Karhutla Kembali Mengancam, PENDIKS GEONUSA Serukan “Jangan Panik, Jangan Abai!”

Print Friendly and PDF



Karhutla Kembali Mengancam, PENDIKS GEONUSA Serukan “Jangan Panik, Jangan Abai!”

JAKARTA - majalahlarise.com – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di Indonesia. Perkumpulan Pendidik Sains Geografi Nusantara (PENDIKS GEONUSA) menyerukan penguatan literasi kebencanaan, kewaspadaan masyarakat, serta pendidikan geografi berbasis sains untuk menghadapi ancaman karhutla yang kembali terjadi pada 2026.

Sikap tersebut disampaikan PENDIKS GEONUSA melalui pernyataan resmi bertajuk “Menguatkan Literasi Kebencanaan, Kewaspadaan Masyarakat, dan Pendidikan Geografi Berbasis Sains” yang ditetapkan di Jakarta, 7 September 2026.

PENDIKS GEONUSA menilai karhutla bukan persoalan baru bagi Indonesia. Fenomena kebakaran hutan dalam skala besar pernah terjadi pada 1997–1998, 2015, dan 2019. Pada 2026, ancaman serupa kembali muncul dan membutuhkan kewaspadaan bersama.

Organisasi profesi pendidik sains geografi tersebut juga merujuk analisis data NASA Fire Information for Resource Management System (FIRMS). Pemantauan kebakaran berbasis satelit pada periode 1–18 Agustus 2026 menunjukkan peningkatan akumulasi persebaran kebakaran. Analisis terhadap lima provinsi di Kalimantan juga memperlihatkan peningkatan aktivitas api.

PENDIKS GEONUSA mengingatkan karhutla tidak semestinya hanya dilihat dari aspek api, asap, angin, dan hujan. Kondisi tanah memiliki peranan penting dalam menentukan ketahanan suatu bentang alam menghadapi periode tanpa hujan.

Tanah berfungsi sebagai penyimpan air. Struktur tanah, bahan organik, porositas, muka air tanah, serta tutupan vegetasi turut menentukan seberapa lama air dapat bertahan setelah hujan berhenti.

“Ketika fungsi-fungsi tersebut terganggu, bentang alam menjadi lebih sensitif terhadap periode tanpa hujan,” demikian salah satu penjelasan dalam pernyataan sikap PENDIKS GEONUSA.

Kondisi tersebut semakin penting pada ekosistem gambut. Menurut PENDIKS GEONUSA, lahan gambut pada dasarnya cukup tahan terhadap api selama muka air tetap tinggi. Karena itu, pemanfaatan sumber daya hutan secara berlebihan dan perubahan fungsi lahan yang dilandasi keserakahan dinilai turut menjadi sumber persoalan dan ancaman karhutla.

Sampaikan Tujuh Sikap

Menghadapi persoalan tersebut, PENDIKS GEONUSA menyampaikan tujuh sikap. Pertama, pemerintah diminta memperkuat koordinasi lintas kementerian/lembaga, pemerintah daerah, serta perusahaan pemegang Hak Guna Usaha.

Kebijakan pemerintah juga diharapkan tetap arif dan bijaksana agar pemanfaatan sumber daya hutan berlandaskan pembangunan berkelanjutan dan berwawasan lingkungan.

Kedua, masyarakat didorong memperkuat kepedulian terhadap hutan dengan menaati aturan serta mengedepankan kearifan lokal warisan leluhur. Pemuka masyarakat dan tokoh agama dinilai memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi mengenai kecintaan terhadap hutan.

Masyarakat juga diminta tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Jika menemukan asap, titik api, atau indikasi kebakaran, masyarakat diimbau segera melaporkannya agar dapat ditindaklanjuti sedini mungkin.

Ketiga, PENDIKS GEONUSA mengingatkan pentingnya menghormati masyarakat adat. Pengetahuan lokal masyarakat adat dinilai memiliki kontribusi penting dalam pengelolaan hutan berkelanjutan, pelestarian budaya, menjaga keseimbangan ekologi, melindungi keanekaragaman hayati, sekaligus mengendalikan emisi karbon.

Keempat, penguatan pendidikan kehutanan perlu dilakukan. Materi mengenai jasa ekosistem hutan, isu sosial, nilai budaya, pengetahuan tradisional, serta peran masyarakat adat dinilai perlu mendapatkan perhatian lebih besar.

Dalam konteks tersebut, pendidikan geografi memiliki posisi strategis untuk membantu peserta didik memahami hubungan antara hutan, manusia, dan lingkungan dalam perspektif sistem geografi.

Kelima, PENDIKS GEONUSA mendorong penguatan literasi hutan di sekolah dan masyarakat. Karhutla dapat menjadi momentum pembelajaran nyata untuk memahami fungsi hutan, menjaga kelestarian lingkungan, membedakan informasi ilmiah dengan hoaks, serta memanfaatkan penginderaan jauh dan sistem informasi geografis untuk memahami persebaran hutan.

“Pendidikan geografi memiliki posisi strategis dalam membangun masyarakat yang lebih sadar ruang dan sadar risiko,” tegas PENDIKS GEONUSA.

Para pendidik geografi di seluruh Indonesia juga diajak tidak menjadikan karhutla semata-mata sebagai materi tentang bencana. Fenomena tersebut dapat digunakan untuk membangun kemampuan berpikir berbasis bukti dan sains, termasuk membaca fenomena geosfer, memahami risiko, menggunakan data, membaca peta, serta mengambil keputusan secara rasional.

Keenam, PENDIKS GEONUSA mendukung penguatan komunikasi risiko berbasis sains. Pemerintah, media, satuan pendidikan, perguruan tinggi, organisasi profesi, dan komunitas hutan didorong menyampaikan informasi dengan bahasa yang mudah dipahami tanpa mengurangi ketepatan ilmiahnya.

Informasi mengenai karhutla, menurut PENDIKS GEONUSA, tidak boleh terjebak pada dua ekstrem, yakni menyepelekan ancaman atau justru menimbulkan kepanikan. Masyarakat membutuhkan informasi yang mampu menjawab tiga hal utama: apa yang sedang terjadi, apa risikonya, dan apa yang harus dilakukan.

Ketujuh, PENDIKS GEONUSA menyatakan kesiapan mengambil bagian dalam penguatan literasi geografi dan kebencanaan masyarakat. Setiap peristiwa kebencanaan diharapkan dapat menjadi momentum membangun masyarakat yang lebih sadar ruang, sadar risiko, berbasis bukti, dan tangguh menghadapi bencana kebakaran hutan.

PENDIKS GEONUSA kemudian menyampaikan seruan kepada masyarakat, “Jangan panik, jangan abai, jangan percaya pada informasi yang tidak terverifikasi. Kenali ruang, pahami risikonya, ikuti informasi resmi, dan bertindak berdasarkan sains.”

Pernyataan sikap tersebut menjadi bentuk kepedulian PENDIKS GEONUSA terhadap keselamatan masyarakat sekaligus komitmen organisasi dalam membangun literasi sains geografi dan ketangguhan bencana di Indonesia.

PENDIKS GEONUSA berharap penguatan literasi hutan, pendidikan geografi, komunikasi risiko berbasis sains, serta kolaborasi pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan berbagai pihak dapat menjadi bagian penting dalam menghadapi ancaman karhutla secara lebih bijaksana dan berkelanjutan. (Sofyan)


Baca juga: Maulid Nabi 1448 H, SMA Veteran 1 Sukoharjo Ajak Siswa Hidupkan Akhlak Rasulullah


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top