CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan

Print Friendly and PDF

Talkshow menghadirkan Djoko Santoso, Branch Manager GRSB Solo – PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI), dengan Mey Merliyana sebagai moderator. 


CSR Inklusi Dorong Dunia Usaha Bangun Ekosistem Seni Disabilitas Berkelanjutan

Surakarta - majalahlarise.com — Upaya membangun ekosistem seni yang inklusif dan berkelanjutan menjadi perhatian dalam talkshow “CSR Inklusi – Dukungan terhadap Kreativitas dan Ekosistem Seni Disabilitas” yang digelar Forkesi Surakarta, Sabtu (5/9/2026).

Talkshow menghadirkan Djoko Santoso, Branch Manager GRSB Solo – PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI), dengan Mey Merliyana sebagai moderator. Diskusi mengangkat tema “Mendorong dunia usaha untuk hadir, berkolaborasi, dan ikut membangun ekosistem seni disabilitas yang berkelanjutan.”

Forum tersebut mendorong perubahan cara pandang dunia usaha terhadap program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR. Dukungan kepada penyandang disabilitas diharapkan tidak berhenti pada bantuan sosial maupun kegiatan seremonial, tetapi berkembang menjadi program pemberdayaan yang memiliki dampak jangka panjang.

Penanda tanganan MoU GRSB-RTI & FORKESI u/CSR Inklusif.


Dalam diskusi, seni dan musik dinilai memiliki potensi besar sebagai media ekspresi, pendidikan, stimulasi, sekaligus pengembangan potensi penyandang disabilitas. Karena itu, dukungan terhadap kreativitas penyandang disabilitas perlu dirancang secara terstruktur melalui instruktur profesional, kurikulum, pendampingan, assessment, evaluasi, serta pengukuran outcome.

Djoko Santoso mengatakan kolaborasi lintas sektor penting dilakukan agar anak berkebutuhan khusus dan penyandang disabilitas memiliki ruang untuk mengembangkan potensi serta kreativitas.

“Yang kita bangun bukan sekadar sebuah kegiatan, tetapi sebuah ekosistem. Dari penerima manfaat, kita ingin melihat mereka tumbuh menjadi individu yang memiliki karya, kesempatan tampil, dan bahkan mampu menjadi bagian dari ekonomi kreatif,” ujar Djoko Santoso.

Menurutnya, keterlibatan dunia usaha dapat menjadi salah satu penggerak terbentuknya ekosistem seni yang memberikan ruang lebih luas bagi talenta penyandang disabilitas. Dukungan tersebut dapat diarahkan pada program yang berkelanjutan, bukan hanya kegiatan sesaat.

Kolaborasi antara dunia usaha, pemerintah, sekolah, rumah sakit, komunitas disabilitas, dan lembaga profesional menjadi salah satu kunci yang dibahas dalam talkshow. Sinergi berbagai pihak diharapkan mampu membuka lebih banyak akses dan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk berkarya.

Momentum tersebut juga diharapkan melahirkan lebih banyak inisiatif serta kemitraan nyata yang memberikan kesempatan kepada talenta disabilitas untuk tampil, mengembangkan karya, dan membangun masa depan yang lebih mandiri.

Tentang PT Rhythm Therapy Indonesia

PT Rhythm Therapy Indonesia (RTI) merupakan lembaga yang mengembangkan pendekatan berbasis musik dan rhythm untuk mendukung pengembangan potensi, kreativitas, dan kemampuan anak berkebutuhan khusus serta menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem seni dan inklusi. (Mas Is/ Sofyan)


Baca juga: Ketika Bayang Menjelma Rupa, Mahabharata Hadir dalam Bahasa Seni Rupa Kontemporer


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top