SD Muhammadiyah PK Solo Jadi Lokasi Studi Lapangan Diklat Bahasa Jawa Gunungkidul

    Solo - majalahlarise.com - Komitmen SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo dalam menghadirkan pembelajaran yang inovatif kembali mendapat pengakuan. Sekolah yang dikenal sebagai salah satu sekolah unggulan di Jawa Tengah ini dipercaya menjadi lokasi Studi Lapangan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Bahasa Jawa yang diselenggarakan oleh Badan Kepegawaian, Pendidikan, dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten Gunungkidul melalui UPT Balai Pendidikan dan Pelatihan Pegawai, Rabu (15/7/2026), di Ruang Haji Isa. Kegiatan ini diikuti oleh 36 peserta diklat beserta 5 pendamping dari Kabupaten Gunungkidul.

    Kunjungan tersebut menjadi ajang berbagi praktik baik pembelajaran Bahasa Jawa sekaligus mempererat kolaborasi antar lembaga pendidikan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran berbasis budaya lokal.

    Kepala UPT Balai Pendidikan dan Pelatihan Pegawai BKPPD Kabupaten Gunungkidul, Saryana, dalam sambutannya menyampaikan bahwa studi lapangan merupakan bagian penting dari proses diklat agar peserta memperoleh pengalaman nyata dari sekolah yang telah berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran.

    "Kami ingin peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga belajar langsung mengenai metode, strategi, dan inovasi pembelajaran Bahasa Jawa yang telah diterapkan di sekolah. SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo kami pilih karena merupakan salah satu sekolah unggulan di Jawa Tengah yang memiliki banyak praktik baik untuk dipelajari," ujarnya.

    Sementara itu, Kepala SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Nursalam, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolah sebagai lokasi studi lapangan. Ia berharap kunjungan tersebut menjadi awal terjalinnya kolaborasi yang semakin erat dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Jawa.

    "Kami mengucapkan terima kasih atas kunjungan dari BKPPD Kabupaten Gunungkidul. Semoga kegiatan ini menjadi sarana saling belajar dan berbagi pengalaman sehingga mampu memberikan manfaat bagi kemajuan pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah masing-masing," tutur Nursalam.

    Pada sesi inti, guru Bahasa Jawa SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Nurrohmah Manda Noviana, memaparkan materi bertajuk "Pembelajaran Bahasa Jawa yang Aktif, Kontekstual, dan Menyenangkan". Ia menjelaskan bahwa pembelajaran Bahasa Jawa perlu bertransformasi dari sekadar hafalan menjadi pengalaman belajar yang bermakna, sehingga peserta didik terdorong menggunakan bahasa Jawa secara alami dalam kehidupan sehari-hari. 

    Dalam pemaparannya, Manda memperkenalkan berbagai strategi pembelajaran aktif, mulai dari permainan edukatif, bermain peran, diskusi, pembuatan komik, pemanfaatan media digital, hingga penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) sebagai pendukung pembelajaran. Pendekatan tersebut dirancang agar siswa lebih aktif, percaya diri, serta mampu memaknai Bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas budaya sekaligus sarana membangun karakter. 

    Suasana diskusi berlangsung hidup. Para peserta diklat tampak antusias mengajukan berbagai pertanyaan, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan tantangan pembelajaran Bahasa Jawa di kelas. Beragam ide dan praktik baik pun saling dipertukarkan dalam forum yang berlangsung hangat dan produktif.

    Melalui kegiatan ini, SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo kembali menegaskan perannya sebagai sekolah yang tidak hanya berfokus pada peningkatan mutu internal, tetapi juga aktif berbagi inovasi dan pengalaman dengan berbagai institusi pendidikan. Semangat kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong lahirnya pembelajaran Bahasa Jawa yang lebih aktif, kontekstual, menyenangkan, sekaligus relevan dengan kebutuhan peserta didik di era modern. (Sofyan)


    Baca juga: Kampus Harus Siapkan Profil Lulusan Program Studi yang Kompeten dan Siap Kerja Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha dan Industri Era Digital

    Kampus Harus Siapkan Profil Lulusan Program Studi yang Kompeten dan Siap Kerja Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha dan Industri Era Digital 


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


    "Kawan, bergerak dan berkarya merajut cerita dengan kata untuk dikenang sepanjang masa saat senja menuju ke peraduannya”


           Indonesia meluluskan lebih dari 1,3 juta calon sarjana (lulusan pendidikan tinggi) setiap tahun. Meskipun angka kelulusan sangat tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat ada sekitar 1 juta lulusan sarjana yang belum terserap oleh lapangan kerja (https://www.google.com/search?q=jumlah+calon+sarjana+di+Indonesia+tahun+2026&oq=jumlah+calon+sarjana+di+Indonesia+tahun+2026&gs). Data yang dideskripsikan tersebut merupakan dasar penulis untuk menuliskan kegelisahan dan renungan bagi dosen, pengelola program studi, fakultas, kampus, dan Kemdiktisaintek Republik Indonesia di Indonesia. Perkembangan zaman digital yang terus diwarnai dengan kecerdasan buatan (AI) dan aplikasi digital lainnya tentu akan menjadi kekhawatiran dan keraguan bagi multigenerasi NKRI. Banyak hal yang sudah disajikan dalam berbagai sumber literasi digital dan nondigital untuk dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Namun demikian, apakah dunia kampus yang melahirkan para sarjana juga sudah menyiapkan berbagai perangkat dan membekali para mahasiswanya dengan aneka keterampilan digital yang diperlukan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan industri saat ini. 

           Berdasarkan data Kemdiktisaintek RI bahwa sarjana yang lulus setiap tahun sekitar 1,3 juta dan sekitar 1 juta menganggur merupakan pekerjaan rumah bagi pemangku kepentingan terkait. Data ini menjadi bahan renungan bagi para pengelola program studi, fakultas, dan rektor pada kampus negeri dan swasta di seluruh wilayah Indonesia. Mengapa demikian? Pertanyaan ini harus dijawab oleh pengelola kampus yang disebut rektor/ketua/direktur. Pertama, bagaimanakah profil lulusan sarjana yang akan dihasilkan? Pertanyaan tersebut merupakan target dan realisasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang harus ditetapkan dan diwujudkan oleh rektor/ketua/direktur sebagai penanggung jawab dan pengelola kampus. Kemudian kedua, Sarjana bidang apa? Misalnya sarjana pendidikan, saintek, sosial humaniora, dan sarjana lainnya itu menjadi CPL yang harus dirumuskan dan diwujudkan oleh seorang pengelola fakultas atau dekan. Kemudian ketiga, sarjana bidang tertentu yang bagaimanakah? CPL program studi dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) tersebut merupakan CPL dna CPMK yang harus direalisasikan oleh dosen pada program studi tersebut. Semua CPL dan CPMK tersebut harus menjadi rujukan dan dikolaborasikan dengan hasil evaluasi kurikulum yang disurvei melalui alumni program studi dan pengguna lulusan. Dengan demikian, peninjauan dan pengembangan kurikulum prodi untuk menyiapkan profil lulusan yang kompeten, siap kerja, melek literasi digital, kreatif, inovatif, berkarakter, siap bersaing dan bersanding dengan tenaga kerja lain di tingkat nasional dan internasional. Para sarjana yang dihasilkan era digital harus didasarkan pada evaluasi kurikulum, pendapat alumni, dan pengguna lulusan program studi yang sudah bekerja sehingga akan dapat disiapkan evaluasi kurikulum secara mikro dna makro sebagai dasar pengembangan kompetensi sarjana yang dihasilkan oleh program studi yang mengelola tersebut.

           Perkembangan zaman yang terus bergerak dan didominasi dengan perangkat digital, maka diperlukan persiapan dan pembekalan yang benar-benar sesuai kebutuhan perkembangan zaman dan era digital kekinian. Program studi yang didirikan oleh kampus-kampus di seluruh Indonesia harus mulai bergerak dan berubah mindsetnya untuk adaptif dengan kebutuhan industri dan dunia usaha saat ini. Pemilihan materi, bahan ajar, media, bahan kajian untuk mendukung capaian kompetensi lulusan yang didasarkan pada CPL dan CPMK harus betul-betul diselaraskan dan disesuaikan kebutuhan perkembangan zaman. Program studi saat ini saling berlomba melakukan peninjauan dan mengembangkan kurikulum berbasis Outcame Based Education (OBE) harus benar-benar didasarkan dengan kebutuhan industry dan dunia kerja sesuai dengan perkembangan zaman dan generasi Z saat ini. Oleh karena, gen Z yang yang dihasilkan sebagai sarjana kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan harus benar-benar sarjana yang menguasai 4 keterampilan abad XXI, antara lain: (1) berpikir kreatif, (2) berpikir kritis, (3) kolaboratif, dan (4) komunikatif. Selain itu, generasi digital juga harus dibiasakan dan dibekali dengan enam literasi dasar, antara lain literasi: (1) menulis dan membaca, (2) numerasi, (3) sains, (4) digital, (5) keuangan, (6) budaya & kewargaan. Hal ini sejalan dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia, Gerakan Literasi Arfuzh Ratulisa (GELAR) yang dicanangkan oleh Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Surakarta dan Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) yang didirikan oleh Muhammad Rohmadi tanggal 2 Mei 2025 bersamaan peringatan hari Pendidikan Nasional setiap tahun.

           Fakta dan data yang terjadi saat ini, rata-rata setiap bulan atau 3 bulan atau 6 bulan sekali kampus-kampus di seluruh wilayah Indonesia meluluskan sarjana melalui wisuda. Sesuai data yang disajikan oleh Kemdiktisaintek RI ternyata belum semua sarjana yang diluluskan perguruan tinggi terserap dalam dunia kerja yang diharapkan. Semua orang tua, mahasiswa, sarjana yang baru lulus ingin bekerja sesuai bidang keahlian dan kompetensi yang dimilikinya setelah lulus wisuda. Hal ini sesuai dengan indikator kinerja utama perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kemdiktisaintek RI antara lain: mengukur kualitas lulusan (bekerja/wirausaha), kompetensi dosen, pengalaman mahasiswa di luar kampus, riset, kemitraan dengan industri, serta kemandirian finansial (Data & Sumber: Kemdiktisaintek RI). Bahan renungan dan harus dipikirkan solusinya, bagaimana menyiapkan sarjana lulusan program studi masing-masing (prodi tempat kita sebagai dosen mengabdi/mengajar) agar dapat menjadi sarjana yang kompeten dan siap bekerja atau berwirausaha dalam dunia usaha dan industri sesuai dengan perkembangan zaman. Ruang-ruang diskusi untuk peningkatan kualitas dosen, mahasiswa, pengelola program studi, fakultas, dan rektorat harus sering dilaksanakan untuk mewujudkan mimpi besar merealisasikan CPL dan CPMK yang dirumuskan program studi, fakultas, dan universitas secara kolaboratif dan berkelanjutan.

           Kesiapan mental dan karakter sebagai sarjana yang kompeten dan memiliki penguasaan kompetensi hardskill dan softskill yang diperlukan pasar kerja dna industri kreatif akan sangat bermanfaat dan memberikan ruang gerak para sarjana untuk terus berkreasi, berinovasi tiada henti sesuai perkembangan zaman. Demikian pula, dosen harus terus memberikan aneka model kasus yang didasarkan pada perkembangan zaman digital dan kekinian sebagai sumber belajar digital dan nondigital. Kemudian upaya untuk meningkatkan kualitas diri para mahasiswa dan calon sarjana era digital harus terus dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek dan dipraktikkan untuk menghasilkan proyek unggulan yang dapat dipamerkan kepada dunia usaha dan industri secara kolaboratif. Upaya untuk membiasakan dan menyelaraskan kebutuhan dunia kerja dan industri maka kerja sama untuk magang, kolaborasi praktisi kerja, dan kolaborasi akademik di kelas dan luar kelas harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Orientasi kurikulum OBE yang dikembangkan oleh semua prodi pada kampus negeri dan swasta di Indonesia semoga bukan sekadar perangkat administrasi untuk memenuhi persyaratan akreditasi, bukan sekadar selebrasi, tetapi harus menjadi rujukan untuk menyiapkan sarjana era digital yang siap berkreasi dan berinovasi tiada henti sepanjang zaman.

           Komitmen semua pihak, pemerintah pusat melalui Kemdiktisaintek RI, daerah, rektor/ketua/direktur, dekan, ketua prodi, dosen, tenaga administrasi, pustakawan, praktisi, penggiat literasi, asosiasi program studi, asosiasi dosen, dunia usaha dan dunia industri untuk bersatu, bergerak, dan menyamakan persepsi menjadi jawaban bagi perguruan tinggi agar prodi-prodinya tetap diminati oleh masyarakat dan industri secara berkelanjutan. Dengan demikian tidak akan pernah ada kekhawatiran saat ada wacana prodi-prodi yang tidak diminati oleh masyarakat akan ditutup oleh Kemdiktisaintek RI. 

    Pengelola kampus, fakultas, dan program studi harus dapat meyakinkan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa prodi-prodi yang dikelola oleh fakultas dan universitas di Indonesia memang layak berdiri tegak, bersaing, bersanding karena memiliki pembeda dan menghasilkan sarjana yang siap bekerja dan bersaing pada dunia usaha dan industri era digital. Apabila prodi-prodi yang dikelola memang sudah tidak relevan dengan kebutuhan industri dan dunia usaha maka dengan kesadaran mandiri program studi, fakultas, dan perguruan tinggi untuk menutup dan mengganti prodi baru yang sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar sesuai dengan perkembangan zaman.


    “Komitmen untuk terus ikut serta bergerak dan memantik semangat multigenerasi Indonesia untuk terus berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) bersama Komunitas Diklisa (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) merupakan langkah nyata untuk wujudkan mimpi dna imajinasi hidup sekali mati sekali harus bermanfaat untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat”


    Istana Arfuzh ratulisa dan Diklisa Yogyakarta, 16 Juli 2026






    Peserta MPLS mengikuti kegiatan Gotasiru (Goresan Tangan Siswa Baru) dengan membuat poster, karikatur, puisi, maupun cerpen menggunakan peralatan masing-masing.


    MPLS Ramah SMP Negeri 1 Wuryantoro Tanamkan Karakter, Disiplin, dan Cinta Lingkungan kepada 190 Siswa Baru

    Wonogiri - majalahlarise.com – SMP Negeri 1 Wuryantoro menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Ajaran 2026/2027 selama lima hari, Senin (13/7/2026) hingga Jumat (17/7/2026), dengan melibatkan 190 peserta didik baru. Kegiatan mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026 yang menempatkan MPLS sebagai pengalaman belajar pertama di sekolah untuk menumbuhkan karakter, memperkuat profil lulusan, sekaligus membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan belajar yang aman, nyaman, bermakna, dan menggembirakan.

    Kepala SMP Negeri 1 Wuryantoro, Is Budiyarti, S.Pd., menjelaskan konsep MPLS Ramah merupakan komitmen sekolah menciptakan lingkungan pendidikan yang bebas dari segala bentuk kekerasan, perundungan (bullying), intoleransi, maupun tindakan diskriminatif. Menurutnya, sekolah tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga rumah kedua yang memberikan rasa aman, nyaman, bahagia, dan menyenangkan bagi seluruh peserta didik.

    "MPLS Ramah mengacu pada Permendikdasmen Nomor 12 Tahun 2026. Kegiatan pertama bagi murid yang diterima di satuan pendidikan bertujuan menumbuhkan dan memperkuat karakter serta profil lulusan melalui pengalaman belajar yang berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Sekolah harus menjadi rumah kedua yang membuat murid merasa aman, nyaman, bahagia, dan senang. Hubungan guru dan murid dibangun dengan kasih sayang sehingga tercipta iklim sekolah yang positif," ujar Is Budiyarti.

    Ia menambahkan, konsep ramah diwujudkan melalui tiga pilar utama, yakni ramah anak, ramah lingkungan, dan ramah budaya. Seluruh warga sekolah memiliki tanggung jawab menciptakan suasana belajar yang saling menghargai sehingga setiap peserta didik dapat berkembang secara optimal tanpa rasa takut maupun tekanan.

    Sebagai implementasi konsep tersebut, sekolah mengawali MPLS dengan sosialisasi kepada peserta didik dan orang tua, pengenalan Wiyata Mandala yang melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, dan seluruh warga sekolah, penyusunan kesepakatan bersama mengenai hak dan kewajiban seluruh warga sekolah, serta pembiasaan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (7 KAIH) sebagai fondasi pembentukan karakter siswa sejak hari pertama memasuki lingkungan sekolah.

    Pelatihan Tata Upacara Bendera dan Baris berbaris bersama Koramil Wuryantoro.


    Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Tri Pujihastuti, S.Pd., menjelaskan MPLS tidak hanya mengenalkan lingkungan fisik sekolah, tetapi juga membangun kedekatan emosional antara peserta didik dengan guru serta warga sekolah. Dengan cara itu, siswa baru diharapkan lebih cepat beradaptasi dan memiliki rasa memiliki terhadap sekolah.

    "Program kami membangun sekolah yang nyaman dan aman. Semaksimal mungkin kami melayani anak-anak supaya mereka berada di SMP Negeri 1 Wuryantoro merasa nyaman dan aman. Kami juga mengenalkan guru, staf, kepala sekolah, serta lingkungan sekolah agar mereka lebih dekat dan cepat beradaptasi," jelas perempuan yang akrab disapa Tri Puji.

    Selama lima hari, sekolah telah menyusun jadwal kegiatan secara sistematis. Hari pertama diisi dengan penjelasan perlengkapan MPLS, upacara pembukaan, pengecekan peserta, pengenalan kurikulum dan mata pelajaran, tata tertib sekolah, kesepakatan bersama, pembiasaan budaya sekolah, pengenalan prestasi sekolah, hingga materi Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat. Seluruh kegiatan dipusatkan di lapangan upacara, aula, dan ruang kelas.

    Peserta MPLS mengikuti edukasi Gemar Menabung bekerja sama dengan Bank Jateng.


    Memasuki hari kedua, peserta memperoleh materi mengenai Mars SMP Negeri 1 Wuryantoro, visi dan misi sekolah, profil lulusan, pendidikan karakter, bela negara, cinta tanah air, serta materi Sekolah Aman dan Nyaman. Materi tersebut bertujuan menumbuhkan rasa bangga terhadap sekolah sekaligus memperkuat semangat nasionalisme dan kedisiplinan sejak dini.

    Hari ketiga diisi dengan apel pagi, nuansa keagamaan, Senam Anak Indonesia Hebat, pelatihan Tata Upacara Bendera (TUB) bersama Koramil Wuryantoro, kegiatan MPLS Resik dan Indah melalui aksi pilah sampah serta cinta lingkungan, kemudian dilanjutkan edukasi Gemar Menabung bekerja sama dengan Bank Jateng. Melalui kegiatan ini, siswa diperkenalkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan sekaligus membangun budaya hidup hemat dan literasi keuangan.

    Pada hari keempat, peserta mengikuti kegiatan Gotasiru (Goresan Tangan Siswa Baru) dengan membuat poster, karikatur, puisi, maupun cerpen menggunakan peralatan masing-masing. Kreativitas siswa kemudian ditampilkan dalam unjuk bakat yang diakhiri dengan refleksi seluruh rangkaian kegiatan MPLS.

    Siswa mengikuti kegiatan MPLS Resik dan Indah melalui aksi pilah sampah serta cinta lingkungan.


    Puncak kegiatan berlangsung pada Jumat (17/7/2026) dengan tema "Indah" (Pilah Sampah dan Cinta Lingkungan). Peserta mengikuti apel pagi, Senam Anak Indonesia Hebat, demonstrasi ekstrakurikuler, upacara penutupan, dan kegiatan perpisahan bertajuk "Sayonara". Selain itu, siswa diajak mengikuti berbagai aktivitas edukatif seperti menggambar, membuat cap tangan pada banner sebagai simbol kebersamaan, gotong royong membersihkan lingkungan sekolah, berkebun, serta demonstrasi kelistrikan.

    Pada penutupan MPLS, sekolah juga menyampaikan pesan motivasi melalui materi "Coba Ingat Nasihat Saya" yang berisi tiga nilai utama, yaitu berani, disiplin, dan berakhlak. Siswa didorong berani bermimpi, berani mencoba, berani bertanya, serta berani memperbaiki kesalahan. Mereka juga diingatkan pentingnya disiplin karena bakat tanpa disiplin tidak akan menghasilkan prestasi, sedangkan ilmu yang disertai akhlak akan membawa keberkahan dalam kehidupan.

    Tri Puji menegaskan tujuan utama MPLS bukan sekadar memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi membentuk karakter peserta didik sebagai bekal menghadapi masa depan. Menurutnya, seluruh siswa baru merupakan aset sekolah yang harus dibimbing menjadi generasi unggul.

    "Kami berharap anak-anak menjadi pribadi yang tangguh, cinta NKRI, memiliki etika dan budi pekerti yang baik, serta mempunyai tujuan hidup dan cita-cita. Mereka adalah aset kami. Dengan segala daya upaya, kami berharap dapat membimbing dan mencintai anak-anak sebagai calon penerus bangsa," pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Kekuatan Branding Sekolah dalam Memperoleh Siswa Baru

    Kepala SMP Negeri 2 Wuryantoro Etist Saptarini, S.Pd., M.Pd. memberikan pembekalan kepada 118 peserta didik baru pada kegiatan MPLS Ramah Tahun Pelajaran 2026/2027 untuk membantu adaptasi, membentuk karakter, dan menumbuhkan semangat berprestasi.


    MPLS SMP Negeri 2 Wuryantoro Tanamkan Karakter, Literasi Digital, dan Gemar Menabung

    Wonogiri - majalahlarise.com – SMP Negeri 2 Wuryantoro menggelar Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Ramah Tahun Pelajaran 2026/2027 yang berlangsung selama lima hari, Senin–Jumat (13–17/7/2026). Kegiatan ini diikuti 118 siswa baru sebagai langkah awal membantu peserta didik beradaptasi dari jenjang sekolah dasar menuju pendidikan menengah pertama sekaligus menyiapkan karakter yang mandiri, bertanggung jawab, dan berprestasi.

    Kepala SMP Negeri 2 Wuryantoro, Etist Saptarini, S.Pd., M.Pd, menjelaskan MPLS dirancang tidak sekadar memperkenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga membentuk pola pikir peserta didik agar siap menghadapi suasana belajar di SMP. Selama kegiatan, siswa dikenalkan dengan guru, teman, kurikulum, tata tertib, hingga berbagai program unggulan sekolah sehingga tumbuh rasa memiliki dan kecintaan terhadap sekolah.

    "Yang penting anak-anak yang baru datang dari SD ke SMP bisa mengubah sedikit pola pikirnya karena sekarang sudah di SMP. Mereka juga mengenal sekolah, guru, teman, kurikulum, dan berbagai kegiatan sehingga tumbuh rasa cinta terhadap sekolah," ujar Etist.

    Siswa saat mengikuti MPLS materi gemar menabung.


    Ia berharap seluruh peserta didik baru mampu menyesuaikan diri dengan cepat sehingga dapat mengikuti proses pembelajaran secara optimal. "Harapan kami, semoga mereka bisa cepat menyesuaikan diri dan berhasil di sekolah sehingga pada akhirnya menjadi anak-anak yang hebat," tambahnya.

    Pelaksanaan MPLS Ramah mengacu pada jadwal dan materi yang telah disusun sekolah. Selain mengenalkan lingkungan sekolah, kegiatan juga diarahkan untuk membangun karakter, meningkatkan kemampuan bersosialisasi, serta menumbuhkan hubungan yang harmonis antar siswa maupun dengan seluruh warga sekolah.

    Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Andhy Kristiawan, menjelaskan materi MPLS tahun ini juga membekali siswa dengan etika bermedia sosial agar mampu memanfaatkan teknologi digital secara bijak. Sekolah juga memperkenalkan program Gemar Menabung sebagai upaya menanamkan kebiasaan mengelola keuangan sejak usia dini.

    "Tujuan program ini untuk membiasakan siswa menabung sehingga dapat membantu memenuhi berbagai kebutuhan pada masa mendatang," jelas Andhy.

    Sebanyak 118 siswa baru mengikuti seluruh rangkaian MPLS Tahun Pelajaran 2026/2027. Andhy berharap kegiatan tersebut mampu membentuk karakter yang kuat, memperluas pengetahuan, sekaligus mendorong lahirnya generasi yang berprestasi.

    "Yang paling utama adalah pembentukan karakter. Melalui kegiatan ini siswa memperoleh pengetahuan dan diharapkan mampu meraih prestasi di masa depan," katanya. (Sofyan)


    Baca juga: Kekuatan Branding Sekolah dalam Memperoleh Siswa Baru

    Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani memberikan motivasi kepada murid baru SD Muhammadiyah 20 Sidorejo Surakarta saat kegiatan MPLS, Rabu (15/7/2026), untuk menumbuhkan semangat belajar, karakter positif, dan keberanian meraih cita-cita.



    Wawali Kota Surakarta Motivasi Murid Menjadi Petualang Hebat dalam MPLS SD Muhammadiyah 20 Sidorejo

    Surakarta - majalahlarise.com – Suasana ceria dan penuh semangat mewarnai pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di SD Muhammadiyah 20 Sidorejo Surakarta, Rabu (15/7/2026). Kegiatan semakin istimewa dengan kehadiran Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, S.S., S.E., M.B.A., yang memberikan motivasi kepada para murid baru agar tumbuh menjadi generasi berkarakter, berprestasi, dan berani menjadi petualang hebat dalam meraih cita-cita.

    Dalam kesempatan tersebut, Astrid Widayani mengajak seluruh murid memiliki semangat belajar yang tinggi, berani bermimpi, serta membangun karakter positif sejak usia dini. Menurutnya, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga sikap disiplin, jujur, bertanggung jawab, serta keberanian menghadapi tantangan.

    "Kalian adalah generasi anak hebat yang akan menentukan masa depan Kota Surakarta dan bangsa Indonesia. Belajarlah dengan sungguh-sungguh, rajin membaca, saling menghargai teman, dan jangan pernah takut untuk bertanya jika tidak tahu," pesan Astrid Widayani di hadapan para murid.

    Ia juga mengajak anak-anak menjadikan sekolah sebagai tempat yang menyenangkan untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan potensi diri. Semangat ingin tahu serta keberanian mencoba hal-hal baru menjadi bekal penting bagi mereka dalam menghadapi masa depan.

    Kepala SD Muhammadiyah 20 Sidorejo Surakarta, Joko Susilo, menyampaikan apresiasi atas kunjungan Wakil Wali Kota Surakarta. Menurutnya, kehadiran pimpinan daerah memberikan motivasi sekaligus pengalaman berharga bagi murid yang baru memulai perjalanan pendidikan di sekolah dasar.

    "Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu Wakil Wali Kota Surakarta yang telah berkenan hadir dan memberikan motivasi kepada anak-anak. Kehadiran beliau menjadi penyemangat bagi para murid untuk memulai pendidikan dengan penuh percaya diri, semangat belajar, serta memiliki karakter yang baik," ujar Joko Susilo.

    Joko menjelaskan, rangkaian MPLS di SD Muhammadiyah 20 Sidorejo dirancang tidak hanya mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter melalui berbagai kegiatan edukatif dan menyenangkan. Selama MPLS, murid mengikuti Tasmi Juz 30, Tahsin, pendidikan anti-bullying, permainan outbound, penampilan ekstrakurikuler, serta pengenalan kecakapan berbahasa Inggris dan Mandarin.

    Beragam kegiatan tersebut diharapkan mampu membantu murid beradaptasi dengan lingkungan sekolah, menumbuhkan rasa percaya diri, membangun budaya belajar yang positif, serta mengembangkan potensi akademik maupun non akademik sejak hari pertama mereka bersekolah.

    Melalui semangat MPLS yang mencerahkan dan menggembirakan, SD Muhammadiyah 20 Sidorejo Surakarta berharap seluruh murid mampu menjadi pribadi yang berkarakter, berani menghadapi tantangan, serta terus belajar untuk mewujudkan cita-cita sebagai generasi hebat penerus bangsa. (Sofyan)


    Baca juga: Kekuatan Branding Sekolah dalam Memperoleh Siswa Baru

    Haryadi, S.Sos.I, membimbing santri memahami penentuan arah kiblat secara ilmiah melalui fenomena matahari tepat berada di atas Ka'bah.


    Santri PonpesMU Manafi'ul Ulum Belajar Rashdul Kiblat Melalui Fenomena Istiwa A'zam

    Boyolali – majalahlarise.com – Santri Pondok Pesantren Muhammadiyah (PonpesMU) Manafi'ul Ulum Canden, Sambi, Boyolali mengikuti kegiatan Ngaji Arah Kiblat dan Praktik Rashdul Kiblat (Istiwa A'zam) di Masjid At-Taqwa Ponpes Manafi'ul Ulum, Rabu (15/7/2026). Kegiatan menghadirkan Penyuluh Agama Islam Kantor Urusan Agama (KUA) Ngemplak Boyolali, Haryadi, S.Sos.I, untuk membimbing santri memahami penentuan arah kiblat secara ilmiah melalui fenomena matahari tepat berada di atas Ka'bah.

    Dalam pemaparannya, Haryadi menjelaskan fenomena Rashdul Kiblat atau Istiwa A'zam terjadi dua kali setiap tahun. Pada waktu tersebut, arah bayangan benda yang berdiri tegak dapat dimanfaatkan sebagai acuan untuk memverifikasi arah kiblat dengan cara yang sederhana, mudah dipraktikkan, dan memiliki tingkat ketelitian yang tinggi.

    "Fenomena Rashdul Kiblat menjadi salah satu metode ilmiah yang dapat dimanfaatkan masyarakat untuk memastikan ketepatan arah kiblat. Dengan memahami ilmu falak, santri dapat melihat bagaimana syariat Islam berjalan seiring dengan ilmu pengetahuan," jelas Haryadi.

    Usai penyampaian materi, para santri langsung mengikuti praktik di halaman Masjid At-Taqwa. Mereka memasang tongkat atau benda yang berdiri tegak lurus, kemudian mengamati arah bayangan matahari pada waktu Rashdul Kiblat berlangsung. Praktik tersebut memberi pengalaman langsung kepada santri dalam menentukan arah kiblat berdasarkan fenomena astronomi.

    Kegiatan berlangsung dengan antusias. Para santri tidak hanya memahami teori penentuan arah kiblat, tetapi juga memperoleh pengalaman mengaplikasikan ilmu falak dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari upaya meningkatkan ketepatan pelaksanaan ibadah salat.

    Mudir PonpesMU Manafi'ul Ulum, Ust. Pujiono, mengapresiasi terselenggaranya kegiatan edukatif tersebut. Menurutnya, pembelajaran Rashdul Kiblat menjadi sarana memperluas wawasan santri sekaligus menguatkan keyakinan dalam menjalankan ibadah.

    "Pesantren tidak hanya mengajarkan fikih ibadah, tetapi juga memperkenalkan dasar-dasar ilmu falak agar santri memahami Islam sangat menghargai ilmu pengetahuan. Harapannya, santri mampu meluruskan arah kiblat sekaligus meluruskan niat dan kualitas ibadahnya. Sebagaimana slogan kegiatan ini, 'Lurus kiblatnya, tulus shalatnya,'" ujar Ust. Pujiono.

    Melalui kegiatan ini, PonpesMU Manafi'ul Ulum terus berkomitmen menghadirkan pendidikan Islam yang memadukan ilmu syariat dan sains. Sinergi tersebut diharapkan membentuk santri yang memiliki pemahaman agama yang benar, berpikir ilmiah, serta mampu mengamalkan ilmunya dalam kehidupan sehari-hari. (Sofyan)


    Baca juga: Kekuatan Branding Sekolah dalam Memperoleh Siswa Baru

    Siswa baru saat mengikuti kegiatan MPLS.


    Pelopor MPLS Mencerahkan dan Menggembirakan, SD Muhammadiyah 1 Solo Tegaskan Sekolah Bebas Perundungan

    SOLO - majalahlarise.com – SD Muhammadiyah 1 Solo menegaskan komitmennya menciptakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang aman, ramah anak, dan bebas perundungan bagi seluruh murid baru Tahun Ajaran 2026/2027. Kegiatan yang berlangsung pada 14–16 Juli 2026 ini mengusung semangat MPLS Mencerahkan dan Menggembirakan sebagai upaya membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan sekolah secara positif.

    Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Sri Sayekti, mengingatkan seluruh panitia dan petugas MPLS agar menjalankan kegiatan sesuai ketentuan dengan mengedepankan keamanan, kesehatan, kerapian, dan kenyamanan peserta didik.

    "Mari kita menjadi pelopor MPLS yang mencerahkan dan menggembirakan. Memanusiakan manusia," ujar Sri Sayekti penuh semangat.

    Ia menjelaskan keberhasilan MPLS tidak ditentukan dari beratnya tantangan yang diberikan kepada murid baru, melainkan dari kemampuan sekolah mendampingi anak mengenal lingkungan belajar sehingga mampu beradaptasi dengan baik sejak hari pertama.

    "Kami memiliki motto Strong in Religious, Smart, Healthy, Creative. Seluruh kegiatan MPLS berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 14–16 Juli 2026, dengan konsep edukatif dan menyenangkan," jelasnya.

    Pada hari pertama, peserta mengikuti pembiasaan pagi melalui tahfiz Al-Qur'an, doa pagi, doa belajar, membaca Surah Al-Fatihah dan Al-Ikhlas, menyanyikan Mars SD Muhammadiyah 1 Solo, kegiatan rukun bersama teman, pengenalan Al-Islam, Kemuhammadiyahan, Bahasa Arab (ISMUBA), serta pengenalan tata tertib dan seragam sekolah.

    Memasuki hari kedua, sekolah berkolaborasi dengan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam) dalam kegiatan latihan baris-berbaris dan upacara. Murid baru juga diajak mengenal lingkungan serta sarana dan prasarana sekolah, dilanjutkan kegiatan mewarnai gambar bertema anti-perundungan.

    "Hari kedua diisi latihan baris-berbaris dan upacara bersama Kokam, pengenalan lingkungan sekolah, serta mewarnai gambar bertema anti-bullying," kata Sayekti.

    Menurutnya, pelaksanaan MPLS yang bebas dari praktik perundungan diharapkan mampu memberikan kesan pertama yang positif kepada seluruh murid baru. Dengan demikian, mereka memiliki rasa aman, nyaman, dan semangat tinggi selama menempuh pendidikan di sekolah yang berlokasi di Jalan Kartini No. 1 Barat Pura Mangkunegaran, Solo.

    Sayekti optimistis pendekatan yang berorientasi pada perlindungan anak dan penguatan karakter akan mendukung terwujudnya pendidikan yang unggul, berkarakter, dan berbudaya.

    "Hari ketiga MPLS diisi games, doorprize, menyimak dongeng inspiratif, deklarasi anti-bully, dan bernyanyi bersama," ungkapnya.

    Seluruh rangkaian kegiatan dirancang menggunakan pendekatan yang menggembirakan, edukatif, dan ramah anak sehingga murid baru dapat menikmati proses pengenalan lingkungan sekolah tanpa tekanan maupun intimidasi.

    "Melalui MPLS 2026, kami berharap murid baru memulai perjalanan belajarnya dengan rasa percaya diri, semangat, serta kebahagiaan sebagai bagian dari keluarga besar SD Muhammadiyah 1 Solo yang telah berusia 91 tahun," pungkas Sri Sayekti. (Sofyan)


    Baca juga: Kekuatan Branding Sekolah dalam Memperoleh Siswa Baru


Top