastik dan kertas, yang diolah menjadi kostum bernuansa batik.
![]() |
| Batik Carnival. Busana yang dikenakan para siswa merupakan hasil kreativitas dengan memanfaatkan bahan bekas, seperti plastik dan kertas, yang diolah menjadi kostum bernuansa batik. |
Kostum tersebut tampil mencolok dengan desain yang unik. Para siswa yang menjadi pemeran berjalan percaya diri memperlihatkan detail busana hasil karya mereka. Kreativitas itu membuat sejumlah penonton mengabadikan penampilan melalui kamera telepon seluler, bahkan mengajak para pemeran berfoto bersama.
Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., mengatakan keikutsertaan dalam karnaval menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membangun karakter.
“Karnaval kali ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan potensi yang mereka miliki. Tidak hanya dalam bidang seni dan budaya, tetapi juga bagaimana mereka mampu memanfaatkan barang bekas menjadi sebuah karya yang menarik dan memiliki nilai,” ujar Retno.
Menurut Retno, Batik Carnival menunjukkan pembelajaran dapat diwujudkan dalam bentuk karya nyata. Siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran secara teori, tetapi juga belajar merancang, membuat karya, bekerja sama, bertanggung jawab serta berani menampilkan hasil kreativitasnya di hadapan masyarakat.
Selain Batik Carnival, penampilan seni jaranan juga menjadi salah satu daya tarik SMP Negeri 2 Giritontro. Puluhan siswa tampil penuh semangat di depan panggung utama membawakan kesenian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal.
Jaranan dipilih sebagai media untuk mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah. Melalui penampilan tersebut, siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam mempelajari, mengembangkan dan melestarikan seni tradisional.
![]() |
| Penampilan seni jaranan juga menjadi salah satu daya tarik SMP Negeri 2 Giritontro. |
Suasana semakin semarak ketika siswa menampilkan seni oklik atau kotekan. Irama khas yang dihasilkan membuat kawasan sekitar panggung utama semakin hidup. Penampilan jaranan dan oklik disaksikan Forkopimcam Giritontro, tamu undangan serta masyarakat.
Koordinator Lapangan SMP Negeri 2 Giritontro, Marsudhi Wibowo, S.H., menjelaskan beragam penampilan tersebut memiliki tujuan utama memberikan ruang kepada siswa untuk berkarya sekaligus memperkuat kebersamaan.
“Selain beragam yang ditampilkan, ujungnya tetap satu, yaitu bagaimana anak-anak dapat menunjukkan kreativitas, kekompakan dan potensi yang mereka miliki. Kami ingin mereka berani tampil, percaya diri dan mampu memberikan sesuatu yang positif bagi masyarakat,” ungkap Marsudhi.
Ia menambahkan, keterlibatan siswa dalam karnaval memberikan pengalaman pembelajaran di luar kelas. Mereka belajar bekerja sama, disiplin, bertanggung jawab serta menghargai budaya yang berkembang di masyarakat.
Penampilan SMP Negeri 2 Giritontro memperlihatkan perpaduan antara kreativitas, seni tradisional, pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.
Batik Carnival menjadi bukti kreativitas siswa dalam mengolah bahan bekas menjadi busana bernilai estetika. Sementara jaranan dan oklik menjadi representasi kecintaan terhadap budaya lokal yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda.
Kehadiran para siswa dalam Karnaval Budaya dan Pembangunan Kecamatan Giritontro akhirnya tidak sekadar menjadi bagian dari pawai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut berubah menjadi panggung bagi siswa untuk menunjukkan potensi, kreativitas dan keberanian tampil di ruang publik.
Dari jaranan hingga Batik Carnival, dari oklik hingga berbagai atribut pendidikan dan kerohanian, siswa SMP Negeri 2 Giritontro membawa pesan penting: kreativitas, budaya dan kepedulian lingkungan dapat berjalan bersama untuk melahirkan generasi muda yang percaya diri dan berkarakter. (Syarif)
Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia
Pendidikan
Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia
SUKOHARJO - majalahlarise.com - Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) Amalia menggelar kegiatan gelar karya sekaligus penutupan Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW), Jumat (14/8/2026). Bertempat di SFA Gentan. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Shiboriku, Untukmu Indonesia” dengan menampilkan karya peserta berupa busana berbahan kain shibori hasil kreativitas mereka sendiri.
Gelar karya dikemas dalam bentuk fashion show. Peserta tidak hanya membuat kain shibori, tetapi juga mengolahnya menjadi produk fesyen melalui proses pemotongan menggunakan metode zero waste, menjahit, hingga memperagakan hasil karya mereka di hadapan tamu undangan.
Kegiatan diikuti seluruh peserta program PKW dan dihadiri orang tua peserta, instruktur kewirausahaan, instruktur keterampilan, serta perwakilan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Sukoharjo. Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi peserta untuk menunjukkan hasil pembelajaran sekaligus kesiapan memasuki dunia usaha.
![]() |
| Apresiasi diberikan kepada peserta berprestasi melalui penyerahan piala untuk sejumlah kategori, antara lain desain terbaik, kualitas jahitan terbaik, dan peragaan busana terbaik. |
Pimpinan LKP Amalia, Hani Safitri, M.M., menjelaskan peserta telah menyelesaikan seluruh rangkaian pembelajaran program PKW. Sebanyak 250 jam pelajaran (JPL) telah ditempuh peserta dengan metode pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning).
“Pembelajaran program PKW sudah selesai dan 250 JPL sudah terpenuhi. Peserta juga telah melalui evaluasi akhir. Saatnya mereka memulai rintisan usaha dengan memanfaatkan keterampilan yang sudah diperoleh selama mengikuti program,” jelas Hani Safitri.
Menurutnya, program tersebut tidak berhenti pada pemberian keterampilan membuat produk. Peserta juga diarahkan untuk memiliki kemampuan mengembangkan dan memasarkan produk secara mandiri.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan dukungan berupa mesin jahit portabel serta bahan untuk memulai rintisan usaha. Peserta juga diarahkan memanfaatkan toko online di marketplace Gampang Go serta media sosial masing-masing sebagai sarana pemasaran produk.
![]() |
| Penyerahan alat dan bahan untuk rintisan usaha kepada peserta. |
“Peserta memiliki kesempatan untuk menjual produk yang mereka buat melalui toko online maupun media sosial. Harapannya, keterampilan yang diperoleh selama program dapat berkembang menjadi usaha yang memberikan manfaat secara ekonomi,” ungkapnya.
Selain gelar karya, rangkaian kegiatan diisi laporan pelaksanaan program, sambutan sekaligus penutupan program PKW oleh Purnomo Budi Santoso, S.M., selaku Penelaah Ahli Kebijakan, serta penyerahan alat dan bahan untuk rintisan usaha kepada peserta.
Apresiasi juga diberikan kepada peserta berprestasi melalui penyerahan piala untuk sejumlah kategori, antara lain desain terbaik, kualitas jahitan terbaik, dan peragaan busana terbaik.
Kegiatan penutupan tersebut menjadi penanda berakhirnya proses pembelajaran sekaligus awal bagi peserta untuk mengimplementasikan keterampilan yang telah diperoleh. Melalui dukungan peralatan, bahan usaha, dan akses pemasaran digital, peserta diharapkan mampu mengembangkan produk kreatif serta membangun rintisan usaha secara berkelanjutan. (Sofyan)
Baca juga: Pawai Budaya dan Pembangunan Meriahkan HUT ke-81 RI di Manyaran
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...















