Pembagian bibit tanaman kepada warga desa Sugihan.


    KWT Sumber Urip Desa Sugihan Bagikan Puluhan Paket Bibit Tanaman dan Lele, Dukung Ketahanan Pangan Warga

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Kelompok Wanita Tani (KWT) Sumber Urip II, Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, membagikan puluhan paket bibit tanaman dan ikan lele kepada warga, Minggu (27/9/2026).

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong ketahanan pangan masyarakat sekaligus mengembangkan kebun percontohan yang dikelola KWT Sumber Urip II dengan konsep pertanian berkelanjutan dan terintegrasi.

    Kepala Desa Sugihan, Kecamatan Bendosari, Sukardi, mengatakan kegiatan pembagian bibit telah dilakukan secara rutin. Program tersebut tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan tanaman pangan, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat dan memiliki keberlanjutan.

    “Awalnya kegiatan ini memang sudah rutin. Ini juga untuk persiapan desa binaan. Intinya, apa yang kita laksanakan harus bermanfaat dan ada tindak lanjut seterusnya, tidak hanya berhenti,” ujar Sukardi.

    Berbagai jenis tanaman dikembangkan di kebun KWT diantaranya labu, pare, labu madu hingga sayuran seperti kangkung, tomat dan terong.


    Ia menjelaskan, berbagai jenis tanaman dikembangkan di kebun KWT, mulai dari labu, pare, labu madu hingga sayuran seperti kangkung, tomat dan terong.

    Menurut Sukardi, pengembangan tanaman secara bersama-sama di kebun KWT memudahkan proses pengawasan dibandingkan apabila seluruh bibit langsung ditanam secara mandiri di rumah warga.

    “Kalau ditanam di rumah-rumah sejak awal kan sulit untuk mengawasi. Makanya dikerjakan bersama di kebun. Kebetulan akan ada monitoring, kemudian hasilnya kita bagikan kepada warga untuk ditanam di rumah masing-masing, sehingga pengawasannya juga lebih aman,” jelasnya.

    Selain pengembangan tanaman pangan, Desa Sugihan juga mendorong kegiatan pendukung lainnya, salah satunya melalui bank sampah yang telah berjalan di tengah masyarakat.

    Dua Tahun Bangun Kebun KWT

    Ketua KWT Sumber Urip II, Cici Aprilia, mengungkapkan kebun yang kini dikembangkan merupakan hasil perjuangan anggota secara bertahap selama sekitar dua tahun.

    “Sedikit demi sedikit kalau dilihat sekarang sudah seperti ini. Dulu luar biasa perjuangannya. Lahan ini sebelumnya tidak ada apa-apanya, kemudian selama sekitar dua tahun dibenahi tahap demi tahap,” kata Cici.

    Berbagai jenis tanaman telah dikembangkan di kebun tersebut. Salah satu komoditas yang menjadi andalan KWT Sumber Urip II adalah kangkung karena memiliki masa panen relatif cepat dan permintaan pasar cukup tinggi.

    “Kangkung di sini benar-benar menjadi primadona. Pemasarannya paling banyak dan juga menghasilkan paling banyak untuk kita. Jadi bisa dikatakan kangkung naik kelas,” ujarnya.

    Cici menjelaskan, satu petak tanaman kangkung dapat menghasilkan sekitar Rp100 ribu. Dengan masa panen sekitar 22 hingga 25 hari, kangkung memiliki perputaran produksi dan ekonomi yang cukup cepat.

    “Perputaran uang kita cepat dari kangkung sendiri. Belum lagi dari ternak lainnya. Ada ayam yang menghasilkan telur, ada lele yang selain dikonsumsi sendiri juga bisa dipasarkan, kemudian buah-buahan,” jelasnya.

    Terapkan Pertanian Terintegrasi

    KWT Sumber Urip II juga mengembangkan konsep integrated farming atau pertanian terintegrasi. Melalui konsep tersebut, hasil dari satu kegiatan dimanfaatkan kembali untuk mendukung kegiatan lainnya sehingga limbah dapat ditekan.

    Cici mencontohkan sisa tanaman dan bonggol sayuran yang tidak langsung dibuang. Bahan tersebut dikembalikan ke kebun untuk diolah menjadi kompos dan selanjutnya dimanfaatkan sebagai nutrisi tanaman.

    “Sayuran yang kita tanam kemudian kita konsumsi. Kalau ada sisa atau bonggolnya, tidak kami buang, tetapi kami kembalikan ke kebun untuk dikomposkan. Hasil pupuknya kemudian dikembalikan lagi untuk nutrisi tanaman,” terangnya.

    Konsep tersebut juga diterapkan dengan mengintegrasikan tanaman dan peternakan. Sisa hasil tanaman dapat dimanfaatkan untuk pakan ternak, sementara hasil dari peternakan dapat kembali dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian.

    Menurut Cici, pola tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekonomi sirkular di tingkat masyarakat.

    Kembangkan Pengairan Semiotomatis

    Untuk menjawab persoalan pengairan, terutama ketika cuaca panas, KWT Sumber Urip II mengembangkan sejumlah inovasi sederhana.

    Cici mengatakan, pengelolaan pengairan selama ini banyak dilakukan oleh ibu-ibu yang juga memiliki aktivitas rumah tangga. Karena itu, diperlukan sistem pengairan yang praktis dan efisien.

    “Kita belajar dari masalah kita sendiri. Contohnya pengairan yang dikelola ibu-ibu. Mereka juga punya banyak pekerjaan di rumah, sementara cuaca sedang panas. Kami mencari cara bagaimana pengairan bisa dibuat mudah dan praktis,” katanya.

    Dari kebutuhan tersebut, KWT mengembangkan sistem pengairan semiotomatis. Ketika pompa dinyalakan, pengairan dapat berjalan dan menyebar ke area tanaman.

    Selain itu, KWT Sumber Urip II memanfaatkan barang bekas untuk mendukung kegiatan bercocok tanam, salah satunya melalui sistem penanaman kapiler.

    Pemanfaatan barang bekas tersebut menjadi bagian dari upaya KWT mengembangkan pertanian yang produktif secara ekonomi sekaligus memperhatikan aspek lingkungan.

    Cici berharap program ketahanan pangan dan berbagai inovasi yang dikembangkan KWT Sumber Urip II dapat terus berlanjut serta memberikan manfaat bagi masyarakat.

    “Harapannya program ini terus berlanjut. Jadi kita bisa menjadi solusi untuk masalah yang kita hadapi sendiri, dengan terus belajar dan mengembangkan apa yang ada di lingkungan kita,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: MPBI Pascasarjana Univet Bantara Gelar Seminar Akademik Bahas Pemanfaatan AI untuk Publikasi Jurnal Bereputasi




    FMTI 2026 Merajut Jejaring Musik Tradisi untuk Memperkuat Ekosistem Budaya Indonesia

    JAKARTA - majalahlarise.com - Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 kembali hadir dengan mengusung tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara”. Festival ini tidak hanya menjadi panggung pertunjukan musik tradisi, tetapi juga ruang untuk memperkuat ekosistem kebudayaan melalui pertukaran pengetahuan, pengembangan kreativitas, regenerasi, dokumentasi, dan pertemuan antarpelaku budaya.

    FMTI 2026 mempertemukan seniman, komunitas, akademisi, generasi muda, pemerintah, dan masyarakat dalam berbagai kegiatan, mulai dari pertunjukan musik tradisi, seminar dan diskusi kebudayaan, apresiasi bagi pelaku seni, hingga dokumentasi dan publikasi.

    Program tersebut terlaksana atas dukungan Kementerian Kebudayaan dan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) melalui Program Pemanfaatan Hasil Kelola DAKB tahun 2026.

    Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. (Hon.) Dr. Fadli Zon, M.Sc., menyampaikan FMTI menjadi bagian dari upaya memastikan musik tradisi tetap hidup, berkembang, serta memiliki ruang yang relevan di tengah perubahan zaman.

    “Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa, sebagai bagian dari mega diversity yang menjadi kekuatan bangsa. Melalui Festival Musik Tradisi Indonesia, kami ingin memperluas ruang bagi komunitas, seniman, generasi muda, dan masyarakat di berbagai daerah untuk terus merawat sekaligus mengembangkan musik tradisi,” ujar Fadli Zon.

    Menurutnya, kehadiran FMTI di berbagai daerah juga menjadi bagian dari upaya membangun pemajuan ekosistem kebudayaan yang tumbuh dari masyarakat. Musik tradisi tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi terus menjadi sumber kreativitas dan inspirasi bagi kebudayaan Indonesia di masa depan.

    Tradisi yang Hidup dan Berkembang

    FMTI menghadirkan dua spektrum yang berjalan berdampingan. Pertama, musik tradisi yang diwariskan dan dipresentasikan dalam konteks kehidupan komunitas asalnya. Kedua, karya yang mengembangkan warisan tersebut melalui pendekatan kreatif yang relevan dengan perkembangan musik masa kini.

    Sejak 2021, FMTI telah diselenggarakan di sejumlah daerah, antara lain Danau Toba, Tidore, Kutai Kartanegara, Lampung, Bukittinggi, Banjarmasin, dan Jepara pada 2025.

    Pendekatan tersebut membuat FMTI tidak berhenti pada pertunjukan. Festival turut membuka ruang apresiasi dan inovasi artistik sekaligus berhubungan dengan ekonomi kreatif, pariwisata budaya, usaha mikro dan kecil, kuliner lokal, jasa pertunjukan, serta berbagai sektor pendukung penyelenggaraan.

    Seminar, diskusi, publikasi, dan dokumentasi juga menjadi ruang pertukaran gagasan mengenai masa depan musik tradisi, strategi pelestarian, inovasi artistik, kebijakan kebudayaan, serta pemanfaatan teknologi digital.

    Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan, Ahmad Mahendra, menjelaskan FMTI tidak semata-mata ditempatkan sebagai panggung pertunjukan.

    “FMTI tidak semata-mata ditempatkan sebagai panggung pertunjukan, tetapi sebagai bagian dari upaya memperkuat ekosistem musik tradisi secara menyeluruh. Sepuluh daerah yang menjadi lokasi penyelenggaraan FMTI 2026 memperlihatkan keragaman konteks, praktik, pengetahuan, dan ekspresi musikal yang tumbuh di berbagai wilayah Indonesia,” jelas Ahmad Mahendra.

    Ia menyampaikan pertemuan antarkomunitas, seniman, generasi muda, pemerintah, akademisi, dan masyarakat diharapkan membuka ruang pertukaran pengetahuan serta pengalaman sekaligus memperkuat jejaring antarpelaku musik tradisi.

    “Dengan pendekatan tersebut, penguatan musik tradisi tidak berhenti pada penyelenggaraan festival, tetapi dapat berlanjut pada keberlangsungan praktik, regenerasi pelaku, pengembangan kreativitas, serta pemanfaatan musik tradisi dalam kehidupan masyarakat,” jelasnya.

    Memaknai “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara”

    Direktur Kreatif FMTI, Joko S Gombloh, menjelaskan tema “Merajut Bayang-Bayang Musik Nusantara” memiliki makna filosofis yang berkaitan dengan keberadaan musik tradisi sebagai bagian dari ingatan dan kehidupan masyarakat.

    Menurutnya, kata “merajut” menggambarkan upaya aktif menyambungkan berbagai fragmen tradisi musik yang tersebar di Nusantara melalui pertemuan, dialog, dan pertukaran pengalaman.

    “Kata ‘merajut’ melambangkan upaya aktif untuk menyambungkan kembali berbagai fragmen tradisi musik yang tersebar di seluruh Nusantara. Merajut merupakan proses yang memerlukan ketelitian, kesabaran, keterhubungan, dan kebersamaan,” kata Gombloh.

    Dalam konteks FMTI, merajut berarti mempertemukan berbagai komunitas, seniman, akademisi, generasi muda, pemerintah, dan masyarakat dalam ruang dialog yang saling menguatkan.

    Sementara itu, “bayang-bayang musik Nusantara” merujuk pada jejak budaya yang terus hidup dalam ingatan kolektif masyarakat. Jejak tersebut hadir dalam ritual adat, bahasa, cerita rakyat, lanskap alam, etika, spiritualitas, hingga pengetahuan lokal.

    “Musik tradisi tidak berhenti ketika bunyi selesai diperdengarkan, tetapi terus hidup sebagai warisan nilai, etika, spiritualitas, serta pengetahuan lokal yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya,” jelas Gombloh.

    Tema tersebut sekaligus menjadi refleksi terhadap perubahan bentuk, fungsi, dan ruang hidup musik tradisi di tengah globalisasi serta transformasi digital. FMTI mengajak masyarakat membaca kembali jejak tersebut, memahami akar budayanya, dan menghadirkan musik tradisi sebagai sumber inspirasi bagi kebudayaan masa depan tanpa kehilangan identitasnya.

    Sepuluh Daerah Menjadi “Indonesia Kecil”

    FMTI 2026 akan diselenggarakan di 10 daerah yang diposisikan sebagai “Indonesia Kecil”. Pemilihan daerah tersebut menjadi bagian dari upaya membaca keragaman musik tradisi Indonesia melalui ruang-ruang lokal tempat tradisi masih hidup dalam keseharian masyarakat.

    Rangkaian FMTI 2026 dimulai di Bogor pada 3 Oktober 2026 melalui tema Sangitaloka “Bambu dan Bunyi Ritus”. Kegiatan berlangsung di Lapangan Parkir VVIP Pakansari dengan mengangkat bambu sebagai instrumen sekaligus bagian dari ruang sosial, ekologis, dan ritual.

    Berikutnya, Wonosobo pada 17 Oktober 2026 mengangkat tema “Gong Culture: Diaspora dan Resonansi Gamelan” di Lapangan Garung. Tema ini menempatkan gong sebagai bunyi, simbol ritus, kolektivitas, dan medium pengetahuan.

    Maumere, Nusa Tenggara Timur, menjadi lokasi berikutnya pada 23 dan 24 Oktober 2026 di Pusat Jajanan dan Cendera Mata melalui tema “Gong Ha Lin Dobo Waning Ha Hagong Gong Nawang”. Program tersebut menempatkan Gong Waning sebagai salah satu unsur yang memperkaya tenunan musik Nusantara.

    Di Makassar, FMTI digelar pada 28 dan 29 Oktober 2026 di Fort Rotterdam dengan tema “Re’rasa”, yang mengangkat ruang transisi musikal untuk membuka pengembangan, interpretasi, dan improvisasi.

    Selanjutnya, Kuningan pada 7 November 2026 mengangkat tema “Wantun Wirahma Si Windu” di Lapangan Pandapa. Tema tersebut menghubungkan musik dengan ekologi, spiritualitas, dan tradisi agraris Sunda.

    Aceh menjadi lokasi FMTI pada 14 dan 15 November 2026 di Lapangan Pacuan Kuda Takengon melalui tema “Sara Ati Saboh Nanggroe”. Program ini menyoroti keberagaman musik Aceh dan perjumpaan budaya yang berkembang di kawasan Samudra Hindia.

    Memasuki Desember, Mataram, Nusa Tenggara Barat, menjadi lokasi penyelenggaraan pada 5 Desember 2026 di Teras Udayana dengan tema “Sangkep Gending: Bunyi Bersua, Harmoni Bertumbuh”. Tema tersebut menjadi ruang perjumpaan praktik, pelaku, dan komunitas musik tradisi.

    Rangkaian selanjutnya berlangsung di Pontianak, Kalimantan Barat, pada Januari 2027 di Rumah Radakng melalui tema “Rentak Talino Sunge Kapuas”. Tema tersebut merepresentasikan hubungan manusia, budaya, dan Sungai Kapuas sebagai ruang hidup.

    Kemudian Bengkulu menjadi lokasi FMTI pada 16 dan 17 April 2027 di Lapangan Merdeka (View Tower) dengan tema “Berendo: Bunyian Perkusi Ritmis Global”. Tema ini menempatkan musik perkusi sebagai ruang pertemuan lintas budaya.

    Rangkaian FMTI ditutup di Batusangkar, Sumatera Barat, pada Mei 2027 di Lapangan Cindua Mato melalui tema “Pitunang”. Program tersebut mengangkat tradisi vokal, bunyi, serta pewarisan identitas Minangkabau.

    Dari Daerah untuk Peta Musik Tradisi Indonesia

    Rangkaian FMTI 2026 diarahkan untuk membangun pembacaan terhadap peta musik tradisi Indonesia dari ruang-ruang lokal. Sepuluh daerah yang menjadi lokasi kegiatan mempertemukan praktik musik, pengetahuan, komunitas, generasi, dan jejaring kebudayaan dalam satu proses yang saling terhubung.

    Melalui pendekatan tersebut, FMTI menjadi ruang perjumpaan berbagai bentuk ekspresi musik tradisi sekaligus membuka peluang penguatan jejaring antarpelaku budaya.

    Festival ini juga menjadi ruang untuk mempertemukan warisan budaya dengan kreativitas generasi masa kini. Pertukaran pengetahuan, regenerasi, dokumentasi, publikasi, dan pemanfaatan teknologi digital menjadi bagian dari proses menjaga keberlanjutan musik tradisi.

    Dengan demikian, FMTI 2026 tidak sekadar menghadirkan pertunjukan musik tradisi, tetapi menjadi wahana merajut musik Nusantara yang majemuk, dinamis, dan tersebar di berbagai titik Indonesia sekaligus memperkuat keberlanjutan musik tradisi dalam kehidupan masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: Wakil Walikota Astrid Widayani Ajak Gen-Z Bangun Gaya Hidup Halal, Cerdas dan Sehat



    Kuliah Praktisi PPKn UNISRI Dorong Mahasiswa Memahami Pentingnya Etika, Hukum dan Integritas di Era Global

    SOLO - majalahlarise.com - Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar Kuliah Praktisi bertema “Etika, Hukum dan Integritas: Menyiapkan Lulusan PPKn Berdaya Saing Global” di Gedung H Lantai 5 UNISRI, Selasa (23/9/2026).

    Kegiatan menghadirkan dua narasumber lintas profesi yang memiliki perhatian terhadap penguatan etika, hukum, dan integritas, yakni Dr. Supriyanto, S.H., M.H., Kepala Kejaksaan Negeri Surakarta, serta Muhammad Yunus, Anggota DPRD Provinsi Jawa Tengah periode 2019–2024 sekaligus Wakil Ketua DPW PAN Jawa Tengah Bidang Penguatan Saksi. Kuliah praktisi dipandu Linda Oktaviani, M.Pd., sebagai moderator.

    Dalam pemaparannya, Dr. Supriyanto menjelaskan pemberantasan korupsi tidak dapat dipahami hanya sebagai persoalan penindakan hukum. Upaya tersebut berkaitan dengan tujuan negara, terutama memastikan sumber daya negara digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran masyarakat.

    “Pemberantasan korupsi berkaitan erat dengan upaya mewujudkan tujuan negara, terutama memastikan sumber daya negara digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” jelasnya.


    Ia menguraikan sejumlah faktor yang dapat membuat seseorang terjerat tindak pidana korupsi. Faktor tersebut antara lain niat dan kesempatan, ketidaktahuan terhadap peraturan perundang-undangan, serta sistem birokrasi yang masih membuka celah terjadinya praktik koruptif.

    Menurutnya, penanganan korupsi perlu dilakukan secara komprehensif. Penindakan harus berjalan beriringan dengan penguatan integritas, perbaikan tata kelola pemerintahan, serta pemulihan kerugian negara melalui penelusuran dan perampasan aset.

    Langkah tersebut diperlukan agar sumber daya negara yang telah disalahgunakan dapat dikembalikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan pembangunan serta kesejahteraan masyarakat.

    Dr. Supriyanto juga menempatkan pendidikan sebagai fondasi penting dalam membangun budaya antikorupsi. Integritas tidak hanya berkaitan dengan perkataan, tetapi juga kesesuaian antara perkataan dan perbuatan serta konsistensi dalam menjunjung nilai-nilai luhur.

    Pendidikan antikorupsi dapat ditanamkan melalui sembilan nilai integritas, yakni jujur, peduli, mandiri, disiplin, tanggung jawab, kerja keras, sederhana, berani, dan adil.

    Sementara itu, Muhammad Yunus membahas etika publik dari perspektif legislasi dan pengawasan. Ia melihat keberadaan berbagai regulasi dan lembaga pengawasan belum secara otomatis menghilangkan praktik yang tidak berintegritas.

    “Tantangannya adalah bagaimana nilai integritas tidak berhenti sebagai slogan, tetapi benar-benar menjadi bagian dari semangat dalam menjalankan tugas dan pengabdian,” ujarnya.

    Dalam fungsi legislasi, DPRD memiliki peran membangun payung hukum yang mendukung integritas melalui regulasi tentang tata kelola pemerintahan yang baik, pemberantasan korupsi, aparatur sipil negara, serta keterbukaan informasi publik.

    Selain itu, aspek etika juga perlu mendapat perhatian, terutama terkait konflik kepentingan dan potensi penyalahgunaan wewenang.

    Fungsi pengawasan menjadi bagian penting dalam memastikan penyelenggaraan pemerintahan tetap berada dalam koridor hukum dan moral. Pengawasan dapat dilakukan melalui penyerapan aspirasi masyarakat, rapat dengar pendapat, serta evaluasi terhadap berbagai persoalan yang berkaitan dengan etika publik.

    Kuliah praktisi tersebut tidak hanya membahas tanggung jawab pejabat publik maupun lembaga penegak hukum. Mahasiswa juga ditempatkan sebagai aktor penting dalam membangun budaya integritas di tengah masyarakat.

    Kedua narasumber mengajak mahasiswa melihat tantangan Indonesia ke depan dari perspektif kualitas generasi muda. Mahasiswa tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga perlu menguasai kompetensi yang dibutuhkan di tingkat global, seperti teknologi, analisis data, dan komunikasi.

    Kompetensi tersebut perlu berjalan bersama nilai integritas agar kemampuan profesional tidak terlepas dari tanggung jawab moral.

    Bagi mahasiswa PPKn yang dipersiapkan menjadi calon pendidik sekaligus bagian dari masyarakat dan warga negara, pemahaman mengenai hukum, etika, dan integritas perlu diwujudkan dalam sikap serta perilaku sehari-hari.

    Guru tidak hanya memiliki tugas mentransfer pengetahuan kepada peserta didik. Guru juga memiliki peran menanamkan nilai serta memberikan keteladanan melalui perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

    Melalui Kuliah Praktisi ini, Prodi PPKn UNISRI memberikan pengalaman belajar kontekstual kepada mahasiswa dengan mempertemukan teori akademik dan pengalaman praktis dari berbagai bidang profesi.

    Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi bagi mahasiswa bahwa etika, hukum, dan integritas bukan sekadar materi perkuliahan, melainkan nilai yang perlu diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

    Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi bekal mahasiswa PPKn dalam menjalankan peran sebagai calon pendidik sekaligus mempersiapkan diri menghadapi tuntutan dunia yang semakin terbuka dan kompetitif.(Sofyan)


    Baca juga: Parenting SMA Manafiul Ulum Canden Bahas “Panduan Cerdas Remaja Jatuh Cinta”



    Parenting SMA Manafiul Ulum Canden Bahas “Panduan Cerdas Remaja Jatuh Cinta”

    Boyolali - majalahlarise.com - Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden menggelar kegiatan parenting bertajuk “Panduan Cerdas Remaja Jatuh Cinta”, Sabtu (26/9/2026), di Aula Ponpes Muhammadiyah Canden. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus silaturahmi antara orang tua dan pihak pesantren dalam mendampingi perkembangan remaja menghadapi berbagai tantangan zaman.

    Kegiatan menghadirkan Etik Rahmawati, S.Psi., MM., Psikolog sebagai narasumber dan diikuti para wali santri SMA Manafiul Ulum Canden. Parenting tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua mengenai cara membangun komunikasi dan pendampingan yang tepat terhadap putra-putrinya, terutama ketika memasuki fase remaja dan mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis.

    Acara diawali pembacaan Al-Qur’an oleh Aulia Azkiatuz Zahra dan dipandu Triana N selaku MC. Kegiatan turut dihadiri Mudir Ponpes Manafiul Ulum Canden Ustaz Pujiono, S.Si., MM., didampingi Wadir Ustaz Suradi, S.P.

    Dalam sambutannya, Mudir Ponpes Manafiul Ulum Canden Ustaz Pujiono menjelaskan masa remaja merupakan fase penting yang membutuhkan perhatian, kedekatan, dan pendampingan dari orang tua.

    Menurut Pujiono, persoalan ketertarikan dan jatuh cinta pada remaja tidak cukup dihadapi dengan larangan maupun kemarahan. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang mampu membangun komunikasi terbuka sehingga anak memiliki ruang yang aman untuk bercerita.

    “Anak-anak kita tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan, memahami dunianya, kemudian mengarahkannya dengan nilai-nilai agama dan akhlak,” pesan Pujiono.

    Ia juga menjelaskan pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan. Pesantren memberikan pembinaan selama santri berada di lingkungan pendidikan, sedangkan keluarga memiliki peran penting dalam membangun karakter dan kebiasaan anak di rumah.

    “Ketika anak mulai mengenal rasa cinta, tugas kita bukan memusuhi rasa itu, tetapi mengajarkan bagaimana mengelolanya agar cinta tidak menjadi jalan menuju kemaksiatan, melainkan menjadi energi untuk menjaga kehormatan, prestasi, dan masa depan,” tambahnya.

    Sementara itu, Etik Rahmawati, S.Psi., MM., Psikolog memberikan penguatan kepada para wali santri mengenai karakteristik psikologis remaja, dinamika perasaan pada masa pubertas, serta strategi komunikasi orang tua ketika menghadapi anak yang mulai mengenal hubungan dengan lawan jenis.

    Melalui materi tersebut, orang tua diajak memahami perubahan yang dialami remaja secara lebih utuh. Pendekatan komunikasi yang terbuka dan penuh empati diharapkan dapat membantu orang tua memberikan arahan tanpa membuat anak merasa dihakimi atau dijauhi.

    Ketua Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden, Triana N, menyampaikan kegiatan parenting tersebut menjadi bagian dari upaya paguyuban mempererat ukhuwah dan meningkatkan kebersamaan antara wali santri dengan pihak pesantren.

    “Melalui kegiatan ini kami berharap hubungan antara wali santri dan pesantren semakin dekat. Orang tua juga mendapatkan wawasan untuk mendampingi anak-anak menghadapi fase remaja dengan lebih baik,” ujarnya.

    Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden terdiri atas Triana N sebagai ketua, Sri Yamtini sebagai sekretaris, dan Wahyono sebagai bendahara.

    Kegiatan parenting tersebut diharapkan memperkuat sinergi keluarga dan pesantren dalam mendampingi generasi muda. Dengan komunikasi yang baik, orang tua diharapkan mampu menjadi sahabat bagi anak sekaligus tetap menjalankan peran sebagai pendidik dan pengarah.

    Melalui pendampingan yang tepat, keluarga dan pesantren dapat membangun kesamaan visi agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, memiliki kendali diri, serta mampu menghadapi dinamika kehidupan remaja secara bijak.(Sofyan)


    Baca juga: Wakil Walikota Astrid Widayani Ajak Gen-Z Bangun Gaya Hidup Halal, Cerdas dan Sehat

    Astrid saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan MES Surakarta & ASBISINDO Goes to School: Gaya Hidup Halal Gen-Z di SMA Al-Islam 1 Surakarta, Sabtu (26/9/2026). 


    Wakil Walikota Astrid Widayani Ajak Gen-Z Bangun Gaya Hidup Halal, Cerdas dan Sehat

    SURAKARTA - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta Astrid Widayani mengajak generasi muda membangun gaya hidup halal yang diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup halal tidak hanya berkaitan dengan makanan dan produk yang dikonsumsi, tetapi juga mencakup cara mengelola keuangan, menggunakan media sosial, menjaga kesehatan mental, memilih pergaulan, hingga mengambil keputusan.

    Pesan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan MES Surakarta & ASBISINDO Goes to School: Gaya Hidup Halal Gen-Z di SMA Al-Islam 1 Surakarta, Sabtu (26/9/2026). Astrid hadir sebagai Wawali Surakarta sekaligus Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta.

    Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi para siswa untuk mengenal konsep gaya hidup halal sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan dunia kerja.

    Di hadapan para siswa, Astrid mengingatkan pentingnya setiap anak muda memiliki cita-cita dan optimisme dalam menatap masa depan.


    “Semua harus memiliki cita-cita. Untuk meraih masa depan yang sukses, kita perlu membangun gaya hidup yang halal, cerdas dan sehat,” kata Astrid.

    Astrid menjelaskan, halal lifestyle perlu dimaknai secara luas. Halal tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.

    “Apa yang kita makan, dengan siapa kita berteman, apa yang kita tonton, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana menggunakan uang, bagaimana memperlakukan orang lain, sampai apa yang kita upload di media sosial, semuanya perlu kita pertimbangkan,” ujarnya.

    Bijak Mengelola Keuangan

    Astrid juga mengajak siswa menjadi generasi yang financially wise atau bijak dalam mengelola keuangan. Menurutnya, kebiasaan mengatur keuangan perlu dibangun sejak usia sekolah melalui langkah sederhana, seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran serta membedakan kebutuhan dengan keinginan.

    Para siswa juga didorong menggunakan uang untuk hal-hal yang produktif. Kemampuan tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam persoalan keuangan, termasuk risiko pinjaman online.

    “Jangan sampai karena ingin mengikuti gaya hidup, kita justru terjebak masalah keuangan. Mulai dari sekarang belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran, bedakan mana kebutuhan dan mana keinginan,” tutur Astrid.

    Jaga Kesehatan Mental

    Selain literasi keuangan, Astrid menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental. Menurutnya, kesehatan mental menjadi salah satu fondasi bagi generasi muda dalam mempersiapkan masa depan.

    “Tekanan yang dihadapi Gen-Z saat ini tidak sedikit. Karena itu, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Kita harus optimis dan mampu mengenali diri sendiri,” katanya.

    Astrid juga mengajak para siswa menggunakan gadget dan media sosial secara bijak. Menurutnya, setiap unggahan dapat menjadi bagian dari jejak digital yang perlu dipertimbangkan dengan baik.

    “Media sosial bukan hanya tempat kita berekspresi. Jejak digital kita juga bisa dilihat ketika memasuki dunia kerja. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum mengunggah sesuatu,” ujarnya.

    Edukasi Halal Lifestyle

    Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai bidang. Dani Ilham Pratama dari Paragon Corp membahas pentingnya memilih produk halal, Salwaa Fauziyyah Jatmiko dari OJK membahas Islamic financial planning, sedangkan H. Muhammad Ismail dari Bank Syariah Indonesia membahas perbankan syariah untuk remaja.

    Astrid berharap edukasi gaya hidup halal tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Halal lifestyle harus menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Jadikan itu sebagai bagian dari cara kita memilih, mengambil keputusan dan membangun masa depan,” pungkasnya.(Mas Is/Sofyan)


    Baca juga: MPBI Pascasarjana Univet Bantara Gelar Seminar Akademik Bahas Pemanfaatan AI untuk Publikasi Jurnal Bereputasi

    Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dosen Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) selaku narasumber saat menyampaikan materi menulis ilmiah diera AI: Etika, Strategi dan Publikasi.


    MPBI Pascasarjana Univet Bantara Gelar Seminar Akademik Bahas Pemanfaatan AI untuk Publikasi Jurnal Bereputasi

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Program Pascasarjana Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menggelar Seminar Akademik Pascasarjana bertema “Pemanfaatan AI secara Etis dan Efektif dalam Penulisan Karya Ilmiah Pembelajaran Bahasa menuju Publikasi Jurnal Bereputasi”, Sabtu (26/9/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Gedung H Lantai 3 Univet Bantara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dosen Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS), sebagai narasumber. Seminar diikuti mahasiswa MPBI Pascasarjana dan menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk meningkatkan wawasan serta keterampilan mahasiswa dalam penulisan dan publikasi karya ilmiah.

    Direktur Pascasarjana Univet Bantara, Dr. Veronika Unun Pratiwi, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang membahas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara aktif dan praktis dalam dunia akademik.


    Menurutnya, perkembangan AI semakin berpengaruh dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, pembelajaran, teknologi, penelitian, serta pengembangan karya ilmiah. Pendidik dan mahasiswa perlu mengikuti perkembangan tersebut sekaligus memahami cara memanfaatkan AI secara tepat.

    “AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses kerja. Namun, hasil yang diberikan AI tidak selalu benar sehingga tetap membutuhkan pemeriksaan dan penyuntingan manusia,” jelasnya.

    Ia menjelaskan, AI tidak semestinya menggantikan peran manusia dalam proses pendidikan maupun akademik. Kemampuan manusia untuk memahami persoalan, mengarahkan penggunaan teknologi, memeriksa informasi, serta mengembangkan gagasan tetap diperlukan untuk menghasilkan karya berkualitas.

    Direktur Pascasarjana Univet Bantara berharap pemanfaatan AI dilakukan secara bijak dan produktif, terutama untuk mendukung pendidik dan mahasiswa menghasilkan artikel maupun karya ilmiah yang layak dipublikasikan.

    Sementara itu, Ketua Panitia, Arif Wahyudi, S.Pd., menyampaikan kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari tugas perkuliahan mahasiswa sekaligus merespons perkembangan kecerdasan artifisial yang semakin luas digunakan dalam dunia pendidikan dan penelitian.

    “Workshop ini bertujuan meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta dalam memanfaatkan AI untuk penulisan karya ilmiah dengan tetap memperhatikan etika, integritas akademik, dan kualitas publikasi,” ujarnya.

    Ia menyebut kegiatan diikuti 79 peserta yang terdiri atas 60 mahasiswa kelas I, 10 mahasiswa kelas RPL, dan 9 mahasiswa kelas reguler. Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari pimpinan, dosen Pascasarjana, serta Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.

    Kegiatan dilaksanakan secara mandiri melalui kontribusi peserta sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk membangun tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan mengelola kegiatan akademik secara profesional.

    Sementara itu, Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., selaku keynote speaker, menyampaikan apresiasi atas seminar yang mengangkat pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara etis dan efektif dalam pendidikan, khususnya pembelajaran bahasa dan publikasi karya ilmiah.

    Prof. Farida menjelaskan kehadiran AI telah membawa perubahan dalam ekosistem pendidikan. AI tidak hanya berfungsi sebagai perangkat teknologi, tetapi juga dapat mendukung transformasi pedagogis melalui adaptive learning, analitik pembelajaran, pemberian umpan balik secara real time, serta dukungan data dalam pengambilan keputusan selama proses pembelajaran.

    Menurutnya, AI dapat memberikan manfaat dalam mendukung penguasaan keterampilan abad ke-21, meningkatkan efisiensi administrasi, serta mendukung peningkatan kualitas pendidikan agar lebih inklusif, relevan, dan responsif terhadap perkembangan global.

    Namun, pemanfaatan AI juga menghadirkan tantangan, antara lain bias algoritmik, privasi dan keamanan data, ketimpangan akses teknologi, ketergantungan terhadap teknologi, serta perubahan peran manusia dalam pembelajaran.

    “AI perlu ditempatkan sebagai mitra yang membantu pekerjaan manusia, bukan sebagai pengganti manusia,” jelas Prof. Farida.

    Ia mengingatkan mahasiswa, guru, kepala sekolah, pengawas, calon pendidik, dan akademisi untuk menggunakan AI secara aktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab. AI dapat membantu proses analisis maupun penyusunan karya ilmiah, tetapi integritas akademik tetap perlu menjadi landasan.

    Prof. Farida berharap seminar tersebut memberikan pengetahuan praktis kepada peserta dalam memanfaatkan AI secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mengembangkan karya ilmiah.

    Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., menjelaskan AI dapat diposisikan sebagai tool atau alat yang membantu mahasiswa maupun dosen dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan penulisan karya ilmiah.

    “AI sebagai tool dapat membantu kita dalam berbagai pekerjaan akademik. Namun, pemanfaatannya harus tetap berlandaskan kejujuran dan etika akademik,” tuturnya.

    Menurut Prof. Sarwiji, AI sebaiknya digunakan sebagai mitra yang memperkuat proses berpikir manusia, membantu menemukan informasi, mengolah gagasan, dan mendukung pekerjaan akademik. Penggunaan AI secara tidak bertanggung jawab berpotensi menimbulkan persoalan akademik, termasuk plagiarisme dan menghasilkan karya yang tidak mencerminkan kemampuan penulis.

    Karena itu, tanggung jawab penggunaan AI tidak hanya berada pada mahasiswa atau penulis. Dosen dan supervisor juga memiliki peran dalam mengawasi serta mengarahkan mahasiswa agar menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

    Supervisor, lanjutnya, tidak cukup hanya mengingatkan mahasiswa mengenai etika penggunaan AI, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab. Apabila ditemukan persoalan seperti plagiarisme atau penggunaan sumber tanpa mencantumkan rujukan, dosen dapat memberikan penilaian sekaligus mengarahkan mahasiswa untuk memperbaiki karya ilmiahnya.

    Pada tingkat institusi, Prof. Sarwiji juga mendorong adanya regulasi atau pedoman yang jelas mengenai penggunaan AI. Pedoman tersebut diperlukan agar dosen dan mahasiswa memiliki acuan yang sama dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk kepentingan akademik.

    Selain pemanfaatan AI, Prof. Sarwiji mengajak mahasiswa pascasarjana memperhatikan kualitas sumber referensi dalam penyusunan karya ilmiah. Menurutnya, kemudahan memperoleh buku, jurnal, dan artikel melalui internet membuat mahasiswa memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber ilmiah. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilih sumber yang kredibel.

    Mahasiswa perlu mampu menemukan jurnal bereputasi dan membedakan publikasi ilmiah yang berkualitas dengan jurnal yang kurang kredibel. Dalam penulisan karya ilmiah, mahasiswa dapat memanfaatkan artikel dari jurnal internasional yang terindeks Scopus atau Web of Science serta jurnal nasional terakreditasi Sinta.

    Meski demikian, ia mengingatkan kualitas artikel tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan peringkat jurnal. Artikel yang diterbitkan pada jurnal Sinta 5 atau Sinta 6, misalnya, tidak otomatis memiliki kualitas yang rendah.

    “Artikel tetap perlu dibaca dan dikaji. Kita perlu melihat metodologi, argumentasi, data, serta relevansinya dengan penelitian yang sedang dilakukan,” jelasnya.

    Prof. Sarwiji juga mengingatkan mahasiswa agar cermat dalam memilih jurnal untuk publikasi. Perkembangan industri penerbitan membuat publikasi ilmiah juga bersinggungan dengan kepentingan bisnis. Karena itu, peneliti perlu mencermati karakteristik pengelolaan jurnal sebelum menjadikannya sebagai tempat publikasi maupun sumber referensi.

    Salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah konsistensi jumlah artikel yang diterbitkan dalam setiap edisi. Namun, indikator tersebut tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kualitas jurnal. Penilaian tetap perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melihat berbagai aspek pengelolaan dan kualitas publikasi. (Sofyan)


    Baca juga: Empat Hari, Tri Haryoko Bikin Wayang Daur Ulang Janaka dan Srikandi Ukuran Jumbo untuk Kriya Nusa 2026

    Tri Haryoko bersama dua wayang jumbo karakter Janaka dan Srikandi dengan tinggi mencapai 150 sentimeter menggunakan bahan dasar sak semen yang telah didaur ulang.


    Empat Hari, Tri Haryoko Bikin Wayang Daur Ulang Janaka dan Srikandi Ukuran Jumbo untuk Kriya Nusa 2026

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Kreativitas mengolah bahan daur ulang menjadi karya seni kembali ditunjukkan Tri Haryoko dari Sanggar Omah Wayang Mas Kamto, Sukoharjo. Ia berhasil membuat dua wayang jumbo karakter Janaka dan Srikandi dengan tinggi mencapai 150 sentimeter menggunakan bahan dasar sak semen yang telah didaur ulang. 

    Karya tersebut akan dipamerkan dalam Kriya Nusa 2026, Pameran Kerajinan Nusantara yang berlangsung 26-30 September 2026 di Hall A-B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Pameran yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ini diikuti 257 peserta dengan 410 booth.

    Pembuatan wayang jumbo tersebut membutuhkan waktu empat hari. Prosesnya diawali dengan membuat sketsa pada sak semen yang sudah dipress, kemudian dipahat seperti proses pembuatan wayang kulit. Setelah itu dilakukan pewarnaan dan pemasangan gapit menggunakan kayu sawo serta rotan.

    Tri Haryoko sebagai dalang sekaligus Ketua Sanggar Omah Wayang Mas Kamto mengaku bersyukur mendapat kesempatan menghasilkan karya wayang dengan konsep berbeda.

    “Dengan selesainya karya wayang jumbo ini, saya sangat bersyukur diberi kesempatan membuat wayang yang tidak seperti biasanya. Bahannya menggunakan sak semen daur ulang. Walaupun menggunakan bahan daur ulang, proses pembuatannya masih sama seperti pembuatan wayang kulit,” ungkap Tri Haryoko dalam rilis yang dikirim.

    Menurutnya, ukuran jumbo menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengerjaan. Ukuran yang mencapai 150 sentimeter membuat proses pembuatan membutuhkan kehati-hatian lebih dibandingkan wayang berukuran normal.

    “Yang paling berkesan, wayang ini ukurannya jumbo, jadi harus ekstra hati-hati membuatnya karena berbeda dengan ukuran pada umumnya,” jelasnya.

    Tri Haryoko berharap karya tersebut membuka peluang kolaborasi dan pengembangan seni wayang dengan berbagai bentuk kesenian serta material yang tersedia di lingkungan sekitar.

    “Kami berharap ke depannya ada pihak-pihak yang mau menggandeng Sanggar Omah Wayang Mas Kamto agar tetap berkarya. Semoga wayang tidak hanya berjalan di ranah tradisi, tetapi juga bisa dikolaborasikan dengan apa saja, misalnya musik kontemporer maupun musik Barat,” katanya.

    Ia menambahkan, bahan pembuatan wayang tidak selalu harus menggunakan kulit. Pemanfaatan material daur ulang seperti sak semen dapat menjadi alternatif untuk mengeksplorasi bentuk baru dalam seni pewayangan.

    “Bahan pembuatan wayang ternyata bisa menggunakan bahan yang ada di sekitar kita. Semoga bisa menambah inspirasi dalam mengembangkan seni wayang dengan bahan selain kulit,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Super Hero Sanggar Bhinneka dan TK Teladan Kenalkan Kereta Api Lewat Dongeng Wisata

⬆
Top