GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
Melepas Luka, Menata Hati, Ustadz Dwi Jatmiko Ingatkan Pentingnya Keseimbangan Dunia dan Akhirat
SOLO – majalahlarise.com – Doa agar hidup semakin berkecukupan, diberikan kesehatan, serta memperoleh kesempatan menunaikan ibadah umrah dan haji mengundang senyum dan antusiasme jamaah Majelis Taklim Al Khoiriyah di Masjid Barokah, Joyotakan, Serengan, Solo, Minggu (8/11/2026).
Doa tersebut disampaikan Dwi Jatmiko, Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, saat memberikan tausiyah dalam kajian bertajuk Melepas Luka, Menata Hati yang diselenggarakan Majelis Taklim Al Khoiriyah.
Saat mengajak jamaah menjawab salam, Jatmiko menyelipkan doa yang dekat dengan harapan banyak orang. Ia mendoakan jamaah agar mendapatkan kekayaan, kesehatan fisik dan rohani, serta kecukupan ekonomi sehingga mampu berangkat ke Tanah Suci.
“Yang menjawab salam, semoga tambah kaya, tambah sehat. Sehat fisiknya, sehat rohaninya, sehat ekonominya, bisa umrah dan haji,” ujar Jatmiko sambil tersenyum.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SD Muhammadiyah 1 Solo tersebut menjelaskan, kesuksesan hidup tidak hanya diukur dari kekayaan materi. Hubungan manusia dengan Allah SWT (habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (habluminannas) juga harus berjalan seimbang.
Untuk membangun kehidupan sosial yang harmonis, ia mengajak jamaah menerapkan prinsip hidup 5T. Kelima prinsip tersebut meliputi ta'aruf atau saling mengenal, tafahum atau saling memahami, ta'awun atau saling tolong-menolong, takaful atau saling meringankan beban, serta tasamuh atau saling toleransi.
“Mari terapkan hidup 5T. T yang pertama adalah ta'aruf, saling mengenal. T yang kedua adalah tafahum, artinya saling memahami. T yang ketiga ta'awun, saling tolong-menolong. T yang keempat adalah takaful, artinya saling meringankan satu sama lain. T yang kelima tasamuh, saling toleransi,” bebernya.
Menurut Jatmiko, kelima prinsip tersebut menjadi bekal penting dalam membangun hubungan yang baik di tengah masyarakat. Seseorang tidak cukup hanya mengejar keberhasilan pribadi, tetapi juga perlu menghadirkan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya.
Dalam kajian tersebut, ia juga mengajak jamaah memandang kekayaan, kesehatan, dan ketenangan batin sebagai bagian dari kesuksesan yang perlu berjalan beriringan. Keimanan dan ketakwaan harus menjadi fondasi agar manusia tidak terjebak dalam mengejar kesenangan dunia semata.
“Semoga bisa umrah, bisa haji, depositonya bertambah,” lanjutnya seraya mendoakan jamaah agar mendapatkan keberhasilan dalam kehidupan dunia maupun akhirat.
Pesan tersebut sejalan dengan kandungan Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 201 yang mengajarkan umat Islam untuk memohon kebaikan di dunia, kebaikan di akhirat, serta perlindungan dari siksa neraka.
Melalui kajian Melepas Luka, Menata Hati, jamaah diajak memahami pentingnya berdamai dengan masa lalu, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Kekayaan dan kecukupan ekonomi memang menjadi harapan dalam kehidupan. Namun, semua itu perlu disertai hati yang tenang, kepedulian sosial, dan ibadah yang semakin kuat.
“Sebab, deposito boleh bertambah. Kekayaan boleh meningkat. Namun, jangan sampai hati justru kehilangan ketenangan dan kehidupan akhirat terlupakan,” pungkasnya. (Sofyan)
Baca juga: SMP Negeri 4 Wonogiri Bangun Budaya Gemar Membaca, Wujudkan Generasi Literat
Pendidikan
![]() |
| Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005–2015 saat menyampaikan tausiyah. |
12.500 Guru Muhammadiyah se-Jawa Tengah Ikuti Silaturahmi Akbar FGM di Edutorium UMS
SURAKARTA – majalahlarise.com – Sebanyak kurang lebih 12.500 guru Muhammadiyah dari berbagai daerah di Jawa Tengah mengikuti Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah (FGM) di Edutorium Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Sabtu (7/11/2026). Kegiatan berskala regional ini menjadi momentum mempererat persaudaraan, memperkuat ideologi Muhammadiyah, sekaligus meningkatkan kompetensi dan profesionalisme guru.
Silaturahmi akbar tersebut menghadirkan sejumlah tokoh pendidikan nasional, di antaranya Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah periode 2005–2015, dan Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Dalam tausiyahnya, Din Syamsuddin menyampaikan guru merupakan sosok pencerah yang memiliki tanggung jawab mencerahkan umat. Menurutnya, pendidik menjadi salah satu faktor penting dalam keberhasilan pendidikan karena berperan membentuk peserta didik yang berkualitas.
Ia mengingatkan guru Muhammadiyah agar menjadi pribadi yang siap jadi sekaligus siap pakai. Hal tersebut tidak hanya berkaitan dengan penguasaan materi pembelajaran, tetapi juga kemampuan menerapkan metode pengajaran secara tepat.
"Jadilah guru yang siap jadi, siap pakai. Artinya, guru Muhammadiyah menjadi insan yang mempunyai kompetensi. Tidak cukup menguasai materi, tetapi juga piawai dalam menerapkan metode pengajaran," ungkapnya.
Din juga menjelaskan tugas guru tidak sebatas mengajarkan ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, guru harus mendidik peserta didik melalui penanaman hikmah, kebijaksanaan, adab, etika, dan akhlak sebagai landasan dalam kehidupan.
Pendekatan tersebut ia istilahkan sebagai Prophetic Teaching atau pengajaran profetik. Menurutnya, guru tidak cukup hanya menerapkan konsep deep learning yang meliputi mindful, meaningful, dan joyful learning, tetapi juga harus menjalankan peran sebagai pendidik yang berlandaskan nilai-nilai kenabian.
"Saya mengistilahkannya sebagai Prophetic Teaching. Guru tidak hanya menerapkan konsep deep learning yang meliputi mindful, meaningful, dan joyful learning, tetapi juga harus menguasai peran sebagai pendidik," ujarnya.
Din berharap silaturahmi akbar tersebut mampu mendorong kemajuan pendidikan Muhammadiyah di Jawa Tengah. Ia menyebut guru sebagai ujung tombak pendidikan sekaligus agen peradaban, pembangunan, dan penyiap generasi emas Indonesia.
Karena itu, guru Muhammadiyah diharapkan mampu menjalankan peran strategis tersebut secara optimal. Ia juga mendorong Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah agar menyelenggarakan kegiatan serupa di berbagai daerah lainnya.
Sementara itu, Dirjen GTK Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., mengapresiasi penyelenggaraan Silaturahmi Akbar Forum Guru Muhammadiyah Jawa Tengah. Ia menyampaikan pemerintah mendukung kegiatan yang menjadi wadah komunikasi sekaligus pengembangan profesionalisme guru.
"Kami sangat senang dan mendukung adanya kegiatan silaturahmi Forum Guru Muhammadiyah," ujarnya.
Nunuk menjelaskan FGM merupakan salah satu organisasi profesi guru yang telah terdaftar untuk mendapatkan fasilitasi dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan.
Keberadaan forum tersebut diharapkan mampu memperkuat komunikasi antarguru sekaligus menjadi sarana penyampaian informasi mengenai kebijakan terbaru pemerintah di bidang pendidikan.
Dalam arahannya, Nunuk juga mengajak penyelenggara pendidikan swasta dan pemerintah memperkuat kolaborasi, khususnya dalam meningkatkan kualitas serta kesejahteraan guru.
"Ada beberapa hal yang dapat kita gotong royongkan antara penyelenggara pendidikan swasta dan pemerintah. Salah satunya adalah peningkatan kualitas guru, khususnya seluruh guru Muhammadiyah, serta hal-hal yang berkaitan dengan kesejahteraan guru," tuturnya.
Ia menyampaikan pemerintah terus berupaya meningkatkan kesejahteraan guru. Bagi guru yang belum menerima manfaat kebijakan tersebut karena kendala pendataan atau belum memiliki sertifikat pendidik, FGM diharapkan membantu melakukan koordinasi dan pendataan.
Nunuk juga mendorong agar guru yang belum berkualifikasi sarjana maupun belum memiliki sertifikat pendidik mendapatkan perhatian. Dengan demikian, mereka memiliki kesempatan meningkatkan kualifikasi akademik, profesionalisme, dan kesejahteraan.
"Selamat kepada Forum Guru Muhammadiyah Jawa Tengah atas terselenggaranya kegiatan Silaturahmi Regional tersebut," ucapnya.
Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Tengah sekaligus Direktur Kepala Sekolah, Pengawas Sekolah, dan Tenaga Kependidikan Kementerian Pendidikan, Dr. Iwan Junaedi, S.Si., M.Pd., menyampaikan kegiatan tersebut memiliki arti penting dalam memperkuat ideologi Muhammadiyah dan menggerakkan para guru dalam menjalankan profesinya.
Menurutnya, pertemuan guru dalam jumlah besar dapat mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat semangat perjuangan dan daya saing guru Muhammadiyah. Momentum tersebut diharapkan membangkitkan semangat para pendidik, terlebih kegiatan dilaksanakan pada bulan peringatan Hari Guru.
"Berkumpulnya para guru dalam wadah seperti ini menjadi kekuatan tersendiri, baik secara internal di lingkungan Muhammadiyah maupun dalam memperkuat eksistensi guru Muhammadiyah di kancah nasional. Terlebih di Jawa Tengah, eksistensi guru Muhammadiyah diharapkan semakin diakui sebagai bagian penting dalam membangun bangsa menuju Indonesia Emas," ujarnya.
Ketua Pimpinan Pusat Forum Guru Muhammadiyah (FGM), Sutomo, M.Ag., menyebut November 2026 menjadi momentum istimewa bagi guru Muhammadiyah di Jawa Tengah. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada para guru untuk memperoleh wawasan dan pembelajaran langsung dari sejumlah tokoh pendidikan nasional.
Kehadiran Rektor UMS Prof. Dr. Harun Joko Prayitno, M.Hum., Prof. Dr. Din Syamsuddin, Prof. Dr. Nunuk Suryani, Ketua Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) Didik Suhardi, Ph.D., serta sejumlah rektor dan pimpinan perguruan tinggi memberikan motivasi bagi para guru untuk terus meningkatkan kualitas profesinya.
Sutomo juga mengungkapkan salah satu kesempatan menarik dalam kegiatan tersebut adalah tawaran beasiswa potongan biaya pendidikan sebesar 50 persen bagi guru Muhammadiyah yang ingin melanjutkan studi di UMS.
"Bagaimana menjadi guru yang profesional dan sejahtera tentu telah diuraikan dalam kegiatan ini. Selain itu, ada hal yang tidak kalah menarik, yaitu beasiswa sebesar 50 persen bagi guru Muhammadiyah yang ingin melanjutkan studi di UMS. Kesempatan ini dibuka seluas-luasnya oleh Rektor UMS, Prof. Harun," ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut menjadi pemacu semangat bagi FGM untuk terus bergerak dan memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pendidikan Muhammadiyah.
Melalui silaturahmi akbar ini, para guru diharapkan semakin termotivasi meningkatkan kompetensi dan kualifikasi akademik. Upaya tersebut diharapkan berdampak pada peningkatan profesionalisme, kesejahteraan guru, serta kualitas pendidikan Muhammadiyah dalam menyiapkan generasi unggul menuju Indonesia Emas. (Sofyan)
Baca juga: Lewat Kreasi Wayang Mini, Komunikotavisual Ajak Seratusan Siswa SD Rayakan Hari Wayang Dunia
Pendidikan
![]() |
| Narasumber Mawan Tri Hananto, S.STP., M.Si Kadinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kab. Wonogiri. saat memberikan materi pembiasaan gemar membaca dan pemanfaatan perpustakaan. |
SMP Negeri 4 Wonogiri Bangun Budaya Gemar Membaca, Wujudkan Generasi Literat
WONOGIRI – majalahlarise.com – SMP Negeri 4 Wonogiri terus mendorong tumbuhnya budaya literasi di lingkungan sekolah melalui pembiasaan gemar membaca dan pemanfaatan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar. Sabtu (7/11/2026). Kegiatan yang menghadirkan narasumber Mawan Tri Hananto, S.STP., M.Si Kadinas Kearsipan dan Perpustakaan Daerah Kab. Wonogiri ini sebagai upaya untuk membentuk peserta didik yang memiliki wawasan luas, kemampuan berpikir kritis, serta kreativitas dalam menghadapi tantangan masa depan.
Kepala SMP Negeri 4 Wonogiri, Saleha, S.Pd., M.Pd., menjelaskan, budaya membaca perlu dibangun melalui pembiasaan yang dilakukan secara konsisten. Membaca tidak hanya menjadi aktivitas untuk memperoleh informasi, tetapi juga menjadi sarana mengembangkan pengetahuan, memperluas wawasan, dan membentuk pola pikir peserta didik.
Menurutnya, sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya kebiasaan membaca. Salah satunya dengan mengajak seluruh warga sekolah untuk menjadikan perpustakaan sebagai tempat belajar yang menyenangkan dan sumber inspirasi.
"Budaya gemar membaca perlu ditumbuhkan melalui pembiasaan sehari-hari. Peserta didik perlu diberikan kesempatan dan dorongan untuk membaca berbagai bahan bacaan sesuai minatnya sehingga membaca menjadi kebutuhan dan kebiasaan positif," demikian pesan yang dapat dirumuskan dari program literasi SMP Negeri 4 Wonogiri.
Saleha menjelaskan, keberadaan perpustakaan sekolah memiliki peran strategis dalam mendukung proses pembelajaran. Berbagai koleksi buku dan sumber bacaan dapat dimanfaatkan peserta didik untuk menggali pengetahuan, menemukan informasi baru, serta mengembangkan potensi diri sesuai minat dan bakat masing-masing.
Melalui pemanfaatan perpustakaan, peserta didik juga didorong untuk mengembangkan kemampuan belajar secara mandiri. Pengetahuan tidak hanya diperoleh melalui pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga melalui kegiatan membaca dan mengeksplorasi berbagai sumber informasi.
Pembiasaan membaca diharapkan mampu membangun karakter peserta didik yang memiliki rasa ingin tahu tinggi, terbuka terhadap pengetahuan baru, serta mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif.
Kebiasaan membaca juga menjadi investasi pengetahuan bagi masa depan. Semakin banyak informasi dan pengetahuan yang diperoleh melalui kegiatan membaca, semakin luas pula wawasan yang dimiliki peserta didik.
Melalui gerakan budaya gemar membaca dan optimalisasi perpustakaan, SMP Negeri 4 Wonogiri berharap dapat mewujudkan generasi yang cerdas, berwawasan luas, memiliki kemampuan literasi yang baik, serta siap menghadapi perkembangan zaman.
Semangat yang dibangun sekolah tersebut terangkum dalam pesan, membaca sebagai budaya, perpustakaan sebagai sahabat, dan pengetahuan sebagai bekal meraih masa depan yang cerah.
Baca hari ini, raih masa depan cerah! (Sofyan)
Baca juga: Lewat Kreasi Wayang Mini, Komunikotavisual Ajak Seratusan Siswa SD Rayakan Hari Wayang Dunia
Pendidikan
Lewat Kreasi Wayang Mini, Komunikotavisual Ajak Seratusan Siswa SD Rayakan Hari Wayang Dunia
SURAKARTA – majalahlarise.com – Suasana aula SD Negeri Dadapsari, Pasar Kliwon, Surakarta, tampak ramai oleh aktivitas kreatif seratusan siswa kelas V dan VI. Dengan berbekal spidol, pensil warna, krayon, gunting, dan perekat, mereka antusias membuat wayang mini dengan beragam karakter tokoh pewayangan, seperti Petruk, Arjuna, Werkudara, dan tokoh lainnya.
Satu per satu hasil karya siswa ditancapkan pada debog atau batang pohon pisang yang biasa digunakan dalam pementasan wayang kulit. Sambil memperlihatkan hasil karyanya, para siswa tampak tersenyum dan saling bercerita tentang wayang mini yang telah mereka buat.
Kegiatan kreatif tersebut digagas Komunikotavisual bekerja sama dengan Sanggar Omah Wayang Mas Kamto, Sukoharjo, dalam rangka menyambut Hari Wayang Dunia 2026 yang diperingati setiap 7 November. Kegiatan berlangsung pada Jumat (6/11/2026) di aula SD Negeri Dadapsari, Pasar Kliwon, Surakarta.
Mengusung pendekatan edukasi yang menyenangkan, kegiatan ini menjadi sarana mengenalkan seni tradisi wayang kepada anak-anak melalui aktivitas mewarnai, menggunting, dan menempel. Dengan cara tersebut, siswa tidak hanya mengenal bentuk dan karakter tokoh pewayangan, tetapi juga berkesempatan mengekspresikan kreativitas melalui karya seni.
Co-founder Komunikotavisual sekaligus penggagas kegiatan, Basnendar Herry Prilosadoso, mengungkapkan kegiatan tersebut merupakan salah satu upaya menyambut Hari Wayang Dunia 2026 sekaligus mendekatkan seni pewayangan kepada generasi muda.
“Melalui aksi kreatif ini, kami ingin mengenalkan wayang kepada anak-anak dengan cara berkreasi dan berekspresi. Mereka diajak mewarnai, menggunting, kemudian memasang gapit sederhana dari tusuk sate sehingga menjadi wayang mini,” ungkap Basnendar.
Ia menjelaskan, kegiatan kreatif semacam ini juga menjadi bagian dari program rutin Komunikotavisual sebagai komunitas yang memiliki perhatian terhadap edukasi masyarakat melalui beragam pendekatan seni dan budaya.
Selain praktik membuat wayang mini, para siswa juga mendapatkan pengenalan tokoh dan cerita pewayangan melalui edukasi pedalangan bersama dalang Tri Haryoko dari Sanggar Omah Wayang Mas Kamto.
Kegiatan diawali dengan mengajak para siswa menyanyikan sejumlah tembang dolanan anak, seperti Menthog-Menthog dan tembang tradisional lainnya. Suasana berlangsung interaktif sehingga siswa dapat mengikuti kegiatan dengan lebih santai sebelum memasuki sesi pengenalan dunia pewayangan.
Kepala SD Negeri Dadapsari, Nuning Harmini, menyambut positif kegiatan tersebut. Menurutnya, penggunaan media miniatur wayang memberikan pengalaman belajar yang menarik karena siswa dapat mengenal tokoh pewayangan sekaligus membuat karya berdasarkan kreativitas masing-masing.
“Melalui kegiatan ini, siswa lebih merasakan. Oh, wayang yang saya pegang ini namanya Petruk, salah satu tokoh Punakawan. Kemudian diwarnai. Mewarnai berarti ada rasa seni,” ungkap Nuning di sela-sela kegiatan.
Ia menjelaskan, siswa terlebih dahulu mewarnai pola miniatur wayang sesuai imajinasi masing-masing. Selanjutnya, pola digunting mengikuti bentuk tokoh, kemudian dipasangi gapit sederhana dari tusuk sate sebagai pegangan wayang.
Wayang mini yang telah selesai dibuat kemudian ditancapkan pada debog sehingga menyerupai penempatan wayang dalam pertunjukan wayang kulit.
Melalui kegiatan tersebut, siswa mendapatkan pengalaman belajar yang memadukan seni rupa, keterampilan tangan, pengenalan budaya, dan pengetahuan tentang tokoh pewayangan.
Kreasi wayang mini ini sekaligus menjadi bentuk pendekatan pelestarian budaya yang melibatkan anak-anak secara langsung. Dengan memberikan ruang untuk mengenal, membuat, dan memainkan hasil karyanya, seni tradisi wayang diharapkan semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.
Peringatan Hari Wayang Dunia pun tidak hanya menjadi momentum mengenang kekayaan seni pertunjukan tradisional Indonesia, tetapi juga kesempatan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya bangsa sejak usia sekolah. (Sofyan)
Baca juga: SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Gelar Parenting Akbar, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah
Pendidikan
![]() |
| Murid mengamati aktivitas pedagang saat menimbang barang, berkenalan dengan pedagang, serta mengajukan pertanyaan seputar berat barang dan jumlah minimal pembelian. |
Belajar Matematika di Pasar Jongke, 81 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Praktik Menimbang
SOLO – majalahlarise.com – Belajar matematika tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Sebanyak 81 murid kelas III SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan outing class di Pasar Jongke, Jalan Dr. Rajiman, Pajang, Laweyan, Rabu (4/11/2026). Dalam kegiatan tersebut, murid mempraktikkan secara langsung materi pengukuran berat melalui aktivitas jual beli di pasar tradisional.
Mengusung tema “Conversations in Culture: An Interactive English Adventure at Pasar Jongke”, kegiatan ini memadukan pembelajaran matematika, pengenalan budaya pasar tradisional, serta praktik berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.
Guru Matematika kelas III, Ratih Laila Rahmawati, menjelaskan kegiatan tersebut dirancang untuk membantu murid memahami satuan berat baku, seperti kilogram, ons, dan gram. Selain itu, murid dikenalkan dengan berbagai jenis timbangan dan diajak mempraktikkan cara membaca hasil pengukuran secara langsung.
“Mengajak murid terjun langsung ke pasar tradisional membuat konsep matematika terasa nyata, kontekstual, dan menyenangkan,” ungkap Ratih.
Sebelum keberangkatan, murid dibagi menjadi enam kelompok dan mendapatkan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) sebagai panduan kegiatan. Setiap kelompok didampingi seorang guru untuk memastikan seluruh rangkaian pembelajaran berjalan tertib dan aman.
Murid juga membawa perlengkapan berupa alat tulis, uang saku secukupnya, serta tas belanja kain. Penggunaan tas belanja tersebut sekaligus menjadi sarana edukasi untuk membangun kebiasaan mengurangi penggunaan kantong plastik.
Setibanya di Pasar Jongke, guru memberikan arahan mengenai keselamatan dan tata tertib selama berada di lingkungan pasar. Murid kemudian dikenalkan dengan berbagai jenis timbangan yang biasa digunakan pedagang, mulai dari timbangan jarum, timbangan digital, hingga timbangan dacin.
Petualangan belajar semakin menarik ketika setiap kelompok mulai menjalankan misi pembelajaran. Murid mengamati aktivitas pedagang saat menimbang barang, berkenalan dengan pedagang, serta mengajukan pertanyaan seputar berat barang dan jumlah minimal pembelian.
Mereka juga mendapatkan tantangan berbelanja dengan target berat tertentu sesuai petunjuk dalam LKPD. Melalui aktivitas tersebut, murid belajar menghubungkan teori pengukuran berat dengan praktik transaksi jual beli dalam kehidupan sehari-hari.
Menariknya, kegiatan ini menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, baik dalam penyampaian instruksi maupun lembar kerja. Penggunaan bahasa Inggris tersebut menjadi bagian dari penguatan program International Class Program (ICP) yang dikembangkan SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo.
Salah satu murid, Muhammad Arkan Alfariq, mengaku senang mendapatkan pengalaman belajar langsung di Pasar Jongke. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru karena dapat mengenal aktivitas pedagang sekaligus mempraktikkan materi matematika.
“Senang sekali bisa belajar di Pasar Jongke. Aku jadi tahu cara pedagang menimbang barang dan bisa praktik langsung membeli singkong. Pasarnya juga bagus dan menarik. Semoga kita bisa sering belajar di luar kelas seperti ini,” tuturnya.
Setelah menyelesaikan seluruh misi pembelajaran di Pasar Jongke, kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan rekreasi ke The Honduras, Ponggok, Klaten. Di lokasi tersebut, murid menikmati berbagai wahana permainan sebelum kembali ke Solo.
Melalui kegiatan outing class ini, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo berharap murid semakin memahami materi pelajaran melalui pengalaman nyata, memiliki keterampilan berkomunikasi, serta menumbuhkan kepedulian terhadap keberadaan pasar tradisional dan para pelaku usaha kecil.
Pembelajaran di luar kelas tersebut menjadi pengalaman edukatif yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan kehidupan sehari-hari. Matematika tidak sekadar dipelajari melalui angka dan rumus, tetapi juga dipraktikkan secara langsung dalam aktivitas masyarakat. (Sofyan)
Baca juga: SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Gelar Parenting Akbar, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah
Pendidikan
SMPN 8 Kota Surakarta Raih Dua Juara 1 dalam Lomba MAPKAT Tingkat Kota Surakarta 2026
SURAKARTA – majalahlarise.com – Siswa SMP Negeri 8 Kota Surakarta menorehkan prestasi membanggakan dalam Lomba Mata Pelajaran Agama Katolik (MAPKAT) tingkat SMP negeri dan swasta Kota Surakarta Tahun 2026. Dalam kompetisi yang berlangsung Kamis (8/10/2026) di SMA Pangudi Luhur Santo Yosep Kota Surakarta tersebut, kontingen SMPN 8 Surakarta berhasil meraih dua gelar juara pertama.
Dua prestasi yang berhasil diraih yakni Juara 1 Lomba Cerdas Cermat dan Juara 1 Bertutur Ardas Putri. Capaian tersebut menjadi kebanggaan sekaligus bukti semangat para siswa dalam mengembangkan pengetahuan, keterampilan, dan penghayatan nilai-nilai iman Katolik.
Sembilan siswa SMPN 8 Kota Surakarta yang mengikuti kegiatan tersebut yakni Marta Cicilia DN., Gisela Putri Selindra, Skolastika Vika E., Fransiscus Ambar Nugroho, Artanesha Nola P., Juan Rafa NR., Elisabeth Nandhya AP., Alexander Arrondya IB., dan Graciella Mahendra.
Pembina peserta, F. Nita Purwaningsih, S.Ag., yang merupakan Guru Pendidikan Agama Katolik SMPN 8 Kota Surakarta, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran kegiatan dan pencapaian yang diraih para siswa.
Menurutnya, kegiatan MAPKAT bukan sekadar ajang kompetisi untuk memperoleh penghargaan, melainkan kesempatan bagi peserta didik untuk mengembangkan potensi, keberanian, pengetahuan, dan kreativitas. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana untuk semakin menghayati nilai-nilai iman Katolik dalam kehidupan sehari-hari.
“Puji syukur, kegiatan Lomba Mata Pelajaran Pendidikan Agama Katolik SMP Kota Surakarta telah berlangsung dengan baik, penuh semangat, sukacita, dan kebersamaan. Pengalaman ini sangat berkesan, bukan hanya karena berhasil meraih Juara 1 Cerdas Cermat dan Juara 1 Bertutur Ardas Putri, tetapi juga karena memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengembangkan potensi dan keberanian mereka,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, kemenangan merupakan sebuah kebanggaan. Namun, proses, perjuangan, kerja sama, serta keberanian untuk mencoba memiliki nilai yang jauh lebih berharga. Karena itu, prestasi yang diraih diharapkan tidak membuat siswa cepat berpuas diri, tetapi menjadi motivasi untuk terus belajar dan bertumbuh menjadi pribadi yang rendah hati.
Bu Nita juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah memberikan dukungan, bimbingan, serta berkontribusi dalam menyukseskan keikutsertaan siswa SMPN 8 Surakarta dalam perlombaan tersebut.
Lebih lanjut, ia berharap kegiatan MAPKAT dapat terus diselenggarakan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak peserta dan sekolah.
“Kami berharap kegiatan seperti ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan untuk mencari juara, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan, persaudaraan, pengembangan talenta, serta penguatan iman bagi generasi muda Katolik. Semoga semakin banyak anak yang berani tampil, berkarya, dan menjadi saksi Kristus melalui talenta serta prestasi yang mereka miliki,” tuturnya.
Prestasi tersebut diharapkan menjadi awal dari semangat dan karya-karya baik berikutnya bagi para siswa SMPN 8 Kota Surakarta. Melalui kegiatan MAPKAT, peserta didik tidak hanya didorong untuk berprestasi secara akademis, tetapi juga bertumbuh dalam iman, mengembangkan talenta, serta menghadirkan nilai-nilai kebaikan bagi sesama.
Terus bertumbuh dalam iman, berprestasi dalam talenta, dan menjadi berkat bagi sesama menjadi pesan yang mengiringi keberhasilan para siswa dalam Lomba MAPKAT Kota Surakarta Tahun 2026.(Sofyan)
Baca juga: SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Gelar Parenting Akbar, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah
Pendidikan
![]() |
| Kegiatan Parenting Akbar dengan mengangkat tema “Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Anak Saleh dan Salehah". |
SMK Muhammadiyah 6 Gemolong Gelar Parenting Akbar, Perkuat Sinergi Orang Tua dan Sekolah
SRAGEN – majalahlarise.com – SMK Muhammadiyah 6 Gemolong, Sragen, menggelar kegiatan Parenting Akbar dengan mengangkat tema “Sinergi Orang Tua dan Sekolah dalam Mendidik Anak Saleh dan Salehah”. Kegiatan yang menghadirkan Ustaz Pujiono, pakar pendidikan dari Tim Diksuspala dan Penjamin Mutu Sekolah Muhammadiyah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, tersebut diikuti wali murid kelas X, XI, dan XII.
Kegiatan yang berlangsung di area parkiran sekolah ini menjadi momentum untuk memperkuat kolaborasi antara keluarga dan sekolah dalam mendampingi tumbuh kembang peserta didik, baik dari aspek akademik, karakter, maupun spiritual.
Kepala SMK Muhammadiyah 6 Gemolong, Umar Jahid, S.Pd., dalam sambutannya menyampaikan sejumlah program baru sekolah yang diarahkan untuk meningkatkan komunikasi dan keterlibatan orang tua dalam proses pendidikan putra-putrinya.
Menurut Umar, pendidikan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab sekolah, tetapi membutuhkan peran aktif keluarga. Orang tua memiliki posisi strategis dalam membangun karakter, membiasakan ibadah, menanamkan kedisiplinan, serta mengawasi pergaulan anak di lingkungan keluarga maupun masyarakat.
Dalam sesi parenting, Ustaz Pujiono yang juga Mudir Pondok Pesantren Muhammadiyah (PonpesMu) Manafiul Ulum Sambi mengajak orang tua memahami makna pendidikan secara lebih luas. Mendidik anak, menurutnya, bukan sekadar memastikan mereka berangkat sekolah, mendapatkan nilai bagus, atau lulus dengan ijazah.
Lebih dari itu, pendidikan merupakan ikhtiar bersama untuk melahirkan generasi yang beriman, beradab, mandiri, dan memiliki masa depan yang bermanfaat.
Ia menjelaskan, sinergi orang tua dan sekolah harus dibangun melalui komunikasi, keteladanan, kepercayaan, serta kesamaan visi dalam mendidik anak. Jangan sampai sekolah mengajarkan kebaikan, tetapi anak justru menyaksikan kebiasaan yang bertolak belakang ketika berada di rumah.
Begitu pula sebaliknya, orang tua berharap anak mengalami perubahan perilaku menjadi lebih baik, tetapi kurang memberikan pendampingan dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
“Sekolah tidak bisa bekerja sendirian. Orang tua juga tidak boleh menyerahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada guru. Anak membutuhkan kehadiran dan keteladanan keduanya. Jangan hanya bertanya berapa nilai anak di sekolah, tetapi tanyakan juga bagaimana ibadahnya, adabnya, pergaulannya, dan tanggung jawabnya,” menjadi pesan penting Ustaz Pujiono dalam kegiatan tersebut.
Sebagai lembaga pendidikan kejuruan, SMK Muhammadiyah 6 Gemolong memiliki empat kompetensi keahlian, yakni Farmasi Klinis dan Komunitas, Teknik Instalasi Tenaga Listrik (TITL), Teknik dan Bisnis Sepeda Motor (TBSM/TSM), serta Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKR).
Melalui berbagai kompetensi tersebut, sekolah berkomitmen mempersiapkan peserta didik agar memiliki keterampilan, kompetensi kerja, dan kesiapan menghadapi tantangan masa depan. Namun, kecakapan profesional juga harus diimbangi dengan kekuatan iman, akhlak, dan karakter yang baik.
Parenting Akbar ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi menjadi awal penguatan kemitraan antara sekolah dan keluarga. Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari banyaknya lulusan yang mendapatkan pekerjaan, tetapi juga dari lahirnya generasi yang saleh dan salehah, berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, SMK Muhammadiyah 6 Gemolong mengajak seluruh orang tua untuk terus mengambil bagian dalam perjalanan pendidikan anak. Sekolah mendidik, orang tua mendampingi, dan keduanya bersinergi mengantarkan generasi muda menuju masa depan yang diridhoi Allah SWT. (Sofyan)
Baca juga: Anak Hebat, Orangtua Terlibat Jadi Guru Inspirasi di SD Muhammadiyah 1 Solo
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
Walikota Respati saat berinteraksi dan berkomunikasi dengan penyandang disabilitas. Walikota Respati Upayakan Pengoptimalan Layanan dan Fasi...
-
Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kabupaten Boyolali. FGM Boyolali Siapkan Seminar Academic Make Up, Bekali Guru Keterampilan Rias Wajah Karakte...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Lomba catur memeriahkan HUT ke-81 PGRI. HUT ke-81 PGRI, Manyaran Gelar Lomba Olahraga, Seni Budaya hingga Jalan Sehat WONOGIRI – majalahlari...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...







