KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS 1

Print Friendly and PDF

KEMAMPUAN MEMBACA PERMULAAN SISWA KELAS 1

Oleh: Mandha Ully Hafsari, S.Pd.

SD Negeri 3 Banjarsari, Kecamatan Kradenan, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah 


Mandha Ully Hafsari, S.Pd.


       Kemampuan membaca permulaan merupakan bekal yang sangat penting dimiliki semua orang untuk menambah pengetahuan dan juga wawasan. Melalui membaca siswa dapat menambah kosakata, menambah kemampuan siswa dalam berbicara, menambah motivasi, kreativitas dan juga berpengaruh pada karakter perkembangan siswa. Keterampilan membaca merupakan aspek yang tidak luput dari kehidupan sehingga kemampuan membaca dikatakan penting karena siswa berkaitan secara langsung pada seluruh proses pembelajaran yang ada di sekolah (Rahman & Haryanto, 2014).

       Membaca permulaan adalah membaca teknis yang diajarkan pada siswa kelas rendah yang mana lebih menekankan pada upaya guru untuk menjadikan siswa lebih mengenal dan mengubah lambang-lambang seperti: huruf, suku kata, kata, serta kata yang terdapat pada teks tulisan sederhana dan bermakna (Rahman & Haryanto, 2014). Sedangkan menurut (Pratiwi et al., 2014), membaca permulaan merupakan salah satu aspek keterampilan berbahasa yang dilaksanakan pada tahun pertama dan kedua untuk jenjang sekolah dasar. Pada tingkat membaca permulaan mula-mula siswa dituntut untuk mengenal bahasa tulis dan menyuarakan lambang-lambang bunyi dalam bahasa. Maka dalam hubungan ini peran guru sangat penting dalam merencanakan, melaksanakan dan mengetahui program seperti apa yang dapat menumbuhkan cara belajar siswa pada pembelajaran bahasa Indonesia khususnya pada hal membaca permulaan.

       Membaca merupakan suatu aktivitas yang dilakukan untuk mendapatkan sebuah informasi, memperoleh ilmu dan pengetahuan serta pengalaman-pengalaman baru. Pada hakikatnya, aktivitas membaca terdiri dari dua bagian, yaitu membaca sebagai proses dan membaca sebagai produk. Membaca sebagai proses mengacu pada aktivitas fisik dan mental. Sedangkan membaca sebagai produk mengacu pada konsekuensi dari aktivitas yang dilakukan pada saat membaca (Puji Santosa dkk, 2005: 6.3).

       Kegiatan membaca merupakan aktivitas yang unik dan rumit, sehingga seseorang tidak dapat melakukan hal tersebut tanpa mempelajarinya, terutama anak usia sekolah dasar yang baru mengenal huruf atau kata-kata. Problem umum yang dihadapi anak dalam membaca adalah pada pelaksanaan pengajaran membaca, guru sering kali dihadapkan anak yang mengalami kesulitan, baik yang berkenaan dengan hubungan huruf, suku kata, kata, kalimat sederhana, maupun ketidakmampuan anak memahami isi bacaan.

       Membaca merupakan proses pengolahan bacaan secara kritis kreatif dengan tujuan memperoleh pemahaman secara menyeluruh tentang suatu bacaan, serta penilaian terhadap keadaan, nilai, dan dampak bacaan. Kegiatan membaca merupakan aktivitas mental memahami apa yang disampaikan penulis melalui teks atau bacaan.

       Membaca Permulaan merupakan tahapan proses belajar membaca bagi siswa sekolah dasar kelas awal. Siswa belajar untuk memperoleh kemampuan dan menguasai teknik-teknik membaca dan menangkap isi bacaan dengan baik. Oleh karena itu guru perlu merancang pembelajaran membaca dengan baik sehingga mampu menumbuhkan kebiasaan membaca sebagai suatu yang menyenangkan.

       Pada tingkatan membaca permulaan, pembaca belum memiliki keterampilan kemampuan membaca yang sesungguhnya, tetapi masih dalam tahap belajar untuk memperoleh keterampilan atau kemampuan membaca. Membaca pada tingkatan ini merupakan kegiatan belajar mengenal bahasa tulis. Melalui tulisan itulah siswa dituntut dapat menyuarakan lambang-lambang bunyi bahasa tersebut, untuk memperoleh kemampuan membaca diperlukan tiga syarat, yaitu kemampuan membunyikan: Lambang-lambang tulis, Penguasaan kosakata untuk memberi arti, dan memasukkan makna dalam kemahiran bahasa.

       Pelaksanaan membaca permulaan di kelas I sekolah dasar dilakukan dalam dua tahap, yaitu membaca periode tanpa buku dan membaca dengan menggunakan buku. Pembelajaran membaca tanpa buku dilakukan dengan cara mengajar dengan menggunakan media atau alat peraga selain buku misalnya kartu gambar, kartu huruf, kartu kata dan kartu kalimat. Pembelajaran membaca dengan buku merupakan kegiatan membaca dengan menggunakan buku sebagai bahan pelajaran.

       Dalam pembelajaran membaca permulaan ada beberapa metode yang digunakan antara lain: Metode Eja, Metode Bunyi dan Abjad, Metode Suku Kata dan Metode Kata, Metode Global, Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik).

       Penggunaan model pembelajaran dan media sangat membantu dalam pengajaran membaca permulaan bagi siswa kelas satu SD merupakan hal yang mutlak diperlukan, anak kelas satu SD yang pada umumnya baru berusia enam tahun masih berada pada taraf berfikir konkret, yaitu anak akan mudah mengenali hal-hal yang bersifat nyata. Disamping itu, dengan alat bantu yang digunakan oleh guru secara bervariasi akan membangkitkan minat siswa dalam mengikuti pelajaran.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top