GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Sosialisasi Pengelolaan Sampah, Dwi Jatmiko Kenalkan Wayang Daur Ulang untuk Cegah Kerusakan Lingkungan
![]() |
| Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, mengenalkan wayang berbahan dasar limbah kantong semen. |
Sosialisasi Pengelolaan Sampah, Dwi Jatmiko Kenalkan Wayang Daur Ulang untuk Cegah Kerusakan Lingkungan
SOLO – majalahlarise.com – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan sampah untuk mencegah kerusakan lingkungan dilakukan melalui pendekatan dakwah dan seni budaya. Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, mengenalkan wayang berbahan dasar limbah kantong semen sebagai media edukasi lingkungan sekaligus ajakan mengurangi sampah plastik dan memanfaatkan barang bekas.
Kegiatan bertajuk *Gerakan Kecil untuk Dunia Bebas Sampah Plastik: Sampahku Tanggung Jawabku* ini dilaksanakan melalui kolaborasi dengan SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta di bawah pimpinan Sri Sayekti, serta didukung budayawan berkemajuan Ki Agung Sudarwanto, S.Sn., M.Sn., Rabu (14/10/2026). Kegiatan tersebut mendukung sosialisasi Fatwa MUI Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan.
Dwi Jatmiko menyampaikan apresiasi kepada panitia Akademi Dakwah Digital 1, Kepala SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta Sri Sayekti, dan budayawan Agung Sudarwanto yang turut mendukung kegiatan edukasi tersebut.
“Terima kasih atas tugas dari panitia Akademi Dakwah Digital 1, Kepala Sekolah Sri Sayekti, dan budayawan Agung Sudarwanto dalam rangka mendukung Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan Fatwa Nomor 41 Tahun 2014 tentang Pengelolaan Sampah untuk Mencegah Kerusakan Lingkungan,” ujarnya.
Menurut Dwi, persoalan sampah telah menjadi tantangan nasional karena dampaknya meluas ke berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial, ekonomi, kesehatan, hingga kelestarian lingkungan. Oleh karena itu, pengelolaan sampah membutuhkan kesadaran dan keterlibatan semua pihak, termasuk melalui pendidikan sejak usia dini.
Ia menjelaskan, Fatwa MUI Nomor 41 Tahun 2014 mengingatkan umat Islam mengenai kewajiban menjaga kebersihan lingkungan serta memanfaatkan barang-barang gunaan untuk kemaslahatan. Masyarakat juga perlu menghindari perilaku tabdzir atau menyia-nyiakan sesuatu dan israf atau berlebih-lebihan.
“Setiap Muslim perlu menjaga kebersihan lingkungan, menghindarkan diri dari berbagai penyakit, serta menghindari perbuatan tabdzir dan israf. Pengelolaan sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, melainkan juga bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan,” jelasnya.
Pesan tersebut selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat 222 yang artinya, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang mensucikan diri.”
Bagi Dwi, nilai kebersihan dan kepedulian terhadap lingkungan perlu diwujudkan melalui tindakan nyata. Salah satunya dengan mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menggunakan kembali barang yang masih bermanfaat, serta mengolah limbah menjadi produk bernilai guna.
Dalam kegiatan tersebut, Dwi yang juga merupakan guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Bahasa Arab SD Muhammadiyah 1 Ketelan Surakarta memperkenalkan Wayang SSP atau Wayang Sak Semen Press. Karya seni kriya tersebut memanfaatkan kertas bekas kantong atau sak semen sebagai bahan alternatif pengganti kulit hewan dalam pembuatan wayang.
Wayang SSP memiliki karakteristik tersendiri. Bahan baku utamanya berupa delapan hingga 12 lembar kertas bekas kantong semen yang direkatkan menggunakan lem kayu. Proses pembuatannya diawali dengan membersihkan lembaran kertas, melapisinya dengan lem secara bertahap, kemudian mengepresnya menggunakan papan kayu hingga kering.
Pengeringan dilakukan dengan cara diangin-anginkan tanpa terkena sinar matahari langsung. Setelah bahan siap, proses dilanjutkan dengan pembuatan sketsa, penatahan atau pemahatan detail karakter, hingga penyunggingan atau pewarnaan seperti pada wayang kulit tradisional.
Untuk bagian gapit atau pegangan wayang, pembuat dapat menggunakan material pendukung seperti kayu, misalnya kayu sawo, maupun rotan agar wayang lebih kokoh dan mudah dimainkan.
“Keunggulannya menjadi solusi seni yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan dengan kemiripan tekstur serta kelenturan mencapai sekitar 90 persen menyerupai wayang kulit asli,” beber Dwi.
Pemanfaatan kertas bekas kantong semen sebagai bahan seni memberikan contoh konkret bahwa limbah tidak selalu berakhir sebagai barang yang tidak berguna. Melalui kreativitas dan keterampilan, material bekas dapat diolah menjadi karya seni yang memiliki nilai estetika sekaligus berfungsi sebagai sarana pendidikan.
Pendekatan ini juga membuka peluang pengenalan prinsip penggunaan kembali atau reuse dan daur ulang atau recycle kepada peserta didik. Dengan demikian, edukasi lingkungan tidak hanya disampaikan melalui teori, tetapi juga melalui praktik kreatif yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, budayawan Agung Sudarwanto menyampaikan, dari sudut pandang kebudayaan, edukasi pengelolaan sampah berkaitan erat dengan pembentukan estetika lingkungan dan karakter masyarakat.
Menurutnya, budaya bersih tidak cukup dibangun melalui aturan atau imbauan. Kesadaran tersebut perlu tumbuh menjadi kebiasaan bersama yang didukung rasa memiliki terhadap lingkungan dan ruang publik.
“Budaya bersih juga berkaitan erat dengan estetika dan rasa kepemilikan (sense of belonging) terhadap ruang publik,” ungkap Agung.
Ia menjelaskan, ketika masyarakat dididik untuk bangga terhadap kebersihan daerahnya, perilaku membuang sampah sembarangan dapat dipandang sebagai tindakan antisosial dan sesuatu yang tidak pantas dalam kehidupan bermasyarakat.
Karena itu, integrasi pendidikan lingkungan sejak usia dini dinilai penting untuk membentuk kebiasaan positif yang terus terbawa hingga dewasa. Sekolah, keluarga, dan masyarakat memiliki peran dalam membangun kesadaran bersama agar pengelolaan sampah menjadi bagian dari budaya sehari-hari.
“Ketika masyarakat dididik untuk bangga terhadap kebersihan daerahnya, membuang sampah sembarangan akan dianggap sebagai tindakan antisosial dan tabu secara budaya. Integrasi kurikulum lingkungan sejak usia dini membentuk budaya sadar sampah yang melekat hingga dewasa,” pungkasnya.
Melalui kolaborasi dakwah, pendidikan, dan seni budaya, sosialisasi ini diharapkan mampu mendorong masyarakat untuk memulai langkah sederhana dalam menjaga lingkungan. Pesan "Sampahku Tanggung Jawabku" menjadi pengingat, kebersihan bumi bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau kelompok tertentu, melainkan kewajiban bersama yang dapat diwujudkan melalui kebiasaan sehari-hari.(Sofyan)
Baca juga: PD Salimah Sukoharjo Gelar Rakorda 2025–2030, Perkuat Sinergi dan Prinsip Berorganisasi Islam
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Ziarah Agung Mbah Kyai Nur Suhud, Rawat Jejak Dakwah Ulama Keraton Kartosura di Nguter SUKOHARJO – majalahlarise.com – Warga Nahdlatul Ulam...

Tidak ada komentar: