GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Ketika Bayang Menjelma Rupa, Mahabharata Hadir dalam Bahasa Seni Rupa Kontemporer
Ketika Bayang Menjelma Rupa, Mahabharata Hadir dalam Bahasa Seni Rupa Kontemporer
SURAKARTA – majalahlarise.com – Kisah Mahabharata yang selama ini lekat dengan pertunjukan wayang kulit Jawa hadir dalam wajah berbeda melalui pameran seni rupa bertajuk “Ketika Bayang Menjelma Rupa: Adaptasi Wayang Kulit Kisah Mahabharata”. Pameran hasil riset Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa, Fakultas Seni Rupa dan Desain Universitas Sebelas Maret (FSRD UNS) tersebut menghadirkan 17 karya seni rupa hasil eksplorasi dosen dan mahasiswa.
Pameran berlangsung di Solo is Solo Space Lantai 2, Jalan Gatot Subroto Nomor 46, Kemlayan, Solo, pada 4–7 September 2026. Pameran dibuka pada Jumat (4/9/2026), gratis dan terbuka untuk masyarakat umum.
Pameran ini menjadi luaran kegiatan riset Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa FSRD UNS yang mengeksplorasi kekayaan narasi, karakter, simbol, lakon, serta nilai filosofis wayang kulit melalui pendekatan seni rupa kontemporer.
Sebanyak 17 karya yang dipamerkan tidak sekadar menampilkan kembali bentuk wayang kulit secara literal. Para periset melakukan proses deformasi, stilasi, dan reinterpretasi terhadap simbol, warna, gerak, serta narasi Mahabharata sehingga menghasilkan karya dalam medium lukis, mixmedia dengan keramik, hingga grafis.
Dosen sekaligus salah satu periset, Dr. Sigit Purnomo Adi, S.Sn., M.Sn., menjelaskan gagasan utama pameran berangkat dari upaya melihat kembali wayang kulit melalui perspektif seni rupa.
“Wayang selama ini kita kenal sebagai bayang yang hadir di balik kelir. Melalui riset ini, kami mencoba membawa bayang tersebut menjadi rupa yang dapat dilihat, disentuh, diruang, dan dialami secara langsung melalui karya seni rupa,” ujarnya.
Menurutnya, proses penciptaan tidak diarahkan untuk membuat duplikasi tokoh wayang. Sebaliknya, karakter dan nilai yang terkandung dalam kisah Mahabharata menjadi sumber gagasan untuk melahirkan interpretasi visual baru.
“Kami tidak sekadar meniru bentuk wayang. Yang kami eksplorasi adalah bagaimana karakter, simbol, warna, gerak, dan nilai filosofisnya dapat diterjemahkan ke dalam bahasa seni rupa kontemporer,” jelasnya.
Kisah Mahabharata sendiri memiliki posisi penting dalam tradisi pewayangan Jawa. Tokoh-tokoh seperti Pandawa, Kurawa, Kresna, hingga Punokawan menghadirkan persoalan yang tidak lekang oleh waktu, mulai dari dharma, konflik, kekuasaan, pengorbanan, hingga persoalan kemanusiaan.
Nilai-nilai tersebut menjadi ruang eksplorasi bagi dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam Grup Penciptaan Seni FSRD UNS. Mereka mencoba melihat bagaimana narasi klasik dapat terus dibaca dan ditafsirkan dalam konteks kehidupan serta perkembangan seni rupa masa kini.
“Mahabharata memiliki narasi yang sangat kaya. Di dalamnya ada konflik, pilihan moral, persoalan kekuasaan, hubungan antarmanusia, dan berbagai nilai kehidupan. Kekayaan itulah yang kami tafsirkan kembali menjadi karya visual,” tambahnya.
Keterlibatan mahasiswa juga menjadi bagian penting dalam proses riset dan penciptaan karya. Para mahasiswa tidak hanya menjadi pendukung teknis, tetapi turut melakukan eksplorasi gagasan dan menerjemahkan hasil kajian terhadap wayang kulit dan Mahabharata ke dalam karya masing-masing.
Pameran tersebut diselenggarakan oleh Grup Penciptaan Seni Program Studi Seni Rupa FSRD UNS yang melibatkan dosen Dr. Sigit Purnomo Adi, S.Sn., M.Sn., Dr. Sn. Dona Prawita Arissuta, S.Sn., M.Hum., Dr. Dyah Yuni Kurniawati, S.Sn., M.Sn., dan Fika Khoirun Nisa, S.Pd., M.Sn. Sementara mahasiswa yang terlibat yakni Rangga Mas Syahid, Nurohman, Putri Nur Rizky, dan Nawla Najwan Rafida.
Melalui pameran “Ketika Bayang Menjelma Rupa”, tradisi wayang kulit tidak ditempatkan sebagai artefak budaya yang berhenti pada masa lalu. Wayang justru menjadi sumber inspirasi yang terus dapat dikembangkan melalui eksperimentasi artistik.
Pameran ini sekaligus menunjukkan bagaimana riset penciptaan seni di lingkungan perguruan tinggi dapat menjadi ruang pertemuan antara tradisi, penelitian, pendidikan, dan kreativitas. Narasi Mahabharata yang telah hidup berabad-abad mendapatkan kemungkinan baru untuk dibaca melalui medium dan perspektif seni rupa kontemporer.
Bagi masyarakat, khususnya pencinta seni, budaya, dan wayang, pameran ini menjadi kesempatan untuk melihat Mahabharata dari sudut pandang berbeda. Bayang yang selama ini berada di balik kelir kini menjelma menjadi rupa yang hadir secara langsung di ruang pamer. (Sofyan)
Baca juga: Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...

Tidak ada komentar: