Dosen ISI Surakarta dan Komunitas Nunggaksemi Sukoharjo Kembangkan Produk Sulam Benang Logam

Print Friendly and PDF

Ibu-ibu anggota Komunitas Nunggaksemi, Parangjoro, Sukoharjo mengikuti pelatihan pengembangan produk sulam benang logam.


Dosen ISI Surakarta dan Komunitas Nunggaksemi Sukoharjo Kembangkan Produk Sulam Benang Logam

Sukoharjo- majalahlarise.com -Ibu-ibu anggota Komunitas Nunggaksemi, Parangjoro, Sukoharjo mengikuti pelatihan pengembangan produk sulam benang logam, Sabtu (26/8/2023). Pelatihan ini merupakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) tiga dosen ISI Surakarta bekerja sama dengan Komunitas Nunggaksemi. Melalui pelatihan ini, diharapkan dapat mengembangkan sekaligus meningkatkan pemberdayaan aset kreatif di Parangjoro, Sukoharjo.

Tiga dosen ISI Surakarta yang terdiri dari Mohammad Ubaidul Izza, M.Sn., Danang Priyanto, M.Sn., dan M.Harun Rosyid Ridlo, M.Sn. memandang sulaman ini sebagai aset kreatif yang perlu dikembangkan agar tidak tergerus dan hilang. Maka dari itu, Izza selaku ketua program pengabdian ini mengungkapkan bahwa dalam pelatihan ini tidak hanya mengajarkan para peserta menyulam. Lebih dari itu juga mengembangkan hasil sulaman menjadi produk fashion yang lebih beragam. 

Sulam benang logam juga dikenal dengan nama payet biasanya disatukan dengan busana pernikahan di Surakarta. Detail hasil sulaman dan keindahan corak maupun motifnya lah yang menjadi kekuatan sulaman ini. Selain itu, sulaman ini hanya bisa dikerjakan secara manual sehingga membutuhkan ketrampilan detail sulam yang tak mudah. Hal ini pula yang menjadi nilai lebih sulaman dengan menggunakan bahan logam ini.

Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) dosen ISI Surakarta saat foto bersama Ibu-ibu anggota Komunitas Nunggaksemi, Parangjoro, Sukoharjo usai pelatihan.

Baca juga: Unisri Laksanakan FGD Pentingnya Mitigasi Bencana Berbasis Komunitas

Hasil sulaman ini pun diaplikasikan ke berbagai produk aksesoris fashion seperti tas, totebag, clutch, pouch, peci, headband, dompet, id card dan card holder, tas keris, serta masih banyak lagi. Tidak hanya itu, jika motif sulam benang logam ini biasanya berbentuk ornamen, dalam pelatihan ini mencoba hal berbeda. Motif yang dihasilkan dalam pelatihan ini tidak hanya diambil dari motif batik, tetapi juga didesain berdasarkan hal-hal iconic Sukoharjo. Misalnya, mulai dari citra jamu gendong, tugu tani, bata Kartasura, tugu adipura, motif goyor, hingga industri alat musik gitar.

Dalam pelatihan ini dihadiri pula Kepala Desa Parangjoro, Hardiman, dan Ketua Komunitas Nunggaksemi, Adik Wibowo. Dalam sambutannya, keduanya berharap ke depan semakin banyak kerja sama serupa untuk lebih memajukan aset kreatif Parangjoro. Tidak hanya sebatas kemampuan sulaman saja, namun ke berbagai kemampuan lainnya. 

“Pihak akademisi dapat membantu meningkatkan produk-produk lokal baik dalam hal ketrampilan serta pemasaran. Adapun pemasaran digital adalah teknik pemasaran yang dibutuhkan masyarakat dengan daya upaya untuk bisa menguasai”, ungkap Hardiman.

Tim PPM ISI Surakarta menyampaikan ucapan terima kasih kepada Kepala Desa Parangjoro, Ketua dan Anggota Komunitas Nunggaksemi, mahasiswa KKN ISI Surakarta, serta pihak media yang berkenan membantu publikasi kegiatan ini.(humasisiska/ Sofyan)

Baca juga: Menjadi Mahasiswa Berkarakter dan Terampil Berwirausaha Abad XXI  


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top