IHT Pemantapan Kokurikuler, SMP Negeri 2 Giritontro Perkuat Implementasi 8 Dimensi Profil Lulusan

Print Friendly and PDF

IHT menghadirkan Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Drs. Joko Purwanto, M.Pd., sebagai narasumber. 


IHT Pemantapan Kokurikuler, SMP Negeri 2 Giritontro Perkuat Implementasi 8 Dimensi Profil Lulusan


Wonogiri - majalahlarise.com - SMP Negeri 2 Giritontro terus memperkuat kualitas pembelajaran sekaligus pembentukan karakter peserta didik melalui penguatan program kokurikuler. Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan In House Training (IHT) Pemantapan Program Kokurikuler yang digelar Sabtu (5/9/2026) di Ruang Media SMP Negeri 2 Giritontro.

IHT menghadirkan Pengawas SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Wonogiri, Drs. Joko Purwanto, M.Pd., sebagai narasumber. Kegiatan diikuti puluhan guru SMP Negeri 2 Giritontro yang mengikuti pemaparan materi, diskusi, dan pendalaman program secara serius serta interaktif.

Kegiatan dibuka Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd. Dalam sambutannya, Retno menjelaskan IHT menjadi momentum penting untuk menyamakan persepsi dan meningkatkan pemahaman guru mengenai pelaksanaan program kokurikuler di satuan pendidikan.

Menurut Retno, kokurikuler memiliki peran strategis dalam mendukung pembelajaran intrakurikuler. Melalui kegiatan kokurikuler, pengalaman belajar peserta didik diharapkan tidak berhenti pada penguasaan pengetahuan, tetapi berkembang pada pembentukan karakter, keterampilan, dan kompetensi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Melalui IHT ini diharapkan seluruh guru memiliki pemahaman yang sama mengenai program kokurikuler, mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasinya. Dengan demikian, program yang disusun benar-benar memberikan pengalaman belajar yang bermakna bagi peserta didik,” ungkap Retno.


Ia menambahkan, IHT juga menjadi ruang bagi guru untuk melakukan refleksi terhadap program yang selama ini dijalankan. Hasil refleksi tersebut diharapkan dapat mendorong lahirnya program kokurikuler yang lebih terarah, kontekstual, kolaboratif, serta sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Perkuat 8 Dimensi Profil Lulusan

Dalam pemaparannya, Joko Purwanto memberikan penguatan mengenai pemantapan program kokurikuler dan keterkaitannya dengan 8 dimensi profil lulusan.

Delapan dimensi tersebut meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

Joko menjelaskan, kokurikuler tidak semestinya dipandang hanya sebagai kegiatan tambahan di luar pembelajaran. Program tersebut perlu dirancang secara sistematis agar mampu memperkuat kompetensi sekaligus karakter peserta didik.

“Kokurikuler bukan sekadar kegiatan tambahan, tetapi menjadi bagian dari proses pendidikan yang perlu dirancang secara terarah. Pemantapan kokurikuler harus diarahkan agar kegiatan yang dilakukan memiliki tujuan yang jelas dan memberikan dampak nyata terhadap perkembangan peserta didik,” jelas Joko.

Menurutnya, delapan dimensi profil lulusan perlu diintegrasikan sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan. Dengan pendekatan tersebut, kegiatan kokurikuler dapat menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang diperoleh dalam pembelajaran ke berbagai situasi nyata.

Peserta didik dapat belajar bekerja sama, memecahkan masalah, berkomunikasi, menghasilkan gagasan kreatif, bertanggung jawab, sekaligus mengembangkan kemandirian melalui pengalaman langsung.

“Delapan dimensi profil lulusan harus menjadi bagian yang terintegrasi dalam perencanaan dan pelaksanaan kegiatan,” tambahnya.

Jembatani Pembelajaran dengan Kehidupan Nyata

Joko juga menekankan pentingnya merancang kokurikuler sebagai sarana untuk memperkuat, memperdalam, dan memperkaya pengalaman belajar peserta didik.

Kegiatan kokurikuler yang dirancang secara relevan dapat menjadi jembatan antara pembelajaran di kelas dan kehidupan nyata. Karena itu, guru perlu menghadirkan aktivitas yang menarik, kontekstual, kolaboratif, sekaligus memberikan ruang kepada peserta didik untuk terlibat secara aktif.

“Guru perlu memastikan kegiatan kokurikuler tidak hanya selesai sebagai sebuah kegiatan, tetapi memiliki proses dan pengalaman belajar yang dapat dirasakan serta memberikan dampak bagi peserta didik,” paparnya.

Dalam sesi IHT, para guru juga memperoleh kesempatan berdiskusi mengenai berbagai persoalan dan tantangan dalam implementasi program kokurikuler di sekolah. Berbagai pertanyaan dan tanggapan disampaikan peserta untuk memperdalam pemahaman mengenai perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi kegiatan.

Suasana kegiatan berlangsung serius, tetapi tetap interaktif. Puluhan guru SMP Negeri 2 Giritontro tampak antusias mengikuti pemaparan materi dan berdiskusi hingga kegiatan berakhir.

Melalui IHT Pemantapan Program Kokurikuler tersebut, SMP Negeri 2 Giritontro berharap seluruh guru semakin siap menyusun dan melaksanakan kegiatan kokurikuler yang terarah, efektif, kontekstual, dan berdampak terhadap perkembangan peserta didik.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari langkah strategis sekolah dalam membangun pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk lulusan yang beriman dan bertakwa, memiliki jiwa kewargaan, mampu berpikir kritis, kreatif, berkolaborasi, mandiri, sehat, serta komunikatif. (Sofyan)


Baca juga: Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top