UPAYA MENINGKATKAN KONTROL DIRI SISWA MELALUI LAYANAN KONSELING INDIVIDU DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL TEKNIK SELF MANAGEMENT

Print Friendly and PDF

UPAYA MENINGKATKAN KONTROL DIRI SISWA MELALUI LAYANAN KONSELING INDIVIDU DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORAL TEKNIK SELF MANAGEMENT


Oleh: Abdul Ghani, S.Pd

SMP Negeri 2 Larangan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah


Abdul Ghani, S.Pd


       Konseli adalah siswa berinisial (AB) kelas VIII. Anak ke dua dari dua bersaudara. Orang tuanya bekerja sebagai petani. Konseli anak yang baik, pintar, sopan, hormat dan mempunyai banyak teman. Begitu pun lingkungan sekitar, yang mana sangat mendukung anak-anak untuk bersekolah. Dari pengamatan konselor, konseli sering tidak hadir di sekolah. Hal tersebut juga dibuktikan dengan presensi bahwa konseli dalam bulan Agustus lebih dari 10 kali tidak berangkat ke sekolah. Konseli menyesali akan perilakunya yang merugikan diri sendiri. Dengan secara sukarela konseli datang menemui konselor, konseli menceritakan bahwa rendahnya kontrol diri terhadap kehadiran ke sekolah menjadi penyebab masalahnya. 

      BKehadiran siswa di sekolah merupakan masalah penting dalam kegiatan pembelajaran, karena hal tersebut sangat erat hubungannya dengan prestasi belajar siswa. Di samping itu, kehadiran siswa di sekolah merupakan gambaran tentang ketertiban suatu sekolah. Kehadiran siswa di sekolah adalah kehadiran dan keikutsertaan siswa secara fisik dan mental terhadap aktivitas sekolah pada jam-jam efektif di sekolah. 

       Namun pada kenyataanya masih banyak siswa yang mengalami beberapa permasalahan. Salah satu diantaranya yaitu permasalahan rendahnya kontrol diri terhadap kehadiran ke sekolah. Rendahnya kontrol diri pada siswa tidak bisa diabaikan, apabila kontrol diri rendah tidak segera diatasi maka mengakibatkan dampak negatif pada perilaku diri dan lingkungan sosialnya. Siswa yang memiliki kontrol diri yang rendah akan dipandang sebelah mata dan akan berakibat terjadinya penolakan terhadap dirinya dan lingkungannya.

       Dalam kasus ini saya sebagai konselor mengindentifikasi penyebab rendahnya kontrol diri siswa terhadap kehadiran ke sekolah melalui asesmen yaitu wawancara. Dari hasil asesmen wawancara, saya mengkaji literatur untuk mencari solusi yang tepat untuk mengatasi permasalahan. Kemudian setelah menemukan literatur yang tepat, saya melakukan tindak lanjut dengan memberikan layanan responsif (konseling individu) untuk pengentasan permasalahan peserta didik. 

       Saya menyadari dalam pelaksanaan konseling terdapat beberapa tantangan yang dihadapi. Tantangan tersebut diantaranya kurangnya pengalaman saya dalam penerapan teknik-teknik layanan konseling, keterbukaan siswa dalam mengutarakan masalah dan sarana prasarana yang terbatas seperti tidak adanya ruang konseling yang memadai sehingga proses layanan yang diberikan kurang kondusif.

       Alternatif solusi atau upaya yang dilakukan saya sebagai konselor dalam mengentaskan masalah rendahnya kontrol diri siswa terhadap kehadiran ke sekolah yaitu sebagai berikut: Memberikan layanan konseling individu dengan pendekatan behavioral teknik self management.

       Konseling individual adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi klien. Proses konseling individu berpengaruh besar terhadap peningkatan klien karena pada konseling individu konselor berusaha meningkatkan sikap siswa dengan cara berinteraksi selama jangka waktu tertentu dengan cara bertatap muka secara langsung untuk menghasilkan peningkatan pada diri klien, baik cara berpikir, berperasaan, sikap, dan perilaku.

       Pendekatan behavioral dengan teknik self management merupakan suatu prosedur dimana peserta didik mengatur perilakunya sendiri tentang hal-hal yang berhubungan dengan perilaku khusus yang ingin dikendalikan atau diubah.

       Beberapa langkah-langkah dasar teknik self management yaitu antara lain sebagai berikut: Tahap monitor diri atau observasi diri. Pada tahap ini konseli mengamati tingkah lakunya sendiri dan mencatatnya dengan teliti. Tahap evaluasi diri. Pada tahap ini konseli membandingkan hasil catatan tingkah laku yang telah dibuat oleh konseli. Perbandingan ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas dan efisiensi program. Tahap pemberian penguatan, penghapusan atau hukuman. Pada tahap ini konseli mengatur waktunya sendiri, memberikan penguatan, menghapus dan memberikan hukuman pada diri sendiri. Tahap ini merupakan tahap yang paling sulit karena membutuhkan kemauan yang kuat dari konseli untuk melaksanakan program yang telah dibuat secara kontinu (Sukadji dalam Komalasari, 2016). Memberikan kertas kerja atau home work terkait cara meningkatkan rendahnya kontrol diri siswa terkait kehadiran ke sekolah.

       Evaluasi adalah proses yang mengkaji secara kritis suatu program, aktivitas, kebijakan, atau semacamnya. Hal ini melibatkan pengumpulan informasi tentang kegiatan dan hasil program. Tujuannya untuk membuat penilaian tentang suatu program, meningkatkan efektivitasnya, dan untuk pertimbangan keputusan.

       Dari hasil konseling individu yang telah dilakukan, beberapa evaluasi yang dapat saya simpulkan yaitu sebagai berikut: Melakukan kolaborasi dengan guru, wali kelas dan orang tua untuk memonitoring perkembangan perilaku peserta didik saat di sekolah maupun pada saat di rumah.

       Pelaksanaan layanan konseling individu dengan pendekatan behavioral teknik self management memberikan dampak positif terhadap peningkatan kontrol diri siswa terhadap kehadiran ke sekolah. Peserta didik yang menjadi konseli mampu menunjukan perubahan perilaku yang lebih baik dari sebelumnya. Peningkatan perubahan rendahnya kontrol diri terhadap kehadiran ke sekolah peserta didik dapat terlihat ketika peserta didik hadir di sekolah lebih awal, peserta didik sangat antusias dalam mengikuti kegiatan proses belajar.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top