PENGARUH MODERNISASI PENDIDIKAN

Print Friendly and PDF

PENGARUH MODERNISASI PENDIDIKAN

Oleh : Puryanti, S.Pd.SD

SD Negeri Jetis 01, Sukoharjo Jawa Tengah

Puryanti, S.Pd.SD


       Masa pandemi Covid-19 serta era digital membawa banyak perubahan yang terjadi dalam berbagai sektor kehidupan manusia. Sejumlah perubahan terjadi pada dunia pendidikan, pemanfaatan teknologi dan inovasi terbaru, globalisasi yang mempertemukan berbagai masyarakat dunia tanpa sekat, tuntutan dunia karier, dan sebagainya. 

       Adanya berbagai perubahan tersebut menuntut penyesuaian pula dalam bidang pendidikan. Pasalnya, kualitas pengajaran memegang peranan penting dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas. Mau tidak mau, pihak sekolah, guru, serta kalangan yang menghadapi langsung terjadinya perubahan itu memegang peran penting. Berbagai perubahan yang terjadi pastinya menjadi tantangan bagi guru dan pihak sekolah. 

Setiap sekolah memiliki kultur dan lingkungan belajar yang berbeda-beda. Dari keberagaman sifat maupun karakter pihak sekolah pun juga berpengaruh. Ada sekolah yang masih kekurangan murid. Kurangnya inovasi guru dalam mengajar, yaitu guru masih menggunakan metode ceramah. Pihak sekolah yang ditemui menyampaikan keinginan agar sekolahnya lebih baik, maju, dan berkembang, tetapi kurangnya dukungan oleh yayasan. Kurangnya wawasan dan pemahaman informasi terkini seputar perkembangan dunia pendidikan. Seperti belum begitu memahami terkait perubahan kurikulum maupun kebijakan pemerintah mengenai hal tersebut. Agenda sekolah yang terlalu padat.

       Akan tetapi tidak dapat dipungkiri pula ternyata masyarakat dunia secara global telah ikut mempengaruhi iklim pendidikan. Pengaruh modernisasi di berbagai sektor kehidupan telah melahirkan karakter pendidikan yang hampir sama di seluruh dunia, memiliki mempunyai ciri khas tertentu di tiap- tiap Negara. Dalam masyarakat yang sudah maju, proses pendidikan sebagian dilaksanakan dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah dan pendidikan dalam lembaga tersebut merupakan suatu kegiatan yang lebih teratur dan terdeferensiasi. Inilah pendidikan formal yang biasa dikenal oleh masyarakat sebagai ’’Schooling ‘’ (Tilaar : 2003).

       Perkembangan teknologi dan informasi menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan akan mulai tergeser. Sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu. Peran guru tidak akan menjadi satu-satunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan informasi yang mampu memfasilitasi orang untuk belajar. Oleh karena itu aktualisasi partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan sangat diperlukan.

       Bentuk aktualisasi dan pernyataan penyadaran diri masyarakat secara kolektif dapat berupa partisipasinya dalam proses pengambilan keputusan yang berhubungan dengan kebutuhan dirinya dan kelompoknya dalam komunitas yang melingkupinya. Cara-cara kolektif berpartisipasi dalam bermasyarakat bisa teraktualisasikan dalam bentuk musyawarah dan juga terbentuknya institusi lokal oleh masyarakat itu sendiri.

       Langkah lain dalam proses partisipasi masyarakat itu adalah pembentukan kelompok. Melalui kelompok akan dibina solidaritas kerjasama, musyawarah, rasa aman dan percaya kepada diri sendiri Karsidi : 2001). Salah satu cara yang efektif untuk membentuk kelompok adalah melalui pendekatan kepentingan yang sama secara primordial. Dalam kelompok primordial itu, para anggota kelompok akan memperoleh referensi yang sama, Dengan bertolakbelakang dari kelompok primordial, maka para anggota akan merasakan adanya hal-hal baru jika mereka bersedia membandingkannya dengan situasi lama. Ini akan menimbulkan keasyikan dan motivasi sendiri. Melalui kelompok, para anggota akan menyusun program, bekerja secara sistematis serta bisa merasakan adanya perkemabangan dan kemajuan sebagai hasil kegiatan mereka.

       Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan berbagai variasi cara sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah atau tempat komunitas masyarakat dan lembaga pendidikan itu berada. Kondisi ini menuntut kesiapan para pemegang kebijakan dan manajer pendidikan untuk mendistribusi peran dan kekuasaannya agar bisa menampung sumbangan partisipasi masyarakat. Sebaliknya dari pihak masyarakat juga harus belajar untuk kemudian bisa memiliki kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan.

       Perkembangan teknologi dan informasi menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan akan mulai tergeser. Sekolah tidak lagi menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu. Peran guru tidak akan menjadi satu-satunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan informasi yang mampu memfasilitasi orang untuk belajar. Oleh karena itu aktualisasi partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan sangat diperlukan.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top