Lurik Tlingsing Klaten Perkuat Daya Saing UMKM Lewat Visual Branding Interaktif PISN 2026

Print Friendly and PDF

Workshop Co-Creation Desain Motif Khas Desa Tlingsing yang dipandu Evelyne Henny Lukitasari.


Lurik Tlingsing Klaten Perkuat Daya Saing UMKM Lewat Visual Branding Interaktif PISN 2026

KLATEN - majalahlarise.com – Lurik Tlingsing tidak hanya dikenal sebagai kain tradisional dengan nilai budaya yang tinggi, tetapi juga terus bertransformasi agar mampu bersaing di era digital. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026 bertema "Penguatan Daya Saing UMKM Melalui Inovasi Visual Branding Interaktif Lurik Tlingsing dengan Identitas Budaya", pelaku UMKM di Desa Tlingsing, Kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten memperoleh pendampingan untuk memperkuat identitas visual, strategi promosi digital, hingga akses pasar yang lebih luas.

Program yang berlangsung pada 2–28 Juli 2026 tersebut menjadi wadah kolaborasi antara pelaku UMKM, akademisi, dan praktisi untuk menjadikan kekayaan budaya sebagai kekuatan ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Melalui pendekatan tersebut, Lurik Tlingsing tidak hanya diposisikan sebagai produk kerajinan, tetapi juga sebagai identitas budaya yang memiliki nilai jual tinggi.

Pelaku UMKM Lurik Asri, Suprianto, mengatakan mempertahankan usaha lurik saat ini tidak hanya bergantung pada kualitas kain, tetapi juga bagaimana memperkenalkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya kepada masyarakat.

"Lurik itu punya cerita dan proses yang panjang. Kami ingin orang yang membeli lurik tidak hanya melihat kainnya, tetapi juga mengenal bagaimana kain itu dibuat dan dari mana asalnya," ujar Suprianto saat kegiatan pendampingan.

Ketua PISN 2026, Ahmad Khoirul Anwar, menjelaskan penguatan daya saing UMKM harus dilakukan secara menyeluruh. Menurutnya, kualitas produk perlu didukung kemampuan membangun identitas visual yang kuat agar mampu berkomunikasi dengan konsumen masa kini.

"Lurik Tlingsing memiliki kekuatan budaya yang sangat potensial. Tantangannya adalah bagaimana kekuatan tersebut diterjemahkan menjadi identitas visual yang kuat dan mampu berkomunikasi dengan konsumen masa kini," jelas Ahmad.

Ia menjelaskan, visual branding tidak sebatas membuat logo maupun kemasan, melainkan membangun karakter produk agar mudah dikenali, diingat, serta memiliki makna di benak konsumen.

Salah satu kegiatan utama dalam program ini adalah Workshop Co-Creation Desain Motif Khas Desa Tlingsing yang dipandu Evelyne Henny Lukitasari. Melalui pendekatan co-creation, masyarakat dan pelaku UMKM dilibatkan secara aktif dalam proses perancangan motif sehingga desain yang dihasilkan tetap berakar pada karakter budaya lokal.

Perajin sekaligus pelaku UMKM Lurik Asri, Sri, mengaku inovasi desain menjadi penting selama tidak menghilangkan identitas khas yang telah diwariskan secara turun-temurun.

"Yang penting bagi kami adalah bagaimana desain yang dikembangkan tetap memiliki hubungan dengan karakter Lurik Tlingsing. Kami tidak ingin kehilangan ciri khas yang sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat," ungkap Sri.

Selain pengembangan motif, PISN 2026 juga menggelar pelatihan Visual Branding dan Short Video Promotion yang dipandu Ahmad Khoirul Anwar bersama Farid Fitriadi. Pelatihan tersebut membekali pelaku UMKM dengan kemampuan membuat konten visual dan video pendek sebagai media promosi di berbagai platform digital.

Suprianto mengaku pendampingan tersebut membuka wawasan baru mengenai pentingnya membangun cerita di balik sebuah produk.

"Selama ini kami lebih fokus pada membuat dan menjual kain. Dengan adanya pendampingan seperti ini, kami jadi melihat bahwa cara memperkenalkan produk juga penting. Ternyata cerita di balik lurik bisa menjadi bagian dari promosi," katanya.

Upaya memperkuat UMKM juga dilakukan melalui pendampingan pendaftaran INAPROC yang dipandu Erna Indriastiningsih. Pendampingan ini membuka peluang bagi pelaku usaha untuk masuk dalam ekosistem pengadaan barang dan jasa pemerintah melalui platform digital.

Sri berharap langkah tersebut mampu memperluas pasar sekaligus menjaga keberlangsungan usaha lurik di masa mendatang.

"Kalau ada peluang untuk memperluas pasar, tentu kami ingin belajar dan mengikutinya. Harapannya, usaha lurik bisa terus berjalan dan semakin dikenal," ujarnya.

Tim PISN 2026 terdiri atas Ahmad Khoirul Anwar sebagai ketua dengan anggota Evelyne Henny Lukitasari, Farid Fitriadi, dan Erna Indriastiningsih. Melalui kolaborasi tersebut, program ini menunjukkan pengembangan UMKM berbasis budaya memerlukan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari penguatan identitas budaya, inovasi desain, strategi promosi digital, hingga perluasan akses pasar.

Melalui inovasi visual branding interaktif, Lurik Tlingsing diharapkan semakin dikenal sebagai produk budaya yang memiliki daya saing tinggi tanpa kehilangan jati dirinya. Dari Desa Tlingsing, benang-benang lurik tidak hanya ditenun menjadi kain, tetapi juga dirajut menjadi identitas, kreativitas, dan harapan baru menuju pasar yang lebih luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. (Sofyan)


Baca juga: Poltekkes Bhakti Mulia Hadirkan Ustadz Handy Bonny, Ajak Mahasiswa Temukan “Tempat Pulang” Saat Lelah



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top