PJOK DALAM KURIKULUM MERDEKA

Print Friendly and PDF

PJOK DALAM KURIKULUM MERDEKA

Oleh: Sutarmo, S.Pd

SD Negeri 02 Widuri, Pemalang Jawa Tengah


Sutarmo, S.Pd


       Pembelajaran pendidikan jasmani atau yang saat ini dikenal dengan istilah PJOK, sudah diajarkan mulai jenjang pendidikan SD, SMP, dan SMA. Pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas jasmani yang direncanakan secara sistematis bertujuan untuk mengembangkan dan meningkatkan individu secara organik, neuromuskuler, perseptual, kognitif, dan emosional, dalam kerangka sistem pendidikan nasional (Rosdiani, 2013). Salah satu tujuan pendidikan jasmani menurut Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 adalah meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan serta mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggung jawab, kerja sama, percaya diri dan demokratis. Selaras dengan pendapat di atas, Kristiyandaru (2010) menyatakan bahwa tujuan pembelajaran PJOK yakni: 1) memiliki karakter yang kuat; 2) memiliki kepribadian yang kuat; 3) mempunyai kemampuan berpikir kritis, sikap sportif dan mempunyai keterampilan gerak; 4) memahami konsep dan mengisi waktu luang dengan aktivitas jasmani. Pembelajaran ini berorientasi pada pembinaan perilaku hidup sehat. Sehat yang dimaksud bukan hanya sehat secara jasmani tetapi juga sehat secara rohani. 

       Peran guru PJOK sebagai salah satu sumber belajar serta fasilitator pembelajaran tentunya harus merancang model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan sehingga peserta didik dapat mencapai tujuan dari pembelajaran yang diharapkan. Merdeka belajar dalam pembelajaran PJOK salah satunya dengan memberikan kebebasan kepada peserta didik untuk melakukan aktifitasnya tanpa dibatasi dan sesuai dengan kesenangan yang timbul dari peserta didik sendiri dengan menggunakan fasilitas yang telah disiapkan oleh guru untuk membentuk 3 pilar pendidikan jasmani, yakni sikap, pengetahuan dan keterampilan. Pemberian kebebasan beraktifitas bagi peserta didik bukan berarti peserta didik dibiarkan tanpa ada proses perencanaan, monitoring dan evaluasi. Guru berperan untuk membuat rambu-rambu agar sesuai dengan tujuan dari pembelajaran.

      Proses pembelajaran pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan banyak mengalami perubahan sistem mulai dari perubahan kurikulum hingga metode mengajar yang harus dilaksanakan oleh guru.

       Perubahan kurikulum pada umumnya hanya dimaknai pada perubahan materi, jam mengajar, model perangkat dan evaluasi pembelajaran saja oleh guru PJOK. Perubahan tersebut tidak membawa banyak dampak pada kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru meskipun dengan pengalaman kerja yang cukup memadai, baik dari segi latar belakang pendidikan maupun peningkatan keprofesian guru. (Yulianto, 2017:130).

       Tujuan utama dari pencapaian kesehatan yang dimiliki seseorang bukan hanya dari unsur jasmani saja, atau bahkan hanya cenderung kepada prestasi olahraga, melainkan kemampuan seseorang untuk memiliki value (nilai) dalam berpikir kritis, kreatif, mampu beradaptasi dengan cepat, bekerja sama, pengendalian diri, disiplin, jujur, tidak mudah menyerah dan sebagainya, yang ditanamkan atau dibentuk melalui aktivitas jasmani. Nilai-nilai tersebut akan muncul dalam perilaku keseharian, dan masyarakat awam akan menyebut sebagai karakter.

       Karakter yang lain dapat dikembangkan melalui pemberian tugas gerak yang dapat dilakukan di rumah. Peserta didik diberikan tugas untuk mencatat aktivitas fisik harian yang dilakukan dalam satu minggu. Peserta didik diberikan kebebasan untuk menentukan bentuk latihan, dengan memperhatikan frekuensi, intensitas dan durasi dalam beraktivitas. Beberapa karakter yang muncul dalam penugasan ini adalah: 1) Kemandirian, ditunjukkan dengan kemampuan peserta didik untuk memilih dan menentukan bentuk Latihan. Guru memberikan literasi fisik dan peserta didik mampu memilih jenis aktivitas yang digemari. Kemandirian peserta didik juga memiliki peranan yang penting dalam mencapai tujuan PJOK. Pola berpikir menjadi hal utama yang berhubungan langsung dengan kinerja yang dihasilkan oleh peserta didik (Maksum, 2020) ; 2) Kedisiplinan, ditunjukkan dengan sikap disiplin melakukan aktivitas fisik sesuai dengan aturan yang telah ditentukan (misalnya minimal 3x dalam Seminggu, pemanasan sebelum beraktivitas dan pendinginan setelah aktivitas); 3) Kejujuran, ditunjukkan dengan kesesuaian dalam mencatatkan apa yang telah dilakukan pada daftar catatan aktivitas harian. Walau tidak ada guru atau orang lain tetapi peserta didik dengan jujur mencatat sesuai dengan apa yang telah dilakukan. Dan masih banyak nilai karakter lain yang dapat dikembangkan. Oleh sebab itu penanaman karakter menjadi hal yang terpenting dalam proses penerapan merdeka belajar untuk mencapai tujuan dari pembelajaran PJOK.

      Guru PJOK perlu lebih banyak mengembangkan kegiatan pembelajaran yang menarik dan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menampilkan nilai karakter yang diharapkan. Menerapkan literasi fisik untuk aktif bergerak bagi kehidupan sepanjang hayat.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top