Lembah Pereng View, Oase Wisata Alam Bernuansa Desa yang Menghidupkan Kenangan Masa Kecil di Wonogiri

Print Friendly and PDF

Area pemancingan keluarga yang menawarkan suasana santai di tengah alam terbuka. 


Lembah Pereng View, Oase Wisata Alam Bernuansa Desa yang Menghidupkan Kenangan Masa Kecil di Wonogiri

Wonogiri - majalahlarise.com - Waktu seolah berjalan lebih lambat saat memasuki kawasan Wisata Alam Lembah Pereng View di Punduhsari Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Hamparan sawah hijau terbentang di sisi jalan, suara gemericik air sungai terdengar bersahutan dengan kicauan burung liar, sementara udara segar khas pedesaan langsung terasa sejak pertama kali menginjakkan kaki di lokasi wisata tersebut.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanan, Lembah Pereng View hadir seperti ruang pelarian untuk menikmati ketenangan. Tempat wisata ini tidak menawarkan gemerlap wahana modern ataupun hingar-bingar hiburan kota. Justru kesederhanaan suasana desa menjadi kekuatan utama yang membuat banyak pengunjung merasa nyaman dan betah berlama-lama.

Manajer Lembah Pereng View, Janu Hari Setiawan, mengatakan konsep wisata yang dikembangkan memang berangkat dari kerinduan masyarakat terhadap suasana desa yang alami dan damai.

“Yang kita tawarkan itu justru ketenangan, kenyamanan, serasa flashback ke zaman dulu ketika desa masih alami,” ujar Janu Hari Setiawan saat ditemui di kawasan wisata.

Manajer Lembah Pereng View, Janu Hari Setiawan.


Menurutnya, masyarakat perkotaan saat ini mulai lelah dengan rutinitas, kemacetan, suara kendaraan, hingga tekanan pekerjaan yang terus meningkat. Kondisi tersebut membuat wisata alam bernuansa desa semakin diminati sebagai tempat beristirahat bersama keluarga.

“Yang kita jual itu nuansa alam dan suasana desa yang sekarang mulai sulit ditemukan,” katanya.

Lembah Pereng View dibangun dengan konsep wisata keluarga berbasis alam, pertanian, peternakan, serta edukasi. Area wisata didesain menyatu dengan lingkungan sekitar tanpa menghilangkan karakter asli pedesaan. Pepohonan dibiarkan tumbuh rindang, area persawahan tetap dipertahankan, sementara aliran air alami menjadi bagian penting dari suasana wisata.

Banyak pengunjung datang bukan hanya untuk berfoto atau bermain, tetapi menikmati suasana tenang sambil duduk santai bersama keluarga. Anak-anak terlihat bebas berlarian di area terbuka, sementara para orang tua menikmati udara sejuk yang kini semakin sulit ditemukan di kawasan perkotaan.

Fasilitas vila dengan tarif mulai Rp250 ribu per malam.


Salah satu area yang paling ramai dikunjungi adalah mini zoo. Di tempat ini, anak-anak dapat berinteraksi langsung dengan berbagai hewan seperti domba merino, kambing, sapi, dan kelinci. Pengunjung diperbolehkan memberi makan hewan secara langsung tanpa dipungut biaya tambahan.

Suasana hangat tampak saat anak-anak tertawa sambil mengejar kelinci atau memberi makan domba yang jinak. Aktivitas sederhana tersebut justru menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak yang selama ini lebih sering hidup di lingkungan perkotaan.

“Konsep mini zoo ini supaya anak-anak bisa berinteraksi langsung dengan hewan secara gratis,” tuturnya.

Tidak jauh dari area mini zoo, tersedia kolam renang anak dan dewasa yang menjadi favorit keluarga. Meski tidak mengusung konsep kolam besar dan mewah, suasana sejuk di sekitar area membuat pengunjung merasa nyaman menikmati waktu bersama keluarga. Tiket masuk kolam renang pun cukup terjangkau, hanya Rp5 ribu.

Selain itu, terdapat area pemancingan keluarga yang menawarkan suasana santai di tengah alam terbuka. Dengan tarif mulai Rp15 ribu hingga Rp30 ribu, pengunjung dapat menikmati sensasi memancing sambil mendengar suara air dan hembusan angin dari area persawahan.

Saat sore mulai datang, suasana di Lembah Pereng terasa semakin syahdu. Langit perlahan berubah jingga, udara menjadi lebih dingin, dan aroma masakan tradisional mulai tercium dari Pawon Lembah Pereng.

Pawon tersebut menjadi salah satu daya tarik kuliner di kawasan wisata. Berbeda dengan tempat wisata modern yang menyajikan menu cepat saji atau makanan western, Pawon Lembah Pereng justru mempertahankan cita rasa rumahan khas desa.

Domba Merino yang berada di mini zoo.

Menu seperti pecel, aneka sayur tradisional, sambal rumahan, hingga lauk khas pedesaan menjadi sajian favorit pengunjung. Konsep sederhana itu justru menghadirkan rasa hangat dan nostalgia bagi banyak orang.

“Yang kita jual bukan makanan western, tapi makanan tradisional desa seperti pecel dan sayur khas rumahan,” jelasnya.

Bagi pengunjung yang ingin menikmati suasana lebih lama, Lembah Pereng View juga menyediakan fasilitas vila dengan tarif mulai Rp250 ribu per malam. Vila-vila tersebut dibangun dengan konsep sederhana dan menyatu dengan alam sekitar.

Saat malam tiba, suasana berubah semakin tenang. Tidak terdengar kebisingan kendaraan ataupun hiruk-pikuk kota. Yang terdengar hanya suara jangkrik, aliran air, dan angin malam yang berhembus pelan dari area persawahan.

Banyak pengunjung memilih menginap untuk merasakan pengalaman hidup di desa secara lebih utuh. Pagi hari menjadi momen yang paling dinantikan karena pengunjung dapat menikmati udara segar sambil melihat aktivitas warga dan petani di sekitar kawasan wisata.

Lembah Pereng View juga mengembangkan konsep wisata edukasi.


Tidak hanya berfokus pada wisata keluarga, Lembah Pereng View juga mengembangkan konsep wisata edukasi. Kawasan ini berada di bawah naungan Yayasan Taubah Al-Falah yang mengelola Al-Falah Quran Institute, sebuah lembaga pendidikan pasca-SMA dengan program pembelajaran agama dan kewirausahaan.

Pengelola kini tengah mempersiapkan program “Integrity Farm”, sebuah wisata edukasi untuk pelajar mulai PAUD hingga SMA. Dalam program tersebut, peserta akan diajak belajar langsung mengenai pertanian dan peternakan.

Anak-anak nantinya dapat mencoba menanam sayuran, memberi makan ternak, hingga memanen hasil pertanian secara langsung. Setelah mengikuti kegiatan, peserta juga akan mendapatkan sertifikat petani cilik.

“Kami ingin anak-anak punya pengalaman praktik bertani dan berinteraksi langsung dengan ternak,” ungkap Janu.

Sejak dilakukan soft opening pasca-Lebaran, jumlah pengunjung Lembah Pereng View terus meningkat. Pada hari biasa, jumlah wisatawan mencapai sekitar 50 orang per hari. Sementara saat akhir pekan dan musim liburan, jumlah pengunjung bisa mencapai ratusan orang.

Dalam satu bulan, total kunjungan diperkirakan mencapai 1.000 hingga 2.000 orang. Sebagian besar pengunjung datang bersama keluarga untuk menikmati suasana desa yang tenang dan alami.

Bagi Janu dan tim pengelola, Lembah Pereng View bukan sekadar tempat wisata. Tempat ini menjadi ruang untuk menghidupkan kembali kenangan masa kecil tentang desa yang damai, sederhana, dan penuh kehangatan.

“Harapan kami setelah pulang dari sini, pengunjung bisa bercerita bagaimana indahnya suasana desa,” pungkas Janu Hari Setiawan. (Sofyan)


Baca juga: Semarak Milad ke-94, Pemuda Muhammadiyah Surakarta Tanam 94 Pohon di Bantaran Bengawan Solo


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top