GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Dari Suara Adzan hingga Panggung Seni, Dua Mimpi Besar Dhimas Pandu Aji Aryanata Siswa SMP Negeri 8 Kota Surakarta
![]() |
| Dhimas Pandu Aji Aryanata saat meraih juara 1 lomba MAPSI cabang adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah. |
Dari Suara Adzan hingga Panggung Seni, Dua Mimpi Besar Dhimas Pandu Aji Aryanata Siswa SMP Negeri 8 Kota Surakarta
Surakarta - majalahlarise.com - Suara adzan bagi Dhimas Pandu Aji Aryanata bukan sekadar penanda masuknya waktu salat. Dari lantunan kalimat-kalimat penuh makna itu, tumbuh sebuah perjalanan panjang yang membawanya dari latihan sederhana di rumah hingga menjadi juara adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Siswa kelas 7F SMP Negeri 8 Surakarta itu mulai mengenal dan menekuni adzan sejak duduk di kelas 4 SD. Tidak ada pelatih khusus yang mendampinginya. Di tengah masa pandemi Covid-19, ketika sebagian besar waktunya dihabiskan di rumah, Arya begitu nama panggilannya justru menemukan ruang untuk mengasah kemampuan.
YouTube menjadi salah satu gurunya.
Ia menyimak berbagai lantunan adzan, kemudian mencoba menirukan suara, irama, hingga tekniknya. Salah satu lantunan yang menjadi referensinya adalah adzan Syekh Syabah. Dari sana, Arya belajar sedikit demi sedikit. Tidak sekali dua kali, tetapi berulang-ulang.
Latihan pun menjadi rutinitas. Pagi dan sore hari, suara Arya digunakan untuk berlatih. Ia belajar mengatur napas, menjaga kestabilan suara, sekaligus memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi agar kualitas vokalnya tetap terjaga.
“Kalau latihan biasanya dua kali sehari, pagi dan sore,” ujarnya.
Kerja keras itu kemudian menemukan panggungnya.
Pada 2024, ketika masih duduk di kelas 4 SD, Arya mengikuti lomba MAPSI cabang adzan. Ia berhasil melaju hingga tingkat Provinsi Jawa Tengah yang digelar di Kota Magelang. Hasilnya, ia meraih juara harapan II.
Bagi sebagian orang, capaian tersebut mungkin menjadi sebuah akhir. Bagi Dhimas, justru menjadi awal untuk berlatih lebih keras.
Setahun berikutnya, ketika duduk di kelas 5 SD, ia kembali mengikuti kompetisi adzan tingkat Provinsi Jawa Tengah di Kudus. Kali ini hasilnya meningkat. Dhimas berhasil meraih juara II.
Ia belum puas. Pada 2025, saat kelas 6 SD, Arya kembali berada di arena yang sama. Pengalaman dua tahun sebelumnya menjadi bekal. Ia tampil dengan persiapan lebih matang dan berhasil meraih juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah.
Prestasi itu tidak membuatnya berhenti. Setelah memasuki SMP Negeri 8 Surakarta, semangat berkompetisinya tetap menyala. Ia kembali mengikuti perlombaan mocopat berhasil masuk 20 besar.
Bagi Arya, kemenangan bukan satu-satunya tujuan. Setiap perlombaan menjadi kesempatan untuk mengukur kemampuan dan menemukan bagian yang masih harus diperbaiki.
Menariknya, kemampuan adzan tersebut tidak berhenti di panggung perlombaan. Dhimas juga menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Ia mulai dipercaya menjadi muadzin di masjid.
Pada minggu pertama, ia mendapat kesempatan mengumandangkan adzan salat Jumat di Masjid Dinas Pendidikan Kota Surakarta. Pada minggu kedua dan keempat, ia mengisi adzan di Masjid Nuraini, Mojosongo.
Di tempat-tempat itulah suara yang dahulu dilatih seorang diri di rumah kini didengar oleh jamaah.
Dukungan keluarga dan sekolah menjadi energi tersendiri bagi Dhimas. Putra pasangan Endah Sarianti, S.Pd. dan Aji Pamungkas, A.Md. tersebut mendapatkan dorongan dari orang tua dan guru untuk terus berkembang.
Namun, dunia Arya ternyata tidak hanya berisi lantunan adzan.
Di balik sosok yang tekun berlatih vokal, terdapat anak muda yang juga memiliki kecintaan kuat terhadap seni tradisional.
Ketertarikan itu pula yang menjadi salah satu alasan Arya memilih SMP Negeri 8 Surakarta. Ia melihat perkembangan seni di sekolah tersebut sangat maju. Lingkungan itu membuatnya semakin dekat dengan dunia yang sudah akrab dalam keluarganya.
Sosok guru bernama Radhian menjadi salah satu figur yang menginspirasinya. Guru yang juga seorang dalang tersebut membuat Arya memiliki cita-cita baru yaitu menjadi dalang.
Darah seni memang tidak asing dalam keluarganya. Sang kakek dikenal sebagai sosok yang dituakan di lingkungan seni. Ibunya pernah menekuni seni tari dan bahkan memiliki pengalaman tampil hingga Eropa. Sementara sang kakak aktif berkesenian dan berlatih di Sanggar Gedung Kuning serta Sanggar Minang Padang.
Bagi Arya, seni bukan sekadar kegiatan tambahan. Seni menjadi bagian dari kehidupan yang ingin terus ia pelajari.
![]() |
| Dhimas Pandu Aji Aryanata saat tampil memerankan tokoh Bagong. |
Ia mulai memberi perhatian lebih pada karawitan dan tari. Sejumlah pengalaman tampil pun telah dirasakannya. Ia pernah membawakan Tari Eko Prawiro dan tari Bagong dalam berbagai kegiatan, termasuk di Sanggar Gedung Kuning, Graha Wisata, lingkungan SMP Negeri 8 Surakarta, hingga Loji Gandrung.
Di atas panggung, Arya menemukan kegembiraan yang berbeda. Jika melalui adzan ia belajar mengolah suara dan membangun keberanian, melalui seni ia belajar mengenal budaya sekaligus menjaga warisan leluhur.
Ia memiliki harapan sederhana, tetapi penting: semakin banyak anak muda yang mencintai seni tradisional.
Menurutnya, tari dan karawitan harus tetap hidup meski zaman terus berubah. Generasi muda perlu diberi ruang untuk mengenal, mempelajari, kemudian mengembangkan kesenian daerah dengan cara mereka sendiri.
Lebih jauh, Arya memiliki sebuah gagasan untuk sekolahnya. Ia berharap suatu saat SMP Negeri 8 Surakarta dapat berkembang menjadi sekolah yang memiliki kekhususan di bidang seni, seperti halnya Sekolah Khusus Olahraga (SKO) yang menjadi wadah pengembangan atlet.
“Semoga semakin banyak generasi muda yang mencintai seni tradisional, terutama tari dan karawitan,” harapnya.
Di usianya yang masih belia, Arya sudah memiliki dua mimpi besar yang mungkin terdengar jauh, tetapi justru menjadi kompas dalam langkahnya.
Ia ingin menjadi muadzin di Masjidil Haram. Di saat yang sama, ia juga ingin menjadi dalang.
Dua cita-cita itu seolah berasal dari dua dunia berbeda. Yang satu lahir dari suara adzan dan kecintaan terhadap kehidupan religi. Yang lain tumbuh dari panggung seni, gamelan, tari, wayang, dan tradisi keluarga.
Namun bagi Arya, keduanya memiliki benang merah yang sama yaitu latihan, ketekunan, keberanian untuk tampil, dan kecintaan terhadap apa yang dijalaninya.
Perjalanan Arya masih panjang. Ia baru mengawali masa SMP. Masih ada banyak kompetisi, panggung seni, latihan, kegagalan, dan kesempatan yang akan datang.
Tetapi satu hal sudah terlihat sejak sekarang. Arya tidak sedang sekadar mengejar piala.
Ia sedang membangun dirinya sendiri dengan suara adzan di satu sisi, dan seni tradisional di sisi lainnya.
Dari latihan sederhana di rumah, ia belajar mengejar prestasi. Dari panggung perlombaan, ia belajar percaya diri. Dari keluarga dan guru, ia belajar arti dukungan. Dan dari seni tradisional, ia belajar mencintai akar budayanya.
Kelak, entah suara adzannya bergema di Masjidil Haram atau namanya dikenal sebagai seorang dalang, perjalanan itu akan selalu bermula dari seorang anak yang memilih untuk terus berlatih ketika kesempatan belum tentu datang. Dan Arya memilih untuk tidak berhenti bermimpi. (Sofyan)
Baca juga: CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...


Tidak ada komentar: