PEMBELAJARAN PPKn LEBIH MENYENANGKAN DENGAN MODEL KOOPERATIF TEKNIK MAKE A MATCH PADA PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR

Print Friendly and PDF

PEMBELAJARAN PPKn LEBIH MENYENANGKAN DENGAN MODEL KOOPERATIF TEKNIK MAKE A MATCH PADA PESERTA DIDIK DI SEKOLAH DASAR


Oleh: Hartini Solissa, S.Pd

Guru SD Negeri 1 Ambalau 


Hartini Solissa, S.Pd


       PPKn memiliki nilai sebagai mata pelajaran yang membawa misi pendidikan nilai dan moral karena materi pelajaran yang ada di dalam PPKn merupakan konsep-konsep nilai Pancasila dan UUD 1945 dan memiliki sasaran akhir terwujudnya nilai-nilai tersebut dalam perilaku nyata kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, proses pembelajaran PPKn menuntut terlibatnya emosional, intelektual dan sosial dari guru dan peserta didik sehingga nilai-nilai itu bukan hanya dipahami (kognitif) tetapi juga dihayati (afektif) dan dilaksanakan (psikomotor) dalam kehidupan sehari-hari.

       Selama ini masih ada beberapa peserta didik yang beranggapan bahwa mata pelajaran PPKn adalah mata pelajaran yang mudah dan kurang mementingkan aspek penalaran dibandingkan dengan mata pelajaran eksakta seperti matematika. Hal itu dapat dibuktikan dengan keseriusan peserta didik dalam menerima pelajaran di kelas, peserta didik lebih memperhatikan guru saat memberikan pelajaran matematika dibandingkan dengan saat memberikan pelajaran PPKn. Selain itu, ada beberapa guru SD yang kurang memperhatikan karakteristik peserta didiknya dan menggunakan model pembelajaran yang kurang variatif sehingga peserta didik kurang dilibatkan dalam pembelajaran di kelas. Dalam hal ini guru masih menerapkan pendekatan konvensional yang membuat peserta didik pasif dalam pembelajaran, akibatnya peserta didik kurang tertarik dan bosan dalam mengikuti pelajaran PPKn, sehingga mata pelajaran PPKn diremehkan dan tidak disukai oleh peserta didik. Hal itu ditunjukkan dengan hasil belajar PPKn yang belum memuaskan dan belum mampu menunjukkan sikap dan tingkah laku peserta didik sebagai warga negara Indonesia yang cerdas dan baik.

       Kebanyakan guru dalam membelajarkan PPKn di kelas menggunakan metode ceramah yang diselingi sedikit tanya jawab kepada peserta didik. Setelah itu peserta didik disuruh mengerjakan tugas oleh guru. Penggunaan metode dan teknik yang kurang sesuai ini tentunya akan membawa kondisi kelas tidak lagi nyaman bagi peserta didik di dalam kegiatan belajar mengajar sehingga timbul perilaku peserta didik yang tidak kondusif sebagai akibat kejenuhan peserta didik. Oleh sebab itu, guru berkewajiban menyediakan suasana lingkungan belajar yang kondusif bagi peserta didik di kelasnya, sehingga tercipta suasana yang mendukung kegiatan belajar mengajar. Guru perlu mengupayakan penguasaan model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan karakteristik peserta didik, salah satunya adalah melalui pembelajaran kooperatif dengan teknik make a match, seperti yang penulis lakukan ditempat mengajar di SD Negeri 01 Ambalau. Pembelajaran kooperatif teknik make a match mampu menciptakan suasana belajar yang aktif dan menyenangkan.

        Pada pembelajaran kooperatif teknik make a match, guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk berinteraksi dalam proses belajar mengajar sehingga peran guru di kelas bukan lagi sebagai sumber belajar satu-satunya, tetapi lebih bersifat sebagai fasilitator dan motivator bagi peserta didik. Hal inilah yang memicu keaktifan peserta didik dalam mencari pengetahuannya sendiri sehingga pengetahuan yang diperoleh peserta didik dengan sendiri akan melekat lebih lama dalam pikiran peserta didik dan meningkatkan hasil belajar peserta didik. Maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran kooperatif teknik make a match mampu menjadikan pembelajaran yang bermakna bagi peserta didik. Melalui pembelajaran kooperatif peserta didik dapat memperoleh pengetahuan, kecakapan sebagai pertimbangan untuk berpikir dan menentukan serta berbuat dan berpartisipasi sosial. Dalam pembelajaran kooperatif, peserta didik diharapkan dapat saling membantu, dan berkerjasama dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi sehingga dapat mengasah kemampuan dan pengetahuan yang mereka kuasai.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top