BUMDes Jenalas Sragen Hilirisasi Sawo Menjadi Selai, Dongkrak Nilai Ekonomi Desa

Print Friendly and PDF

Tim pengabdi dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) membantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jenalasku Maju mengembangkan buah sawo menjadi produk selai sekaligus memperkuat manajemen dan pemasaran usaha.


BUMDes Jenalas Sragen Hilirisasi Sawo Menjadi Selai, Dongkrak Nilai Ekonomi Desa

SRAGEN – majalahlarise.com – Potensi buah sawo yang melimpah di Desa Jenalas, Kecamatan Gemolong, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah, didorong menjadi produk pangan bernilai tambah melalui Program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM). Tim pengabdi dari Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) membantu Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Jenalasku Maju mengembangkan buah sawo menjadi produk selai sekaligus memperkuat manajemen dan pemasaran usaha.

Program tersebut mengusung judul “Penguatan Peran BUMDes Jenalas Sragen dalam Pengelolaan dan Pemasaran Sawo melalui Produksi Selai sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Berkelanjutan Desa.” Kegiatan diarahkan untuk menjawab persoalan produksi dan manajemen usaha BUMDes melalui transfer ilmu pengetahuan dan teknologi, pelatihan, pendampingan, pengemasan, pembukuan, serta penguatan pemasaran.

Ketua tim PKM, Dr. Yoto Widodo, M.Si., bertanggung jawab mengoordinasikan seluruh rangkaian kegiatan, menjalin komunikasi dengan BUMDes dan pemangku kepentingan desa, serta memperkuat strategi pemberdayaan masyarakat dan manajemen usaha.

"Tujuan program dirumuskan untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas BUMDes Jenalas dalam produksi selai sawo melalui penerapan proses pengolahan yang terstandar sehingga dihasilkan produk selai sawo yang berkualitas dan siap dipasarkan," jelasnya.

Ketua tim PKM, Dr. Yoto Widodo, M.Si saat menyampaikan pelaksana program.

Pernyataan tersebut menunjukkan program tidak sekadar mengajarkan cara membuat selai, tetapi diarahkan membangun kemampuan BUMDes agar dapat menjalankan unit usaha secara mandiri. Penguatan juga mencakup perencanaan produksi, pengelolaan bahan baku, penetapan harga, pencatatan keuangan, hingga pengaturan sistem pemasaran.

Potensi Sawo Belum Tergarap Optimal

Desa Jenalas memiliki sekitar 57 pohon sawo yang tersebar di pekarangan warga. Masa panen berlangsung sekitar Mei hingga Oktober. Produksinya dapat mencapai sekitar 1,5 kuintal per pohon pada periode panen.

Selama ini buah sawo lebih banyak dikonsumsi rumah tangga, dijual secara individual dalam skala kecil, atau dijual kepada pengepul. Pada periode panen, produksi sekitar 100–200 kilogram sebagian digunakan untuk konsumsi, sebagian dijual di lingkungan sekitar, dan sebagian lainnya masuk ke pasar pengepul.

Pola tersebut dinilai belum memberikan nilai ekonomi optimal bagi masyarakat maupun BUMDes. Penjualan secara individual juga menyebabkan volume pemasaran tidak kontinu dan harga sangat bergantung pada kondisi pasar serta pengepul.

BUMDes belum memiliki sistem pengumpulan dan penjualan sawo yang terkoordinasi. Daya simpan buah yang terbatas juga menjadi persoalan ketika produksi meningkat pada musim panen.

Kondisi tersebut menjadi dasar pengembangan selai sawo. Buah yang sebelumnya cepat mengalami penurunan mutu dapat diolah menjadi produk dengan daya simpan lebih panjang dan memiliki nilai jual berbeda dibandingkan buah segar.

Aspek teknis produksi menjadi tanggung jawab Dr. Bovi Wira Harsanto, S.TP.. Ia memiliki kompetensi teknologi hasil pertanian dan bertugas menyusun formulasi, proses pengolahan, pengendalian mutu, serta memberikan pelatihan pembuatan dan pengemasan selai.

“Transfer iptek terkait pembuatan selai sawo melalui pelatihan dan pendampingan teknis merupakan upaya tim pengusul untuk meningkatkan keterampilan BUMDes dalam mengolah buah sawo menjadi produk selai yang berkualitas dan siap dipasarkan," jelasnya.

Teknologi yang diterapkan menggunakan peralatan skala rumah tangga atau UMKM, seperti panci stainless steel, kompor gas, spatula food grade, serta blender atau chopper.


Pelatihan dilakukan secara praktik langsung. Peserta mendapatkan materi mengenai karakteristik bahan baku, formulasi, prinsip pengolahan pangan, sortasi, pengolahan, pemasakan, hingga pengemasan sementara.

Teknologi yang diterapkan menggunakan peralatan skala rumah tangga atau UMKM, seperti panci stainless steel, kompor gas, spatula food grade, serta blender atau chopper. Kapasitas produksi dirancang sekitar 10–15 kilogram sawo segar dalam satu proses produksi.

Pengemasan Diperkuat agar Siap Pasar

Selain membuat produk, BUMDes mendapatkan pendampingan pengemasan. Materi meliputi pemilihan kemasan food grade, teknik pengisian dan penutupan, desain kemasan, serta penyusunan label.

Produk dirancang dalam kemasan botol kaca atau plastik food grade berukuran 100–200 gram. Kapasitas pengemasan ditargetkan mencapai sekitar 50–100 kemasan setiap batch.

“Desain kemasan yang menarik dan label yang informatif berperan penting dalam meningkatkan daya tarik dan kepercayaan konsumen terhadap produk pangan olahan.”

Target program pada aspek pengemasan meliputi tersedianya kemasan food grade, desain label lengkap yang memuat nama produk, komposisi, berat bersih dan produsen, serta minimal 50–100 unit produk siap jual.

Manajemen dan Pemasaran Tidak Ditinggalkan

Pengembangan unit usaha selai sawo juga membutuhkan tata kelola bisnis yang baik. Karena itu, program memberikan pelatihan manajemen yang mencakup perencanaan produksi, pengelolaan bahan baku, pencatatan keuangan, penetapan harga, perhitungan HPP, dan pemasaran.

Dr. Joko Suryono, M.Si., anggota tim bidang ilmu komunikasi, mendapatkan tugas memperkuat komunikasi dan pemasaran unit usaha. Ia berperan dalam perancangan strategi komunikasi pemasaran berbasis data, penyusunan materi promosi, serta integrasi komunikasi pemasaran dengan sistem manajemen BUMDes.

“Sistem manajemen usaha yang baik memungkinkan BUMDes menjalankan unit usaha selai sawo secara lebih efisien dan berorientasi pada keberlanjutan," jelasnya.

Dengan pembukuan sederhana, pengurus BUMDes diharapkan mampu mengetahui pemasukan, pengeluaran, biaya produksi, HPP, serta harga jual produk. Targetnya, BUMDes memiliki buku kas sederhana dan mampu melakukan pencatatan keuangan secara rutin selama kegiatan.

Melibatkan Mahasiswa

Kegiatan PKM juga melibatkan dua mahasiswa, yakni Irma Dwi Wijayanti dari Ilmu Komunikasi dan Heru Febrianto dari Teknologi Hasil Pertanian.

Irma membantu pendataan, pembukuan sederhana, monitoring dan evaluasi, penyusunan materi pelatihan, serta komunikasi antara tim pengabdi dan mitra. Heru membantu kegiatan produksi, pengemasan, dokumentasi, pencatatan data produksi dan evaluasi hasil pelatihan.

Keterlibatan mahasiswa tersebut dapat direkognisi menjadi mata kuliah minimal enam SKS.

Targetkan Produksi Mandiri

Program menetapkan indikator capaian yang terukur. BUMDes ditargetkan mampu menghasilkan minimal satu hingga dua varian selai sawo, melakukan sedikitnya dua kali produksi secara mandiri, serta menyusun SOP produksi.


Proses pembuatan selai sawo.

Pada aspek pemasaran produk, ditargetkan minimal 50–100 unit selai sawo siap jual. Sementara dari sisi manajemen, BUMDes diharapkan memiliki buku kas sederhana, rekap HPP dan harga jual, serta mampu melakukan pencatatan keuangan secara rutin.

Program juga menargetkan peningkatan level keberdayaan mitra pada aspek produksi dan manajemen, produk usaha berupa selai sawo, publikasi berita pada media massa elektronik nasional, serta video kegiatan sebagai luaran wajib.

Dari Buah Pekarangan Menjadi Produk Ekonomi Desa

Hilirisasi sawo melalui pengembangan selai diharapkan memberikan manfaat langsung kepada pemilik pohon sawo. Buah yang sebelumnya dijual secara individual dapat diserap BUMDes sebagai bahan baku produksi.

Pemilik pohon sawo dapat memperoleh tambahan pendapatan melalui mekanisme penyerapan buah oleh BUMDes. Masyarakat juga dapat dilibatkan dalam proses produksi, pengemasan maupun pemasaran sehingga membuka peluang peningkatan keterampilan dan kesempatan kerja.

Teknologi yang diterapkan dirancang sederhana, berbiaya rendah, dan sesuai dengan skala desa. Rangkaian prosesnya meliputi sawo segar, sortasi dan pencucian, pengupasan dan penghalusan, pemasakan terkontrol, selai sawo, pengemasan dan pelabelan, kemudian pencatatan usaha.

Program ini pada akhirnya diarahkan bukan hanya menghasilkan satu produk baru, melainkan membangun model usaha BUMDes berbasis komoditas lokal. Pengolahan sawo diharapkan dapat mengurangi kehilangan hasil panen saat musim melimpah, meningkatkan nilai tambah, menciptakan sumber pendapatan baru, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi Desa Jenalas.

Dengan demikian, sawo yang selama ini tumbuh di pekarangan warga memiliki peluang untuk naik kelas. Dari komoditas yang sebagian besar dijual segar atau kepada pengepul, sawo diarahkan menjadi produk olahan dengan merek, kemasan, pembukuan dan strategi pemasaran yang dikelola secara kelembagaan melalui BUMDes. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top