Prodi PPKn UNISRI Gelar Seminar Nasional, Bahas Peran Pancasila dalam Menjaga Pertahanan dan Keamanan Indonesia 

    SOLO – majalahlarise.com - Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar Seminar Nasional bertajuk “Dari Ideologi ke Aksi: Peran Pancasila dalam Menjaga Pertahanan dan Keamanan Indonesia Masa Kini”. Kegiatan berlangsung di Ruang Auditorium UNISRI, Senin (6/10).

    Seminar nasional tersebut diikuti sekitar 180 peserta yang terdiri atas mahasiswa PPKn UNISRI dan delegasi dari sejumlah perguruan tinggi di Solo Raya, di antaranya Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), UNWIDA, UNIVET, Universitas Duta Bangsa (UDB), dan Universitas Sebelas Maret (UNS).

    Ketua Pelaksana Seminar Nasional, Muhammad Dewa Saputra, mengatakan kegiatan tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas wawasan mengenai implementasi nilai-nilai Pancasila dalam menghadapi berbagai tantangan pertahanan dan keamanan bangsa.

    “Seminar ini diikuti 180 peserta dari mahasiswa PPKn UNISRI dan delegasi dari berbagai perguruan tinggi di Solo Raya. Kami ingin membangun ruang diskusi akademik mengenai bagaimana Pancasila tidak hanya dipahami sebagai ideologi, tetapi juga diwujudkan melalui tindakan nyata,” ujarnya.

    Seminar menghadirkan tiga narasumber, yakni Kolonel Pnb Alfian Rokhmat K., M.Han., Letkol Inf. Reza Sahputra, S.E., dan Rektor UNISRI Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd. Ketiganya membahas berbagai perspektif mengenai implementasi Pancasila dalam memperkuat ketahanan nasional.

    Pembahasan tidak hanya berfokus pada aspek pertahanan secara militer, tetapi juga mencakup ketahanan ideologi, sosial, budaya, serta kemampuan generasi muda menghadapi berbagai pengaruh yang dapat mengancam persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Di tengah perkembangan teknologi digital dan perubahan geopolitik global, nilai-nilai Pancasila dinilai perlu diterjemahkan dalam bentuk sikap dan tindakan nyata. Generasi muda memiliki peran strategis dalam menjaga persatuan, menangkal informasi yang dapat memecah belah masyarakat, serta membangun budaya kebangsaan di ruang digital.

    Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Alumni dan Kerja Sama UNISRI, Dr. Joko Pramono, S.Sos., M.Si., mengapresiasi pelaksanaan seminar tersebut. Menurutnya, mahasiswa PPKn memiliki posisi penting sebagai generasi yang akan ikut mengawal keberlanjutan nilai-nilai Pancasila.

    “Di era digital, mahasiswa harus mampu menerjemahkan nilai-nilai Pancasila ke dalam sikap dan tindakan. Persatuan tidak cukup hanya dibicarakan, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk ketika berinteraksi di ruang digital,” jelasnya.

    Dekan FKIP UNISRI, Dr. Handayani, mengatakan seminar tersebut menjadi ruang akademik penting untuk memperkuat jati diri mahasiswa PPKn sebagai calon pendidik. Menurutnya, calon guru PPKn memiliki tanggung jawab untuk memahami Pancasila secara utuh sekaligus mampu mengajarkannya melalui keteladanan.

    “Mahasiswa tidak hanya perlu memahami Pancasila sebagai materi ajar, tetapi juga menjadikannya sebagai pedoman dalam kehidupan. Pertahanan dan keamanan bangsa dapat dimulai dari lingkungan terkecil, seperti keluarga, sekolah, kampus, dan masyarakat,” katanya.

    Selain seminar, kegiatan tersebut dimeriahkan pameran hasil karya mahasiswa PPKn. Berbagai karya yang ditampilkan meliputi artikel ilmiah, poster kebangsaan, media pembelajaran PPKn, serta komik edukasi karya mahasiswa.

    Pameran tersebut menjadi bagian dari upaya menghubungkan pemahaman akademik dengan kreativitas mahasiswa. Nilai-nilai Pancasila dikemas melalui berbagai media agar lebih mudah dipahami dan relevan dengan karakter generasi muda.

    Melalui seminar nasional ini, Prodi PPKn UNISRI berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antara dunia akademik dan institusi pertahanan negara. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi sarana menumbuhkan kesadaran bela negara, memperkuat karakter kebangsaan, serta menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air di kalangan mahasiswa.

    Dengan demikian, Pancasila tidak berhenti sebagai konsep atau materi pembelajaran, tetapi dapat diwujudkan menjadi aksi nyata dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. (Sofyan)


    Baca juga: Pembelajaran Mendalam, Langkah Kecil Menuju Baitullah




    Penilaian Kinerja Sekolah SD Muhammadiyah PK Banyudono oleh PCM Banyudono

    Boyolali – majalahlarise.com - SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono menerima kunjungan Tim Penilaian Kinerja Kepala Sekolah (PKKS) dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Banyudono, Selasa (6/10/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula SD Muhammadiyah PK Banyudono tersebut menjadi momentum evaluasi sekaligus refleksi terhadap perjalanan, capaian, dan perkembangan sekolah.

    Tim PKKS PCM Banyudono terdiri atas tiga orang. Yacop Khismanto, S.Pd., melakukan penilaian pada aspek kepribadian dan kepemimpinan. Sarbudi, S.Pd., melakukan penilaian bidang kesiswaan serta sarana dan prasarana. Sementara Umi Muslikah, S.Ag., melakukan penilaian pada bidang administrasi dan keuangan.

    Kegiatan diawali dengan sambutan selamat datang dan selayang pandang yang disampaikan Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, S.Si., MM. Dalam paparannya, Pujiono menyampaikan perjalanan sekolah yang terus berkembang dari awalnya hanya memiliki 12 siswa hingga kini mencapai 583 siswa.

    “Perjalanan sekolah ini bukanlah perjalanan yang instan. Dari 12 siswa, sedikit demi sedikit kita tumbuh melalui kerja keras, kepercayaan masyarakat, kolaborasi orang tua, perjuangan guru, serta dukungan Persyarikatan Muhammadiyah,” papar Pujiono.

    Menurut Pujiono, pertumbuhan sekolah tidak hanya terlihat dari peningkatan jumlah peserta didik, tetapi juga dari peningkatan mutu pendidikan dan tata kelola. SD Muhammadiyah PK Banyudono telah meraih Akreditasi A serta memperoleh penganugerahan Sekolah Unggul Madya dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

    “Capaian ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus memperbaiki kualitas sekolah. Pertumbuhan jumlah siswa harus diikuti dengan peningkatan layanan, kualitas pembelajaran, dan tata kelola yang semakin baik,” jelasnya.

    Dalam kegiatan tersebut, pihak sekolah juga memperkenalkan tim kerja yang memiliki peran dalam mendukung pengelolaan sekolah. Tim tersebut terdiri atas Iin Marlinda selaku Waka Kurikulum, Putri Endriastuti selaku Waka Kesiswaan, Danang Eko PL selaku Waka Sarana dan Prasarana, Anik Soffiyati selaku Bendahara, Siti Mar’athus Sholihah selaku pengelola LazisMU, serta Habibi Nur selaku Humas.

    Kehadiran Tim PKKS PCM Banyudono menjadi kesempatan bagi sekolah untuk mendapatkan evaluasi secara menyeluruh. Penilaian mencakup aspek kepemimpinan, kepribadian, kesiswaan, sarana prasarana, administrasi, hingga pengelolaan keuangan.

    Pujiono menyampaikan, proses penilaian tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai evaluasi, tetapi juga menjadi ruang refleksi untuk mengetahui hal-hal yang sudah berjalan baik sekaligus bagian yang masih perlu diperbaiki.

    “PKKS ini menjadi momentum bagi kami untuk melihat kembali perjalanan sekolah. Apa yang sudah baik akan kami pertahankan dan kembangkan, sedangkan hal-hal yang masih perlu diperbaiki akan menjadi bahan evaluasi bersama,” jelasnya.

    Ia menambahkan, perkembangan SD Muhammadiyah PK Banyudono merupakan hasil kerja bersama berbagai unsur. Guru dan tenaga kependidikan, peserta didik, orang tua, masyarakat, serta Persyarikatan Muhammadiyah memiliki kontribusi dalam perjalanan sekolah.

    “Sekolah tidak mungkin berkembang sendirian. Ada kerja bersama dan kepercayaan dari banyak pihak. Karena itu, kami ingin terus menjaga amanah ini dengan memberikan layanan pendidikan yang semakin baik,” ungkapnya.

    Bagi SD Muhammadiyah PK Banyudono, kegiatan PKKS menjadi bagian dari ikhtiar berkelanjutan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Evaluasi dilakukan untuk memperkuat tata kelola sekolah sekaligus memastikan seluruh program berjalan sesuai visi dan tujuan pendidikan.

    Dengan semangat “Sekolahnya Calon Pemimpin Bangsa”, SD Muhammadiyah PK Banyudono berkomitmen menghadirkan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kecerdasan dan prestasi akademik, tetapi juga membentuk peserta didik yang memiliki adab, akhlak, kemandirian, serta kesiapan menghadapi tantangan masa depan.

    Dari 12 siswa menuju 583 siswa, perjalanan SD Muhammadiyah PK Banyudono menjadi bagian dari proses panjang membangun kepercayaan dan mutu pendidikan. Evaluasi melalui PKKS diharapkan menjadi pijakan untuk menghadirkan langkah-langkah perbaikan dan pengembangan sekolah pada masa mendatang. (Sofyan)


    Baca juga: Pembelajaran Mendalam, Langkah Kecil Menuju Baitullah

     

    Dosen dan peneliti UNISRI mengikuti seminar pemanfaatan AI untuk meningkatkan kualitas proposal penelitian BIMA/BRIN.

    Pusat Studi Pangan dan Kesehatan Masyarakat UNISRI Gelar Seminar Pemanfaatan AI untuk Proposal BIMA/BRIN

    SOLO – majalahlarise.com - Pusat Studi Pangan dan Kesehatan Masyarakat Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar seminar bertajuk “Pemanfaatan AI untuk Pembuatan Proposal BIMA/BRIN”, Selasa (6/10). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi meningkatkan kapasitas dosen dan peneliti dalam menyusun proposal penelitian yang kompetitif di tengah perkembangan teknologi digital.

    Seminar diikuti dosen dan peneliti di lingkungan UNISRI. Kegiatan diarahkan untuk memberikan pemahaman sekaligus keterampilan dalam memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) sebagai alat bantu penyusunan proposal penelitian sesuai standar dan skema pendanaan nasional.

    Ketua Pusat Studi Pangan dan Kesehatan Masyarakat UNISRI, Dr. Ahmad Mustofa, mengatakan kegiatan tersebut menghadirkan narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Prof. Dr. Honorata Ratnawati Dwi Putranti, S.E., M.M. Kehadiran narasumber diharapkan memberikan perspektif praktis kepada dosen dalam mengoptimalkan AI untuk mendukung proses penyusunan proposal penelitian.

    Dalam paparannya, Prof. Honorata menjelaskan pemanfaatan AI secara etis dan produktif dalam berbagai tahapan penyusunan proposal. Penggunaan teknologi tersebut dapat membantu peneliti melakukan pemetaan kebaruan riset dan state of the art, merumuskan urgensi penelitian, menyusun metode, hingga menyempurnakan sistematika dan kebahasaan proposal.

    “AI bukan untuk menggantikan ide peneliti, tetapi menjadi alat bantu untuk mempercepat sekaligus mempertajam kualitas proposal. Peneliti tetap harus memiliki gagasan, pemahaman substansi, serta kemampuan melakukan verifikasi terhadap informasi yang dihasilkan AI,” jelas Prof. Honorata.

    Sementara itu, Ketua LPPM UNISRI, Dr. Yani Asrie, menjelaskan seminar tersebut menjadi bagian dari strategi LPPM dalam mendorong peningkatan jumlah dan kualitas proposal penelitian dosen yang memperoleh pendanaan eksternal.

    “Penguasaan teknologi AI saat ini menjadi keharusan bagi dosen. Melalui kegiatan ini kami berharap dosen UNISRI mampu memanfaatkan AI secara bijak untuk meningkatkan kualitas proposal penelitian BIMA dan BRIN, sehingga daya saing riset UNISRI di tingkat nasional semakin meningkat,” ujarnya.

    Seminar berlangsung interaktif melalui sesi praktik dan diskusi. Peserta mendapatkan materi mengenai etika penggunaan AI dalam riset, teknik menyusun prompt yang tepat untuk penelitian pangan dan kesehatan masyarakat, serta strategi menghindari plagiarisme dan penggunaan AI yang tidak sesuai dengan kaidah akademik.

    Melalui kegiatan tersebut, Pusat Studi Pangan dan Kesehatan Masyarakat bersama LPPM UNISRI berharap semakin banyak proposal penelitian inovatif yang lahir dari lingkungan kampus. Proposal tersebut diharapkan relevan dengan isu ketahanan pangan dan kesehatan masyarakat serta mampu bersaing dalam skema pendanaan BIMA dan BRIN tahun 2026–2027. (Sofyan)


    Baca juga: Semangat Hari Batik Nasional, FEB UNISRI dan FEB Warmadewa Perkuat Potensi Batik Khas Girilayu



    Pembelajaran Mendalam, Langkah Kecil Menuju Baitullah

    SOLO – majalahlarise.com – Perjalanan umrah tidak sekadar menjadi perjalanan ibadah, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran mendalam bagi setiap jamaah untuk memahami makna spiritual, sejarah, dan kehidupan. Hal itu dirasakan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Dwi Jatmiko, setelah mengikuti program Umrah Plus Oman dan Thaif bersama PT Firdaus Mulia Abadi (FMA), Senin (5/10/2026).

    Bagi guru Pendidikan Agama Islam dan Bahasa Arab tersebut, kesempatan mendapatkan cuti untuk melaksanakan umrah menjadi berkah yang sangat berarti. Perjalanan ke Tanah Suci dinilai memberikan pengalaman pembelajaran yang tidak hanya diperoleh melalui teori, tetapi juga melalui pengalaman spiritual secara langsung.

    “Umrah itu merupakan cita-cita yang diimpikan. Cita-cita untuk pembelajaran mendalam bagaimana menikmati setiap perjalanan spiritual, baik di Madinah maupun Makkah. Terima kasih kepada Kepala Sekolah Sri Sayekti atas izinnya, Amanah Multi Finance Fitria Hariyati, dan penyelenggara umrah Firdaus Mulia Abadi (FMA),” ujarnya.

    Program Umrah Plus Oman dan Thaif berlangsung selama 12 hari. Rombongan berangkat dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Jakarta, pada 23 September 2026 menggunakan penerbangan Oman Air dengan tujuan awal Muscat, Oman.

    Selama berada di Oman, jamaah berkesempatan mengunjungi Masjid Agung Sultan Qaboos dan Matrah Souq, pasar tradisional yang menjadi salah satu destinasi yang menarik untuk mengenal kehidupan masyarakat setempat.

    Dari Oman, perjalanan dilanjutkan menuju Jeddah dan kemudian Madinah. Di Kota Nabi tersebut, jamaah memperbanyak ibadah di Masjid Nabawi sekaligus mengunjungi sejumlah tempat bersejarah, antara lain Masjid Quba, kebun kurma, dan kawasan Uhud.

    “Dari Madinah, rombongan menuju Makkah melalui Miqat Bir Ali untuk melaksanakan rangkaian ibadah umrah. Selain tawaf dan sai, jamaah juga mengikuti ziarah ke sejumlah tempat bersejarah, termasuk Jabal Tsur, Arafah, dan Jabal Rahmah,” jelas Dwi Jatmiko.

    Menurutnya, setiap lokasi yang dikunjungi memberikan pengalaman dan pelajaran tersendiri. Perjalanan tersebut menjadi kesempatan untuk menghayati sejarah perjuangan Rasulullah SAW dan para sahabat sekaligus memperkuat kesadaran spiritual.

    Perjalanan kemudian ditutup dengan kunjungan ke Thaif pada 2–3 Oktober 2026. Jamaah mengunjungi Masjid Ibnu Abbas, sentra pengolahan bunga mawar, serta menikmati suasana kota pegunungan yang memiliki sejarah penting dalam perjalanan dakwah Rasulullah SAW.

    Rombongan dijadwalkan tiba kembali di Jakarta pada 4 Oktober 2026. Perjalanan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai pengalaman wisata religi, tetapi menjadi bekal untuk meningkatkan kualitas ibadah dan kehidupan setelah kembali ke Tanah Air.

    Bagi Dwi Jatmiko, perjalanan menuju Baitullah merupakan langkah kecil yang menghadirkan pembelajaran besar. Pengalaman selama perjalanan diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menjalankan tugas sebagai pendidik dan menyampaikan nilai-nilai keagamaan kepada peserta didik.

    “Pembelajaran mendalam bukan hanya tentang memahami sesuatu melalui buku dan teori. Pengalaman spiritual juga memberikan pelajaran yang sangat berarti. Perjalanan ini menjadi langkah kecil menuju Baitullah, tetapi memberikan pembelajaran yang besar untuk kehidupan,” pungkasnya.(Sofyan)


    Baca juga: Semangat Hari Batik Nasional, FEB UNISRI dan FEB Warmadewa Perkuat Potensi Batik Khas Girilayu

    Poster digital karya Baskarabumi Haidar Alif Jadaa, siswa kelas VII SDC (Smart Digital Class) 4, lolos kurasi dan dipamerkan dalam TTAH Things That Almost Happened 2026 - Virtual Exhibition yang digelar secara daring di Irak.


    Karya Siswa SMP Muhammadiyah I Simpon Surakarta Dipajang di Pameran Internasional Irak

    SURAKARTA— majalahlarise.com - Karya kreatif siswa SMP Muhammadiyah I Simpon Surakarta menembus ajang pameran internasional. Poster digital karya Baskarabumi Haidar Alif Jadaa, siswa kelas VII SDC (Smart Digital Class) 4, lolos kurasi dan dipamerkan dalam TTAH Things That Almost Happened 2026 - Virtual Exhibition yang digelar secara daring di Irak.

    Karya berjudul “Almost Finished” tersebut dibuat menggunakan aplikasi Procreate dan Canva. Poster menampilkan karakter manusia yang sedang berlari menuju garis finis. Karya Aska, sapaan akrab Baskarabumi, menjadi salah satu dari 308 karya yang dihasilkan 202 peserta dari 38 negara.

    Pameran tersebut mempertemukan karya siswa dengan peserta dari berbagai negara, di antaranya Belarus, Yunani, China, Kolombia, Mesir, India, Ekuador, dan Hungaria. Pameran virtual mulai dibuka pada 15 September 2026.

    Bagi Aska, kesempatan tersebut menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus memotivasi dirinya untuk terus berkarya.

    “Saya sangat senang karya poster saya bisa dipajang di luar negeri. Lolos seleksi dan bisa ikut pameran di luar negeri juga membuat saya semakin semangat untuk terus berkarya,” ujar Aska.

    Karya “Almost Finished” diselesaikan dalam waktu sekitar lima hari. Proses pengerjaan dilakukan di sela-sela kegiatan belajar dan mengerjakan pekerjaan rumah di rumah.

    Kegemaran Aska dalam mengolah visual dan menggambar menggunakan tablet turut mendukung kemampuannya menghasilkan karya digital. Selain Procreate dan Canva, ia juga menggunakan sejumlah perangkat lunak lainnya untuk mengeksplorasi ide dan mengembangkan kreativitas visual.

    Wali Kelas VII SDC 4 SMP Muhammadiyah I Simpon Surakarta, Fina Dwi Astuti, mengapresiasi pencapaian tersebut. Menurutnya, prestasi Aska menjadi kebanggaan bagi sekolah sekaligus menunjukkan pentingnya memberikan ruang kepada siswa untuk mengembangkan potensi.

    “Prestasi ini sungguh membanggakan bagi SMP Muhammadiyah I Simpon Surakarta. Sekolah selalu berupaya dan terus mendorong siswa untuk meningkatkan prestasi, baik akademik maupun nonakademik,” ungkap Fina.

    Dukungan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses pengembangan minat dan bakat Aska. Evy Widyaningsih selaku orang tua mengaku mendukung kiprah putranya dalam berkarya dan mengikuti ajang tingkat internasional.

    “Kami sangat mendukung Aska dalam berkarya dan mengikuti ajang tingkat internasional. Pencapaian ini diharapkan dapat menjadi motivasi untuk belajar sekaligus meningkatkan hobinya ke depan,” tutur Evy.

    Keikutsertaan Aska dalam pameran internasional tersebut menjadi pengalaman berharga sejak usia sekolah. Selain memperkenalkan karya siswa ke lingkungan internasional, pencapaian ini menunjukkan bahwa kreativitas dan kemampuan mengolah media digital dapat menjadi ruang bagi siswa untuk berprestasi. (Sofyan)


    Baca juga: SMA Negeri 1 Manyaran Genap 33 Tahun, Mantapkan Semangat Kridha Paramarta



    Semangat Hari Batik Nasional, FEB UNISRI dan FEB Warmadewa Perkuat Potensi Batik Khas Girilayu

    Karanganyar - majalahlarise.com - Peringatan Hari Batik Nasional menjadi momentum untuk tidak sekadar mengenakan batik, tetapi juga mengenali, menjaga, dan mengembangkan masyarakat yang berada di balik setiap lembar kain batik. Semangat tersebut diwujudkan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Kolaborasi Nasional bersama FEB Universitas Warmadewa Bali di Sentra Batik Girilayu, Karanganyar, Jumat (2/10/2026).

    Tanggal 2 Oktober memiliki arti penting bagi batik Indonesia. Pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan Indonesian Batik dalam Representative List of the Intangible Cultural Heritage of Humanity. Pengakuan tersebut menunjukkan batik bukan sekadar produk ekonomi, tetapi bagian dari tradisi, pengetahuan, simbol, keterampilan, dan identitas yang terus hidup di tengah masyarakat.

    Dalam konteks tersebut, Sentra Batik Girilayu menjadi salah satu contoh bagaimana warisan budaya berkembang berdampingan dengan aktivitas ekonomi masyarakat. Kegiatan PkM diikuti 12 kelompok batik yang tergabung dalam Paguyuban Giriarum. Forum tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kapasitas pelaku usaha sekaligus menggali potensi khas Batik Girilayu.


    Dari FEB Universitas Warmadewa Bali hadir Kepala Program Studi Akuntansi Krisna Murti, Wakil Dekan FEB Dewa Ayu, Rahayu, dan Yogiswara. Sementara FEB UNISRI diwakili Dekan FEB Dr. Marjam Desma Rahardhini, S.E., M.Si., penanggung jawab kegiatan Dr. Rispantyo, Kaprodi Akuntansi Fadjar Harimurti, S.E., M.Si., Kaprodi Manajemen Riska Fii Ahsani, S.E., M.Sc., Kaprodi Bisnis Digital Putri Oktovita Sari, S.E., MBA., perwakilan dosen Magister Manajemen Acha, serta perwakilan dosen Bisnis Digital Tya.

    Menggali Identitas Batik Girilayu

    Salah satu potensi Batik Girilayu terletak pada kuatnya hubungan antara produk batik dengan lingkungan serta identitas lokal. Para perajin tidak hanya memproduksi kain bermotif, tetapi juga mengembangkan motif yang merepresentasikan karakter kawasan Girilayu.

    Kekhasan tersebut antara lain tercermin melalui unsur Mangku Astana Ngadeg, buah durian, dan manggis yang menjadi bagian dari identitas motif setempat. Para perajin juga memiliki kemampuan membuat batik berdasarkan tema tertentu sesuai kebutuhan dan permintaan konsumen.

    Karakter warna turut menjadi bagian dari kekuatan Batik Girilayu. Warna klasik bernuansa membumi menjadi salah satu ciri yang diminati, termasuk untuk kebutuhan di lingkungan Keraton Surakarta.

    Kondisi tersebut menunjukkan nilai batik tidak hanya terletak pada keindahan visual. Di dalamnya terdapat cerita, lingkungan budaya, pengetahuan, keterampilan, serta identitas masyarakat yang melahirkan karya tersebut.

    "Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat potensi masyarakat Batik Girilayu. Kolaborasi perguruan tinggi diharapkan dapat memberikan perspektif akademik sekaligus mendorong pengembangan potensi ekonomi masyarakat berbasis kekayaan budaya lokal," ujar perwakilan FEB UNISRI.

    Sementara itu, kolaborasi dengan FEB Universitas Warmadewa Bali membuka ruang pertukaran pengalaman antara perguruan tinggi dengan pelaku usaha batik. Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendukung pengembangan usaha agar produk batik lokal semakin dikenal dan memiliki daya saing.

    Galeri Buka Peluang Pasar

    Pengembangan Batik Girilayu juga mendapatkan dukungan dengan hadirnya Galeri Batik Girilayu pada 16 September 2026 di kawasan sekitar Astana Giribangun. Keberadaan galeri di kawasan wisata tersebut membuka peluang untuk mempertemukan produk batik dengan wisatawan yang datang ke Girilayu.

    Galeri dapat menjadi ruang untuk memperkenalkan beragam produk sekaligus cerita yang menyertai setiap motif. Wisatawan tidak hanya membeli kain, tetapi juga memperoleh pengalaman mengenal karakter budaya dan potensi ekonomi masyarakat setempat.

    "Potensi Batik Girilayu sangat menarik karena memiliki kekhasan motif, warna, dan cerita yang berkaitan dengan lingkungan masyarakat. Potensi tersebut perlu terus dikembangkan agar memiliki nilai tambah sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para perajin," ungkap perwakilan kegiatan.

    Melalui PkM Kolaborasi Nasional tersebut, FEB UNISRI dan FEB Universitas Warmadewa Bali mengambil bagian dalam penguatan kapasitas masyarakat Batik Girilayu. Kolaborasi mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman langsung para pelaku usaha di lapangan.

    Peringatan Hari Batik Nasional akhirnya menjadi pengingat penting. Menjaga batik tidak cukup hanya dengan mengenakannya. Upaya tersebut juga perlu diwujudkan melalui pengenalan motif, pelestarian keterampilan, pengembangan inovasi, perluasan pasar, serta penguatan ekonomi para perajin.

    Batik Girilayu menunjukkan warisan budaya dapat terus berkembang ketika masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan berbagai pihak bergerak bersama. Dengan demikian, setiap lembar batik bukan hanya menyimpan keindahan, tetapi juga cerita, identitas, keterampilan, dan keberlangsungan kehidupan masyarakat di baliknya. (Sofyan)


    Baca juga: UNISRI Perkuat Jejaring Akademik di Lubuklinggau, Jalin Kerja Sama dengan UNPARI dan UNMURA

     

    Penyerahan potongan tumpeng oleh Kepala sekolah, Retno Winarni, S.S., M.Pd., kepada Ketua Komite Sugiyo sebagai simbol rasa syukur peringatan HUT ke-33 SMA Negeri 1 Manyaran.

    SMA Negeri 1 Manyaran Genap 33 Tahun, Mantapkan Semangat Kridha Paramarta

    Wonogiri – majalahlarise.com – SMA Negeri 1 Manyaran memperingati hari ulang tahun ke-33 pada Senin (5/10/2026). Mengusung tema “Kridha Paramarta”, momentum tersebut menjadi ajang refleksi perjalanan sekolah sekaligus memperkuat komitmen untuk terus berkarya, berprestasi, berintegritas, dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta bangsa.

    Kepala SMA Negeri 1 Manyaran, Retno Winarni, S.S., M.Pd., menyampaikan usia 33 tahun merupakan perjalanan panjang yang diwarnai kerja keras, pengabdian, perjuangan, keberhasilan, tantangan, pengorbanan, dan berbagai pengalaman. Menurutnya, pada usia tersebut sekolah telah memasuki fase matang dengan sejarah, budaya, pengalaman, prestasi, serta nama baik yang harus terus dijaga dan dikembangkan.

    “Tema Kridha Paramarta kami maknai sebagai semangat untuk terus berkarya, bekerja nyata, memberikan yang terbaik, serta menghadirkan manfaat bagi sekolah, peserta didik, masyarakat, dan bangsa,” ujarnya.

    Selama sekitar 11 bulan menjalankan amanah sebagai kepala sekolah, Retno melihat potensi besar yang dimiliki SMA Negeri 1 Manyaran. Potensi tersebut mencakup dedikasi guru dan tenaga kependidikan, talenta peserta didik, serta dukungan orang tua, komite, alumni, dan masyarakat.

    Penampilan potensi siswa dalam seni tari.


    Berbagai upaya pengembangan terus dilakukan untuk mewujudkan sekolah yang mantap, berintegritas, ramah anak, dan inklusif. Penguatan dilakukan melalui bidang akademik, keterampilan, kewirausahaan, hingga pendidikan karakter.

    Salah satunya melalui pengaktifan kembali koperasi sekolah. Koperasi tidak hanya diarahkan sebagai tempat transaksi, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bagi peserta didik untuk menumbuhkan tanggung jawab, kejujuran, gotong royong, kewirausahaan, dan kemandirian.

    “Pendidikan karakter kami perkuat agar peserta didik tidak hanya memiliki prestasi akademik, tetapi juga menjadi pribadi yang jujur, disiplin, bertanggung jawab, peduli, mampu bekerja sama, dan berintegritas,” jelasnya.

    Retno mengibaratkan SMA Negeri 1 Manyaran sebagai sebuah pohon yang telah tumbuh besar. Akar menjadi simbol sejarah dan nilai-nilai yang ditanamkan para pendahulu. Batang menggambarkan guru, tenaga kependidikan, dan seluruh keluarga besar sekolah. Cabang merupakan berbagai program dan inovasi, daun menjadi proses pembelajaran, sedangkan buah adalah peserta didik dan alumni.

    “Karena itu, sekolah tidak cukup hanya bertambah usia. Sekolah harus terus menghasilkan prestasi, karakter, inovasi, dan kontribusi bagi masyarakat,” tuturnya.

    Penampilan pemenang lomba menyanyi mars SMA Negeri 1 Manyaran.


    Ia berharap peringatan usia 33 tahun tersebut menjadi titik tolak untuk melangkah lebih baik, bukan menjadi titik akhir. Retno juga menyampaikan apresiasi kepada para pendahulu, mantan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, komite, orang tua, alumni, panitia, peserta didik, sponsor, serta seluruh pihak yang selama 33 tahun telah memberikan kontribusi bagi kemajuan SMA Negeri 1 Manyaran.

    “Semangat Kridha Paramarta mengajak seluruh keluarga besar sekolah hadir dalam karya, bergerak melalui kolaborasi, berprestasi dengan integritas, dan mengabdi untuk negeri demi mewujudkan SMA Negeri 1 Manyaran yang semakin unggul dan bermartabat,” ungkapnya.

    Sementara itu, Ketua Panitia, Christus Parus Wahyu Cahyo Pinilih, menyampaikan rangkaian kegiatan telah berlangsung sejak 24 September 2026. Kegiatan diawali dengan bola voli antarsekolah se-Wonogiri, senam bersama, serta aksi kebersihan dan peduli lingkungan.

    Rangkaian berlanjut dengan jalan sehat, sharing alumni, cek kesehatan gratis dari Puskesmas, servis gratis Honda, lomba Mas dan Mbak, ekshibisi futsal putri, serta lomba konten kreator.

    Kegiatan juga diisi debat Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos), lomba paduan suara, Jumat Religi, serta wawasan kebangsaan yang bekerja sama dengan TNI dan Polri. Kolaborasi tersebut direncanakan berlanjut setiap bulan sebagai sarana memberikan wawasan tentang kebangsaan, nasionalisme, dan kedisiplinan kepada siswa.

    “Keberhasilan seluruh rangkaian kegiatan ini merupakan hasil kerja keras dan kreativitas para siswa. Guru memberikan arahan dan pendampingan agar kegiatan dapat berjalan dengan baik,” kata Christus.

    Puncak peringatan dilaksanakan pada 5 Oktober dengan lomba tumpeng dan berbagai kegiatan yang melibatkan siswa. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh siswa, guru, panitia, serta sponsor yang telah mendukung seluruh rangkaian acara.

    Menurutnya, momentum tersebut menjadi kesempatan bagi SMA Negeri 1 Manyaran untuk terus maju sekaligus mempersiapkan peserta didik menghadapi dunia kerja.

    Di sisi lain, Ketua Komite SMA Negeri 1 Manyaran, Sugiyo, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya seluruh rangkaian kegiatan dengan lancar. Menurutnya, kegiatan dapat terlaksana berkat kerja keras panitia, dukungan berbagai pihak, serta niat yang ikhlas.

    Ia juga mengapresiasi seluruh pihak yang telah berjuang menyukseskan acara. Menurut Sugiyo, angka 33 memiliki makna tersendiri yang dapat menjadi inspirasi bagi seluruh warga sekolah.

    “Angka 33 ini bisa menjadi inspirasi. Dalam ibadah, tasbih, tahmid, dan takbir masing-masing dibaca 33 kali. Karena itu, kami berharap peringatan ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi juga membawa nilai kerohanian dan keberkahan bagi seluruh warga SMA Negeri 1 Manyaran serta para tamu yang hadir,” jelasnya.

    Terkait berbagai perlombaan, Sugiyo menjelaskan SMA Negeri 1 Manyaran sebagai tuan rumah berupaya memberikan kesempatan kepada para tamu untuk berprestasi. Langkah tersebut sekaligus menjadi bentuk penghormatan dan upaya menjaga hubungan baik agar peserta dari luar sekolah dapat kembali berpartisipasi pada kegiatan berikutnya.

    “Kami berharap seluruh rangkaian acara ini dapat memberikan kebahagiaan, inspirasi, serta mempererat kebersamaan antara sekolah dan masyarakat,” pungkasnya.(Sofyan)


    Baca juga:  UNISRI Perkuat Jejaring Akademik di Lubuklinggau, Jalin Kerja Sama dengan UNPARI dan UNMURA

⬆
Top