RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono

     


    Menjaga Irama Mimpi: Perjalanan Karier RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono Merawat Musik dari Hati

    Solo- majalahlarise.com - Di sebuah rumah sederhana di kawasan Pura Mangkunegaran Keprabon, Banjarsari, Surakarta, musik tidak hanya berbunyi sebagai hiburan. Dari alamat di Jalan RA Kartini No. 20 itu, lahir ruang pembelajaran, panggung mimpi, dan perjalanan panjang seorang penggiat musik bernama RMTH Haryo Dananjoyo Adityo Bhawono, owner Kursus Musik West Brother Solo.

    Bagi Haryo, musik bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup yang ditempa oleh pengalaman, kegagalan, dan keteguhan untuk terus bertahan.

    Tumbuh Bersama Musik Sejak Remaja

    Ketertarikan Haryo pada musik bersemi sejak masa SMP, sekitar tahun 1997. Saat itu, ia bersama teman-temannya mendapat satu set alat musik yang menjadi awal terbentuknya band kecil.

    “Saya main musik sejak SMP. Waktu itu kami dapat satu set alat musik pemberian KGPAA Mangkoenagoro IX, lalu bikin grup bareng teman SMP, adik, dan saudara,” tutur Haryo.

    Bakat tersebut mengantarkannya mengikuti festival band dan cipta lagu di akhir 1990-an. Bahkan, band yang ia jalani sempat meraih penghargaan cipta lagu terbaik dan dilirik label rekaman nasional.

    “Waktu itu kami sampai diajak makan malam dan ditawari garap album. Tapi karena mental masih anak SMA, justru muncul masalah internal dan akhirnya pecah,” ujarnya mengenang.

    Persinggahan Dunia Hiburan dan Kegagalan Bisnis

    Setelah lulus SMA sekitar tahun 2000, Haryo sempat mencicipi bangku kuliah, meski tidak sampai selesai. Tawaran dunia hiburan justru datang lebih cepat. Ia terlibat dalam proyek sinetron dan film bersama sejumlah pelaku industri hiburan nasional.

    “Sempat main film, walaupun akhirnya cuma sampai lima episode karena perusahaan produksinya bermasalah. Tapi dari situ saya dapat pengalaman dan fee,” katanya.

    Honor tersebut ia kumpulkan dan putar menjadi modal usaha batik. Bahkan, ia sempat menjadi pemasok tunggal di salah satu toko batik di Jakarta. Namun, musibah banjir besar Jakarta pada 2002 membuat seluruh aktivitas usaha terhenti.

    “Di situ saya benar-benar merasakan gagal besar untuk pertama kalinya. Perputaran ekonomi berhenti total,” ungkapnya.

    Kembali ke Musik dan Lahirnya West Brother

    Di tengah kebingungan, musik kembali hadir. Pertemuan dengan teman SMP pada 2002 menjadi titik balik. Dari rumah keluarga di kawasan Mangkunegaran, Haryo membentuk band West Brother bersama kakak, adik, dan sahabatnya.

    Awalnya, mereka membuka usaha rental PlayStation. Ruang kosong di belakang dimanfaatkan sebagai studio latihan band.

    “Ternyata studionya ramai sekali. Sabtu bisa sampai 14 grup latihan, meski sewanya masih sepuluh ribu per jam,” ujarnya sambil tersenyum.

    Studio kecil itu kemudian berkembang menjadi pusat aktivitas musik anak muda.

    Kursus Musik dari Sebuah Penolakan

    Keinginan Haryo untuk belajar piano sempat mendapat respons yang justru menjadi pemantik semangat.

    “Ayah saya bilang, ‘umurmu sudah tidak produktif, rasanya nggak usah belajar lagi’. Dari situ saya malah terpacu,” tuturnya.

    Ia tetap belajar secara mandiri hingga bertemu seorang guru musik yang memberikan ide membuka kursus musik.

    “Guru saya malah bilang, ‘Mas kan punya studio, kenapa nggak sekalian dibuka kursus musik?’ Dari situ saya kepikiran,” katanya.

    Tahun 2003, ruang studio ditata ulang menjadi kelas drum, gitar, dan piano. Kursus musik West Brother pun resmi berjalan, meski dengan promosi sederhana.

    “Awalnya promosi cuma lewat brosur, spanduk, dan acara tujuh belasan. Belum ada media sosial seperti sekarang,” jelasnya.

    Bangkit Lewat Event Kreatif

    Tahun 2004, godaan kembali datang lewat tawaran rekaman dari sebuah production house Jakarta. Namun, tawaran itu kembali berujung kekecewaan.

    “Waktu itu kami sudah sampai Jakarta, jadwal rekaman sudah ada, tapi ternyata penipuan. Kami down lagi,” ucap Haryo.

    Meski demikian, ia memilih bangkit lewat kreativitas. Salah satunya dengan menggelar konser ensemble 11 drum, sebuah konsep yang kala itu jarang dilakukan.

    “Saya bikin 11 drum akustik dimainkan bareng murid-murid. Itu bikin orang mulai melirik lagi,” katanya.

    Ia juga terlibat dalam pembentukan Orkestra Remaja Surakarta (Oriska) yang mendapat dukungan pemerintah kota dan membuka kembali ruang eksistensi West Brother.

    Bertahan dengan Konsistensi

    Memasuki 2008–2009, industri musik lokal mulai terdesak oleh brand nasional dan musisi besar. Haryo memilih strategi bertahan dengan event kecil namun rutin.

    “Daripada bikin acara besar tapi cepat hilang, saya pilih bikin acara kecil tapi sering. Itu lebih sustainable,” ujarnya.

    Roadshow mingguan ke pusat perbelanjaan, panggung Jumat, Sabtu malam, hingga Minggu terus dijalankan.

    Meramu Akademisi dan Rasa

    Kini, West Brother Solo berkembang sebagai ruang belajar yang memadukan akademisi dan praktisi.

    “Saya berangkat dari otodidak. Di sini pengajarnya ada lulusan ISI, ada juga praktisi. Musik akademis itu penting, tapi rasa dan hati juga nggak boleh hilang,” jelasnya.

    Hingga 2025, West Brother Solo tetap konsisten. Setiap tahun digelar konser besar yang melibatkan sekitar 300 peserta didik, sementara panggung-panggung kecil terus berjalan setiap pekan.

    “Merawat itu jauh lebih susah daripada memulai. Tapi justru di situ nilai perjuangannya,” pungkas Haryo.

    Di West Brother Solo, musik terus hidup dirawat dengan kesabaran, konsistensi, dan keyakinan bahwa mimpi akan selalu menemukan panggungnya. (Sofyan)


    Baca juga: Kelas Motivasi BK SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo, Praktisi Event Musik Ajak Siswa “Rock Your Career”

    Sekitar 250 penari dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa, larut dalam gelaran “Banyuanyar Menari”.


    Meriah, 250 Penari Hidupkan “Banyuanyar Menari”

    Boyolali – majalahlarise.com - Hujan yang mengguyur sejak pagi tak mampu meredam semangat ratusan penari di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel,Boyolali, Minggu (14/12). Sekitar 250 penari dari berbagai usia, mulai anak-anak hingga orang dewasa, larut dalam gelaran “Banyuanyar Menari”, sebuah perhelatan budaya yang menghidupkan denyut tradisi desa.

    Dibalut rintik hujan, para penari tetap tampil penuh energi membawakan tari Bergodo Lembu dan tari Kopi Barendo, dua tarian khas yang lahir dari keseharian warga Banyuanyar. Tepuk tangan penonton mengiringi setiap gerakan, seolah hujan justru menjadi saksi kuatnya kecintaan warga terhadap budaya lokal.

    Pertunjukan dibuka oleh pemuda Desa Banyuanyar yang menampilkan tari Bergodo Lembu, tarian yang menggambarkan kedekatan masyarakat dengan ternak sapi perah. Penampilan berlanjut dengan tari Kopi Barendo yang dibawakan siswi-siswi SD bersama beberapa penari dewasa. Puncaknya, kembali ditutup dengan Bergodo Lembu oleh siswa SD Banyuanyar yang tampil penuh percaya diri.

    Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, mengatakan kegiatan ini bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari gerakan inovasi desa berbasis budaya dan pertanian.

    "Banyuanyar Menari adalah upaya kami mengangkat budaya lokal yang tumbuh dari kehidupan masyarakat. Kami menciptakan tarian asli desa sebagai pondasi pelestarian budaya,” ujar Komarudin.

    Ia menjelaskan, tari Bergodo Lembu terinspirasi dari potensi besar peternakan sapi perah di Banyuanyar. Saat ini, desa tersebut memiliki sekitar 1.650 ekor sapi perah yang menjadi tulang punggung ekonomi warga.

    "Kami juga mulai mengembangkan hilirisasi kampung susu, dari peternakan, pengolahan limbah, hingga produk susu. Di sektor pertanian ada kopi, jahe, dan madu,” tambahnya.

    Sementara itu, tari Kopi Barendo menggambarkan semangat panjang masyarakat dalam mengelola kopi, dari masa lalu hingga kini, sebagai sumber penghidupan yang bernilai ekonomi.

    Seluruh penari dalam acara ini merupakan warga asli Desa Banyuanyar, yang berasal dari tiga sekolah dasar di desa tersebut, serta kelompok pemuda dan masyarakat umum.

    Salah satu penari cilik Bergodo Lembu, Rheyvan Aprian Ramadhan, mengaku telah berlatih selama satu hingga dua bulan bersama teman-temannya.

    "Tariannya gampang kalau niat. Yang susah itu ngatur pola pas latihan, tapi seru,” katanya polos.

    Hal senada disampaikan Bella Sita Kurniawati, penari Kopi Barendo. Ia menjelaskan bahwa tarian tersebut memiliki delapan gerakan utama yang melambangkan proses pengelolaan kopi.

    "Mulai dari nanam, petik, sampai jemur kopi. Ini melambangkan keteguhan petani kopi sejak zaman Belanda,” tuturnya.

    Tak hanya tarian, Desa Banyuanyar juga memperkenalkan batik khas desa bermotif kekayaan alam lokal seperti kopi, susu, jahe, madu, dan keris, sebagai simbol identitas sekaligus potensi ekonomi kreatif desa.

    Melalui “Banyuanyar Menari”, desa ini menegaskan bahwa budaya bukan hanya warisan, tetapi juga kekuatan untuk masa depan bahkan hujan pun tak mampu memadamkannya. (Ags/ Sofyan)


    Baca juga: PPG Unisri Gelar Pelatihan Analisis Data Kualitatif dengan NVivo

    Puluhan seniman mulai dari dalang, penyanyi, musisi, hingga pengelola sound system bergabung dalam aksi spontan penggalangan donasi.


    Seniman Nogosari Turun ke Jalan, Galang Donasi untuk Korban Banjir Aceh dan Sumatera

    Boyolali — majalahlarise.com - Ratusan kendaraan melintas pelan di Jalan Raya Nogosari pada Kamis (12/12/2025) pagi, bukan karena kemacetan, tetapi karena alunan musik dan pertunjukan wayang yang digelar para seniman lokal. Mereka turun ke jalan bukan untuk hiburan semata, melainkan untuk satu misi kemanusiaan: membantu korban banjir di Aceh dan Sumatera.

    Sejak pukul 07.30, puluhan seniman mulai dari dalang, penyanyi, musisi, hingga pengelola sound system bergabung dalam aksi spontan penggalangan donasi. Dengan membentangkan kotak amal dan menggelar pentas di tengah jalan, mereka mengajak para pengendara dan warga ikut berdonasi.

    Sugeng, perwakilan komunitas seniman Nogosari, mengatakan aksi ini murni digerakkan kepedulian.

    “Teman-teman seniman-seniwati ingin membantu meski sedikit. Inilah cara kami meringankan beban saudara-saudara di Aceh dan Sumatera,” ujarnya.

    Dalam waktu tiga jam, aksi tersebut berhasil mengumpulkan donasi Rp 4.729.000. Dana ini akan diserahkan kepada pihak yang dinilai kredibel agar dapat tersalurkan tepat sasaran.

    Salah satu yang mencuri perhatian adalah penampilan dalang muda Ulum Kartodiwiryo. Ia tampil lengkap dengan busana dalang, mendalang di pinggir jalan sebagai simbol bahwa seni harus hadir untuk kemanusiaan.

    “Kami tersentuh melihat kondisi mereka. Banyak rumah hanyut, banyak kehilangan. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain,” kata Ulum.

    Ulum bersama rekan-rekan dalang juga menggelar lelang wayang kulit. Tokoh wayang Kresna laku sekitar Rp 900 ribu, sementara Werkudara mencapai Rp 1,5 juta. Hasil lelang seluruhnya dipersembahkan untuk korban banjir.

    Seniman senior Ki Gondo Wartoyo menegaskan bahwa aksi ini tidak berhenti di Nogosari.

    “Pada 17 Desember kami akan pentas di Blora sekaligus menggalang donasi dan melelang beberapa tokoh wayang. Ini bentuk komitmen bahwa seniman tidak pernah diam ketika saudara kita tertimpa musibah,” ucapnya.

    Aksi kemanusiaan di tengah jalan ini menjadi bukti bahwa solidaritas bisa lahir dari siapa saja bahkan dari para penggiat seni yang menghidupkan ruang publik dengan kreativitas mereka. Dari Nogosari, pesan itu mengalir jauh hingga Aceh dan Sumatera: bahwa seni selalu punya cara untuk membantu. (Ags/ Sofyan)


    Baca juga: Christmas Magic Pakuwon Solo Baru, Meriahkan Akhir Tahun dengan Keceriaan



    Tari Tradisional Meriahkan Malioboro Culture Vibes, Penari Muda Ungkap Kebanggaan Lestarikan Budaya

    Yogyakarta — majalahlarise.com - Gelaran Malioboro Culture Vibes kembali mengguncang kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada 1–2 Desember 2025. Acara bertema “Feel Good Monday, Feel Jogja” ini menghadirkan berbagai suguhan budaya, mulai dari ngopi pagi gratis, masak besar, fashion show 0 KM, talkshow, hingga pertunjukan seni yang menjadi pusat perhatian: Tari Tradisional Kampung.

    Pagelaran tari yang digelar di area panggung Sasana Swara Budaya ini menjadi salah satu agenda yang paling banyak menyedot perhatian pengunjung. Deretan penari dari berbagai komunitas kampung seni Yogyakarta menampilkan ragam tarian tradisi yang dikemas dengan sentuhan kekinian namun tetap menjaga pakem budaya. Sorak tepuk dan jepretan kamera wisatawan tak henti mengiringi setiap penampilan.

    Salah satu penari yang turut memukau penonton adalah Mbak Wiwik, anggota komunitas seni kampung yang tampil dalam beberapa nomor tari. Saat ditemui usai pementasan, ia mengaku bangga dapat terlibat dalam acara besar yang digawangi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta tersebut.


    “Saya senang sekali bisa tampil di Malioboro Culture Vibes. Acara ini bukan hanya hiburan, tapi ruang besar untuk menunjukkan bahwa seni tradisi itu hidup dan dekat dengan masyarakat,” ujar Mbak Wiwik.

    Ia juga menyampaikan persiapan yang dilakukan bersama kelompoknya berlangsung cukup intens. Latihan digelar hampir setiap hari untuk memastikan sajian tari tampil maksimal di hadapan ribuan pengunjung.

    “Kami ingin menunjukkan tari kampung yang selama ini hanya tampil di lingkungan tertentu juga layak tampil di pusat keramaian seperti Malioboro. Ini kesempatan untuk memperkenalkan budaya lokal pada wisatawan,” tambahnya.

    Selain pertunjukan tari, kegiatan lain seperti Kampung Menari, Marching Band, Senam Jogja, serta Hunting Foto Tokoh turut menambah semarak gelaran yang berlangsung sejak pukul 08.00 hingga 24.00 WIB. Agenda ini juga menjadi bagian dari uji coba Malioboro Full Pedestrian tahap kedua.

    Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, Malioboro Culture Vibes kembali membuktikan diri sebagai ruang kolaborasi budaya sekaligus destinasi wisata yang menghidupkan ekonomi kreatif Yogyakarta.

    Acara ini diharapkan dapat menjadi agenda rutin yang terus memberi ruang bagi seniman kampung untuk unjuk karya, seperti yang disampaikan Mbak Wiwik.

    “Semoga tahun depan lebih banyak kelompok yang tampil. Jogja itu penuh talenta, tinggal diberi panggung saja,” tuturnya dengan senyum bangga. (Manaf)


    Baca juga: Dua Kafilah Boyolali Bawa Pulang Juara I MTQ XXXI Tingkat Provinsi Jawa Tengah 

     


    Katabunyi Forum 2025: Sinergi Keberagaman Musik Lintas Generasi 

    Klaten - majalahlarise.com - Sebagai sebuah komitmen dalam membangun iklim pengetahuan seni, Kandhang Art Hybrid Space kembali menyelenggarakan Katabunyi Forum 2025. Kegiatan tahunan ini merupakan sebuah ruang literasi musik, dialog kreatif, dan produksi pengetahuan yang telah berlangsung konsisten sejak 2021. Tahun ini, program dilaksanakan pada 1–4 Desember 2025 di Umbul Siblarak, Desa Sidowayah, Kecamatan Polanharjo, Klaten, dan menghadirkan pertemuan penting antara komposer muda, penulis musik, fasilitator, serta narasumber lintas disiplin.

    Masih dengan spirit yang sama yaitu “Sorak Sorai Keberagaman Musik”, Katabunyi Forum 2025 berfungsi sebagai ruang inkubasi lanjutan untuk memperkuat jejaring talenta musik Indonesia, memperdalam pemahaman dramaturgi, serta mendorong kolaborasi kreatif. Tahun ini, kegiatan diselenggarakan dengan dukungan pendanaan dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) Bidang Seni Budaya, sebuah program nasional yang bertujuan memperkuat kapasitas dan keberlanjutan talenta kreatif Indonesia.

    Spirit keberagaman ini juga dimanifestasikan dari keterwakilan peserta yang datang dari berbagai daerah di Indonesia. Tahun ini, Katabunyi Forum pun berkesempatan untuk mengundang peserta komposer dari Pekanbaru, Banjarmasin, Belitung, dan Makasar, juga beberapa daerah lainnya. Harapannya bentuk keberagaman ini bisa memberi warna baru dalam proses kreatif selama mengikuti rangkaian program dalam Katabunyi Forum 2025 ini.

    Rangkaian Program & Narasumber

    1. Forum Produksi Musik

    Senin, 1 Desember 2025

    Narasumber: Agus Setiawan Basuni & Aji Wartono

    Membahas kerja produksi musik kontemporer, strategi artistik, dan kolaborasi dalam proses kreatif.


    2. Forum Dramaturgi Musik

    Senin, 1 Desember 2025

    Narasumber: Nyak Ina Raseuki (Ubiet)

    Mengupas musik dari perspektif dramaturgi, narasi, dan konteks kebudayaan.


    3. Workshop Penulisan Tentang Musik

    Selasa, 2 Desember 2025

    Narasumber: Frans Sartono

    Pelatihan penulisan kritik, resensi, dan teks reflektif mengenai musik.


    4. Kamp Komposer

    Selasa-Kamis, 2–4 Desember 2025

    Narasumber: Wahyu Thoyyib Pambayun & Tesla Manaf

    Sesi inkubasi intensif dalam eksplorasi bunyi dan penyusunan karya baru untuk dipentaskan.

    Panggung Katabunyi: Laboraturium dan Diseminasi Karya

    Kamis, 4 Desember 2025 | Pukul 19.00 WIB

    Umbul Siblarak, Sidowayah, Polanharjo – Klaten

    Puncak rangkaian kegiatan akan ditutup dengan Panggung Katabunyi, sebuah malam pertunjukan karya yang dihasilkan selama proses inkubasi. Masyarakat umum diundang untuk menghadiri perayaan musikal ini sebuah kesempatan menikmati karya-karya baru komposer muda dalam suasana artistik tepian umbul.

    Tentang Katabunyi Forum

    Katabunyi Forum adalah program tahunan Kandhang Art Hybrid Space yang berfokus pada literasi musik, dramaturgi, dan pengembangan ekosistem kreatif. Tahun ini, dengan dukungan pendanaan dari Manajemen Talenta Nasional (MTN) dan juga kerja sama dengan Pemerintah Desa Sidowayah melalui BumDES, forum ini memperkuat sinergi antara komunitas budaya, masyarakat, dan program strategis negara dalam memajukan talenta dan keberagaman musikal Indonesia. (Sofyan)


    Baca juga: Musda Salimah Sukoharjo 2025, Saat Perempuan Kembali Menguatkan Peradaban dari Ruang-Ruang Kecilnya


    Angklung Wijaya menyuguhkan komposisi musik yang harmonis, memadukan kreativitas anak muda dengan warisan budaya Nusantara.


    Pertunjukan Angklung Wijaya Malioboro Hadirkan Lagu Klasik, Suguhkan Pesona Budaya untuk Wisatawan

    Yogyakarta — majalahlarise.com - Suasana Malioboro pada akhir pekan semakin semarak dengan kehadiran pertunjukan Angklung Wijaya yang membawakan deretan lagu klasik dengan aransemen musik angklung yang membius para wisatawan. Alunan nada khas bambu itu mampu memikat perhatian publik dari berbagai kalangan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara yang melintas.

    Pertunjukan musik yang digelar di salah satu pusat keramaian Yogyakarta tersebut menjadi daya tarik tersendiri di tengah gemerlap Malioboro sebagai ikon wisata budaya. Angklung Wijaya menyuguhkan komposisi musik yang harmonis, memadukan kreativitas anak muda dengan warisan budaya Nusantara.

    Para pemain angklung mengungkapkan pemilihan angklung sebagai alat musik utama merupakan bagian dari upaya pelestarian alat musik tradisional Indonesia. Mereka berharap, angklung tidak hanya dikenali sebagai instrumen etnik semata, tetapi juga naik kelas sebagai komoditas seni pertunjukan yang diminati wisatawan asing.

    “Kami ingin memperkenalkan angklung lebih luas, terutama kepada wisatawan luar negeri yang datang ke Malioboro. Angklung adalah kebanggaan Indonesia yang harus terus dilestarikan,” ujar Mas Agung, salah satu pemain Angklung Wijaya, saat ditemui di sela penampilan.

    Dengan dukungan antusiasme masyarakat dan wisatawan, para anggota grup ini optimistis bahwa musik angklung akan semakin dikenal di panggung internasional. Mereka berkomitmen untuk terus berinovasi dalam pertunjukan, tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang menjadi identitas bangsa.

    Pertunjukan Angklung Wijaya di Malioboro menjadi contoh nyata bagaimana seni tradisi dapat bertransformasi menjadi atraksi budaya yang kuat, sekaligus memperkuat posisi Yogyakarta sebagai kota tujuan wisata budaya unggulan di Indonesia. (Manaf)


    Baca juga: Gus Yasin Tegaskan Polemik Enam Hari Sekolah Masih dalam Kajian

    Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani secara resmi melaunching Program “Karawitan Dolanan Macapat Mantab (Kado Mama)”.


    Wakil Wali Kota Surakarta: “Kado Mama” Inovasi Pelestarian Seni Tradisi

    Surakarta — majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani secara resmi melaunching Program “Karawitan Dolanan Macapat Mantab (Kado Mama)” ditandai dengan pemukulan gong di Plasa Sriwedari, Solo, Minggu (23/11/2025).

    Dalam sambutannya, Wakil Wali Kota Surakarta menyampaikan apresiasi atas lahirnya inisiatif Kado Mama, sebagai salah satu langkah nyata dalam pelestarian seni tradisi di Kota Surakarta. 

    Keberadaan program seperti Kado Mama, menjadi sangat penting di tengah era modernisasi dan transformasi digital yang semakin cepat. 

    “Program ini adalah bentuk inovasi yang patut diapresiasi. Melalui integrasi lagu dolanan anak dengan tembang macapat, Kado Mama tidak hanya memperkaya metode pembelajaran seni budaya di sekolah, tetapi juga membuka ruang kolaborasi seni yang lebih hidup dan adaptif,” kata Wakil Wali Kota.

    Astrid Widayani juga menyampaikan Pemerintah Kota Surakarta membuka ruang kolaborasi lintas komunitas, satuan pendidikan, serta sanggar seni untuk memperluas dampak program ini. 

    “Kota Surakarta memiliki ekosistem seni yang lengkap dan hidup. Pemerintah tentu siap mendukung upaya kolaboratif seperti ini agar dapat terus berkembang, diadopsi lebih luas, dan memberikan manfaat nyata bagi pendidikan karakter serta pelestarian budaya di kota kita,” ungkap Astri Widayani.

    Ada tiga kelompok yang tampil dalam launching program Kado Mama tersebut, yaitu Sanggar Guyup Rukun, Sanggar Seni Wiratama dan dari SMPN 4 Surakarta.

    Ulin dari Sanggar Seni Wiratama, Solo bersama sanggarnya merasa senang bisa tampil dalam program Kado Mama.

    “Seru senang, latihannya bersama teman-teman hanya tiga kali. Tadi membawakan Tembang Tempuran, Kembang Jagung dan Aku Duwe Pitik ,” kata dia.

    Peluncuran program Kado Mama dengan tema “Cintailah Budayamu Dulu Sebelum Mencintai Budaya Orang Lain” merupakan inisiasi dari Pamong Budaya Ahli Muda Kota Surakarta, Pujiyono yang diharapkan bisa menjadi awal dari gerakan lebih besar dalam memaknai kembali seni tradisi sebagai identitas dan warisan budaya bangsa yang harus dijaga, dikembangkan, dan ditransformasikan ke generasi berikutnya.

    Pujiyono yang juga merupakan Project Leader mengatakan di dalam Kado Mama hanya memiliki tiga unsur yaitu karawitan, dolanan dan macapat.

    “Tapi ketika saya singkat Kado Ma itu kurang menarik, terus saya tambahi mantap biar bisa berbunyi Kado Mama. Jadi ketika anak-anak kecil sudah bisa nabuh gamelan yang benar, bisa nembang macapat yang bagus, suatu bisa untuk kado mamanya,” jelas dia.

    Jadi untuk melestarinya, memang esensinya pelestarian budaya yang lahir dan tumbuh dari anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa yang berbudaya. 

    “Harapannya anak-anak kecil sebagai penerus bangsa yang berbudaya mau mengerti dan belajar seni tradisi kita yang adiluhung. Jangan sampai tergerus, apalagi punah. Kita harus selalu regenerasi terus makanya kami memperkenalkan anak-anak dengan cara menabuh gamelan yang benar, cara nembang macapat benar, dengan materi lagu-lagu dolanan tempo dulu pada saat ini anak-anak sudah tidak begitu mengenal lagi. Nah itu kami angkat kembali,” jelas dia.

    Pujiyono juga berharap kepada Pemerintah Kota Surakarta, untuk selalu memperhatikan adanya karawitan anak-anak ini, apalagi Solo sebagai Kota Budaya.

    “Kita harus selalu mempertahankan, melestarikan budaya kita yang adiluhung dan kami Insya Allah juga akan berupaya untuk melaksanakan kegiatan festival karawitan anak yang selama ini belum digagas oleh pemerintah,” lanjut Pujiyono.

    Dengan adanya program Kado Mama, merupakan satu cara agar anak-anak bisa mengurangi bermain handphone atau gajet, sehingga anak-anak bisa berinteraksi, bersosialisasi, bermain dengan teman-temannya dan itulah salah satu dari nilai-nilai positif.

    “Gapapa ini zamannya sudah globalisasi, tapi ketika kalau dibiarkan terus menerus anak-anak akan lupa dengan tradisi. Jadi siapa lagi yang akan meneruskan tradisi dan budaya kita, kalau bukan anak-anak,” pungkas Pujiyono.

    Selain Wakil Wali Kota Surakarta yang hadir dalam launching Kado Mama tersebut antara lain Plt Kepala Disbudpar, Aryo Widyandoko, Sekretaris Dinas Siki Khotimam, Kepala Bidang Seni Budaya Anies Dyah Oktavianti dan Pamong Budaya Ahli Muda Kota Surakarta, Pujiyono.

    Program Kado Mama dirancang sebagai media pembelajaran seni budaya yang lebih menarik dan relevan bagi generasi muda. Dengan memadukan unsur karawitan, dolanan, serta macapat, metode ini diharapkan menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya Jawa secara lebih menyenangkan, aplikatif, serta mudah dipahami. (Mas Is/ Sofyan)


    Baca juga: Trail Run Baturraden: Pemprov Jateng dan Komunitas Sepeda Tanam 51 Pohon untuk Konservasi

⬆
Top