STOP BULLYING MELALUI LAYANAN INOVATIF MEMANFAATKAN MEDIA POWER POINT

Print Friendly and PDF

STOP BULLYING MELALUI LAYANAN INOVATIF MEMANFAATKAN MEDIA POWER POINT


Oleh: Arif Rahman, S.Psi.

SMP Negeri 1 Alian Kebumen Jawa Tengah


Arif Rahman, S.Psi.

 


       Bimbingan dan Konseling sebagai bagian integral yang tak terpisahkan dari sistem pendidikan, memiliki peran penting dan strategis dalam mendukung pencapaian tujuan pendidikan secara komprehensif. Guru Bimbingan dan Konseling bertugas untuk membantu pencapaian tujuan pendidikan nasional, peserta didik atau konseli untuk memaksimalkan perkembangannya secara optimal, sukses, mandiri, sejahtera, dan bahagia dalam kehidupannya. Dalam Permendikbud Nomor 111 Tahun 2014 dijelaskan bahwa Bimbingan dan Konseling adalah upaya sistematis, objektif, logis, dan  berkelanjutan serta terprogram yang dilakukan oleh konselor atau guru Bimbingan  dan Konseling  untuk memfasilitasi perkembangan peserta didik  dalam  mencapai kemandirian dalam kehidupannya. 

       Bila dikaitkan dengan Implementasi Kurikulum Merdeka, peran layanan bimbingan dan konseling dalam Kurikulum Merdeka adalah sebagai koordinator dalam mewujudkan kesejahteraan psikologis peserta didik (student wellbeing) dan memfasilitasi perkembangan peserta didik  agar mampu mengaktualisasikan potensi dirinya dalam rangka mencapai perkembangan secara optimal. Selain itu, Bimbingan dan Konseling juga menjadi bagian dalam  penyusunan perencanaan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Berdasarkan observasi, wawancara dengan pihak terkait, dan hasil dari angket kebutuhan peserta didik di SMP Negeri 1 Alian, didapatkan beberapa faktor yang melatarbelakangi terjadinya perilaku bullying di sekolah, diantaranya adalah: (1) Peserta didik memiliki fisik yang berbeda dengan teman sebayanya, (2) Kondisi psikologis siswa yang mudah tersinggung dan mudah marah, (3) Kondisi keluarga yang kurang harmonis, dan (4) Kebiasaan anak memanggil nama temannya dengan nama orang tuanya dan nama-nama panggilan yang kurang sopan.

       Praktik ini tentu penting untuk dibagikan, Karena masih banyak peserta didik yang kurang memahami tentang bullying dan cara mencegah bullying, apabila tidak diberikan layanan ini secara klasikal bisa saja perilaku bullying di sekolah akan menjadi semakin marak dan tidak bisa menciptakan kondisi pembelajaran yang aman, bersahabat, dan menyenangkan untuk siswa.

       Setelah melakukan analisis terhadap kajian literatur dan wawancara dengan rekan sejawat, kepala sekolah, dan beberapa pihak terkait, maka diperoleh kesimpulan bahwa tantangan untuk mencapai tujuan tersebut adalah kurangnya pemahaman peserta didik tentang bullying. Kebiasaan anak memanggil nama temannya dengan nama orang tuanya dan nama-nama panggilan yang kurang sopan.

       Langkah-langkah yang dilakukan untuk menghadapi tantangan tersebut antara lain: Identifikasi masalah yang ada disekolah. Eksplorasi penyebab masalah yang ada disekolah. Penentuan penyebab masalah. Masalah yang terpilih diangkat dan digunakan sebagai dasar dalam membuat rencana aksi. 

       Strategi yang digunakan, Guru menggunakan metode layanan yang inovatif dalam memberikan materi layanan, yaitu dengan metode ceramah, curah pendapat, Tanya jawab, dan diskusi. Guru memanfaatkan media power point untuk memberikan materi layanan. Guru membuat evaluasi kegiatan layanan. Guru memberikan refleksi dan motivasi kepada peserta didik.

       Kegiatan rencana aksi didesain dengan sebaik mungkin menggunakan media layanan dan sumber belajar yang inovatif agar para peserta didik lebih memahami materi. Dalam pelaksanaannya peserta didik sangat antusias dan bersemangat dengan kegiatan pembelajaran hari itu.

       Mula-mulanya saya menyampaikan topik dan tujuan layanan, kemudian saya menyampaikan apersepsi terkait materi layanan yang akan diberikan. Setelah itu memberikan ice breaking untuk melatih siswa berfikir kritis dalam menganalisa gambar dan permasalahan. Dalam proses memberikan materi layanan, saya sesekali memberikan pertanyaan secara acak untuk mengetahui pemahaman peserta didik.

      Setelah selesai memberikan materi saya mengajak peserta didik untuk membentuk kelompok diskusi, dengan tema diskusi yang berbeda-beda setiap kelompoknya. Anggota kelompok diminta untuk memilih puzzle yang didalamnya sudah terdapat tema yang akan digunakan sebagai bahan diskusi kelompok. Setelah itu anggota kelompok mempresentasikan hasil diskusinya. Dalam proses diskusi peserta didik terlihat antusias dan menampakkan kerja sama yang sangat baik.

       Pada proses aksi layanan ini perangkat yang saya gunakan antara lain: laptop, LCD, kamera, tripod, dan saya juga meminta bantuan kepada rekan sejawat untuk merekam proses aksi layanan.

      Dampak dari rencana aksi yang sudah dilakukan yaitu dapat meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap perilaku bullying yang terjadi di sekolah. Selain itu tingkat pemahaman peserta didik tentang materi tersebut sangat baik.  

       Hasil dari rencana aksi yang dilakukan sangat efektif. Hal ini dikarenakan didukung oleh metode layanan yang melatih peserta didik untuk aktif dan berfikir kritis, serta media pembelajaran yang menarik. 

       Faktor keberhasilan pembelajaran ini ditentukan pada penguasaan guru dalam memberikan materi layanan, melakukan  tanya jawab kepada peserta didik, mampu memberikan jawaban atas pertanyaan dari peserta didik yang mudah dipahami oleh peserta didik, metode yang digunakan dalam layanan, serta langkah-langkah kegiatan layanan, kemudian peserta didik melakukan diskusi kelompok dengan baik dan mampu mempresentasikan hasil diskusi kelompok tersebut.

       Pembelajaran yang dapat diperoleh dari proses praktik aksi ini adalah Guru harus lebih merancang dan mempersiapkan serta melaksanakan proses layanan yang lebih menyenangkan sehingga dapat meningkatkan keaktifan peserta didik dan kemampuan peserta didik. Guru lebih mobile / tidak terpaku didepan kelas terus pada saat menyampaikan materi layanan. Guru dapat lebih memantik/memancing peserta didik yang kurang aktif dengan pertanyaan spontan yang sifatnya sederhana untuk memotivasi keaktifan peserta didik.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top