MENGENAL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Print Friendly and PDF

MENGENAL PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI

Oleh: Yunestri Widya Haryanti, S.Pd. 

SD Negeri 2 Tepusen, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah


Yunestri Widya Haryanti, S.Pd. 



       Pembelajaran berdiferensiasi merupakan sebuah pembelajaran yang khusus memberikan keleluasan dan kemudahan bagi siswa dalam upaya peningkatan kompetensi serta potensi yang ada pada dirinya dengan mengacu pada kesiapan belajar, minat hingga profil belajar dari masing-masing siswa. Dalam penerapannya, pembelajaran berdiferensiasi tidak selalu berfokus pada pelaksanaan maupun produk dari pembelajaran saja, tapi juga berfokus pada proses serta konten dari pembelajaran tersebut.

       Sehingga jika disimpulkan, pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi bisa diartikan sebagai sebuah proses dalam upaya memberikan pembelajaran yang efektif dengan melalui berbagai cara untuk memperoleh dan memahami informasi baru yang terkait dengan seluruh siswa yang ada di komunitas kelasnya.

       Pada prinsipnya, pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi ini memiliki tujuan agar siswa di dalam ruang kelas dengan karakter serta latar belakang yang beragam dan berbeda bisa tetap mengikuti proses pembelajaran secara efektif.

       Implementasi dari pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi ini tidaklah mudah, karena guru harus mampu menyiapkan beragam materi pembelajaran sekaligus instrumen penilaiannya.

       Meski demikian, bagi peserta didik, penerapan pembelajaran berdiferensiasi juga bisa sangat menguntungkan karena membuat siswa bisa lebih mampu memaksimalkan potensi yang ada pada diri tiap siswa khususnya pada siswa dengan kebutuhan khusus yang memiliki karakter pembelajaran yang sedikit berbeda dengan siswa lainnya. Selain itu, penerapan pembelajaran berdiferensiasi ini juga memicu siswa untuk bersikap lebih aktif karena guru sama sekali tidak memberikan batasan bahan dasar pembelajaran, proses hingga produk yang akan dihasilkan oleh tiap siswa.

       Di sisi lain, pembelajaran berdiferensiasi juga akan membuat siswa semakin giat dalam pembelajaran karena mereka mengalami sekaligus terjun langsung terhadap proses pembelajaran yang sedang mereka pelajari. Namun, di balik kebebasan siswa tersebut, guru juga tetap harus melakukan kontrol dan memberikan tugas melalui lembar kerja yang sama pada tiap siswa di dalam ruang kelas.

       Pembelajaran berdiferensiasi muncul dari kesadaran akan kenyataan bahwa peserta didik mempunyai berbagai perbedaan, baik dalam kemampuan, kepribadian, pengalaman, minat, bakat, bahasa, budaya, sampai gaya belajar. Oleh sebab itu, akan tidak adil jika pendidik menyediakan proses pembelajaran dan penilaian yang sama untuk seluruh peserta didik. Pendidik mesti memperhatikan berbagai perbedaan peserta didik dan berupaya untuk memberikan pembelajaran yang dapat memenuhi kebutuhan belajar peserta didik.

       Tujuan pendidikan Indonesia dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat pendidik, yaitu progretivisme, konstruktivisme, dan humanisme. Aliran progretivisme memandang bahwa kesalahan atau kekeliruan merupakan hal yang wajar karena itu bagian dari proses belajar. Aliran konstruktivisme memandang ilmu pengetahuan tidak bisa ditransfer begitu saja dari pendidik kepada peserta didik. Hal itu karena ilmu pengetahuan bukan sebuah produk jadi, melainkan suatu proses yang bergerak terus-menerus. Oleh karena itu, peserta didik mesti aktif menginterpretasi dan mengonstruksi pengetahuannya sendiri. Aliran humanisme memandang bahwa setiap peserta didik memiliki kekhasan potensi dan motivasi belajar.

       Dengan demikian, dalam proses pembelajaran, peserta didik merupakan subjek yang secara kreatif mampu membentuk pemahamannya sendiri akan suatu pengetahuan. Sedangkan pendidik berperan sebagai teman belajar, motivator, dan pelayan pembelajaran demi mengantarkan peserta didik mencapai tujuannya masing-masing.

       Selanjutnya, berdasarkan aspek sosiologis, konsep pembelajaran berdiferensiasi sesungguhnya telah digagas oleh Ki Hadjar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia. Ki Hadjar Dewantara berpendapat bahwa pendidikan mesti menghargai heterogenitas peserta didik. Setiap perbedaan peserta didik mesti dilayani dengan bijak dan tidak boleh diseragamkan.

       Dalam konsep ZPD, kemampuan peserta didik dibedakan menjadi dua, yaitu kemampuan aktual dan kemampuan potensial. Kemampuan aktual adalah kemampuan nyata peserta didik mengaplikasikan pengetahuannya, sedangkan kemampuan potensial adalah tingkat optimal suatu kompetensi yang akan tercapai apabila peserta didik mendapat dukungan, baik dari pendidik maupun teman belajarnya. Dengan demikian, pendidik mesti menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif untuk mendukung setiap peserta didik mencapai potensi maksimalnya.

       Kemudian, pembelajaran berdiferensiasi juga berdasar pada konsep kecerdasan majemuk. Dalam konsep kecerdasan majemuk, kecerdasan manusia terbagi menjadi delapan, yaitu kecerdasan verbal-linguistik, logis-matematis, spasial-visual, kinestetik-jasmani, musikal, intrapersonal, interpersonal, dan naturalis. Oleh karena itu, proses pembelajaran mesti mempertimbangkan keberagaman kecerdasan yang dimiliki peserta didik dan mendorong peserta didik untuk berprestasi sesuai dengan jenis kecerdasannya.



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top