DKV ACT 12 Angkat Tema Sinambung, Kenalkan Seni Tradisi melalui Wiyata Njawani di Banjarsari Solo

Print Friendly and PDF



DKV ACT 12 Angkat Tema Sinambung, Kenalkan Seni Tradisi melalui Wiyata Njawani di Banjarsari Solo

Surakarta - majalahlarise.com – Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta menggelar praacara (pre-event) DKV ACT 12 bertajuk Wiyata Njawani di Kampung Gebang, RW 016, Kelurahan Banjarsari, Surakarta, Jawa Tengah. Kegiatan yang dimulai pada 17 Oktober 2026 ini menghadirkan pertunjukan gamelan dan lokakarya ecoprint sebagai upaya mengenalkan seni tradisi sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan.

Suasana kegiatan berlangsung meriah ketika anak-anak Sanggar Seni Kampung Njawani memainkan gamelan dengan penuh antusias. Senyum dan canda mereka mewarnai proses belajar seni tradisi yang menjadi bagian dari upaya mendekatkan generasi muda dengan budaya lokal. Selain pertunjukan gamelan, peserta mengikuti lokakarya ecoprint yang mengenalkan pemanfaatan bahan-bahan alami dalam menghasilkan karya kreatif ramah lingkungan.

Praacara ini melibatkan sekitar 20 peserta yang terdiri atas anak-anak Sanggar Seni Kampung Njawani, warga masyarakat, serta mahasiswa DKV ISI Surakarta. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa berupaya membangun hubungan dengan masyarakat sekaligus memperkenalkan potensi seni dan budaya yang tumbuh di lingkungan setempat.

Penanggung jawab kegiatan, Kinaryanti Apriliana Putri, menjelaskan praacara Wiyata Njawani menjadi bagian dari upaya memperkenalkan Kampung Njawani sebagai kampung seni sekaligus mitra dalam penyelenggaraan DKV ACT 12.

“Tujuan pre-event ini untuk memperkenalkan Kampung Njawani sebagai kampung seni dan sebagai mitra DKV ACT 12,” ungkap Kinaryanti.

Selain menghadirkan kegiatan seni dan lokakarya, mahasiswa DKV ISI Surakarta turut berkontribusi melalui perancangan media informasi berupa flyer yang memuat informasi dan potensi Kelurahan Banjarsari. Upaya tersebut menjadi bentuk penerapan keilmuan desain komunikasi visual yang diarahkan untuk memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

Melalui media informasi tersebut, potensi lokal diharapkan semakin dikenal luas. Keterlibatan mahasiswa tidak hanya berfokus pada penyelenggaraan acara, tetapi juga mencakup pemanfaatan desain sebagai sarana komunikasi, publikasi, dan promosi potensi wilayah.

Dosen pembimbing kegiatan, Ipung Kurniawan Yunianto, menjelaskan praacara DKV ACT menjadi sarana untuk mendekatkan peran DKV ISI Surakarta kepada masyarakat, khususnya mitra dari Sanggar Seni Kampung Njawani. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk mengenali dan meningkatkan kepedulian terhadap potensi seni budaya di Kota Solo.

“Melalui pre-event DKV ACT, kami ingin lebih mendekatkan peran DKV ISI Surakarta kepada masyarakat, khususnya mitra dari Sanggar Seni Kampung Njawani. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kepedulian mahasiswa terhadap potensi seni budaya yang tumbuh dan berkembang di Kota Solo,” jelas Ipung.

DKV ACT merupakan perhelatan tahunan yang diselenggarakan mahasiswa Program Studi DKV FSRD ISI Surakarta. Pada 2026, kegiatan ini memasuki penyelenggaraan ke-12 dengan mengusung tema Sinambung.

Tema tersebut membawa semangat keberlanjutan dalam penerapan pemikiran desain untuk mendorong perubahan sosial di tengah masyarakat. Desain komunikasi visual tidak hanya dipandang sebagai sarana menghasilkan karya, tetapi juga sebagai pendekatan untuk membangun komunikasi, memperkenalkan potensi lokal, serta menjawab kebutuhan masyarakat melalui kreativitas mahasiswa.

Melalui tema Sinambung, Prodi DKV ISI Surakarta juga berupaya mengajak generasi muda agar tidak merasa asing dengan budaya di kota sendiri. Pengenalan budaya tidak harus membuat setiap anak muda menjadi pelaku seni, tetapi dapat dimulai melalui pemahaman, apresiasi, dan keterlibatan dalam kegiatan yang mempertemukan mereka dengan tradisi lokal.

Praacara Wiyata Njawani menjadi salah satu langkah untuk mewujudkan tujuan tersebut. Pertunjukan gamelan membuka ruang bagi anak-anak untuk berinteraksi langsung dengan seni tradisi, sedangkan lokakarya ecoprint mempertemukan kreativitas dengan kesadaran terhadap lingkungan.

Keterlibatan masyarakat dan mahasiswa dalam kegiatan ini diharapkan dapat memperkuat hubungan antara perguruan tinggi dan lingkungan sekitar. Kolaborasi tersebut sekaligus menunjukkan peran desain komunikasi visual dalam mendukung pengenalan potensi seni budaya, membangun kepedulian sosial, dan menjaga kesinambungan tradisi di tengah perkembangan zaman.

Melalui rangkaian praacara ini, DKV ACT 12 tidak hanya menjadi ajang publikasi menuju kegiatan puncak tahunan, tetapi juga ruang kolaborasi untuk mempertemukan mahasiswa, komunitas seni, anak-anak, dan masyarakat. Semangat Sinambung diharapkan terus tumbuh melalui kegiatan kreatif yang berakar pada budaya lokal dan memberikan manfaat bagi lingkungan sosial. (Sofyan)



Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top