PROBLEM BASED INSTRUCTION DALAM MATA PELAJARAN KECANTIKAN DASAR

Print Friendly and PDF

PROBLEM BASED INSTRUCTION DALAM MATA PELAJARAN KECANTIKAN DASAR

Oleh: Swaptita, S.Pd

SMK Negeri 3 Pati, Kecamatan Pati, Kabupaten Pati Jawa Tengah


Swaptita, S.Pd


       Kreativitas belajar dapat diartikan sebagai kemampuan siswa menciptakan hal-hal baru dalam belajarnya baik berupa kemampuan mengembangkan kemampuan formasi yang diperoleh dari guru dalam proses belajar mengajar yang berupa pengetahuan sehingga dapat membuat kombinasi yang baru dalam belajarnya.

       Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap orang. Belajar itu terjadi karena adanya proses interaksi antara seseorang dengan lingkungannya. Oleh karena itu, belajar dapat terjadi kapan saja dan dimana saja. Apabila proses belajar dilakukan secara formal disekolah-sekolah, tidak lain ini dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan pada diri siswa secara terencana, baik dalam aspek pengetahuan, keterampilan, maupun sikap. Interaksi yang terjadi selama proses belajar tersebut dipengaruhi oleh lingkungannya.

       Problem Based Instruction merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran, artinya dalam implementasi Problem Based Instruction ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan siswa dalam mata pelajaran kecantikan dasar.

       Seperti mengidentifikasi masalah-masalah pada kulit wajah dan bagaimana cara mengatasinya. Siswa juga dituntut untuk memilih atau mencari masalah-masalah apa saja yang ada dalam mata pelajaran kecantikan dasar terutama cara mengatasi masalah-masalah pada kulit wajah. Aktivitas pembelajaran ini diarahkan untuk siswa dapat menyelesaikan masalah yang ada pada mata pelajaran kecantikan dasar. Seperti pada masalah-masalah yang terjadi pada kulit wajah. Maka siswa perlu belajar mengenai perawatan wajah dan cara merias wajah pada kulit bermasalah. Perawatan wajah atau facial adalah prosedur perawatan untuk mengatasi masalah pada kulit wajah.

       Masalah kulit wajah ini dapat berkaitan dengan tekstur, tekanan sel dan kesehatan secara keseluruhan, sementara prosedur yang dilakukan dapat mencakup pembersihan, eksfoliasi, penghilangan komedo, pembersihan masker kecantikan, pemijatan dan pemberian nutrisi.

       Make up (tata Rias Wajah) adalah kegiatan mengubah penampilan dari bentuk asli sebenarnya dengan bantuan bahan dan alat kosmetik. Istilah make up lebih sering ditunjukkan kepada pengubahan bentuk wajah, meskipun sebenarnya seluruh bagian tubuh dapat dihias (make up).

       Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang berlandaskan paham konstruktivistik yang mengakomodasi keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik (Arends et al., 2001).

Ciri-ciri Model Problem Based Instruction (PBI) yaitu :

1. PBI merupakan rangkaian aktivitas pembelajaran artinya dalam implementasi PBI ada sejumlah kegiatan yang harus dilakukan mahasiswa. PBI tidak mengharapkan mahasiswa hanya sekedar mendengarkan, mencatat, kemudian menghafal materi pelajaran, akan tetapi melalui PBI siswa aktif berpikir, berkomunikasi, mencari dan mengolah data, dan akhirnya menyimpulkan.

2. Aktivitas pembelajaran diarahkan untuk menyelesaikan masalah. PBI menempatkan masalah sebagai kata kunci dari proses pembelajaran. Artinya, tanpa masalah maka tidak mungkin ada proses pembelajaran.

3. Pemecahan masalah dilakukan dengan menggunakan pendekatan berpikir secara ilmiah. Berpikir dengan menggunakan metode ilmiah adalah proses berpikir deduktif dan induktif. Proses berpikir ini dilakukan secara sistematis dan empiris.

       Strategi (langkah-langkah/sintaks) Pembelajaran Problem Based Instruction (PBI). Adapun langkah-langkah pembelajarannya adalah sebagai berikut :

1. Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan.

2. Guru memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang telah dipilih.

3. Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut (menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)

4. Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis dan pemecahan masalah.

5. Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas dengan temannya.

6. Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka gunakan.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top