Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, saat menjadi imam sekaligus khatib di Masjid Al-Mustaqim.

    4 Cara Mencintai Rasulullah SAW, Tak Cukup dengan Ucapan

    SOLO - majalahlarise.com - Mengaku mencintai Rasulullah Muhammad SAW tidak cukup hanya melalui ucapan. Kecintaan kepada Rasulullah SAW perlu diwujudkan melalui perilaku dan kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menjaga sholat, membaca Al-Qur’an, memperbanyak shalawat, hingga peduli kepada sesama.

    Hal itu disampaikan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, saat menjadi imam sekaligus khatib di Masjid Al-Mustaqim, Jalan MT Haryono No. 50, Mangkubumen, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Jumat (18/9/2026).

    Dalam khutbahnya, Jatmiko mengingatkan jamaah bahwa Rasulullah SAW diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam. Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah SAW semestinya tidak berhenti pada pujian dan shalawat, tetapi diwujudkan dengan mengikuti sunnah serta menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan.

    “Makna cinta yang sesungguhnya kepada Nabi SAW adalah mengamalkan apa yang diamalkan oleh Rasulullah. Mencintai Nabi SAW adalah ibadah,” kata Jatmiko.

    Jatmiko menyebutkan empat kebiasaan yang dapat menjadi bentuk nyata kecintaan kepada Rasulullah SAW. Pertama, sholat tepat waktu. Menurutnya, ketaatan kepada Allah SWT harus diwujudkan melalui pelaksanaan kewajiban, bukan sekadar menjadi pengetahuan. Kedua, rutin membaca Al-Qur’an. Kedekatan dengan Al-Qur’an diharapkan tidak hanya memperkuat pemahaman keagamaan, tetapi juga mendorong umat mengamalkan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

    “Ketiga dengan memperbanyak shalawat. Seperti yang tercantum dalam QS Al-Ahzab ayat 56 yang memerintahkan orang-orang beriman untuk bershalawat kepada Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

    Keempat, lanjut Jatmiko, peduli kepada sesama. Rasulullah SAW mengajarkan persamaan, persatuan, saling menghargai, saling menolong, menjaga persaudaraan, perdamaian, serta akhlakul karimah. Nilai-nilai tersebut perlu dihadirkan dalam kehidupan sosial sehingga kecintaan kepada Rasulullah SAW memiliki dampak nyata bagi lingkungan sekitar.

    Guru PAI SD Muhammadiyah 1 Solo itu menjelaskan, kecintaan kepada Rasulullah SAW harus menghasilkan perubahan dalam kehidupan. Mengikuti Rasulullah SAW bukan sekadar mengenang sosok beliau, melainkan berusaha menghadirkan keteladanan beliau dalam hubungan dengan Allah SWT maupun sesama manusia.

    “Sebab, ukuran cinta bukan hanya apa yang keluar dari lisan. Cinta yang sebenarnya adalah ketika keteladanan Rasulullah mulai terlihat dalam kehidupan sehari-hari, dengan peduli agama, manusia, lingkungan hingga sistem,” urainya.

    Khotbah Jumat dimulai pukul 11.40 WIB. Pada awal khutbah, anggota Pimpinan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya (MPKSDI) Solo itu mengajak jamaah untuk bersyukur kepada Allah SWT karena masih diberikan kesempatan untuk menghadiri dan melaksanakan ibadah Jumat.

    “Semoga Allah memberikan ridha-Nya terhadap ibadah Jumat yang kita lakukan di siang hari ini, diberikan tambahan berkah sehat fisik, rohani maupun ekonominya,” harapnya.

    Selanjutnya, Jatmiko menyampaikan wasiat takwa kepada jamaah dengan menjalankan ketakwaan yang sebenar-benarnya, yakni melaksanakan segala perintah Allah SWT dan menjauhi segala larangan-Nya. (Sofyan)


    Baca juga: Wawali Astrid: Lomba Estafet UNSA Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Antargenerasi

    Rektor Universitas Sahid Surakarta, Dr. Sri Huning Anwariningsih, S.T., M.Kom., saat membuka pameran mengangkat tema “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” sekaligus menjadi bentuk asesmen pengganti sidang Tugas Akhir.


    Dari Layar Digital ke Ruang Pamer, Karya Mahasiswa DKV Hadirkan Tafsir Visual Budaya Indonesia

    Surakarta - majalahlarise.com - Layar digital menyala di ruang Signature Coffee, STP Sahid Surakarta, Kamis (18/9/2026). Beragam visual budaya Indonesia hadir melalui karya lukisan digital mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Sahid Surakarta, Muhammad Praditya Arifian Zein, NIM 2022021027. Pameran tersebut mengangkat tema “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” sekaligus menjadi bentuk asesmen pengganti sidang Tugas Akhir.

    Pameran menjadi bagian penting dari perjalanan akademik Praditya karena karya dan proses kreatifnya dapat disaksikan secara terbuka oleh sivitas akademika. Kegiatan dibuka Rektor Universitas Sahid Surakarta, Dr. Sri Huning Anwariningsih, S.T., M.Kom., serta dihadiri jajaran pimpinan Universitas Sahid Surakarta dan STP Sahid Surakarta bersama seluruh dosen Program Studi DKV Universitas Sahid Surakarta. Melalui pameran tersebut, proses akademik mahasiswa tidak hanya ditampilkan dalam bentuk presentasi, tetapi juga melalui karya visual yang dapat diapresiasi secara langsung.

    Gagasan Praditya berangkat dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia melalui komunikasi visual yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Kereta api, arsitektur Surakarta, dan berbagai unsur budaya dipadukan dalam karya ilustrasi digital. Bentuk, warna, komposisi, karakter, serta teknik ilustrasi digunakan untuk menerjemahkan kekayaan budaya ke dalam bahasa visual generasi masa kini. 


    “Melalui lukisan digital, saya mencoba menghadirkan budaya Indonesia dalam bentuk visual yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi dan cara masyarakat menikmati karya visual saat ini,” ujar Praditya.

    Karya yang dipamerkan tidak hanya menunjukkan hasil akhir Tugas Akhir, tetapi juga memperlihatkan proses kreatif di balik pembuatannya. Salah satu bagian pameran menampilkan video presentasi dan dokumentasi perjalanan pengerjaan karya, mulai dari pengembangan gagasan, eksplorasi visual, pengerjaan ilustrasi secara digital, hingga penyelesaian karya. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memahami proses pengambilan keputusan visual serta berbagai tahapan yang dilalui mahasiswa dalam menghasilkan sebuah karya desain.

    Pameran juga memberikan pengalaman berbeda dalam pelaksanaan asesmen Tugas Akhir. Karya Praditya tidak hanya dipresentasikan di hadapan tim penguji dalam ruang sidang, tetapi dihadirkan dalam ruang yang memungkinkan sivitas akademika dan pengunjung melihat karya secara langsung. 

    “Pameran ini menjadi ruang untuk menunjukkan karya, gagasan, proses, sekaligus kemampuan komunikasi visual secara lebih utuh,” kata Praditya.

    Dalam konteks pendidikan DKV, kehadiran karya dalam ruang pamer memperlihatkan pentingnya proses kreatif dalam pembelajaran. Kemampuan mahasiswa tidak hanya terlihat dari hasil akhir, tetapi juga dari bagaimana gagasan dikembangkan, masalah desain dihadapi, kemudian diterjemahkan menjadi solusi visual. Pameran tersebut sekaligus membuka ruang pertemuan antara mahasiswa, dosen, pimpinan perguruan tinggi, dan pengunjung dalam satu ruang apresiasi serta evaluasi akademik.

    Pameran Praditya juga memperlihatkan ruang pendidikan desain yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan kompetensi melalui kekuatan kreatifnya. Sebagai mahasiswa autis, perjalanan akademiknya menjadi bagian dari proses pendidikan yang memberikan ruang bagi keberagaman cara belajar, berekspresi, dan berkarya. Namun, fokus pameran tetap berada pada karya dan pencapaian akademiknya sebagai mahasiswa DKV. Ada gagasan budaya yang diterjemahkan, proses kreatif yang ditampilkan, serta karya yang menjadi bukti perjalanan akademik.

    Pameran “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” menjadi penanda berakhirnya perjalanan Tugas Akhir Muhammad Praditya Arifian Zein sekaligus membuka kemungkinan bagi pengembangan karya selanjutnya. Lukisan digital dapat terus dikembangkan menjadi portofolio, ilustrasi, proyek desain, maupun media komunikasi budaya melalui berbagai platform digital. Dari layar komputer, tablet, telepon pintar hingga ruang pamer, budaya Indonesia menemukan kemungkinan bahasa visual baru. Di Signature Coffee, STP Sahid Surakarta, proses akademik ditutup melalui karya, sementara perjalanan kreatif berikutnya mulai terbuka. (Sofyan)


    Baca juga: Wawali Astrid: Lomba Estafet UNSA Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Antargenerasi

    Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta Astrid Widayani membuka kegiatan senam sehat dan lomba lari estafet dalam rangka Dies Natalis ke-28 Universitas Surakarta (UNSA).


    Wawali Astrid: Lomba Estafet UNSA Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Antargenerasi

    Solo - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta Astrid Widayani menghadiri kegiatan senam sehat dan lomba lari estafet dalam rangka Dies Natalis ke-28 Universitas Surakarta (UNSA) di Stadion Sriwedari, Solo, Kamis (17/9/2026).

    Astrid mengatakan kegiatan olahraga tersebut tidak sekadar menjadi sarana menjaga kebugaran tubuh, tetapi juga mengandung nilai kebersamaan. Menurutnya, lomba lari estafet dapat dimaknai sebagai simbol keberlanjutan perjalanan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

    “Estafet ini menjadi simbol bagaimana perjalanan panjang itu diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. UNSA bisa menjadi sarana perjalanan panjang bagi generasi penerus untuk menjadi calon-calon pemimpin,” kata Astrid dalam sambutannya.

    Menurut Astrid, setiap peserta dalam lomba estafet memiliki peran untuk mencapai tujuan bersama. Nilai tersebut dinilai relevan dengan kehidupan di lingkungan perguruan tinggi sekaligus pembangunan Kota Surakarta.


    “Estafet mengajarkan kekompakan, kerja sama, komunikasi, disiplin dan sportivitas. Nilai-nilai ini juga sejalan dengan semangat membangun Kota Surakarta karena kemajuan kota membutuhkan kolaborasi seluruh elemen masyarakat, termasuk perguruan tinggi,” ujarnya.

    Astrid juga mengapresiasi pemilihan Stadion Sriwedari sebagai lokasi kegiatan. Ia menyebut stadion tersebut memiliki sejarah panjang dalam perjalanan olahraga di Indonesia.

    “Pemilihan Stadion Sriwedari ini sangat baik karena punya nilai sejarah panjang terkait olahraga. Dari tempat yang bersejarah ini, semangat estafet generasi juga bisa kita maknai bersama,” tuturnya.

    Lebih lanjut, Astrid menyampaikan tantangan yang dihadapi generasi muda terus mengalami perubahan. Jika sebelumnya dunia pendidikan menghadapi tantangan globalisasi, kini perkembangan teknologi, derasnya arus informasi, disinformasi hingga isu perpecahan menjadi tantangan yang perlu dihadapi bersama.

    Karena itu, Astrid berharap UNSA terus adaptif dalam menghadapi perubahan zaman dan mampu menyiapkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki kemampuan berkolaborasi serta menjaga kebersamaan.

    “UNSA harus bisa menghadapi tantangan-tantangan ke depan. Mudah-mudahan selalu adaptif dan terus mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat, Kota Surakarta dan bangsa Indonesia,” katanya.

    Astrid turut menyampaikan ucapan selamat atas Dies Natalis ke-28 UNSA. Tahun ini Dies Natalis UNSA mengusung tema “UNSA Berdaya, Menguatkan Pendidikan, Membangun Kemandirian dan Menjawab Tantangan Bangsa.”

    “Selamat Dies Natalis ke-28 Universitas Surakarta. Tetap semangat, terus bergerak dan terus berkontribusi,” pungkasnya. (Mas Is/ Sofyan)


    Baca juga: Fakultas Hukum UNISRI Gelar Dialog Konstitusi Bersama MK, Bahas Negara Konstitusional Berkeadilan dan Perlindungan HAM

    Dialog menghadirkan narasumber dari Mahkamah Konstitusi, Dr. Suhartoyo, S.H., M.H. 


    Fakultas Hukum UNISRI Gelar Dialog Konstitusi Bersama MK, Bahas Negara Konstitusional Berkeadilan dan Perlindungan HAM

    Solo - majalahlarise.com - Fakultas Hukum Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi (MK) Republik Indonesia menggelar Dialog Konstitusi bertema “Negara Konstitusional yang Berkeadilan: Manifestasi Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Melindungi Hak Asasi Manusia”, Jumat (18/9/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di Kampus II UNISRI, Ruang Seminar Lantai 7 tersebut diikuti sekitar 200 peserta. Mereka terdiri atas mahasiswa semester 3, 5, dan 7 serta dosen Fakultas Hukum UNISRI.

    Dialog Konstitusi dibuka secara resmi oleh Rektor UNISRI, Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd. Dalam sambutannya, ia menyampaikan pentingnya pemahaman terhadap konstitusi bagi generasi muda, khususnya mahasiswa fakultas hukum yang dipersiapkan menjadi calon penegak hukum.

    “Mahasiswa fakultas hukum harus memahami bahwa konstitusi bukan hanya sekadar teks, tetapi menjadi dasar negara dalam mewujudkan keadilan. Melalui dialog ini diharapkan mahasiswa dapat memahami peran penting Mahkamah Konstitusi dalam menjaga konstitusi dan melindungi hak asasi warga negara,” ujar Prof. Sutoyo.

    Dekan Fakultas Hukum UNISRI, Dr. Dora Kusumastuti, S.H., M.H., menyampaikan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya Fakultas Hukum UNISRI meningkatkan literasi konstitusi di kalangan mahasiswa.

    “Melalui dialog konstitusi ini, mahasiswa diajak untuk memahami lebih dalam bagaimana putusan-putusan MK menjadi instrumen penting dalam mewujudkan negara yang konstitusional dan berkeadilan, terutama dalam konteks perlindungan HAM. Kami berharap kegiatan ini bisa memperkaya wawasan dan membentuk karakter mahasiswa fakultas hukum yang kritis dan berintegritas,” jelasnya.

    Dialog menghadirkan narasumber dari Mahkamah Konstitusi, Dr. Suhartoyo, S.H., M.H. Materi yang disampaikan membahas peran MK sebagai pengawal konstitusi sekaligus pelindung hak-hak konstitusional warga negara.

    Pembahasan mengenai putusan-putusan MK yang berkaitan dengan perlindungan hak asasi manusia membuat kegiatan berlangsung interaktif. Para mahasiswa memanfaatkan sesi diskusi untuk mengajukan pertanyaan dan memperdalam pemahaman mengenai hubungan antara konstitusi, putusan MK, keadilan, dan perlindungan hak warga negara.

    Melalui Dialog Konstitusi ini, Fakultas Hukum UNISRI berharap hubungan kelembagaan dengan Mahkamah Konstitusi dapat terus diperkuat. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami konstitusi secara lebih kontekstual, sekaligus menumbuhkan kesadaran hukum sebagai bekal menjadi calon penegak hukum di masa depan. (Sofyan)


    Baca juga: Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Berbagai Perspektif untuk Hasilkan Generasi Unggul, Kreatif, Kritis, Inovatif, Produktif, dan Inspiratif Era Digital

     

    Dhimas Pandu Aji Aryanata berhasil meraih Juara II Lomba Nembang Macapat dan Alexander Arrondya Iswara Bumi meraih Juara II pada Lomba Maca Geguritan.


    Prestasi FTBI 2026, SMP Negeri 8 Kota Surakarta Raih Juara II Nembang Macapat dan Geguritan

    Surakarta - majalahlarise.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan peserta didik SMP Negeri 8 Kota Surakarta melalui ajang Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Jenjang SMP Tingkat Kota Surakarta Tahun 2026.

    Dalam ajang tersebut, SMP Negeri 8 Kota Surakarta berhasil meraih dua Juara II. Prestasi tersebut diraih melalui cabang Lomba Nembang Macapat dan Lomba Maca Geguritan.

    Pada Lomba Nembang Macapat yang berlangsung 20 Agustus 2026 di Dinas Pendidikan Kota Surakarta, Dhimas Pandu Aji Aryanata berhasil meraih Juara II. Sementara itu, Alexander Arrondya Iswara Bumi meraih Juara II pada Lomba Maca Geguritan yang dilaksanakan 24 Agustus 2026 di tempat yang sama.

    Kedua peserta didik tersebut mengikuti perlombaan dengan bimbingan Sri Murwani, S.Pd. Persiapan dan latihan yang dilakukan mampu mengantarkan Dhimas dan Alexander menunjukkan kemampuan terbaik dalam bidang bahasa dan seni budaya Jawa.

    Prestasi tersebut tidak hanya menjadi capaian dalam perlombaan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mengenalkan sekaligus melestarikan bahasa dan budaya Jawa di kalangan generasi muda.

    Lomba Nembang Macapat dan Maca Geguritan menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan kemampuan berbahasa, melatih kepercayaan diri, serta mengenal kekayaan budaya daerah.

    Ucapan selamat dan Apresiasi juga  disampaikan keluarga besar SMP Negeri 8 Kota Surakarta oleh Kepala Sekolah Sarjoko, S.Pd.

    “Selamat untuk tim FTBI. Semoga prestasinya membawakan berkah. Depanska jaya, pasti bisa,” ujarnya.

    Dukungan tersebut menjadi penyemangat bagi peserta didik untuk terus mengembangkan potensi dan meraih prestasi di berbagai bidang.

    Capaian Dhimas Pandu Aji Aryanata dan Alexander Arrondya Iswara Bumi sekaligus menunjukkan pentingnya ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan seni serta bahasa daerah.

    Dengan prestasi tersebut, SMP Negeri 8 Kota Surakarta terus mendorong peserta didik untuk berkarya, berprestasi, sekaligus ikut menjaga keberlangsungan bahasa dan budaya Jawa. (Sofyan)


    Baca juga: Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Berbagai Perspektif untuk Hasilkan Generasi Unggul, Kreatif, Kritis, Inovatif, Produktif, dan Inspiratif Era Digital


    Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam Berbagai Perspektif untuk Hasilkan Generasi Unggul, Kreatif, Kritis, Inovatif, Produktif, dan Inspiratif Era Digital


    Oleh:  Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.

    Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik

    Dosen PBSI FKIP UNS, Pendiri dan Penggiat Literasi Arfzh Ratulisa, serta Komunitas DIKLISA

    Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa


    Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.


    "Kawan, bercerita dengan segala pengalaman nyata dalam proses belajar dan membelajarkan diri akan selalu terasa indah dan menyenangkan sepanjang masa”


           Pemahaman kata dengan beribu makna akan terus menjadi semangat para murid dan mahasiswa dalam proses belajar dan membelajarkan diri, baik di kelas maupun luar kelas. Hal ini sebagai bukti bahwa setiap murid, mahasiswa, guru, dan dosen abad XXI memiliki semangat dan integritas untuk tahu dan lebih banyak tahu melalui proses pembelajaran yang nyata. Dengan berbagai proses dan pengalaman nyata yang dimiliki murid dan mahasiswa dalam berbagai konteks kehidupan akan terus menjadi pelita dan harapan setiap proses untuk bertindak dan berkarya dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa. Aneka kegiatan yang mendukung proses pembelajaran, baik secara mandiri maupun berkelompok akan memantik semangat untuk terus berliterasi dengan ratulisa dan berbagai ilmu dalam multikonteks kehidupan.

           Peran guru dan dosen abad XXI sebagai fasilitator dan motivator untuk terus belajar dan bersilaturahmi dalam multikonteks pembelajaran sangat kuat sepanjang hayat. Hal ini sebagai bentuk komitmen dan integritas sebagai guru dan dosen abad XXI yang terus mengabdi untuk menyiapkan generasi abad XXI. Proses pembelajaran aktif yang difasilitasi oleh guru dan dosen abad XXI tentu akan menjadi model keteladanan bagi para murid dan mahasiswa di mana pun berada. Kehadiran guru dan dosen abad XXI yang terus dirindukan oleh murid dan mahasiswa dalam berbagai ruang kelas, ruang digital, dan aneka ruang kesemestaan nusantara akan ditunggu dan terus dirindukan sepanjang masa. Oleh karena itu, diperlukan guru dan dosen abad XXI yang harus terus bergerak dan menggerakkan multigenerasi NKRI untuk berliterasi dengan ratulisa, bersilaturahmi, berkomunikasi, berkolaborasi, beraksi, dan berliterasi dengan ratulisa sepanjang masa.

           Guru dan dosen abad XXI harus terus menemani diskusi dan bercerita dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang sangat bervariatif. Variasi model pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia dengan aneka model dan ruang-ruang belajar dengan aneka sumber literasi digital dan nondigital yang beragam sangat diharapkan dan diwujudkan di seluruh wilayah NKRI. Kegiatan-kegiatan belajar dan membelajarkan diri yang dilaksankan oleh murid dan mahasiswa dalam multikonteks pembelajaran tentu akan terus memantik semangat bergerak dan menggerakkan semua sendi-sendi kehidupan dalam kebhinekaan untuk mewujudkan mimpi dan imajinasi multigenerasi NKRI. Dengan demikian akan Lahiri multigenarsi NKRI yang cerdas, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif.

           Pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang dilaksankan oleh guru dan dosen abad XXI pada jenjang TK, SD, SMP, MTs, SMA, MA, SMK, Sekolah Vokasi, dan Perguruan Tinggi diharapkan dapat menghasilkan generasi muda Indonesia yang menguasai keterampilan abad XXI, yaitu: (1) berpikir kreatif, (2) berpikir kritis, (3) kolaboratif, (4) komunikatif dan enam literasi dasar, yaitu literasi: (1) menulis dan membaca, (2) numerik, (3) sains, (4) digital, (5) keuangan, dan (6) budaya dan kewargaan. Kolaborasi guru dan dosen abad XXI dalam pembalajaran di kelas dan luar kelas era digital dengan aneka model, teknik, dan metode pembelajaran aktif, mendalam, kasus, proyek, dan aneka media digital yang dimanfaatkan tentu akan menghasilkan generasi Indonesia yang unggul, kreatif, kritis, inovatif, produktif, dan inspiratif. Jangan sampai kalah lulusan Diploma, S-1, S-2, dan S3 dengan lulusan SMK pada era digital. 

           Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, LIterasi, Bahasa, dan Sastra) tanggal 15 September 2026 dalam giat DIKLISA#16 menghadirkan narasumber Mas Deni Setiawan, pelaku bisnis digital Kulintang Batik dari Pengkol, Sragen ternyata dengan kreativitas dan keberaniannya memiliki omset penjualan per hari antara Rp 75 - Rp 100 juta dan per tahun rata-rata Rp 5 miliar - Rp 7 miliar. Mas Deni Setiawan sekitar tahun 2009-2015 bekerja sebagai karyawan pada Yuma Perkasa Group Surakarta yang bergerak dalam bidang penerbit, percetakan, dan perdagangan umum dan ternyata dengan perjuangan dan keberaniannya sepuluh tahun kemudian sudah berekonstruksi mindset menjadi salah satu owner Kulintang Batik yang bergerak dalam bisnis digital Hal ini sebagai bukti bahwa proses pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia harus ditumbuhkembangkan menjadi penguatan komunikasi verbal dan nonverbal dalam berkomunikasi untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat NKRI melalu mata kuliah edupreneur, wirausaha literasi, dan wirausaha digital.

          Buku DIKLISA#5 dan DIKLISA#6 ini diterbitakan atas kolaborasi nyata dalam proses berliterasi dengan Ratulisa dan giat bersama Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) didirikan dan diluncurkan oleh Muhammad Rohmadi Ratulisa pada tanggal 2 Mei 2025 sebagai penggagas dan koordinator dalam multikonteks kegiatannya. Akhirnya pada Jumat, 18 September 2026 secara resmi diluncurkan Buku DIKLISA#5 dan Buku DIKLISA#6 kepada seluruh Masyarakat Indonesia, sesuai tagline DIKLISA: Cerdas, Kreatif untuk Indonesia. Selamat membaca dan memahami hasil karya bersama keluarga besar DIKLISA pada buku DIKLIS#6 yang di tanggan dan gawai Bapak dan Ibu pembaca yang Budiman.

    “Ruang-ruang belajar digital dan nondigital terbuka dan tersedia kapan saja dan di mana saja untuk multigenerasi NKRI tinggal mau atau tidak untuk memanfaatkannya sebagai sumber belajar dalam multikonteks kehidupan”

    Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 18 September 2026

    #Tulisan ini dikembangkan dari Pengantar Buku DIKLISA#6 yang ada ditangan Bapak dan Ibu yang Budiaman#

    Diskusi Mahasiswa untuk Peningkatan Kegiatan Penalaran bertema “Komunikasi Visual untuk Perubahan Perilaku Masyarakat”.


    Tak Sekadar Estetika, Mahasiswa DKV ISI Surakarta Bedah Strategi Komunikasi Visual Bersama Penyuluh KB Sukoharjo

    Surakarta - majalahlarise.com - Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menggelar Diskusi Mahasiswa untuk Peningkatan Kegiatan Penalaran bertema “Komunikasi Visual untuk Perubahan Perilaku Masyarakat”.

    Kegiatan yang diikuti sekitar 200 mahasiswa tersebut berlangsung di Gedung Sungging Prabangkara, FSRD Kampus 2 Mojosongo ISI Surakarta, Selasa (16/9/2026). Diskusi menghadirkan Karlina Puspitasari, Penyuluh Keluarga Berencana dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Sukoharjo, sebagai narasumber.

    Turut hadir Koordinator Prodi DKV M. Harun Rosyid, Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI Surakarta Anung Rachman, serta dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), Ipung Kurniawan Yunianto, yang bertindak sebagai moderator.

    Dalam diskusi tersebut, Ipung menyoroti pola pikir mahasiswa desain yang sering kali berfokus pada bentuk fisik sebuah karya. Menurutnya, proses perancangan komunikasi visual perlu diawali dengan pemahaman terhadap persoalan yang hendak diselesaikan dan karakter khalayak yang menjadi sasaran.

    “Sebelum bertanya ‘media apa yang akan kita buat?’, mahasiswa harus terlebih dahulu bertanya ‘masalah apa yang ingin kita selesaikan?’. Seorang perancang harus memahami karakter sasaran dan perubahan apa yang ingin dicapai. Desain KIE yang berhasil bukan sekadar yang estetik di mata, melainkan yang mampu menjembatani informasi dengan realitas psikologis dan sosiologis khalayaknya,” jelas Ipung.

    Perspektif tersebut kemudian diperkuat Karlina Puspitasari melalui pengalaman yang ditemuinya dalam kegiatan penyuluhan di lapangan. Ia menyampaikan, keberhasilan program pemerintah di tingkat masyarakat juga membutuhkan dukungan komunikasi visual yang mampu menyesuaikan pesan dengan karakter dan budaya setempat.

    “Seringkali kami di lapangan menemukan materi penyuluhan yang secara visual sangat bagus, namun bahasanya terlalu kaku atau tidak menyentuh kearifan lokal. Kami butuh desainer yang mampu menerjemahkan program pengendalian penduduk menjadi visual yang renyah, mudah dicerna, dan sesuai dengan budaya masyarakat, sehingga pesan perubahan perilaku benar-benar mengena,” jelas Karlina.

    Kehadiran penyuluh KB sebagai narasumber memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi masyarakat. Mulai dari karakter khalayak, kebutuhan penyuluhan, fenomena di lapangan, hingga berbagai persoalan media komunikasi visual KIE pada mitra binaan.

    Informasi tersebut menjadi data primer bagi mahasiswa DKV untuk mengembangkan proyek perancangan komunikasi visual. Dengan demikian, proses desain tidak hanya berangkat dari pertimbangan estetika, tetapi juga didukung riset terhadap kebutuhan dan karakter sasaran.

    Koordinator Prodi DKV FSRD ISI Surakarta M. Harun Rosyid menilai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan proses pembelajaran dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

    “Kami melihat potensi besar untuk sinergi jangka panjang. Ke depan, rencana kerja sama ini akan diarahkan pada pemanfaatan sumber daya bersama untuk meningkatkan kompetensi SDM di bidang kreativitas seni rupa dan desain. Ruang lingkup yang akan kita jajaki sangat komprehensif, mulai dari pemanfaatan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), pertukaran praktisi, penelitian dan kajian studio bersama, hingga pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan produk komunikasi visual bersama,” jelas Harun.

    Diskusi tersebut sekaligus menjadi langkah awal penjajakan kerja sama kelembagaan antara FSRD ISI Surakarta dengan DPPKBP3A Kabupaten Sukoharjo. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kompetensi akademik dan desain dengan kebutuhan komunikasi pemerintah di tengah masyarakat.

    Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI Surakarta Anung Rachman menyampaikan dukungan institusi terhadap kolaborasi lintas sektor tersebut.

    “Kolaborasi lintas sektor ini membuka mata mahasiswa bahwa seni dan desain memiliki tanggung jawab sosial. Kami mendukung penuh inisiatif ini agar mahasiswa terbiasa berpikir kritis, empatik, dan solutif, sekaligus membuka jalan bagi kerja sama strategis seperti publikasi ilmiah, pameran, hingga kompetisi mahasiswa di masa mendatang,” tambah Anung.

    Antusiasme juga terlihat dari mahasiswa yang mengikuti diskusi. Mumtazah Abdul Rauf, mahasiswa DKV semester 5, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai peran seorang desainer dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.

    “Selama ini saya berpikir bahwa tugas utama desainer adalah membuat karya yang indah. Tapi setelah mendengar pengalaman Ibu Karlina, saya sadar bahwa desain yang baik harus bisa menyelesaikan masalah. Saya jadi lebih memahami pentingnya riset audiens dan konteks sosial sebelum mulai membuat karya untuk proyek KIE saya,” ujar Mumtaz.

    Hal senada disampaikan Fajar Haditiya, mahasiswa tingkat akhir. Menurutnya, pengalaman narasumber mengenai respons masyarakat terhadap materi penyuluhan membantu mahasiswa menghubungkan teori yang dipelajari di kampus dengan realitas di lapangan.

    “Yang paling berkesan adalah ketika narasumber bercerita tentang bagaimana masyarakat merespons berbagai materi penyuluhan. Saya jadi mengerti bahwa tidak semua desain yang bagus di mata desainer itu efektif di lapangan. Ini membuka mata saya untuk lebih banyak turun ke masyarakat dan memahami kebutuhan mereka secara langsung, bukan hanya mendesain dari dalam studio,” ungkap Fajar.

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Prodi DKV FSRD ISI Surakarta untuk membentuk desainer komunikasi visual yang tidak hanya memiliki kemampuan estetika, tetapi juga mampu membaca persoalan sosial, memahami karakter masyarakat, melakukan riset, dan menghasilkan karya yang memiliki manfaat nyata.

    Melalui pertemuan antara mahasiswa, akademisi, dan praktisi penyuluhan, komunikasi visual ditempatkan tidak sekadar sebagai persoalan tampilan, melainkan sebagai sarana menyampaikan pesan dan mendorong perubahan perilaku masyarakat secara lebih tepat sasaran.(Sofyan)


    Baca juga: Inagurasi PKKMB Univet Bantara Tandai Penyerahan Mahasiswa Baru kepada Rektor


Top