Wawali Astrid Widayani Apresiasi Peresmian Kantor Pusat Bahasa Mandarin UNS, Dorong Penguatan Kolaborasi Indonesia-Tiongkok

Print Friendly and PDF

 

Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani meresmikan sekaligus meninjau Kantor Pusat Bahasa Mandarin (PBM)/Confucius Institute Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (24/9/2026).


Wawali Astrid Widayani Apresiasi Peresmian Kantor Pusat Bahasa Mandarin UNS, Dorong Penguatan Kolaborasi Indonesia-Tiongkok

Surakarta - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menghadiri peresmian Kantor Pusat Bahasa Mandarin (PBM)/Confucius Institute Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (24/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Utara Javanologi UNS tersebut dirangkai dengan Perayaan Hari Confucius dan Festival Musim Gugur.

Astrid menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Surakarta atas hadirnya kantor baru PBM/Confucius Institute UNS. Ia juga menyambut kedatangan mitra dari Xihua University, para pendidik, mahasiswa, serta mitra dari Tiongkok yang hadir di Kota Surakarta.

“Pemerintah Kota Surakarta menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Universitas Sebelas Maret atas hadirnya kantor baru Pusat Bahasa Mandarin/Confucius Institute ini. Kami juga menyampaikan selamat datang kepada para mitra dari Xihua University, para pendidik, mahasiswa, serta seluruh sahabat dari Tiongkok yang hadir di Kota Surakarta,” kata Astrid.


Confucius Institute UNS merupakan hasil kerja sama UNS dengan Xihua University. Kerja sama kedua perguruan tinggi tersebut dimulai sejak 2018, sebelum Confucius Institute UNS resmi diresmikan pada 11 Maret 2019. Saat diresmikan, Confucius Institute UNS menjadi Confucius Institute pertama di Jawa Tengah dan ketujuh di Indonesia.

Menurut Astrid, keberadaan Confucius Institute tidak sekadar menyediakan ruang pembelajaran bahasa Mandarin. Lembaga tersebut juga menjadi ruang bertemunya pendidikan, kebudayaan, pertukaran pengetahuan, serta hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Tiongkok.

Hal tersebut terlihat dari berbagai program kerja sama yang telah dijalankan, termasuk program pendidikan dan double degree UNS bersama Xihua University. Pada 2026, sebanyak 17 mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok FIB UNS menyelesaikan studi selama dua tahun di Xihua University dan meraih gelar Bachelor of Arts. Pada tahun yang sama, 12 mahasiswa BMKT UNS mengikuti program double degree di Tiongkok.

“Ini tentu menjadi modal penting dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi, memahami budaya, serta membangun jejaring dalam lingkungan global,” ujar Astrid.

Ia menjelaskan, pengalaman belajar di lingkungan internasional memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal langsung masyarakat dan kebudayaan negara lain. Karena itu, pembelajaran bahasa perlu berjalan beriringan dengan pemahaman budaya.

Astrid melihat keberadaan Confucius Institute semakin memperkuat posisi Surakarta sebagai kota pendidikan sekaligus kota budaya yang terbuka terhadap kerja sama internasional.

“Surakarta memiliki ruang yang sangat besar untuk terus mempertemukan berbagai budaya melalui pendidikan, seni, kreativitas, dan pertukaran pengetahuan. Ini yang harus terus kita kembangkan,” katanya.

Ia juga menjelaskan pentingnya akulturasi budaya dalam proses pertemuan masyarakat Indonesia dan Tiongkok. Menurut Astrid, Surakarta memiliki pengalaman panjang dalam mempertemukan budaya Jawa dan Tionghoa dalam kehidupan masyarakat.

“Pertemuan budaya bukan berarti menghilangkan identitas masing-masing. Justru dari pertemuan itu kita bisa saling mengenal, saling menghargai, kemudian melahirkan akulturasi yang memperkaya kehidupan masyarakat,” jelasnya.

Jejak pertemuan budaya Jawa dan Tionghoa tersebut dapat dilihat dalam berbagai tradisi dan kehidupan masyarakat Surakarta. Sejumlah bentuk akulturasi berkembang dalam tradisi Grebeg Sudiro dan Cap Go Meh, kuliner, hingga interaksi sosial masyarakat Jawa dan Tionghoa.

“Nilai-nilai budaya yang kita miliki sebenarnya banyak yang memiliki titik temu. Semangat guyub rukun, gotong royong, kebersamaan dan keharmonisan merupakan nilai yang bisa menjadi ruang bersama dalam pertemuan budaya,” ujarnya.

Perayaan Festival Musim Gugur yang menjadi bagian kegiatan tersebut, menurut Astrid, juga memiliki pesan yang relevan dengan kehidupan masyarakat Surakarta. Tradisi Festival Pertengahan Musim Gugur identik dengan bulan purnama, kebersamaan, keharmonisan, serta berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai.

Ia berharap kegiatan semacam itu tidak berhenti sebagai perayaan budaya, tetapi berkembang menjadi ruang pertukaran dan kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok.

“Kita tidak hanya belajar budaya Tiongkok, tetapi juga harus menjadikan ruang seperti ini untuk memperkenalkan budaya Jawa dan budaya Indonesia kepada masyarakat Tiongkok,” kata Astrid.

Kolaborasi tersebut telah berjalan dalam berbagai bentuk. Salah satunya melalui program pertukaran dan pembelajaran kebudayaan Jawa yang melibatkan mahasiswa Xihua University. Program kolaborasi PBM Confucius Institute UNS dan PUI Javanologi UNS bahkan pernah diikuti 35 mahasiswa Tiongkok untuk mempelajari keris, batik, tari, bahasa dan aksara Jawa, serta kebudayaan Surakarta.

Astrid berharap mahasiswa dan generasi muda Surakarta dapat memanfaatkan keberadaan Confucius Institute. Belajar bahasa Mandarin, menurutnya, bukan hanya tentang kemampuan berkomunikasi, tetapi juga membuka pintu untuk memahami masyarakat dan kebudayaan Tiongkok serta memperluas peluang pendidikan dan pekerjaan.

PBM UNS juga telah mengembangkan jejaring dengan dunia industri. Dalam kegiatan UNS pada 2025 disebutkan sejumlah mahasiswa dan alumni memperoleh kesempatan bekerja di perusahaan yang berada di Batang, Morowali, Palembang maupun di Tiongkok. Selain pendidikan dan kebudayaan, kerja sama tersebut juga diarahkan pada kebutuhan dunia kerja dan industri.

“Ke depan, kami berharap hubungan dan pertukaran antara Surakarta dengan berbagai perguruan tinggi maupun kota dan provinsi di Tiongkok dapat terus berkembang, khususnya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, perdagangan, dan bidang-bidang lain yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Astrid.

Ia berharap peresmian kantor baru tersebut menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi sekaligus memperkuat hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok.

“Semoga peresmian kantor baru ini menjadi awal dari semakin banyaknya program kolaborasi, semakin luasnya pertukaran pengetahuan dan budaya, serta semakin kuatnya persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok,” pungkasnya.(Sofyan)


Baca juga: Univet Bantara Kembali Dipercaya Kelola PPG, Rektor Dorong Lahirkan Guru Profesional Berbasis Hati


Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top