SMK Kesehatan Mandala Bhakti Gelar LDK Rohis, Tanamkan Karakter Kepemimpinan Rasulullah

    SOLO – majalahlarise.com – SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) khusus bagi anggota Kerohanian Islam (Rohis) bertepatan dengan peringatan Hari Santri. Kegiatan yang berlangsung di masjid pada Jumat malam (23/10/2026) tersebut mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.

    Kegiatan ini menghadirkan Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, sebagai pemateri. Dalam penyampaiannya, ia mengajak para peserta menjadikan keteladanan Rasulullah SAW sebagai landasan dalam membangun karakter dan jiwa kepemimpinan.

    “Syubbanul yaum rijalul ghad, yang bermakna pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan,” ujar Dwi Jatmiko.

    Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta, Ifwa Mas’udah, S.Farm., Apt., M.M., yang sambutannya diwakili Moh Tobroni, S.Ud., M.Ag., serta Pembina Rohis Bambang, S.Ag.

    Jatmiko menjelaskan, momentum Hari Santri menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk memahami pentingnya nilai-nilai keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi anggota Rohis yang diharapkan mampu menjadi teladan di lingkungan sekolah.

    “Maka inilah momentum bagaimana empat karakter Rasulullah SAW menjadi pengejawantahan keteladanan dalam membangun karakter pemimpin, terutama bagi Rohis di SMK Kesehatan Mandala Bhakti Solo,” ungkapnya.

    Anggota Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Solo itu memaparkan empat sifat Rasulullah SAW yang relevan dengan kepemimpinan modern, yakni siddiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (menyampaikan kebenaran), dan fathanah (cerdas).

    Menurutnya, keempat sifat tersebut perlu diterapkan dalam kehidupan pelajar, baik ketika menjalankan tanggung jawab organisasi, berinteraksi dengan teman, maupun mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.

    Selain membangun karakter pribadi, Jatmiko mengajak para santri memperkuat aset diri, modal sosial (social capital), serta jaringan pertemanan dan kolaborasi. Kemampuan tersebut dinilai penting agar generasi muda dapat mengembangkan potensi sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

    Ia juga mengingatkan peserta mengenai tanggung jawab kepemimpinan yang melekat pada setiap individu.

    “Pentingnya kesadaran sejak dini, seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya,” jelasnya.

    Dalam pemaparannya, Jatmiko menjelaskan jihad santri pada era modern tidak hanya diwujudkan melalui perjuangan fisik, tetapi juga melalui ilmu pengetahuan, akhlak, karya, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

    Menurutnya, tantangan generasi muda saat ini membutuhkan kesiapan karakter dan kemampuan untuk terus belajar. Santri harus melawan kebodohan dengan menuntut ilmu sepanjang hayat, mengatasi kemalasan melalui kedisiplinan, serta menghadapi kemerosotan moral dengan menjaga adab dan memberikan keteladanan.

    Di tengah derasnya arus informasi digital, santri juga dituntut memiliki kecakapan dalam memilah informasi. Sikap kritis, tabayun atau memeriksa kebenaran informasi, serta literasi digital menjadi bekal penting untuk menangkal berita bohong (hoaks) dan ujaran kebencian.

    “Di tengah derasnya arus informasi digital, santri juga harus mampu menangkal hoaks dan ujaran kebencian melalui tabayun serta literasi digital,” urainya.

    Jatmiko turut mengingatkan pentingnya bekerja, berkarya, dan memberikan manfaat bagi masyarakat. Ia mengaitkan pesan tersebut dengan firman Allah SWT dalam QS At-Taubah ayat 105 yang mengajarkan manusia untuk bekerja dan beramal.

    Menurutnya, pena, ilmu pengetahuan, teknologi, dan akhlakul karimah merupakan bekal penting bagi santri untuk mengambil peran dalam membangun masa depan bangsa.

    Menutup materinya, Jatmiko mengutip hadis riwayat Tirmidzi tentang keutamaan menuntut ilmu sebagai motivasi bagi para peserta agar terus belajar dan mengembangkan diri.

    “Barangsiapa keluar untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah (dianggap berjihad) hingga ia pulang,” pungkasnya.

    Melalui kegiatan LDK Rohis ini, SMK Kesehatan Mandala Bhakti Surakarta diharapkan dapat membekali para siswa dengan karakter kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai Islam, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kepedulian sosial sebagai bagian dari persiapan generasi muda menuju Indonesia Emas. (Sofyan)


    Baca juga: Belajar Kegiatan Ekonomi secara Langsung, 66 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Kunjungi Pabrik Roti Ganep’s

    Murid kelas V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan outing class di pabrik dan outlet Roti Ganep’s Solo Tradition.


    Belajar Kegiatan Ekonomi secara Langsung, 66 Murid SD Muhammadiyah PK Solo Kunjungi Pabrik Roti Ganep’s

    SOLO - majalahlarise.com – Sebanyak 66 murid kelas V SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo mengikuti kegiatan outing class di pabrik dan outlet Roti Ganep’s Solo Tradition, Jumat (23/10/2026). Kegiatan bertema “Belajar Kegiatan Ekonomi (Produksi, Distribusi, Konsumsi)” ini memberikan pengalaman belajar secara langsung kepada murid untuk memahami proses kegiatan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari.

    Dalam kunjungan tersebut, para murid mengamati berbagai tahapan kegiatan usaha, mulai dari proses produksi roti di dapur, pengemasan produk, hingga distribusi dan penjualan di toko. Melalui pengamatan tersebut, murid memperoleh gambaran nyata mengenai keterkaitan antara kegiatan produksi, distribusi, dan konsumsi yang selama ini dipelajari di kelas.

    Guru kelas V SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Agus Supardi, mengatakan kegiatan outing class menjadi salah satu upaya menghadirkan pembelajaran yang kontekstual dan bermakna bagi murid. Pembelajaran di luar kelas memberikan kesempatan kepada murid untuk melihat secara langsung penerapan materi pelajaran dalam kehidupan nyata.

    “Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pembelajaran di luar kelas untuk mewujudkan pembelajaran yang bermakna dan nyata,” ujar Agus di sela-sela kegiatan.

    Menurut Agus, pengalaman belajar secara langsung di lingkungan usaha membantu murid menghubungkan materi pelajaran dengan praktik di lapangan. Murid tidak hanya memahami konsep kegiatan ekonomi melalui buku dan penjelasan guru, tetapi juga dapat menyaksikan bagaimana sebuah produk dibuat, dikemas, dipasarkan, hingga sampai kepada konsumen.

    Melalui kegiatan ini, murid juga belajar bahwa setiap tahapan dalam kegiatan ekonomi memiliki keterkaitan satu sama lain. Proses produksi menghasilkan barang yang dibutuhkan masyarakat, distribusi menyalurkan produk kepada konsumen, sedangkan konsumsi menjadi bagian dari pemanfaatan barang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

    Antusiasme murid terlihat sepanjang kunjungan. Mereka mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat proses pembuatan roti serta tahapan yang harus dilalui sebelum produk dipasarkan kepada masyarakat.

    Salah satu murid kelas V, Aqueena Clarabelle Khayla, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut karena dapat memperoleh pengetahuan baru melalui pengamatan langsung di lingkungan usaha.

    “Saya senang sekali dengan kegiatan ini karena dapat belajar langsung tentang kegiatan ekonomi, mulai dari proses pembuatan, pengemasan, hingga pemasaran roti,” ungkap Aqueena.

    Pengalaman tersebut memberikan pemahaman kepada murid bahwa produk yang dijumpai dan dikonsumsi sehari-hari melalui berbagai proses sebelum sampai ke tangan pembeli. Di balik sebuah produk, terdapat tahapan pekerjaan, keterampilan, serta kerja sama yang mendukung keberlangsungan kegiatan usaha.

    SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo berharap kegiatan outing class dapat membantu murid memahami kegiatan ekonomi secara lebih utuh. Pembelajaran secara langsung ini juga diharapkan mampu menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan berpikir kritis, serta penghargaan terhadap proses dan kerja keras di balik setiap produk.

    Melalui pembelajaran yang menghubungkan teori dengan praktik, murid diharapkan semakin mudah memahami materi pelajaran sekaligus mengembangkan wawasan tentang dunia usaha dan aktivitas ekonomi di lingkungan sekitar. (Sofyan)


    Baca juga: Masjid Makmur, Kerja Jadi Berkah: RRI Surakarta Gelar Pengajian Syukuran Renovasi Masjid As-Syiar



    LPPM UNISRI Gelar REFANAS 2026, Perkuat Strategi Raih Pendanaan Riset Nasional

    SOLO - majalahlarise.com – Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta menggelar Refleksi Awal Nasional (REFANAS) 2026 bertema “Akselerasi Pendanaan Riset Nasional: Strategi Jitu Menyusun Proposal Kompetitif (DPPM/BRIN) Menuju UNISRI Unggul” di Ruang Seminar Lantai 3 Gedung B UNISRI, Sabtu (17/10/2026).

    Kegiatan ini diikuti sekitar 157 peserta yang terdiri dari dosen dan peneliti dari berbagai fakultas di lingkungan UNISRI. Melalui kegiatan tersebut, LPPM UNISRI berupaya memperkuat kapasitas dosen dalam menyusun proposal penelitian yang kompetitif agar mampu mengakses pendanaan riset nasional.

    Ketua Pelaksana REFANAS, Josef, menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah bersinergi sehingga kegiatan dapat terselenggara dengan baik. Ia berharap REFANAS menjadi sarana untuk meningkatkan kualitas dan daya saing peneliti di lingkungan UNISRI.

    “Harapan kita, acara REFANAS ini bisa berjalan dengan baik dan lancar. REFANAS kali ini mengambil tema Akselerasi Pendanaan Riset Nasional: Strategi Jitu Menyusun Proposal Kompetitif (DPPM/BRIN) Menuju UNISRI Unggul,” ujar Josef.

    Ia menyebutkan, jumlah peserta yang mencapai sekitar 157 orang menunjukkan keterlibatan dosen dan peneliti dalam upaya meningkatkan kualitas penelitian di lingkungan perguruan tinggi.

    “Harapan kita adalah dengan pelaksanaan REFANAS ini, kita akan menciptakan peneliti-peneliti yang kompetitif dan unggul, sejalan dengan upaya UNISRI menuju unggul,” tambahnya.

    Sementara itu, Rektor UNISRI, Prof. Dr. Sutoyo, M.Pd., menjelaskan pentingnya membangun budaya riset yang berkualitas dan berkelanjutan. Menurutnya, penelitian yang dilakukan dosen perlu menghasilkan manfaat nyata, tidak hanya bagi peneliti dan perguruan tinggi, tetapi juga bagi masyarakat luas.

    “Budaya yang baik ini terus dilakukan dalam rangka upaya meningkatkan kualitas hasil penelitian. Harapannya, hasil penelitian itu berdampak pada diri sendiri, berdampak bagi perguruan tinggi, dan berdampak bagi masyarakat luas,” ungkapnya.

    Rektor juga menjelaskan, UNISRI terus melakukan evaluasi terhadap siklus penelitian, mulai dari seminar proposal hingga seminar hasil. Evaluasi tersebut menjadi bagian dari upaya universitas untuk memastikan para peneliti menjalankan tahapan penelitian sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

    Ia menyampaikan, universitas melakukan penertiban terhadap pelaksanaan penelitian yang tidak sesuai dengan rencana dan ketentuan. Langkah tersebut ditempuh sebagai bentuk pembenahan untuk meningkatkan kualitas tata kelola penelitian sekaligus mendorong tanggung jawab para peneliti.

    “Mudah-mudahan apa yang kita lakukan betul-betul memberikan dampak yang positif. Mulai tahun kemarin, dari tahun ke tahun kita sudah melaksanakan penertiban bagi para peneliti yang tidak *on track*. Tindakan ini bukan tindakan yang kejam, akan tetapi semua itu dalam rangka perbaikan bagi kita semua,” jelasnya.

    Selain memperkuat tata kelola penelitian, UNISRI juga berkomitmen mendorong produktivitas dosen dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan publikasi ilmiah. Dukungan tersebut diharapkan dapat meningkatkan kualitas luaran akademik sekaligus memperkuat daya saing universitas.

    Rektor menyampaikan, universitas berupaya meningkatkan dukungan berupa stimulan atau kompensasi bagi dosen yang berhasil memublikasikan artikel ilmiah pada jurnal terakreditasi nasional maupun jurnal internasional.

    “Universitas memiliki komitmen kuat untuk mendorong para dosen agar bisa produktif dalam penelitian, pengabdian, dan menulis jurnal. Bahkan, tahun depan kita upayakan penghargaan terhadap kompensasi para dosen yang artikelnya dipublikasikan di jurnal-jurnal baik jurnal terakreditasi nasional maupun internasional, kita tingkatkan stimulan,” paparnya.

    Ia juga mengusulkan peningkatan alokasi dana penelitian sebagai bentuk dukungan terhadap produktivitas dosen. Peningkatan dukungan internal tersebut diharapkan dapat berjalan beriringan dengan keberhasilan memperoleh hibah penelitian dari pihak eksternal.

    “Ada nilai positif universitas meningkatkan nilai rupiah. Saya mengusulkan dana penelitiannya ditingkatkan. Harapannya, kita mendapatkan hibah dari luar,” pungkasnya.

    Melalui REFANAS 2026, LPPM UNISRI berharap para dosen dan peneliti semakin memahami strategi penyusunan proposal yang kompetitif, mampu memenuhi persyaratan pendanaan riset nasional melalui DPPM maupun BRIN, serta menghasilkan penelitian yang berkualitas dan berdampak.

    Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari komitmen UNISRI dalam membangun ekosistem penelitian yang produktif, memperkuat budaya akademik, dan mendorong lahirnya peneliti unggul demi mendukung pencapaian visi UNISRI Unggul. (Sofyan)


    Baca juga: Univet Bantara Bekali 30 Calon Wisudawan dengan Program Intensive English for Graduates

    Penutupan sekaligus penyerahan sertifikat Program Intensive English for Graduates (IEG) pada Senin (19/10/2026). 


    Univet Bantara Bekali 30 Calon Wisudawan dengan Program Intensive English for Graduates

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menyelenggarakan penutupan sekaligus penyerahan sertifikat Program Intensive English for Graduates (IEG) pada Senin (19/10/2026). Program ini dirancang untuk membekali calon wisudawan dengan kompetensi bahasa Inggris guna menghadapi dunia kerja dan lingkungan global.

    Program yang dirancang oleh Tim Unit Pelaksana Teknis (UPT) Bahasa Univet Bantara ini mendapat dukungan penuh dari Yayasan Pembina Pendidikan dan Perguruan (YPPP) Veteran Sukoharjo. Pelatihan dilaksanakan secara intensif dalam delapan kali pertemuan dengan melibatkan 30 peserta dari enam fakultas dan program studi Pascasarjana.

    IEG memadukan materi Formal English untuk mendukung kesiapan karier, seperti wawancara kerja dan presentasi, serta Informal English sebagai bekal komunikasi praktis dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan internasional.

    Sebagai proyek percontohan (pilot project), program ini membatasi jumlah peserta. Tingginya minat pendaftar bahkan membuat pendaftaran ditutup lebih cepat dari perkiraan. Melalui program tersebut, lulusan Univet Bantara diharapkan memiliki kepercayaan diri lebih tinggi serta kemampuan bahasa Inggris yang dapat langsung diterapkan dalam dunia kerja.

    Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas ketekunan peserta yang telah mengikuti rangkaian pelatihan. Menurutnya, persaingan dunia kerja saat ini menuntut lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang dapat dibuktikan, tidak hanya mengandalkan ijazah.

    “Sekarang trennya, lulusan tidak cukup hanya menunjukkan ijazah. Di mana pun bekerja, akan ditanyakan kompetensi apa yang menyertai ijazah itu,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, tuntutan pasar kerja, dunia industri, dan dunia usaha menjadi salah satu alasan Univet Bantara menghadirkan program IEG. Kemampuan bahasa Inggris diharapkan menjadi nilai tambah bagi lulusan ketika memasuki dunia profesional maupun membangun jejaring internasional.

    Prof. Farida juga menyampaikan terima kasih kepada YPPP Veteran Sukoharjo yang telah mendanai seluruh kegiatan tersebut. Dukungan yayasan menjadi bagian penting karena program IEG tidak termasuk dalam anggaran operasional rutin kampus.

    Ke depan, Univet Bantara berupaya mengembangkan layanan sertifikasi kompetensi bahasa Inggris berlisensi dan diakui secara nasional sebagai pendamping ijazah. Tim persiapan telah dibentuk dan rencana tersebut akan ditindaklanjuti setelah pelaksanaan wisuda, termasuk melalui pendirian lembaga penyelenggara sertifikasi profesi.

    “Namun, ilmu jauh lebih penting daripada sekadar pengakuan di atas sertifikat,” tegasnya.

    Rektor juga mengungkapkan kebanggaannya karena peserta IEG berasal dari latar belakang usia dan profesi yang beragam. Selain mahasiswa muda, terdapat peserta Pascasarjana yang telah bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) dan kepala sekolah, tetapi tetap memiliki semangat untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris.

    Menurut Prof. Farida, penguasaan bahasa Inggris menjadi kebutuhan penting untuk memperluas komunikasi dan membangun hubungan di tingkat internasional. Meski demikian, kemampuan berbahasa asing perlu berjalan beriringan dengan kebanggaan terhadap bahasa Indonesia yang telah mendapat pengakuan sebagai bahasa internasional.

    Ia turut mengapresiasi Ketua Unit Bahasa dan para dosen pengampu yang telah mempersiapkan serta mendampingi peserta selama pelatihan. Farida berharap pengalaman tersebut menjadi bekal bagi para calon wisudawan untuk terus mengembangkan diri dan berani mengambil peluang.

    “Kalau terlambat, rezekinya sudah diambil orang. Hidup selalu berisiko, jadi kita harus mencari keseimbangan,” tegasnya.

    Sementara itu, Ketua Pembina YPPP Veteran Sukoharjo, Drs. Bambang Margono, M.M., berharap Univet Bantara dapat segera memiliki lembaga sertifikasi kompetensi. Dengan demikian, lulusan tidak hanya membawa ijazah sebagai bukti penyelesaian pendidikan, tetapi juga memiliki dokumen pendukung yang menunjukkan kemampuan profesionalnya.

    Bambang menyampaikan selamat kepada seluruh peserta yang telah menyelesaikan program IEG. Ia mengingatkan agar penutupan pelatihan tidak menjadi akhir dari proses belajar, melainkan titik awal untuk terus meningkatkan kemampuan dan mempersiapkan diri menghadapi persaingan kerja.

    “Ini adalah awal untuk menentukan arah. Kita harus punya kemauan untuk membangun kemampuan,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, kemauan untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi akan membantu lulusan menunjukkan kualitas dirinya ketika memasuki dunia kerja. Kemampuan yang dimiliki diharapkan dapat menjadi pembeda sekaligus meningkatkan kepercayaan dunia usaha dan industri terhadap lulusan Univet Bantara.

    Melalui program IEG, Univet Bantara bersama YPPP Veteran Sukoharjo berupaya memperkuat kesiapan lulusan menghadapi kebutuhan dunia profesional yang terus berkembang. Penguasaan bahasa Inggris, kepercayaan diri, serta kemauan meningkatkan kompetensi diharapkan menjadi modal bagi para lulusan untuk memperluas peluang karier dan membangun jejaring di tingkat nasional maupun internasional. (Sofyan)


    Baca juga: Masjid Makmur, Kerja Jadi Berkah: RRI Surakarta Gelar Pengajian Syukuran Renovasi Masjid As-Syiar

    Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, menyampaikan pentingnya menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah dan ikhtiar untuk meraih keberkahan hidup.


    Masjid Makmur, Kerja Jadi Berkah: RRI Surakarta Gelar Pengajian Syukuran Renovasi Masjid As-Syiar

    Solo - majalahlarise.com – Masjid As-Syiar Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta menggelar pengajian dalam rangka tasyakuran selesainya renovasi masjid, Kamis (22/10/2026). Kegiatan bertema “Memakmurkan Masjid, Meningkatkan Kinerja, Meraih Keberkahan RRI Surakarta” ini menjadi momentum untuk memperkuat nilai spiritual, kebersamaan, dan semangat pengabdian di lingkungan kerja.

    Pengajian tersebut juga bertepatan dengan peringatan Hari Santri Nasional 2026 yang mengusung tema “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”. Kegiatan ini dihadiri Kepala LPP RRI Surakarta sekaligus Pembina Masjid As-Syiar, Iwan Martono, Kepala Bagian Tata Usaha Dian Margawati, para ketua tim, pengelola, pegawai RRI Surakarta, peserta magang, serta warga Kestalan.

    Hadir sebagai penceramah, Dai Champions Standardisasi Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Ustaz Dwi Jatmiko, menyampaikan pentingnya menjadikan pekerjaan sebagai bagian dari ibadah dan ikhtiar untuk meraih keberkahan hidup.

    Menurutnya, keberkahan tidak hanya diukur dari banyaknya harta atau tingginya penghasilan. Keberkahan juga tercermin dari bertambahnya kebaikan dalam diri, keluarga, lingkungan kerja, hingga kehidupan bermasyarakat.

    “Masjid bukan sekadar tempat bersujud, tetapi juga tempat menumbuhkan kejujuran, kedisiplinan, dan semangat pengabdian. Renovasi masjid hendaknya tidak hanya memperindah bangunan, tetapi juga memperkuat iman, mempererat persaudaraan, dan meningkatkan kualitas kinerja,” ujar Dwi Jatmiko.

    Ia menjelaskan, pekerjaan dapat bernilai ibadah apabila dilandasi niat yang ikhlas, dilaksanakan secara profesional, serta memberikan manfaat bagi orang lain. Nilai-nilai tersebut perlu diterapkan dalam setiap tugas dan tanggung jawab, termasuk dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

    “Ketika pekerjaan dilandasi niat yang ikhlas, dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, serta memberikan manfaat bagi sesama, insyaallah akan menghadirkan keberkahan. Mari memakmurkan Masjid As-Syiar, meningkatkan kinerja, dan menjadikan RRI Surakarta sebagai lingkungan kerja yang amanah, profesional, serta membawa kemaslahatan bagi masyarakat,” tuturnya.

    Dwi Jatmiko juga mengajak seluruh keluarga besar RRI Surakarta menjadikan masjid sebagai ruang untuk memperkuat keimanan sekaligus membangun karakter positif dalam kehidupan sehari-hari. Semangat beribadah, menurutnya, perlu berjalan beriringan dengan kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian sosial, dan komitmen memberikan pelayanan terbaik.

    Selesainya renovasi Masjid As-Syiar diharapkan tidak hanya menghadirkan kenyamanan dalam beribadah, tetapi juga memperkuat fungsi masjid sebagai pusat pembinaan akhlak dan penguatan silaturahmi. Masjid diharapkan menjadi tempat tumbuhnya karakter yang peduli terhadap agama, sesama manusia, sistem kerja, dan lingkungan.

    Momentum tasyakuran ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga dan memakmurkan masjid setelah renovasi selesai. Kemakmuran masjid tidak hanya diwujudkan melalui kondisi bangunan yang terawat, tetapi juga melalui kegiatan ibadah, pengajian, pembinaan akhlak, serta keterlibatan masyarakat dalam berbagai aktivitas positif.

    Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Hari Santri Nasional 2026, yakni memperkuat kontribusi umat dalam membangun bangsa. Semangat keagamaan diharapkan menjadi landasan untuk melahirkan pribadi yang berintegritas, memiliki kepedulian sosial, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan masyarakat.

    Melalui kegiatan ini, keluarga besar RRI Surakarta diharapkan semakin memperkuat hubungan antara nilai spiritual dan profesionalisme kerja. Dengan masjid yang makmur serta lingkungan kerja yang berlandaskan keimanan, kejujuran, dan tanggung jawab, setiap pekerjaan diharapkan menjadi ladang ibadah yang membawa manfaat bagi masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: PKBM Syifa Surakarta Dorong Semangat Wirausaha melalui Program Prophetic Entrepreneurship


    Pembekalan Kontingen Mahrojan Penghela Kwarda HW Boyolali Berlaga di Pemalang

    BOYOLALI - majalahlarise.com – Kwartir Daerah (Kwarda) Hizbul Wathan (HW) Boyolali melepas kontingen Mahrojan Penghela di Pondok Pesantren Muhammadiyah (PonpesMU) Manafi’ul ‘Ulum, Sambi, Kamis (22/10/2026). Sebanyak 20 peserta didampingi tiga pendamping diberangkatkan untuk mengikuti ajang Mahrojan Penghela di Pemalang pada 23–25 Oktober 2026.

    Pelepasan kontingen dipimpin langsung Ketua Kwarda HW Boyolali, Ustaz Mustamik. Sebelum berangkat, para peserta mendapatkan tausyiah sekaligus pembekalan dari Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum, Ustaz Pujiono, sebagai bekal spiritual dan mental dalam mengikuti kegiatan kepanduan tersebut.

    Dalam pembekalannya, Ustaz Pujiono mengingatkan para peserta agar meluruskan niat, menjaga kedisiplinan, memperkuat persaudaraan, serta senantiasa membawa nama baik daerah dan organisasi selama mengikuti kegiatan di Pemalang.

    Ia mengajak seluruh peserta memaknai keberangkatan tersebut sebagai bagian dari perjuangan yang membutuhkan kesiapan, kesungguhan, dan pengorbanan. Menurutnya, keikutsertaan dalam Mahrojan Penghela tidak sekadar berorientasi pada perlombaan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk membentuk karakter dan mengamalkan nilai-nilai kepanduan Hizbul Wathan.

    Pembekalan tersebut berlandaskan firman Allah Swt. dalam QS. At-Taubah ayat 41:

    “Infirū khifāfan wa tsiqālan wa jāhidū bi-amwālikum wa anfusikum fī sabīlillāh.”

    Artinya, “Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.”

    Ayat tersebut menjadi pengingat bagi para peserta untuk mempersiapkan diri dengan sungguh-sungguh dalam menjalankan tugas dan mengikuti seluruh rangkaian kegiatan. Semangat perjuangan hendaknya diwujudkan melalui sikap tangguh, mandiri, disiplin, berakhlak mulia, serta menjunjung tinggi sportivitas.

    Melalui pesan tersebut, kontingen HW Boyolali diharapkan mampu menunjukkan identitas sebagai Pandu Hizbul Wathan yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga memiliki adab, tanggung jawab, dan semangat persaudaraan. Sikap tersebut menjadi bekal penting ketika berinteraksi dengan peserta dari daerah lain selama kegiatan berlangsung.

    Rangkaian pelepasan ditutup dengan doa yang dipimpin Ustaz Shodiq, pengasuh PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum. Doa dipanjatkan untuk memohon kelancaran perjalanan, keselamatan seluruh rombongan, serta keberkahan selama mengikuti Mahrojan Penghela di Pemalang.

    Sebelum keberangkatan, rombongan juga memohon doa restu Ramada Bunda agar perjalanan dan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar, aman, dan selamat hingga kembali ke Boyolali.

    Keberangkatan kontingen ini menjadi momentum untuk menumbuhkan semangat berkemajuan di kalangan Pandu Hizbul Wathan. Selain membawa harapan untuk meraih prestasi, para peserta diharapkan mampu menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai kepanduan, mempererat persaudaraan, serta memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

    Dengan semangat “Berjuang dengan iman, melangkah dengan adab, pulang membawa manfaat”, kontingen Mahrojan Penghela Kwarda HW Boyolali bertolak menuju Pemalang dengan harapan dapat mengikuti kegiatan secara optimal dan membawa nama baik daerah serta organisasi.

    Bismillah, perjalanan menuju Pemalang. Semoga seluruh kontingen diberikan keselamatan, kelancaran, dan keberkahan dalam setiap langkah perjuangan. (Sofyan)


    Baca juga: PKBM Syifa Surakarta Dorong Semangat Wirausaha melalui Program Prophetic Entrepreneurship

    Wira meraih medali emas KSNR tingkat nasional di Bogor, Minggu (18/10/2026).


    Prestasi Gemilang! Siswa SMP Muhammadiyah PK Kottabarat Raih Tiga Gelar Juara Olimpiade IPA

    Solo - majalahlarise.com - Prestasi membanggakan ditorehkan Muhammad Wira Adinegara, siswa kelas VIII SMP Muhammadiyah Program Khusus Kottabarat Surakarta. Dalam kurun waktu kurang dari dua pekan, ia berhasil meraih tiga gelar juara dalam kompetisi sains, yakni medali emas Olimpiade IPA tingkat Kota Surakarta, medali emas Kompetisi Sains Nalaria Realistik (KSNR) tingkat nasional, dan juara III Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) tingkat Provinsi Jawa Tengah.

    Medali emas Olimpiade IPA diraih Wira dalam kejuaraan Ikatan Kepala Sekolah Swasta (IKSS) tingkat Kota Surakarta yang berlangsung di Sahid Jaya Solo, Selasa (20/10/2026). Sebelumnya, ia meraih medali emas KSNR tingkat nasional di Bogor, Minggu (18/10/2026). Sementara itu, juara III bidang IPA OMI (Olimpiade Madrasah Indonesia) tingkat Provinsi Jawa Tengah diraihnya pada Sabtu (10/10/2026).

    Wira mengakui sederet prestasi tersebut menjadi bukti atas janji yang pernah ia sampaikan kepada kedua orang tuanya. Ia menekuni olimpiade IPA bermula ketika duduk di kelas III sekolah dasar. Saat itu, ia mengikuti kompetisi hingga tingkat provinsi, tetapi belum berhasil meraih kemenangan. Pengalaman tersebut justru menjadi pemicu semangatnya untuk belajar lebih giat. Ketika duduk di kelas IV, Wira kembali mengikuti olimpiade IPA dan berhasil meraih medali emas tingkat nasional. “Awalnya saya merasa tertantang. Setelah mengikuti lomba IPA, saya merasa menemukan passion di bidang ini,” ungkapnya.

    Ketertarikan Wira terhadap IPA tumbuh melalui dukungan guru dan kedua orang tuanya. Ia mengaku semakin menyukai pelajaran tersebut karena dapat menggunakan penalaran untuk memahami berbagai fenomena alam. Baginya, menemukan jawaban atas persoalan sains memberikan kepuasan tersendiri. Sejak kecil, Wira juga gemar melakukan eksperimen sederhana di rumah, salah satunya membuat simulasi gunung meletus. Kedua orang tuanya turut mendukung minat tersebut dengan menyediakan buku-buku dan berbagai sumber belajar.

    Medali emas Olimpiade IPA diraih Wira dalam kejuaraan Ikatan Kepala Sekolah Swasta (IKSS) tingkat Kota Surakarta yang berlangsung di Sahid Jaya Solo, Selasa (20/10/2026).


    Untuk mempersiapkan diri menghadapi olimpiade, Wira membiasakan diri belajar secara konsisten sekitar tiga jam sehari khusus untuk materi IPA. Ia juga memiliki strategi berbeda dalam mempelajari setiap cabang ilmu. Untuk materi biologi, ia mencatat kembali materi baru dan mengulanginya. Pada materi fisika, ia memperkuat pemahaman konsep dasar, perhitungan, rumus, dan simbol. Sementara itu, materi kimia dipelajarinya melalui eksperimen langsung atau melalui aplikasi daring.

    Selain belajar mandiri, Wira aktif mencari informasi dari sumber resmi di internet dan membaca ensiklopedia sains. Ia juga mengoleksi buku-buku IPA untuk memperluas pengetahuannya. Menurut Wira, setiap kompetisi memiliki tantangan tersendiri. Dalam KSNR tingkat nasional, misalnya, peserta harus menyelesaikan 32 soal dalam waktu 90 menit. Kompetisi tersebut melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi dan menalar berbagai fenomena. Tantangan berbeda dihadapinya ketika mengikuti OMI tingkat Provinsi Jawa Tengah. Soal yang menggunakan bahasa Arab menuntutnya mempelajari kosakata baru agar dapat memahami pertanyaan dengan baik. 

    Ke depan, Wira menargetkan untuk mengikuti Junior Science Technology Olympiad (JSTO), International Kangaroo Science Competition (IKSC), dan Olimpiade Sains Nasional (OSN). Ia ingin terus meningkatkan kemampuan sekaligus memperluas pengalaman berkompetisi di bidang sains. Di balik pencapaian akademiknya, Wira tetap menempatkan keluarga dan ibadah sebagai prioritas. Ia bercita-cita menjadi dokter dan berharap prestasinya dapat membahagiakan kedua orang tuanya.

    Ayahnya, Sugiyoto, juga memberikan pesan agar Wira mampu menyikapi setiap hasil perlombaan dengan bijak. “Kalah menang dihadapi dan harus melihat ke depan dengan optimistis. Tingkatkan ibadah kepada Allah,” demikian pesan yang menjadi pegangan Wira dalam menjalani proses belajarnya.

    Kepala Sekolah, Muhdiyatmoko, M.Pd. juga mengapresiasi prestasi yang diraih oleh Wira. Ia berpesan agar Wisa terus konsisten dalam belajar dan meriah prestasi. Harapannya prestasi tersebut mampu memotivasi siswa lain untuk belajar dan terus berprestasi. (Sofyan)


    Baca juga: PKBM Syifa Surakarta Dorong Semangat Wirausaha melalui Program Prophetic Entrepreneurship

⬆
Top