Cetak Sejarah, Unisri Surakarta Wisuda 1.037 Lulusan, 749 Raih Predikat Cumlaude

Print Friendly and PDF

Suasana prosesi wisuda Unisri Surakarta Periode II Tahun 2026 diikuti 1.037 Wisudawan.


Cetak Sejarah, Unisri Surakarta Wisuda 1.037 Lulusan, 749 Raih Predikat Cumlaude

SURAKARTA – majalahlarise.com – Universitas Slamet Riyadi (Unisri) Surakarta mencatat sejarah baru dengan meluluskan 1.037 wisudawan dan wisudawati dalam Wisuda Sarjana Angkatan ke-81 dan Magister Angkatan ke-42 Periode II Tahun 2026. Prosesi wisuda yang digelar di De Tjolomadoe, Kamis (29/10/2026), menjadi pelaksanaan wisuda dengan jumlah lulusan terbanyak sepanjang sejarah Unisri.

Dari total 1.037 lulusan tersebut, sebanyak 962 merupakan lulusan program sarjana (S1) dan 75 lulusan program magister (S2). Sebanyak 749 wisudawan berhasil meraih predikat cumlaude atau dengan pujian.

Rektor Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Prof. Dr. Drs. Sutoyo, M.Pd., menyampaikan rasa syukur dan bangga atas capaian tersebut. Menurutnya, jumlah lulusan yang mencapai lebih dari seribu orang menunjukkan keberlanjutan minat masyarakat terhadap Unisri sebagai perguruan tinggi pilihan untuk melanjutkan pendidikan.

“Alhamdulillah, hari ini Unisri menyelenggarakan wisuda dengan jumlah lulusan terbanyak sepanjang sejarah. Periode kedua tahun 2026 ini mencapai 1.037 wisudawan. Ini menjadi kebanggaan sekaligus menunjukkan keberlanjutan perkembangan Unisri,” ujarnya.

Sutoyo menjelaskan, hingga saat ini Unisri telah meluluskan 26.580 sarjana dan 3.171 magister. Dengan demikian, jumlah alumni yang tergabung dalam Keluarga Alumni Unisri (GANISRI) mencapai 29.751 orang.

Ia berharap para lulusan mampu mengabdikan ilmu, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta pembangunan Indonesia.

“Wisuda bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal untuk menghadapi dunia yang penuh tantangan dan ketidakpastian. Para lulusan harus memiliki rasa percaya diri, mental yang kuat, jiwa militansi, serta pola pikir positif,” jelasnya.

Menurut Sutoyo, selama menempuh pendidikan di Unisri, mahasiswa telah dibekali kemampuan berpikir kritis, kreatif, dan inovatif. Bekal tersebut diharapkan membantu lulusan menghadapi berbagai persoalan di masyarakat secara rasional, objektif, dan bertanggung jawab.

Dalam laporan akademik, Wakil Rektor Bidang Akademik Unisri, Ir. Saiful Bahri, M.Kom., menyampaikan sebanyak 749 dari total 1.037 wisudawan berhasil menyelesaikan studi dengan predikat cumlaude.

Ia juga melaporkan sejumlah lulusan dengan capaian khusus berdasarkan lama studi dan usia.

Wisudawan tercepat diraih Syifa Azzahra Nada Aranthxa dari Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, dengan masa studi tiga tahun tujuh bulan.

Sementara itu, wisudawan termuda adalah Anisa Bela Tari Lestari dari Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang berusia 20 tahun sembilan bulan.

Adapun wisudawan tertua dari program magister adalah Asnanto, mahasiswa Program Studi Magister Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, yang berusia 57 tahun dua bulan. Dari program sarjana, Hapsari Artiwiningsih dari Program Studi Pendidikan Guru Pendidikan Anak Usia Dini, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, tercatat berusia 51 tahun enam bulan.

Capaian tersebut memperlihatkan keberagaman perjalanan akademik mahasiswa Unisri, mulai dari lulusan yang menyelesaikan studi dalam waktu relatif singkat hingga mereka yang terus mengembangkan pendidikan pada usia matang.

Prosesi Wisuda Angkat Budaya Lokal dan Kepedulian Sosial

Selain mencatat rekor jumlah lulusan, Unisri menghadirkan sejumlah inovasi dalam rangkaian prosesi wisuda. Salah satunya penggunaan bendi dalam prosesi senat akademik serta pelepasan burung merpati sebagai simbol harapan bagi para lulusan.

Prosesi pelepasan burung oleh Rektor beserta Senat Universitas Slamet Riyadi Surakarta.


Sutoyo menjelaskan, pelepasan burung merpati memiliki makna agar para wisudawan mampu terbang tinggi, berani menghadapi persaingan global, dan meraih kesuksesan dalam perjalanan hidup berikutnya.

Penggunaan bendi juga mengandung pesan kepedulian sosial. Melalui pelibatan kusir dan pemilik bendi, Unisri berupaya memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat setempat. Inisiatif ini melanjutkan konsep pelaksanaan wisuda tahun sebelumnya yang menggunakan becak.

Rektor beserta Senat Universitas Slamet Riyadi Surakarta saat naik bendi datang ke lokasi Wisuda.


Menurutnya, keberadaan perguruan tinggi tidak hanya berorientasi pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga perlu menghadirkan manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Nuansa budaya Kota Solo turut dihadirkan melalui lagu-lagu karya Didi Kempot, di antaranya Taman Jurug dan Stasiun Balapan, yang mengiringi prosesi masuk dan keluarnya senat.

Inovasi tersebut menjadi bentuk apresiasi terhadap seni dan budaya lokal sekaligus upaya menjadikan wisuda sebagai perayaan yang lebih menarik dan bermakna. Melalui rangkaian acara itu, Unisri memadukan pencapaian akademik, kepedulian sosial, dan pelestarian budaya dalam satu momentum kelulusan.

Sementara itu, Ketua Yayasan Perguruan Slamet Riyadi, Nuroso Bambang Wasisto, menyampaikan komitmen yayasan dan universitas untuk menyatukan misi serta arah kebijakan agar Unisri terus maju dan berkembang pada 2027.

Ia berharap Unisri semakin dikenal sebagai perguruan tinggi ternama dan berkualitas serta menjadi pilihan bagi lulusan SMA yang ingin melanjutkan pendidikan di wilayah Solo Raya, khususnya Surakarta.

“Ke depan, kita harus menjadi universitas yang ternama dan berkualitas serta mampu menjadi tujuan bagi lulusan SMA yang ingin melanjutkan pendidikan di Surakarta dan Solo Raya,” ujarnya.

Bambang Wasisto menjelaskan, yayasan bersama pihak universitas mendukung berbagai program yang dijalankan pimpinan kampus, termasuk penyediaan anggaran untuk penelitian dosen, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat.

Peningkatan mutu pendidikan juga terus didorong melalui pencapaian akreditasi unggul dan upaya memperluas jumlah program studi yang meraih predikat tersebut.

Menurutnya, sinergi antara yayasan dan pengelola universitas menjadi bagian penting dalam membangun kualitas pendidikan sekaligus memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap Unisri.

Perwakilan wisudawan, Dimas Muhammad Fajar, S.H., menyampaikan rasa syukur atas keberhasilan dirinya bersama rekan-rekan wisudawan menyelesaikan pendidikan di Unisri Surakarta.

Ia menyampaikan, gelar akademik yang diraih bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan bukti perjuangan panjang yang diwarnai tugas, ujian, revisi, kelelahan, kegagalan, dan berbagai tantangan selama masa perkuliahan.

“Gelar yang kita raih hari ini bukan sekadar simbol kelulusan, melainkan bukti perjuangan panjang yang telah kita lalui. Ada tugas, ujian, revisi, kelelahan, bahkan kegagalan. Namun, kita belajar untuk bangkit dan terus melangkah hingga sampai pada titik ini,” ungkapnya.

Dimas juga menyampaikan terima kasih kepada universitas dan para dosen atas ilmu, bimbingan, kesabaran, serta nasihat yang telah membentuk para lulusan menjadi pribadi yang berintegritas, bertanggung jawab, dan diharapkan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.

Ucapan terima kasih secara khusus disampaikan kepada orang tua, terutama ayah dan ibu, atas kasih sayang, pengorbanan, dukungan, dan doa yang senantiasa mengiringi perjalanan pendidikan.

Menurutnya, keberhasilan meraih gelar sarjana bukan semata-mata milik wisudawan, melainkan juga hasil perjuangan orang tua yang telah berkorban demi masa depan anak-anaknya.

Kepada sesama lulusan, Dimas berpesan agar tidak merasa tertinggal ketika menghadapi perjalanan hidup yang berbeda. Setiap orang memiliki pilihan dan waktu masing-masing, baik untuk melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, membangun usaha, maupun mengabdi kepada masyarakat.

“Wisuda bukan akhir dari proses belajar, melainkan bekal untuk menghadapi tantangan kehidupan berikutnya. Kita harus terus belajar, mengembangkan diri, menjaga kerendahan hati, dan tidak melupakan orang-orang yang telah mendukung perjuangan kita,” tuturnya.

Ia juga mengajak seluruh lulusan untuk memegang tiga pesan penting, yakni tidak melupakan orang-orang yang mendoakan ketika belum memiliki apa-apa, tidak berhenti belajar setelah menyelesaikan pendidikan formal, serta tidak mengukur nilai diri hanya berdasarkan pencapaian yang terlihat oleh dunia.

Menurut Dimas, keberhasilan sejati tidak semata-mata diukur dari popularitas, kekayaan, atau penghargaan. Lebih dari itu, keberhasilan tercermin dari kemampuan seseorang membawa manfaat, menjalankan tanggung jawab, menghargai orang lain, serta melakukan kebaikan bagi keluarga dan masyarakat. (Sofyan)


Baca juga: Peringati Hari Sumpah Pemuda ke-98, SMP Negeri 1 Wuryantoro Tanamkan Semangat Patriotik, Gigih, dan Berempati


Tidak ada komentar:

Write a Comment

⬆
Top