PISN 2026 Hadirkan Teknologi Tepat Guna dan Inovasi Branding Perkuat Daya Saing Lurik Tlingsing

Print Friendly and PDF

Serah terima perangkat produksi.


PISN 2026 Hadirkan Teknologi Tepat Guna dan Inovasi Branding Perkuat Daya Saing Lurik Tlingsing


KLATEN – majalahlarise.com – Teknologi tepat guna dan inovasi branding menjadi langkah baru untuk memperkuat daya saing perajin Lurik Tlingsing, Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, para perajin mendapatkan dukungan perangkat produksi dan material branding untuk membawa produk lurik dari ruang produksi menuju pasar yang lebih luas.

Program bertajuk “Penguatan Daya Saing UMKM Melalui Inovasi Visual Branding Interaktif Lurik Tlingsing dengan Identitas Budaya” tersebut mendapat hibah dari DPPM Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek.

Salah satu tahapan program diwujudkan melalui serah terima teknologi tepat guna dan material pendukung branding kepada kelompok sentra Lurik Tlingsing. Ketua PISN 2026, Ahmad Khoirul Anwar, menyerahkan mesin penggulung kain, kardus pengiriman kain gulungan, serta Paket Material Awal Inovasi Branding kepada para perajin.

Mesin penggulung kain.


“Teknologi yang diberikan harus berangkat dari kebutuhan nyata para perajin. Mesin penggulung ini diharapkan dapat membantu proses kerja mereka agar lebih praktis dan rapi, terutama ketika kain sudah masuk pada tahap penanganan dan pengiriman,” ujar Ahmad Khoirul Anwar.

Menurut Ahmad, penguatan UMKM tidak cukup hanya melalui pelatihan. Pengetahuan yang diberikan perlu didukung sarana yang dapat langsung diterapkan dalam aktivitas produksi. Karena itu, teknologi tepat guna menjadi bagian penting dari PISN 2026.

Mesin Penggulung hingga Kemasan Produk

Mesin penggulung kain diharapkan membantu perajin menghasilkan gulungan yang lebih rapi sekaligus memudahkan penyimpanan, penanganan, dan pengiriman produk. Teknologi tersebut tidak dimaksudkan menggantikan keterampilan perajin, tetapi membantu meningkatkan efektivitas pekerjaan.

Dukungan juga diberikan dalam bentuk kardus pengiriman kain gulungan. Kemasan tidak hanya dipandang sebagai pelindung produk selama proses distribusi, tetapi menjadi bagian dari strategi branding.

“Produk yang baik perlu didukung dengan cara penyajian yang baik. Kemasan menjadi salah satu bagian dari pengalaman konsumen sekaligus media untuk memperkenalkan identitas Lurik Tlingsing,” jelas Ahmad.

Pendekatan tersebut membuat branding tidak berhenti pada logo atau desain visual. Identitas budaya Lurik Tlingsing diupayakan hadir dalam berbagai titik interaksi antara produk dengan konsumen.

Membawa Identitas Tlingsing ke Pasar Modern

Paket Material Awal Inovasi Branding menjadi langkah awal bagi perajin untuk menerapkan identitas visual yang dikembangkan melalui program PISN 2026.

Lurik Tlingsing memiliki kekuatan berupa sejarah, keterampilan perajin, karakter motif, serta keterikatan dengan kehidupan masyarakat Desa Tlingsing. Potensi tersebut menjadi modal penting dalam membangun identitas produk yang lebih kuat.


Dalam pemasaran modern, konsumen tidak hanya mempertimbangkan produk, tetapi juga cerita, pengalaman, dan nilai yang melekat di dalamnya. Identitas budaya karena itu menjadi bagian strategis dalam pengembangan Lurik Tlingsing.

Program ini tidak diarahkan untuk menghilangkan karakter tradisional lurik. Sebaliknya, inovasi dihadirkan agar karakter tersebut semakin mudah dikenali dan dikomunikasikan kepada konsumen, termasuk generasi muda.

Menjaga Tradisi, Membuka Jalan Baru

PISN 2026 dipimpin Ahmad Khoirul Anwar bersama anggota tim Evelyne Henny Lukitasari, Farid Fitriadi, dan Erna Indriastiningsih. Program tersebut mengintegrasikan desain, branding, teknologi, dan pemberdayaan masyarakat untuk memperkuat daya saing UMKM Lurik Tlingsing.

Serah terima perangkat menjadi bukti hasil program tidak berhenti di ruang pelatihan. Pengetahuan dan inovasi diterjemahkan menjadi perangkat yang dapat dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.

Bagi perajin, dukungan tersebut diharapkan menjadi pemantik pengembangan usaha yang lebih berkelanjutan. Lurik Tlingsing tetap mempertahankan karakter budaya lokal, sekaligus tampil lebih siap menghadapi kebutuhan pasar modern.

Melestarikan budaya bukan berarti membiarkannya berhenti pada masa lalu. Budaya akan terus hidup ketika mampu beradaptasi, memberi manfaat, dan menemukan ruang baru di tengah perubahan zaman.

Di Tlingsing, benang tetap dirajut dan lurik tetap ditenun. Namun kini, perjalanan menuju konsumen ditemani teknologi, kemasan, dan identitas visual yang lebih kuat. Dari tangan perajin Tlingsing, lurik tidak hanya menenun kain, tetapi juga menenun masa depan. (Sofyan)


Baca juga: Momentum Hari Pramuka ke-65, Respati Tekankan Pentingnya Karakter Kuat bagi Generasi Muda


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top