GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Komunitas
![]() |
| Grup Angklung KJNI tampil dengan identitas pita berwarna hijau daun yang dipasang pada angklung. |
Grup Angklung KJNI Surakarta Ramaikan Musik Angklung Kolosal 12 Grup Se-Solo Raya
SURAKARTA – majalahlarise.com – Grup Angklung KJNI (Komunitas Jalan Nordik Indonesia) Surakarta turut ambil bagian dalam perhelatan Musik Angklung Kolosal 12 Grup Angklung Se-Solo Raya yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Ngarsopuro, Kota Surakarta, Minggu (9/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi komunitas angklung untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan musik tradisional angklung kepada masyarakat.
KJNI tampil dengan identitas pita berwarna hijau daun yang dipasang pada angklung masing-masing pemain. Selain KJNI, setiap grup memiliki warna pita berbeda sebagai penanda identitas kelompok, sehingga penampilan 12 grup semakin semarak secara visual.
Pentas kolosal yang dimulai pukul 06.30 WIB tersebut melibatkan 12 grup angklung dengan total 381 pemain dari berbagai wilayah Solo Raya. Para peserta berasal dari sejumlah komunitas, di antaranya Angklung DWP UNS, Simponi Angklung Kiryani Mbah Wongso Soekarjo, Angklung PERPEN Bank Jateng Wilayah Surakarta, Angklung KJNI Solo, Angklung PMHK STIE Surakarta, serta kelompok angklung dari Boyolali, Karanganyar, dan Surakarta.
Ketua Grup Angklung KJNI Surakarta, Dr. Ir. R. Ngt. Retno Setyowati, M.S., menyambut positif kesempatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan KJNI menjadi pengalaman berharga bagi anggota untuk belajar dan tampil bersama komunitas angklung lainnya. Meskipun baru menjalani satu bulan latihan setiap hari Senin siang para anggota tetap menunjukkan antusiasme mengikuti pentas kolosal.
“Kami sangat senang mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan ini. Meskipun kami baru satu bulan berlatih, kami tetap bisa mengikuti dan menjadi bagian dari kegiatan ini,” ujar Retno.
![]() |
| Grup Angklung KJNI Surakarta, pimpinan Dr. Ir. R. Ngt. Retno Setyowati, M.S saat foto bersama usai pertunjukan menghibur masyarakat di kawasan Car Free Day (CFD) Ngarsopuro Solo. |
Menurut Retno, kegiatan bermusik secara bersama-sama memberikan pengalaman positif bagi anggota. Musik angklung tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang kreatif yang dapat membangun kebersamaan, kepercayaan diri, dan semangat berkegiatan.
Retno juga berharap grup angklung dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari kegiatan positif yang mendukung keberadaan komunitas. “Kita berharap grup angklung ini menjadi bagian dari KJNI, karena Komunitas Jalan Nordik Indonesia ada di dalamnya untuk kesehatan masalah jiwa dan raga maupun seni agar kita berkembang dalam hal yang sangat membuat kita baik-baik saja,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Pelaksana Musik Angklung Kolosal, Widiastuti Hartono, menjelaskan kegiatan tersebut menjadi pentas perdana musik angklung di kawasan CFD Kota Surakarta. Pemilihan ruang publik diharapkan membuat angklung semakin dekat dengan masyarakat dan tidak hanya dimainkan dalam lingkungan komunitas.
“Pentas musik Angklung Kolosal ini diikuti oleh 12 grup Angklung Se-Solo Raya yang melibatkan 381 pemain angklung,” ujar Widiastuti.
Widiastuti menjelaskan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi antar komunitas pencinta angklung. Masih terdapat sejumlah grup angklung di Surakarta dan wilayah Solo Raya yang belum bergabung dalam paguyuban. Karena itu, Dharma Wanita Persatuan UNS berupaya memprakarsai terbentuknya Paguyuban Pencinta Angklung Se-Solo Raya sebagai wadah silaturahmi dan penguatan gerakan pelestarian musik angklung.
“Semoga di waktu mendatang akan semakin banyak grup angklung yang bergabung, sehingga semangat pelestarian budaya ini semakin berkembang,” ungkapnya.
Rangkaian kegiatan diawali sesi persiapan sejak pukul 05.30 WIB berupa pemotretan masing-masing kelompok, pengecekan sound system, serta pengarahan oleh Coach Edhi. Pada pukul 06.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, sambutan ketua penyelenggara, serta perkenalan masing-masing grup dan ketuanya.
Memasuki sesi pertunjukan, para pemain membawakan sejumlah lagu secara berkelompok maupun kolosal. Beberapa lagu yang masuk dalam rangkaian pentas di antaranya Hip Hip Hura, Suket Teki, Karanganyar Kemayoran, Anak Sekolah, Seperti Mati Lampu, Memakai Kacamata Hitam, You Raise Me Up, Taman Jurug, dan Cendol Dawet.
Widiastuti menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelatih, panitia, komunitas peserta, dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Menurutnya, pentas di ruang publik seperti CFD menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan angklung kepada masyarakat yang lebih luas.
“Saya berharap Paguyuban Angklung Se-Solo Raya semakin berkembang, semakin kompak, dan semakin banyak kelompok baru yang bergabung untuk bersama-sama melestarikan budaya bambu,” pungkasnya.
Pentas Musik Angklung Kolosal tersebut ditutup sekitar pukul 08.30 WIB. Kegiatan tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga memperlihatkan semangat kebersamaan 12 komunitas dalam menjaga keberlanjutan seni musik tradisional angklung di Solo Raya. (Sofyan)
News
![]() |
| Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengunjungi kegiatan Liga Angkasa 2026 yang berlangsung di kawasan Sangkrah, selatan Stasiun Solo Kota. |
Kunjungi Liga Angkasa 2026, Astrid Widayani Apresiasi Semangat Guyub Warga Sangkrah
SURAKARTA - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengunjungi kegiatan Liga Angkasa 2026 yang berlangsung di kawasan Sangkrah, selatan Stasiun Solo Kota, Sabtu (8/8/2026). Kehadiran Astrid menambah semarak kompetisi sepak bola anak yang digelar di tengah permukiman warga tersebut.
Liga Angkasa menjadi ruang bermain sekaligus bertanding bagi anak-anak yang memiliki minat terhadap sepak bola, termasuk mereka yang belum bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB). Kompetisi dengan konsep street ball tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh panitia bersama masyarakat sekitar.
Sekitar 50 anak usia SD hingga SMP ambil bagian dalam kompetisi. Selain memberikan pengalaman bertanding, Liga Angkasa menjadi wadah untuk melihat potensi bibit-bibit pemain sepak bola sekaligus membangun mental, karakter, dan semangat berkompetisi sejak usia dini.
Astrid mengaku menikmati suasana kompetisi yang berlangsung meriah dan dipenuhi antusiasme warga. Menurutnya, Liga Angkasa tidak sekadar menjadi kegiatan olahraga, tetapi juga mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat di tingkat kampung.
“Sangat seru. Ini menjadi bentuk guyub warga. Anak-anak bisa belajar kompetisi, belajar sportivitas, kerja sama, dan kejujuran,” kata Astrid.
Menurut Astrid, pengalaman bertanding sejak usia dini penting untuk membentuk karakter anak. Dalam sebuah kompetisi, anak-anak tidak hanya belajar bagaimana meraih kemenangan, tetapi juga belajar menghargai lawan, bekerja sama dengan teman satu tim, menaati aturan, serta menerima hasil pertandingan dengan sikap sportif.
“Bukan masalah menang atau kalah. Yang penting anak-anak senang, semangat, rukun, dan bisa belajar dari prosesnya,” ujarnya.
Astrid juga mengapresiasi inisiatif warga Sangkrah yang secara swadaya menghadirkan ruang positif bagi anak-anak melalui olahraga. Penyelenggaraan yang tumbuh dari masyarakat tersebut dinilai menjadi contoh bagaimana lingkungan kampung dapat menciptakan aktivitas yang mendorong anak-anak untuk aktif, sehat, sekaligus membangun karakter.
Menurutnya, kegiatan olahraga yang melibatkan anak-anak dan masyarakat memiliki nilai lebih karena mampu mempertemukan berbagai unsur dalam suasana yang positif. Lapangan tidak hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga ruang interaksi dan kebersamaan warga.
Liga Angkasa 2026 diarahkan tidak berhenti sebagai kompetisi perdana. Panitia mulai membuka peluang untuk menambah jumlah peserta dan memperluas jangkauan turnamen sehingga ke depan dapat berkembang menjadi agenda kompetisi tahunan.
Bagi Astrid, semangat tersebut sejalan dengan upaya menciptakan ruang tumbuh yang positif bagi anak-anak di Kota Surakarta. Melalui olahraga, anak-anak dapat belajar banyak hal sekaligus menikmati masa tumbuh dalam suasana yang menyenangkan, penuh semangat, dan guyub bersama masyarakat.
“Harapannya kegiatan seperti ini terus hidup dan bisa menjadi ruang bagi anak-anak untuk berkembang, tidak hanya dalam olahraga, tetapi juga dalam karakter dan kebersamaan,” pungkasnya. (Mas Is/ Sofyan)
Komunitas
![]() |
| Asia Small Business Federation (ASBF) Indonesia Wonogiri bersama Dream and Action (DnA) Entrepreneur Wonogiri menggelar Pelatihan Public Speaking untuk Promosi dan Konten, Sabtu (8/8/2026). |
ASBF dan DnA Entrepreneur Wonogiri Gelar Pelatihan Public Speaking untuk Dongkrak Promosi UMKM
WONOGIRI - majalahlarise.com - Asia Small Business Federation (ASBF) Indonesia Wonogiri bersama Dream and Action (DnA) Entrepreneur Wonogiri menggelar Pelatihan Public Speaking untuk Promosi dan Konten, Sabtu (8/8/2026), di Resto Kambing Guling Aprilia Wonogiri. Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut menghadirkan Ina Andhi, Owner Dhavlen Batik Grup, sebagai mentor untuk meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam berbicara di depan umum sekaligus membekali kemampuan membuat konten promosi yang lebih menarik.
Ketua ASBF Wonogiri, Karsi, menjelaskan pelatihan tersebut digelar untuk membantu pelaku UMKM menyampaikan dan mempromosikan produk secara lebih baik, komunikatif, dan percaya diri.
“Kita adakan pelatihan public speaking supaya UMKM kita bisa menyampaikan atau mempromosikan produknya dengan baik dan percaya diri. Peserta juga dibekali kemampuan komunikasi, teknik presentasi, membuka pembicaraan, menyampaikan materi, hingga menutup pembicaraan dengan benar dan baik,” jelasnya.
Menurut Karsi, kemampuan public speaking menjadi keterampilan penting bagi pelaku UMKM. Tidak hanya untuk mempresentasikan produk, tetapi juga membantu peserta mengendalikan rasa gugup dan emosi ketika tampil di hadapan orang lain. Kemampuan tersebut juga dibutuhkan seorang pemimpin ketika memberikan arahan, motivasi, maupun mengambil keputusan.
“Kita melatih UMKM agar berani mempresentasikan produknya tanpa merasa takut dan gugup. Kemampuan berbicara dengan baik sangat diperlukan oleh UMKM maupun seorang pemimpin. Keterampilan ini juga penting untuk mendukung aktivitas organisasi, pekerjaan, kegiatan sosial, dan kehidupan di masyarakat,” ujarnya.
Pelatihan tersebut diikuti 51 peserta. Peserta tidak hanya berasal dari kalangan pelaku UMKM, tetapi juga tenaga pendidik. Karsi menyampaikan apresiasi kepada Resto Kambing Guling Aprilia yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.
Sementara itu, Ketua Dream and Action (DnA) Entrepreneur Wonogiri, Sarmidi, menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta selama mengikuti pelatihan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong UMKM Wonogiri semakin berkembang, khususnya dalam pemasaran melalui komunikasi dan konten digital.
“Alhamdulillah acara berjalan lancar. Peserta juga sangat antusias belajar public speaking. Harapan dan tujuannya, UMKM Wonogiri bisa semakin berkembang dalam pemasaran. Dengan public speaking untuk promosi dan konten, diharapkan UMKM Wonogiri bisa bersaing dalam membuat promosi dan video konten yang menarik sehingga penjualan dan omzet semakin meningkat,” kata Sarmidi.
Selain peningkatan kapasitas promosi, Sarmidi berharap kegiatan tersebut memperkuat jejaring antar pelaku usaha. Pertemuan dalam pelatihan diharapkan membuka peluang silaturahmi, kerja sama, dan kolaborasi antar-UMKM di Wonogiri.
Dalam pemaparannya, mentor pelatihan, Ina Andhi, Owner Dhavlen Batik Grup, menjelaskan public speaking memiliki peran penting dalam membangun branding usaha. Konsumen membeli produk atau jasa tidak hanya berdasarkan kualitas, tetapi juga karena adanya kepercayaan. Kepercayaan tersebut salah satunya dibangun melalui komunikasi yang baik.
“Produk yang berkualitas tanpa didukung kemampuan komunikasi akan sulit berkembang. Public speaking dapat menjadi bagian dari proses membangun personal branding, kepercayaan, hingga meningkatkan penjualan,” terang Ina.
Menurut Ina, setiap kali pelaku usaha berbicara di hadapan orang lain, baik ketika melakukan presentasi, live TikTok, live Instagram, bertemu pelanggan, networking, maupun mengikuti seminar, pada saat yang sama pelaku usaha sedang membangun citra bisnis.
Namun, masih banyak kesalahan yang dilakukan pelaku usaha saat mempromosikan produknya. Di antaranya hanya menjelaskan produk, terlalu banyak melakukan promosi, tidak memiliki cerita, kurang percaya diri, serta menggunakan suara yang datar. Pola komunikasi seperti itu berpotensi membuat audiens cepat bosan dan mengurangi kepercayaan terhadap produk maupun pelaku usaha.
Ina memaparkan lima hal penting dalam public speaking yang dapat membantu menjual produk sekaligus memperkuat branding, yakni percaya diri, storytelling, bahasa tubuh, intonasi suara, dan call to action yang jelas.
Storytelling dapat digunakan untuk menceritakan alasan memulai usaha, perjuangan membangun bisnis, nilai yang dibawa, hingga manfaat produk bagi pelanggan. Sementara komunikasi yang meyakinkan perlu didukung senyum, kontak mata, gesture yang natural, suara jelas, tempo bicara tidak terlalu cepat, serta jeda pada poin-poin penting.
Di era digital, kemampuan public speaking semakin penting karena dapat diterapkan dalam berbagai kanal promosi, seperti live shopping, video Reels, TikTok, webinar, podcast, maupun seminar. Semakin sering pelaku usaha tampil dan berkomunikasi secara konsisten, semakin kuat pula branding yang dibangun.
Materi tersebut merumuskan alur sederhana yang dapat menjadi pegangan pelaku usaha, yakni public speaking → personal branding → kepercayaan → follower bertambah → pelanggan bertambah → omzet naik.
“Produk hebat membuat orang mencoba. Komunikasi hebat membuat orang kembali,” pesan Ina.
Melalui pelatihan tersebut, ASBF Indonesia Wonogiri dan DnA Entrepreneur Wonogiri berharap pelaku UMKM semakin berani tampil, mampu mengemas pesan promosi secara menarik, serta memanfaatkan kemampuan komunikasi untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing usaha.(Sofyan)
Pendidikan
MI Muhammadiyah Blumbang Gelar Awalussanah dan Seminar Parenting, Hadirkan Narsum dari Pusat
BOYOLALI – majalahlarise.com – Menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027, MI Muhammadiyah Blumbang Boyolali menggelar kegiatan Awalussanah dan Seminar Parenting, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan mengusung tema “Menyelaraskan Kompas Pengasuhan di Rumah dan di Madrasah” sebagai upaya memperkuat sinergi antara madrasah dan orang tua dalam mendampingi pendidikan serta tumbuh kembang anak.
Seminar parenting menghadirkan Pujiono, anggota Tim Diksuspala Penjamin Mutu Sekolah Muhammadiyah Pimpinan Pusat, yang juga Mudir PonpesMu Manafiul 'Ulum Canden, Sambi. Kehadiran narasumber dari tingkat pusat tersebut memberikan perspektif sekaligus penguatan bagi orang tua dalam membangun pola pengasuhan yang selaras dengan pendidikan di madrasah.
Kepala MI Muhammadiyah Blumbang, Waginah, S.Pd., menyampaikan kegiatan parenting menjadi bagian penting dalam membangun kesamaan visi antara madrasah dan keluarga. Menurutnya, pendidikan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada madrasah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif orang tua di rumah.
“Pendidikan anak membutuhkan sinergi antara madrasah dan keluarga. Apa yang dilakukan guru di madrasah perlu mendapatkan penguatan dari orang tua di rumah. Sebaliknya, nilai-nilai baik yang dibangun keluarga juga perlu diperkuat di madrasah,” ujarnya.
Menurut Waginah, keselarasan pola pengasuhan menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik. Melalui kegiatan Awalussanah dan Seminar Parenting, orang tua diharapkan semakin memahami peran strategis keluarga dalam mendampingi proses pendidikan anak.
Kegiatan tersebut dihadiri unsur Majelis Dikdasmen PDM Boyolali, Komite Madrasah, serta orang tua/wali siswa. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap upaya MI Muhammadiyah Blumbang meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus membangun kolaborasi yang lebih kuat.
Majelis Dikdasmen PDM Boyolali yang diwakili Safii'i, S.Pd., menyampaikan sambutan sekaligus memberikan penguatan kepada keluarga besar MI Muhammadiyah Blumbang. Dukungan Majelis Dikdasmen diharapkan semakin memperkuat langkah madrasah dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter.
Sementara itu, doa dalam rangkaian kegiatan dipimpin Sholeh Wiyono, S.Ag. dari Komite Madrasah. Doa menjadi bagian penting dalam mengawali tahun pelajaran dengan memohon keberkahan, kemudahan, dan kesuksesan dalam mendampingi proses pendidikan generasi.
Turut hadir Rukani, anggota Komite Madrasah, yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.
Seminar parenting menjadi ruang refleksi bagi orang tua untuk melihat kembali pola pengasuhan yang diterapkan di lingkungan keluarga. Perubahan zaman yang berlangsung cepat menuntut orang tua memiliki arah pengasuhan yang jelas agar anak mampu tumbuh sebagai pribadi yang memiliki karakter kuat.
Pujiono menjelaskan rumah dan madrasah tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu memiliki arah yang sama dalam mendidik dan mendampingi anak.
“Rumah dan madrasah harus menyamakan kompas pengasuhan. Apa yang ditanamkan guru di madrasah perlu diperkuat orang tua di rumah. Demikian pula nilai-nilai baik yang dibangun keluarga perlu mendapatkan penguatan di madrasah,” jelas Pujiono.
Ia menambahkan, guru memiliki peran penting sebagai pendidik di madrasah, sedangkan orang tua merupakan pendidik utama di rumah. Karena itu, keduanya perlu membangun komunikasi dan kerja sama yang baik agar proses pendidikan anak berjalan secara berkesinambungan.
“Keduanya harus memiliki kompas yang sama, yaitu mengantarkan anak menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, cerdas, mandiri, dan memiliki karakter yang kuat,” tegasnya.
Menurut Pujiono, keselarasan pengasuhan bukan berarti orang tua dan guru harus menerapkan cara yang sama persis. Hal yang lebih penting ialah adanya kesamaan nilai, tujuan, serta arah dalam mendampingi anak sehingga pesan pendidikan yang diterima anak tidak saling bertentangan.
Kegiatan Awalussanah dan Seminar Parenting ini diharapkan menjadi langkah awal yang positif bagi MI Muhammadiyah Blumbang dalam membangun kolaborasi pendidikan yang semakin erat antara madrasah, orang tua, komite, dan persyarikatan.
Dengan kompas pengasuhan yang selaras, rumah dan madrasah tidak menjadi dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya menjadi dua kekuatan yang saling melengkapi untuk mengantarkan anak tumbuh menjadi generasi yang beriman, berkarakter, mandiri, cerdas, dan siap menghadapi masa depan. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Sembilan murid peserta ekstrakurikuler (ekskul) fotografi SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo memanfaatkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) sebagai ruang belajar di luar kelas. |
Sembilan Murid SD Muhammadiyah PK Solo Asah Keterampilan Fotografi di Hari Anak Nasional
Solo - majalahlarise.com - Sembilan murid peserta ekstrakurikuler (ekskul) fotografi SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo memanfaatkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) sebagai ruang belajar di luar kelas. Mereka tidak hanya turut menyukseskan kegiatan HAN, tetapi juga melakukan praktik liputan fotografi secara langsung di Taman Lingkar Lokananta, Solo, Sabtu (8/8/2026).
Keikutsertaan tersebut merupakan tindak lanjut SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo atas surat pemberitahuan Dinas Pendidikan Kota Surakarta terkait keikutsertaan peserta didik dalam peringatan HAN ke-42 Tahun 2026 yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Para murid ekskul fotografi ditugaskan mengikuti kegiatan sekaligus mengabadikan berbagai aktivitas melalui karya fotografi.
Penanggung jawab ekskul fotografi SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Widardiyanto Kurnia Fachruddin, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi murid untuk mempraktikkan materi yang sebelumnya telah dipelajari dalam kegiatan ekskul.
“Pada pertemuan ekskul pekan sebelumnya, mereka sudah belajar teknik pemotretan. Kebetulan ada kegiatan Hari Anak Nasional sehingga sekaligus menjadi ajang untuk mempraktikkan teori yang sudah didapatkan,” ujarnya.
Dalam praktik tersebut, murid dibebaskan menggunakan kamera maupun gawai yang dibawa dari rumah. Mereka belajar menentukan objek, memilih sudut pengambilan gambar, menangkap momen, serta menyesuaikan teknik pemotretan dengan kondisi di lapangan.
Menurut Widardiyanto, pengalaman memotret secara langsung dalam sebuah kegiatan memberikan tantangan tersendiri bagi murid. Mereka dituntut lebih peka terhadap lingkungan dan mampu menemukan momen menarik yang dapat dituangkan dalam sebuah karya visual.
“Anak-anak belajar bahwa fotografi bukan sekadar mengambil gambar. Mereka juga belajar mengamati, menentukan momen, dan menyampaikan sebuah cerita melalui foto,” katanya.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya sekolah mengembangkan minat dan bakat murid melalui pembelajaran yang kontekstual. Pengalaman di lapangan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri serta kreativitas peserta didik dalam menghasilkan karya.
Widardiyanto berharap ekskul fotografi dapat menjadi ruang bagi murid untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus mendapatkan apresiasi atas karya autentik yang mereka hasilkan.
“Harapannya, kegiatan ekskul ini bermanfaat untuk pengembangan minat dan bakat anak-anak sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap karya autentik mereka,” tuturnya.
Karya fotografi hasil praktik murid selanjutnya akan dikurasi oleh tim ekskul. Sebagian karya akan dicetak dan dipajang di dinding sekolah, sedangkan karya terpilih lainnya berkesempatan dimuat dalam majalah sekolah PK Media.
Melalui praktik liputan fotografi di Hari Anak Nasional, pembelajaran ekskul tidak berhenti di ruang kelas. Murid mendapatkan pengalaman langsung untuk mengamati peristiwa, mengasah keterampilan teknis, menghasilkan karya, dan belajar menghargai proses kreatif.
Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran berbasis pengalaman yang memberi kesempatan kepada murid untuk belajar dari peristiwa nyata sekaligus menemukan bahwa karya mereka dapat menjadi cara untuk merekam dan menceritakan sebuah peristiwa. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Pagelaran Wayang Babad Kartasura yang dipadukan dengan teknologi motion graphic. Pertunjukan yang digelar di halaman SD Negeri Dadapsari, Surakarta. |
Tim PISN FSRD ISI Surakarta Hadirkan Wayang Babad Kartasura Berkolaborasi Motion Graphic untuk Edukasi Siswa SD
SURAKARTA - majalahlarise.com – Tim Program Inovatif Seni Nusantara (PISN) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta menghadirkan inovasi dalam pelestarian seni tradisi melalui pagelaran Wayang Babad Kartasura yang dipadukan dengan teknologi motion graphic. Pertunjukan yang digelar di halaman SD Negeri Dadapsari, Surakarta, Jumat (7/8/2026), menjadi puncak rangkaian Hibah PISN Kemdiktisainstek Tahun 2026 bertajuk Revitalisasi Sejarah Babad Kartasura Melalui Eksistensi Dalang Wanita Lewat Pagelaran Kolaborasi Wayang dengan Motion Graphic.
Berbeda dari pementasan wayang pada umumnya, pertunjukan kali ini mengombinasikan permainan wayang dengan visual motion graphic yang ditayangkan melalui LCD proyektor di balik kelir. Kolaborasi tersebut membuat alur cerita lebih mudah dipahami sekaligus menghadirkan pengalaman menonton yang lebih menarik bagi siswa sekolah dasar.
Lakon Kembang Ngargayasa dipilih sebagai sajian utama. Kisah ini mengangkat tokoh Matah Ati, seorang perempuan pemberani yang melawan ketidakadilan dan memimpin pasukan perlawanan terhadap pribumi yang bersekutu dengan kompeni. Nilai-nilai keberanian, kepemimpinan, dan semangat perjuangan disampaikan melalui bahasa yang sederhana agar mudah dipahami para siswa.
Suasana pertunjukan semakin meriah ketika ratusan siswa bersama-sama menyanyikan lagu-lagu dolanan seperti Wajibe Dadi Siswa dan Kidang Talun. Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir pementasan. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai sesi interaktif yang disiapkan tim penyelenggara.
Dalang sekaligus Ketua Sanggar Wayang Gamelan Sangswara Kartasura, Nia Dwi Raharjo, menjelaskan konsep interaktif sengaja diterapkan agar anak-anak lebih dekat dengan seni wayang.
“Melalui tembang dolanan dan kesempatan bagi siswa untuk memegang wayang secara langsung, kami ingin menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan. Pementasan ini menjadi upaya mengenalkan seni tradisi, khususnya Wayang Babad Kartasura, kepada generasi muda sejak usia sekolah dasar,” jelas Nia Dwi Raharjo.
Pagelaran tersebut merupakan hasil kolaborasi Tim Hibah PISN FSRD ISI Surakarta yang diketuai Basnendar Herry Prilosadoso bersama anggota Ana Rosmiati, Indriati Suci Pravitasari, dan Sri Murwanti, didukung mitra sanggar serta tim mahasiswa. Seluruh rangkaian pertunjukan dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik penonton anak-anak sehingga materi sejarah dapat disampaikan secara edukatif sekaligus menghibur.
Salah satu anggota tim, Ana Rosmiati, mengatakan penggunaan multimedia menjadi alternatif baru dalam memperkenalkan wayang kepada generasi muda.
“Pentas ini bertujuan memberikan alternatif media pengenalan wayang melalui kolaborasi dengan teknologi motion graphic. Kami berharap konsep ini mampu menggabungkan unsur edukasi dan rekreasi sehingga siswa lebih tertarik mengenal budaya. Penggunaan multimedia juga menjadi inovasi agar pertunjukan wayang semakin sesuai dengan segmentasi penonton anak-anak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala SD Negeri Dadapsari Surakarta, Nuning Harmini, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman menyaksikan wayang dengan sentuhan teknologi menjadi hal baru yang memberikan kesan mendalam bagi para siswa.
“Kami sangat senang karena kegiatan seperti ini baru pertama kali diselenggarakan di sekolah kami. Anak-anak memperoleh pengalaman baru mengenal Wayang Babad Kartasura, bahkan mereka bisa memegang wayang secara langsung. Tayangan motion graphic juga membuat pertunjukan semakin menarik sehingga siswa lebih mudah memahami cerita,” ungkap Nuning Harmini.
Melalui inovasi kolaborasi antara seni pedalangan dan teknologi multimedia, Tim PISN FSRD ISI Surakarta berharap Wayang Babad Kartasura dapat semakin dikenal oleh generasi muda. Pendekatan kreatif tersebut menjadi salah satu upaya revitalisasi budaya lokal agar tetap hidup, relevan, dan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang diwariskan kepada masyarakat. (Sofyan)
Pendidikan
![]() |
| Upacara api unggun Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3. |
Semarak Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 SMPN 2 Giritontro, 648 Siswa Ditempa Jadi Generasi Tangguh dan Berkarakter
Wonogiri - majalahlarise.com – Lapangan SMP Negeri 2 Giritontro selama tiga hari, Kamis-Sabtu (6-8/8/2026), berubah menjadi kawasan perkemahan yang dipenuhi semangat, keceriaan, kedisiplinan, dan kebersamaan. Sebanyak 648 peserta didik kelas VII, VIII, dan IX mengikuti Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 Gugus Depan 09.047-09.048 SMP Negeri 2 Giritontro.
Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda besar kepramukaan sekolah sekaligus wahana pembentukan karakter melalui pengalaman belajar secara langsung. Para peserta tidak hanya diajak mendirikan tenda dan mengikuti aktivitas kepramukaan, tetapi juga belajar mandiri, bertanggung jawab, bekerja sama, memimpin, menjaga lingkungan, serta peduli terhadap sesama.
Sejak awal kegiatan, antusiasme peserta terlihat dari aktivitas setiap regu. Dengan mengenakan seragam Pramuka dan perlengkapan kemah, para siswa bersama kelompoknya menyiapkan tempat, mengatur perlengkapan, menjaga kebersihan, mengikuti kegiatan kepramukaan, hingga menyelesaikan berbagai tugas secara bersama-sama.
Ketua Panitia Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3, Ahmad Sidik Pranoto, S.Pd., menjelaskan kegiatan tersebut dirancang sebagai bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar agenda berkemah.
“Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 ini bukan sekadar kegiatan berkemah. Di dalamnya terdapat proses pendidikan karakter yang sangat penting bagi anak-anak. Mereka belajar bagaimana hidup bersama, bekerja sama dalam regu, bertanggung jawab terhadap tugas, menjaga kebersihan, disiplin mengikuti jadwal, serta belajar mandiri,” ungkapnya.
Menurut Ahmad, keterlibatan seluruh peserta didik kelas VII, VIII, dan IX memberikan pengalaman sosial yang lebih luas. Peserta tidak hanya berinteraksi dengan teman sekelas, tetapi juga membangun persaudaraan dengan siswa dari tingkat kelas berbeda.
“Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, tertib, dan gembira. Pengalaman selama tiga hari ini diharapkan menjadi kenangan positif sekaligus bekal bagi mereka untuk menerapkan nilai-nilai Pramuka dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.
Kepala SMP Negeri 2 Giritontro sekaligus Kamabigus, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd, memberikan apresiasi kepada panitia, pembina Pramuka, guru, karyawan, serta seluruh peserta didik yang mendukung pelaksanaan Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3.
Ia menilai kegiatan kepramukaan memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan karakter di sekolah. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui Pramuka dinilai relevan dengan kebutuhan generasi muda.
“Kegiatan Pramuka bukan hanya tentang berkemah, mendirikan tenda, atau mengikuti berbagai permainan. Di dalamnya ada pendidikan karakter. Anak-anak belajar disiplin, mandiri, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, menghargai orang lain, serta belajar menjadi pribadi yang tangguh,” ungkap Retno.
Ia berpesan kepada seluruh peserta agar menjadikan kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus mempererat persaudaraan.
“Ikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh. Jaga kekompakan, patuhi aturan, hormati pembina dan teman, jaga kebersihan serta keamanan lingkungan. Jadikan kegiatan ini sebagai pengalaman yang menyenangkan dan memberikan manfaat untuk kehidupan kalian,” pesannya.
Retno juga mengingatkan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Karakter dan sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan.
“Anak-anak tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki karakter yang baik, mandiri, disiplin, bertanggung jawab, peduli kepada lingkungan dan sesama, serta mampu bekerja sama,” ujarnya.
Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 juga menjadi momentum untuk menghidupkan nilai-nilai yang terkandung dalam Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka.
Nilai ketakwaan, cinta alam, kasih sayang kepada sesama, patriotisme, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan tidak berhenti pada hafalan. Peserta didik diajak mempraktikkannya melalui aktivitas nyata selama mengikuti perkemahan.
Menjaga kebersihan lingkungan, menaati tata tertib, menghormati pembina dan teman, membantu anggota regu yang mengalami kesulitan, serta menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab menjadi bagian dari proses pembelajaran.
Ketika berada dalam satu regu, setiap peserta memiliki peran. Ada yang mengatur perlengkapan, menjaga kebersihan, memimpin kelompok, mengikuti kegiatan, maupun membantu anggota lainnya.
Situasi tersebut melatih kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan kepedulian terhadap sesama.
Selain membentuk karakter peserta didik, Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 menjadi ruang mempererat hubungan antara siswa, guru, pembina, dan seluruh warga sekolah.
Kegiatan selama tiga hari menghadirkan suasana berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Interaksi yang lebih dekat membuat peserta didik dapat mengenal teman maupun guru dalam suasana yang lebih santai, tetapi tetap edukatif.
Bagi peserta didik kelas VII, kemah menjadi pengalaman untuk mengenal lebih dekat budaya kehidupan Pramuka sekaligus beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru.
Sementara bagi kelas VIII dan IX, kegiatan tersebut menjadi kesempatan meningkatkan pengalaman organisasi dan kepemimpinan sekaligus memberikan teladan kepada adik kelas.
Semangat gotong royong pun terlihat dalam berbagai aktivitas regu. Peserta belajar berbagi tugas, menata perlengkapan, menjaga kebersihan, mengikuti kegiatan bersama, dan menyelesaikan tantangan secara kolektif.
Dengan jumlah peserta mencapai 648 siswa, pelaksanaan Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 membutuhkan koordinasi dan kerja sama seluruh unsur sekolah. Panitia, pembina Pramuka, guru, dan karyawan bersama-sama memastikan kegiatan berlangsung tertib, aman, dan sesuai tujuan. (Sofyan)
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...












