Ziarah Agung Mbah Kyai Nur Suhud, Rawat Jejak Dakwah Ulama Keraton Kartosura di Nguter

Print Friendly and PDF



Ziarah Agung Mbah Kyai Nur Suhud, Rawat Jejak Dakwah Ulama Keraton Kartosura di Nguter

SUKOHARJO – majalahlarise.com – Warga Nahdlatul Ulama (NU) dari berbagai wilayah di Kabupaten Sukoharjo berduyun-duyun mendatangi kompleks Makam Kedungkembang, Desa Kedungwinong, Kecamatan Nguter, Minggu (4/10/2026). Kehadiran mereka untuk mengikuti Ziarah Agung Makam Mbah Kyai Nur Suhud yang menjadi bagian dari rangkaian kegiatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026.

Penyelenggaraan Ziarah Agung tersebut mendapat dukungan penuh dari Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Nguter bersama jajaran ranting dan badan otonom NU se-Kecamatan Nguter.

Ziarah Agung tidak hanya menjadi momentum doa dan penghormatan kepada ulama terdahulu, tetapi juga menjadi sarana mengenang jejak perjuangan dakwah Mbah Kyai Nur Suhud yang memiliki keterkaitan dengan sejarah perkembangan Islam di wilayah Nguter dan sekitarnya.

Rais Syuriah PCNU Sukoharjo, KH. Dr. Abdullah Faishol, M.Hum., dalam penyampaian sejarah Mbah Kyai Nur Suhud menjelaskan, ulama tersebut merupakan salah seorang ulama Keraton Kartosura yang datang ke wilayah Nguter pada abad ke-17 setelah peristiwa Geger Pecinan.

Menurutnya, Mbah Kyai Nur Suhud datang ke wilayah tersebut untuk berlindung sekaligus tetap menjalankan dakwah Islam kepada masyarakat di sekitarnya.

“Beliau datang ke wilayah ini dalam rangka berlindung diri dan tetap mendakwahkan Islam kepada warga masyarakat di sekitarnya,” jelas KH. Dr. Abdullah Faishol.

Jejak perjuangan dakwah Mbah Kyai Nur Suhud hingga kini masih dikenang masyarakat. Beberapa peninggalan yang dikaitkan dengan perjuangan beliau antara lain Masjid Nur Suhud, sumur Mbah Kyai Nur Suhud, serta manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan.

Masjid Nur Suhud oleh masyarakat Kedungwinong dikenal dengan sebutan Masjid Tiban karena tidak diketahui secara pasti tahun berdirinya. Keberadaan masjid tersebut menjadi salah satu bagian dari jejak sejarah dakwah Islam yang berkembang di wilayah Kedungwinong.

Sementara itu, manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan juga menjadi salah satu peninggalan yang masih mendapat perhatian masyarakat. Pengasuh Madrasah Diniyah Nur Suhud, Ustadz Alfan Muzakki, menyampaikan adanya kesaksian masyarakat mengenai manuskrip tersebut yang pada waktu tertentu disebut memancarkan aroma wangi.

“Manuskrip Al-Qur'an tulisan tangan ini menjadi salah satu peninggalan yang terus dijaga dan dihormati oleh masyarakat,” ungkapnya.

Tradisi mengenang perjuangan Mbah Kyai Nur Suhud juga telah berlangsung dari tahun ke tahun melalui kegiatan haul yang diselenggarakan masyarakat Desa Kedungwinong.

Ketua Tanfidziyah MWC NU Nguter, Ustadz Muhammad Andika, dalam sambutannya sekaligus mewakili panitia penyelenggara menyampaikan, masyarakat Kedungwinong setiap tahun memperingati haul Mbah Kyai Nur Suhud sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa dan perjuangan beliau dalam dakwah Islam.

Ketua Tanfidziyah PCNU Sukoharjo, H. Khomsun NA, S.Ag., M.M., menjelaskan peringatan HSN yang diselenggarakan setiap tahun di Sukoharjo menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kesadaran warga Nahdliyin terhadap jati diri sebagai santri.

Menurutnya, nilai kesantrian perlu terus dirawat oleh warga NU melalui pengenalan, pengamalan, dan pelestarian ajaran Islam Ahlussunnah Wal Jamaah yang diwariskan melalui para kyai.

“Peringatan Hari Santri Nasional ini menjadi upaya untuk menumbuhkan kesadaran akan jati diri sebagai santri bagi seluruh warga Nahdliyin yang mengenal dan mengamalkan Islam ala Ahlussunnah Wal Jamaah melalui para kyai,” jelas H. Khomsun.

Ia juga mengajak masyarakat untuk mengikuti rangkaian kegiatan HSN 2026 berikutnya, yakni Haul Masyayikh NU Sukoharjo yang akan dilaksanakan di Lapangan Desa Tiyaran, Kecamatan Bulu, Sabtu (10/10/2026), pukul 19.30 WIB hingga selesai.

Kegiatan tersebut dijadwalkan menghadirkan KH. Muhammad Yusuf Chudlori, Pengasuh Pesantren API Tegalrejo, Magelang.

Ziarah Agung Makam Mbah Kyai Nur Suhud turut dihadiri Plt. Bupati Sukoharjo, Eko Sapto Purnomo, S.E., beserta jajaran. Sejumlah tamu undangan dari Forum Koordinasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimcam) Nguter juga hadir dalam kegiatan tersebut.

Seluruh rangkaian Ziarah Agung kemudian ditutup dengan dzikir dan tahlil yang dipimpin langsung oleh Rais Syuriah PCNU Sukoharjo, KH. Dr. Abdullah Faishol, M.Hum.

Kegiatan tersebut menjadi momentum bagi warga NU untuk mendoakan para ulama dan pendahulu sekaligus merawat ingatan sejarah perjuangan dakwah Islam di wilayah Sukoharjo. (Zain/ Sofyan)


Baca juga: Kolaborasi Sekolah dan Wali Murid Siap Wujudkan Pembelajaran Digital


Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top