TERAPKAN METODE SQ3R BERBANTU VIDEO PAWARTA PADA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA MATERI TEKS PAWARTA MAMPU MENGASAH SIKAP KRITIS, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA

Print Friendly and PDF

TERAPKAN METODE SQ3R BERBANTU VIDEO PAWARTA PADA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA MATERI TEKS PAWARTA MAMPU MENGASAH SIKAP KRITIS, MOTIVASI DAN HASIL BELAJAR SISWA 

Oleh : Galuh Satriyani, S.Pd

Guru Bahasa Jawa SMK Negeri 1 Susukan Banjarnegara Jawa Tengah

Galuh Satriyani, S.Pd


       Pendidikan merupakan investasi sumber daya manusia jangka panjang yang mempunyai nilai strategis bagi kelangsungan peradaban manusia di dunia. Oleh sebab itu, hampir semua negara menempatkan variabel pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama dalam konteks pembangunan bangsa dan negara. Begitu juga Indonesia menempatkan pendidikan sebagai sesuatu yang penting dan utama. Hal ini dapat dilihat dari isi Pembukaan UUD 1945 alinea IV yang menegaskan bahwa salah satu tujuan nasional bangsa Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.

       Tujuan pendidikan menurut Undang-Undang Sisdiknas Nomor 20 tahun 2003  yaitu mencerdaskan kehidupan berbangsa dan mengembangkan manusia yang seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan yang maha Esa, berbudi pakerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, sehat jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap, mandiri, rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan, agar pendidikan yang menjadi hak warga negara dimiliki oleh seluruh rakyat sesuai dengan kemampuan masing-masing individu, (Sinar Grafika ; Undang-undang No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Sinar Grafika Offset,2008 hal 6-7).

       Sekolah merupakan sarana untuk mewujudkan impian kemajuan generasi suatu bangsa yang didalamnya terdapat unsur pendidik (guru) dan peserta didik  dengan sarana prasarana dan  lingkungan guna mendukung tujuan pendidikan tersebut. Di sekolah inilah siswa digembleng dengan berbagai ilmu pengetahuan maupun karakter guna menjadikan siswa yang handal. Keberhasilan suatu pendidikan dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berhubungan dengan kegiatan belajar mengajar. Diantaranya faktor dari siswa, guru, kurikulum, metode maupun media dalam pembelajaran. Pembelajaran merupakan aktifitas yang paling utama,ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif. Guru sebagai pendidik professional mempunyai tugas utama yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik. Oleh sebab itu guru harus mampu menentukan bagaimana mengemas suatu  pembelajaran sebaik mungkin.

       Bahasa Jawa merupakan salah satu dari berbagai bahasa daerah di Indonesia yang terus dilestarikan oleh pemerintah. Salah satu upaya pemerintah dalam melestarikan dengan mengajarkannya di lembaga pendidikan formal. Melalui pelajaran Bahasa Jawa yang telah diterapkan di sekolah perlu kita dukung dan kita galakkan supaya budaya daerah tidak hilang ditelan oleh zaman. Usaha pemerintah dalam melestarikan bahasa daerah (bahasa jawa) ini juga tertuang dalam UU No.20 Tahun 2003 tentang Sitem Pendidikan Nasional Pasal 37 Ayat 1 yang menyebutkan bahwa: “Kurikulum pendidikan dasar dan menegah wajib memuat muatan lokal” (Mulyani, Pembelajaran Bahasa Dan Sastra Daerah Dalam Kerangka Budaya .Yogyakarta: Tiara Wacana,2008.hal 18). Di provinsi Jawa Tengah pelajaran Bahasa Jawa menjadi mulok wajib bagi semua jenjang pendidikan. Hal ini tertuang dalam Keputusan Gubermur Jawa Tengah Nomor: 589.5/01/2005 yang memuat tentang ketetapan bahwa mata pelajaran bahasa Jawa wajib dilaksanakan di semua lembaga pendidikan SD /SDLB /MI, SMP /SMPLB /MTs., dan SMA /SMALB /SMK /MA negeri maupun swasta di Jawa Tengah dan berlaku mulai tahun 2004/2005. Dalam BSNP tujuan pembelajaran Bahasa Jawa adalah mengembangkan kemampuan dan keterampilan berkomunikasi siswa dengan menggunakan Bahasa Jawa, meningkatkan kepekaan dan penghayatan terhadap karya sastra Jawa, dan memupuk tanggungjawab untuk melestarikan hasil kreasi budaya Jawa sebagai salah satu unsur kebudayaan nasional, serta mampu melestarikan menulis aksara Jawa di era globalisasi sekarang ini (dalam Lina, 2012: 27). Keterampilan berbahasa Jawa yang diajarkan di sekolah meliputi empat aspek kebahasaan, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Keterampilan menulis merupakan salah satu aspek pembelajaran bahasa yang harus dilatih. Keterampilan menulis bertujuan agar siswa terampil merangkai kata secara tertulis menggunakan Bahasa Jawa sesuai dengan unggah-ungguh basa. 

       Kenyataan di lapangan secara umum menunjukkan bahwa mata pelajaran  Bahasa Jawa sering dikesampingkan karena hanya termasuk muatan lokal. Bahasa jawa kurang dianggap penting untuk diajarkan kepada siswa. Untuk itulah guru sebagai organisatoris dan pengelola kelas hendaknya dapat mengorganisir semua faktor, seperti tujuan, metode, media, sarana-prasarana, efektif dan efisiennya waktu pembelajaran,agar proses belajar mengajar dapat berjalan dengan baik dan tujuan pembelajaran dapat tercapai.

       Selama ini penulis yang tercatat sebagai guru mata pelajaran Bahasa Jawa khususnya kelas X KKBT pada semester gasal tahun pelajaran 2020/2021 di SMK N 1 Susukan Banjarnegara, tak henti-hentinya terus berjuang dalam mengoptimalkan pembelajaran, diantaranya cermat dalam memilih metode pembelajaran serta tepat memanfaatkan berbagai teknologi informasi maupun aplikasi diberbagai media sosial dengan tujuan materi mudah dipahami, menarik sehingga mampu meningkatkan pengetahuam serta hasil belajar siswa. Akan tetapi permasalahan dijumpai penulis ketika menyampaikan materi Teks Pawarta, terlihat beberapa siswa tidak semangat dalam belajar serta susah memahami materi yang diajarkan sehingga hasil belajarnya menurun. Penurunan tersebut terlihat ketika guru mencoba memberikan pertanyaan berupa soal pada siswa,dari jumlah total keseluruhan siswa kelas X KKBT [gelombang pertama pembelajaran tatap muka terbatas] sebanyak 17 siswa terlihat hanya 78% yang selalu aktif dan termotivasi dalam mengikuti pembelajaran sehingga mereka mampu menyerap, memahami, terampil dan mudah dalam menjawab pertanyaan dengan mendapatkan nilai rata-rata 83 melampaui batas minimal kkm, sedangkan 34% siswa kurang aktif dan hasil belajarnya belum memenuhi kkm sehingga perlu segera diatasi. Setelah di evaluasi, cara mengatasi masalah tersebut pada pertemuan selanjutnya penulis menerapkan metode SQ3R dan memanfaatkan media berupa video pawarta sebagai sarana dalam menyampaikan materi sehingga lebih menarik dan menumbuhkan motivasi, mengasah keterampilan berfikir sehingga hasilnya membawa dampak perubahan yang lebih baik. 

       Metode SQ3R merupakan suatu prosedur belajar yang sistematik yang dikembangkan oleh F.P. Robinson pada tahun 1970. SQ3R sendiri kependekan dari Survey, Question, Read, Recite, dan Review (survey, pertanyaan, membaca, menceritakan, meninjau). Menurut (Suyatno,2009), metode  pembelajaran kooperatif tipe SQ3R adalah metode pembelajaran yang menggunakan strategi membaca dengan menugaskan peserta didik membaca bahan belajar secara seksama.Video merupakan media Audio visual yang menampilkan gerak (Sadiman, 2008:74). Sedangkan video pawarta yang digunakan penulis merupakan video pembelajaran yang telah dibuat sendiri dengan mengunduh dari berbagai sumber internet yang relevan dengan materi, kemudian oleh penulis diedit dibuat semenarik mungkin agar  memudahkan siswa dalam belajar dimana saja dan kapan saja.

       Adapun langkah pembelajarannya yaitu: 1) Tahap persiapan, guru membuat, menyiapkan video dan sarana parasarana pembelajaran yang dibutuhkan. 2) Guru membuka pembelajaran tatap muka terbatas dengan mengecek kehadiran, kemudian menyampaikan tujuan pembelajaran serta proses pembelajaran yang akan dilaksanakan. 3) Guru mulai menyampaikan poin-poin materi sambil menayangkan video pembelajaran berupa video pawarta. 4) Tahapan survey, guru meminta siswa untuk untuk melihat tayangan video dengan seksama kemudian merangkum poin-poin penting. 6) Tahap Question, setelah siswa melihat tayangan video guru membimbing pembelajaran siswa dalam mencermati isi bacaan teks pawarta di buku lks kemudian memberikan petunjuk kepada siswa untuk menyusun pertanyaan-pertanyaan. 7) Tahap Reading, guru meminta siswa membaca buku, majalah, koran, internet atau mencari sumber yang lain secara aktif guna mencari jawaban yang telah dibuat. 8) Tahap Recite, guru memberikan tugas untuk dikerjakan dirumah dengan waktu yang ditentukan. 9) Tahap Review guru membuka ruang tanya jawab dan evaluasi. 10) Di akhir kegiatan,guru mengajak siswa untuk merangkum, memberikan penguatan, motivasi, apresiasi serta menyampaikan perlunya selalu  menjaga kesehatan dan 5M.

       Melalui langkah-langkah pembelajaran metode SQ3R dan video pawarta telah mengajak siswa untuk terbiasa dalam membaca, berpikir kritis dan menguasai materi sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi. Motivasi belajar siswa juga meningkat sehingga berdampak pada penguasaan, pemahaman terhadap materi serta meningkatnya hasil belajar. Peningkatan hasil belajar dapat diketahui saat diadakan ulangan harian pada seluruhan siswa kelas X KKBT dengan jumlah 17 siswa [gelombang pertama pembelajaran tatap muka terbatas], 100% telah mengikuti pembelajaran dengan aktif, disiplin sehingga mereka mampu menguasai, memahami materi serta menjawab soal-soal yang telah diberikan dengan mendapat nilai rata-rata 90 melampaui batas minimal kkm yang ditetapkan. Selain itu peningkatan yang lain berupa meningkatnya siswa dalam membaca buku tentang bahasa jawa.Untuk itu tidak ada salahnya penulis mencoba mengajak para guru untuk mencoba menggunakan metode tersebut.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top