UPAYA MENGATASI PERILAKU MEROKOK PADA PESERTA DIDIK MELALUI LAYANAN KONSELING INDIVIDU MENGGUNAKAN PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY DENGAN TEHNIK DISPUTE KOGNITIF

Print Friendly and PDF

UPAYA MENGATASI PERILAKU MEROKOK PADA PESERTA DIDIK MELALUI LAYANAN KONSELING INDIVIDU MENGGUNAKAN PENDEKATAN RATIONAL EMOTIVE BEHAVIOR THERAPY DENGAN TEHNIK DISPUTE KOGNITIF


Oleh: Saida, S.Ag.

SMP Negeri 2 Kejayan, Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan Provinsi Jawa Timur


Saida, S.Ag.


       Perilaku merokok yang dilakukan peserta didik dengan macam-macam latar belakang [penyebab]. Diantara latar belakang/ penyebab mereka merokok adalah kurangnya kesadaran dalam diri peserta didik bahwa merokok membahayakan kesehatannya, sebagai teman kesepian karena peserta didik tinggal di rumah sendiri [orang tua bercerai,ayahnya menikah lagi dan ibunya pergi],dukungan orang tua dan pengaruh teman sebaya [ikut-ikutan teman]. Dari berbagai latar belakang penyebab peserta didik merokok ini kemudian menjadi kebiasaan sampai terbawa ke lingkungan Sekolah.

       Kasus perilaku merokok pada peserta didik sangat penting untuk dikaji. Perilaku merokok yang dilakukan 1 peserta didik bisa mempengaruhi atau mengajak peserta didik yang lain untuk ikut merokok. 

       Peserta didik yang mempunyai kebiasaan perilaku merokok memerlukan bantuan untuk menyelesaikan masalah tersebut. Sebelum memberikan bantuan kepada peserta didik, saya perlu melakukan assesmen dan mencari tahu karakteristik peserta didik. Hal tersebut dilakukan untuk mencari informasi kebutuhan peserta didik. Penyusunan Rancangan Konseling Individu dan evaluasi layanan konseling individu disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik dengan metode dan teknik yang sesuai. Rancangan konseling individu yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik dapat membantu permasalahan peserta didik. Penyusunan evaluasi dilakukan guna menilai proses dan hasil layanan yang telah dilaksanakan. Menangani kasus tersebut saya berperan menjadi guru BK. Dalam menangani kasus tersebut saya menyusun Rancangan Konseling Individu dan evaluasi, membuat tabel pernyataan untuk melakukan observasi dan pertanyaan untuk wawancara. Hal tersebut digunakan untuk mencari tahu kebutuhan peserta didik dan karakteristiknya. Observasi peserta didik dilakukan didalam kelas dan diluar kelas. Pertanyaan wawancara dilakukan dengan guru pamong. Peran saya lainnya adalah menyusun perangkat layanan dan evaluasi yang saya gunakan untuk membantu peserta didik dalam menyelesaikan permasalahannya. Pihak yang terlibat dalam penyusunan perangkat dan evaluasi, saya dibantu oleh beberapa pihak diantaranya adalah Guru Pamong sebagai sumber informasi berkenaan dengan sinkronisasi hasil diagnostik kognitif dan non-kognitif, serta dosen pembimbing dan rekan sejawat sebagai wadah untuk melakukan sharing berkenaan dengan penemuan kasus dan penemuan solusi. 

       Tantangan dan hambatan yang saya hadapi adalah memilih teknik yang saya gunakan. Teknik dalam layanan konseling individu harus sesuai dengan permasalahan peserta didik dan dapat membantu peserta didik dalam merubah pemikiran yang irasional menjadi rasional. Tantangan lain yang saya hadapi adalah peserta didik tidak bisa konsisten dalam merubah perilakunya. Hambatan yang saya alami adalah saya tidak bisa memonitoring peserta didik ketika di rumah, sehingga tidak ada pengawasan kegiatan peserta didik di rumah.

      Dalam menghadapi tantangan, merancang layanan BK, dan melakukan evaluasi yang berkenaan dengan perilaku merokok pada peserta didik adalah dengan layanan konseling individu menggunakan pendekatan REBT dengan tehnik Dispute Kognitif dengan tahap-tahap berikut :

      Tahap 1 [Eksplorasi Masalah]. Memulai dengan mengidentifikasi pandangan-pandangan konseli. Dalam hal ini, pikiran bahwa dia tidak menarik dan terbuka dalam permasalahannya; Memperhatikan bagaimana perasaan konseli saat mengalami masalah ini. Konseli merasa kecewa dengan kondisi keluarganya dan merasa kesepian sehingga mulai merokok sebagai pelampiasan rasa kecewanya; Melaksanakan asesmen secara umum dengan mengidentifikasi latar belakang personal dan sosial,keadaan masalah,hubungan dengan kepribadian individu dan sebab-sebab non psikis; Mengamati, memahami akan perasaan yang sedang dialami konseli dan berusaha selalu mengakrabkan diri dengan memberikan perhatian penuh.

      Tahap 2 [Personalisasi]. Konselor mengajak konseli mengorganisasikan pikiran negatif menjadi pikiran positif dengan tehnik Dispute kognitif [mengkonfrontasi pemikiran irasional]; Mengklarifikasi dan menyetujui tujuan konseling dan memotivasi konseli untuk berubah. Konselor menyampaikan tujuan konseling kali ini yaitu agar konseli menyadari permasalahan konseli yang sesungguhnya dan membantu konseli mengorganisasikan pikiran-pikirannya sehingga harapannya bisa berpengaruh pada emosi dan tingkah lakunya; Mendiskusikan pendekatan yang akan digunakan dan implikasinya; Konselor menyampaikan tehnik dispute kognitif yang akan digunakan. Konselor menyatakan bahwa muncul irrational belief pada pikiran konseli sehingga perlu untuk di-dispute. Konselor memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengarahkan konseli akan berpikir lebih rasional dengan menggunakan Kartu Kontrol Emosi. 

       Tahap 3 [Initianting/Integrasi Tehnik]. Konselor melakukan dispute kognitif [mengkonfrontasi irrational belief]: melalui philosophical persuation, didacticpresentation, Socratic dialoge, vicarious experiences; Tehnik untuk menggunakan dispute cognitif adalah dengan bertanya: pertanyaan meliputi [a] Dispute logis, yaitu: apakah itu logis? Apa benar begitu? Apa yang kamu maksud dengan kalimat itu? Mengapa itu perkataan yang tidak benar? Apakah itu bukti yang kuat? Jelaskan kepada saya kenapa harus begitu? Dimana aturan itu tertulis? Apakah kamu bisa melihat ketidakkonsistenan keyakinanmu? Mengapa kamu harus melakukan itu? [b] Reality Testing,yaitu: Apakah dengan merokok benar-benar bisa mengusir kesepianmu? Apakah dengan merokok rasa kecewamu akan benar-benar hilang? Mari kita bicarakan kenyataannya. [c] pragmatic disputation: selama kamu meyakini hal tersebut,akan bagaimana perasaanmu? Apa yang terjadi jika kamu masih mempertahankan pikiran negatifmu?; Kegiatan dispute kognitif akan terus dilakukan untuk membahas irrational belief konseli; Konselor memberikan LKPD dan akan membahas hasilnya dipertemuan selanjutnya [Assigment Homework]. 

       Setelah melaksanakan layanan konseling individu menggunakan pendekatan REBT dengan tehnik Dispute Kognitif dapat membantu konseli dalam mengurangi perilaku merokok. Dari konseli yang menjadi konseli layanan konseling individu yang biasanya merokok mulai mengurangi kebiasaan merokoknya. Penggunaan layanan konseling individu menggunakan pendekatan REBT dengan tehnik Dispute Kognitif membuat peserta didik dapat mengkonfrontasi pikiran irasionalnya menjadi rasional dan mengubah perilakunya menjadi lebih produktif. 

       Pemanfaatan LKPD, kartu kontrol emosi dan kartu kuis, peserta didik dapat dengan mudah memahami pentingnya mengurangi perilaku merokok dan menyadari bahaya rokok bagi kesehatannya. Setelah dilaksanakan layanan konseling, saya mengadakan monitoring dan evaluasi berkala mengenai kemajuan konseli terhadap hasil layanan konseling individu. Perubahan perilaku konseli, saya berkolaborasi dengan orang tua konseli. Orang tua konseli, memonitoring kegiatan konseli saat di rumah.



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top