Ustaz Dwi Jatmiko, M.Pd., dalam Pengajian Subuh Barokah di Masjid Al Mukarromah, Minggu (2/8/2026).


    Pengajian Subuh Barokah Masjid Al Mukarromah Bahas Lima Fase Manusia dan Bekal Takwa

    SOLO - majalahlarise.com – Setiap manusia akan melewati lima fase kehidupan yang menjadi pengingat untuk terus meningkatkan kualitas keimanan dan memperbanyak bekal takwa. Pesan tersebut disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, M.Pd., dalam Pengajian Subuh Barokah di Masjid Al Mukarromah, Minggu (2/8/2026).

    Kegiatan diawali dengan doa bersama memohon kepada Allah SWT agar diberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang luas, serta kesembuhan dari segala penyakit. Suasana khusyuk mengiringi pembukaan pengajian sebelum jamaah diajak merenungkan hakikat perjalanan hidup manusia berdasarkan tuntunan Islam.

    Mengawali tausiyahnya, Ustaz Dwi Jatmiko mengangkat tema "Lima Fase Manusia, Momentum Memperbanyak Bekal Takwa." Ia menjelaskan bahwa setiap manusia akan melewati lima tahapan kehidupan, yakni fase bayi, anak-anak, pemuda, dewasa, hingga lanjut usia.

    "Manusia melewati lima fase kehidupan. Pertama fase bayi, kemudian anak-anak, dilanjutkan fase pemuda yang identik dengan semangat dan produktivitas. Setelah itu memasuki fase dewasa sekitar usia 40 tahun yang menuntut kematangan berpikir, bertindak, dan mengambil keputusan," jelas Ustaz Dwi Jatmiko.

    Ia menambahkan, fase terakhir adalah usia lanjut, yakni di atas 60 tahun. Pada masa tersebut, seseorang diharapkan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan akhirat.

    Menurutnya, pembagian fase kehidupan bukan sekadar penanda bertambahnya usia, melainkan menjadi pengingat agar manusia terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih matang dalam keimanan, akhlak, serta tanggung jawab terhadap diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.

    "Semakin bertambah usia, semakin besar pula kewajiban untuk mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian," ujarnya.

    Dalam tausiyahnya, ia juga mengingatkan bahwa manusia kerap terlena oleh gemerlap kehidupan dunia. Kesibukan mengejar harta, jabatan, maupun berbagai urusan duniawi sering membuat seseorang merasa memiliki waktu yang panjang, padahal setiap manusia telah memiliki batas usia yang ditetapkan Allah SWT.

    Ustaz Dwi Jatmiko kemudian mengutip Surah Al-A'raf ayat 34 yang menjelaskan bahwa setiap umat memiliki batas waktu kehidupan. Apabila ajal telah tiba, tidak seorang pun mampu menundanya ataupun mempercepatnya walau hanya sesaat.

    Karena itu, ia mengajak seluruh jamaah menjadikan setiap fase kehidupan sebagai kesempatan memperbanyak amal kebajikan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Pesan tersebut diperkuat melalui Surah Al-Baqarah ayat 197 yang menegaskan bahwa sebaik-baik bekal dalam perjalanan hidup adalah ketakwaan.

    "Dengan bekal takwa, seorang Muslim diharapkan mampu menjalani kehidupan dunia secara bijaksana sekaligus mempersiapkan diri menyongsong kehidupan yang kekal di akhirat," pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: PPMI Assalaam Gelar Jalan Sehat Keluarga, Syukuri 44 Tahun Pengabdian untuk Pendidikan Islam


    Jalan Sehat Keluarga dalam rangka memperingati Milad ke-44 Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam.


    PPMI Assalaam Gelar Jalan Sehat Keluarga, Syukuri 44 Tahun Pengabdian untuk Pendidikan Islam

    SUKOHARJO - majalahlarise.com – Pondok Pesantren Modern Islam (PPMI) Assalaam menggelar Jalan Sehat Keluarga dalam rangka memperingati Milad ke-44 pada Ahad (2/8). Kegiatan yang diikuti lebih dari 3.000 peserta ini melibatkan santri, asatidz dan asatidzah, tenaga kependidikan, pegawai, serta keluarga besar PPMI Assalaam sebagai wujud rasa syukur atas perjalanan panjang pesantren sekaligus mempererat ukhuwah di lingkungan Assalaam.

    Jalan sehat menjadi salah satu agenda yang menyemarakkan peringatan milad dengan menghadirkan suasana kebersamaan dan kekeluargaan. Selain mendorong pola hidup sehat, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi bagi seluruh elemen pesantren yang selama ini bersama-sama mengabdikan diri dalam pengembangan pendidikan Islam.

    Kepala Humas PPMI Assalaam, Hedonal Rumiyanto, M.Pd., menjelaskan jalan sehat merupakan bagian dari rangkaian kegiatan Milad ke-44 yang telah dipersiapkan untuk melibatkan seluruh keluarga besar Assalaam.

    "Jalan Sehat Keluarga merupakan salah satu rangkaian Milad ke-44 PPMI Assalaam. Selain kegiatan ini, masih ada Apel Akbar, seminar, penganugerahan Assalaam Award, serta berbagai kegiatan lainnya yang menjadi bagian dari peringatan milad tahun ini," ujar Hedonal.

    Sekretaris PPMI Assalaam, Ust. Dr. Arkanudin Budiyanto, M.I.Kom., menjelaskan perjalanan 44 tahun PPMI Assalaam menjadi bukti konsistensi seluruh elemen pesantren dalam menghadirkan pendidikan Islam yang berkualitas. Menurutnya, capaian tersebut lahir dari sinergi para pendiri, asatidz dan asatidzah, tenaga kependidikan, para pemangku kepentingan, alumni, serta kepercayaan yang terus diberikan oleh santri dan wali santri selama lebih dari empat dekade.

    "Empat puluh empat tahun perjalanan PPMI Assalaam merupakan amanah yang harus terus kami jaga. Kepercayaan masyarakat menjadi motivasi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pendidikan Islam yang berkarakter, berwawasan global, namun tetap berpijak pada nilai-nilai luhur pesantren," tutur Arkanudin.

    PPMI Assalaam didirikan pada 7 Agustus 1982 oleh KH. Abdullah Marzuki bersama Hj. Siti Aminah Abdullah dan para sahabatnya dengan visi menghadirkan pendidikan Islam modern yang unggul. Berangkat dari keyakinan bahwa lembaga pendidikan Islam mampu bersaing dengan institusi terbaik, Assalaam terus berkembang menjadi pesantren modern yang memadukan keunggulan akademik, penguatan karakter, serta nilai-nilai kepesantrenan.

    Semangat tersebut diwujudkan melalui tema Milad ke-44, "Local Values, Global Standard." Tema ini mencerminkan komitmen PPMI Assalaam untuk terus menjaga nilai-nilai lokal dan tradisi pesantren sebagai fondasi pendidikan, sekaligus menghadirkan layanan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan global. Melalui rangkaian kegiatan milad, PPMI Assalaam berharap semangat kebersamaan, pengabdian, dan inovasi terus menguat sehingga pesantren mampu memberikan kontribusi yang semakin besar bagi kemajuan pendidikan Islam di Indonesia. (Sofyan)


    Baca juga: SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Perdana 31 Ekstrakurikuler Tahun Ajaran 2026/2027

    Murid saat mengikuti ekstrakurikuler sepatu roda.


    SD Muhammadiyah PK Solo Gelar Perdana 31 Ekstrakurikuler Tahun Ajaran 2026/2027


    Solo - majalahlarise.com - SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengawali pelaksanaan kegiatan ekstrakurikuler (ekskul) tahun ajaran 2026/2027 pada Sabtu (1/8/2026). Program pengembangan minat dan bakat tersebut diselenggarakan melalui dua skema, yakni weekend yang dilaksanakan setiap Sabtu dan weekday yang berlangsung setiap Senin–Jumat setelah kegiatan belajar mengajar selesai.

    Koordinator Ekstrakurikuler SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Atit Nur Ariyanna, menjelaskan bahwa pada tahun ajaran ini sekolah menyediakan 31 pilihan ekstrakurikuler yang dapat dipilih murid sesuai minat dan bakatnya. Sebanyak 20 cabang masuk dalam kategori weekend, sedangkan 11 cabang lainnya dilaksanakan pada skema weekday.

    "Alhamdulillah, pelaksanaan ekstrakurikuler perdana berjalan dengan lancar. Anak-anak tampak sangat antusias mengikuti kegiatan sesuai bidang yang mereka pilih. Kami berharap kegiatan ini menjadi ruang bagi murid untuk mengembangkan potensi sekaligus membangun karakter positif melalui aktivitas yang menyenangkan," ujarnya.

    Murid saat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler memanah.


    Adapun ekstrakurikuler weekday meliputi Coding Kelas II, III, IV, dan V, Robotik, Musik, Seni Membaca Al-Qur'an, Tari, English Club, Paduan Suara, serta Menggambar.

    Sementara itu, ekstrakurikuler weekend terdiri atas Dance Modern, Basket, Public Speaking, Sains Club, Renang Putra, Renang Putri, Badminton, Panahan, Sepatu Roda, Tapak Suci, Fotografi, Cooking, Dokter Kecil, Futsal Kelas II–III, Futsal Kelas IV–V, Futsal Kelas VI, dan Futsal Putri.

    Atit menambahkan, proses rekrutmen peserta dilakukan secara terbuka berdasarkan minat dan bakat murid. Sebelum menentukan pilihan, setiap murid diberikan kesempatan berdiskusi bersama orang tua agar ekstrakurikuler yang diikuti sesuai dengan potensi dan ketertarikan masing-masing.

    Wakil Kepala Sekolah Bidang Kemuridan SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Muhamad Arifin, mengatakan bahwa penguatan program ekstrakurikuler menjadi salah satu indikator kinerja utama bidang kemuridan pada tahun ajaran 2026/2027. Melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan, sekolah menargetkan setiap cabang ekstrakurikuler mampu melahirkan prestasi pada berbagai ajang perlombaan.

    "Kami berkomitmen tidak hanya berfokus pada penguatan akademik, tetapi juga mengembangkan bakat, karakter, dan potensi setiap murid agar mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, berdaya saing, serta berprestasi di berbagai bidang. Melalui ekstrakurikuler inilah kami berharap lahir bibit-bibit juara yang akan mengharumkan nama sekolah pada berbagai kompetisi, baik di tingkat kota, provinsi, maupun nasional," ungkapnya.

    Program ekstrakurikuler merupakan bagian dari komitmen SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo dalam memberikan layanan pendidikan yang holistik. Selain membentuk kompetensi akademik, sekolah juga mendorong pengembangan keterampilan, kepemimpinan, kreativitas, sportivitas, dan karakter Islami sehingga setiap murid memiliki ruang untuk berkembang sesuai potensi terbaiknya. (Sofyan)


    Baca juga: Penerimaan Tamu Ambalan SMA Veteran 1 Sukoharjo 2026, Bentuk Pramuka Penegak Berkarakter Tangguh

    Ustadz Zaina Ashoml  saat menyampaikan materi tausiah dilanjutkan doa bersama.


    PKBM Syifa Surakarta Bersholawat, Awali Tahun Ajaran Baru dengan Doa Cetak Generasi Ulul Albab

    Surakarta - majalahlarise.com – PKBM Syifa Surakarta yang beralamat di Jl. Jamsaren No.44, Serengan, Kec. Serengan, Kota Surakarta, menggelar kegiatan Syifa Surakarta Bersholawat sebagai rangkaian pembukaan Tahun Ajaran Baru 2026/2027, Sabtu (1/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 15.30 WIB tersebut diikuti orang tua, santri, warga belajar, serta tamu undangan. Suasana berlangsung khidmat melalui rangkaian acara yang meliputi gema musik Islami, sambutan, mahallul qiyam, menyanyikan lagu Indonesia Raya, mauidhoh hasanah, hingga doa bersama sebagai ikhtiar memohon keberkahan dalam mengawali proses pembelajaran selama satu tahun ke depan.

    Kepala PKBM Syifa Surakarta, Puri Setianingtyas, S.E., M.M., menjelaskan kegiatan tersebut merupakan kajian rutin yang sekaligus menjadi pembukaan akademik tahun pelajaran baru. Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, kegiatan ini diharapkan menjadi momentum untuk membangun semangat spiritual seluruh warga belajar sebelum memasuki proses pendidikan.

    "Kegiatan ini sudah memasuki tahun kedua. Harapan kami, tahun ajaran baru ini menjadi lebih berkah bagi kita semua. Kami juga mohon bimbingan dan doa agar PKBM Syifa semakin membawa manfaat," ujar Puri.


    Ia menjelaskan, doa bersama menjadi bagian penting dalam mengawali perjalanan pendidikan agar seluruh proses pembelajaran berjalan lancar serta memberikan manfaat bagi peserta didik maupun lembaga. Menurutnya, pendidikan tidak hanya dimulai dengan kesiapan akademik, tetapi juga dengan memperkuat ikhtiar spiritual melalui kebersamaan dan doa.

    Dalam kesempatan tersebut, Puri juga memperkenalkan PKBM Syifa sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan kesetaraan Paket A, Paket B, dan Paket C. Selain itu, PKBM Syifa mengelola delapan pondok pesantren yang tersebar di wilayah Solo Raya sebagai bagian dari penguatan pendidikan berbasis karakter dan nilai-nilai keislaman.

    "Kami mengelola delapan pondok pesantren se-Solo Raya. Untuk kegiatan ini kami masih meminta bantuan Pondok Pesantren Al-Muayyad, meskipun beberapa santri kami juga ikut bergabung," jelasnya.

    Menurut Puri, kolaborasi dengan Pondok Pesantren Al-Muayyad masih terus dilakukan untuk mendukung pelaksanaan kegiatan keagamaan. Kehadiran para santri dari berbagai pondok pesantren di bawah naungan PKBM Syifa menjadi wujud sinergi dalam membangun lingkungan pendidikan yang religius sekaligus memperkuat ukhuwah antarwarga belajar.


    Lebih lanjut, Puri menjelaskan tujuan utama pendidikan di PKBM Syifa bukan hanya menghasilkan peserta didik yang unggul secara akademik, melainkan juga membentuk karakter yang kuat sehingga mampu menjadi pribadi yang bermanfaat bagi masyarakat.

    "Harapan kami nanti peserta didik kami itu menjadi lebih cerdas, lebih terampil, dan berakhlak, yang menjadi salah satu tujuan dari pendidikan yang kita laksanakan ke depannya," ungkapnya.

    Sementara itu, dalam tausiah yang dilanjutkan doa bersama, Ustadz Zainal Ashom menjelaskan pendidikan memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Menurutnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari keberhasilannya membentuk calon pemimpin yang memiliki akhlak, integritas, dan karakter yang kuat.

    Ia menjelaskan Al-Qur'an telah memberikan pedoman mengenai sosok generasi terbaik melalui konsep ulul albab sebagaimana tercantum dalam Surat Ali Imran. Generasi ulul albab merupakan insan yang paripurna atau insan kamil yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan spiritual, intelektual, dan emosional.

    "Generasi terbaik umat ini adalah generasi ulul albab. Generasi ulul albab ini generasi yang paripurna atau biasa disebut dengan istilah insan kamil," tutur Ustadz Zainal Ashom.

    Menurutnya, generasi ulul albab dibentuk melalui kebiasaan berzikir kepada Allah sebagai wujud kecerdasan spiritual, kemampuan berpikir kritis sebagai bentuk kecerdasan intelektual, serta sikap tawaduk dan kebijaksanaan sebagai cerminan kecerdasan emosional. Ketiga aspek tersebut harus ditanamkan sejak dini agar peserta didik tumbuh menjadi pribadi yang utuh.

    "Menjadi orang-orang yang ahli pikir, ahli zikir, dan orang-orang yang tawaduk, atau menjadi orang-orang yang punya kecerdasan intelektual, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan emosional," jelasnya.

    Di akhir tausiahnya, Ustadz Zainal Ashom berharap seluruh lembaga pendidikan, termasuk PKBM Syifa Surakarta, terus memperoleh keberkahan dalam menjalankan misinya mencetak generasi ulul albab. Ia meyakini penerapan nilai-nilai Al-Qur'an dalam proses pendidikan akan melahirkan generasi berkarakter yang mampu membawa Indonesia menjadi bangsa yang maju, damai, dan penuh keberkahan.

    "Insya Allah, jika kita mengamalkan isi dan kandungan Al-Qur'an ini, Indonesia akan menjadi Indonesia yang baldatun, dan mudah-mudahan lembaga pendidikan menjadikan anak-anak kita menjadi anak-anak yang ulul albab," pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Penerimaan Tamu Ambalan SMA Veteran 1 Sukoharjo 2026, Bentuk Pramuka Penegak Berkarakter Tangguh

    Simbiosis Mutualisme Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Daerah, Sekolah, dan Kampus dengan Media Cetak dan Digital sebagai Sumber Literasi Ratulisa 


    Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

    Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik

    Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & Komunitas DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


    “Aku menulis berarti aku hidup, aku membaca berarti aku mengerti, dan aku berbagi berarti aku bahagia menyapa dunia dengan rajutan kata”


           Perpustakaan memiliki peran penting sebagai sumber informasi, baik cetak dan noncetak bagi pemustaka. Perpustakaan ada di setiap lembaga pemerintah dan nonpemerintah, baik pendidikan dasar, perguruan tinggi, lembaga, dan badan, baik konvensional maupun digital. Berbicara masalah perpustakaan tentu kita tidak dapat melepaskan pada fungsi media cetak dan digital sebagai sumber informasi dan pembelajaran bagi peserta didik dan masyarakat umum agar melek literasi cetak dan digital. Oleh karena itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan kampus harus dapat terjadi symbiosis multualisme dengan media cetak dan digital sebagai sembur literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) bagi multigenerasi Indonesia.

           Perpustakaan dan media cetak memiliki fungsi yang hampir sama, yakni menyebarkan informasi, sumber layanan informasi, dan sumber belajar bagi peserta didik dan Masyarakat di seluruh Indonesia. Terkait dengan hal tersebut maka fungsi perpustakaan dan media cetak harus dapat diintegrasikan sebagai bentuk penguatan pusat sumber informasi dan belajar. Selain itu, perpustakaan dan media cetak harus memiliki kerja sama untuk menyebarkan informasi kepada peserta didik dan masyarakat umum secara terintegratif agar tidak mudah tertipu oleh informasi yang tidak valid atau hoaks.

           Merujuk paparan di atas, dapat diperhatikan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan (https://jdih.perpusnas.go.id/file_peraturan/UU_No._43_Tahun_2007_tentang_Perpustakaan_.pdf) pada pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya dijelaskan pada ayat (2) bahwa koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan yang dihimpun, diolah, dan dilayankan. Sementara itu, daya dukung perpustakaan adalah pustakawan. Dengan demikian, perpustakaan memiliki fungsi simbiosis mutualisme atara perpustakaan dengan media cetak dan digital sebagai pusat sumber belajar dan informasi bagi seluruh civitas akademika untuk meningkatkan budaya baca bagi masyarakat.

    Mendekatkan Perpustakaan dengan Masyarakat, baik di Sekolah dan Kampus

           Perpustakaan harus menjadi media pembelajaran dan sumber literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) bagi masyarakat pendidikan di Indonesia. Hal ini dilihat dari peran penting dan fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, koleksi, informasi. Oleh karena itu, perpustakaan harus didekatkan kepada masyarakat pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia. Terkait dengan hal tersebut, pemberdayaan dan pengembangan sumber daya manusia perpustakaan sebagai pustakawan dan ujung tombak pelayanan perpustakaan harus dioptimalkan. Dengan demikian, kedekatan informasi, lembaga, dan fungsi koleksi serta menginformasikan dapat dijalankan seutuhnya oleh para pustakawan dan staf administrasi di perpustakaan.

           Terkait dengan hal tersebut, UU Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (8) menyebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Sementara itu pada ayat (9) pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Lebih lanjut ayat (10) dijelaskan mengenai bahan perpustakaan adalah semua hasil karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam. Terkait dengan ini para pemustaka adalah peserta didik di sekolah formal dan nonformal. Dijelaskan lebih lanjut pada ayat (11) bahwa masyarakat adalah setiap orang, kelompok orang atau lembaga yang berdomisili pada suatu wilayah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang perpustakaan. Merujuk penjelasan di atas, dapat ditegaskan bahwa keberadaan perpustakaan sangat diperlukan oleh pemustaka, peserta didik, dan masyarakat umum sebagai sumber ilmu dan pengetahuan secara berkelanjutan dan sekaligus sebagai media rekreasi baca di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sekolah, dan masyarakat. 

           Dengan demikian semua instansi yang memiliki perpustakaan, baik jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, maupun lembaga pemerintah dan nonpemerintah harus mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat pendidikan sebagai pusat sumber belajar bagi peserta didik dan masyarakat umum. Kedekatan masyarakat dengan perpustakaan akan sangat berarti untuk meningkatkan dan membiasakan budaya baca masyarakat Indonesia.

    Peran Perpustaakan Nasional Republik Indonesia sebagai Rujukan Nasional

           Perpustakaan memiliki aneka referensi, koleksi, dan layanan yang bervariasi. Namun demikian, tidak semua perpustakaan memiliki koleksi lengkap dan layanan yang sesuai dengan harapan para pengunjungnya. Oleh karena itu, pemerintah memfungsikan perpustakaan nasional RI sebagai rujukan nasional sebagai pusat sumber belajar dan informasi bagi masyarakat. Dengan demikian, integrasi perpustakaan sebagai sumber informasi bagi peserta didik dan masyarakat umum dapat terealisasi.

           Berbicara masalah peran penting perpustakaan sebagai sumber belajar bagi peserta didik dan masyarakat diperlukan simbiosis mutualisme antara perpustakaan dengan media cetak dan perpustakaan nasional RI sebagai rujukan nasional. Selaras dengan pemikiran di atas, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dijelaskan pada bab I pasal 1 ayat (7) perpustakaan nasional adalah lembaga pemerintah non-kenegaraan yang melaksanakan tugas pemerintah dalam bidang perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian, dan pusat jejaring perpustakaan serta berkedudukan di ibukota negara. Kemudian ayat (8) dijelaskan perpustakaan provinsi adalah perpustakaan daerah yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, dan perpustakaan pelestarian yang berkedudukan di ibukota provinsi. Lebih lanjut dijelaskan pada ayat (9) perpustakaan kabupaten/kota adalah perpustakaan daerah yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan penelitian, dan perpustakaan pelestarian yang berkedudukan di ibukota kabupaten/kota. Merujuk paparan di atas, peran penting perpustakaan nasional sebagai rujukan nasional dan Pembina perpustakaan umum daerah dan pendidikan sangat diperlukan dalam konteks integrasi perpustakaan dengan media cetak sebagai sumber informasi dan sumber belajar bagi peserta didik dengan masyarakat umum.

    Masyarakat Harus Cerdas dan Pandai untuk Menjadi Guru di Keluarga

           Kekuatan sebuah bangsa bergantung pada kompetensi sumber daya manusianya. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, masyarakat juga berhak untuk menentukan masa depan bangsanya melalui pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, dalam bab II bagian kesatu pasal 5 Ayat (1) UU Nomor 43 Tahun 2007 dijelaskan bahwa masyarakat mempunyai hak yang sama untuk: (1) memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan, (2) mengusulkan keanggotaan dewan perpustakaan, (3) mendirikan dan/atau menyelenggarakan perpustakaan, (4) berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan. Selanjutnya pada ayat (2) dijelaskan bahwa masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. Sementara itu, pada ayat (3) dijelaskan bahwa masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan fisik, emosional, mental, intelekstual, dan/atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Dengan demikian, peran penting pemerintah adalah mengoptimalkan kinerja para pustakawan dan melengkapi sarana dan prasarana yang dimiliki untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui pustaka ilmiah.

           Merujuk paparan tersebut, antara hak dan kewajiban masyarakat terhadap perpustakaan perlu diimbangkan, maka perlu dijelaskan mengenai kewajiban masyarakat. Berdasarkan UU Nomor 43 Tahun 2007 pasa 6 ayat (1) dijelaskan bahwa masyarakat berkewajiban: (1) menjaga dan memelihara kelestarian koleksi perpustakaan, (2) menyimpan, merawat, dan melestarikan naskah kuno yang dimilikinya dan mendaftarkannya ke perpustakaan nasional, (3) menjaga kelestarian dan keselamatan sumber daya perpustakaan di lingkungannya, (4) mendukung upaya penyediaan fasilitas layanan perpustakaan di lingkungannya, (5) mematuhi seluruh ketentuan dan peraturan dalam pemanfaatan fasilitas perpustakaan, dan (6) menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan lingkungan perpustakaan. Dengan demikian, diperlukan sosialisasi dan pemahaman fungsi perpustakaan kepada masyarakat sebagai sumber belajar dan rekreasi pustaka.

           Selaras dengan hal tersebut, pemerintah juga berkewajiban untuk memberikan fasilitas ruang baca kepada seluruh masyarakat. Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 7 ayat (1) yang menjelaskan bahwa pemerintah berkewajiban (1) mengembangkan sistem nasional perpustakaan sebagai upaya mendukung sistem pendidikan nasional, (2) menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat, (3) menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di tanah air, (4) menjamin ketersediaan keragaman koleksi perpustakaan melalui terjemahan (translasi), alih aksara (transliterasi), alih suara ke tulisan (transkripsi), dan alih media (transmedia), (5) menggalakkan promosi gemar membaca dan memanfaatkan perpustakaan, (6) meningkatkan kualitas dan kuantitas koleksi perpustakaan, (7) membina dan mengembangkan kompetensi profesionalitas pustakawan, dan tenaga teknis perpustakaan, (8) mengembangkan perpustakaan secara berkelanjutan.

           Selaras dengan paparan tersebut, sesuai dengan pasal 8 UU Nomor 43 Tahun 2007 dijelaskan bahwa pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota berkewajiban: (1) menjamin penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan di daerah, (2) menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di wilayah masing-masing, (3) menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat, (4) menggalakkan promosi gemar membaca dengan memanfaatkan perpustakaan, (5) memfasilitasi penyelenggaraan perpustakaan di daerah, dan (6) menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan umum daerah berdasarkan kekhasan daerah sebagai pusat penelitian dan rujukan tentang kekayaan budaya daerah di wilayahnya. Dengan demikian, pemerintah pusat dan daerah harus berkerja sama dalam rangka mempromosikan gemar membaca bagi peserta didik dan masyarakat sehingga dapat mewujudkan cita-cita Indonesia untuk masyarakat cerdas dan pandai.

           Merujuk paparan di atas, apabila simbiosis mutualisme antara perpustakaan dengan media cetak dan digital dapat terwujud maka setiap masyarakat Indonesia dapat menjadi guru bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya. Persaingan global mengharuskan kita memiliki sumber daya manusia yang unggul dan terampil dalam berbagai bidang sehingga dapat bersaing dan berdaya sanding di tingkat nasional dan internasional. Komitmen orang tua, guru, dosen, masyarakat, dan pemerintah harus dapat menjadi teladan dan contoh untuk terus belajar dan membelajarkan diri untuk terus berliterasi dengan Arfuzh Ratulisa bersama Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) sepanjang masa dengan simbiosis mutualisme sumber literasi cetak dan digital dalam multikonteks kehidupan secara komprehensif dan berkelanjutan.


    “Bergerak dan belajar untuk terus ikut serta berpartisipasi dan berliterasi dengan Ratulisa akan dapat mengantarkan diri untuk menjadi manusia hebat yang bermanfaat dan maslahat untuk umat sepanjang hayat”


    Istana Arfuzh Ratulisa dan diklisa Surakarta, 1 Agustus 2026

      

    International Conference on Technology, Education, and Social Science (ICTESS) 2026 yang ke-8 secara hybrid, Kamis (30/7).


    UNISRI Sukses Gelar ICTESS ke-8 Secara Hybrid, Bahas Transformasi Global di Tengah Ketidakpastian

    SOLO - majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat jejaring akademik internasional dengan menyelenggarakan International Conference on Technology, Education, and Social Science (ICTESS) 2026 yang ke-8 secara hybrid, Kamis (30/7). Konferensi internasional ini mempertemukan akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara untuk mendiskusikan strategi menghadapi perubahan global yang semakin dinamis melalui pendekatan lintas disiplin ilmu.

    Mengusung tema "Navigating Global Transformation in an Uncertain World: Interdisciplinary Perspectives on Economics, Business, Education, Law, Agriculture, Food Technology, Politics, and Society", ICTESS 2026 menghadirkan enam pembicara utama dari lima negara, yakni Indonesia, Malaysia, Vietnam, Filipina, dan Thailand. Para narasumber tersebut adalah Prof. Dr. Ir. Aisyah Endah Palupi, M.Pd. (Head of LLDIKTI Wilayah VI Indonesia), Prof. Dr. Geoffrey Harvey Tanakinjal (University Malaysia Sabah), Dr. Tuyen Chan Kha (Nong Lam University, Vietnam), Prof. Dr. Shirlilo R. (University of the East Laguna Campus, Filipina), Prof. Madya Dr. Ahmad Zubir Ibrahim (Universiti Utara Malaysia), serta Dr. Chuan Chen Bi (Khon Kaen University, Thailand).

    Ketua Pelaksana ICTESS 2026, Dr. Marjam Desma Rahadhini, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa konferensi ini tidak sekadar menjadi agenda akademik tahunan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi internasional yang mempertemukan berbagai disiplin ilmu untuk mencari solusi atas tantangan global.



    "ICTESS 2026 lebih dari sekadar acara akademik tahunan. Acara ini berfungsi sebagai forum internasional dinamis yang menyatukan beragam disiplin ilmu, mulai dari ekonomi, bisnis, pendidikan, hukum, pertanian, teknologi pangan, politik, hingga ilmu sosial, untuk mendorong perspektif kolaboratif dalam menghadapi ketidakpastian global," jelas Dr. Marjam.

    Menurutnya, konferensi ini dirancang untuk memfasilitasi diseminasi hasil penelitian, memperkuat jejaring akademik internasional, sekaligus menjadi wadah pertukaran pengetahuan lintas negara.

    "Melalui promosi penelitian lintas sektor dan dialog kebijakan berbasis bukti, ICTESS 2026 diharapkan membekali peserta dengan wawasan dan strategi menghadapi lingkungan global yang semakin tidak pasti. Ini merupakan kontribusi kami dalam membangun masa depan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs)," tambahnya.

    Konferensi dibuka secara resmi oleh Rektor UNISRI Surakarta, Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta memandang ketidakpastian sebagai momentum untuk berinovasi dan memperkuat kerja sama internasional.

    "Tema Navigating Global Transformation in an Uncertain World menyoroti bahwa ketidakpastian bukanlah penghalang, melainkan ajakan untuk beradaptasi, berkolaborasi, dan mengubah tantangan menjadi peluang," ujar Prof. Sutoyo.

    Ia juga menjelaskan bahwa tantangan global saat ini tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu bidang ilmu atau satu institusi. "Tidak ada satu disiplin ilmu, lembaga, atau negara pun yang dapat menyelesaikan tantangan saat ini sendirian. Di Universitas Slamet Riyadi, kami percaya bahwa sebuah universitas tidak hanya harus menghasilkan pengetahuan, tetapi juga memastikan bahwa pengetahuan tersebut bermanfaat bagi umat manusia," tuturnya.

    Menutup sambutannya, Prof. Sutoyo menyampaikan apresiasi kepada seluruh pembicara, mitra, sponsor, reviewer, panitia, serta peserta yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan ICTESS 2026.

    "Semoga ICTESS 2026 memperluas perspektif kita, memperkuat kolaborasi yang bermakna, dan menginspirasi kita untuk mengubah pengetahuan menjadi tindakan positif bagi masyarakat," ungkapnya.

    ICTESS merupakan konferensi internasional tahunan yang menjadi salah satu program strategis UNISRI dalam memperkuat budaya riset, meningkatkan publikasi ilmiah bereputasi internasional, serta memperluas jejaring kerja sama global. Melalui penyelenggaraan secara hybrid, ICTESS 2026 berhasil menjangkau lebih banyak akademisi, peneliti, dan praktisi dari berbagai negara, sekaligus mempertegas komitmen Universitas Slamet Riyadi Surakarta dalam mendorong internasionalisasi pendidikan tinggi melalui riset, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan. (Sofyan)


    Baca juga: Penerimaan Tamu Ambalan SMA Veteran 1 Sukoharjo 2026, Bentuk Pramuka Penegak Berkarakter Tangguh

    Wakil Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo bidang kesiswaan Drs. Sukino saat membuka kegiatan Penerimaan Tamu Ambalan 2026.


    Penerimaan Tamu Ambalan SMA Veteran 1 Sukoharjo 2026, Bentuk Pramuka Penegak Berkarakter Tangguh

    SUKOHARJO - majalahlarise.com – SMA Veteran 1 Sukoharjo menggelar kegiatan Penerimaan Tamu Ambalan (PTA) Pramuka selama dua hari, Kamis-Jumat (30-31/7/2026). Kegiatan yang menjadi program kerja tahunan sekolah ini dirancang bukan sekadar seremonial, tetapi sebagai proses pembinaan untuk membentuk karakter peserta didik dari Pramuka Penggalang menuju Pramuka Penegak. Ambalan Pramuka SMA Veteran 1 Sukoharjo terdiri atas Ambalan Pandu Dewanata untuk putra dan Ambalan Dewi Kunti untuk putri yang berpangkalan di Gugus Depan (Gudep) 01125–01126.

    Melalui kegiatan tersebut, para peserta didik dibekali berbagai pengalaman yang bertujuan menumbuhkan pola pikir yang lebih dewasa, mandiri, dan bertanggung jawab. Proses perubahan tersebut dipandang penting sebagai bekal menghadapi jenjang pendidikan yang lebih tinggi sekaligus membangun karakter yang kuat dalam kehidupan sehari-hari.

    Wakil Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo bidang kesiswaan Drs. Sukino, menjelaskan perubahan dari Pramuka Penggalang menjadi Pramuka Penegak tidak dapat dilakukan secara instan. Menurutnya, peserta harus melalui tahapan pembinaan yang mampu mengubah pola pikir, memperkuat sikap, serta membangun mental agar siap menghadapi berbagai tantangan di lingkungan sekolah maupun masyarakat.


    "Penerimaan Tamu Ambalan ini diharapkan benar-benar bisa mengubah pola berpikir anak dari Pramuka Penggalang menjadi Pramuka Penegak. Perubahan itu membutuhkan proses, baik proses berpikir maupun proses menyatakan sikap agar lebih kuat menghadapi kegiatan di sekolah ke depan," ujarnya.

    Sukino menjelaskan pembinaan kepramukaan di SMA Veteran 1 Sukoharjo berorientasi pada penguatan tiga karakter utama, yaitu kemandirian, tanggung jawab, dan budi pekerti luhur. Ketiga nilai tersebut menjadi implementasi nyata dari Trisatya dan Dasa Dharma Pramuka yang harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

    "Anak-anak yang beralih dari Penggalang menjadi Penegak harus mampu mewujudkan sikap mandiri, bertanggung jawab, dan berbudi luhur sebagai pengamalan Trisatya dan Dasa Dharma Pramuka," katanya.

    Menurutnya, kegiatan perkemahan merupakan media pendidikan karakter yang efektif karena peserta tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga mengalami langsung berbagai situasi yang melatih kedisiplinan, kerja sama, kepemimpinan, serta kemampuan memecahkan persoalan di alam terbuka. Dari pengalaman tersebut diharapkan lahir pribadi-pribadi yang lebih tangguh dan memiliki rasa cinta terhadap sekolah.

    "Pramuka harus mampu mengubah perilaku peserta menjadi lebih baik sehingga memiliki sikap positif terhadap sekolah dan mampu menjaga almamater," jelas Sukino.

    Kegiatan Penerimaan Tamu Ambalan tahun ini diikuti 344 peserta reguler, sementara peserta nonreguler, termasuk siswa baru yang tinggal di lingkungan pondok, mengikuti pembinaan dengan metode yang disesuaikan. 

    Selama dua hari pelaksanaan, peserta mengikuti beragam materi dan aktivitas, mulai dari pembinaan mental dan spiritual, latihan kepemimpinan, pembelajaran kehidupan di alam terbuka, hingga lomba memasak yang melatih kreativitas, kerja sama, dan kemandirian. Berbagai kegiatan tersebut dirancang agar peserta mampu mengembangkan kemampuan sosial sekaligus membentuk kepribadian yang disiplin, tangguh, dan bertanggung jawab.

    Sementara itu, Kepala SMA Veteran 1 Sukoharjo, Koyem, S.Pd., M.Si. berharap seluruh peserta dapat mengimplementasikan nilai-nilai kepramukaan dalam kehidupan sehari-hari sehingga menjadi generasi yang tidak hanya berprestasi secara akademik, tetapi juga memiliki karakter unggul dan mampu mengharumkan nama sekolah.

    "Harapan kami, anak-anak memiliki mental yang kuat, berjiwa berbudi luhur, mampu menjaga nama baik SMA Veteran 1 Sukoharjo, serta berprestasi dalam berbagai ajang perlombaan," pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: HUT ke-46 SMPN 1 Pracimantoro, Perkuat Karakter Sekolah Bermartabat


Top