Diskusi Mahasiswa untuk Peningkatan Kegiatan Penalaran bertema “Komunikasi Visual untuk Perubahan Perilaku Masyarakat”.


    Tak Sekadar Estetika, Mahasiswa DKV ISI Surakarta Bedah Strategi Komunikasi Visual Bersama Penyuluh KB Sukoharjo

    Surakarta - majalahlarise.com - Mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menggelar Diskusi Mahasiswa untuk Peningkatan Kegiatan Penalaran bertema “Komunikasi Visual untuk Perubahan Perilaku Masyarakat”.

    Kegiatan yang diikuti sekitar 200 mahasiswa tersebut berlangsung di Gedung Sungging Prabangkara, FSRD Kampus 2 Mojosongo ISI Surakarta, Selasa (16/9/2026). Diskusi menghadirkan Karlina Puspitasari, Penyuluh Keluarga Berencana dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Kabupaten Sukoharjo, sebagai narasumber.

    Turut hadir Koordinator Prodi DKV M. Harun Rosyid, Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI Surakarta Anung Rachman, serta dosen pengampu mata kuliah Komunikasi Informasi Edukasi (KIE), Ipung Kurniawan Yunianto, yang bertindak sebagai moderator.

    Dalam diskusi tersebut, Ipung menyoroti pola pikir mahasiswa desain yang sering kali berfokus pada bentuk fisik sebuah karya. Menurutnya, proses perancangan komunikasi visual perlu diawali dengan pemahaman terhadap persoalan yang hendak diselesaikan dan karakter khalayak yang menjadi sasaran.

    “Sebelum bertanya ‘media apa yang akan kita buat?’, mahasiswa harus terlebih dahulu bertanya ‘masalah apa yang ingin kita selesaikan?’. Seorang perancang harus memahami karakter sasaran dan perubahan apa yang ingin dicapai. Desain KIE yang berhasil bukan sekadar yang estetik di mata, melainkan yang mampu menjembatani informasi dengan realitas psikologis dan sosiologis khalayaknya,” jelas Ipung.

    Perspektif tersebut kemudian diperkuat Karlina Puspitasari melalui pengalaman yang ditemuinya dalam kegiatan penyuluhan di lapangan. Ia menyampaikan, keberhasilan program pemerintah di tingkat masyarakat juga membutuhkan dukungan komunikasi visual yang mampu menyesuaikan pesan dengan karakter dan budaya setempat.

    “Seringkali kami di lapangan menemukan materi penyuluhan yang secara visual sangat bagus, namun bahasanya terlalu kaku atau tidak menyentuh kearifan lokal. Kami butuh desainer yang mampu menerjemahkan program pengendalian penduduk menjadi visual yang renyah, mudah dicerna, dan sesuai dengan budaya masyarakat, sehingga pesan perubahan perilaku benar-benar mengena,” jelas Karlina.

    Kehadiran penyuluh KB sebagai narasumber memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi masyarakat. Mulai dari karakter khalayak, kebutuhan penyuluhan, fenomena di lapangan, hingga berbagai persoalan media komunikasi visual KIE pada mitra binaan.

    Informasi tersebut menjadi data primer bagi mahasiswa DKV untuk mengembangkan proyek perancangan komunikasi visual. Dengan demikian, proses desain tidak hanya berangkat dari pertimbangan estetika, tetapi juga didukung riset terhadap kebutuhan dan karakter sasaran.

    Koordinator Prodi DKV FSRD ISI Surakarta M. Harun Rosyid menilai kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menyelaraskan proses pembelajaran dengan kebutuhan nyata di masyarakat.

    “Kami melihat potensi besar untuk sinergi jangka panjang. Ke depan, rencana kerja sama ini akan diarahkan pada pemanfaatan sumber daya bersama untuk meningkatkan kompetensi SDM di bidang kreativitas seni rupa dan desain. Ruang lingkup yang akan kita jajaki sangat komprehensif, mulai dari pemanfaatan program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), pertukaran praktisi, penelitian dan kajian studio bersama, hingga pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan produk komunikasi visual bersama,” jelas Harun.

    Diskusi tersebut sekaligus menjadi langkah awal penjajakan kerja sama kelembagaan antara FSRD ISI Surakarta dengan DPPKBP3A Kabupaten Sukoharjo. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat mempertemukan kompetensi akademik dan desain dengan kebutuhan komunikasi pemerintah di tengah masyarakat.

    Wakil Dekan Bidang Akademik FSRD ISI Surakarta Anung Rachman menyampaikan dukungan institusi terhadap kolaborasi lintas sektor tersebut.

    “Kolaborasi lintas sektor ini membuka mata mahasiswa bahwa seni dan desain memiliki tanggung jawab sosial. Kami mendukung penuh inisiatif ini agar mahasiswa terbiasa berpikir kritis, empatik, dan solutif, sekaligus membuka jalan bagi kerja sama strategis seperti publikasi ilmiah, pameran, hingga kompetisi mahasiswa di masa mendatang,” tambah Anung.

    Antusiasme juga terlihat dari mahasiswa yang mengikuti diskusi. Mumtazah Abdul Rauf, mahasiswa DKV semester 5, mengaku memperoleh perspektif baru mengenai peran seorang desainer dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat.

    “Selama ini saya berpikir bahwa tugas utama desainer adalah membuat karya yang indah. Tapi setelah mendengar pengalaman Ibu Karlina, saya sadar bahwa desain yang baik harus bisa menyelesaikan masalah. Saya jadi lebih memahami pentingnya riset audiens dan konteks sosial sebelum mulai membuat karya untuk proyek KIE saya,” ujar Mumtaz.

    Hal senada disampaikan Fajar Haditiya, mahasiswa tingkat akhir. Menurutnya, pengalaman narasumber mengenai respons masyarakat terhadap materi penyuluhan membantu mahasiswa menghubungkan teori yang dipelajari di kampus dengan realitas di lapangan.

    “Yang paling berkesan adalah ketika narasumber bercerita tentang bagaimana masyarakat merespons berbagai materi penyuluhan. Saya jadi mengerti bahwa tidak semua desain yang bagus di mata desainer itu efektif di lapangan. Ini membuka mata saya untuk lebih banyak turun ke masyarakat dan memahami kebutuhan mereka secara langsung, bukan hanya mendesain dari dalam studio,” ungkap Fajar.

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Prodi DKV FSRD ISI Surakarta untuk membentuk desainer komunikasi visual yang tidak hanya memiliki kemampuan estetika, tetapi juga mampu membaca persoalan sosial, memahami karakter masyarakat, melakukan riset, dan menghasilkan karya yang memiliki manfaat nyata.

    Melalui pertemuan antara mahasiswa, akademisi, dan praktisi penyuluhan, komunikasi visual ditempatkan tidak sekadar sebagai persoalan tampilan, melainkan sebagai sarana menyampaikan pesan dan mendorong perubahan perilaku masyarakat secara lebih tepat sasaran.(Sofyan)


    Baca juga: Inagurasi PKKMB Univet Bantara Tandai Penyerahan Mahasiswa Baru kepada Rektor

     


    Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 di Manyaran, Dorong Pelestarian Bahasa dan Budaya Jawa

    Wonogiri - majalahlarise.com - Upaya melestarikan bahasa daerah dan budaya Jawa terus dilakukan melalui lingkungan pendidikan. Salah satunya melalui Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri Tahun 2026 yang digelar di SDN 1 Manyaran, Kamis (17/9/2026).

    Mengusung tema “Berkolaborasi, Berprestasi, dan Berbudaya”, kegiatan dimulai pukul 07.30 WIB dan diikuti siswa-siswi sekolah dasar (SD) se-Kecamatan Manyaran. Festival tersebut menjadi ruang bagi peserta didik untuk mengenal, menggunakan, sekaligus mengembangkan kemampuan berbahasa, bersastra, dan berkesenian Jawa.

    Sejumlah cabang perlombaan digelar dalam FTBI tersebut, di antaranya nulis lan maca aksara Jawa, ndongeng, sesorah, nulis cerkak, geguritan, macapat, dan ndagel ijen. Berbagai cabang tersebut tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan bakat, kreativitas, keberanian, dan kepercayaan diri.

    Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Manyaran, Sutrisno, S.Pd., M.Pd., menyampaikan FTBI tingkat Kecamatan Manyaran memiliki tujuan penting dalam rangka menguri-uri dan melestarikan budaya Jawa.

    “Festival Tunas Bahasa Ibu ini tentunya memiliki banyak hal yang berkaitan dengan upaya menguri-uri dan melestarikan budaya Jawa. Harapannya, budaya Jawa tetap dikenal dan dipahami oleh generasi mendatang sehingga anak-anak tidak kehilangan akar budaya daerahnya,” jelasnya.

    Menurut Sutrisno, pelestarian budaya Jawa tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan bahasa daerah. Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya Jawa juga dapat menjadi bagian dari pembentukan karakter peserta didik.

    “Budaya Jawa juga mengajarkan tata krama, etika, dan sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai tersebut penting bagi anak-anak, terutama dalam berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungan di sekitarnya,” ujarnya.

    FTBI Kecamatan Manyaran Tahun 2026 diikuti 31 sekolah dasar di wilayah Korwil Bidang Pendidikan Kecamatan Manyaran dengan tujuh mata lomba. Sutrisno berharap dari kegiatan tersebut dapat terpilih peserta didik yang memiliki kemampuan dan potensi untuk melanjutkan kompetisi di tingkat Kabupaten Wonogiri.

    Sementara itu, Ketua K3S SD Kecamatan Manyaran, Arif Dwi Prastyanto, menjelaskan pelaksanaan kegiatan yang melibatkan seluruh sekolah dasar di Kecamatan Manyaran merupakan bentuk dukungan Korwil dan K3S dalam menjaga keberadaan kebudayaan Jawa, khususnya penggunaan dan pengembangan bahasa daerah di kalangan peserta didik.

    “Pelaksanaan kegiatan ini melibatkan seluruh sekolah dasar yang ada di Kecamatan Manyaran. Kami berharap kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang kompetisi, tetapi juga menjadi sarana untuk melestarikan kebudayaan Jawa dan mengenalkan bahasa daerah kepada anak-anak sejak dini,” jelas Arif.

    Menurut Arif, perkembangan zaman turut memengaruhi kebiasaan berbahasa anak-anak. Penggunaan bahasa Indonesia semakin dominan dalam kehidupan sehari-hari, sementara penggunaan bahasa daerah cenderung semakin berkurang.

    “Melalui kegiatan seperti ini, kami berharap tumbuh rasa memiliki terhadap budaya daerah sejak usia dini. Anak-anak semakin mengenal, mencintai, dan mampu menggunakan bahasa Jawa sebagai bagian dari identitas budaya mereka di tengah perkembangan zaman,” ungkapnya.

    Pesan “Lestarikan Bahasa Daerah, Jaga Budaya, Raih Masa Depan” menjadi semangat dalam pelaksanaan FTBI Kecamatan Manyaran Tahun 2026. Melalui kegiatan tersebut, sekolah bersama Korwil dan K3S berupaya memperkuat pengenalan budaya lokal sekaligus memberikan ruang kepada generasi muda untuk berprestasi.

    Dengan semangat berkolaborasi, berprestasi, dan berbudaya, FTBI diharapkan terus menjadi bagian dari upaya bersama menjaga kelestarian bahasa Jawa serta membentuk generasi muda yang memiliki kemampuan, kreativitas, dan akar budaya yang kuat. (Sofyan)


    Baca juga: Mahasiswa KKN Univet Bantara Edukasi Karang Taruna Dedean Desa Gunungan tentang Bahaya Pergaulan Bebas dan Narkoba

    Abdul Aziz, menggelar pelatihan dan simulasi tanggap darurat di Kantor Pusat PT Reka Patria Ekaguna, Gandaria 8 Office Tower Lantai 5, Jakarta Selatan.




    Wujudkan Budaya K3L di Gedung Bertingkat, Mahasiswa Univet Bantara Gelar Pelatihan dan Simulasi Tanggap Darurat

    JAKARTA – majalahlarise.com – Keselamatan dan kesehatan kerja lingkungan (K3L) menjadi bagian penting dalam membangun kesiapsiagaan di area perkantoran bertingkat. Hal tersebut mendorong mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo, Abdul Aziz, menggelar pelatihan dan simulasi tanggap darurat di Kantor Pusat PT Reka Patria Ekaguna, Gandaria 8 Office Tower Lantai 5, Jakarta Selatan.

    Kegiatan yang berlangsung pada 12–14 Agustus 2026 tersebut merupakan bagian dari program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri dalam program “Univet Berdampak”. Kegiatan mengusung tema “Sinergi Kampus dan Masyarakat dalam Mengoptimalkan Potensi Lokal dan Produk Unggulan Daerah Melalui Inovasi dan Kolaborasi”.

    Program tersebut sekaligus menjadi bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penerapan keilmuan Kesehatan Masyarakat, khususnya spesialisasi K3L, pada komunitas pekerja (working community) di lingkungan perkantoran modern.

    Simulasi Evakuasi Darurat (Emergency Drill) secara real-time.

    Abdul Aziz, mahasiswa KKN dengan NIM 2551700011, menjelaskan risiko keselamatan kerja tidak hanya terdapat di sektor manufaktur maupun konstruksi. Lingkungan perkantoran bertingkat juga memiliki potensi bahaya yang membutuhkan kesiapsiagaan pekerja.

    “Potensi bahaya seperti kebakaran akibat korsleting listrik maupun bencana gempa bumi memerlukan kesiapsiagaan sumber daya manusia yang terstruktur dan terlatih. Tanpa simulasi real-time, risiko kepanikan massal saat evakuasi dapat meningkatkan potensi kerugian jiwa maupun material,” ungkap Aziz.

    Rangkaian kegiatan diawali dengan edukasi dan sosialisasi teori pada 12–13 Agustus 2026. Materi yang diberikan meliputi Fire Safety Management (FSM), regulasi K3 perkantoran, serta teknik perlindungan diri ketika terjadi gempa bumi menggunakan metode Drop, Cover, and Hold On.

    Untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta, kegiatan dilengkapi dengan pengukuran melalui pretest dan posttest. Evaluasi tersebut digunakan untuk melihat perubahan pemahaman karyawan setelah mendapatkan materi K3L.


    Puncak kegiatan dilaksanakan pada Jumat, 14 Agustus 2026 melalui Simulasi Evakuasi Darurat (Emergency Drill) secara real-time. Ketika alarm darurat dibunyikan secara simulatif, karyawan diarahkan oleh Tim Floor Warden yang menggunakan atribut helm dan rompi K3.

    Para karyawan kemudian bergerak secara tertib melalui tangga darurat (emergency stairs) dari Lantai 5 menuju titik kumpul aman (Assembly Point) di luar gedung. Selama proses evakuasi, peserta tidak menggunakan lift.

    Setibanya di titik kumpul, kegiatan dilanjutkan dengan prosedur presensi ulang (headcount). Prosedur tersebut dilakukan untuk memastikan seluruh personel telah keluar dari gedung dan tidak ada karyawan yang tertinggal.

    Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman karyawan mengenai K3L setelah mengikuti sesi edukasi. Proses pengosongan gedung juga berlangsung lancar dan aman dengan menerapkan prosedur evakuasi yang telah diberikan.

    Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Nur Ani, S.K.M., M.K.K.K., mengapresiasi pelaksanaan KKN Mandiri tersebut sebagai bentuk sinergi antara perguruan tinggi dan dunia industri.

    Pihak manajemen PT Reka Patria Ekaguna melalui Departemen HRD & QHSE juga menyambut positif kegiatan tersebut. Pelatihan dan simulasi dinilai memberikan kontribusi terhadap penguatan safety culture serta mendukung kepatuhan terhadap standar keselamatan pada gedung bertingkat.

    Melalui KKN Mandiri ini, kesiapsiagaan tanggap darurat di lingkungan PT Reka Patria Ekaguna diharapkan dapat terus dipelihara secara berkelanjutan. Kegiatan tersebut sekaligus membuka ruang kolaborasi antara Univet Bantara Sukoharjo dan dunia industri dalam penerapan ilmu Kesehatan Masyarakat, khususnya bidang K3L. (Sofyan)

    AIPDA Rachmat Ary dari Polsek Giritontromemberikan edukasi mengenai pentingnya memahami dan menaati aturan lalu lintas, khususnya bagi pelajar yang dalam kesehariannya beraktivitas menggunakan kendaraan di jalan raya.


    Tertib Berlalu Lintas, Bijak Bermedia Sosial: SMP N 2 Giritontro Gandeng Polsek Edukasi 650 Siswa

    WONOGIRI - majalahlarise.com - Sebanyak 650 siswa SMP N 2 Giritontro mengikuti sosialisasi tata tertib lalu lintas dan bijak bermedia sosial bersama Polsek Giritontro, Kamis (17/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di halaman sekolah tersebut diikuti para siswa dengan tertib dan penuh perhatian.

    Sosialisasi menghadirkan AIPDA Rachmat Ary dari Polsek Giritontro sebagai pemateri. Dalam kegiatan tersebut, ia memberikan edukasi mengenai pentingnya memahami dan menaati aturan lalu lintas, khususnya bagi pelajar yang dalam kesehariannya beraktivitas menggunakan kendaraan di jalan raya.

    AIPDA Rachmat Ary mengingatkan para siswa agar selalu mematuhi rambu-rambu lalu lintas, menggunakan perlengkapan keselamatan, tidak berkendara secara ugal-ugalan, serta menghormati pengguna jalan lainnya.

    “Ketertiban berlalu lintas bukan hanya tentang menaati aturan, tetapi juga merupakan bentuk tanggung jawab kita untuk menjaga keselamatan diri sendiri maupun orang lain,” pesan AIPDA Rachmat kepada para siswa.

    Selain keselamatan berlalu lintas, sosialisasi juga membahas penggunaan media sosial di kalangan pelajar. Para siswa diajak menggunakan media sosial secara bijak dan bertanggung jawab serta tidak mudah menyebarkan informasi yang belum diketahui kebenarannya.

    AIPDA Rachmat mengingatkan siswa agar berhati-hati dalam membuat maupun membagikan unggahan. Menurutnya, jejak digital dapat tersimpan dalam waktu lama sehingga setiap pengguna perlu mempertimbangkan dampak dari konten yang dibuat atau dibagikan.

    Para siswa juga diimbau tidak melakukan perundungan melalui media sosial, menyebarkan berita bohong, ujaran kebencian maupun konten yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Media sosial diharapkan dimanfaatkan untuk kegiatan positif, seperti belajar, berbagi informasi bermanfaat dan mengembangkan kreativitas.

    Kepala SMP N 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah memberikan pembekalan kepada siswa agar tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memahami aturan, tanggung jawab dan etika dalam kehidupan sehari-hari.

    “Sekolah sangat mengapresiasi kegiatan sosialisasi dari Polsek Giritontro. Materi yang disampaikan sangat relevan dengan kehidupan siswa saat ini, terutama berkaitan dengan keselamatan berlalu lintas dan penggunaan media sosial,” tutur Retno.

    Menurut Retno, edukasi semacam ini penting diberikan secara berkelanjutan karena siswa setiap hari berinteraksi dengan lingkungan jalan raya maupun dunia digital.

    Ia berharap kegiatan tersebut semakin meningkatkan pemahaman siswa mengenai disiplin dan keselamatan berlalu lintas sekaligus membentuk kebiasaan bermedia sosial secara cerdas dan bertanggung jawab.

    “Kami berharap anak-anak dapat menerapkan apa yang sudah disampaikan. Jadilah pelajar yang tertib di jalan, santun dalam pergaulan, serta bijak dan bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial,” harapnya.

    Kegiatan sosialisasi ini menjadi bentuk sinergi dunia pendidikan dan kepolisian dalam memberikan pembinaan kepada generasi muda. Dengan bekal pengetahuan tentang keselamatan berlalu lintas dan etika bermedia sosial, para siswa diharapkan mampu tumbuh sebagai pelajar yang disiplin, sadar aturan dan menggunakan teknologi secara positif. (Sofyan)


    Baca juga: Inagurasi PKKMB Univet Bantara Tandai Penyerahan Mahasiswa Baru kepada Rektor

    Salah satu anak yatim korban Covid-19, dik Rahma, 13 tahun, menyerahkan bunga kepada perwakilan wartawan, Mas Ari dari Merdeka.com.


    Anak Yatim Korban Covid dan Relawan Mahasiswa UIN Gelar Doa Bersama untuk Jurnalis Krakatau yang Hilang

    Sukoharjo - majalahlarise.com - Sekitar 25 anak yatim korban Covid-19 dan anak duafa binaan Sanggar Bhinneka bersama relawan mahasiswa magang dari UIN Solo menggelar aksi doa bersama untuk para jurnalis yang dilaporkan hilang saat menjalankan tugas peliputan di kawasan Gunung Anak Krakatau. Rabu (16/9/2026).

    Aksi kepedulian tersebut diawali dengan menyalakan lilin bersama. Anak-anak juga membawa sejumlah poster berisi pesan dan doa untuk para jurnalis, di antaranya bertuliskan, “Semoga mas-mas wartawan segera ditemukan” dan “Semoga mereka ditemukan selamat”. Selain itu, anak-anak membuat gambar Gunung Anak Krakatau yang disertai tulisan harapan agar bencana gunung meletus tidak terjadi lagi.

    Usai menyalakan lilin, kegiatan dilanjutkan dengan doa bersama yang dipimpin Ustaz Darmanto, penyuluh agama Kementerian Agama Sukoharjo. Anak-anak, pengelola sanggar, relawan mahasiswa, dan sejumlah wartawan bersama-sama memanjatkan doa agar para jurnalis yang hilang segera ditemukan dalam kondisi selamat dan sehat.

    Anak-anak dan menulis harapan pada sebuah kereta putih bergambar Gunung Anak Krakatau. 


    Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan menulis harapan pada sebuah kereta putih bergambar Gunung Anak Krakatau. Anak-anak yatim Sanggar Bhinneka menuliskan berbagai pesan menyentuh, di antaranya, “Cepat ditemukan ya mas-mas ku wartawan”, “Semoga mas wartawan ditemukan sehat”, dan “Mas wartawan, doa kami padamu”. Harapan serupa juga dituliskan oleh para mahasiswa UIN Solo yang turut mengikuti aksi tersebut.

    Sebagai bentuk cinta dan kepedulian kepada insan pers, salah satu anak yatim korban Covid-19, dik Rahma, 13 tahun, menyerahkan bunga kepada perwakilan wartawan, Mas Ari dari Merdeka.com. Penyerahan bunga tersebut menjadi simbol kasih sayang anak-anak kepada para wartawan yang selama ini turut memberitakan berbagai kegiatan sosial Sanggar Bhinneka.

    Dik Rahma mengatakan dirinya ikut mendoakan para jurnalis yang hilang saat menjalankan tugas peliputan Gunung Anak Krakatau.

    “Saya ikut mendoakan mas-mas wartawan yang hilang karena sedang bertugas meliput Gunung Anak Krakatau. Semoga segera ditemukan dalam keadaan sehat,” ujar Rahma.

    Sementara itu, Koordinator aksi sekaligus pendiri Sanggar Bhinneka, Agus Widanarko alias Danar, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian sekaligus ucapan terima kasih anak-anak yatim korban Covid-19 kepada para wartawan.

    “Ini sebagai tanda kepedulian dan terima kasih adik-adik yatim korban Covid Sanggar Bhinneka kepada kakak-kakak wartawan. Sanggar Bhinneka sendiri dulu terbentuk juga karena bantuan liputan saat Covid. Dari pemberitaan itu, anak-anak yatim korban Covid akhirnya bisa berkumpul di sini dan berdirilah sanggar belajar untuk anak yatim korban Covid, anak duafa, dan masyarakat,” ungkap Danar.

    Menurutnya, pemberitaan yang dilakukan para wartawan turut membuka kepedulian masyarakat terhadap keberadaan Sanggar Bhinneka. Karena itu, ketika terjadi musibah yang menimpa para jurnalis saat menjalankan tugas, anak-anak merasa perlu menunjukkan kepedulian melalui doa.

    “Banyak masyarakat yang membaca berita dari mas-mas wartawan kemudian turut peduli pada sanggar kami. Maka sepantasnyalah apa yang terjadi pada wartawan, kami ikut prihatin dan peduli dengan mendoakan agar para wartawan yang sedang melakukan liputan Gunung Anak Krakatau segera ditemukan,” jelasnya.

    Danar berharap doa yang dipanjatkan anak-anak yatim tersebut menjadi bentuk dukungan moral bagi para jurnalis dan keluarga mereka.

    “Semoga doa anak-anak yatim ini bisa tembus langit dan besok ada kabar baik,” harapnya.

    Aksi tersebut menjadi bentuk solidaritas kemanusiaan dari anak-anak Sanggar Bhinneka dan para mahasiswa. Di tengah keterbatasan, mereka menyampaikan pesan sederhana melalui lilin, bunga, gambar, tulisan harapan, dan doa agar para jurnalis yang hilang segera ditemukan dengan selamat. (Sofyan)


    Baca juga: Inagurasi PKKMB Univet Bantara Tandai Penyerahan Mahasiswa Baru kepada Rektor

    Anggota Karang Taruna dan warga Dusun Dedean mengikuti sosialisasi bertema “Generasi Muda Sehat, Cerdas, dan Berprestasi: Kenali Bahaya Pergaulan Bebas dan Narkoba”.


    Mahasiswa KKN Univet Bantara Edukasi Karang Taruna Dedean Desa Gunungan tentang Bahaya Pergaulan Bebas dan Narkoba

    Wonogiri - majalahlarise.com - Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) melalui mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling menggelar sosialisasi bertema “Generasi Muda Sehat, Cerdas, dan Berprestasi: Kenali Bahaya Pergaulan Bebas dan Narkoba”. Kegiatan berlangsung Sabtu (12/9/2026) di Dusun Dedean, Desa Gunungan, Wonogiri.

    Kegiatan menyasar anggota Karang Taruna dan warga Dusun Dedean. Sebanyak 100 anggota Karang Taruna serta 50 warga mengikuti kegiatan yang dikemas secara edukatif dan interaktif.

    Sosialisasi menggunakan metode edutainment, perpaduan edukasi dan hiburan. Materi mengenai bahaya pergaulan bebas dan narkoba disampaikan mahasiswa KKN dari Program Studi Bimbingan dan Konseling,  Sherlieana Bestia Luthfi Awanda kemudian dilanjutkan dengan pemaparan dari narasumber P4GN Sukoharjo, Agus Widanarko, S.E., M.H., M.Si.

    Narasumber Agus Widanarko, S.E., M.H., M.Si saat menyampaikan materi secara komunikatif melalui pemaparan materi, tanya jawab, ice breaking, serta kegiatan menyanyi bersama.


    Materi disampaikan secara komunikatif melalui pemaparan materi, tanya jawab, ice breaking, serta kegiatan menyanyi bersama. Konsep tersebut dirancang agar peserta tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga merasa nyaman dan aktif mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

    Agus Widanarko menjelaskan pentingnya memberikan pemahaman kepada generasi muda mengenai berbagai risiko pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba. Edukasi sejak dini diharapkan dapat membantu pemuda mengenali lingkungan pergaulan yang berisiko serta mengambil keputusan yang lebih bijak.

    “Generasi muda perlu memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk mengenali bahaya pergaulan bebas dan narkoba agar mampu menjaga diri, memilih lingkungan pergaulan yang sehat, serta meraih masa depan dengan lebih baik,” ujar Agus Widanarko dalam kegiatan tersebut.


    Kegiatan ini dilaksanakan sebagai upaya memberikan edukasi kepada anggota Karang Taruna dan warga Dusun Dedean mengenai bahaya pergaulan bebas, termasuk perilaku seksual berisiko, serta bahaya penyalahgunaan narkoba.

    Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa KKN berharap peserta semakin memahami dampak negatif pergaulan bebas dan narkoba sekaligus memiliki kemampuan untuk mengantisipasi berbagai risiko yang dapat mengganggu kesehatan, pendidikan, kehidupan sosial, dan masa depan generasi muda.

    Selain memberikan pengetahuan, kegiatan tersebut juga menjadi ruang interaksi antara mahasiswa KKN dengan masyarakat. Pendekatan yang komunikatif diharapkan membuat pesan pencegahan lebih mudah diterima dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    Dengan keterlibatan Karang Taruna dan warga, edukasi diharapkan tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi, tetapi dapat berkembang menjadi kepedulian bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi muda sehat, cerdas, dan berprestasi. (Sofyan)

     

    Prosesi penyerahan Pataka Univet Bantara kepada Rektor sebagai simbol penyambutan mahasiswa baru dan penerimaan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Univet Bantara.

    Inagurasi PKKMB Univet Bantara Tandai Penyerahan Mahasiswa Baru kepada Rektor

    SUKOHARJO – majalahlarise.com – Mahasiswa baru Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo secara resmi diserahkan dari Ketua Panitia Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) kepada Rektor Univet Bantara dalam prosesi inaugurasi yang berlangsung di Auditorium kampus, Rabu (16/9/2026).

    Prosesi tersebut turut dihadiri dan didampingi Wakil Rektor I, Wakil Rektor II, Wakil Rektor III, Pengurus Yayasan Pembina Pendidikan Perguruan Veteran (YPPP Veteran) Sukoharjo beserta jajaran. Penyerahan mahasiswa baru menjadi salah satu rangkaian penting yang menandai berakhirnya masa pembekalan PKKMB sekaligus dimulainya perjalanan mahasiswa memasuki kehidupan akademik di perguruan tinggi.

    Selain penyerahan mahasiswa baru, rangkaian inaugurasi juga diisi prosesi penyerahan Pataka Univet Bantara kepada Rektor sebagai simbol penyambutan mahasiswa baru dan penerimaan mereka sebagai bagian dari keluarga besar Univet Bantara.

    Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., mengatakan mahasiswa baru telah mengikuti rangkaian pembekalan selama tiga hari sebelum secara resmi diterima dalam prosesi inaugurasi.

    Penampilan “(GS) Oh My Drop” menghibur mahasiswa baru dalam penutupan PKKMB.


    “Alhamdulillah, hari ini tepat pukul 13.00 saya menerima mahasiswa baru yang sudah dibekali selama tiga hari. Siang hari ini sampai nanti sore pukul 17.00 merupakan proses inaugurasi,” ujar Prof. Farida.

    Menurutnya, prosesi tersebut menjadi momentum penting karena mahasiswa baru yang sebelumnya mengikuti pembekalan secara resmi diserahkan kepada rektor untuk kemudian diteruskan kepada jajaran akademik dan fakultas masing-masing.

    “Setelah mahasiswa baru diserahkan kepada rektor, selanjutnya saya menyerahkan kepada Wakil Rektor I untuk diteruskan ke fakultas dan program studi masing-masing,” jelasnya.

    Prof. Farida menuturkan rangkaian pembekalan PKKMB memberikan bekal awal bagi mahasiswa untuk mengenal lingkungan Univet Bantara secara lebih dekat. Pengenalan tersebut mencakup sarana dan prasarana kampus, berbagai program universitas, dosen, pimpinan, serta kehidupan bersama mahasiswa lainnya.


    “Harapannya mahasiswa mengenal lingkungan kampus, sarana dan prasarana, program-program universitas, para dosen dan pimpinan. Mereka juga bisa semakin akrab dengan mahasiswa senior sehingga lebih mudah beradaptasi dengan kehidupan akademik di Univet Bantara,” jelasnya.

    Ia menambahkan pengalaman selama PKKMB membuat mahasiswa baru merasa nyaman berada di lingkungan kampus. Dengan mengenal berbagai unsur yang ada di universitas, mahasiswa diharapkan dapat segera beradaptasi dan fokus mengikuti kegiatan perkuliahan.

    “Pembekalan ini menjadi bekal awal agar mahasiswa merasa nyaman atau at home di Universitas Veteran Bangun Nusantara. Setelah mengenal kampus dan berbagai unsurnya, mahasiswa bisa segera fokus menjalani perkuliahan dengan semangat dan bersungguh-sungguh,” ungkapnya.

    Prof. Farida juga berharap mahasiswa baru mampu menyelesaikan pendidikan tepat waktu. Bahkan, mahasiswa didorong untuk dapat menyelesaikan studi sarjana kurang dari empat tahun apabila memungkinkan.

    “Kalau bisa belum sampai empat tahun sudah mendapatkan gelar sarjana,” tuturnya.

    Ia juga berharap prosesi inaugurasi menjadi pengalaman berkesan bagi mahasiswa baru. Kemeriahan acara diharapkan memberikan suasana positif sekaligus menjadi ucapan selamat datang bagi mahasiswa yang akan menjalani kehidupan akademik di Univet Bantara.

    Setelah prosesi inaugurasi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi apresiasi dan pemberian kenang-kenangan kepada panitia. Acara kemudian diisi hiburan berupa penampilan band lokal Sisabara dan band lokal Sorray.

    Selanjutnya, peserta dan panitia mendapatkan waktu istirahat serta sholat di area Univet. Kegiatan kemudian kembali dilanjutkan di Auditorium melalui penampilan “(GS) Oh My Drop”.

    Rangkaian PKKMB ditutup melalui Closing Ceremony bertajuk “Transformasi Menjadi Mahasiswa Unggul”. Agenda tersebut menjadi penanda berakhirnya rangkaian PKKMB sekaligus mengantarkan 807 mahasiswa baru memasuki tahap kehidupan akademik sebagai mahasiswa Univet Bantara.

    “Sampai jumpa dalam perkuliahan,” menjadi bagian penutup yang disampaikan dalam rangkaian kegiatan tersebut.

    Rangkaian PKKMB Univet Bantara tersebut menjadi momentum awal bagi mahasiswa baru untuk mengenal lingkungan kampus, membangun relasi, serta mempersiapkan diri menjalani proses pendidikan di perguruan tinggi. (Sofyan)


    Baca juga: Tekan Kasus Hipertensi, Mahasiswa Kesmas Univet Bantara Dampingi Lansia Kradenan Manfaatkan Akupresur dan TOGA


Top