GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
Monev KKN Univet Bantara di Wuryantoro, Mahasiswa Pamerkan Beragam Inovasi
Wonogiri - majalahlarise.com – Tim Monitoring dan Evaluasi (Monev) Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo melaksanakan monitoring kegiatan mahasiswa KKN di Kecamatan Wuryantoro, Wonogiri, Senin (7/9/2026). Kegiatan tersebut dirangkaikan dengan Expo KKN yang menampilkan berbagai karya, program pemberdayaan, dan inovasi mahasiswa kepada masyarakat.
Tim Monev terdiri atas Rektor Univet Bantara Sukoharjo Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum, Wakil Rektor I Dr. Ir. Sri Hartati, M.P, Dekan FKIP Dr. Pranichayudha Rohsulina, M.Pd, Kepala LPPM Dr. Ir. Ahimsa Kandi Sariri, M.Sc, Ketua Pusat KKN Univet Ainur Komariah, S.T., M.Sc, Prita Devy Igiany, S.Kep., MP.H dan Mulyo Agung, S.Ikom.
Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum mengapresiasi mahasiswa yang telah melaksanakan program pengabdian di Kecamatan Wuryantoro. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Camat Wuryantoro beserta jajaran, pemerintah desa dan kelurahan, masyarakat, serta berbagai pemangku kepentingan yang telah menerima dan mendukung mahasiswa selama menjalankan KKN.
“Alhamdulillah, kegiatan monitoring dan evaluasi KKN di Kecamatan Wuryantoro berlangsung dengan baik. Kami sangat mengapresiasi dan bangga kepada Camat beserta seluruh jajaran yang telah menerima dan mendukung pelaksanaan kegiatan mahasiswa KKN,” ujar Prof. Farida.
![]() |
| Rektor Univet Bantara Sukoharjo Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum saat meninjau stand produk sekaligus monev mahasiswa KKN. |
Menurutnya, Expo KKN menjadi momentum penting untuk memperlihatkan program dan hasil kegiatan mahasiswa secara langsung kepada masyarakat. Pelaksanaan expo secara bersama-sama di tingkat kecamatan juga menjadi harapan sejak awal karena masyarakat dapat melihat hasil kerja mahasiswa sekaligus berbagai potensi daerah yang berhasil digali selama KKN.
“Kami berharap expo ini menjadi ruang untuk menunjukkan hasil kerja mahasiswa dan berbagai potensi yang ada di wilayah Wuryantoro. Dengan melibatkan masyarakat, program-program yang telah dilaksanakan mahasiswa dapat diketahui dan dirasakan manfaatnya,” jelasnya.
Prof. Farida mengaku bangga melihat beragam karya dan inovasi mahasiswa yang disesuaikan dengan kebutuhan serta potensi wilayah. Sejumlah inovasi dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan lebih lanjut, antara lain alat untuk membantu menabur pupuk dan alat untuk menjebak nyamuk.
“Beberapa inovasi mahasiswa cukup menarik dan memiliki peluang untuk dikembangkan. Bahkan ada karya yang berpotensi mendapatkan hak paten. Kami berharap karya mahasiswa tidak berhenti setelah KKN selesai, tetapi terus dikembangkan dan dimanfaatkan masyarakat,” katanya.
Ia menambahkan, tindak lanjut program dapat dilakukan melalui kerja sama dengan Ketua-Ketua PKK serta pemangku kepentingan setempat. Hasil pemberdayaan UMKM maupun sarana-prasarana yang telah dibuat mahasiswa diharapkan tetap dimanfaatkan dan dikembangkan setelah mahasiswa kembali ke kampus.
Koordinator KKN Kecamatan Wuryantoro, Rohmadi Bagus Permana, menyampaikan KKN menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk belajar secara langsung di tengah masyarakat. Selain menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan, mahasiswa belajar berkomunikasi, bekerja sama, memahami kehidupan sosial, dan memberikan kontribusi melalui berbagai program kerja.
“Pelaksanaan KKN menjadi pengalaman bagi mahasiswa untuk belajar langsung di tengah masyarakat. Kami juga belajar bekerja sama, berkomunikasi, dan memberikan kontribusi positif melalui berbagai program yang telah disusun,” ujarnya.
Rohmadi menyampaikan terima kasih kepada Univet Bantara, LPPM, dosen pembimbing lapangan, pemerintah kecamatan, pemerintah desa dan kelurahan, serta masyarakat yang telah menerima dan mendampingi mahasiswa selama pelaksanaan KKN. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama kegiatan masih terdapat kekurangan dalam perkataan, sikap, maupun pelaksanaan program.
Sementara itu, Camat Wuryantoro Soemardjono Fadjari menyambut baik kedatangan Rektor beserta sivitas akademika Univet Bantara Sukoharjo. Ia mengapresiasi keputusan Univet memilih Wuryantoro sebagai lokasi pelaksanaan KKN dan berharap kegiatan tersebut memberikan dampak berkelanjutan bagi masyarakat.
“Kami mengucapkan selamat datang kepada Ibu Rektor beserta seluruh sivitas akademika Univet Bantara di Kecamatan Wuryantoro. Kami berharap KKN tidak berhenti setelah program selesai, tetapi terus memberikan manfaat dan membangun sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa dan kelurahan, sekolah, serta masyarakat,” ungkapnya.
Menurut Soemardjono, keberadaan mahasiswa di tengah masyarakat dapat menjadi sarana berbagi ilmu sekaligus memberikan pengalaman kepada pelajar dan masyarakat. KKN juga menjadi momentum untuk memperkenalkan perguruan tinggi kepada masyarakat, sehingga dapat menumbuhkan minat generasi muda melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.
Ia menyebut sosialisasi mengenai Univet Bantara telah dilakukan dalam berbagai kegiatan masyarakat, termasuk pertemuan kader Posyandu. Menurutnya, pendidikan merupakan kebutuhan sepanjang hayat sehingga masyarakat perlu terus didorong untuk meningkatkan jenjang pendidikan.
“Kami berharap Univet semakin maju dan berkembang serta mampu mencetak mahasiswa dan lulusan yang berprestasi. Terima kasih sudah memilih Wuryantoro sebagai lokasi KKN. Semoga seluruh kegiatan expo berjalan lancar, aman, dan memberikan manfaat bagi mahasiswa maupun masyarakat,” katanya.
Dalam Expo KKN tersebut, mahasiswa juga mempresentasikan berbagai program yang telah dilaksanakan di wilayah masing-masing. Salah satunya dipaparkan Risanjaya Sangaji selaku Ketua KKN Kelompok 12 Kelurahan Wuryantoro.
Ia menjelaskan sejumlah kegiatan yang telah dilaksanakan meliputi gerakan menabung, pembuatan outbound di Taman Kanak-Kanak (TK), kegiatan bersama ibu-ibu Program Keluarga Harapan (PKH), pembuatan ecoprint, serta program digitalisasi UMKM.
“Program yang kami jalankan mencakup kegiatan pemberdayaan dan edukasi masyarakat. Kami berusaha menyesuaikan kegiatan dengan kebutuhan warga sehingga mahasiswa tidak hanya hadir, tetapi juga memberikan kontribusi yang dapat dirasakan masyarakat,” jelas Risanjaya.
Melalui Monev dan Expo KKN, Univet Bantara berharap berbagai program dan inovasi mahasiswa dapat terus dikembangkan setelah masa KKN berakhir. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah wilayah, sekolah, pelaku UMKM, dan masyarakat diharapkan menjadi fondasi keberlanjutan hasil pengabdian mahasiswa di Kecamatan Wuryantoro. (Sofyan)
Baca juga: KKN UNS Kelompok 21 Ubah Limbah Plastik Menjadi Paving Blok Lewat Green Block
Pendidikan
![]() |
| Demonstrasi pembuatan paving blok yang dipandu Rizki bersama Arya. |
KKN UNS Kelompok 21 Ubah Limbah Plastik Menjadi Paving Blok Lewat Green Block
Blora - majalahlarise.com - Sampah plastik yang selama ini identik dengan limbah sulit terurai mulai dilirik sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan. Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Kelompok 21 mengenalkan program Green Block, sebuah inovasi pemanfaatan limbah plastik menjadi paving blok bernilai guna di Desa Sambonganyar, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora.
Program tersebut berangkat dari kondisi pengelolaan sampah di Desa Sambonganyar yang masih dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Belum tersedianya tempat pembuangan sementara (TPS) dan layanan pengangkutan sampah membuat sebagian warga terbiasa membakar atau membuang limbah rumah tangga, termasuk sampah plastik.
Melalui Green Block, mahasiswa KKN UNS Kelompok 21 berupaya mengenalkan alternatif pengelolaan sampah melalui sosialisasi, demonstrasi, hingga praktik langsung pembuatan paving blok.
![]() |
| Muhammad Ridho Rizki Abadi selaku PIC Green Block menyampaikan materi sosialisasi mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbah plastik. |
Kegiatan berlangsung Kamis, 13 Agustus 2026, di Balai Desa Sambonganyar mulai pukul 09.00 WIB. Sebanyak 32 peserta mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas unsur RT/RW, BPD, pemuda, serta perangkat Desa Sambonganyar.
Kepala Desa Sambonganyar, Teguh Mulyo Utomo, memberikan dukungan terhadap pelaksanaan program tersebut. Respons positif masyarakat juga terlihat dari banyaknya sampah plastik yang berhasil dikumpulkan untuk mendukung kegiatan Green Block.
Kegiatan dipandu Anugrah Putri Maharani dan Yuniar Ayu Pamungkas. Sementara materi sosialisasi mengenai pengelolaan sampah dan pemanfaatan limbah plastik disampaikan Muhammad Ridho Rizki Abadi selaku PIC Green Block.
“Kami ingin menunjukkan bahwa sampah plastik tidak harus selalu dibakar atau dibuang. Sampah plastik dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna. Hal ini sejalan dengan SDGs 12 melalui upaya pemanfaatan kembali limbah, sekaligus mendukung pengembangan usaha produktif dan hilirisasi produk desa yang sesuai dengan tema KKN kami,” jelas Rizki.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta mendapatkan penjelasan mengenai tujuan Green Block, urgensi pengolahan sampah, tahapan pembuatan paving blok, hingga manfaat dan penggunaannya.
Setelah sosialisasi, kegiatan dilanjutkan dengan demonstrasi pembuatan paving blok yang dipandu Rizki bersama Arya. Limbah plastik terlebih dahulu dipanaskan hingga meleleh. Plastik cair tersebut kemudian dicampurkan dengan pasir sebelum dimasukkan ke dalam cetakan paving blok.
Campuran yang sudah berada di dalam cetakan kemudian menjalani proses pendinginan. Cetakan dimasukkan ke dalam ember berisi air dan didiamkan hingga material menjadi dingin serta mengeras. Setelah itu, paving blok dapat dikeluarkan dari cetakan.
Peserta mengikuti setiap tahapan secara langsung. Antusiasme terlihat dari berbagai pertanyaan yang muncul selama demonstrasi.
Salah satu peserta menanyakan perbedaan hasil antara paving blok tanpa campuran pasir dan paving blok yang menggunakan campuran pasir.
“Ada perbedaan. Dari segi ketahanan, paving blok tanpa campuran pasir menunjukkan hasil yang lebih baik dibandingkan paving blok dengan campuran pasir. Namun, paving blok tanpa campuran pasir memiliki beberapa kekurangan, yaitu permukaannya cenderung lebih licin dan bobotnya lebih ringan. Sementara itu, penambahan pasir membuat paving blok memiliki bobot yang lebih berat dan permukaan yang lebih bertekstur,” terang Rizki.
Tidak hanya melihat demonstrasi, peserta juga diberi kesempatan mempraktikkan langsung proses pembuatan paving blok dari limbah plastik. Praktik tersebut menjadi bagian penting untuk memberikan pengalaman sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi pemanfaatan sampah plastik.
Green Block tidak diposisikan sebagai solusi tunggal untuk menyelesaikan seluruh persoalan sampah plastik di Desa Sambonganyar. Program tersebut lebih diarahkan sebagai langkah awal untuk membuka wawasan masyarakat bahwa limbah plastik masih dapat dimanfaatkan apabila dikelola dengan tepat.
“Kami menyadari bahwa produk ini masih memiliki kekurangan. Ke depannya, kami berharap paving blok ini dapat terus diperbaiki dan diuji dari berbagai aspek agar kualitasnya semakin baik dan dapat dimanfaatkan secara optimal sebagai salah satu alternatif pemanfaatan limbah plastik dari kehidupan sehari-hari,” ungkap Rizki.
Melalui Green Block, KKN UNS Kelompok 21 berharap masyarakat Desa Sambonganyar dapat terus mengembangkan pemanfaatan limbah plastik menjadi produk bernilai guna. Program tersebut sekaligus menjadi langkah awal mendorong pengelolaan sampah yang lebih baik dan membuka peluang pengembangan paving blok dengan kualitas lebih baik serta dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. (Sofyan)
Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
Prestasi
![]() |
| Dhimas Pandu Aji Aryanata saat meraih juara 1 lomba MAPSI cabang adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah. |
Dari Suara Adzan hingga Panggung Seni, Dua Mimpi Besar Dhimas Pandu Aji Aryanata Siswa SMP Negeri 8 Kota Surakarta
Surakarta - majalahlarise.com - Suara adzan bagi Dhimas Pandu Aji Aryanata bukan sekadar penanda masuknya waktu salat. Dari lantunan kalimat-kalimat penuh makna itu, tumbuh sebuah perjalanan panjang yang membawanya dari latihan sederhana di rumah hingga menjadi juara adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Siswa kelas 7F SMP Negeri 8 Surakarta itu mulai mengenal dan menekuni adzan sejak duduk di kelas 4 SD. Tidak ada pelatih khusus yang mendampinginya. Di tengah masa pandemi Covid-19, ketika sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah, Arya begitu nama panggilannya justru menemukan ruang untuk mengasah kemampuan.
YouTube menjadi salah satu gurunya.
Ia menyimak berbagai lantunan adzan, kemudian mencoba menirukan suara, irama, hingga tekniknya. Salah satu lantunan yang menjadi referensinya adalah adzan Syekh Syabah. Dari sana, Arya belajar sedikit demi sedikit. Tidak sekali dua kali, tetapi berulang-ulang.
Latihan pun menjadi rutinitas. Pagi dan sore hari, suara Arya digunakan untuk berlatih. Ia belajar mengatur napas, menjaga kestabilan suara, sekaligus memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi agar kualitas vokalnya tetap terjaga.
“Kalau latihan biasanya dua kali sehari, pagi dan sore,” ujarnya.
Kerja keras itu kemudian menemukan panggungnya.
Pada 2024, ketika masih duduk di kelas 4 SD, Arya mengikuti lomba MAPSI cabang adzan. Ia berhasil melaju hingga tingkat Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Kota Magelang. Hasilnya, ia meraih juara harapan II.
Bagi sebagian orang, capaian tersebut mungkin menjadi sebuah akhir. Bagi Dhimas, justru menjadi awal untuk berlatih lebih keras.
Setahun berikutnya, ketika duduk di kelas 5 SD, ia kembali mengikuti kompetisi adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kudus. Kali ini hasilnya meningkat. Dhimas berhasil meraih juara II.
Ia belum puas. Pada 2025, saat kelas 6 SD, Arya kembali berada di arena yang sama. Pengalaman dua tahun sebelumnya menjadi bekal. Ia tampil dengan persiapan lebih matang dan berhasil meraih juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Prestasi itu tidak membuatnya berhenti. Setelah memasuki SMP Negeri 8 Surakarta, semangat berkompetisinya tetap menyala. Ia kembali mengikuti perlombaan mocopat berhasil masuk 20 besar.
Bagi Arya, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Setiap perlombaan menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan dan menemukan bagian yang masih harus diperbaiki.
Menariknya, kemampuan adzan tersebut tidak berhenti di panggung perlombaan. Dhimas juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mulai dipercaya menjadi muadzin di masjid.
Pada minggu pertama, ia mendapat kesempatan mengumandangkan adzan salat Jumat di Masjid Dinas Pendidikan Kota Surakarta. Pada minggu kedua dan keempat, ia mengisi adzan di Masjid Nuraini, Mojosongo.
Di tempat-tempat itulah suara yang dahulu dilatih seorang diri di rumah kini didengar oleh jamaah.
Dukungan keluarga dan sekolah menjadi energi tersendiri bagi Dhimas. Putra pasangan Endah Sarianti, S.Pd. dan Aji Pamungkas, A.Md. tersebut mendapatkan dorongan dari orang tua dan guru untuk terus berkembang.
Namun, dunia Arya ternyata tidak hanya berisi lantunan adzan.
Di balik sosok yang tekun berlatih vokal, terdapat anak muda yang juga memiliki kecintaan kuat terhadap seni tradisional.
Ketertarikan itu pula yang menjadi salah satu alasan Arya memilih SMP Negeri 8 Surakarta. Ia melihat perkembangan seni di sekolah tersebut sangat maju. Lingkungan itu membuatnya semakin dekat dengan dunia yang sudah akrab dalam keluarganya.
Sosok guru bernama Radhian menjadi salah satu figur yang menginspirasinya. Guru yang juga seorang dalang tersebut membuat Arya memiliki cita-cita baru yaitu menjadi dalang.
Darah seni memang tidak asing dalam keluarganya. Sang kakek dikenal sebagai sosok yang dituakan di lingkungan seni. Ibunya pernah menekuni seni tari dan bahkan memiliki pengalaman tampil hingga Eropa. Sementara sang kakak aktif berkesenian dan berlatih di Sanggar Gedung Kuning serta Sanggar Minang Padang.
Bagi Arya, seni bukan sekadar kegiatan tambahan. Seni menjadi bagian dari kehidupan yang ingin terus ia pelajari.
![]() |
| Dhimas Pandu Aji Aryanata saat tampil memerankan tokoh Bagong. |
Ia mulai memberi perhatian lebih pada karawitan dan tari. Sejumlah pengalaman tampil pun telah dirasakannya. Ia pernah membawakan Tari Eko Prawiro dan tari Bagong dalam berbagai kegiatan, termasuk di Sanggar Gedung Kuning, Graha Wisata, lingkungan SMP Negeri 8 Surakarta, hingga Loji Gandrung.
Di atas panggung, Arya menemukan kegembiraan yang berbeda. Jika melalui adzan ia belajar mengolah suara dan membangun keberanian, melalui seni ia belajar mengenal budaya sekaligus menjaga warisan leluhur.
Ia memiliki harapan sederhana, tetapi penting: semakin banyak anak muda yang mencintai seni tradisional.
Menurutnya, tari dan karawitan harus tetap hidup meski zaman terus berubah. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, kemudian mengembangkan kesenian daerah dengan cara mereka sendiri.
Lebih jauh, Arya memiliki sebuah gagasan untuk sekolahnya. Ia berharap suatu saat SMP Negeri 8 Surakarta dapat berkembang menjadi sekolah yang memiliki kekhususan di bidang seni, seperti halnya Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang menjadi wadah pengembangan atlet.
“Semoga semakin banyak generasi muda yang mencintai seni tradisional, terutama tari dan karawitan,” harapnya.
Di usianya yang masih belia, Arya sudah memiliki dua mimpi besar yang mungkin terdengar jauh, tetapi justru menjadi kompas dalam langkahnya.
Ia ingin menjadi muadzin di Masjidil Haram. Di saat yang sama, ia juga ingin menjadi dalang.
Dua cita-cita itu seolah berasal dari dua dunia berbeda. Yang satu lahir dari suara adzan dan kecintaan terhadap kehidupan religi. Yang lain tumbuh dari panggung seni, gamelan, tari, wayang, dan tradisi keluarga.
Namun bagi Arya, keduanya memiliki benang merah yang sama yaitu latihan, ketekunan, keberanian untuk tampil, dan kecintaan terhadap apa yang dijalaninya.
Perjalanan Arya masih panjang. Ia baru mengawali masa SMP. Masih ada banyak kompetisi, panggung seni, latihan, kegagalan, dan kesempatan yang akan datang.
Tetapi satu hal sudah terlihat sejak sekarang. Arya tidak sedang sekadar mengejar piala.
Ia sedang membangun dirinya sendiri dengan suara adzan di satu sisi, dan seni tradisional di sisi lainnya.
Dari latihan sederhana di rumah, ia belajar mengejar prestasi. Dari panggung perlombaan, ia belajar percaya diri. Dari keluarga dan guru, ia belajar arti dukungan. Dan dari seni tradisional, ia belajar mencintai akar budayanya.
Kelak, entah suara adzannya bergema di Masjidil Haram atau namanya dikenal sebagai seorang dalang, perjalanan itu akan selalu bermula dari seorang anak yang memilih untuk terus berlatih ketika kesempatan belum tentu datang. Dan Arya memilih untuk tidak berhenti bermimpi. (Sofyan)
Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
Pendidikan
Tanamkan Keimanan, SD Muhammadiyah PK Banyudono Gelar Shalat Istisqa
Boyolali - majalahlarise.com - Menanamkan keimanan dan membangun sikap tawakal kepada Allah SWT, SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono menggelar Shalat Istisqa di lapangan sekolah, Jumat (4/9/2026). Sebanyak 583 siswa kelas 1 hingga 6 bersama guru dan karyawan mengikuti ibadah tersebut dengan tertib dan khusyuk.
Kegiatan Shalat Istisqa menjadi bagian dari pembelajaran keagamaan yang mengajak siswa memahami sikap seorang muslim ketika menghadapi persoalan, kesulitan, maupun musibah. Para siswa tidak hanya diajak menjalankan ibadah, tetapi juga memahami pentingnya memperbanyak doa, istighfar, introspeksi diri, dan berserah diri kepada Allah SWT.
Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, S.Si., MM, mengatakan Shalat Istisqa menjadi momentum bagi warga sekolah untuk kembali menguatkan keimanan, terutama di tengah kondisi kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.
“Kita sebagai orang beriman, jika ada masalah atau musibah, maka kita kembali dan bersandar kepada Allah. Termasuk ketika menghadapi kekeringan yang terjadi di beberapa kecamatan di wilayah Boyolali Utara,” tutur Pujiono.
Menurut Pujiono, pelaksanaan Shalat Istisqa tidak sebatas ritual memohon turunnya hujan. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi sarana pendidikan karakter dan spiritual bagi siswa agar memiliki kesadaran untuk senantiasa mendekatkan diri kepada Allah SWT dalam setiap keadaan.
Ia juga mengajak seluruh warga sekolah mendoakan masyarakat yang tengah menghadapi bencana ekologis, termasuk kebakaran hutan di Kalimantan. Doa bersama tersebut diharapkan menjadi bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar spiritual.
“Mari kita berdoa agar hujan yang Allah turunkan menjadi rahmat, keberkahan, dan membawa kebaikan bagi kehidupan manusia serta lingkungan,” imbuhnya.
Dalam pelaksanaan Shalat Istisqa, Ust. Zumaro, S.Pd.I, Guru Mata Pelajaran Al Islam SD Muhammadiyah PK Banyudono, bertindak sebagai imam. Sementara itu, khutbah disampaikan Ust. Habibi, yang juga merupakan Guru Mata Pelajaran Al Islam, dengan tema “Perkuat Iman di Saat Bencana Ekologis.”
Dalam khutbahnya, Ust. Habibi mengingatkan siswa dan seluruh warga sekolah agar berbagai fenomena alam tidak hanya dipandang sebagai sebuah peristiwa, tetapi juga menjadi bahan renungan untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Menurutnya, kondisi bencana ekologis juga menjadi pengingat bagi manusia untuk menjaga keseimbangan alam. Manusia memiliki tanggung jawab untuk tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kerusakan lingkungan.
Ia mengajak seluruh peserta memperkuat iman, memperbanyak istighfar, memperbaiki amal, serta senantiasa memohon pertolongan Allah SWT dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Sementara itu, Muhammad Zumaro selaku koordinator kegiatan memberikan penjelasan mengenai teknis dan tata cara pelaksanaan Shalat Istisqa. Penjelasan tersebut diberikan agar siswa memahami proses pelaksanaan ibadah sekaligus mengetahui makna di balik setiap rangkaian kegiatan.
Bagi siswa, kegiatan tersebut menjadi pengalaman pembelajaran yang berbeda. Mereka dapat mempraktikkan secara langsung ibadah yang sebelumnya dipelajari melalui pembelajaran Al Islam di kelas.
Kegiatan berlangsung penuh khidmat. Selain menjadi sarana memohon turunnya hujan, Shalat Istisqa juga menjadi media pembelajaran tentang ketauhidan, kepedulian terhadap lingkungan, kesadaran menghadapi bencana, serta sikap tawakal.
Melalui kegiatan tersebut, SD Muhammadiyah PK Banyudono berupaya memastikan nilai-nilai keimanan tidak berhenti pada pemahaman teori di ruang kelas. Nilai tersebut dihidupkan melalui praktik ibadah dan kepedulian terhadap persoalan yang terjadi di lingkungan sekitar.
Langkah tersebut sekaligus memperkuat komitmen sekolah dalam membentuk generasi yang sholeh, cerdas, kreatif, dan mandiri serta memiliki kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. (Sofyan)
Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
News
![]() |
| Talkshow menghadirkan Djoko Santoso, Branch Manager GRSB Solo – PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI), dengan Mey Merliyana sebagai moderator. |
CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
Surakarta - majalahlarise.com — Upaya membangun ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan menjadi perhatian dalam talkshow “CSR Inklusi – Dukungan terhadap Kreativitas dan Ekosistem Seni Disabilitas” yang digelar Forkesi Surakarta, Sabtu (5/9/2026).
Talkshow menghadirkan Djoko Santoso, Branch Manager GRSB Solo – PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI), dengan Mey Merliyana sebagai moderator. Diskusi mengangkat tema “Mendorong dunia usaha untuk hadir, berkolaborasi, dan ikut membangun ekosistem seni disabilitas yang berkelanjutan.”
Forum tersebut mendorong perubahan cara pandang dunia usaha terhadap program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Dukungan kepada penyandang disabilitas diharapkan tidak berhenti pada bantuan sosial maupun kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi program pemberdayaan yang memiliki dampak jangka panjang.
![]() |
| Penanda tanganan MoU GRSB-RTI & FORKESI u/CSR Inklusif. |
Dalam diskusi, seni dan musik dinilai memiliki potensi besar sebagai media ekspresi, pendidikan, stimulasi, sekaligus pengembangan potensi penyandang disabilitas. Karena itu, dukungan terhadap kreativitas penyandang disabilitas perlu dirancang secara terstruktur melalui instruktur profesional, kurikulum, pendampingan, assessment, evaluasi, serta pengukuran outcome.
Djoko Santoso mengatakan kolaborasi lintas sektor penting dilakukan agar anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas memiliki ruang untuk mengembangkan potensi serta kreativitas.
“Yang kita bangun bukan sekadar sebuah kegiatan, tetapi sebuah ekosistem. Dari penerima manfaat, kita ingin melihat mereka tumbuh menjadi individu yang memiliki karya, kesempatan tampil, dan bahkan mampu menjadi bagian dari ekonomi kreatif,” ujar Djoko Santoso.
Menurutnya, keterlibatan dunia usaha dapat menjadi salah satu penggerak terbentuknya ekosistem seni yang memberikan ruang lebih luas bagi talenta penyandang disabilitas. Dukungan tersebut dapat diarahkan pada program yang berkelanjutan, bukan hanya kegiatan sesaat.
Kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, sekolah, rumah sakit, komunitas disabilitas, dan lembaga profesional menjadi salah satu kunci yang dibahas dalam talkshow. Sinergi berbagai pihak diharapkan mampu membuka lebih banyak akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya.
Momentum tersebut juga diharapkan melahirkan lebih banyak inisiatif serta kemitraan nyata yang memberikan kesempatan kepada talenta disabilitas untuk tampil, mengembangkan karya, dan membangun masa depan yang lebih mandiri.
Tentang PT Rhythm Therapy Indonesia
PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI) merupakan lembaga yang mengembangkan pendekatan berbasis musik dan rhythm untuk mendukung pengembangan potensi, kreativitas, dan kemampuan anak berkebutuhan khusus serta menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni dan inklusi. (Mas Is/ Sofyan)
Baca juga: Ketika Bayang Menjelma Rupa, Mahabharata Hadir dalam Bahasa Seni Rupa Kontemporer
Pendidikan
Ketika Bayang Menjelma Rupa, Mahabharata Hadir dalam Bahasa Seni Rupa Kontemporer
SURAKARTA – majalahlarise.com – Kisah Mahabharata yang selama ini lekat dengan pertunjukan wayang kulit Jawa hadir dalam wajah berbeda melalui pameran seni rupa bertajuk “Ketika Bayang Menjelma Rupa: Adaptasi Wayang Kulit Kisah Mahabharata”. Pameran hasil riset Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS) tersebut menghadirkan 17 karya seni rupa hasil eksplorasi dosen dan mahasiswa.
Pameran berlangsung di Solo is Solo Space Lantai 2, Jalan Gatot Subroto Nomor 46, Kemlayan, Solo, pada 4–7 September 2026. Pameran dibuka pada Jumat (4/9/2026), gratis dan terbuka untuk masyarakat umum.
Pameran ini menjadi luaran kegiatan riset Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa FSRD UNS yang mengeksplorasi kekayaan narasi, karakter, simbol, lakon, serta nilai filosofis wayang kulit melalui pendekatan seni rupa kontemporer.
Sebanyak 17 karya yang dipamerkan tidak sekadar menampilkan kembali bentuk wayang kulit secara literal. Para periset melakukan proses deformasi, stilasi, dan reinterpretasi terhadap simbol, warna, gerak, serta narasi Mahabharata sehingga menghasilkan karya dalam medium lukis, mixmedia dengan keramik, hingga grafis.
Dosen sekaligus salah satu periset, Dr. Sigit Purnomo Adi, S.Sn., M.Sn., menjelaskan gagasan utama pameran berangkat dari upaya melihat kembali wayang kulit melalui perspektif seni rupa.
“Wayang selama ini kita kenal sebagai bayang yang hadir di balik kelir. Melalui riset ini, kami mencoba membawa bayang tersebut menjadi rupa yang dapat dilihat, disentuh, diruang, dan dialami secara langsung melalui karya seni rupa,” ujarnya.
Menurutnya, proses penciptaan tidak diarahkan untuk membuat duplikasi tokoh wayang. Sebaliknya, karakter dan nilai yang terkandung dalam kisah Mahabharata menjadi sumber gagasan untuk melahirkan interpretasi visual baru.
“Kami tidak sekadar meniru bentuk wayang. Yang kami eksplorasi adalah bagaimana karakter, simbol, warna, gerak, dan nilai filosofisnya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa seni rupa kontemporer,” jelasnya.
Kisah Mahabharata sendiri memiliki posisi penting dalam tradisi pewayangan Jawa. Tokoh-tokoh seperti Pandawa, Kurawa, Kresna, hingga Punokawan menghadirkan persoalan yang tidak lekang oleh waktu, mulai dari dharma, konflik, kekuasaan, pengorbanan, hingga persoalan kemanusiaan.
Nilai-nilai tersebut menjadi ruang eksplorasi bagi dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam Grup Penciptaan Seni FSRD UNS. Mereka mencoba melihat bagaimana narasi klasik dapat terus dibaca dan ditafsirkan dalam konteks kehidupan serta perkembangan seni rupa masa kini.
“Mahabharata memiliki narasi yang sangat kaya. Di dalamnya ada konflik, pilihan moral, persoalan kekuasaan, hubungan antarmanusia, dan berbagai nilai kehidupan. Kekayaan itulah yang kami tafsirkan kembali menjadi karya visual,” tambahnya.
Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam proses riset dan penciptaan karya. Para mahasiswa tidak hanya menjadi pendukung teknis, tetapi turut melakukan eksplorasi gagasan dan menerjemahkan hasil kajian terhadap wayang kulit dan Mahabharata ke dalam karya masing-masing.
Pameran tersebut diselenggarakan oleh Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa FSRD UNS yang melibatkan dosen Dr. Sigit Purnomo Adi, S.Sn., M.Sn., Dr. Sn. Dona Prawita Arissuta, S.Sn., M.Hum., Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., dan Fika Khoirun Nisa, S.Pd., M.Sn. Sementara mahasiswa yang terlibat yakni Rangga Mas Syahid, Nurohman, Putri Nur Rizky, dan Nawla Najwan Rafida.
Melalui pameran “Ketika Bayang Menjelma Rupa”, tradisi wayang kulit tidak ditempatkan sebagai artefak budaya yang berhenti pada masa lalu. Wayang justru menjadi sumber inspirasi yang terus dapat dikembangkan melalui eksperimentasi artistik.
Pameran ini sekaligus menunjukkan bagaimana riset penciptaan seni di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi, penelitian, pendidikan, dan kreativitas. Narasi Mahabharata yang telah hidup berabad-abad mendapatkan kemungkinan baru untuk dibaca melalui medium dan perspektif seni rupa kontemporer.
Bagi masyarakat, khususnya pencinta seni, budaya, dan wayang, pameran ini menjadi kesempatan untuk melihat Mahabharata dari sudut pandang berbeda. Bayang yang selama ini berada di balik kelir kini menjelma menjadi rupa yang hadir secara langsung di ruang pamer. (Sofyan)
Baca juga: Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital
Pendidikan
![]() |
| IHT menghadirkan Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Drs. Joko Purwanto, M.Pd., sebagai narasumber. |
IHT Pemantapan Kokurikuler, SMP Negeri 2 Giritontro Perkuat Implementasi 8 Dimensi Profil Lulusan
Wonogiri - majalahlarise.com - SMP Negeri 2 Giritontro terus memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus pembentukan karakter peserta didik melalui penguatan program kokurikuler. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan In House Training (IHT) Pemantapan Program Kokurikuler yang digelar Sabtu (5/9/2026) di Ruang Media SMP Negeri 2 Giritontro.
IHT menghadirkan Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Drs. Joko Purwanto, M.Pd., sebagai narasumber. Kegiatan diikuti puluhan guru SMP Negeri 2 Giritontro yang mengikuti pemaparan materi, diskusi, dan pendalaman program secara serius serta interaktif.
Kegiatan dibuka Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, Retno menjelaskan IHT menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan pemahaman guru mengenai pelaksanaan program kokurikuler di satuan pendidikan.
Menurut Retno, kokurikuler memiliki peran strategis dalam mendukung pembelajaran intrakurikuler. Melalui kegiatan kokurikuler, pengalaman belajar peserta didik diharapkan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi berkembang pada pembentukan karakter, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
“Melalui IHT ini diharapkan seluruh guru memiliki pemahaman yang sama mengenai program kokurikuler, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya. Dengan demikian, program yang disusun benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik,” ungkap Retno.
Ia menambahkan, IHT juga menjadi ruang bagi guru untuk melakukan refleksi terhadap program yang selama ini dijalankan. Hasil refleksi tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya program kokurikuler yang lebih terarah, kontekstual, kolaboratif, serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik.
Perkuat 8 Dimensi Profil Lulusan
Dalam pemaparannya, Joko Purwanto memberikan penguatan mengenai pemantapan program kokurikuler dan keterkaitannya dengan 8 dimensi profil lulusan.
Delapan dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Joko menjelaskan, kokurikuler tidak semestinya dipandang hanya sebagai kegiatan tambahan di luar pembelajaran. Program tersebut perlu dirancang secara sistematis agar mampu memperkuat kompetensi sekaligus karakter peserta didik.
“Kokurikuler bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang perlu dirancang secara terarah. Pemantapan kokurikuler harus diarahkan agar kegiatan yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas dan memberikan dampak nyata terhadap perkembangan peserta didik,” jelas Joko.
Menurutnya, delapan dimensi profil lulusan perlu diintegrasikan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan kokurikuler dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dalam pembelajaran ke berbagai situasi nyata.
Peserta didik dapat belajar bekerja sama, memecahkan masalah, berkomunikasi, menghasilkan gagasan kreatif, bertanggung jawab, sekaligus mengembangkan kemandirian melalui pengalaman langsung.
“Delapan dimensi profil lulusan harus menjadi bagian yang terintegrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan,” tambahnya.
Jembatani Pembelajaran dengan Kehidupan Nyata
Joko juga menekankan pentingnya merancang kokurikuler sebagai sarana untuk memperkuat, memperdalam, dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik.
Kegiatan kokurikuler yang dirancang secara relevan dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di kelas dan kehidupan nyata. Karena itu, guru perlu menghadirkan aktivitas yang menarik, kontekstual, kolaboratif, sekaligus memberikan ruang kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif.
“Guru perlu memastikan kegiatan kokurikuler tidak hanya selesai sebagai sebuah kegiatan, tetapi memiliki proses dan pengalaman belajar yang dapat dirasakan serta memberikan dampak bagi peserta didik,” paparnya.
Dalam sesi IHT, para guru juga memperoleh kesempatan berdiskusi mengenai berbagai persoalan dan tantangan dalam implementasi program kokurikuler di sekolah. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.
Suasana kegiatan berlangsung serius, tetapi tetap interaktif. Puluhan guru SMP Negeri 2 Giritontro tampak antusias mengikuti pemaparan materi dan berdiskusi hingga kegiatan berakhir.
Melalui IHT Pemantapan Program Kokurikuler tersebut, SMP Negeri 2 Giritontro berharap seluruh guru semakin siap menyusun dan melaksanakan kegiatan kokurikuler yang terarah, efektif, kontekstual, dan berdampak terhadap perkembangan peserta didik.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah strategis sekolah dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk lulusan yang beriman dan bertakwa, memiliki jiwa kewargaan, mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, mandiri, sehat, serta komunikatif. (Sofyan)
Baca juga: Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...













