GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pendidikan
![]() |
| Penyerahan penghargaan kepada para peserta pemenang perlombaan Festival (OctoFest) 2026. |
October Festival 2026, Ajang 181 Anak Solo Raya Unjuk Bakat dan Raih Prestasi
SURAKARTA – majalahlarise.com – Sebanyak 181 anak usia dini dari berbagai kelompok bermain (KB) dan taman kanak-kanak (TK) se-Solo Raya mengikuti October Festival (OctoFest) 2026 yang diselenggarakan SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo, Sabtu (31/10/2026). Mengusung tema “Tunjukkan Potensi Dirimu, Raih Prestasimu”, kegiatan tahunan ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengembangkan bakat, kreativitas, serta keberanian sejak usia dini.
Antusiasme peserta terlihat dalam empat cabang perlombaan yang diselenggarakan. Lomba menyanyi diikuti 26 peserta, spelling bee sebanyak 17 peserta, mewarnai 66 peserta, dan doa harian menjadi cabang dengan jumlah peserta terbanyak, yakni 72 anak. Para peserta hadir bersama orang tua dan guru pendamping yang memberikan dukungan selama perlombaan berlangsung.
Ketua Panitia OctoFest 2026, Mohamad Iqbal Baehaqi, menjelaskan kegiatan ini tidak semata-mata berorientasi pada kemenangan. Lebih dari itu, OctoFest menjadi ruang bagi anak-anak untuk mengekspresikan diri, mengembangkan potensi, serta melatih keberanian tampil di depan umum.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk menunjukkan kemampuan terbaiknya, mengasah kreativitas, dan menumbuhkan semangat berkompetisi dalam kebaikan atau fastabiqul khairat,” ujarnya.
Memasuki tahun kelima penyelenggaraan, OctoFest kembali digelar dengan pembagian lokasi perlombaan menjadi dua zona. Gedung selatan digunakan untuk lomba menyanyi, mewarnai, dan spelling bee, sedangkan gedung utara menjadi tempat pelaksanaan lomba doa harian. Pengaturan tersebut dilakukan untuk menciptakan suasana perlombaan yang lebih tertib dan nyaman bagi peserta.
Pembukaan acara berlangsung pukul 08.00 WIB dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an oleh Raniah Marzaqah Sisna, murid kelas IV SD Muhammadiyah PK Kottabarat. Setelah perlombaan berlangsung selama dua jam, peserta dan orang tua disuguhi penampilan duet lagu religi oleh Clareen Jenafayze Kalfani dan Zhafir Agusti Al Fatih, murid kelas II. Keduanya merupakan peraih Juara Harapan I Duet Lagu Religi pada ajang MAPSI ke-27 tingkat Kecamatan Laweyan.
Setiap cabang perlombaan memberikan apresiasi kepada enam peserta terbaik, mulai dari juara I, II, III hingga juara harapan I, II, dan III. Para pemenang memperoleh piala, sertifikat, serta uang pembinaan sebagai bentuk penghargaan atas kemampuan dan usaha yang telah ditunjukkan.
Salah satu peserta yang berhasil meraih prestasi adalah Nadhira Qiana Azzahra dari TK ABA 1 Gemolong. Ia berhasil meraih Juara I lomba doa harian setelah bersaing dengan puluhan peserta lainnya.
Dengan penuh haru, Nadhira mengungkapkan rasa syukur atas prestasi yang diraihnya.
“Alhamdulillah, terima kasih ustaz-ustazahku telah mengantarku jauh-jauh ke SD Muhammadiyah PK. Piala dan uang pembinaan ini akan aku berikan kepada umiku,” tuturnya.
Selain menjadi ajang kompetisi bagi anak usia dini, OctoFest 2026 juga dimeriahkan dengan lomba majalah dinding (mading) antarkelas di lingkungan SD Muhammadiyah PK Kottabarat. Kegiatan tersebut diselenggarakan untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda sekaligus Hari Bahasa.
Lomba mading dibagi menjadi dua kategori, yakni kelas bawah (I–III) dan kelas atas (IV–VI). Masing-masing kategori menetapkan tiga pemenang yang memperoleh bingkisan sebagai bentuk apresiasi atas kreativitas dan karya murid.
Melalui OctoFest 2026, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo berharap semakin banyak anak usia dini mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi potensi, membangun rasa percaya diri, dan berani menunjukkan prestasi. Ajang ini sekaligus menjadi sarana mempererat silaturahmi serta membangun kolaborasi antara sekolah, lembaga pendidikan anak usia dini, dan keluarga.
Baca juga: UT Surakarta Gelar Utaran Festival, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Kreativitas Generasi Muda
Pendidikan
![]() |
| Universitas Terbuka (UT) Surakarta menggelar Utaran Festival. |
UT Surakarta Gelar Utaran Festival, Dorong Gaya Hidup Sehat dan Kreativitas Generasi Muda
SURAKARTA – majalahlarise.com – Universitas Terbuka (UT) Surakarta menggelar Utaran Festival sebagai upaya mendekatkan perguruan tinggi kepada masyarakat sekaligus mendorong penerapan gaya hidup sehat dan pengembangan kreativitas generasi muda. Kegiatan yang melibatkan pelajar SMA se-Solo Raya tersebut menghadirkan berbagai agenda menarik, mulai dari olahraga zumba hingga kompetisi tari atau dance competition.
Utaran Festival merupakan kolaborasi Bidang Perluasan Daya Jangkau, Registrasi dan Ujian dengan Bidang Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Alumni UT Surakarta. Melalui kegiatan ini, UT ingin memperkenalkan pendidikan tinggi dengan pendekatan yang lebih dekat, edukatif, dan menarik bagi kalangan anak muda.
Direktur UT Surakarta, Dr. Agus Joko Purwanto, M.Si., mengatakan, kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk komitmen UT untuk semakin dekat dengan masyarakat sekaligus memperkenalkan kesempatan pendidikan tinggi kepada generasi muda.
Menurutnya, UT terus memperkuat branding dan meningkatkan kualitas layanan agar semakin dikenal masyarakat sebagai perguruan tinggi yang memberikan kesempatan luas bagi siapa saja untuk melanjutkan pendidikan.
"UT memberikan kemudahan bagi masyarakat untuk belajar secara online, sehingga mahasiswa tetap bisa bekerja sambil kuliah dengan biaya yang terjangkau. Harapannya, mereka dapat berkembang, baik dalam pekerjaan maupun kompetensi pendidikannya," ungkap Agus.
Ia menjelaskan, sistem pembelajaran jarak jauh yang diterapkan UT juga membentuk karakter mahasiswa agar mandiri, tangguh, berani, serta mampu mengembangkan kemampuan soft skill. Dengan bekal tersebut, lulusan UT diharapkan memiliki kompetensi dan daya saing untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja, baik di lingkungan pemerintahan maupun sektor swasta.
Agus juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Sukoharjo, TNI, kepolisian, pemerintah desa, dan kecamatan yang selama ini turut memberikan dukungan terhadap perkembangan serta pelayanan pendidikan UT kepada masyarakat.
Sementara itu, Manajer Perluasan Daya Jangkau, Registrasi dan Ujian UT Surakarta, Danar Kristiana Dewi, S.I.Kom., M.I.Kom., menjelaskan, Utaran Festival merupakan bagian dari rangkaian kegiatan memperingati ulang tahun ke-42 Universitas Terbuka yang jatuh pada September lalu.
Menurutnya, festival tersebut dirancang sebagai sarana untuk memperkenalkan UT kepada masyarakat, terutama generasi muda, melalui kegiatan yang memadukan edukasi, olahraga, dan kreativitas.
"Melalui kegiatan ini, kami ingin mengenalkan UT kepada masyarakat dengan pendekatan yang lebih dekat dengan anak muda. Selain itu, kami juga ingin mendukung pola hidup sehat melalui kegiatan positif," jelas Danar.
Ia menyebutkan, salah satu agenda yang menjadi perhatian dalam festival tersebut adalah kompetisi tari yang diikuti pelajar SMA se-Solo Raya. Kompetisi ini menjadi wadah bagi para pelajar untuk mengembangkan kreativitas, meningkatkan kemampuan berkompetisi, sekaligus menyalurkan bakat di bidang seni.
Di sisi lain, Manajer Pembelajaran, Kemahasiswaan, dan Alumni UT Surakarta, Cicilia Clara Devi Anggraini, S.Pd., M.Pd., mengatakan, kegiatan Utaran Festival juga melibatkan mahasiswa UT Surakarta sebagai bentuk kolaborasi dalam membangun interaksi dengan masyarakat.
Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan seperti zumba dan dance competition diharapkan dapat mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, membiasakan pola hidup sehat serta mengarahkan mereka pada aktivitas yang positif.
"Generasi muda sekarang perlu diarahkan pada kegiatan-kegiatan positif. Melalui olahraga dan kompetisi seni, mereka memiliki ruang untuk mengembangkan minat, bakat, serta kreativitas," ujarnya.
Cicilia berharap Utaran Festival dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat Solo Raya sekaligus memperkuat peran UT dalam memperluas akses pendidikan tinggi.
Sebagai perguruan tinggi negeri yang menerapkan sistem pembelajaran terbuka dan jarak jauh, UT Surakarta terus berupaya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenyam pendidikan tinggi secara fleksibel. Melalui sistem tersebut, mahasiswa dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari.
Melalui Utaran Festival, UT Surakarta berharap semakin dikenal masyarakat dan mampu mengambil bagian dalam membangun generasi muda yang sehat, kreatif, mandiri, serta memiliki daya saing dalam menghadapi tantangan masa depan.(Udin/ Sofyan)
Pendidikan
Lolos Kurasi Pameran Internasional Convergence UNP Padang 2026, Dosen DKV ISI Surakarta Tampilkan Karya “Lelaku”
PADANG – majalahlarise.com – Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, Asmoro Nurhadi Panindias, berhasil lolos kurasi dalam Pameran Internasional Seni Rupa dan Desain bertajuk Convergence yang diselenggarakan Universitas Negeri Padang (UNP), Sumatera Barat, pada 27–30 Oktober 2026.
Dalam pameran yang berlangsung di Galeri Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP, Gedung Teater Tertutup Mursal Esten tersebut, Asmoro menampilkan karya berjudul “Lelaku”. Karya ini mengangkat kearifan budaya Jawa sebagai refleksi tentang nilai-nilai kemanusiaan di tengah perkembangan teknologi yang semakin memperluas kemampuan manusia.
Pameran internasional Convergence digagas Departemen Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) UNP dengan kurator Rifki Aswan. Perhelatan ini menghadirkan 83 seniman dan desainer dari delapan negara, terdiri atas 71 seniman Indonesia, empat seniman Malaysia, dua seniman China, dua seniman Nepal, serta masing-masing satu seniman dari Skotlandia, Korea Selatan, Rusia, dan Slovakia.
Kegiatan tersebut menjadi ruang dialog dan kolaborasi lintas bangsa serta lintas generasi dalam merespons perkembangan seni kontemporer di era konvergensi teknologi dan budaya. Pameran ini sekaligus menjadi bagian dari peringatan 63 tahun Departemen Seni Rupa dan 72 tahun Universitas Negeri Padang.
Melalui seleksi yang melibatkan seniman undangan, dosen, mahasiswa, hingga seniman muda hasil open call, pameran ini mengangkat dinamika seni kontemporer yang semakin cair. Batas antara disiplin ilmu, budaya lokal dan global, tradisi dan modernitas, hingga realitas natural dan artifisial menjadi tema yang menarik untuk dieksplorasi.
Di tengah keberagaman perspektif tersebut, karya “Lelaku” hadir menjawab pertanyaan kuratorial mengenai bagian dari kemanusiaan yang harus dipertahankan ketika kemampuan manusia terus diperluas oleh teknologi.
Asmoro berangkat dari falsafah Jawa ngèlmu iku kalakone kanthi laku, yang mengandung makna pengetahuan dan ilmu harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Menurutnya, lelaku merupakan kesediaan manusia untuk menjalani proses, menanggung beban, serta mewujudkan gagasan melalui keterlibatan tubuh secara utuh.
“Ketika teknologi terus memperluas kapasitas manusia hingga mengaburkan batas antara yang natural dan artifisial, bagian paling esensial dari kemanusiaan yang harus kita jaga adalah lelaku. Sebagaimana falsafah Jawa ngèlmu iku kalakone kanthi laku, gagasan dan pengetahuan menuntut keterlibatan tubuh secara utuh untuk diwujudkan dan ditanggung dalam laku hidup nyata,” ungkap Asmoro Nurhadi Panindias dalam rilis yang dikirim.
Secara visual, karya “Lelaku” menampilkan figur pekerja dengan postur yang mengadaptasi pedagang kaki lima tradisional yang sedang memikul beban. Namun, isi pikulan tersebut mengalami transformasi. Satu sisi merepresentasikan gaya hidup kekinian, sedangkan sisi lainnya memuat elemen budaya skena kontemporer.
Representasi tersebut menggambarkan perubahan bentuk pekerjaan manusia modern yang semakin banyak bergerak di ranah kreatif dan digital. Meski demikian, tubuh manusia tetap menjadi entitas biologis yang harus menanggung beban pekerjaan dan menjalani proses untuk menghasilkan sesuatu.
Penguatan pesan filosofis dalam karya ini juga terlihat melalui penggunaan tipografi Aksara Jawa bertuliskan “Lelaku” pada bagian latar. Eksekusi visualnya menggunakan pendekatan bergaya risograph dengan tekstur analog, sehingga menghadirkan perpaduan antara nilai tradisi dan ekspresi visual kontemporer.
Kehadiran perspektif lokal Jawa dalam pameran internasional ini memperkaya spektrum gagasan kuratorial Convergence. Keberagaman bentuk, karakter, serta latar belakang konsep para peserta memberikan pengalaman edukatif bagi publik untuk memahami perbedaan bahasa ekspresi, nilai sejarah, budaya, hingga kepedulian terhadap lingkungan hidup dari berbagai negara.
Lebih dari sekadar ruang apresiasi karya, pameran ini juga membuka peluang terbentuknya kerja sama institusional dan penyelenggaraan pameran bersama secara berkelanjutan. Kehadiran perupa dan akademisi lintas negara menjadi langkah awal memperluas jejaring kolaborasi di bidang seni rupa dan desain.
Partisipasi Asmoro Nurhadi Panindias sekaligus mencerminkan komitmen Prodi DKV ISI Surakarta dalam mengintegrasikan nilai-nilai kearifan budaya Nusantara ke dalam karya desain komunikasi visual. Upaya tersebut berjalan seiring dengan pengembangan jejaring akademik dan kolaborasi di tingkat nasional maupun internasional.
Melalui karya “Lelaku”, nilai budaya Jawa tidak hanya dihadirkan sebagai identitas lokal, tetapi juga menjadi gagasan universal yang relevan untuk didialogkan di tengah perubahan zaman. Karya ini mengingatkan manusia agar tetap menjaga keterlibatan, pengalaman, dan tanggung jawab nyata dalam setiap proses kehidupan, meskipun teknologi terus berkembang. (Sofyan)
Pendidikan
SD Muhammadiyah PK Banyudono Gelar IHT Servis Excellent, Bangun Kepercayaan melalui Pelayanan Istimewa
Boyolali – majalahlarise.com – SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Banyudono menggelar In House Training (IHT) Servis Excellent pada Sabtu (31/10/2026) di Aula SD Muhammadiyah PK Banyudono. Kegiatan ini menjadi langkah sekolah dalam meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat budaya kerja, serta membangun kepercayaan masyarakat melalui pelayanan yang ramah, santun, profesional, dan berkesan.
Mengusung tema “Sekolah Sederhana, Pelayanan Istimewa: Membangun Kepercayaan di Setiap Interaksi”, pelatihan ini diikuti seluruh unsur karyawan sekolah, mulai dari petugas keamanan (security), penjaga sekolah, petugas kebersihan (cleaning service), tenaga administrasi, bagian katering, hingga seluruh guru.
Kegiatan diawali dengan ice breaking yang dipandu Ustadzah Shela Yunita Mata, S.Pd. Suasana pelatihan berlangsung hangat dan penuh semangat. Sesi ini bertujuan membangun kekompakan sekaligus mempersiapkan peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Acara dilanjutkan dengan koordinasi oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum dan Kesiswaan. Koordinasi tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan program, memperkuat komunikasi, serta memastikan seluruh unsur sekolah dapat bekerja secara sinergis dalam memberikan pelayanan kepada siswa, orang tua, dan masyarakat.
Memasuki sesi inti, pelatihan menghadirkan narasumber Ust. Agus Sutrisno, M.Pd., Kepala Sekolah MIM Al Akbar Pandeyan. Dalam pemaparannya, materi servis excellent memberikan wawasan mengenai pentingnya membangun standar pelayanan yang baik, mulai dari sikap, komunikasi, keramahan, hingga kesigapan dalam merespons kebutuhan orang lain.
Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, menjelaskan budaya pelayanan menjadi bagian penting dalam penguatan mutu sekolah. Menurutnya, kualitas sekolah tidak hanya dilihat dari gedung maupun fasilitas yang dimiliki, tetapi juga dari sikap, keramahan, kepedulian, serta kualitas interaksi seluruh warga sekolah.
Pelayanan istimewa, lanjutnya, tidak harus dimulai dari sesuatu yang mahal. Senyum, sapaan yang ramah, kesigapan membantu, komunikasi yang santun, serta kesungguhan dalam menepati janji merupakan langkah sederhana yang dapat menghadirkan pengalaman positif dan bermakna bagi siswa, orang tua, maupun masyarakat.
Melalui kegiatan IHT Servis Excellent ini, SD Muhammadiyah PK Banyudono berharap seluruh peserta mampu menerapkan nilai-nilai pelayanan dalam aktivitas sehari-hari. Semangat pelayanan tidak berhenti sebagai materi pelatihan, tetapi berkembang menjadi budaya kerja yang melekat pada setiap individu di lingkungan sekolah.
Kepercayaan masyarakat tidak cukup hanya diminta, tetapi harus dibangun melalui tindakan nyata. Dengan pelayanan yang ramah, tulus, dan profesional, SD Muhammadiyah PK Banyudono berupaya menghadirkan pengalaman pendidikan yang semakin berkualitas sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap sekolah. (Sofyan)
Baca juga: Astrid Widayani Dorong Santri dan Mahasiswa Perkuat Karakter serta Kembangkan Kapasitas Diri
Pendidikan
![]() |
| Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani saat menutup Liga Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Roudlatul Jannah, Sabtu (31/10/2026) malam. |
Astrid Widayani Dorong Santri dan Mahasiswa Perkuat Karakter serta Kembangkan Kapasitas Diri
SURAKARTA – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mendorong para santri dan mahasiswa untuk terus mengembangkan kapasitas diri, memperkuat karakter, serta mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan. Perpaduan pendidikan perguruan tinggi dan pembinaan di pesantren dinilai menjadi bekal penting untuk melahirkan generasi muda yang berilmu sekaligus berakhlak.
Pesan tersebut disampaikan Astrid saat menutup Liga Santri Pondok Pesantren Mahasiswa Roudlatul Jannah, Sabtu (31/10/2026) malam. Kegiatan yang berlangsung di kompleks Pondok Pesantren Mahasiswa Roudlatul Jannah, Jalan Porong, Pucangsawit, Jebres, tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Santri dan Hari Sumpah Pemuda Tahun 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Astrid menyampaikan apresiasi kepada pengasuh dan panitia yang telah menyelenggarakan kompetisi sebagai ruang membangun kebersamaan, kedisiplinan, kerja sama, dan sportivitas di kalangan santri.
“Liga Santri bukan hanya tentang pertandingan dan siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang untuk belajar tentang kerja sama, kedisiplinan, sportivitas, dan bagaimana kita menghargai orang lain,” ujar Astrid.
Ia menilai, para santri yang sekaligus menempuh pendidikan di perguruan tinggi memiliki kesempatan sekaligus tanggung jawab besar. Menjalani perkuliahan dan kehidupan pesantren membutuhkan ketekunan, kedisiplinan, serta kemampuan mengatur waktu.
Astrid mengingatkan agar para santri tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan pendidikan. Menurutnya, proses belajar tidak hanya bertujuan memperoleh pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter, cara berpikir, dan kemampuan mengambil keputusan.
“Ilmu yang kalian dapatkan di kampus perlu berjalan beriringan dengan nilai-nilai yang dipelajari di pondok, seperti kejujuran, tanggung jawab, kesederhanaan, dan kepedulian kepada sesama. Jangan hanya menjadi orang yang pintar, tetapi juga menjadi pribadi yang memiliki karakter dan bermanfaat bagi lingkungan,” pesannya.
Astrid yang memiliki pengalaman di lingkungan akademik juga memotivasi para santri untuk tidak meremehkan setiap proses yang sedang dijalani. Ia menjelaskan, keberhasilan membutuhkan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar serta mengembangkan kemampuan diri.
Momentum Hari Santri dan Hari Sumpah Pemuda, lanjutnya, juga menjadi pengingat pentingnya peran generasi muda dalam perjalanan bangsa. Peringatan Hari Santri 2026 mengusung tema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas, sedangkan Hari Sumpah Pemuda ke-98 mengangkat tema Patriotik, Gigih, Berempati: Pemuda untuk Indonesia.
Kedua momentum tersebut memiliki semangat yang saling menguatkan, yakni mendorong generasi muda untuk memiliki karakter kuat, menjaga persatuan, dan mengambil peran nyata dalam pembangunan.
“Para santri juga memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa. Jika dahulu perjuangan dilakukan melalui perjuangan fisik, pendidikan, dan dakwah, sekarang perjuangan itu dapat dilanjutkan melalui peningkatan kualitas diri, penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta pengabdian kepada masyarakat,” ungkapnya.
Astrid menjelaskan, Kota Surakarta membutuhkan generasi muda yang berilmu, berkarakter, terbuka terhadap perkembangan zaman, tetapi tetap memiliki pegangan nilai yang kuat.
Ia berharap para santri dan mahasiswa Roudlatul Jannah mampu memberikan kontribusi sesuai bidang dan kemampuan masing-masing. Pengabdian kepada masyarakat, menurutnya, tidak harus menunggu seseorang menjadi pejabat atau menduduki posisi tertentu.
“Tidak harus menunggu menjadi pejabat atau orang besar untuk bermanfaat. Mulailah dari hal-hal sederhana, dari lingkungan pondok, kampus, keluarga, dan masyarakat sekitar,” tegas Astrid.
Terkait kompetisi yang telah berlangsung, Astrid mengingatkan bahwa kemenangan dan kekalahan merupakan bagian dari proses pembelajaran. Para pemenang diharapkan tetap rendah hati, sedangkan peserta yang belum meraih juara diminta menjadikan pengalaman tersebut sebagai motivasi untuk terus berlatih dan meningkatkan kemampuan.
Ia berharap Pondok Pesantren Mahasiswa Roudlatul Jannah terus menjadi ruang pendidikan dan pembinaan yang melahirkan generasi muda unggul dalam ilmu pengetahuan, kuat dalam karakter, serta siap memberikan manfaat bagi masyarakat.
Astrid juga menyampaikan selamat kepada para pemenang Liga Santri dan mengajak seluruh peserta mempertahankan semangat persaudaraan, baik di lingkungan pesantren maupun dalam kehidupan bermasyarakat.(Sofyan)
Baca juga: Pertama Kali Jadi Tuan Rumah, Desain Produk Industri ISI Surakarta Pertemukan 28 Kampus di IIDSA 7
Pendidikan
Pertama Kali Jadi Tuan Rumah, Desain Produk Industri ISI Surakarta Pertemukan 28 Kampus di IIDSA 7
SURAKARTA – majalahlarise.com – Program Studi S1 Desain Produk Industri (DPI), Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah Indonesia Industrial Design Student Award (IIDSA) ke-7. Kegiatan yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026 tersebut mempertemukan 28 perguruan tinggi dengan 56 karya mahasiswa terkurasi dari berbagai daerah di Indonesia.
Mengusung tema Design for Meaningful Living, IIDSA 7 menjadi ruang apresiasi sekaligus pertemuan akademik bagi mahasiswa, dosen, dan pengelola program studi desain produk industri. Dalam ajang tersebut, tiga karya berhasil meraih predikat Karya Terpuji Utama, masing-masing dua karya dari Institut Teknologi Bandung (ITB) dan satu karya dari Universitas Prasetiya Mulya.
Salah satu karya yang mendapat predikat Karya Terpuji Utama adalah ORTIVE dari ITB. Produk ini berupa alat bantu jalan yang dirancang khusus untuk anak usia 6–12 tahun dengan cerebral palsy tipe spastik diplegia pada tingkat GMFCS II. Alat tersebut ditujukan bagi anak yang masih mampu berjalan, tetapi membutuhkan dukungan untuk mengatasi keterbatasan gerak.
Karya lainnya dari Universitas Prasetiya Mulya berupa rancangan produk untuk meningkatkan kepatuhan minum obat pada remaja dengan epilepsi. Sementara itu, karya ketiga dari ITB mengangkat perancangan satu set kursi santai berbahan pelepah pisang yang memanfaatkan potensi material alam sebagai bahan desain produk.
Selain tiga karya tersebut, dewan juri menetapkan 24 karya lainnya sebagai Karya Terpuji. Penyelenggara menjelaskan IIDSA bukan kompetisi yang berorientasi pada perebutan juara. Setiap program studi hanya diperbolehkan mengirimkan maksimal tiga karya terbaik hasil seleksi internal masing-masing perguruan tinggi.
"IIDSA bukan kompetisi, melainkan penghargaan. Setiap karya yang masuk adalah yang terbaik dari kampusnya masing-masing. Lebih dari itu, acara ini tidak hanya mendekatkan kita secara akademik, tetapi juga membuat antarkampus saling mengenal dan makin akrab," ujar Dr. Guguh Sujatmiko, Ketua Umum Forum Program Studi Desain Produk Industri Indonesia (Forprodi DPII).
Ketua Pelaksana IIDSA 7 sekaligus Ketua Program Studi Desain Produk Industri ISI Surakarta, Primastiti Wening Mumpuni, M.Ds., mengatakan tema Design for Meaningful Living mengajak mahasiswa menghasilkan rancangan produk yang memiliki manfaat nyata bagi kehidupan masyarakat.
"Tema tahun ini mengajak mahasiswa merancang produk yang benar-benar dibutuhkan orang, bukan sekadar menarik perhatian. Melihat karya untuk anak dengan cerebral palsy dan remaja dengan epilepsi masuk jajaran utama, kami melihat arah itu sudah dijalankan," kata Primastiti.
IIDSA 7 dihadiri 47 peserta yang terdiri atas pengurus forum, Majelis Pakar Akademik, ketua program studi, dosen delegasi, serta perwakilan Aliansi Desainer Produk Industri Indonesia (ADPII).
Rangkaian kegiatan juga menghadirkan dua pembicara kunci, yakni Ellya Zulaikha, S.T., M.Sn., Ph.D., Dekan Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), serta Eugenio Hendro, desainer produk praktisi asal Jakarta.
Sebanyak 24 karya terpilih dipresentasikan dalam empat ruang paralel. Selanjutnya, karya-karya tersebut dipamerkan untuk umum pada 29–30 Oktober 2026 di Gedung Laboratorium SBSN Multimatra ISI Surakarta.
Format kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk memperoleh rekognisi melalui pameran berskala nasional. Sementara itu, dosen yang mempresentasikan karya juga mendapatkan rekognisi sebagai pembicara dalam forum nasional.
Tidak hanya berfokus pada apresiasi karya mahasiswa, IIDSA 7 juga menjadi momentum penguatan kerja sama dan pengembangan akademik antarperguruan tinggi. Salah satu pembahasan forum adalah arah pengembangan Jurnal Desain Indonesia (JDI) agar semakin relevan dan meningkat peringkat akreditasinya di Sinta, dengan tetap membuka ruang bagi artikel yang bersumber dari tugas akhir mahasiswa.
Selama penyelenggaraan kegiatan, sejumlah perjanjian kerja sama atau MoA/IA turut ditandatangani, baik ant program studi maupun antarfakultas, dengan melibatkan Forprodi DPII.
Dalam forum tersebut juga ditetapkan Institut Teknologi Nasional (Itenas) sebagai tuan rumah Musyawarah Nasional dan Rapat Kerja Forprodi DPII 2027. Sementara itu, Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta dipercaya menjadi tuan rumah IIDSA ke-8 yang direncanakan berlangsung pada Oktober 2027.
Penyelenggaraan IIDSA 7 di ISI Surakarta menjadi langkah penting dalam memperkuat jejaring pendidikan desain produk industri di Indonesia. Melalui ajang ini, karya mahasiswa tidak hanya mendapatkan apresiasi, tetapi juga didorong untuk menjawab kebutuhan masyarakat melalui inovasi, kreativitas, dan pemanfaatan potensi sumber daya yang ada.(Sofyan)
Baca juga: Astrid Widayani Ajak Gen Z Terapkan Gaya Hidup Halal, Mulai Konsumsi hingga Pengelolaan Keuangan
Pendidikan
Astrid Widayani Ajak Gen Z Terapkan Gaya Hidup Halal, Mulai Konsumsi hingga Pengelolaan Keuangan
SURAKARTA – majalahlarise.com – Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z (Gen Z), menerapkan gaya hidup halal dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan nilai-nilai halal tidak hanya berkaitan dengan pemilihan makanan dan minuman, tetapi juga mencakup pergaulan, kesehatan mental, penggunaan teknologi, hingga pengelolaan keuangan.
Ajakan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta dan ASBISINDO Goes to School bertema Gaya Hidup Halal Gen-Z di aula Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Surakarta, Sabtu (31/10/2026).
Astrid yang juga menjabat Ketua Dewan Pembina MES Surakarta menjelaskan, gaya hidup halal bukan sekadar pemenuhan kebutuhan konsumsi sesuai syariat. Lebih dari itu, gaya hidup halal merupakan bagian dari pembentukan karakter generasi muda agar mampu mengambil keputusan secara bijak dan bertanggung jawab.
“Gaya hidup halal bukan sesuatu yang jauh dari kehidupan anak muda. Banyak keputusan yang dibuat Gen Z setiap hari, mulai dari apa yang dikonsumsi, bagaimana mengelola uang, menjaga kesehatan mental, sampai bagaimana menggunakan teknologi, berkaitan dengan pilihan hidup yang baik dan bertanggung jawab,” kata Astrid.
Ia juga mengajak generasi muda meningkatkan literasi keuangan syariah sejak dini. Menurutnya, perkembangan layanan keuangan digital harus diimbangi dengan pemahaman mengenai risiko, terutama di tengah maraknya pinjaman online ilegal, penggunaan paylater yang tidak terkendali, serta judi online.
“Saya menilai anak-anak muda sekarang, Gen Z, sudah cerdas, tidak hanya dalam mengelola diri dan bijak dalam bermedia sosial, tetapi juga harus cerdas dalam pengelolaan keuangan,” ujarnya.
Astrid turut mengingatkan pentingnya kemampuan mengendalikan perilaku konsumtif dan memilah informasi keuangan yang beredar di ruang digital. Kemudahan akses terhadap berbagai layanan keuangan perlu disertai pengetahuan agar generasi muda tidak terjebak dalam keputusan finansial yang merugikan.
Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 yang diumumkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan Badan Pusat Statistik (BPS), indeks literasi keuangan syariah Indonesia tercatat sebesar 43,07 persen. Sementara itu, indeks inklusi keuangan syariah baru mencapai 13,24 persen. Angka tersebut menunjukkan masih adanya kesenjangan antara pemahaman masyarakat mengenai keuangan syariah dan pemanfaatan layanan keuangan syariah.
Bank Indonesia juga mencatat 76 persen Generasi Z mempelajari keuangan pribadi melalui media sosial. Namun, 83 persen di antaranya mengaku pernah terpapar informasi keuangan yang keliru. Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya edukasi literasi keuangan agar anak muda mampu memilah informasi dan mengambil keputusan finansial secara tepat.
Program MES Surakarta dan ASBISINDO Goes to School tersebut memberikan edukasi mengenai penerapan prinsip syariah dalam berbagai aspek kehidupan generasi muda. Pembahasan meliputi pemilihan makanan halal, busana, pergaulan sehat, kesehatan mental, hingga perencanaan keuangan dan pernikahan.
Kegiatan ini juga menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai bidang, yakni Ketua KPMI Korwil Solo Dedhy Prihtiantoro, perwakilan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Widiyansyah Maulana, Psikiater RS UNS dr. Halim Tazer Kusuma, serta Direktur BPRS Insan Mulia Rusmiati.
Melalui kegiatan ini, MES Surakarta bersama ASBISINDO DPW Solo Raya mendorong peningkatan pemahaman generasi muda mengenai ekonomi dan gaya hidup halal. Edukasi tersebut diharapkan menjadi bekal bagi Gen Z untuk membangun kebiasaan positif, menjaga diri, serta lebih cermat dan bertanggung jawab dalam menentukan pilihan di tengah pesatnya perkembangan era digital. (Sofyan)
Baca juga: MTs Negeri 5 Wonogiri Gelar LDK OSIM, Bekali Siswa Jiwa Kepemimpinan dan Kedisiplinan
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Ziarah Agung Mbah Kyai Nur Suhud, Rawat Jejak Dakwah Ulama Keraton Kartosura di Nguter SUKOHARJO – majalahlarise.com – Warga Nahdlatul Ulam...
-
Bupati dan wakil bupati Boyolali Agus Irawan dan Dwi Fajar saat berdoa acara slup slupan. Bupati dan Wakil Bupati Boyolali Agus Irawan dan D...
-
Kolaborasi Sekolah dan Wali Murid Siap Wujudkan Pembelajaran Digital BOYOLALI – majalahlarise.com - Sebanyak 583 wali murid SD Muham...









