Tim PISN FSRD ISI Surakarta Hadirkan Wayang Babad Kartasura Berkolaborasi Motion Graphic untuk Edukasi Siswa SD

Print Friendly and PDF

Pagelaran Wayang Babad Kartasura yang dipadukan dengan teknologi motion graphic. Pertunjukan yang digelar di halaman SD Negeri Dadapsari, Surakarta.


Tim PISN FSRD ISI Surakarta Hadirkan Wayang Babad Kartasura Berkolaborasi Motion Graphic untuk Edukasi Siswa SD

SURAKARTA - majalahlarise.com – Tim Program Inovatif Seni Nusantara (PISN) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta menghadirkan inovasi dalam pelestarian seni tradisi melalui pagelaran Wayang Babad Kartasura yang dipadukan dengan teknologi motion graphic. Pertunjukan yang digelar di halaman SD Negeri Dadapsari, Surakarta, Jumat (7/8/2026), menjadi puncak rangkaian Hibah PISN Kemdiktisainstek Tahun 2026 bertajuk Revitalisasi Sejarah Babad Kartasura Melalui Eksistensi Dalang Wanita Lewat Pagelaran Kolaborasi Wayang dengan Motion Graphic.

Berbeda dari pementasan wayang pada umumnya, pertunjukan kali ini mengombinasikan permainan wayang dengan visual motion graphic yang ditayangkan melalui LCD proyektor di balik kelir. Kolaborasi tersebut membuat alur cerita lebih mudah dipahami sekaligus menghadirkan pengalaman menonton yang lebih menarik bagi siswa sekolah dasar.

Lakon Kembang Ngargayasa dipilih sebagai sajian utama. Kisah ini mengangkat tokoh Matah Ati, seorang perempuan pemberani yang melawan ketidakadilan dan memimpin pasukan perlawanan terhadap pribumi yang bersekutu dengan kompeni. Nilai-nilai keberanian, kepemimpinan, dan semangat perjuangan disampaikan melalui bahasa yang sederhana agar mudah dipahami para siswa.

Suasana pertunjukan semakin meriah ketika ratusan siswa bersama-sama menyanyikan lagu-lagu dolanan seperti Wajibe Dadi Siswa dan Kidang Talun. Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir pementasan. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai sesi interaktif yang disiapkan tim penyelenggara.

Dalang sekaligus Ketua Sanggar Wayang Gamelan Sangswara Kartasura, Nia Dwi Raharjo, menjelaskan konsep interaktif sengaja diterapkan agar anak-anak lebih dekat dengan seni wayang.

“Melalui tembang dolanan dan kesempatan bagi siswa untuk memegang wayang secara langsung, kami ingin menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan. Pementasan ini menjadi upaya mengenalkan seni tradisi, khususnya Wayang Babad Kartasura, kepada generasi muda sejak usia sekolah dasar,” jelas Nia Dwi Raharjo.

Pagelaran tersebut merupakan hasil kolaborasi Tim Hibah PISN FSRD ISI Surakarta yang diketuai Basnendar Herry Prilosadoso bersama anggota Ana Rosmiati, Indriati Suci Pravitasari, dan Sri Murwanti, didukung mitra sanggar serta tim mahasiswa. Seluruh rangkaian pertunjukan dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik penonton anak-anak sehingga materi sejarah dapat disampaikan secara edukatif sekaligus menghibur.

Salah satu anggota tim, Ana Rosmiati, mengatakan penggunaan multimedia menjadi alternatif baru dalam memperkenalkan wayang kepada generasi muda.

“Pentas ini bertujuan memberikan alternatif media pengenalan wayang melalui kolaborasi dengan teknologi motion graphic. Kami berharap konsep ini mampu menggabungkan unsur edukasi dan rekreasi sehingga siswa lebih tertarik mengenal budaya. Penggunaan multimedia juga menjadi inovasi agar pertunjukan wayang semakin sesuai dengan segmentasi penonton anak-anak,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala SD Negeri Dadapsari Surakarta, Nuning Harmini, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman menyaksikan wayang dengan sentuhan teknologi menjadi hal baru yang memberikan kesan mendalam bagi para siswa.

“Kami sangat senang karena kegiatan seperti ini baru pertama kali diselenggarakan di sekolah kami. Anak-anak memperoleh pengalaman baru mengenal Wayang Babad Kartasura, bahkan mereka bisa memegang wayang secara langsung. Tayangan motion graphic juga membuat pertunjukan semakin menarik sehingga siswa lebih mudah memahami cerita,” ungkap Nuning Harmini.

Melalui inovasi kolaborasi antara seni pedalangan dan teknologi multimedia, Tim PISN FSRD ISI Surakarta berharap Wayang Babad Kartasura dapat semakin dikenal oleh generasi muda. Pendekatan kreatif tersebut menjadi salah satu upaya revitalisasi budaya lokal agar tetap hidup, relevan, dan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang diwariskan kepada masyarakat. (Sofyan)


Baca juga: Semarak Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 SMPN 2 Giritontro, 648 Siswa Ditempa Jadi Generasi Tangguh dan Berkarakter


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top