IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X

Print Friendly and PDF

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERFIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING PADA PELAJARAN BIOLOGI KELAS X 


Oleh: Siti Nur Rochmani, S.Pd.

Guru Biologi SMAS Islam Miftahul Huda Demak Jawa Tengah 


Siti Nur Rochmani, S.Pd.


       Pergantian kurikulum saat ini tidak serta merta dapat memaksimalkan dan meningkatkan kualitas belajar peserta didik. Penyebabnya adalah minimnya identifikasi gaya belajar (learning style) karena peserta didik memiliki gaya belajar yang berlainan dalam proses mencerna pembelajaran. Keunikan yang dimiliki masing-masing peserta didik menuntut guru untuk mengajar dengan menyesuaikan karakteristik peserta didik yang dihadapi. Guru sebaiknya memberikan dampak positif dengan merencanakan metode maupun strategi pembelajaran yang tepat agar memudahkan peserta didik menyerap materi sehingga pembelajaran lebih optimal.

       Kebiasaan yang dilakukan peserta didik ketika proses belajar akan mempengaruhi gaya belajarnya. Ini merupakan suatu fakta sehingga proses pembelajaran akan bermakna. Gaya belajar didefinisikan sebagai cara belajar secara spasial bagi peserta didik. Kecakapan peserta didik dalam mencerna informasi pasti mengungkapkan gaya belajar seperti usaha menyerap, mengingat, mengolah, maupun mengimplementasikan fakta yang ada.

       Ada tiga jenis gaya belajar yang terdiri dari gaya belajar dalam bentuk visual, gaya belajar dalam bentuk auditori, dan gaya belajar dalam bentuk kinestetik. Cara belajar yang memperhatikan dan menyaksikan secara langsung disebut visual, dengan cara menggunakan pendengaran disebut dengan auditori. Sedangkan dengan cara mempraktikkan disebut dengan cara belajar kinestetik. Guru dapat memfasilitasi peserta didiknya dengan menyesuaikan gaya belajar yang dimiliki oleh peserta didik tersebut sehingga diharapkan dapat tercapai prestasi belajar yang maksimal. Pembelajaran berdiferensiasi inilah yang digunakan agar guru tidak menyamaratakan seluruh peserta didik.

       Pembelajaran berdiferensiasi bukan merupakan suatu hal yang baru dalam dunia pendidikan. Akan tetapi, tidak banyak pendidik yang menggunakan pendekatan tersebut dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Berdiferensiasi yang dimaksud adalah memberi kebebasan peserta didik untuk berkreasi dengan kemampuan yang dimilikinya tanpa adanya tekanan dan paksaan dari pihak yang lainnya. Pembelajaran berdiferensiasi sesuai dengan filosofi pendidikan seperti yang dituturkan oleh Ki Hajar Dewantara bahwa dalam mendidik itu adalah memberi tuntunan terhadap kodrat anak dalam mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya, baik itu sebagai manusia atau pun sebagai masyarakat. 

      Peserta didik menganggap pelajaran Biologi hanya berupa kumpulan konsep yang harus dihafal sehingga berdampak pada rendahnya kemampuan peserta didik pada aspek kognitif. Pembelajaran Biologi di sekolah sebaiknya mampu melatih peserta didik untuk menggali kemampuan mencari, mengolah, dan menilai berbagai informasi secara kritis. Seperti yang dikatakan Dike (2010: 18) bahwa kemampuan berpikir kritis melatih peserta didik untuk membuat keputusan dari berbagai sudut pandang secara cermat, teliti, dan logis. Dengan kemampuan berpikir kritis, peserta didik dapat mempertimbangkan pendapat- pendapat orang lain serta mampu mengungkapkan pendapatnya sendiri dengan kepercayaan diri. Kemampuan berpikir kritis merupakan kegiatan menghimpun berbagai informasi serta menganalisis informasi tersebut dengan menggunakan pengetahuan dasar siswa untuk membuat kesimpulan.

       Berbagai upaya telah dilakukan dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta didik, seperti perubahan kurikulum, penggunaan metode dan model yang lebih konkrit dan lebih dekat dengan peserta didik, dan juga pengadaan dan pengembangan media ataupun perangkat pembelajaran pendidikan. Salah satu model pembelajaran yang mampu memotivasi peserta didik untuk belajar adalah dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) karena model pembelajaran ini lebih menekankan kepada aktivitas peserta didik mencari solusinya dan dapat memecahkan suatu masalah dalam kehidupan nyata. Problem Based Learning (PBL) merupakan pembelajaran yang berdasarkan pada masalah-masalah kontekstual, yang membutuhkan upaya penyelidikan dalam usaha memecahkan masalah (Hendriana, 2018).

Model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) ini merupakan sebuah model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan cara menghadapkan para peserta didik dengan berbagai masalah yang dihadapi dalam kehidupan nyata dan peserta didik mencoba untuk memecahkan masalah tersebut. Dalam model ini pelajaran berfokus pada suatu masalah yang harus dipecahkan oleh peserta didik, sehingga peserta didik memiliki tanggung jawab untuk menganalisis dan memecahkan masalah tersebut dengan kemampuan sendiri, sedangkan peran pendidik hanya sebagai fasilitator dan memberikan bimbingan kepada peserta didik (Wena, 2013).

        Beberapa studi terhadap pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti terdahulu yaitu Dakabesi, et al. (2019) dalam penelitiannya langkah-langkah model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dimulai dengan 1) mengarahkan peserta didik pada masalah kontekstual, 2) mengarahkan peserta didik untuk terlibat dalam proses pembelajaran, 3) membimbing setiap individu, kelompok, 4) mengembangkan hasil penyelidikan, menyajikan hasil investigasi, 5) menganalisis dan mengevaluasi hasil pemecahan masalah.



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top