Edukasi Perlindungan dan Keselamatan Diri Anak oleh Sahabat KAPAS dan KESATRIA ANAK untuk Siswa-Siswi di SLB B Pawestri Jaten Karanganyar

Print Friendly and PDF

Sahabat Kapas dan Kesatria Anak untuk memberikan edukasi perlindungan dan keselamatan diri anak kepada anak-anak disabilitas tuli. 


Edukasi Perlindungan dan Keselamatan Diri Anak oleh Sahabat Kapas dan Kesatria Anak untuk Siswa-Siswi di SLB B Pawestri Jaten Karanganyar


Karanganyar- majalahlarise.com -Indonesia sedang mengalami darurat kekerasan seksual terhadap anak. Kekerasan pada anak sudah masuk dalam tahap darurat dan mengkhawatirkan. Kondisi ini dipicu faktor kompleksitas kekerasan pada anak yang semakin meningkat. Bahkan kekerasan pada anak juga menimpa banyak anak dari kelompok disabilitas. Sentra Advokasi Perempuan, Disabilitas, dan Anak (SAPDA) mencatat, sepanjang tahun 2022 terdapat 81 kasus kekerasan berbasis jender disabilitas (KBJD) yang terlaporkan. Temuan ini dikumpulkan oleh SAPDA bersama 25 lembaga pengada layanan di delapan provinsi di Indonesia. Secara rinci, 31 kasus kekerasan seksual dialami penyandang disabilitas rungu-wicara, 22 kasus dialami penyandang disabilitas intelektual, dan 14 kasus dialami penyandang disabilitas mental. Mayoritas korban merupakan perempuan dengan jumlah 76 orang, sedangkan sisanya laki-laki. Adapun usia korban paling banyak antara 15-19 tahun (Kompas.id, 10/4/2023).

Merujuk pada data diatas, kelompok disabilitas tunarungu menempati urutan pertama dalam hal jumlah korban kekerasan. Tidak dapat dimungkiri, kelompok disabilitas merupakan kelompok yang paling rentan mengalami kekerasan seksual, terutama pada perempuan meskipun laki-laki juga dapat menjadi korban. Kerentanan ini disebabkan perempuan masih dianggap subordinasi laki-laki sekaligus obyek seksual pada masyarakat yang patriarki. Maka dari itu, sudah semestinya setiap anak berhak untuk dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi termasuk anak-anak dengan disabilitas tuli di SLB B.

Komitmen, kerjasama, dan kolaborasi berbagai pihak dibutuhkan karena kepedulian terhadap pencegahan dan penghapusan kekerasan terhadap anak sangat dibutuhkan. Sahabat Kapas berkolaborasi dengan Kesatria Anak melalui program Menjaga Kota Menjaga Kita yang didukung oleh UCF (Urban Citizenship Fund) mengusung sebuah program kegiatan sebagai upaya pencegahan kekerasan terhadap anak. Program kegiatan tersebut berjudul Edukasi Perlindungan Diri dan Keselamatan Diri Anak. Kegiatan tersebut dilakukan pada Jumat, 23 Februari 2024 sekitar pukul 08.00 sampai selesai yang bertempat di SLB B Pawestri Jaten Karanganyar. 

Baca juga: Buktikan Energi Angin, Murid SD Muh PK Solo Membuat Kincir Kertas

Pihak yang terlibat dalam kegiatan sejumlah 5 orang  fasilitator, 5 orang co-fasilitator, dan sejumlah (jumlah siswa-siswi yang terlibat) siswa dan siswi yang bersekolah di SLB B tersebut dari tingkat TK hingga SMA.

Beberapa aktivitas dalam kegiatan yang dilakukan yaitu dongeng dengan metode pantomim, edukasi tentang bagian tubuh privat dan cara melindunginya menggunakan poster bergambar, mewarnai gambar, memberikan stiker pada bagian tubuh privat dalam gambar yang sudah diwarnai, dan menggunting gambar. Peserta juga diajak untuk melihat dan mempraktikkan gerakan tolak, teriak, lari, dan lapor dari kartu TOTELALA sebagai upaya-upaya melindungi diri dari kekerasan; terutama kekerasan seksual.

Program kegiatan yang dilakukan dalam rangka upaya pencegahan kekerasan oleh Sahabat Kapas bersama Kesatria Anak yang didukung oleh UCF ini bukan merupakan kegiatan yang pertama kali dilakukan karena sebelumnya sejak bulan Oktober 2023 sampai Januari 2024 sudah terlaksana sebanyak 4 kali kegiatan berupa Children Workshop dan Festival Dongeng di beberapa tempat yang berbeda dengan beragam peserta dari tingkat usia yang berbeda pula.

Fuji Harjanti S.Pd selaku Kepala Sekolah SLB B Pawestri mengatakan sekolah menyambut baik inisiatif dari Sahabat Kapas dan Kesatria Anak untuk memberikan edukasi perlindungan dan keselamatan diri anak kepada anak-anak disabilitas tuli. Kegiatan keselamatan dan perlindungan ini merupakan yang kegiatan yang pertama kali diadakan di SLB. 

"Harapannya, kegiatan dapat bermanfaat untuk meningkatkan kesadaran siswa-siswi SLB terhadap bahaya kekerasan seksual sekaligus menjadi pencegahan agar kasus kekerasan seksual juga tidak sampai terjadi di lingkup SLB," tuturnya. (Sofyan)

Baca juga: Komunitas Belajar Sekolah Pinggiran (KoSP) Kabupaten Wonogiri Selenggarakan Kegiatan Berbagi Praktik Baik


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top