Narasumber Arif Priyanto, S.Pd.I., MCP dan Fahrudin, S.Pd., M.Pd., serta dipandu Mochammad Alwi, S.S., M.M.


    PKBM Syifa Surakarta Dorong Semangat Wirausaha melalui Program Prophetic Entrepreneurship

    SURAKARTA - majalahlarise.com – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Syifa Surakarta yang beralamat di Jl. Jamsaren No. 44 Serengan Surakarta mendorong tumbuhnya semangat kewirausahaan di kalangan generasi muda melalui workshop bertajuk Prophetic Entrepreneurship. Kegiatan yang digelar di Hotel Sahid Jaya, Solo, Rabu (21/10/2026), 

    Mengusung tema “Membentuk Pemimpin Muda yang Mandiri dan Berakhlak Mulia”, kegiatan ini menghadirkan narasumber Arif Priyanto, S.Pd.I., MCP dan Fahrudin, S.Pd., M.Pd., serta dipandu Mochammad Alwi, S.S., M.M. Materi yang disampaikan menggabungkan pembelajaran kewirausahaan, pengembangan karakter, kepemimpinan, dan pemanfaatan teknologi untuk membangun usaha.

    Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menjelaskan kegiatan tersebut bertujuan membekali siswa dengan kemampuan kewirausahaan agar tidak hanya berkembang secara akademis, tetapi juga memiliki kemandirian ekonomi.


    “Melalui kegiatan ini, kami berharap siswa tidak hanya mendapatkan pendidikan akademis, tetapi juga memiliki jiwa wirausaha. Mereka bisa mulai belajar berbisnis dari hal-hal sederhana, meskipun belum memiliki pengalaman atau kemampuan berwirausaha sebelumnya,” jelasnya.

    Menurut Puri, pengembangan kewirausahaan siswa dapat dimulai dari minat dan hobi masing-masing. Potensi yang dimiliki siswa perlu dikenali dan diarahkan agar dapat berkembang menjadi peluang usaha yang memiliki nilai ekonomi.

    PKBM Syifa Surakarta juga berkomitmen memberikan pendampingan agar siswa dapat mengembangkan gagasan bisnis secara bertahap. Dengan demikian, pembelajaran yang diperoleh dalam workshop tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Narasumber Arif Priyanto menjelaskan, konsep Prophetic Entrepreneurship mengajarkan kewirausahaan dengan meneladani sifat-sifat Rasulullah. Empat sifat tersebut meliputi siddiq atau jujur, amanah atau dapat dipercaya, tabligh atau menyampaikan kebenaran, serta fathanah atau cerdas.

    Menurut Arif, nilai-nilai tersebut perlu menjadi fondasi bagi generasi muda ketika mulai membangun dan menjalankan usaha. Keberhasilan dalam berwirausaha tidak semata-mata diukur dari keuntungan materi, tetapi juga dari integritas, tanggung jawab, dan manfaat yang diberikan kepada orang lain.

    “Anak-anak perlu belajar berwirausaha agar menjadi pribadi yang mandiri. Dalam menjalankan usaha, mereka harus meneladani sifat Rasulullah, yaitu siddiq, amanah, tabligh, dan fathanah. Dengan nilai-nilai tersebut, usaha yang dibangun diharapkan tidak hanya memberikan keberhasilan di dunia, tetapi juga membawa kebaikan untuk akhirat,” jelas Arif.

    Ia berharap pembekalan tersebut dapat mendorong siswa berani memulai usaha dan menerapkan ilmu yang diperoleh. Menurutnya, keberanian untuk mencoba menjadi bagian penting dalam proses belajar kewirausahaan.

    Arif juga mengingatkan perkembangan era digital telah membuka peluang usaha yang semakin luas. Generasi muda dapat memanfaatkan teknologi untuk memasarkan produk, menjangkau konsumen, serta mengembangkan bisnis tanpa harus selalu memiliki modal besar atau tempat usaha fisik.

    Karena itu, siswa didorong untuk segera mengambil langkah nyata sesuai kemampuan masing-masing. Pengalaman yang diperoleh sejak dini akan menjadi bekal untuk mengenali kebutuhan pasar, memahami karakter konsumen, dan meningkatkan keterampilan mengelola usaha.

    Sementara itu, Fahrudin menjelaskan generasi muda saat ini menghadapi persaingan yang semakin ketat seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi. Kondisi tersebut menuntut anak muda untuk mempersiapkan diri, baik dari sisi spiritual, psikologis, karakter, maupun keterampilan.

    Menurutnya, kedekatan dengan Allah, pembentukan karakter, peningkatan kompetensi, serta kejelasan tujuan hidup menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan masa depan.

    Fahrudin mengajak siswa menyusun target kehidupan setelah menyelesaikan pendidikan. Perencanaan dapat dimulai dengan menentukan tujuan yang ingin dicapai dalam satu, dua, hingga tiga tahun ke depan. Target tersebut menjadi panduan agar generasi muda memiliki arah yang jelas dalam mengembangkan potensi dan meraih cita-cita.

    Ia juga menyoroti pentingnya keberanian mengambil tindakan atau take action. Menurutnya, keinginan untuk sukses harus disertai langkah nyata, bukan sekadar menjadi angan-angan atau berhenti pada perkataan.

    “Mulailah dari diri sendiri, dari hal-hal kecil, dan mulai sekarang. Jangan hanya memiliki keinginan untuk sukses, tetapi tidak berani memulai. Kita harus berani mengambil tindakan karena dari proses tersebut kita bisa belajar,” jelas Fahrudin.

    Ia menambahkan, keraguan dalam memulai sesuatu sering muncul karena kurangnya keyakinan diri, pengetahuan, atau pengalaman. Oleh sebab itu, generasi muda perlu terus belajar, memperluas wawasan, dan berani mencoba hal-hal baru.

    Menurut Fahrudin, kesalahan dalam proses belajar dapat dijadikan bahan evaluasi untuk memperbaiki langkah berikutnya. Sementara itu, keputusan yang tepat dan disertai tindakan konsisten dapat membuka jalan menuju keberhasilan.

    Fahrudin menilai pembekalan kewirausahaan dan kepemimpinan memiliki peran penting dalam membuka wawasan serta mengarahkan potensi generasi muda. Setiap anak memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan, tetapi potensi tersebut memerlukan dukungan, fasilitas, dan pendampingan yang tepat.

    Melalui kegiatan ini, siswa diharapkan mampu mengenali kekuatan diri, mengembangkan keterampilan, membangun karakter positif, serta meningkatkan keberanian dalam mengambil keputusan.

    Pembelajaran kewirausahaan juga diharapkan menjadi sarana bagi siswa untuk melatih kreativitas, kemandirian, tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan persoalan. Bekal tersebut tidak hanya berguna ketika membangun bisnis, tetapi juga dalam menghadapi tantangan kehidupan dan mempersiapkan diri menjadi pemimpin.

    “Anak-anak memiliki potensi yang besar. Potensi itu perlu digali, diarahkan, difasilitasi, dan didorong melalui pendampingan yang tepat. Dengan pengetahuan, keterampilan, karakter, dan keberanian bertindak, mereka diharapkan mampu meraih kesuksesan serta memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa Indonesia,” ungkapnya.

    Workshop Prophetic Entrepreneurship yang diselenggarakan PKBM Syifa Surakarta ini menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga berani berwirausaha, mandiri, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral.

    Melalui perpaduan keterampilan bisnis, pemanfaatan teknologi, pembentukan karakter, dan keteladanan Rasulullah, siswa diharapkan mampu mengembangkan usaha sesuai minat dan potensinya serta tumbuh menjadi generasi yang produktif dan berakhlak mulia. (Sofyan)


    Baca juga: DKV ACT 12 Angkat Tema Sinambung, Kenalkan Seni Tradisi melalui Wiyata Njawani di Banjarsari Solo



    PMI Kota Surakarta Gelar Emergency Drilling di TKIU Al Khoir, Kenalkan Edukasi Kebencanaan Sejak Dini

    Surakarta - majalahlarise.com – Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Surakarta menggelar kegiatan emergency drilling di Taman Kanak-Kanak Islam Unggulan (TKIU) Al Khoir Surakarta, Rabu (21/10/2026). Kegiatan ini bertujuan mengenalkan edukasi kebencanaan kepada anak-anak sejak usia dini melalui simulasi dan praktik sederhana yang dikemas secara edukatif dan menyenangkan.

    Dalam kegiatan tersebut, anak-anak mendapatkan pembelajaran mengenai langkah-langkah dasar menghadapi bencana gempa bumi, banjir, dan kebakaran. Mereka juga diperkenalkan dengan cara memadamkan api serta fungsi dan peran ambulans PMI Kota Surakarta dalam memberikan pelayanan kemanusiaan.

    Sebanyak 168 anak mengikuti kegiatan ini. Peserta terdiri atas kelompok penitipan anak, kelompok bermain, TK A, dan TK B. Melalui simulasi tersebut, anak-anak diajak mengenali potensi bahaya di lingkungan sekitar sekaligus memahami tindakan dasar yang perlu dilakukan untuk menjaga keselamatan diri ketika menghadapi situasi darurat.

    Kepala Sekolah TKIU Al Khoir Surakarta, Arumi Martyastuti, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan kegiatan edukasi kebencanaan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi anak-anak, terutama dalam memahami keselamatan diri dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.

    “Harapannya, semoga PMI Kota Surakarta bisa memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat, terutama dalam bidang edukasi. Semoga juga bisa terjalin kerja sama kembali antara PMI Kota Surakarta dengan TKIU Al Khoir untuk pelatihan P3K dan dokter kecil,” ungkap Arumi Martyastuti.

    Arumi berharap, kolaborasi antara PMI Kota Surakarta dan TKIU Al Khoir dapat terus berlanjut melalui program edukasi lainnya. Pelatihan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K) dan dokter kecil menjadi salah satu bentuk kerja sama yang diharapkan dapat memberikan pemahaman kepada anak-anak mengenai pentingnya menjaga kesehatan, menolong sesama, dan menerapkan perilaku aman dalam kehidupan sehari-hari.

    Edukasi kebencanaan sejak dini menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran keselamatan di lingkungan pendidikan. Melalui metode simulasi dan praktik langsung, anak-anak dapat belajar mengenali situasi berbahaya serta memahami respons sederhana yang sesuai dengan usia dan kemampuan mereka.

    Selain memberikan pengetahuan, kegiatan emergency drilling juga menjadi sarana untuk membiasakan anak-anak mengikuti arahan ketika menghadapi keadaan darurat. Pendampingan guru dan petugas menjadi bagian penting agar proses pembelajaran berlangsung aman, mudah dipahami, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

    Melalui kegiatan ini, PMI Kota Surakarta terus mendorong pengenalan kesiapsiagaan bencana dan pertolongan pertama melalui kolaborasi dengan lembaga pendidikan. Upaya tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kepedulian terhadap keselamatan diri dan lingkungan sekaligus membangun budaya sadar bencana sejak usia dini.

    Kerja sama antara PMI dan sekolah menjadi langkah untuk memperluas jangkauan pendidikan kebencanaan di masyarakat. Dengan pembelajaran yang berkelanjutan dan sesuai tahap perkembangan anak, pengetahuan dasar mengenai keselamatan diharapkan dapat menjadi bekal dalam menghadapi berbagai situasi darurat.(Sofyan)


    Baca juga: Astrid Widayani dan Abdul Mu’ti Perkuat Sinergi Pendidikan dalam Rakernas VI Dewan Pendidikan 2026

    Prosesi wisudaPoliteknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Surakarta. 

    Poltekkes Kemenkes Surakarta Wisuda 1.790 Lulusan, 98 Persen Raih IPK di Atas 3,51

    SURAKARTA - majalahlarise.com – Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Surakarta mewisuda 1.790 lulusan program Diploma III, Sarjana Terapan, dan Profesi Kesehatan dalam Sidang Terbuka Senat Wisuda Periode II Tahun 2026 di Gedung Edutorium KH. Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Rabu (21/10/2026).

    Wisuda tersebut diikuti 365 lulusan profesi, 550 lulusan Sarjana Terapan, dan 875 lulusan Diploma III dari 20 program studi. Capaian akademik para lulusan terbilang membanggakan. Sebanyak 98 persen lulusan meraih IPK di atas 3,51 dengan predikat cumlaude. IPK tertinggi mencapai 4,00, sedangkan tingkat kelulusan tepat waktu tercatat sebesar 98,78 persen.

    Direktur Poltekkes Kemenkes Surakarta, Sudiro, S.Kp., Ners., M.Pd., menyampaikan pesan kepada para wisudawan agar menjadikan kelulusan sebagai awal perjalanan pengabdian kepada masyarakat, khususnya dalam memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas.

    “Hari ini bukanlah akhir, melainkan awal pengabdian untuk memberikan pelayanan kesehatan yang profesional, beretika, dan berorientasi pada keselamatan pasien. Teruslah belajar, tingkatkan kompetensi, junjung tinggi etika profesi, dan jagalah nama baik almamater,” pesannya.

    Menurut Sudiro, keberhasilan menyelesaikan pendidikan perlu diikuti dengan komitmen untuk terus mengembangkan kemampuan, menjaga integritas, serta menjalankan tanggung jawab sesuai standar profesi. Para lulusan bidang kesehatan diharapkan mampu menjawab kebutuhan masyarakat melalui pelayanan yang kompeten, humanis, dan mengutamakan keselamatan pasien.

    Saat ini, Poltekkes Kemenkes Surakarta memiliki 10 jurusan dengan 20 program studi. Berdasarkan Keputusan Direktur Dewan Eksekutif BAN-PT Nomor 93/SK/BAN-PT/Ak/PT/IV/2026, institusi pendidikan kesehatan tersebut meraih akreditasi Unggul.

    Capaian itu diperkuat dengan akreditasi program studi. Sebanyak 17 program studi atau 85 persen telah memperoleh akreditasi Unggul, sedangkan tiga program studi lainnya mendapatkan akreditasi Baik atau Baik Sekali.

    Prestasi tersebut menjadi gambaran upaya institusi dalam menjaga mutu pendidikan, meningkatkan kompetensi lulusan, serta memperkuat kualitas penyelenggaraan pendidikan tenaga kesehatan. Dukungan tenaga pendidik juga menjadi salah satu faktor penting dalam pengembangan akademik. Poltekkes Kemenkes Surakarta memiliki 37 dosen bergelar doktor dan satu guru besar.

    Selain berfokus pada pendidikan, institusi ini aktif menjalankan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sejumlah kegiatan yang dikembangkan mencakup penelitian HIV/AIDS dan tuberkulosis (TBC), kolaborasi penelitian bersama Kementerian Kesehatan dan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), serta program penurunan stunting dan edukasi kesehatan.

    Berbagai kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam mendukung pembangunan kesehatan. Melalui penelitian dan pengabdian masyarakat, hasil pengembangan ilmu pengetahuan diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

    Poltekkes Kemenkes Surakarta juga mencatat berbagai prestasi dalam tata kelola kelembagaan dan kemahasiswaan. Sejumlah mahasiswa berhasil menorehkan capaian dalam berbagai ajang, termasuk kompetisi Mahasiswa Berprestasi tingkat nasional.

    Di bidang pengembangan karier, institusi ini turut mencetak lulusan yang mampu bersaing di tingkat internasional. Hingga 2026, sebanyak 58 alumni Poltekkes Kemenkes Surakarta telah berkarier di luar negeri, antara lain di Jepang, Jerman, Belanda, Australia, dan Arab Saudi.

    Capaian tersebut menunjukkan terbukanya peluang bagi lulusan pendidikan kesehatan untuk mengembangkan karier di berbagai negara. Kompetensi profesional, penguasaan keterampilan, kemampuan beradaptasi, dan kepatuhan terhadap standar pelayanan kesehatan menjadi bekal penting dalam menghadapi persaingan dunia kerja.

    Wisuda Periode II Tahun 2026 ini sekaligus menjadi momentum bagi Poltekkes Kemenkes Surakarta untuk memperkuat komitmen dalam menghasilkan tenaga kesehatan yang kompeten dan berintegritas.

    Para lulusan diharapkan tidak hanya mampu mengembangkan karier, tetapi juga menjunjung tinggi etika profesi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh selama menempuh pendidikan, mereka diharapkan ikut meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan serta mendukung terwujudnya masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera. (Udin/ Sofyan)


    Baca juga: Astrid Widayani dan Abdul Mu’ti Perkuat Sinergi Pendidikan dalam Rakernas VI Dewan Pendidikan 2026

    Talkshow kepemimpinan bertajuk “Grow to Lead, Ready to Choose” dengan tema “Bertumbuh, Memimpin Diri, dan Bijak Menentukan Masa Depan”.


    PKBM Syifa Surakarta Gelar Talkshow Kepemimpinan, Bekali Santri Keterampilan Memimpin Diri

    SURAKARTA - majalahlarise.com – Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Syifa Surakarta yang beralamat di jl Jamsaren No. 44 Serengan Surakarta menggelar talkshow kepemimpinan bertajuk “Grow to Lead, Ready to Choose” dengan tema “Bertumbuh, Memimpin Diri, dan Bijak Menentukan Masa Depan” di Hotel Sahid Jaya Solo, Rabu (21/10/2026). 

    Talkshow yang diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Arif Priyanto, S.Pd.I., MCP dan Mochammad Alwi, S.S., M.M. Keduanya berbagi wawasan mengenai pengembangan diri, kepemimpinan, serta pentingnya mengambil keputusan secara bijak dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

    Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menjelaskan kegiatan ini melibatkan para santri binaan dari jenjang pendidikan kesetaraan SMP dan SMA. Melalui kegiatan tersebut, PKBM Syifa ingin membentuk generasi muda yang memiliki visi dan misi jelas, berjiwa kepemimpinan, serta menjunjung tinggi adab dan nilai-nilai sesuai norma keislaman.


    “Melalui kegiatan ini, kami berharap para santri memiliki arah yang jelas dalam menentukan masa depan. Mereka tidak hanya dibekali pengetahuan, tetapi juga karakter, adab, dan kemampuan untuk memimpin diri sendiri,” jelasnya.

    Ia menerangkan kegiatan ini membahas pembentukan karakter kepemimpinan generasi muda agar mampu berkembang dan menjadi pemimpin pada masa depan, termasuk di lingkungan keluarga. 

    Wanita yang akrab disapa bu Puri berharap para peserta dapat mengikuti kegiatan hingga selesai dan menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Setelah lulus, para santri diharapkan mampu menjadi pemimpin muda yang berkarakter, mandiri secara ekonomi, dan siap menghadapi perkembangan ekonomi global.

    “Dengan bekal kepemimpinan, adab, serta keterampilan berwirausaha, kami berharap para santri tidak gagap menghadapi perubahan zaman dan mampu menjawab tantangan perekonomian pada masa mendatang,” ungkapnya.


    Dalam sesi pelatihan kepemimpinan, Arif Priyanto, S.Pd.I., MCP, mengajak para peserta mengenali potensi diri dan mengembangkannya secara maksimal. Menurutnya, setiap orang memiliki potensi untuk menjadi pribadi hebat, tetapi tidak semuanya mampu mengoptimalkan kemampuan yang dimiliki.

    Ia menjelaskan lima kunci meraih kesuksesan, yakni dream atau memiliki mimpi, belief atau meyakini mimpi, action atau melakukan tindakan nyata, never give up atau pantang menyerah, serta kesuksesan sebagai hasil dari proses yang dijalani.

    Menurut Arif, mimpi harus disertai keyakinan, tindakan nyata, dan ketekunan. Kegagalan bukan alasan untuk berhenti berusaha, melainkan bagian dari proses pembelajaran untuk mencapai tujuan.

    “Setiap orang memiliki potensi hebat. Tantangannya adalah bagaimana kita mampu mengenali, menggali, dan mengembangkan potensi tersebut. Mimpi harus disertai keyakinan dan tindakan nyata. Ketika menghadapi kegagalan, jangan langsung menyerah, tetapi terus mencoba dan memperbaiki diri,” jelasnya.

    Arif juga menyoroti sejumlah kendala yang sering dihadapi siswa SMP dan SMA dalam mengembangkan diri, antara lain kemalasan, pesimisme terhadap masa depan, serta lingkungan pergaulan yang kurang mendukung.

    Kondisi keluarga dan lingkungan yang tidak memberikan dukungan terkadang membuat anak kehilangan kepercayaan diri. Ejekan maupun perkataan negatif dari teman sebaya juga dapat menghambat keberanian siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.

    Untuk mengatasi tantangan tersebut, Arif mendorong para siswa menyusun peta jalan kehidupan atau roadmap, membangun karakter positif, dan terus belajar. Ia juga mengajak generasi muda memanfaatkan perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk memperluas pengetahuan serta mendukung pengembangan kemampuan diri.

    “Anak-anak perlu memiliki gambaran tentang masa depan yang ingin dicapai. Buatlah roadmap, bangun karakter yang baik, dan terus belajar. Teknologi digital serta AI juga bisa dimanfaatkan untuk menambah wawasan dan membantu kita berkembang,” tuturnya.

    Ia berharap pelatihan tersebut mampu mendorong para siswa menjadi pribadi yang lebih matang, bersemangat, mandiri, mampu menjadi teladan, dan pantang menyerah dalam meraih cita-cita.

    Arif mengingatkan peserta agar memanfaatkan kesempatan belajar dengan memberikan usaha terbaik dalam setiap proses. Menurutnya, kesungguhan menjadi salah satu modal penting untuk meraih keberhasilan.

    “Prinsipnya, give the best, get the best. Berikan yang terbaik dalam setiap proses yang dijalani agar kita memiliki peluang memperoleh hasil terbaik pada masa depan,” katanya.

    Sementara itu, Mochammad Alwi, S.S., M.M., menjelaskan kepemimpinan perlu ditanamkan mulai dari diri sendiri. Setiap manusia, menurutnya, memiliki benih kepemimpinan yang dapat dikembangkan melalui proses belajar, pengalaman, dan lingkungan yang mendukung.

    Alwi mengibaratkan benih kepemimpinan seperti tanaman yang tumbuh menjadi pohon, kemudian menghasilkan bunga dan buah yang memberikan manfaat bagi sesama. Gambaran tersebut menunjukkan setiap individu memiliki potensi untuk berkembang dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitarnya.

    “Kepemimpinan perlu dimulai dari diri sendiri. Setiap orang memiliki benih kepemimpinan yang harus dirawat dan dikembangkan. Ketika potensi itu tumbuh dengan baik, kita tidak hanya berkembang untuk diri sendiri, tetapi juga dapat memberikan manfaat bagi orang lain,” jelas Alwi.

    Ia menambahkan, membangun jiwa kepemimpinan membutuhkan kemampuan mengenali diri, kreativitas dalam berinovasi, serta keberanian mengambil inisiatif. Ketiga hal tersebut perlu terus diasah agar seseorang mampu menghadapi perubahan dan menentukan langkah secara bertanggung jawab.

    Bagi generasi muda, kemampuan memimpin diri menjadi bekal penting sebelum mengambil peran yang lebih besar di lingkungan keluarga, masyarakat, maupun dunia kerja. Keberanian menentukan pilihan juga perlu disertai pertimbangan matang, komitmen, dan kesediaan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil.

    Alwi berharap melalui talkshow tersebut para santri mampu menjadi arsitek bagi masa depan mereka sendiri. Artinya, mereka memiliki kesadaran untuk merancang kehidupan, mengembangkan potensi, serta mengambil keputusan yang tepat dalam menjalani berbagai tahapan kehidupan.

    Melalui kegiatan “Grow to Lead, Ready to Choose”, PKBM Syifa Surakarta berupaya memperkuat bekal karakter, kepemimpinan, dan kemandirian para santri. Perpaduan antara adab, kemampuan memimpin diri, kemauan belajar, dan keterampilan berwirausaha diharapkan menjadi modal bagi generasi muda untuk menghadapi perubahan zaman sekaligus membangun masa depan yang lebih baik. (Sofyan)


    Baca juga: Astrid Widayani dan Abdul Mu’ti Perkuat Sinergi Pendidikan dalam Rakernas VI Dewan Pendidikan 2026

    Para wisudawan prestasi terbaik menerima penghargaan.


    400 Wisudawan Univet Bantara Sukoharjo Diwisuda, 18 Diantaranya Raih Wisudawan Terbaik

    Sukoharjo - majalahlarise.com – Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo mewisuda 400 lulusan dalam Sidang Senat Terbuka Wisuda Pascasarjana ke-28, Sarjana ke-58, dan Diploma ke-11, Rabu (21/10/2026). Dari jumlah tersebut, sebanyak 252 wisudawan berhasil meraih predikat cumlaude dengan rata-rata indeks prestasi kumulatif (IPK) seluruh wisudawan mencapai 3,63.

    Prosesi wisuda yang berlangsung di Auditorium Kampus Univet Bantara tersebut menjadi momentum bagi para lulusan untuk melanjutkan pengabdian dan mengimplementasikan ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan tinggi.

    Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., menyampaikan perguruan tinggi terus berupaya menghasilkan lulusan yang mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Upaya tersebut sejalan dengan gagasan Kampus Berdampak yang mendorong perguruan tinggi berkontribusi dalam menciptakan perubahan di berbagai bidang kehidupan.

    Salah satu langkah yang ditempuh Univet Bantara, menurut Prof. Farida, yakni menjalin kerja sama dengan Kementerian Perdagangan Republik Indonesia melalui program Campus Preneur yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU).

    Selain itu, Univet Bantara bergabung dengan Konsorsium Perguruan Tinggi Penyelenggara Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Saat ini, perguruan tinggi tersebut juga menjalani pendampingan dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) untuk mendirikan LSP.

    “Ini merupakan langkah strategis dalam rangka menyiapkan lulusannya memiliki kompetensi yang bersertifikasi BNSP sebagai pendamping ijazah,” ungkapnya.

    Prof. Farida menjelaskan, sertifikasi kompetensi menjadi salah satu kebutuhan dalam menghadapi persaingan dunia kerja. Melalui penguatan kompetensi tersebut, lulusan diharapkan memiliki bekal lebih baik untuk memasuki dunia profesional sesuai bidang keahlian masing-masing.

    Ia menambahkan, Univet Bantara memiliki tanggung jawab sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan, peradaban, dan kebudayaan. Karena itu, perguruan tinggi tidak hanya berorientasi menghasilkan sumber daya manusia yang unggul, tetapi juga mendorong lahirnya karya yang memberikan manfaat bagi kehidupan sosial masyarakat Indonesia.

    Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Prof. Farida mengharapkan dukungan dari pemerintah, yayasan penyelenggara, mitra, serta masyarakat agar pengembangan kualitas pendidikan dan kontribusi perguruan tinggi dapat berjalan secara berkelanjutan.

    Kepada para wisudawan, Prof. Farida berpesan agar mereka menjadi pribadi tangguh, memiliki semangat juang, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi tantangan setelah menyelesaikan pendidikan.

    Ia mengingatkan, keberhasilan tidak dapat dipisahkan dari perjuangan dan kesungguhan dalam menjalani setiap proses. Gelar akademik yang diperoleh hendaknya menjadi bekal untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan masyarakat.

    Sementara itu, Ketua Yayasan Pembina Pendidikan Perguruan (YPPP) Veteran Sukoharjo, Drs. Sadewo Suharto, M.M., mengapresiasi komitmen para pendidik dan seluruh jajaran Univet Bantara dalam mendampingi mahasiswa hingga berhasil menyelesaikan studi.

    Sadewo berharap pimpinan universitas terus meningkatkan kualitas pendidikan dan kompetensi lulusan agar mampu bersaing dengan lulusan perguruan tinggi lainnya. Menurutnya, penguatan sertifikasi kompetensi melalui BNSP menjadi salah satu upaya yang perlu dikembangkan untuk mendukung kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan dunia kerja.

    Ia juga mendorong Univet Bantara terus berkembang dan meningkatkan mutu pendidikan sehingga mampu menghasilkan lulusan yang kompeten, berdaya saing, dan memiliki peluang lebih luas untuk berkiprah di dunia profesional.

    Wisuda tersebut menjadi penanda berakhirnya satu tahap pendidikan sekaligus awal bagi para lulusan untuk menerapkan ilmu, keterampilan, dan pengalaman yang telah diperoleh. Dengan bekal akademik dan kompetensi profesional, para wisudawan diharapkan mampu beradaptasi dengan perubahan serta berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.

    Sementara itu, Wakil Rektor I Univet Bantara, Dr. Ir. Sri Hartati, M.P., dalam laporannya menyampaikan 400 wisudawan berasal dari berbagai program studi pada jenjang Pascasarjana, Sarjana, dan Diploma III.

    “Dari total 400 wisudawan tahun ini, 252 mahasiswa berhasil meraih predikat cumlaude,” terangnya.

    Prestasi akademik tertinggi pada jenjang Pascasarjana diraih Arny Hidayah dengan IPK 3,96. Pada jenjang Sarjana, Diva Rauri Rosiana dari Program Studi Agribisnis meraih IPK 4,00. Sementara itu, pada jenjang Diploma III, Wakhidatul Muslimah dari Program Studi Rekam Medis dan Informasi Kesehatan memperoleh IPK 3,86. (Sofyan)


    Baca juga: Unisri Surakarta Bekali Calon Lulusan dengan Personal Branding dan Keterampilan Kerja



    DKV ACT 12 Angkat Tema Sinambung, Kenalkan Seni Tradisi melalui Wiyata Njawani di Banjarsari Solo

    Surakarta - majalahlarise.com – Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar praacara (pre-event) DKV ACT 12 bertajuk Wiyata Njawani di Kampung Gebang, RW 016, Kelurahan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Kegiatan yang dimulai pada 17 Oktober 2026 ini menghadirkan pertunjukan gamelan dan lokakarya ecoprint sebagai upaya mengenalkan seni tradisi sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

    Suasana kegiatan berlangsung meriah ketika anak-anak Sanggar Seni Kampung Njawani memainkan gamelan dengan penuh antusias. Senyum dan canda mereka mewarnai proses belajar seni tradisi yang menjadi bagian dari upaya mendekatkan generasi muda dengan budaya lokal. Selain pertunjukan gamelan, peserta mengikuti lokakarya ecoprint yang mengenalkan pemanfaatan bahan-bahan alami dalam menghasilkan karya kreatif ramah lingkungan.

    Praacara ini melibatkan sekitar 20 peserta yang terdiri atas anak-anak Sanggar Seni Kampung Njawani, warga masyarakat, serta mahasiswa DKV ISI Surakarta. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya membangun hubungan dengan masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi seni dan budaya yang tumbuh di lingkungan setempat.

    Penanggung jawab kegiatan, Kinaryanti Apriliana Putri, menjelaskan praacara Wiyata Njawani menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Kampung Njawani sebagai kampung seni sekaligus mitra dalam penyelenggaraan DKV ACT 12.

    “Tujuan pre-event ini untuk memperkenalkan Kampung Njawani sebagai kampung seni dan sebagai mitra DKV ACT 12,” ungkap Kinaryanti.

    Selain menghadirkan kegiatan seni dan lokakarya, mahasiswa DKV ISI Surakarta turut berkontribusi melalui perancangan media informasi berupa flyer yang memuat informasi dan potensi Kelurahan Banjarsari. Upaya tersebut menjadi bentuk penerapan keilmuan desain komunikasi visual yang diarahkan untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

    Melalui media informasi tersebut, potensi lokal diharapkan semakin dikenal luas. Keterlibatan mahasiswa tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan acara, tetapi juga mencakup pemanfaatan desain sebagai sarana komunikasi, publikasi, dan promosi potensi wilayah.

    Dosen pembimbing kegiatan, Ipung Kurniawan Yunianto, menjelaskan praacara DKV ACT menjadi sarana untuk mendekatkan peran DKV ISI Surakarta kepada masyarakat, khususnya mitra dari Sanggar Seni Kampung Njawani. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenali dan meningkatkan kepedulian terhadap potensi seni budaya di Kota Solo.

    “Melalui pre-event DKV ACT, kami ingin lebih mendekatkan peran DKV ISI Surakarta kepada masyarakat, khususnya mitra dari Sanggar Seni Kampung Njawani. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap potensi seni budaya yang tumbuh dan berkembang di Kota Solo,” jelas Ipung.

    DKV ACT merupakan perhelatan tahunan yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi DKV FSRD ISI Surakarta. Pada 2026, kegiatan ini memasuki penyelenggaraan ke-12 dengan mengusung tema Sinambung.

    Tema tersebut membawa semangat keberlanjutan dalam penerapan pemikiran desain untuk mendorong perubahan sosial di tengah masyarakat. Desain komunikasi visual tidak hanya dipandang sebagai sarana menghasilkan karya, tetapi juga sebagai pendekatan untuk membangun komunikasi, memperkenalkan potensi lokal, serta menjawab kebutuhan masyarakat melalui kreativitas mahasiswa.

    Melalui tema Sinambung, Prodi DKV ISI Surakarta juga berupaya mengajak generasi muda agar tidak merasa asing dengan budaya di kota sendiri. Pengenalan budaya tidak harus membuat setiap anak muda menjadi pelaku seni, tetapi dapat dimulai melalui pemahaman, apresiasi, dan keterlibatan dalam kegiatan yang mempertemukan mereka dengan tradisi lokal.

    Praacara Wiyata Njawani menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan tujuan tersebut. Pertunjukan gamelan membuka ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan seni tradisi, sedangkan lokakarya ecoprint mempertemukan kreativitas dengan kesadaran terhadap lingkungan.

    Keterlibatan masyarakat dan mahasiswa dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan lingkungan sekitar. Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan peran desain komunikasi visual dalam mendukung pengenalan potensi seni budaya, membangun kepedulian sosial, dan menjaga kesinambungan tradisi di tengah perkembangan zaman.

    Melalui rangkaian praacara ini, DKV ACT 12 tidak hanya menjadi ajang publikasi menuju kegiatan puncak tahunan, tetapi juga ruang kolaborasi untuk mempertemukan mahasiswa, komunitas seni, anak-anak, dan masyarakat. Semangat Sinambung diharapkan terus tumbuh melalui kegiatan kreatif yang berakar pada budaya lokal dan memberikan manfaat bagi lingkungan sosial. (Sofyan)


    Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) VI Dewan Pendidikan Tahun 2026 di DWANGSA Solo Hotel by LORIN, Selasa (20/10/2026).


    Astrid Widayani dan Abdul Mu’ti Perkuat Sinergi Pendidikan dalam Rakernas VI Dewan Pendidikan 2026

    SURAKARTA – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendampingi Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) VI Dewan Pendidikan Tahun 2026 di DWANGSA Solo Hotel by LORIN, Selasa (20/10/2026). Forum tersebut menjadi momentum memperkuat sinergi pemerintah dan Dewan Pendidikan untuk meningkatkan pemerataan akses, mutu pembelajaran, serta pembentukan karakter peserta didik.

    Dalam kesempatan tersebut, Astrid Widayani menyampaikan Dewan Pendidikan merupakan mitra strategis pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Peran Dewan Pendidikan tidak hanya memberikan pertimbangan dan rekomendasi, tetapi juga memperkuat partisipasi publik serta mengawasi penyelenggaraan pendidikan.

    “Masukan yang objektif dan konstruktif sangat kami perlukan sebagai dasar pengambilan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Tantangan pendidikan di setiap daerah berbeda, sehingga kebijakan perlu mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan nyata masyarakat,” ujar Astrid.

    Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Surakarta terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui pengembangan ekosistem pendidikan yang terintegrasi dengan konsep *Solo The Center of Knowledge*. Pendekatan tersebut menempatkan pendidikan dan pengetahuan sebagai bagian penting pembangunan kota, selain pengembangan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi.

    Upaya tersebut diwujudkan melalui pemanfaatan berbagai ruang belajar publik, mulai dari museum, taman cerdas, ruang publik, hingga pojok baca. Berbagai fasilitas tersebut diharapkan semakin mendekatkan akses pengetahuan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kemampuan literasi dan numerasi serta membangun karakter generasi muda.

    Pemkot Surakarta juga memberikan perhatian terhadap pendidikan anak usia dini melalui perluasan akses Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan pelaksanaan kebijakan wajib belajar satu tahun prasekolah.

    Astrid menyebutkan, partisipasi anak usia 3–6 tahun dalam pendidikan anak usia dini di Kota Surakarta tercatat sebesar 58,76 persen. Pemkot menargetkan angka tersebut meningkat hingga 90 persen untuk memperkuat fondasi pendidikan sejak usia dini.

    “Pendidikan anak usia dini merupakan pendidikan dasar yang penting untuk membangun karakter anak-anak kita di masa mendatang. Karena itu, perluasan akses harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pembelajaran, kesejahteraan guru, dan dukungan pembiayaan pendidikan,” katanya.

    Menurut Astrid, pendidikan berkualitas perlu didukung lingkungan belajar yang aman, nyaman, inklusif, dan ramah anak. Penguatan karakter serta keterampilan hidup juga harus berjalan seiring dengan pencapaian akademik agar peserta didik berkembang secara menyeluruh.

    Ia menambahkan, sinergi pendidikan dan kebudayaan menjadi bagian penting dalam membentuk generasi yang berintegritas serta berpegang pada nilai-nilai luhur bangsa.

    “Pendidikan dan kebudayaan saling menguatkan dalam membentuk sumber daya manusia yang unggul sekaligus teguh pada nilai-nilai luhur bangsa. Karena itu, kolaborasi pemerintah, Dewan Pendidikan, sekolah, keluarga, dan masyarakat harus terus diperkuat,” ungkapnya.

    Sementara itu, Mendikdasmen Abdul Mu’ti menjelaskan kemitraan pemerintah dengan Dewan Pendidikan menjadi salah satu kunci dalam mewujudkan layanan pendidikan bermutu yang dapat diakses seluruh masyarakat. Dewan Pendidikan memiliki peran sebagai penasihat, konsultan, pengawas, mediator, dan advokat dalam mendukung perbaikan kebijakan pendidikan.

    “Pemenuhan pelayanan pendidikan bermutu untuk semua dapat berjalan dengan baik dengan prinsip kemitraan. Bapak dan Ibu adalah mitra kami, lembaga yang memberikan masukan-masukan sekaligus ide-ide cerdas bagaimana agar pendidikan dapat terlaksana dengan sebaik-baiknya,” ujar Abdul Mu’ti.

    Ia memaparkan, tantangan pendidikan nasional mencakup pemerataan akses, peningkatan kompetensi dan kesejahteraan guru, serta perluasan layanan bagi masyarakat yang menghadapi kendala geografis maupun sosial ekonomi.

    Pemerintah juga mendorong wajib belajar 13 tahun yang dimulai dari pendidikan prasekolah. Untuk menjangkau masyarakat dengan beragam kondisi, pemerintah mengembangkan alternatif layanan pendidikan, seperti sekolah satu atap, pembelajaran jarak jauh, sekolah terbuka, komunitas belajar, dan pendidikan kesetaraan.

    Abdul Mu’ti turut menjelaskan pentingnya validitas data pendidikan untuk memastikan berbagai program berjalan tepat sasaran. Data yang akurat menjadi dasar dalam mengidentifikasi kebutuhan masyarakat, memperbaiki perencanaan, serta memastikan layanan pendidikan menjangkau kelompok yang membutuhkan.

    Dalam peningkatan mutu pendidikan, pemerintah terus mengevaluasi berbagai kebijakan dengan mempertimbangkan masukan dari para pemangku kepentingan. Perbaikan perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan mempertahankan program yang telah berjalan baik, memperbaiki kekurangan, serta mengadopsi pendekatan baru yang lebih efektif.

    “Yang baik kita pertahankan, kemudian yang kurang kita perbaiki, dan tidak sungkan kita mengambil hal yang baru yang lebih baik,” ungkap Abdul Mu’ti.

    Selain pemerataan akses dan peningkatan mutu pembelajaran, Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya pembentukan karakter, kesehatan mental, dan kesejahteraan digital peserta didik. Salah satu upaya yang didorong pemerintah adalah penerapan tujuh kebiasaan anak Indonesia hebat untuk membangun perilaku positif melalui pembiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.

    “Tujuan dari tujuh kebiasaan itu adalah untuk membangun karakter, melaksanakan kebiasaan-kebiasaan sederhana tetapi rutin yang memiliki efek besar,” jelasnya.

    Menurut Abdul Mu’ti, keberhasilan pendidikan karakter tidak cukup diukur dari kemampuan peserta didik menghafal atau menyebutkan kebiasaan tersebut, tetapi harus terlihat dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.

    Kegiatan ekstrakurikuler, termasuk Pramuka, juga menjadi ruang untuk mengembangkan potensi, kepercayaan diri, dan kemampuan sosial anak. Melalui kegiatan tersebut, peserta didik diharapkan memperoleh pengalaman yang mendukung pembentukan karakter dan keterampilan hidup.

    Di tengah perkembangan teknologi digital, sekolah, keluarga, dan masyarakat perlu bekerja sama dalam menjaga kesehatan psikologis anak sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang aman. Penanganan perundungan dan kekerasan di sekolah harus dilakukan secara serius melalui pendekatan yang humanis, inklusif, dan partisipatif.

    Melalui Rakernas VI Dewan Pendidikan Tahun 2026, Astrid berharap forum tersebut menghasilkan rekomendasi konkret yang dapat ditindaklanjuti pemerintah pusat maupun daerah. Sinergi antarpemangku kepentingan diharapkan memperkuat pemerataan akses, meningkatkan kualitas pembelajaran, serta membangun ekosistem pendidikan yang mendukung tumbuh kembang peserta didik secara menyeluruh.

    Bagi Kota Surakarta, penguatan kemitraan tersebut sejalan dengan upaya mewujudkan Solo sebagai pusat pengetahuan. Melalui kolaborasi pemerintah, Dewan Pendidikan, sekolah, keluarga, dan masyarakat, pembangunan pendidikan diharapkan mampu menghasilkan sumber daya manusia yang berkarakter, kreatif, berintegritas, dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan masa depan. (Is/ Sofyan)


    Baca juga: Astrid Widayani Dorong Pendidikan Demokrasi Sejak Dini, Pelajar Disiapkan Jadi Pemilih Berintegritas


⬆
Top