Semangat Bagi Calon Pertani Milenial, Fakultas Pertanian Unisri Gelar Kuliah Lapangan

Print Friendly and PDF

 

Mahasiswa mengikuti kuliah lapangan di Rumah Tani desa Ngampel, Gentungan, Mojogedang, Kabupaten Karanganyar.

Semangat Bagi Calon Pertani Milenial, Fakultas Pertanian Unisri Gelar Kuliah Lapangan

Solo- majalahlarise.com -Mahasiswa Fakultas Pertanian (FP) Universitas Slamet Riyadi (Unisri) konsisten melaksanakan kuliah dengan sistem Merdeka Belajar Kampus merdeka (MBKM). Mahasiswa mengikuti kuliah lapangan di Rumah Tani desa Ngampel, Gentungan, Mojogedang, Kabupaten Karanganyar. Jumat (31/5/2024).

Dalam kegiatan ini sebanyak 26 mahasiswa belajar tentang seluk beluk pertanian organik, khususnya pada tanaman padi bersama dengan Hasim Ashari, petani senior yang diakui berpengalaman di bidang pertanian organik. 

Saat ini minat generasi muda di bidang pertanian menurun, meskipun disadari bahwa semua orang bergantung pada hasil kerja pertanian. Dalam arti luas pertanian meliputi perkebunan, perikanan, kehutanan, peternakan dan terapannya dalam menopang kehidupan  sehari-hari. Kuliah lapangan ini bertujuan untuk menyadarkan mahasiswa FP Unisri sebagai calon petani milenial yang murah hati kepada banyak orang, menyediakan bahan pangan setiap waktu. Mahasiswa dibuka wawasannya untuk optimis terhadap masa depan. 


Baca juga: Siapkan Purwarupa Produk Unggulan, Prodi Keris ISI Solo Selenggarakan Workshop Bersama Ethnic Indonesia

Hasim Ashari banyak memberi motivasi kepada mahasiswa untuk optimis menetap masa depan, bekerja dengan sepenuh hati, karena tidak ada yang sia-sia terhadap semua yang dilakukan.

Dalam acara tersebut mahasiswa diingatkan akan menjadi apa setelah lulus nanti. Mereka dihimbau untuk tetap terjun di bidang pertanian, khususnya pertanian organik. Disampaikan banyak hal termasuk kondisi nyaman yang akan dirasakan sebagai petani yang jarang diekspos di media sosial. Ada beberapa contoh petani muda yang sukses tetapi tidak menonjolkan diri.

Pertanian organik dapat langsung disatukan dengan peternakan. Ini merupakan ide baru, memelihara ternak sapi atau kambing langsung di lahan pertanian tanpa kandang, sehingga jerami dan kotoran langsung menjadi bahan pupuk organik. Mahasiswa antusias mengikuti kuliah di tempat yang terbuka ini, di dekat lahan sawah dengan hamparan padi yang hijau. Bagi mahasiswa hal ini menarik karena merupakan hal baru, suasana baru dan disampaikan dengan menarik. 

Berdasarkan pengalaman atau fakta sebagai petani yang sesungguhnya, Hasim banyak bercerita tentang tantangan dan kebahagiaan sebagai petani. Pertanian organik mempunyai masa depan cerah karena kebutuhan yang makin meluas. Organisasi para petani organik, misalnya Asosiasi Petani Organik Karanganyar Tentram (Apokat) berperan memudahkan membantu pemasaran semua produk pertanian organik. 

Kuliah lapangan dimulai dengan mengenalkan terbentuknya kelompok tani Tani Mulyo 1 tahun 2009, yang terus berkembang dan mendapat banyak relasi dan prestasi. Kelompok tani Mulyo sudah pernah dikunjungi sebagi sumber belajar bagi petani dari beberapa propinsi dan kementerian maupun pejabat negara. 

Mahasiswa terlibat dengan bertanya dan diskusi. Salah satu mahasiswa punya pengalaman mengatasi tikus dengan burung hantu. Nasehat untuk menjalin relasi untuk menjamin pemasaran, juga diberikan. Disampaikan bahwa harga beras mentik organik di tingkat petani per kilo berkisar Rp 13.000,- sampai Rp 15.000, - untuk kualitas baik, tetapi harganya akan melambung apabila dijual di supermarket.  Ternyata mata rantai pemasaran beras sangat panjang. Sebelum panen petani sudah didatangi tengkulak atau pemilik modal yang memberi harga rendah karena kebutuhan uang. Lingkaran keruwetan ini sampai sekarang belum terurai. Mahasiswa didorong untuk menjual secara on line karena para mahasiswa menguasai teknologi informatika. Mahasiswa diberi contoh untuk membentuk Pusat Pelatihan Pertanian Pedesaan Swadaya (P4S) di tempat asal masing-masing yang dapat digunakan untuk mendapatkan dukungan dana atau modal. 

Pada kesempatan tersebut juga diisi sharing dari petani muda yaitu Cholik, ketua Taruna Tani desa Gentungan. Dia mengharapkan mahasiswa tidak gengsi menjadi petani. Mahasiswa diharapkan tidak merasa keblasuk setelah memilih menjadi calon Sarjana pertanian. 

"Anak muda diharapkan memiliki usaha pertanian, sebagai sambilan, karena omset dan keuntungannya sangat menjanjikan. Artinya sebagai petani milenial tantangan, pilihan sangat luas asal dengan kemauan yang sungguh-sungguh akan berhasil. Artinya mahasiswa perlu langsung praktek dalam kehidupan sehari-hari, mulai dengan menanam," terangnya.

Acara diakhiri dengan pemberian cindera mata oleh Dr. Dra. Sumarmi, MP selaku dosen pembimbing kepada para narasumber dilanjutkan foto bersama. Pesan-pesan untuk semangat dan terus belajar juga disampaikan supaya berhasil dan segera mendapatkan pekerjaan di bidang pertanian. (Sofyan)

Baca juga: HMPS PG PAUD Gelar Workshop Muppet Fun And Crafting



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top