GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
![]() |
| Alumni Univet Bantara saat mengikuti tes wawancara Campus Hiring yang diselenggarakan PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS), Senin (28/9/2026). |
Campus Hiring PKSS Digelar di Univet Bantara, Buka Empat Posisi di Bank BUMN
Sukoharjo – majalahlarise.com – Kesempatan bagi alumni Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) untuk memasuki dunia kerja kembali terbuka melalui Campus Hiring yang diselenggarakan PT Prima Karya Sarana Sejahtera (PKSS), Senin (28/9/2026). Kegiatan yang berlangsung pukul 10.00–14.00 WIB tersebut digelar di kampus Univet Bantara, Sukoharjo, khusus bagi alumni perguruan tinggi tersebut.
Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., menyampaikan Campus Hiring menjadi bagian dari proses rekrutmen calon tenaga kerja untuk bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Kegiatan tersebut mendapat antusiasme tinggi dari alumni, dengan tercatat sebanyak 82 peserta mengikuti proses seleksi.
“Campus Hiring ini kami laksanakan khusus untuk alumni Univet Bantara. Kami berharap kegiatan ini menjadi peluang bagi alumni untuk memperoleh pekerjaan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja,” ujar Prof. Farida.
Menurutnya, kegiatan rekrutmen bersama mitra perbankan tersebut diharapkan dapat dilaksanakan secara rutin dan periodik. Dengan demikian, semakin banyak lulusan Univet Bantara memperoleh akses terhadap lapangan pekerjaan sesuai minat dan kompetensinya.
“Kerja sama seperti ini juga menjadi salah satu daya tarik bagi calon mahasiswa baru. Tidak hanya dengan sektor perbankan, kami akan terus mengembangkan kerja sama dengan berbagai instansi, dunia usaha, dan dunia industri yang membutuhkan tenaga kerja dari lulusan perguruan tinggi,” jelasnya.
Sementara itu, Talent Head Hunter PT PKSS, Dimas Rahman, menjelaskan kerja sama dengan Univet Bantara dilakukan untuk menjaring alumni yang memiliki potensi dan bekal kompetensi untuk memasuki dunia kerja. Dalam rekrutmen tersebut, PKSS membuka kebutuhan tenaga kerja untuk sejumlah posisi di sektor perbankan.
“PKSS bekerja sama dengan Universitas Veteran Bangun Nusantara untuk merekrut alumni. Kami melihat alumni Univet Bantara memiliki potensi dan bekal yang baik untuk memasuki dunia kerja,” jelas Dimas.
Dalam informasi rekrutmen, terdapat empat posisi yang dibuka, yakni Frontliner (Teller), Marketing Landing, Marketing Funding, dan Field Collection. Pelamar merupakan laki-laki maupun perempuan dengan pendidikan minimal D3/S1, minimal telah memiliki Surat Keterangan Lulus (SKL), tidak memiliki tunggakan pinjaman, mampu berkomunikasi dengan baik, serta dapat mengoperasikan Microsoft Office.
Dimas menjelaskan proses seleksi diawali dengan wawancara. Peserta yang lolos tahap awal kemudian mengikuti psikotes dan wawancara akhir. Kebutuhan tenaga kerja mencapai sekitar 70–80 orang, sedangkan jumlah pendaftar telah mencapai lebih dari 76 orang.
“Untuk penempatannya, tenaga frontliner dan collection akan ditempatkan di BRI, sedangkan posisi marketing ditempatkan di Bank Jateng sesuai kebutuhan perusahaan yang bekerja sama dengan PKSS,” terangnya.
Menurut Dimas, PKSS secara rutin menggelar campus hiring, job fair, dan walk-in interview setiap bulan di berbagai perguruan tinggi. Campus Hiring di Univet Bantara menjadi salah satu bentuk kerja sama yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi alumni, kampus, maupun perusahaan.
“Kami berharap kerja sama ini dapat membantu alumni memperoleh pekerjaan, mendukung kampus dalam meningkatkan penyerapan lulusan, sekaligus memenuhi kebutuhan perusahaan terhadap tenaga kerja berkualitas di wilayah Soloraya,” katanya.
Dimas juga memastikan seluruh proses rekrutmen PKSS, mulai pendaftaran, seleksi, tes hingga pendidikan bagi peserta yang lolos, tidak dipungut biaya maupun imbalan dalam bentuk apa pun
“Rekrutmen di Univet Bantara ditargetkan selesai dalam satu hari dan seluruh tahapan seleksi kami maksimalkan pada hari tersebut,” tegasnya.
Campus Hiring tersebut menjadi salah satu akses bagi alumni Univet Bantara untuk memperoleh informasi sekaligus mengikuti proses rekrutmen secara langsung. Kehadiran perusahaan di lingkungan kampus juga memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dengan dunia kerja dalam mendukung penyerapan lulusan. (Sofyan)
Baca juga: SMP Negeri 4 Wonogiri Dorong Transformasi Pembelajaran melalui Teknologi Digital
Pendidikan
![]() |
| Ketua MKKS Sub Rayon 01, Budi Sudaryatmo, memberikan piala serta piagam penghargaan kepada pemenang lomba FTBI. |
Merawat Bahasa, Menjaga Budaya: Seleksi FTBI Sub Rayon 01 Wonogiri
Wonogiri – majalahlarise.com – Sebanyak 120 peserta dari 21 SMP di wilayah Sub Rayon 01 mengikuti Seleksi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) di SMP Negeri 3 Wonogiri, Senin (28/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi wadah bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya Jawa.
Kegiatan diawali upacara pembukaan yang berlangsung tertib. Ketua MGMP Bahasa Jawa Sub Rayon 01, Mugiyono, menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan. Selanjutnya, Ketua MKKS Sub Rayon 01, Budi Sudaryatmo, memberikan sambutan sekaligus membuka secara resmi seleksi FTBI.
Dalam sambutannya, Budi Sudaryatmo menyampaikan harapan agar seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Menurutnya, FTBI tidak hanya menjadi ajang kompetisi untuk meraih prestasi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya nguri-uri basa lan budaya Jawa.
“FTBI bukan hanya untuk berkompetisi dan meraih prestasi. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya nguri-uri basa lan budaya Jawa. Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa semakin mengenal, mencintai, dan bangga terhadap bahasa serta budaya daerahnya,” ujarnya.
Seleksi FTBI Sub Rayon 01 mempertandingkan tujuh cabang lomba. Setiap sekolah mengirimkan satu peserta pada masing-masing cabang. Tiga peserta terbaik dari setiap cabang ditetapkan sebagai juara, sedangkan juara I dan II berhak melanjutkan ke tingkat Kabupaten Wonogiri.
Antusiasme peserta terlihat sepanjang pelaksanaan lomba. Para siswa berusaha menampilkan kemampuan terbaik dengan bekal persiapan yang telah dilakukan sebelumnya. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut memberikan pengalaman bagi peserta untuk meningkatkan keberanian, mengembangkan kemampuan berbahasa, serta mengenal lebih dekat budaya Jawa.
Pelaksanaan Seleksi FTBI diharapkan tidak hanya menghasilkan peserta berprestasi, tetapi juga memperkuat kecintaan generasi muda terhadap bahasa Jawa. Semangat nguri-uri basa lan budaya menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya daerah di tengah perkembangan zaman. (Sofyan)
Baca juga: SMP Negeri 4 Wonogiri Dorong Transformasi Pembelajaran melalui Teknologi Digital
Olahraga
![]() |
| Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani hadir di Solo for Merah Putih Taekwondo Championship 2026 yang berlangsung di GOR FKOR UNS, Minggu (27/9/2026). |
Wawali Astrid Widayani Apresiasi Solo for Merah Putih Taekwondo Championship 2026, Dorong Pembentukan Mental dan Karakter Atlet Pemula
Surakarta – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengapresiasi penyelenggaraan Solo for Merah Putih Taekwondo Championship 2026 yang berlangsung di GOR FKOR UNS, Minggu (27/9/2026). Kejuaraan yang menyasar atlet pemula tersebut dinilai menjadi ruang penting bagi generasi muda untuk mendapatkan pengalaman bertanding sekaligus membangun mental dan karakter melalui olahraga.
Mengusung semangat “Kontribusi untuk Merah Putih Berawal dari Sini”, kegiatan tersebut merupakan salah satu program kerja Pengurus Kota Taekwondo Indonesia (Pengkot TI) Surakarta dalam pembinaan prestasi dan pengembangan olahraga taekwondo. Peserta berasal dari Kota Surakarta dan daerah sekitarnya.
Astrid mengatakan, kompetisi bagi atlet pemula tidak semata-mata berkaitan dengan kemenangan. Pertandingan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar menghadapi tekanan, membangun keberanian, disiplin, sportivitas, serta sikap pantang menyerah.
“Ketika mendengar kata taekwondo, sudah barang tentu ini sesuatu yang positif. Tidak hanya satu cabang olahraga, tapi bagaimana taekwondo sudah bertahun-tahun dikenal sebagai olahraga dalam rangka pembentukan mental, karakter, dan juga moral,” ujar Astrid.
Menurutnya, pembentukan karakter tidak hanya diperoleh ketika atlet menjalani latihan. Pengalaman berada di arena pertandingan, menghadapi lawan, mengikuti aturan, menerima keputusan wasit, hingga menyikapi hasil pertandingan menjadi bagian dari proses pembelajaran bagi anak-anak.
Nilai fair play, sportivitas, rasa hormat, dan saling menghargai perlu terus ditanamkan dalam setiap kompetisi. Karena itu, Astrid mengapresiasi Pengurus Taekwondo Indonesia, panitia, pelatih, orang tua, dan seluruh pihak yang menghadirkan ruang kompetisi bagi atlet-atlet pemula.
“Ini menjadi kesempatan bagi anak-anak kita untuk berani tampil, berani bertanding, sekaligus belajar dari pengalaman. Dari sini mereka bisa mengetahui apa yang perlu diperbaiki dan kemudian berkembang menjadi atlet yang lebih baik,” katanya.
Dorong Orang Tua Dukung Minat Anak
Astrid juga memberikan apresiasi kepada para orang tua yang terus mendampingi anak-anak dalam mengembangkan minat dan bakat di bidang olahraga. Menurutnya, dukungan keluarga memiliki peran penting dalam perjalanan seorang atlet.
Anak perlu diberikan kesempatan untuk mencoba, berproses, dan menemukan potensi dirinya. Hasil pertandingan, menurut Astrid, tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan.
“Kita harus selalu dukung, sabar, tekun untuk bisa mendampingi anak-anak kita nantinya berprestasi. Olahraga merupakan cara yang positif untuk menyalurkan apa yang menjadi minat bakat dari anak-anak kita,” tuturnya.
Ia menjelaskan, ekosistem olahraga yang baik membutuhkan kolaborasi berbagai pihak. Atlet, pelatih, pengurus, panitia, orang tua, pemerintah, hingga lingkungan sekitar memiliki peran dalam menciptakan proses pembinaan yang sehat dan berkelanjutan.
“Ekosistem olahraga ini harus kita bangun bersama. Ada atlet, ada pelatih, ada pengurus, ada orang tua, ada panitia. Semua harus saling mendukung dan memberikan ruang yang baik bagi anak-anak untuk berkembang,” jelasnya.
Astrid juga mendorong agar proses pembinaan dan kompetisi berjalan dengan mengedepankan transparansi, objektivitas, serta sportivitas. Lingkungan pertandingan juga perlu memberikan rasa aman bagi anak-anak agar mereka dapat berkembang tanpa perundungan maupun kekerasan.
Menang Kalah Bukan Satu-satunya Ukuran
Kepada para atlet yang mengikuti Solo for Merah Putih Taekwondo Championship 2026, Astrid berpesan agar menjadikan kejuaraan tersebut sebagai pengalaman untuk terus bertumbuh.
Ia meminta para atlet tidak takut menghadapi lawan maupun hasil pertandingan. Keberanian untuk turun ke arena dan menghadapi tantangan menjadi bagian dari proses pembentukan mental seorang atlet.
“Apapun nanti hasilnya bukan masalah menang atau kalah atau menjadi juara, tapi keberanian untuk bertanding ini sudah menjadi satu nilai positif yang bisa menjadikan pengalaman kita membentuk karakter kita lebih kuat lagi,” ungkapnya.
Astrid berharap seluruh pihak dapat menjaga lingkungan olahraga tetap positif dan aman bagi anak. Para atlet, pelatih, orang tua, maupun pendukung diajak menjunjung sportivitas serta menghindari perundungan dan segala bentuk kekerasan terhadap anak.
Ia berharap Solo for Merah Putih Taekwondo Championship 2026 tidak berhenti sebagai ajang kompetisi, tetapi menjadi bagian dari proses panjang pembinaan atlet di Kota Surakarta.
“Jadikan ini pengalaman yang berharga dan nanti kami tunggu ada atlet-atlet yang lahir dari Kota Surakarta untuk Indonesia dan untuk dunia,” pungkas Astrid. (Mas Is/ Sofyan)
Baca juga: SMP Negeri 4 Wonogiri Dorong Transformasi Pembelajaran melalui Teknologi Digital
News
![]() |
| Wakil Wali Kota Surakarta Astrid WidaYani melihat hasil karya lukisan yang dipamerkan dalam ARTEPHY (Art Exhibition Smoephy) X ABSASTA. |
Astrid Widayani Dorong Pelajar Solo Berani Berkarya Lewat Seni, Bahasa, dan Sastra
SOLO – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong para pelajar untuk berani mengekspresikan diri melalui karya seni, bahasa, dan sastra. Pesan tersebut disampaikan Astrid saat menghadiri ARTEPHY (Art Exhibition Smoephy) X ABSASTA (Ajang Bahasa dan Sastra) 2026 di Pendapa Ageng Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Sabtu (26/9/2026).
Astrid menilai kegiatan yang digelar OSIS Sapta Jaya SMA Negeri 7 Surakarta bersama Artharupa tersebut menjadi ruang positif bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas, bakat, dan potensi di luar capaian akademik.
“ARTEPHY dan ABSASTA merupakan kegiatan yang sangat positif karena memberikan ruang kepada para siswa untuk mengembangkan kreativitas, bakat, dan potensi, khususnya dalam bidang seni, bahasa, dan sastra,” kata Astrid.
Menurut Astrid, pendidikan tidak hanya berkaitan dengan pencapaian akademik. Generasi muda juga membutuhkan ruang untuk membangun karakter, kreativitas, kepercayaan diri, kemampuan berkomunikasi, serta kepekaan terhadap lingkungan dan budaya di sekitarnya.
“Melalui kegiatan ini, para siswa dapat belajar untuk berani berekspresi, menghasilkan karya, berkolaborasi, sekaligus belajar menghargai karya dan kreativitas orang lain,” ujarnya.
ARTEPHY X ABSASTA 2026 merupakan kolaborasi OSIS Sapta Jaya SMA Negeri 7 Surakarta dengan Artharupa. ARTEPHY tahun ini memasuki penyelenggaraan Vol. 2 dan dipadukan dengan ABSASTA sehingga menghadirkan rangkaian kegiatan yang menggabungkan seni, bahasa, dan sastra.
Berbagai karya visual siswa ditampilkan dalam pameran, mulai dari lukisan kanvas, instalasi interaktif hingga mural yang mengangkat pesan-pesan sosial. Pameran tersebut menjadi ruang bagi pelajar untuk menuangkan gagasan sekaligus memperkenalkan karya kepada publik.
Tidak hanya pameran, rangkaian kegiatan juga diisi workshop interaktif. Salah satunya workshop bersama Kawan Tuli yang mengajak peserta mengenal Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO). Kegiatan ini memberikan pengalaman kepada peserta untuk memahami pentingnya komunikasi yang lebih inklusif.
Peserta juga mengikuti workshop membatik bersama SMKN 9 Surakarta. Melalui kegiatan tersebut, peserta dapat mengenal proses membatik secara langsung sekaligus mempelajari salah satu bentuk warisan budaya yang lekat dengan identitas Kota Surakarta.
Sementara itu, ABSASTA menghadirkan sejumlah kompetisi yang mengeksplorasi kemampuan peserta dalam bidang bahasa dan sastra. Beberapa di antaranya Tutur Narasi menggunakan Bahasa Indonesia, Sing Ambyar melalui lagu berbahasa Jawa, serta Newscasting dalam Bahasa Inggris.
Rangkaian tersebut membuat ARTEPHY X ABSASTA tidak hanya menjadi ajang kompetisi. Peserta juga dapat menikmati pameran, mengikuti aktivitas kreatif, dan menyaksikan pertunjukan seni dalam satu rangkaian kegiatan.
Sejumlah penampilan seni turut memeriahkan acara. Sekar Tri Kusuma tampil dalam art performance, disusul pertunjukan tari kontemporer oleh Joce. Panggung kemudian diisi penampilan musik Sternsev.
Astrid menilai kegiatan yang memadukan seni, bahasa, dan sastra memberikan pengalaman penting bagi pelajar. Selain menunjukkan kemampuan, siswa belajar bekerja sama, berkomunikasi, menghargai karya orang lain, serta membangun keberanian tampil di hadapan publik.
Ia juga mengajak generasi muda ikut menjaga keberlanjutan seni dan budaya di Kota Surakarta.
“Seni, bahasa, dan sastra juga merupakan bagian penting dari identitas budaya kita. Terlebih Surakarta merupakan kota yang memiliki kekayaan seni dan budaya yang luar biasa,” tuturnya.
Astrid berharap para pelajar tidak berhenti sebagai penikmat seni dan budaya, tetapi juga tumbuh menjadi pelaku, pencipta, dan penerus yang mampu membawa seni serta budaya terus berkembang mengikuti perubahan zaman.
“Kepada anak-anak yang saya banggakan, teruslah berkarya dan jangan takut untuk menunjukkan potensi yang kalian miliki. Tidak perlu takut salah dan tidak perlu takut gagal. Jadikan setiap proses sebagai pengalaman untuk belajar dan berkembang,” kata Astrid.
Ia mengajak para siswa berani mencoba serta menjadikan setiap proses sebagai pengalaman untuk berkembang.
“Yang terpenting adalah berani mencoba, berani berproses, dan terus berusaha memberikan yang terbaik,” imbuhnya.
Astrid mengatakan Pemerintah Kota Surakarta mendukung berbagai kegiatan yang memberikan ruang kepada generasi muda untuk berkembang dan berkreasi. Menurutnya, kreativitas anak muda menjadi bagian penting dalam membangun masa depan kota.
“Semangat berkarya, berinovasi, dan mencintai budaya harus terus kita tumbuhkan bersama,” ujarnya.
Astrid turut menyampaikan apresiasi kepada Kepala SMA Negeri 7 Surakarta, para guru, panitia, siswa, orang tua, serta seluruh pihak yang mendukung penyelenggaraan ARTEPHY X ABSASTA 2026.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai sebuah acara, tetapi terus menjadi ruang bagi lahirnya inspirasi, karya, prestasi, dan gagasan baru dari generasi muda.
“Semoga kegiatan ini tidak berhenti sebagai sebuah acara semata, tetapi dapat menjadi ruang yang terus menumbuhkan inspirasi, kreativitas, prestasi, dan kecintaan generasi muda terhadap seni, bahasa, sastra, dan budaya,” pungkasnya.
ARTEPHY X ABSASTA 2026 digelar di Pendapa Ageng ISI Surakarta pada Sabtu (26/9/2026). Rangkaian kegiatan mencakup pameran karya visual, workshop BISINDO dan membatik, kompetisi bahasa dan sastra, art performance, tari kontemporer, hingga pertunjukan musik. (Mas Is/ Sofyan)
Pendidikan
SMP Negeri 4 Wonogiri Dorong Transformasi Pembelajaran melalui Teknologi Digital
WONOGIRI - majalahlarise.com - SMP Negeri 4 Wonogiri terus mendorong transformasi pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi digital. Upaya tersebut dilakukan melalui Workshop Digitalisasi Pembelajaran yang digelar di Aula SMP Negeri 4 Wonogiri, Sabtu (26/9/2026).
Workshop mengusung tema “Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Membangun Ekosistem Belajar yang Interaktif, Merata, dan Berpusat pada Murid”. Kegiatan ini menjadi ruang bagi para pendidik untuk memperluas wawasan sekaligus meningkatkan kompetensi dalam mengintegrasikan teknologi digital ke dalam proses pembelajaran.
Kegiatan menghadirkan Agus Dwianto, S.Pd., M.Pd., Kepala SMP Negeri 1 Ngadirojo, sebagai narasumber. Ia menyampaikan materi mengenai pemanfaatan teknologi digital untuk menciptakan proses pembelajaran yang lebih interaktif, inovatif, dan berpusat pada murid.
Dalam pemaparannya, peserta mendapatkan wawasan mengenai pemanfaatan berbagai platform digital untuk mendukung pembelajaran yang lebih menarik dan bermakna. Integrasi teknologi juga dikaitkan dengan pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning.
“Pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi sarana untuk meningkatkan keterlibatan murid dalam proses pembelajaran. Teknologi perlu diintegrasikan dengan pendekatan pembelajaran yang sesuai agar pengalaman belajar menjadi lebih interaktif dan bermakna,” demikian materi yang disampaikan dalam workshop tersebut.
Tidak hanya mendapatkan materi, peserta juga diajak mengikuti praktik penggunaan sejumlah aplikasi digital. Di antaranya Kahoot dan Menti.com yang digunakan untuk memberikan pengalaman langsung mengenai bagaimana platform digital dapat meningkatkan partisipasi peserta didik.
Suasana workshop berlangsung interaktif. Peserta mengikuti praktik dan mencoba berbagai fitur aplikasi digital yang dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Antusiasme peserta juga terlihat selama kegiatan berlangsung. Panitia memberikan apresiasi kepada peserta yang berpartisipasi dalam sesi interaktif. Ningtyas Kusumastuti meraih peringkat pertama, disusul Zenityas Gheafitri dan Puguh Wiratmoko.
Kepala SMP Negeri 4 Wonogiri, Saleha, M.Pd menyampaikan melalui workshop ini mendorong para pendidik semakin terampil memanfaatkan teknologi digital sebagai bagian dari strategi pembelajaran.
"Pemanfaatan teknologi tidak hanya diarahkan untuk menghadirkan pembelajaran berbasis perangkat digital, tetapi juga membangun ekosistem belajar yang interaktif, merata, dan berpusat pada kebutuhan murid," terangnya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya SMP Negeri 4 Wonogiri mendukung transformasi pendidikan di era digital. Penguatan kompetensi pendidik diharapkan mampu menghadirkan proses pembelajaran yang relevan dengan perkembangan teknologi sekaligus memberikan pengalaman belajar yang lebih aktif dan bermakna bagi murid.(Sofyan)
Kabar Desa
![]() |
| Pembagian bibit tanaman kepada warga desa Sugihan. |
KWT Sumber Urip Desa Sugihan Bagikan Puluhan Paket Bibit Tanaman dan Lele, Dukung Ketahanan Pangan Warga
SUKOHARJO – majalahlarise.com – Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Urip II, Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, membagikan puluhan paket bibit tanaman dan ikan lele kepada warga, Minggu (27/9/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan masyarakat sekaligus mengembangkan kebun percontohan yang dikelola KWT Sumber Urip II dengan konsep pertanian berkelanjutan dan terintegrasi.
Kepala Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Sukardi, mengatakan kegiatan pembagian bibit telah dilakukan secara rutin. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman pangan, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat dan memiliki keberlanjutan.
“Awalnya kegiatan ini memang sudah rutin. Ini juga untuk persiapan desa binaan. Intinya, apa yang kita laksanakan harus bermanfaat dan ada tindak lanjut seterusnya, tidak hanya berhenti,” ujar Sukardi.
![]() |
| Berbagai jenis tanaman dikembangkan di kebun KWT diantaranya labu, pare, labu madu hingga sayuran seperti kangkung, tomat dan terong. |
Ia menjelaskan, berbagai jenis tanaman dikembangkan di kebun KWT, mulai dari labu, pare, labu madu hingga sayuran seperti kangkung, tomat dan terong.
Menurut Sukardi, pengembangan tanaman secara bersama-sama di kebun KWT memudahkan proses pengawasan dibandingkan apabila seluruh bibit langsung ditanam secara mandiri di rumah warga.
“Kalau ditanam di rumah-rumah sejak awal kan sulit untuk mengawasi. Makanya dikerjakan bersama di kebun. Kebetulan akan ada monitoring, kemudian hasilnya kita bagikan kepada warga untuk ditanam di rumah masing-masing, sehingga pengawasannya juga lebih aman,” jelasnya.
Selain pengembangan tanaman pangan, Desa Sugihan juga mendorong kegiatan pendukung lainnya, salah satunya melalui bank sampah yang telah berjalan di tengah masyarakat.
Dua Tahun Bangun Kebun KWT
Ketua KWT Sumber Urip II, Cici Aprilia, mengungkapkan kebun yang kini dikembangkan merupakan hasil perjuangan anggota secara bertahap selama sekitar dua tahun.
“Sedikit demi sedikit kalau dilihat sekarang sudah seperti ini. Dulu luar biasa perjuangannya. Lahan ini sebelumnya tidak ada apa-apanya, kemudian selama sekitar dua tahun dibenahi tahap demi tahap,” kata Cici.
Berbagai jenis tanaman telah dikembangkan di kebun tersebut. Salah satu komoditas yang menjadi andalan KWT Sumber Urip II adalah kangkung karena memiliki masa panen relatif cepat dan permintaan pasar cukup tinggi.
“Kangkung di sini benar-benar menjadi primadona. Pemasarannya paling banyak dan juga menghasilkan paling banyak untuk kita. Jadi bisa dikatakan kangkung naik kelas,” ujarnya.
Cici menjelaskan, satu petak tanaman kangkung dapat menghasilkan sekitar Rp100 ribu. Dengan masa panen sekitar 22 hingga 25 hari, kangkung memiliki perputaran produksi dan ekonomi yang cukup cepat.
“Perputaran uang kita cepat dari kangkung sendiri. Belum lagi dari ternak lainnya. Ada ayam yang menghasilkan telur, ada lele yang selain dikonsumsi sendiri juga bisa dipasarkan, kemudian buah-buahan,” jelasnya.
Terapkan Pertanian Terintegrasi
KWT Sumber Urip II juga mengembangkan konsep integrated farming atau pertanian terintegrasi. Melalui konsep tersebut, hasil dari satu kegiatan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan lainnya sehingga limbah dapat ditekan.
Cici mencontohkan sisa tanaman dan bonggol sayuran yang tidak langsung dibuang. Bahan tersebut dikembalikan ke kebun untuk diolah menjadi kompos dan selanjutnya dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.
“Sayuran yang kita tanam kemudian kita konsumsi. Kalau ada sisa atau bonggolnya, tidak kami buang, tetapi kami kembalikan ke kebun untuk dikomposkan. Hasil pupuknya kemudian dikembalikan lagi untuk nutrisi tanaman,” terangnya.
Konsep tersebut juga diterapkan dengan mengintegrasikan tanaman dan peternakan. Sisa hasil tanaman dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, sementara hasil dari peternakan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.
Menurut Cici, pola tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.
Kembangkan Pengairan Semiotomatis
Untuk menjawab persoalan pengairan, terutama ketika cuaca panas, KWT Sumber Urip II mengembangkan sejumlah inovasi sederhana.
Cici mengatakan, pengelolaan pengairan selama ini banyak dilakukan oleh ibu-ibu yang juga memiliki aktivitas rumah tangga. Karena itu, diperlukan sistem pengairan yang praktis dan efisien.
“Kita belajar dari masalah kita sendiri. Contohnya pengairan yang dikelola ibu-ibu. Mereka juga punya banyak pekerjaan di rumah, sementara cuaca sedang panas. Kami mencari cara bagaimana pengairan bisa dibuat mudah dan praktis,” katanya.
Dari kebutuhan tersebut, KWT mengembangkan sistem pengairan semiotomatis. Ketika pompa dinyalakan, pengairan dapat berjalan dan menyebar ke area tanaman.
Selain itu, KWT Sumber Urip II memanfaatkan barang bekas untuk mendukung kegiatan bercocok tanam, salah satunya melalui sistem penanaman kapiler.
Pemanfaatan barang bekas tersebut menjadi bagian dari upaya KWT mengembangkan pertanian yang produktif secara ekonomi sekaligus memperhatikan aspek lingkungan.
Cici berharap program ketahanan pangan dan berbagai inovasi yang dikembangkan KWT Sumber Urip II dapat terus berlanjut serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Harapannya program ini terus berlanjut. Jadi kita bisa menjadi solusi untuk masalah yang kita hadapi sendiri, dengan terus belajar dan mengembangkan apa yang ada di lingkungan kita,” pungkasnya. (Sofyan)
News
FMTI 2026 Merajut Jejaring Musik Tradisi untuk Memperkuat Ekosistem Budaya Indonesia
JAKARTA - majalahlarise.com - Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 kembali hadir dengan mengusung tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara”. Festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan musik tradisi, tetapi juga ruang untuk memperkuat ekosistem kebudayaan melalui pertukaran pengetahuan, pengembangan kreativitas, regenerasi, dokumentasi, dan pertemuan antarpelaku budaya.
FMTI 2026 mempertemukan seniman, komunitas, akademisi, generasi muda, pemerintah, dan masyarakat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pertunjukan musik tradisi, seminar dan diskusi kebudayaan, apresiasi bagi pelaku seni, hingga dokumentasi dan publikasi.
Program tersebut terlaksana atas dukungan Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola DAKB tahun 2026.
Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon, M.Sc., menyampaikan FMTI menjadi bagian dari upaya memastikan musik tradisi tetap hidup, berkembang, serta memiliki ruang yang relevan di tengah perubahan zaman.
“Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, sebagai bagian dari mega diversity yang menjadi kekuatan bangsa. Melalui Festival Musik Tradisi Indonesia, kami ingin memperluas ruang bagi komunitas, seniman, generasi muda, dan masyarakat di berbagai daerah untuk terus merawat sekaligus mengembangkan musik tradisi,” ujar Fadli Zon.
Menurutnya, kehadiran FMTI di berbagai daerah juga menjadi bagian dari upaya membangun pemajuan ekosistem kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat. Musik tradisi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus menjadi sumber kreativitas dan inspirasi bagi kebudayaan Indonesia di masa depan.
Tradisi yang Hidup dan Berkembang
FMTI menghadirkan dua spektrum yang berjalan berdampingan. Pertama, musik tradisi yang diwariskan dan dipresentasikan dalam konteks kehidupan komunitas asalnya. Kedua, karya yang mengembangkan warisan tersebut melalui pendekatan kreatif yang relevan dengan perkembangan musik masa kini.
Sejak 2021, FMTI telah diselenggarakan di sejumlah daerah, antara lain Danau Toba, Tidore, Kutai Kartanegara, Lampung, Bukittinggi, Banjarmasin, dan Jepara pada 2025.
Pendekatan tersebut membuat FMTI tidak berhenti pada pertunjukan. Festival turut membuka ruang apresiasi dan inovasi artistik sekaligus berhubungan dengan ekonomi kreatif, pariwisata budaya, usaha mikro dan kecil, kuliner lokal, jasa pertunjukan, serta berbagai sektor pendukung penyelenggaraan.
Seminar, diskusi, publikasi, dan dokumentasi juga menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan musik tradisi, strategi pelestarian, inovasi artistik, kebijakan kebudayaan, serta pemanfaatan teknologi digital.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menjelaskan FMTI tidak semata-mata ditempatkan sebagai panggung pertunjukan.
“FMTI tidak semata-mata ditempatkan sebagai panggung pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem musik tradisi secara menyeluruh. Sepuluh daerah yang menjadi lokasi penyelenggaraan FMTI 2026 memperlihatkan keragaman konteks, praktik, pengetahuan, dan ekspresi musikal yang tumbuh di berbagai wilayah Indonesia,” jelas Ahmad Mahendra.
Ia menyampaikan pertemuan antarkomunitas, seniman, generasi muda, pemerintah, akademisi, dan masyarakat diharapkan membuka ruang pertukaran pengetahuan serta pengalaman sekaligus memperkuat jejaring antarpelaku musik tradisi.
“Dengan pendekatan tersebut, penguatan musik tradisi tidak berhenti pada penyelenggaraan festival, tetapi dapat berlanjut pada keberlangsungan praktik, regenerasi pelaku, pengembangan kreativitas, serta pemanfaatan musik tradisi dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.
Memaknai “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara”
Direktur Kreatif FMTI, Joko S Gombloh, menjelaskan tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara” memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan keberadaan musik tradisi sebagai bagian dari ingatan dan kehidupan masyarakat.
Menurutnya, kata “merajut” menggambarkan upaya aktif menyambungkan berbagai fragmen tradisi musik yang tersebar di Nusantara melalui pertemuan, dialog, dan pertukaran pengalaman.
“Kata ‘merajut’ melambangkan upaya aktif untuk menyambungkan kembali berbagai fragmen tradisi musik yang tersebar di seluruh Nusantara. Merajut merupakan proses yang memerlukan ketelitian, kesabaran, keterhubungan, dan kebersamaan,” kata Gombloh.
Dalam konteks FMTI, merajut berarti mempertemukan berbagai komunitas, seniman, akademisi, generasi muda, pemerintah, dan masyarakat dalam ruang dialog yang saling menguatkan.
Sementara itu, “bayang-bayang musik Nusantara” merujuk pada jejak budaya yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Jejak tersebut hadir dalam ritual adat, bahasa, cerita rakyat, lanskap alam, etika, spiritualitas, hingga pengetahuan lokal.
“Musik tradisi tidak berhenti ketika bunyi selesai diperdengarkan, tetapi terus hidup sebagai warisan nilai, etika, spiritualitas, serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” jelas Gombloh.
Tema tersebut sekaligus menjadi refleksi terhadap perubahan bentuk, fungsi, dan ruang hidup musik tradisi di tengah globalisasi serta transformasi digital. FMTI mengajak masyarakat membaca kembali jejak tersebut, memahami akar budayanya, dan menghadirkan musik tradisi sebagai sumber inspirasi bagi kebudayaan masa depan tanpa kehilangan identitasnya.
Sepuluh Daerah Menjadi “Indonesia Kecil”
FMTI 2026 akan diselenggarakan di 10 daerah yang diposisikan sebagai “Indonesia Kecil”. Pemilihan daerah tersebut menjadi bagian dari upaya membaca keragaman musik tradisi Indonesia melalui ruang-ruang lokal tempat tradisi masih hidup dalam keseharian masyarakat.
Rangkaian FMTI 2026 dimulai di Bogor pada 3 Oktober 2026 melalui tema Sangitaloka “Bambu dan Bunyi Ritus”. Kegiatan berlangsung di Lapangan Parkir VVIP Pakansari dengan mengangkat bambu sebagai instrumen sekaligus bagian dari ruang sosial, ekologis, dan ritual.
Berikutnya, Wonosobo pada 17 Oktober 2026 mengangkat tema “Gong Culture: Diaspora dan Resonansi Gamelan” di Lapangan Garung. Tema ini menempatkan gong sebagai bunyi, simbol ritus, kolektivitas, dan medium pengetahuan.
Maumere, Nusa Tenggara Timur, menjadi lokasi berikutnya pada 23 dan 24 Oktober 2026 di Pusat Jajanan dan Cendera Mata melalui tema “Gong Ha Lin Dobo Waning Ha Hagong Gong Nawang”. Program tersebut menempatkan Gong Waning sebagai salah satu unsur yang memperkaya tenunan musik Nusantara.
Di Makassar, FMTI digelar pada 28 dan 29 Oktober 2026 di Fort Rotterdam dengan tema “Re’rasa”, yang mengangkat ruang transisi musikal untuk membuka pengembangan, interpretasi, dan improvisasi.
Selanjutnya, Kuningan pada 7 November 2026 mengangkat tema “Wantun Wirahma Si Windu” di Lapangan Pandapa. Tema tersebut menghubungkan musik dengan ekologi, spiritualitas, dan tradisi agraris Sunda.
Aceh menjadi lokasi FMTI pada 14 dan 15 November 2026 di Lapangan Pacuan Kuda Takengon melalui tema “Sara Ati Saboh Nanggroe”. Program ini menyoroti keberagaman musik Aceh dan perjumpaan budaya yang berkembang di kawasan Samudra Hindia.
Memasuki Desember, Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjadi lokasi penyelenggaraan pada 5 Desember 2026 di Teras Udayana dengan tema “Sangkep Gending: Bunyi Bersua, Harmoni Bertumbuh”. Tema tersebut menjadi ruang perjumpaan praktik, pelaku, dan komunitas musik tradisi.
Rangkaian selanjutnya berlangsung di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Januari 2027 di Rumah Radakng melalui tema “Rentak Talino Sunge Kapuas”. Tema tersebut merepresentasikan hubungan manusia, budaya, dan Sungai Kapuas sebagai ruang hidup.
Kemudian Bengkulu menjadi lokasi FMTI pada 16 dan 17 April 2027 di Lapangan Merdeka (View Tower) dengan tema “Berendo: Bunyian Perkusi Ritmis Global”. Tema ini menempatkan musik perkusi sebagai ruang pertemuan lintas budaya.
Rangkaian FMTI ditutup di Batusangkar, Sumatera Barat, pada Mei 2027 di Lapangan Cindua Mato melalui tema “Pitunang”. Program tersebut mengangkat tradisi vokal, bunyi, serta pewarisan identitas Minangkabau.
Dari Daerah untuk Peta Musik Tradisi Indonesia
Rangkaian FMTI 2026 diarahkan untuk membangun pembacaan terhadap peta musik tradisi Indonesia dari ruang-ruang lokal. Sepuluh daerah yang menjadi lokasi kegiatan mempertemukan praktik musik, pengetahuan, komunitas, generasi, dan jejaring kebudayaan dalam satu proses yang saling terhubung.
Melalui pendekatan tersebut, FMTI menjadi ruang perjumpaan berbagai bentuk ekspresi musik tradisi sekaligus membuka peluang penguatan jejaring antarpelaku budaya.
Festival ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan warisan budaya dengan kreativitas generasi masa kini. Pertukaran pengetahuan, regenerasi, dokumentasi, publikasi, dan pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian dari proses menjaga keberlanjutan musik tradisi.
Dengan demikian, FMTI 2026 tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik tradisi, tetapi menjadi wahana merajut musik Nusantara yang majemuk, dinamis, dan tersebar di berbagai titik Indonesia sekaligus memperkuat keberlanjutan musik tradisi dalam kehidupan masyarakat. (Sofyan)
Baca juga: Wakil Walikota Astrid Widayani Ajak Gen-Z Bangun Gaya Hidup Halal, Cerdas dan Sehat
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...









