HUBUNGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DENGAN KURIKULUM MERDEKA

Print Friendly and PDF

HUBUNGAN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI DENGAN KURIKULUM MERDEKA

Oleh: Putri Wulandari, S.Pd.SD

SDN 1 Sambongbangi, Kradenan, Grobogan Jawa Tengah

Putri Wulandari, S.Pd.SD


       Kegiatan pembelajaran merupakan salah satu unsur yang sangat penting dalam upaya pembangunan pendidikan. Salah satu kunci suksesnya kegiatan pembelajaran adalah guru. Tugas guru menurut filosofi Ki Hajar Dewantara adalah menuntun anak untuk dapat tumbuh dan berkembang sesuai kodrat anak tersebut dalam mencapai kebahagian dan keselamatan (Devi Kurnia; Fitra, 2022). Artinya guru semestinya menuntun anak sesuai potensi, minat dan bakat serta kemampuan yang dimilikinya untuk mencapai tujuannya. Nyatanya, hasil identifikasi diperoleh bahwa pelaksanaan kegiatan pembelajaran masih belum banyak perubahan, dimana masih menerapkan sistem pembelajaran yang menganggap semua peserta didik sama tanpa melihat keberagaman kemampuannya (Iskandar,2021). Proses pembelajaran masih dominan dilakukan secara konvensional dimana guru seolah-olah mengajar satu peserta didik dalam satu kelas, padahal dalam satu kelas tersebut diperkirakan lebih kurang 15-20 peserta didik dengan berbagai potensi, bakat dan minatnya masing-masing. Proses pembelajaran yang demikian membuat peserta didik merasa jenuh dan akhirnya tidak/sedikit memiliki motivasi belajar yang baik.

       Salah satu kondisi yang turut mengubah paradigma pembelajaran adalah pandemi covid 19 yang melanda kehidupan secara global. Idealnya, dalam keadaan apapun proses pembelajaran itu harus mengutamakan kebutuhan belajar peserta didik dengan melakukan diagnosis awal terhadap keadaan psikis, latar belakang dan kesiapan belajar peserta didik, akan tetapi dalam masa pandemi proses pembelajaran terjadi secara daring dengan mengabaikan keberagaman peserta didik. Pemerintah berupaya untuk memulihkan kondisi pendidikan saat ini dengan mengimplementasikan kurikulum merdeka. Dalam kurikulum merdeka Pembelajaran dirancang dengan mempertimbangkan tahap perkembangan dan tingkat pencapaian peserta didik saat ini, sesuai dengan kebutuhan belajar. 

       Setiap peserta didik memiliki perbedaan dalam kemampuan, pengalaman, bakat, minat, dan gaya belajar. Guru harus memperhatikan perbedaan karakter peserta didik dan memberikan pelayanan yang memenuhi kebutuhan peserta didik, sehingga penting adanya pembelajaran berdiferensiasi pada kurikulum merdeka.

       Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang memberikan keleluasaan dan mengakomodir kebutuhan peserta didik untuk dapat meningkatkan potensi yang dimilikinya sesuai dengan kemampuan masing-masing peserta didik. Hal ini identik dengan kurikulum merdeka yang menekankan pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik. Pembelajaran berdiferensiasi sangat erat sekali kaitannya dengan merdeka belajar.  Karena keduanya memiliki arah dan tujuan yang sama. Dalam pembelajaran berdiferensiasi, anak dipandang sebagai pribadi atau individu yang unik dan berbeda-beda, begitu pula dalam merdeka belajar. Keduanya sama-sama menaruh perhatian besar kepada kebutuhan anak. Persiapan guru dalam memutuskan strategi pembelajaran yang akan diterapkan semuanya berasal dari hasil identifikasi terhadap profil dan kebutuhan murid yang berbeda- beda sehingga murid dapat terlibat penuh selama pembelajaran berlangsung dengan perasaan merdeka dan bahagia. Pembelajaran berdiferensiasi merupakan salah satu strategi yang dapat digunakan oleh guru untuk memenuhi kebutuhan setiap peserta didik. Di sini guru harus memahami dan menyadari bahwa ada lebih dari satu cara, metode dan strategi untuk mempelajari suatu bahan pelajaran ketika menggunakan pembelajaran berdiferensiasi. Guru dapat mengatur bahan pelajaran, kegiatan dan tugas-tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik

        Dalam pelaksanaan proses pembelajaran berdiferensiasi ini ada tiga strategi yang dapat dipilih, yaitu diferensiasi konten,diferensiasi proses dan diferensiasi produk. Diferensiasi konten, yaitu apa yang diajarkan pada peserta didik sebagai tanggapan dari kesiapan belajar peserta didik, minat atau profil belajarnya (Visual, Auditori, Kinestetik) atau bahkan bisa kombinasi dari ketiganya. Diferensiasi proses, yaitu bagaimana peserta didik akan memaknai materi yang dipelajari baik secara mandiri atau kelompok dengan menyediakan kegiatan berjenjang. Bisa juga dilakukan dengan memberikan pertanyaan pemandu atau tantangan. Diferensiasi produk, yaitu berupa tagihan yang kita harapkan dari peserta didik, dengan memberikan tantangan atau keragaman variasi serta memilih produk apa yang diminatinya. Kegiatan pembelajaran berdiferensiasi ini dapat dilakukan guru dalam kegiatan inti pada rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang telah dirancang.

       Kegiatan pada pembelajaran berdiferensiasi dimulai dari pembukaan sampai pada tahap evaluasi. Pada kegiatan pendahuluan guru dapat memberikan stimulus yang dapat merangsang rasa ingin tahu peserta didik terhadap materi yang akan disampaikan. Selanjutnya melakukan apersepsi dan motivasi agar peserta didik selalu bersemangat terhadap kegiatan pembelajaran. Dalam pembelajaran berdiferensiasi ketiga tahapan tersebut dapat dilakukan dengan memberikan variasi sesuai dengan pemetaan yang telah dilakukan oleh guru. Begitu juga dengan asesmennya. Selain itu karakteristik pembelajaran berdiferensiasi juga menuntut guru untuk melakukan penilaian secara berkelanjutan yang dimulai dari penilaian diagnostik non kognitif dan kognitif di awal pembelajaran. Guru juga perlu membuat asesmen yang beragam untuk mengetahui sejauh mana penerimaan siswa terhadap proses pembelajaran yang sudah berlangsung. Asesmen yang beragam ini bisa menangkap setiap pemahaman siswa. Penerapan pembelajaran berdiferensiasi akan memberikan dampak positif bagi sekolah, kelas, guru dan terutama peserta didik. Jika guru tidak menerapkan pembelajaran yang memberikan perlakuan berbeda kepada semua peserta didik maka hal tersebut dapat menghambat perkembangan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran secara optimal. Namun sebaliknya jika guru sudah mengoptimalkan pembelajaran berdiferensiasi, maka kebutuhan peserta didik akan terpenuhi sehingga terciptalah pembelajaran yang berpihak kepada peserta didik.



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top