GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Artikel Pengembangan Profesi
Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik
Dosen PBSI FKIP UNS, Pendiri dan Penggiat Literasi Arfzh Ratulisa, serta Komunitas DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
"Kawan, bergerak dan berinovasi untuk menemukan solusi bagi multigenerasi NKRI merupakan komitmen yang mulia sepanjang masa”
Alhamdulillah, segala puji syukur hanya untuk Allah SWT. Dengan segala nikmat dan karunia-Nya akhirnya Buku Diklisa#5 yang berjudul Problematika dan Solusi Pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia Era Digital telah terbit dalam rangka ulang tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 2026 dan Gerakan Literasi Komunitas Diklisa (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) untuk terus berkarya, berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa. Komunitas DIKLISA didirikan dan diluncurkan oleh Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S.,M.Hum. pada Jumat, 2 Mei 2025 untuk seluruh Masyarakat NKRI dengan visi “Merajut silaturahmi, berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca), berbagi ilmu untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat.” Dengan demikian, keluarga besar DIKLISA akan terus bergerak dan menggerakkan semangat multigenrasi NKRI untuk terus berliterasi dengan Ratulisa sepanjang masa.
Pembelajaran bahasa Indonesia pada jenjang sekolah dasar, menengah, dan tinggi memiliki aneka permasalahan yang beragam. Hal ini dapat diidentifikasi pada sumber daya guru dan dosennya, murid atau mahasiswa, media pembelajaran, model pembelajaran, sumber literasi digital dan nondigital, sarana prasana, dan lingkungan pembelajaran. Oleh karena itu, proses belajar dan membelajarkan diri untuk menguasai kompetensi hardskill dan softskill bidang bahasa dan sastra Indonesia perlu diperkaya dengan metode pembelajaran berbasis kasus, dan berbasis proyek. Hal ini dalam rangka untuk memperkaya reportoar bahasa, kasus, dan proyek yang dimiliki murid, mahasiswa, guru, dan dosen era digital. Aneka hal permasalahan dalam pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia yang dapat diidentifikasi keunggulan, kelemahan, aneka pembelajaran berbasis kasus, dan proyek-proyeknya harus dapat dijadikan sumber literasi bagi para pembelajar bahasa dan sastra Indonesia, baik secara mikro maupun makro dalam multikonteks pembelajaran.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat mengikuti perkembangan zaman harus terus diikuti dengan langkah cerdas untuk sosialisasi dan mengedukasi kepada murid, mahasiswa, guru, dan dosen era digital secara berkelanjutan. Hal ini sebagai bentuk kepedulian dan empati terhadap perkembangan dan peningkatan sumber daya guru dan dosen era digital yang dimiliki. Upaya pembekalan keterampilan abad xxi: berpikir kritis, kreatif, komunikatif, dan kolaboratif harus terus diberikan secara bertahap dan menyeluruh. Penguatan enam literasi dasar bagi murid, mahasiswa, guru, dan dosen era digital sangat diperlukan sebagai langkah strategis dan mitigasi untuk peningkatan kualitas pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia era digital secara komprehensif dan berkelanjutan. Enam literasi dasar tersebut antara lain, literasi: menulis dan membaca, numerik, digital, keuangan, sains, dan budaya & kewargaan yang harus diajarkan, dipahami, dan diimplementasikan kepada seluruh Masyarakat NKRI.
Akhirnya, selamat dan sukses atas diterbitkan buku DIKLISA#5 yang dihasilkan oleh Komunitas DIKLISA sebagai wujud komitmen untuk terus bersilaturahmi, berliterasi dengan Ratulisa, dan berbagi ilmu untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat. Selamat membaca, memahami, dan mengamalkan ilmu yang bermanfaat dalam Buku Diklisa#5 yang ada di tangan Bapak dan Ibu pembaca yang budiman. Sampai jumpa dalam karya nyata Komunitas DIKLISA pada Buku DIKLISA#6 yang akan datang.
“Bergerak dan menggerakkan semangat belajar dan berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) bersama Komunitas DIKLISA (Dilaog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) menjadi keniscayaan yang harus dilaksanakan secara bertahap dan komprehensif”
“Tulisan ini merupakan pengantar dan ulasan Buku DIKLISA#5 yang diterbitkan dan diluncurkan oleh Komunitas Diklisa pada tanggal 27 Agustus 2026”
Istana Arfuzh Ratulisa dan DIKLISA Surakarta, 3 September 2026
Artikel Pengembangan Profesi
Teknologi sebagai Media Pengembangan Gamifikasi sebagai Media Pembelajaran Inovatif untuk Generasi Abad XXI Era Digital
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik
Dosen PBSI FKIP UNS, Pendiri, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & Komunitas DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
“Kawan, bergerak dan berinovasi tiada henti untuk mengasilkan karya-karya nyata sebagai sumber literasi dan media pembelajaran untuk menyiapkan generasi Indoensia yang unggul, kritis, kreatif, inovatif, produktif, dan inspiratif”
Alhamdulillah, segala puji syukur kepada Allah SWT atas terbitnya buku berjudul Teknologi Media Pembelajaran: Pendekatan Gamifikasi untuk Pembelajaran Abad ke-21 yang ditulis Saudara Elen Inderasari, Hari Kusmanto, Giyoto, dan Hilmy Mahya Masyhuda. Kehadiran buku ini menjadi salah satu alternatif sumber literasi bagi guru, dosen, murid, dan mahasiswa abad XXI dalam proses belajar dan membelajarkan diri. Kompetensi hardskill dan softskill yang perlu menjadi bekal bagi guru, dosen, murid, dan mahasiswa abad XXI harus dapat dilaksanakan sejak dini dalam proses pembelajaran di kelas dan mandiri. Komitmen penulis untuk dapat menyajikan sumber literasi yang adaptif sesuai dengan konteks perkembangan zaman digital sangat selaras dengan kebutuhan pendidikan era digital. Oleh karena itu, ucapan selamat dan sukses untuk Saudara Elen Inderasari dkk. untuk terus melaksanakan tri dharma perguruan tinggi yang bermanfaat untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat.
Buku ini memiliki keunggulan secara tekstual dan kontesktual untuk pembelajar mandiri dan berkelompok, baik di kelas maupun di luar kelas. Buku yang terdiri atas xix romawi, 337 halaman, dan 7 bab ini menjadi salah satu rujukan penguatan kompetensi hardskill dan softskill pembacanya secara berimbang. Hal ini dapat dilihat dalam 7 bab yang dideskripsikan dalam buku ini terdiri atas: Bab I Pendahuluan membahas transormasi pembelajaran berbasis teknologi era digital, gamifikasi dan pentingnya dalam pendidikan era digital; Bab II Landasan Teoretis Gamifikasi membahas konsep dasar teknologi pembelajaran, media pembelajaran, gamifikasi dan ruang lingkupnya; Bab III Desain Pembelajaran Berbasis Gamifikasi membahas desain pembelajaran berbasis gamifikasi secara detail; Bab IV Platform Gamifikasi Berbasis Kuis Interaktif membahas aneka platform digital sebagai media pembelajaran pembelajar era digital, seperti kahoot, quizizz/wayground, socrative, quizalize, quizwhizzer, dan mentimeter; Bab V Platform Gamifikasi Berbasis Permainan Edukatif membahas aneka aneka platform gamifikasi, seperti; gimkit, blooket, zep quiz,triva anywhere, kungfu quiz, dan wordwall; Bab VI Platform Gamifikasi Berbasis Aktivitas dan Konten Digital membahas aneka platform quizify AI, educaplay, edpuzzle, formative jotform, dan flexiquiz dalam pembelajaran; Bab VII Evalausi, Tantangan, dan Masa Depan Gamifikasi dalam Pembelajaran membahas aneka dampak positif gamifkikasi, peluang, dan tantangan dalam pembelajaran era digital. Rangkaian penjelasan deskriptif ketujuh bab dalam buku ini dengan contoh dan praktik yang sangat lengkap menjadi keunggulan yang sangat layak untuk dipelajari dan dipahami sebagai modal penegetahuan bagi guru, dosen, mahasiswa, dan murid era digital.
Perkembangan teknoloogi yang sangat pesat harus diikuti pendidikan dan pelatihan bagi guru, dosen, murid, dan mahasiswa abad XXI terkait dengan aneka platform teknologi yang dapat dimanfaatkan dalam pembelajaran. Hal ini sebagai bentuk adaptasi dan penguatan kompetensi hardskill dan softskill untuk pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran. Guru dan dosen bersama murid dan mahasiswa harus dapat menguasai keterampilan abad XXI: (1) berpikir kreatif, (2) berpikir kritis, (3) kolaboratif, dan (4) komunikatif. Selain menguasai 4 keterampilan abad XXI guru, dosen, mahasiswa juga harus menguasai enam literasi dasar, yaitu literasi: (1) menulis dan membaca, (2) numerik, (3) digital, (4) keuangan, (5) sains, dan (6) budaya & kewargaan. Penguasaan keterampilan abad XXI dan enam literasi dasar tersebut merupakan modal dasar generasi abad XXI untuk menguasai dunia era digital dan memiliki daya saing serta daya sanding era digital.
Pembelajaran berbasis media gamifikasi akan sangat efektif bagi generasi digital khususnya gen-Z. Hal ini sebagai wujud adaptasi kekinian yang disesuaikan dengan kebutuhan dan kebermanfaatan media pembelajaran era digital yang dimanfaatkan secara komprehensif bagi guru, dosen, murid, dan mahasiswa dalam pembelajaran. Pengembangan aneka media pembelajaran berbasis teknologi sangat ditunggu dalam dunia Pendidikan era digital sebagai media pembelajaran yang efektif dan efisien era digital. Kehadiran buku ini sebagai salah satu jawaban bahwa inovasi tiada henti untuk menghasilkan karya nyata bagi guru dan dosen abad XXI untuk terus berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa. Akhirnya, selamat membaca, memahami, mengamalkan ilmu yang telah dibaca dengan cermat dan ceria melalui buku yang juoss guandhos puoll ini.
“Kawan, keheningan untuk merajut kata sebagai sumber literasi Ratulisa kala senja menuju ke peraduannya akan bangkitkan semangat multigenerasi NKRI untuk cerdas dan sukses sepanjang masa”
”Tulisan ini merupakan pengembangan tulisan untuk pengantar dan ulasan buku yang ditulis Saudara Elen Inderasari, Hari Kusmanto, Giyoto, dan Hilmy Mahya Masyhuda berjudul Teknologi Media Pembelajaran: Pendekatan Gamifikasi untuk Pembelajaran Abad ke-2”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 31 Agustus 2026
Artikel Pengembangan Profesi
Simbiosis Mutualisme Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Daerah, Sekolah, dan Kampus dengan Media Cetak dan Digital sebagai Sumber Literasi Ratulisa
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & Komunitas DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
“Aku menulis berarti aku hidup, aku membaca berarti aku mengerti, dan aku berbagi berarti aku bahagia menyapa dunia dengan rajutan kata”
Perpustakaan memiliki peran penting sebagai sumber informasi, baik cetak dan noncetak bagi pemustaka. Perpustakaan ada di setiap lembaga pemerintah dan nonpemerintah, baik pendidikan dasar, perguruan tinggi, lembaga, dan badan, baik konvensional maupun digital. Berbicara masalah perpustakaan tentu kita tidak dapat melepaskan pada fungsi media cetak dan digital sebagai sumber informasi dan pembelajaran bagi peserta didik dan masyarakat umum agar melek literasi cetak dan digital. Oleh karena itu, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, perpustakaan daerah, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan kampus harus dapat terjadi symbiosis multualisme dengan media cetak dan digital sebagai sembur literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) bagi multigenerasi Indonesia.
Perpustakaan dan media cetak memiliki fungsi yang hampir sama, yakni menyebarkan informasi, sumber layanan informasi, dan sumber belajar bagi peserta didik dan Masyarakat di seluruh Indonesia. Terkait dengan hal tersebut maka fungsi perpustakaan dan media cetak harus dapat diintegrasikan sebagai bentuk penguatan pusat sumber informasi dan belajar. Selain itu, perpustakaan dan media cetak harus memiliki kerja sama untuk menyebarkan informasi kepada peserta didik dan masyarakat umum secara terintegratif agar tidak mudah tertipu oleh informasi yang tidak valid atau hoaks.
Merujuk paparan di atas, dapat diperhatikan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan (https://jdih.perpusnas.go.id/file_peraturan/UU_No._43_Tahun_2007_tentang_Perpustakaan_.pdf) pada pasal 1 ayat (1) menyebutkan bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka. Selanjutnya dijelaskan pada ayat (2) bahwa koleksi perpustakaan adalah semua informasi dalam bentuk karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam dalam berbagai media yang mempunyai nilai pendidikan yang dihimpun, diolah, dan dilayankan. Sementara itu, daya dukung perpustakaan adalah pustakawan. Dengan demikian, perpustakaan memiliki fungsi simbiosis mutualisme atara perpustakaan dengan media cetak dan digital sebagai pusat sumber belajar dan informasi bagi seluruh civitas akademika untuk meningkatkan budaya baca bagi masyarakat.
Mendekatkan Perpustakaan dengan Masyarakat, baik di Sekolah dan Kampus
Perpustakaan harus menjadi media pembelajaran dan sumber literasi ratulisa (rajin menulis dan membaca) bagi masyarakat pendidikan di Indonesia. Hal ini dilihat dari peran penting dan fungsi perpustakaan sebagai pusat sumber belajar, koleksi, informasi. Oleh karena itu, perpustakaan harus didekatkan kepada masyarakat pendidikan sebagai upaya untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia. Terkait dengan hal tersebut, pemberdayaan dan pengembangan sumber daya manusia perpustakaan sebagai pustakawan dan ujung tombak pelayanan perpustakaan harus dioptimalkan. Dengan demikian, kedekatan informasi, lembaga, dan fungsi koleksi serta menginformasikan dapat dijalankan seutuhnya oleh para pustakawan dan staf administrasi di perpustakaan.
Terkait dengan hal tersebut, UU Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 1 ayat (8) menyebutkan bahwa pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan. Sementara itu pada ayat (9) pemustaka adalah pengguna perpustakaan, yaitu perseorangan, kelompok orang, masyarakat, atau lembaga yang memanfaatkan fasilitas layanan perpustakaan. Lebih lanjut ayat (10) dijelaskan mengenai bahan perpustakaan adalah semua hasil karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam. Terkait dengan ini para pemustaka adalah peserta didik di sekolah formal dan nonformal. Dijelaskan lebih lanjut pada ayat (11) bahwa masyarakat adalah setiap orang, kelompok orang atau lembaga yang berdomisili pada suatu wilayah yang mempunyai perhatian dan peranan dalam bidang perpustakaan. Merujuk penjelasan di atas, dapat ditegaskan bahwa keberadaan perpustakaan sangat diperlukan oleh pemustaka, peserta didik, dan masyarakat umum sebagai sumber ilmu dan pengetahuan secara berkelanjutan dan sekaligus sebagai media rekreasi baca di tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, sekolah, dan masyarakat.
Dengan demikian semua instansi yang memiliki perpustakaan, baik jenjang pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, maupun lembaga pemerintah dan nonpemerintah harus mendekatkan perpustakaan dengan masyarakat pendidikan sebagai pusat sumber belajar bagi peserta didik dan masyarakat umum. Kedekatan masyarakat dengan perpustakaan akan sangat berarti untuk meningkatkan dan membiasakan budaya baca masyarakat Indonesia.
Peran Perpustaakan Nasional Republik Indonesia sebagai Rujukan Nasional
Perpustakaan memiliki aneka referensi, koleksi, dan layanan yang bervariasi. Namun demikian, tidak semua perpustakaan memiliki koleksi lengkap dan layanan yang sesuai dengan harapan para pengunjungnya. Oleh karena itu, pemerintah memfungsikan perpustakaan nasional RI sebagai rujukan nasional sebagai pusat sumber belajar dan informasi bagi masyarakat. Dengan demikian, integrasi perpustakaan sebagai sumber informasi bagi peserta didik dan masyarakat umum dapat terealisasi.
Berbicara masalah peran penting perpustakaan sebagai sumber belajar bagi peserta didik dan masyarakat diperlukan simbiosis mutualisme antara perpustakaan dengan media cetak dan perpustakaan nasional RI sebagai rujukan nasional. Selaras dengan pemikiran di atas, Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2014 tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dijelaskan pada bab I pasal 1 ayat (7) perpustakaan nasional adalah lembaga pemerintah non-kenegaraan yang melaksanakan tugas pemerintah dalam bidang perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian, dan pusat jejaring perpustakaan serta berkedudukan di ibukota negara. Kemudian ayat (8) dijelaskan perpustakaan provinsi adalah perpustakaan daerah yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, dan perpustakaan pelestarian yang berkedudukan di ibukota provinsi. Lebih lanjut dijelaskan pada ayat (9) perpustakaan kabupaten/kota adalah perpustakaan daerah yang berfungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan penelitian, dan perpustakaan pelestarian yang berkedudukan di ibukota kabupaten/kota. Merujuk paparan di atas, peran penting perpustakaan nasional sebagai rujukan nasional dan Pembina perpustakaan umum daerah dan pendidikan sangat diperlukan dalam konteks integrasi perpustakaan dengan media cetak sebagai sumber informasi dan sumber belajar bagi peserta didik dengan masyarakat umum.
Masyarakat Harus Cerdas dan Pandai untuk Menjadi Guru di Keluarga
Kekuatan sebuah bangsa bergantung pada kompetensi sumber daya manusianya. Oleh karena itu, pemerintah berkewajiban untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, masyarakat juga berhak untuk menentukan masa depan bangsanya melalui pendidikan. Terkait dengan hal tersebut, dalam bab II bagian kesatu pasal 5 Ayat (1) UU Nomor 43 Tahun 2007 dijelaskan bahwa masyarakat mempunyai hak yang sama untuk: (1) memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan, (2) mengusulkan keanggotaan dewan perpustakaan, (3) mendirikan dan/atau menyelenggarakan perpustakaan, (4) berperan serta dalam pengawasan dan evaluasi terhadap penyelenggaraan perpustakaan. Selanjutnya pada ayat (2) dijelaskan bahwa masyarakat di daerah terpencil, terisolasi, atau terbelakang sebagai akibat faktor geografis berhak memperoleh layanan perpustakaan secara khusus. Sementara itu, pada ayat (3) dijelaskan bahwa masyarakat yang memiliki cacat dan/atau kelainan fisik, emosional, mental, intelekstual, dan/atau sosial berhak memperoleh layanan perpustakaan yang disesuaikan dengan kemampuan dan keterbatasan masing-masing. Dengan demikian, peran penting pemerintah adalah mengoptimalkan kinerja para pustakawan dan melengkapi sarana dan prasarana yang dimiliki untuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia melalui pustaka ilmiah.
Merujuk paparan tersebut, antara hak dan kewajiban masyarakat terhadap perpustakaan perlu diimbangkan, maka perlu dijelaskan mengenai kewajiban masyarakat. Berdasarkan UU Nomor 43 Tahun 2007 pasa 6 ayat (1) dijelaskan bahwa masyarakat berkewajiban: (1) menjaga dan memelihara kelestarian koleksi perpustakaan, (2) menyimpan, merawat, dan melestarikan naskah kuno yang dimilikinya dan mendaftarkannya ke perpustakaan nasional, (3) menjaga kelestarian dan keselamatan sumber daya perpustakaan di lingkungannya, (4) mendukung upaya penyediaan fasilitas layanan perpustakaan di lingkungannya, (5) mematuhi seluruh ketentuan dan peraturan dalam pemanfaatan fasilitas perpustakaan, dan (6) menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan lingkungan perpustakaan. Dengan demikian, diperlukan sosialisasi dan pemahaman fungsi perpustakaan kepada masyarakat sebagai sumber belajar dan rekreasi pustaka.
Selaras dengan hal tersebut, pemerintah juga berkewajiban untuk memberikan fasilitas ruang baca kepada seluruh masyarakat. Sesuai dengan ketentuan UU Nomor 43 Tahun 2007 Pasal 7 ayat (1) yang menjelaskan bahwa pemerintah berkewajiban (1) mengembangkan sistem nasional perpustakaan sebagai upaya mendukung sistem pendidikan nasional, (2) menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat, (3) menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di tanah air, (4) menjamin ketersediaan keragaman koleksi perpustakaan melalui terjemahan (translasi), alih aksara (transliterasi), alih suara ke tulisan (transkripsi), dan alih media (transmedia), (5) menggalakkan promosi gemar membaca dan memanfaatkan perpustakaan, (6) meningkatkan kualitas dan kuantitas koleksi perpustakaan, (7) membina dan mengembangkan kompetensi profesionalitas pustakawan, dan tenaga teknis perpustakaan, (8) mengembangkan perpustakaan secara berkelanjutan.
Selaras dengan paparan tersebut, sesuai dengan pasal 8 UU Nomor 43 Tahun 2007 dijelaskan bahwa pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota berkewajiban: (1) menjamin penyelenggaraan dan pengembangan perpustakaan di daerah, (2) menjamin ketersediaan layanan perpustakaan secara merata di wilayah masing-masing, (3) menjamin kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan sebagai pusat sumber belajar masyarakat, (4) menggalakkan promosi gemar membaca dengan memanfaatkan perpustakaan, (5) memfasilitasi penyelenggaraan perpustakaan di daerah, dan (6) menyelenggarakan dan mengembangkan perpustakaan umum daerah berdasarkan kekhasan daerah sebagai pusat penelitian dan rujukan tentang kekayaan budaya daerah di wilayahnya. Dengan demikian, pemerintah pusat dan daerah harus berkerja sama dalam rangka mempromosikan gemar membaca bagi peserta didik dan masyarakat sehingga dapat mewujudkan cita-cita Indonesia untuk masyarakat cerdas dan pandai.
Merujuk paparan di atas, apabila simbiosis mutualisme antara perpustakaan dengan media cetak dan digital dapat terwujud maka setiap masyarakat Indonesia dapat menjadi guru bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat di sekitarnya. Persaingan global mengharuskan kita memiliki sumber daya manusia yang unggul dan terampil dalam berbagai bidang sehingga dapat bersaing dan berdaya sanding di tingkat nasional dan internasional. Komitmen orang tua, guru, dosen, masyarakat, dan pemerintah harus dapat menjadi teladan dan contoh untuk terus belajar dan membelajarkan diri untuk terus berliterasi dengan Arfuzh Ratulisa bersama Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) sepanjang masa dengan simbiosis mutualisme sumber literasi cetak dan digital dalam multikonteks kehidupan secara komprehensif dan berkelanjutan.
“Bergerak dan belajar untuk terus ikut serta berpartisipasi dan berliterasi dengan Ratulisa akan dapat mengantarkan diri untuk menjadi manusia hebat yang bermanfaat dan maslahat untuk umat sepanjang hayat”
Istana Arfuzh Ratulisa dan diklisa Surakarta, 1 Agustus 2026
Artikel Pengembangan Profesi
Belajar dan Membelajarkan Bahasa Indonesia Berbasis Seni, Budaya, dan Sastra untuk Memotivasi, Menginspirasi, dan Memantik Gerakan Literasi Ratulisa bagi Multigenerasi NKRI pada Era Digital
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.
Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum. |
“Kawan, merajut kata untuk membentuk teks merupakan langkah nyata saat menuangkan ide dan gagasan yang dapat disampaikan kepada pembaca di seluruh wilayah Indonesia sepanjang masa”
Alhamdulillah, segala puji syukur dipanjatkan kepada Tuhan Yang maha Esa yang telah memberikan kekuatan dan kesempatan kepada penulis untuk terus berliterasi dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) sepanjang masa bersama kawan-kawan Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) . Ucapan selamat dan sukses luar biasa disampaikan untuk para penulis buku berjudul Bahasa Indonesia Inspiratif: Memahami Teks Melalui Seni, Budaya, dan Sastra yang diterbitkan oleh Penerbit Yuma Pustaka Surakarta. Selamat dan sukses untuk para penulis yang hebat luar biasa, antara lain Saudara; Zuhad, Carrine Irawan K, Cahyo Hasanudin, dan Tutut Septia Wati yang hebat luar biasa. Para penulis tersebut telah berjuang untuk menyelesaikan tulisan yang dibukukan dan diabadikan untuk teladan dan rujukan belajar bahasa Indonesia berbasis seni, budaya, dan sastra bagi seluruh multigenerasi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Buku yang ditulis tersebut merupakan wujud keteladanan untuk mengimplementasikan gerakan literasi ratulisa bagi seluruh multigenerasi NKRI yang belajar pada jenjang pendidikan dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Komitmen untuk belajar berbasis teks, koteks, dan konteks merupakan modal dasar untuk dapat belajar bahasa pada ranah struktural dan fungsional. Belajar bahasa Indonesia berbasis linguistik struktural artinya pembelajar harus memahami teks bahasa Indonesia berbasis struktural. Oleh karena itu, pembelajar bahasa harus memahami linguistik secara diadik, yakni bentuk dan fungsinya. Hal ini diperkuat dan didukung dengan pemahaman linguistik struktural, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan wacana. Kemudian proses belajar bahasa yang terapan dapat didukung dengan memahami ranah linguistik fungsional. Proses belajar bahasa secara fungsional harus diperkuat dengan pemahaman secara triadik, yakni bentuk, fungsi, dan konteks. Hal ini sebagai penguatan proses belajar linguistik fungsional, seperti: pragmatik, sosiolinguistik, sosiopragmatik, religiopragmatik, neurolinguistik, psikopragmatik, linguistik historis komparatif, dan linguistik terapan lainnya yang mendukung penguatan sumber literasi digital dan nondigital bagi pembelajar bahasa Indonesia berbasis seni, budaya, dan sastra.
Belajar dan membelajarkan bahasa Indonesia berbasis seni, budaya, dan sastra harus dapat dideskripsikan dalam tiga pilar utama, yaitu pilar seni, budaya, dan sastra. Ketiga pilar tersebut akan menjadi dasar penguatan belajar bahasa secara komprehensif. Hal ini dapat dijabarkan sebagai berikut. Pertama, pilar seni. Seni merupakan aneka sajian bentuk rupa, suara, dan seni lainnya untuk dikomunikasikan secara verbal dan nonverbal kepada para penikmat seni. Oleh karena itu, seni rupa, musik, patung, dan seni-seni lainnya akan dapat menjadi objek dan media nonverbal untuk menjadi media pembelajaran bahasa Indonesia secara verbal atau teks secara komprehensif dan berkelanjutan. Kedua, pilar budaya. Aspek-aspek budaya akan dapat menjadi dasar moral dan etika berbahasa bagi penggunaan bahasa Indonesia secara formal dan nonformal bagi multigenerasi NKRI. Pilar budaya tersebut akan sangat bermanfaat sebagai reportoar budaya yang menjadi daya dukung dan penguatan berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Ketiga, pilar sastra. Sastra merupakan ruang untuk berkreasi dengan teks melalui rajutan kata dengan segala keindahan rasa dan pilihan diksi untuk menyampaikan maksud dan tujuan tuturan dalam berbahasa kepada lawan tutur. Dengan demikian ketiga pilar tersebut, seni, budaya, dan sastra menjadi kebutuhan mendasar untuk dasar dan pengayaan reportoar berbahasa Indonesia khususnya proses belajar teks, koteks, dan konteks dalam berbahasa secara verbal dan nonverbal.
Buku yang disajikan dengan xii halaman romawi dan 412 halaman isi, serta terdiri atas 6 bab, antara lain: (1) Aku dan sekitarku; (2) Imajinasiku tanpa batas; (3) Panduan Praktis Kehidupanku; (4) Indahnya Nasihat dan Rima; (5) Fakta, Berita, dan Gagasan; (6) Inspirasi untuk Maju. Keenam bab tersebut ditambah subbab pembahasan dan dideskripsikan secara lengkap dengan aneka sajian dan deskripsi yang sangat memotivasi dan menginspirasi multigenerasi NKRI secara lengkap dan berkelanjutan. Akhirnya, selamat menikmati dan menjelajahi literasi yang menyenangkan berbasis Buku Bahasa Indonesia Inspiratif yang ada dibaca Bapak, Ibu, dan Saudara sebagai pembaca buku yang baik hati, budiman, dan juos gandhos poll. Komitmen guru, dosen, penggiat literasi, mahasiswa, dan murid untuk terus belajar dan membelajarkan diri dengan ratulisa merupakan Upaya untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Akhirnya tulisan yang disajikan oleh keempat penulis dalam buku tersebut sangat layak dan penting untuk menjadi bacaan alternatif sebagai sumber literasi bagi pembelajar bahasa Indonesia pada jenjang sekolah dasar, menengah, dan pendidikan tinggi. Komitmen para penulis untuk dapat menyajikan ide-ide cemerlang sebagai wujud implementasi gerakan literasi Arfuzh Ratulisa (rajin menulis dan membaca), Diklisa (Dialog Pendidikan Literasi, Bahasa, dan Sastra) secara teoretik dan praktik. Belajar dan membelajarkan diri sepanjang masa untuk dapat memantik rasa cinta dan bangga menggunakan bahasa Indonesia merupakan wujud nyata dan target yang diimplikasikan dalam buku yang ditulis dengan penuh simpati dan empati kepada multigenerasi NKRI.
#Tulisan ini merupakan pengantar dan ulasan buku yang ditulis oleh Zuhad, Carrine Irawan K, Cahyo Hasanudin, dan Tutut Septia Wati# berjudul Bahasa Indonesia Inspiratif: Memahami Teks Melalui Seni, Budaya, dan Sastra yang diterbitkan oleh Penerbit Yuma Pustaka Surakarta#
“Bergerak dan menggerakkan multigenerasi NKRI untuk terus mencintai dan membanggakan penggunaan bahasa Indonesia yang benar, baik, dan santun merupakan implementasi gerakan literasi Ratulisa yang berbasis pembelajaran seni, budaya, dan sastra dalam berbagai perspektif yang menyenangkan untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 24 Juli 2026
Artikel Pengembangan Profesi
Membangun Wellbeing Siswa Broken Home Melalui Pendekatan Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Bimbingan Konseling
Oleh: Misi Kamia Wati, S.Pd.
Mahasiswa S2 Uniiversitas Ahmad Dahlan Yogyakarta
![]() |
| Misi Kamia Wati, S.Pd. |
Fenomena keluarga broken home bukan lagi persoalan yang asing di lingkungan pendidikan. Banyak siswa broken home mengalami kesedihan, kecemasan, rasa tidak berharga, kesulitan mengendalikan emosi, hingga kehilangan motivasi belajar. Dalam konteks inilah, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada pencapaian nilai, tetapi juga harus hadir sebagai ruang pemulihan dan penguatan jiwa Ilmu Bimbingan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam membantu siswa mencapai kesejahteraan psikologis. Integrasi antara ilmu BK dan AIK dapat menjadi kekuatan besar dalam mendampingi siswa broken home, karena tidak hanya menyentuh aspek psikologis, tetapi juga spiritual dan moral. Dalam perspektif Islam, setiap manusia memiliki kemuliaan yang tidak bergantung pada kondisi keluarganya. Allah SWT, berfirman: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isra’: 70).
Ayat ini memberikan pesan bahwa siswa yang berasal dari keluarga broken home tetap memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Pendekatan BK modern, khususnya Cognitive Behavioral Therapy (CBT), menekankan bahwa pikiran memengaruhi perasaan dan perilaku. Ketika siswa terus-menerus memikirkan bahwa dirinya tidak berharga, maka ia akan merasa sedih, menarik diri, dan kehilangan semangat belajar. Menariknya, prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya menjaga prasangka dan pikiran. Rasulullah saw, bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Bukhari dan Muslim).
BHadis tersebut dapat dimaknai bahwa pikiran negatif yang tidak berdasar dapat merusak kondisi batin seseorang. Dalam layanan BK berbasis AIK, konselor dapat membantu siswa mengidentifikasi pikiran negatifnya, kemudian menggantinya dengan keyakinan yang lebih sehat dan sesuai ajaran Islam. Konsep wellbeing dalam BK mencakup kemampuan menerima diri, memiliki hubungan positif dengan orang lain, memiliki tujuan hidup, serta mampu mengelola emosi. Islam sebenarnya telah mengajarkan fondasi wellbeing melalui konsep sakinah, thuma’ninah, dan tawakal. Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan batin merupakan bagian penting dari kesejahteraan manusia. Siswa broken home sering mengalami kegelisahan karena merasa hidupnya tidak aman.
Oleh karena itu, layanan BK tidak cukup hanya memberikan nasihat umum, tetapi perlu membimbing siswa menemukan sumber ketenangan yang lebih dalam, yaitu kedekatan dengan Allah. Praktik sederhana seperti doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan refleksi diri dapat menjadi bagian dari strategi konseling yang membantu menurunkan kecemasan dan meningkatkan rasa aman. Nilai Kemuhammadiyahan juga relevan dalam pendampingan siswa broken home. Muhammadiyah menekankan gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang diwujudkan melalui pelayanan kemanusiaan dan pendidikan. Artinya, sekolah Muhammadiyah harus menjadi tempat yang ramah bagi siswa yang sedang mengalami masalah keluarga. Guru BK, wali kelas, guru mata pelajaran, dan teman sebaya perlu membangun budaya empati, bukan stigma. Melalui AIK mengajarkan bahwa setiap ujian hidup memiliki hikmah dan peluang pertumbuhan. Allah berfirman: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).
Ayat ini penting untuk membangun harapan pada diri siswa. Banyak tokoh besar lahir dari keluarga yang tidak ideal, tetapi mampu berkembang karena memiliki dukungan sosial dan keyakinan diri. Konselor dapat membantu siswa menyusun tujuan hidup, mengenali potensi diri, dan merencanakan masa depan. Dengan demikian, siswa tidak terjebak pada masa lalu keluarganya, tetapi bergerak menuju masa depan yang lebih baik. Menurut saya, tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi memastikan setiap siswa merasa aman, dihargai, dan memiliki harapan. Siswa broken home sering hadir di kelas dengan luka yang tidak terlihat. Mereka mungkin tersenyum, tetapi menyimpan kecemasan tentang rumahnya. Jika sekolah hanya menilai dari nilai rapor dan kedisiplinan, maka banyak penderitaan siswa yang tidak pernah tersentuh.
Karena itu, integrasi Al-Islam Kemuhammadiyahan dengan ilmu Bimbingan Konseling perlu diperkuat secara nyata. BK berbasis AIK bukan sekadar menambahkan ayat atau hadis dalam sesi konseling, tetapi menghadirkan pendekatan yang memandang manusia secara utuh: sebagai makhluk psikologis, sosial, dan spiritual. Pada akhirnya, kesejahteraan siswa broken home bukan hanya tanggung jawab guru BK, melainkan tanggung jawab seluruh komunitas sekolah. Ketika sekolah mampu menjadi rumah kedua yang penuh kasih, maka banyak siswa yang semula merasa hancur dapat kembali bangkit. Pendidikan yang berlandaskan AIK dan didukung ilmu BK memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh, beriman, dan memiliki kesejahteraan psikologis yang baik meskipun berasal dari latar belakang keluarga yang tidak sempurna.
Artikel Pengembangan Profesi
Belajar dan Membelajarkan Pragmatik dalam Perspektif Linguistik Kontemporer sebagai Perwujudan Memahami Teks, Koteks, dan Konteks dalam Multikonteks Kehidupan Era Digital
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Guru Besar Bidang Pragmatik dan Pembelajaran Pragmatik
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
“Kawan, indahnya cerita dengan rajutan kata kala senja telah membuka mata, rasa, karsa, dan cipta dalam keheningan dan kesunyian pelukan rembulan dini hari”
Rasa syukur kepada Tuhan Yang maha Esa telah memberikan kesempatan dan ruang berliterasi dengan ratulisa (rajin menulis dan membaca) atas kesempatan yang diberikan oleh Saudara Julia M. Arumia untuk menjadi pembaca pertama dan sekaligus memberikan komentar dan pengantar untuk buku yang luar biasa. Kesuksesan seorang dosen bukan diukur pada harta benda dan jabatan yang diperoleh dan dijalaninya tetapi akan lebih berharga saat melahirkan tulisan artikel atau buku yang dapat dibagikan ilmunya sebagai nilai amal jariah dan memiliki nilai kemaslahatan untuk umat sepanjang hayat. Selamat dan sukses untuk Saudara Julia M. Arumia yang telah berhasil dan sukses menulis ide cemerlang dan menerbitkan buku berjudul “Pragmatik dalam Perspektif Linguistik Kontemporer” yang sangat motivatif dan inspiratif.
Belajar linguistik fungsional khususnya pragmatik harus terus memiliki reportoar multikonteks kehidupan sesuai dengan perkembangan teknologi kekinian. Hal ini sebagai salah satu upaya agar pemahaman teks, koteks, dan konteks yang digunakan untuk memahami maksud dibalik ujaran seorang penutur dapat sesuai yang dimaksud oleh penutur. Pemahaman ini sangat berkaitan dengan pemahaman pragmatik kehidupan dalam perspektif linguistik kontemporer. Tulisan tersebut sangat menarik karena mengkaji dan membahas pragmatik dalam perspektif linguistik kontemporer yang sangat komprehensif secara teoritik dan praktik. Dengan demikian pembaca akan dapat menjelajahi rimba kata dengan aneka makna teks yang melibatkan koteks dan konteks kehidupan secara komprehensif.
Kehadiran buku tersebut sangat bermanfaat bagi para pembelajar pragmatik pemula yang harus memahami dasar-dasar pragmatik secara teoretik dan praktik. Komitmen untuk belajar pada teks, koteks, dan konteks yang terintegrasi dalam multikonteks kehidupan harus terus dilakukan. Hal ini sebagai bentuk pemahaman konteks secara menyeluruh dalam kehidupan dengan segala keanekaragamannya. Keberagaman konteks pembelajaran pragmatik yang memiliki multikonteks kehidupan era digital harus dipahami secara menyeluruh sesuai dengan situasi dan kondisi terkini. Keberagaman dan kelimpahan data digital akan menjadi sumber data kajian pragmatik dalam perspektif linguistik kontemporer yang sangat bervarasi dan komprehensif dalam multikonteks kehidupan.
Keberagamaan data-data dalam konteks pragmatik, wacana kontekstual, sosiolinguistik dalam multikonteks kehidupan era digital tentu sangat menarik untuk dikaji dan dikritisi secara detail berdasarkan daya dukung fakta dan data empirik yang dideskripsikan secara menyeluruh. Kehadiran aneka data dan fakta dalam konteks pragmatic dalam perspektif linguistik kontemporer akan sangat memantik semangat belajar multignerasi NKRI secara bertahap dan menyeluruh. Kajian-kajian pragmatik, dan linguistik kontemporer era digital juga akan dapat membuka ruang pemahaman aneka penutur dan lawan tutur, konteks dan multikonteks kehidupan, implikatur, praaggapan, prinsip kerja sama, prinsip kesantunan, deiksis, siberpragmatik, psikopragmatik, dan juga aneka kasus yang dapat dikaji dan dikritisi dalam konteks pragmatik, analisis wacana, sosiolinguistik kontemporer era digital. Berdasarkan topik-topik yang disajikan dalam buku tersebut sangat menarik untuk terus berliterasi ratulisa dalam perspektif dan kajian pragmatik, analisis wacana, dan sosiolinguistik kontemporer yang berkelanjutan era digital. Topik-topik yang disajikan pada beberapa seksi pembahasan, antara lain: (1) Fondasi Pragmatik Kontemporer; (2) Teori-teori Inti Pragmatik; (3) Pragmatik, Wacana, dan Media Digital; (4) Pragmatik dalam Pendidikan Bahasa Indonesia; (5) Metode Penelitian dan Praktik Analisis; (6) Arah Masa Depan Pragmatik Indonesia. Semua topik-topik tersebut menggambarkan kedalaman dan keterkaitan multikonteks kehidupan dalam pembahasan pragmatik dan wacana kontemporer era digital yang beraneka ragam. Keunikan dan keunggulan buku tersebut telah memberikan deskripsi menyeluruh sebagai buku rujukan akademik dalam kajian pragmatik dan wacana kontemporer didasarkan pada tujuan pembelajaran, topik-topik pembahasan, contoh-contoh analisis dengan multikonteks kehidupan yang sangat lengkap sebagai daya dukung dan daya pragmatik pada teks, koteks, dan konteks pragmatik dan wacana kontemporer era digital yang berkelanjutan.
Kehadiran tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu buku alternatif bagi mahasiswa S-1, S-2, dan S-3 yang ingin mengkaji pragmatik dalam perspektif linguistik kontemporer dalam multikonteks kehidupan secara berkelanjutan. Kehadiran buku ini akan dapat memantik semangat para pembelajar pemula bidang pragmatik, analisis wacana, sosiolinguistk, ilmu komunikasi, hubungan komunikasi internasional, dan kajian-kajian keilmuan lain bidang sosial humaniora yang relevan dalam perspektif linguistik kontemporer. Dengan demikian, para penggiat literasi dan pembelajar pragmatik, analisis wacana, sosiolinguistik kontemporer akan dapat menemukan aneka hal yang baru serta dapat berbagi cerita dalam multikonteks pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia berbasis teks, koteks, dan konteks pragmatik dan analisis wacana kontemporer era digital secara bertahap dan berkelanjutan. Ruang kajian untuk pengembangan diri dengan berliterasi Ratulisa (rajin menulis dan membaca) Bersama Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) akan terus berkembang dan menghasilkan banyak karya inovatif bagi mahasiswa, guru, dosen, penggiat literasi, dan Masyarakat luas.
Akhirnya ucapan selamat dan sukses atas kehadiran buku tersebut yang ada di tangan Bapak dan Ibu pembaca yang Budiman, semoga bermanfaat, maslahat, dan berkah. Buku tersebut akan dapat menemani para pembelajar pragmatik, analisis wacana, dan sosiolinguistik dalam perspektif linguistik kontemporer berbasis multikonteks kehidupan secara terus-menerus dan berkelanjutan. Selamat menjelajahi belantara keilmuan pragmatik, analisis wacana, dan sosiolinguistik dalam perspektif linguistik kontemporer yang juos guandhos puoll dan hebat luar biasa bagi kemajuan dan kejayaan multigenerasi NKRI sebagai generasi emas Indonesia 2045 yang akan datang.
#Tulisan ini merupakan resensi dan sekaligus pengantar buku berjudul “Pragmatik dalam Perspektif Linguistik Kontemporer” yang ditulis oleh Julia M. Arumia, salah satu dosen PBSI FKIP UNTAD Palu#
“Bergerak dan menggerakkan semangat multigeneras NKRI untuk terus berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) merupakan giat mulia dunia akhirat sebagai bentuk nyata ilmu dan amal jariah yang akan mengalir pahalanya sepanjang hayat”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Surakarta, 23 Juli 2026
Artikel Pengembangan Profesi
AIK dan Konseling: Menjaga Akal, Menguatkan Hati di Era Digital
Oleh: Anisa Fitriyana
Guru Bimbingan dan Konseling SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo
![]() |
| Anisa Fitriyana |
Kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Berbagai informasi kini dapat diakses dengan cepat, bahkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mulai menjadi bagian dari proses pembelajaran. Namun, di balik berbagai kemudahan tersebut, muncul tantangan baru yang tidak dapat diabaikan. Peserta didik semakin rentan mengalami kecanduan media sosial, cyberbullying, tekanan akademik, hingga kesulitan mengelola emosi. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga harus membentuk karakter serta menjaga kesehatan mental peserta didik.
Di sinilah integrasi Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK) dengan keilmuan Bimbingan dan Konseling menjadi sangat penting. Salah satu pendekatan yang relevan ialah teknik restrukturisasi kognitif, yaitu teknik yang membantu peserta didik mengenali, mengevaluasi, dan mengubah pola pikir negatif menjadi lebih rasional serta konstruktif. Pendekatan ini terbukti efektif dalam mengembangkan kemampuan mengendalikan emosi dan menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Perubahan cara berpikir akan semakin bermakna apabila dipadukan dengan nilai-nilai AIK. Nilai kesabaran, syukur, tawakal, husnuzan, dan muhasabah menjadi fondasi spiritual yang memperkuat proses perubahan tersebut. Ketika peserta didik belajar memandang setiap persoalan sebagai bagian dari proses pembelajaran yang disertai keyakinan kepada Allah Swt., mereka tidak hanya memperoleh ketenangan batin, tetapi juga memiliki ketahanan psikologis yang lebih kuat.
Integrasi AIK dalam layanan Bimbingan dan Konseling menjadikan proses pendampingan tidak berhenti pada penyelesaian masalah psikologis semata. Lebih dari itu, layanan konseling mampu membentuk pribadi yang beriman, berakhlak mulia, berpikir positif, serta mampu mengambil keputusan secara bijaksana. Pendekatan ini selaras dengan tujuan pendidikan Muhammadiyah yang berupaya melahirkan insan yang unggul secara intelektual sekaligus kokoh dalam spiritualitas.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, pendidikan berkemajuan harus mampu menjaga keseimbangan antara kecerdasan teknologi dan kematangan karakter. Artificial Intelligence dapat membantu manusia berpikir lebih cepat, tetapi nilai-nilai AIK mengajarkan cara memanfaatkan kecerdasan tersebut secara bijaksana dan bertanggung jawab. Dengan demikian, sekolah tidak hanya menghasilkan generasi yang cakap menghadapi perkembangan zaman, tetapi juga memiliki integritas, kesehatan mental, serta kepribadian Islami sebagai bekal membangun masa depan bangsa.
Agar implementasinya semakin optimal, sinergi antara guru, guru Bimbingan dan Konseling, orang tua, dan lingkungan sekolah perlu terus diperkuat. Kolaborasi tersebut akan menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya mendorong penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga menanamkan nilai-nilai keislaman dalam setiap aspek kehidupan peserta didik. Dengan bekal tersebut, generasi muda diharapkan mampu memanfaatkan kemajuan teknologi secara cerdas, beretika, dan bertanggung jawab.
Artikel Pengembangan Profesi
Jumat Kreasi: Dari Bakat Menuju Karakter, dari Potensi Menuju Prestasi
Oleh: Ujang Adhitiar
Guru Bimbingan dan Konseling SMP Negeri 3 Pedan
![]() |
| Ujang Adhitiar |
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan arus digitalisasi, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Keberhasilan peserta didik masih sering diukur berdasarkan capaian akademik, sementara potensi nonakademik belum memperoleh ruang yang seimbang. Paradigma tersebut perlu diubah karena setiap peserta didik memiliki karakteristik, bakat, dan kemampuan yang berbeda. Sekolah seharusnya tidak hanya menjadi tempat mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi ruang yang memfasilitasi peserta didik untuk mengenali, mengembangkan, dan mengaktualisasikan potensi dirinya.
Salah satu contoh implementasi pendidikan yang mampu menjawab tantangan tersebut adalah Program Jumat Kreasi di SMP Negeri 3 Pedan. Program ini menjadi salah satu wadah, di samping berbagai program pengembangan diri lainnya, bagi peserta didik untuk menampilkan bakat, kreativitas, dan kemampuan yang dimiliki, baik dalam bidang seni, musik, pidato, tari, maupun keterampilan lainnya. Kehadiran program ini membuktikan bahwa sekolah mampu menciptakan lingkungan belajar yang humanis, menyenangkan, dan berorientasi pada pengembangan potensi peserta didik secara utuh.
Dalam perspektif Bimbingan dan Konseling, Program Jumat Kreasi sangat relevan dengan teori Person-Centered yang dikemukakan oleh Carl Rogers. Rogers menjelaskan bahwa setiap individu pada hakikatnya memiliki kecenderungan untuk berkembang menuju pribadi yang lebih baik apabila memperoleh lingkungan yang penuh penerimaan, penghargaan, empati, dan kepercayaan. Lingkungan seperti inilah yang tercermin dalam pelaksanaan Jumat Kreasi. Peserta didik tidak dipaksa menjadi pribadi yang seragam, melainkan diberi kesempatan untuk menunjukkan kemampuan terbaik sesuai minat, bakat, dan potensinya. Ketika memperoleh apresiasi atas usaha dan karya yang ditampilkan, rasa percaya diri, keberanian, tanggung jawab, serta kemampuan mengaktualisasikan diri akan tumbuh secara alami. Inilah esensi layanan Bimbingan dan Konseling, yaitu membantu individu berkembang secara optimal, bukan sekadar menyelesaikan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Nilai-nilai tersebut juga selaras dengan Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Dalam ajaran Islam, setiap manusia diciptakan dengan potensi dan kelebihan yang berbeda sebagai amanah dari Allah Swt. Potensi tersebut perlu dikembangkan melalui ikhtiar yang sungguh-sungguh agar memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun orang lain. Muhammadiyah menegaskan pentingnya pendidikan yang mengintegrasikan kecerdasan intelektual, spiritual, moral, dan sosial sehingga terbentuk insan yang berilmu, berakhlak mulia, serta mampu memberikan kontribusi bagi kemajuan masyarakat. Oleh karena itu, bakat yang ditampilkan dalam Program Jumat Kreasi tidak hanya menjadi sarana meraih prestasi, tetapi juga merupakan wujud rasa syukur atas nikmat Allah Swt. serta media untuk menghadirkan kemanfaatan dan kemaslahatan bagi sesama.
![]() |
| Program Jumat Kreasi di SMP Negeri 3 Pedan. |
Program Jumat Kreasi merupakan bukti bahwa pendidikan yang berkualitas tidak semata-mata berorientasi pada nilai rapor, tetapi juga berupaya memanusiakan manusia melalui pengembangan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik. Integrasi nilai-nilai AIK dengan teori Person-Centered dalam layanan Bimbingan dan Konseling menunjukkan bahwa pembentukan karakter, pengembangan bakat, serta peningkatan rasa percaya diri dapat berjalan secara selaras. Program seperti ini layak menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang inklusif dan berpusat pada peserta didik, sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, percaya diri, berakhlak Islami, serta siap menghadapi tantangan kehidupan dan perkembangan zaman.
Artikel Pengembangan Profesi
Layanan BK Berbasis Risalah Akhlak Filosofis: Strategi Tepat Membangun Karakter Unggul
Oleh: Dewi Rahmadina, S.Psi
Guru Bimbingan dan Konseling SMK Negeri 1 Sukoharjo
![]() |
| Dewi Rahmadina, S.Psi |
Remaja saat ini hidup di era digital yang tidak hanya menyajikan berbagai macam kemudahan, namun juga sarat dengan tantangan dalam pembentukan karakter positif. Remaja dapat dengan mudah mengakses informasi dari berbagai belahan dunia dalam waktu yang sangat singkat. Ruang digital dapat membantu mereka dalam berinovasi dan mengembangkan kreatifitas. Remaja dapat memanfaatkan perkembangan teknologi untuk mendukung proses pendidikan maupun pekerjaan.
Namun selain dampak positif, terdapat sisi negatif dari kemudahan akses digital tersebut. Remaja rentan terpapar hal-hal negatif seperti pornografi, agresifitas, bullying, gaya hidup hedonistik, ujaran kebencian, dan lain sebagainya. Sebuah survei dari Pusat Penelitian Kebijakan BRIN pada tahun 2023 menunjukkan bahwa 75% remaja di Indonesia terpapar konten digital negatif seperti pornografi, hoaks, dan kekerasan cyber setidaknya sekali dalam sebulan. Fenomena seperti pergaulan bebas, perundungan, hilangnya rasa hormat terhadap orang tua maupun guru, berkata kasar, serta mudah tersulut emosi, merupakan bentuk degradasi moral yang memerlukan perhatian serius oleh berbagai pihak. Permasalahan ini jika tidak ditangani dapat menghambat perkembangan remaja yang tentunya akan berdampak pada masa depannya.
Sekolah sebagai lembaga penyelenggara pendidikan memiliki peran yang sangat penting dalam mencetak generasi yang berkarakter unggul. Bimbingan dan konseling (BK) yang merupakan salah satu elemen dalam sistem pendidikan juga memiliki peran strategis. Salah satu upaya yang dilakukan guru BK dalam membantu siswa yang terjebak dalam perilaku negatif adalah dengan menerapkan teknik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) yang dikembangkan oleh Albert Ellis. Teknik ini bertujuan untuk: mengubah pikiran irasional menjadi rasional, membangun perilaku sehat, dan membantu individu menerima diri secara realistis. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik Rational-Emotive Behavior Therapy (REBT) terbukti dapat dimanfaatkan untuk membantu guru BK dalam mereduksi perilaku negatif siswa.
Agar penerapan teknik ini berhasil maksimal, maka guru BK mengintegrasikan dengan nilai-nilai risalah akhlak. Risalah akhlak filosofis Muhammadiyah dapat dijadikan nilai rujukan dalam membangun karakter siswa. Tujuan dari risalah akhlak filosofis sendiri adalah (1) membentuk manusia berakhlak mulia. (2) mengembangkan kesadaran ihsan. (3) menjadikan manusia mampu mencapai kebahagiaan hakiki. (4) menjadi pedoman moral yang relevan lintas zaman. Hal ini berkaitan dengan tujuan teknik REBT. Mengintegrasikan risalah akhlak filosofis Muhammadiyah dengan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) berarti menyatukan nilai spiritual Islam dengan psikologi kognitif. Pendekatan ini mengubah pemikiran irasional menjadi rasional, dipadukan dengan kesadaran tauhid dan ihsan untuk membentuk karakter yang tangguh dan berorientasi pada kebaikan universal.
Berikut tahapan membangun karakter unggul dalam praktik REBT terintegrasi nilai akhlak filosofis: Pertama (A) (Activating Event): identifikasi permasalahan dalam hidup, misalnya pergaulan bebas. Ke dua (B) (Beliefs): menggali keyakinan irasional, misalnya siswa mempunyai pikiran mengikuti trend agar tidak ketinggalan zaman. Ke tiga (C) (Consequence): konsekuensi berupa perasaan berdosa, hati tidak tenang, perilaku menyimpang. Ke empat (D) (Disputing): merubah keyakinan irasional ini dengan nilai-nilai filosofis dan spiritual Islam, selaras dengan larangan mengenai zina telah dijelaskan secara tegas dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surat Al-Isra' ayat 32. Artinya: “dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk”. Ke lima (E) (Effective New Philosophy): membangun filosofi baru yang rasional dan religius sesuai risalah akhlak dengan mengkaji makna Surat Al-Baqarah Ayat 42 yang artinya “dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui”.
Penerapan teknik REBT yang selaras dengan nilai-nilai akhlak filosofis akan sangat membantu guru BK dalam membangun karakter positif siswa, apalagi saat ini remaja cenderung mengalami kehampaan spritual. Internalisasi Ihsan, yaitu membiasakan kesadaran bahwa Allah SWT selalu mengawasi perilaku kita akan membuat kita selalu hati-hati dalam bersikap dan bertindak. Selanjutnya praktik perilaku (amal shalih): menerapkan pemikiran rasional tersebut menjadi tindakan nyata, seperti melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi semua hal yang dilarang.
Jika konsep tersebut diterapkan dengan baik maka remaja akan terhindar dari perilaku-perilaku menyimpang dan akan terbentuk karakter unggul, sehingga generasi muda kita siap meyambut Indonesia emas 2045. Dengan karakter unggul generasi muda akan mampu bersaing di kancah regional maupun global. Penerapan teknik REBT terintegrasi nilai-nilai akhlak filosofis ini memerlukan konsistensi dan komitmen bersama untuk saling peduli. Oleh karena itu kolaborasi dan dukungan dari berbagai pihak, baik orang tua, sekolah, maupun masyarakat luas sangat diperlukan.
Jadi tanggung jawab pembentukan karakter unggul bukan hanya peran sekolah, namun juga unsur lain terutama keluarga atau orang tua. Allah berfirman di dalam Al-Quran tepatnya Surat At-Tahrim ayat 6, yang artinya: "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." Melalui ayat tersebut Allah memerintahkan kita untuk menjaga diri dan keluarga. Menjaga diri dan keluarga dengan cara mengajarkan ilmu agama, mengajak untuk ketaatan terhadap perintah Allah dan melarang keluarga dari perbuatan maksiat. Ketika ada kolaborasi pihak sekolah dan orang tua, maka upaya yang dilakukan oleh guru BK akan berdampak maksimal dan diharapkan melekat dalam diri remaja.
Referensi:
Erford, B. T. (2017). 40 Teknik yang Harus Diketahui Setiap Konselor. Pustaka Pelajar
https://mozaik.inilah.com/quran
Artikel Pengembangan Profesi
Memantik Keberanian Menuliskan Ide Menjadi Karya Ilmiah sebagai Implementasi Berliterasi dengan Ratulisa (Rajin Menulis dan Membaca) Sepanjang Masa untuk Multigenerasi NKRI
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi, S.S. M.Hum. |
"Kawan, keberanian untuk menuliskan ide menjadi kata, frasa, kalimat, paragraf, dan wacana secara komprehensif merupakan implementasi nyata dalam berkarya untuk multigenerasi NKRI ”
Puji syukur hanya untuk-Nya. Segala nikmat dan rahmat yang harus disyukuri bersama atas semua karunia-Nya. Selamat dan sukses sangat layak disampaikan kepada Saudara Dr. Muhsyanur, M.Pd., M.Psi, M.M. yang telah menyelesaikan buku berjudul: Dari Ide ke Karya Ilmiah: Teknik Praktis Penelitian Kualitatif; Menemukan Masalah, Menyusun Bab, hingga Menulis Referensi yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Akademikus. Kebahagian tidak terbatas sebagai wujud nyata yang diungkapkan dengan kalimat bahagia atas terbitnya buku yang begitu lengkap dan praktis. Buku tersebut akan menjadi sumber literasi alternatif yang mencerahkan wawasan penelitian ilmiah bagi para mahasiswa yang sedang menyiapkan penelitian untuk makalah, artikel jurnal ilmiah, skripsi, tesis, dan disertasi.
Kehadiran buku ini sangat menginspirasi dan bermanfaat bagi pelajar, mahasiswa S-1, S-2, S-3, dan pembaca yang budiman. Buku yang terdiri atas xxii halaman romawi, 283 halaman, dan 11 bab benar-benar memberikan kontribusi nyata bagi para peneliti pemula, khususnya mahasiswa pelajar, mahasiswa S-, S-2, dan S-3 untuk dapat menemukan dan menuliskan ide yang diperoleh berdasarkan pengalaman membaca dan memelajari aneka kasus yang didasarkan pada trianggulasi teori yang telah dibacanya saat menulis karya ilmiah. Sebelas bab yang diawali dengan membuat cakrawala pengetahuan; (1) mengenai penelitian kualitatif; (2) menemukan dan membangun masalah penelitian; (3) menyusun judul penelitian yang kuat; (4) menulis bab 1 pendahuluan secara sistematis; (5) menulis bab 2 kajian teori yang tajam; (6) menulis bab 3 metode penelitian secara praktis; (7) dari data ke narasi sebagai pengantar hasil dan pendahuluan; (8) menulis daftar pustaka dan sitasi; (9) menulis profil penulis, bionarasi, biografi, biodata dan curriculum vitae dalam penulisan akademik; (10) strategi sukses menyelesaikan karya ilmiah; dan (11) penyajian lampiran. Kesebelas bab tersebut benar-benar menjadi panduan dan pedoman inspiratif dan motivatif secara teoretik dan praktik untuk berlatih berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) dalam bentuk karya ilmiah yang nyata.
Salah satu kekurangan pembelajar, peneliti, dan penulis pemula untuk menulis karya ilmiah yaitu keberanian untuk memulai menuliskan ide tanpa takut salah. Oleh karena itu, para pembelajar, peneliti, penulis karya ilmiah teknis dan populer harus dipantik keberaniannya untuk menuliskan ide dan gagasannya secara nyata dalam bentuk tertulis. Apa yang sudah dibaca dan dipahami harus berani diungkapkan dalam kalimat-kalimat nyata sebagai wujud ide karya ilmiah yang dapat dibaca oleh pembaca yang budiman. Salah satu upaya untuk dapat memantik keberanian menuliskan ide secara nyata yaitu dengan berlatih menulis tanpa takut salah dan disalahkan. Dengan demikian akan dapat terbentuk mental meneliti dan menuliskan ide yang dipahami dan direnungkan tersebut menjadi karya ilmiah yang nyata. Hal ini harus dilatih dan dimulai pelan, bertahap, berkesinambungan, dan terus berkelanjutan sebagai wujud nyata berliterasi dengan Ratulisa sepanjang masa.
Keberanian untuk mengakui dengan sadar bahwa setiap manusia tidak ada yang sempurna merupakan modal dasar bagi pembelajar, peneliti, dan penulis untuk berliterasi dengan Ratulisa. Hal ini dibuktikan dan dicontohkan dengan lengkap dan mudah dipahami oleh penulis buku yang hebat luar biasa ini. Kehadiran buku Saudara Muhsyanur ini tentu akan dapat menjadi salah satu pelita yang menyinari dunia bagai para pembelajar, peneliti, dan penulis di seluruh wilayah Indonesia sepanjang masa. Semangat untuk memantik keberanian menuangkan ide dan gagasan harus terus dilatih dan dituliskan menjadi karya ilmiah teknis, seperti artikel jurnal, makalah, skripsi, tesis, dan disertasi. Namun demikian tidak menutup kemungkinan untuk melatih keberanian menuliskan ide menjadi karya ilmiah dapat juga diwujudkan dalam bentuk artikel ilmiah popular yang dipublikasikan dalam media cetak dan online secara bertahap dan berkelanjutan.
Akhirnya dengan bangga dengan penuh kebahagiaan dan senyum 228 (sepenuh hati) disampaikan ucapan selamat dan sukses juoss gandhos poll kepada Saudara Muhsyanur yang telah menerbitkan buku yang sedang dibaca oleh para pembaca yang budiman. Semoga buku tersebut akan terus bermanfaat untuk kemaslahatan umat dan ikut memantik semangat berliterasi dengan Ratulisa bagi seluruh masyarakat NKRI. Dengan demikian kehadiran buku ini dapat menjadi salah satu virus-virus positif literasi ratulisa untuk menyiapkan generasi emas Indonesia yang tangguh mentalnya, melek literasi, kreatif, kritis inovatif, produktif, dan inspiratif sepanjang masa.
#Tulisan ini merupakan pengantar sekaligus ulasan penguatan pada buku yang ditulis oleh Saudara Muhsyanur yang diterbitkan oleh Penerbit Pustaka Akademikus#
“Kala senja mulai menuju ke peraduannnya, ide-ide kreatif dan kritis akan terus memantik semangat berkarya sepanjang masa dalam pelukan keheningan istana arfuzh ratulisa sepanjang masa”
Istana Arfuzh Ratulisa dan Diklisa Manado, 20 Juli 2026
Artikel Pengembangan Profesi
REFLEKSI AL QURAN DALAM KOLABORASI PENDIDIKAN ANAK
Oleh: Vina Virginia Hendrawati, S.Pd
Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 21 Kota Surakarta
![]() |
| Vina Virginia Hendrawati, S.Pd |
Pada awal tahun ajaran baru, anak-anak yang memasuki usia sekolah melaksanakan kegiatan yang Bernama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Kegiatan ini bersamaan dengan program pemerintah yang Bernama GAMAS ( Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah). Gerakan ini menjadi tamparan keras bagi fenomena “fatherless house” sebuah kondisi dimana ayah ada secara fisik, namun absen secara psikologis. Masyarakat Indonesia masih banyak yang terjebak pada pemikiran yang kolot seperti tugas ayah yang bekerja mencari uang sedang mengasuh anak adalah tugas ibu. Pembagian tugas dalam pengasuhan anak sampai saat ini menjadi perdebatan yang serius. Lantas siapa sih yang berhak dalam pengasuhan anak? Ibu, ayah atau guru di sekolah? Sebelum memberikan jawaban, silahkan pembaca terlebih dahulu merenungi pendapat saya tentang pengasuhan anak.
Apakah Ibu berperan dalam pengasuhan anak? Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, ibu menjadi sosok yang pertama kali anak kenal selama di rumah. Secara psikologis, ibu adalah sosok yang mengajarkan tentang kasih sayang , kelembutan, serta cara mengelola emosi. Peran ibu diidentikkan sebagai seorang Madrasatul Ula (sekolah utama) dalam penanaman karakter dan fondasi spiritual, seperti yang tertuang dalam QS Ali Imran ayat 35
إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ
Artinya: (Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".
Dari ayat di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang ibu harus memiliki visi, agar anaknya kelak menjadi hamba yang shaleh dan bermanfaat bagi agama sejak anak tersebut masih dalam kandungan.
Apakah Bapak hanya bertugas mencari nafkah? Menurut BKKBN, peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga menjadi teladan, pelindung, pendidik serta mitra setara bagi ibu. Ayah dalam kehidupan berumah tangga berperan penting dalam membangun keharmonisan, kestabilan, dan kesejahteraan keluarga. Dalam ayat Al quran bahwasanya Alloh SWT sudah mengukuhkan bahwa tugas ayah sebagai pemimpin, sekaligus benteng pertama dalam membentuk akidah dan mental anak. Al-Qur'an juga mengabadikan keteladanan pengasuhan melalui nasihat Luqman kepada putranya.
Allah Swt. berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman [31]: 13).
Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya dimulai dari dialog, keteladanan, dan kedekatan orang tua dengan anak. Luqman tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menghadirkan komunikasi yang penuh kasih sayang.
Seberapa penting guru dalam mendidik anak? Tujuan utama guru di sekolah bukan hanya sekedar mengajar, tetapi juga membentuk karakter, membimbing, dan mengembangkan potensi peserta didik. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua akan membantu memahami kebutuhan anak secara menyeluruh. Sejalan dengan teori konseling yang dikembangkan oleh Carls Rogers yaitu Person-Centered Counseling. Inti dari konseling ini adalah setiap individu memiliki potensi bawaan untuk berkembang, menyembuhkan diri sendiri, dan mencapai aktualisasi diri jika berada dalam lingkungan yang tepat. Dalam pendekatan ini, guru yang bertindak sebagai konselor berperan sebagai fasilitator yang menyediakan iklim psikologis yang aman agar konseli dapat memahami diri mereka sendiri.
Gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah seyogianya tidak dipahami sebagai agenda seremonial tahunan. Gerakan ini perlu dimaknai sebagai momentum membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Ayah memperkuat kehadiran dan keteladanan, ibu menumbuhkan kasih sayang dan ketangguhan, sedangkan guru mengembangkan ilmu pengetahuan dan karakter. Ayah, ibu, dan guru menjadi benteng utama dalam membimbing anak agar mampu menggunakan kemajuan zaman secara bijaksana.
Artikel Pengembangan Profesi
BK Berbasis AIK, Solusi Tepat Menanggulangi Bullying
Oleh: Karsini, S.Sos.I
Guru Bimbingan dan Konseling SMAIT Nur Hidayah Sukoharjo
![]() |
| Karsini, S.Sos.I |
Saat ini, prestasi akademik masih sering dijadikan tolok ukur keberhasilan peserta didik. Namun, di balik nilai yang tinggi, tidak sedikit peserta didik yang merasa enggan berangkat ke sekolah karena mengalami berbagai pengalaman yang tidak menyenangkan. Salah satunya adalah perundungan atau bullying.
Fenomena ini tentu sudah tidak asing lagi. Berita tentang perundungan hampir setiap hari muncul di berbagai media. Bentuk perundungan pun beragam, mulai dari perundungan verbal berupa kata-kata yang merendahkan hingga kekerasan fisik seperti memukul, menendang, atau tindakan lain yang menyakiti korban. Penyebabnya juga beragam, antara lain pola asuh dan lingkungan keluarga, masalah psikologis, pengaruh teman sebaya, maupun pengalaman pelaku yang sebelumnya pernah menjadi korban perundungan.
Selain perundungan yang terjadi secara langsung di lingkungan sekolah, saat ini juga semakin marak cyberbullying, yaitu perundungan yang dilakukan melalui media digital, seperti media sosial, aplikasi pesan, maupun ruang obrolan dalam gim daring. Dampaknya tidak dapat dianggap remeh. Korban dapat mengalami kecemasan, kehilangan rasa percaya diri, depresi, bahkan muncul keinginan untuk mengakhiri hidup. Selain itu, perundungan juga berdampak pada kondisi fisik, hubungan sosial, dan prestasi akademik peserta didik.
Salah satu kasus perundungan yang sempat menjadi perhatian publik terjadi di Kota Pasuruan pada 2024. Seorang peserta didik SMA mengalami gangguan psikologis hingga harus menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Dalam proses mediasi yang melibatkan seluruh pihak terkait, akhirnya disepakati penyelesaian melalui pendekatan restorative justice. Penyidik, pihak sekolah, keluarga korban, serta instansi terkait mengapresiasi proses penyelesaian tersebut yang berlangsung secara damai.
Korban berinisial NS (17), siswa kelas XI SMAN 4 Kota Pasuruan, mengaku mengalami kekerasan verbal, pemerasan, serta kekerasan fisik berupa pemukulan dan cakaran oleh teman-temannya. Perundungan yang dialaminya menyebabkan depresi berat, kecemasan berlebihan, ketakutan, hingga perilaku agresif seperti memukul tembok. Kondisi tersebut membuat keluarga membawa korban menjalani perawatan di Rumah Sakit Jiwa dr. Radjiman Wediodiningrat, Lawang, Kabupaten Malang. Meskipun para pelaku telah meminta maaf, keluarga tetap melaporkan kasus tersebut kepada Polres Pasuruan Kota pada 26 Agustus 2024.
Kasus tersebut menunjukkan perundungan di lingkungan sekolah tidak dapat lagi dipandang sebagai kenakalan remaja semata. Dampaknya mampu memengaruhi kesehatan mental, cara berpikir, perkembangan kepribadian, hingga perilaku korban pada masa depan. Oleh karena itu, penanganannya harus dilakukan secara serius. Pemberian sanksi kepada pelaku saja belum cukup, tetapi juga diperlukan pendampingan psikologis dan pemulihan bagi korban.
Kasus ini juga menjadi tanggung jawab bersama, baik tenaga pendidik, orang tua, masyarakat, maupun pemerintah. Setiap remaja memiliki hak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman serta memiliki kesehatan mental yang baik. Pencegahan dan penanganan perundungan harus menjadi komitmen seluruh pihak agar tidak muncul korban-korban baru.
Dalam konteks tersebut, layanan bimbingan dan konseling memiliki peran yang sangat penting. Konselor dapat menerapkan pendekatan Cognitive Behavioral dengan teknik Cognitive Restructuring untuk membantu peserta didik mengubah pola pikir negatif yang muncul akibat pengalaman perundungan. Berbagai penelitian menunjukkan pendekatan ini efektif dalam membantu individu mengelola emosi, meningkatkan kepercayaan diri, serta mengembangkan perilaku yang lebih adaptif.
Penerapan teknik tersebut akan semakin optimal apabila diintegrasikan dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Integrasi AIK menjadikan proses konseling tidak hanya berfokus pada perubahan pola pikir, tetapi juga pada pembentukan karakter dan penguatan spiritual peserta didik. Dengan demikian, konseling mampu menanamkan nilai empati, kasih sayang, akhlak mulia, serta tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Allah Swt. telah memberikan pedoman dalam Al-Qur'an, Surah Al-Hujurat ayat 11:
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka yang diolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-olok. Jangan pula perempuan-perempuan mengolok-olok perempuan lain, karena boleh jadi perempuan yang diolok-olok lebih baik daripada perempuan yang mengolok-olok. Janganlah kamu saling mencela dan jangan saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk...." (QS. Al-Hujurat: 11).
Sebagai guru Bimbingan dan Konseling, saya meyakini layanan konseling tidak hanya bertujuan menyelesaikan permasalahan peserta didik, tetapi juga membentuk karakter yang berlandaskan nilai-nilai Islam. Oleh karena itu, integrasi pendekatan Cognitive Behavioral dengan nilai-nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan sangat relevan diterapkan dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah.
Melalui upaya membantu peserta didik mengubah pola pikir negatif sekaligus menanamkan nilai empati, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama, layanan konseling dapat menjadi strategi preventif dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan bebas dari perundungan. Pendidikan pada akhirnya tidak hanya melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi juga generasi yang berakhlak mulia.
Kasus bullying yang terus terjadi telah merugikan banyak pihak. Oleh karena itu, sudah saatnya seluruh elemen masyarakat, mulai dari pendidik, orang tua, masyarakat, hingga pemerintah, bersinergi menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak. Dengan demikian, mereka dapat tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, tangguh, berkarakter, dan siap mewujudkan Generasi Emas Indonesia 2045.
Sumber:
Arifin, M. (2024, 24 Oktober). Kasus bullying berujung siswa SMA di Pasuruan masuk RSJ di-restorative justice. detikJatim. https://www.detik.com/jatim/hukum-dan-kriminal/d-7603922/kasus-bullying-berujung-siswa-sma-di-pasuruan-masuk-rsj-di-restorative-justice
Artikel Pengembangan Profesi
Keteladanan: Fondasi Sukses yang Terlupakan dalam Pendidikan Kita
Oleh: Sugianto Cahyo Widodo, S.Pd
Guru Bimbingan dan Konseling SMK Veteran 1 Sukoharjo
![]() |
| Sugianto Cahyo Widodo, S.Pd |
Fenomena krisis figur teladan kian nyata di dunia pendidikan. Berbagai survei dan realitas di lapangan menunjukkan banyak siswa lebih mengenal selebgram, kreator konten, atau tokoh viral di media sosial dibandingkan sosok inspiratif di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Padahal, keteladanan merupakan fondasi utama dalam membentuk karakter yang kuat sebagai bekal meraih kesuksesan.
Dalam dunia pendidikan, keberhasilan peserta didik tidak hanya diukur melalui nilai akademik. Kemampuan bersikap jujur, bertanggung jawab, disiplin, peduli, dan memiliki integritas menjadi indikator penting yang menentukan keberhasilan seseorang di masa depan. Nilai-nilai tersebut tumbuh melalui proses pembiasaan yang didukung oleh keteladanan dari orang-orang di sekitarnya.
Dalam ranah Bimbingan dan Konseling, teori Social Learning yang dikemukakan Albert Bandura menjelaskan perilaku manusia terbentuk melalui proses observasi dan peniruan terhadap model yang dianggap penting. Orang tua, guru, teman sebaya, maupun tokoh publik memiliki pengaruh besar terhadap cara berpikir, bersikap, dan bertindak seorang anak. Mereka tidak hanya belajar dari nasihat, tetapi juga dari contoh nyata yang disaksikan setiap hari.
Di era digital, tantangan pembentukan karakter semakin kompleks. Arus informasi yang begitu cepat membuat peserta didik mudah meniru berbagai perilaku yang mereka temui di media sosial tanpa mempertimbangkan dampaknya. Kondisi ini menuntut keluarga dan sekolah untuk lebih aktif menghadirkan figur teladan yang mampu menjadi penyeimbang di tengah derasnya pengaruh dunia digital.
Konsep keteladanan tersebut selaras dengan nilai-nilai Al Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK). Dalam Al-Qur'an Surah Al-Ahzab ayat 21, Allah SWT menegaskan Rasulullah SAW sebagai uswatun hasanah atau teladan terbaik bagi umat manusia. Keteladanan Rasulullah menjadi bukti pendidikan karakter dibangun melalui perilaku nyata yang konsisten dalam kehidupan sehari-hari.
Islam mengajarkan pendidikan tidak berhenti pada penyampaian ilmu pengetahuan. Pendidikan merupakan proses membentuk akhlak, kepribadian, dan karakter mulia melalui contoh yang diberikan oleh pendidik. Oleh sebab itu, setiap guru memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi teladan bagi peserta didiknya, baik dalam perkataan maupun perbuatan.
Sayangnya, masih banyak lembaga pendidikan yang lebih berorientasi pada pencapaian akademik dan prestasi kompetitif. Aspek pembentukan karakter sering kali hanya menjadi pelengkap melalui kegiatan seremonial yang belum menyentuh perubahan perilaku secara mendalam. Padahal, pendidikan karakter memerlukan proses yang berkelanjutan dan konsisten.
Guru Bimbingan dan Konseling memiliki peran strategis dalam membangun budaya keteladanan di sekolah. Selain membantu menyelesaikan berbagai permasalahan peserta didik, guru Bimbingan dan Konseling dapat menjadi fasilitator yang menghubungkan siswa dengan figur-figur inspiratif, menyelenggarakan program mentoring, serta membangun lingkungan sekolah yang sarat dengan nilai kejujuran, tanggung jawab, kepedulian, dan semangat saling menghargai.
Sinergi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan pendidikan karakter. Orang tua perlu menjadi teladan pertama di rumah, guru memperkuat nilai-nilai tersebut di sekolah, sedangkan masyarakat menyediakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya perilaku positif. Apabila ketiga unsur ini berjalan seiring, peserta didik akan memiliki karakter yang kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan zaman.
Sudah saatnya dunia pendidikan kembali menempatkan keteladanan sebagai inti dari proses pembelajaran. Kesuksesan sejati tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kualitas karakter yang dibangun melalui contoh nyata. Ketika guru, orang tua, dan seluruh elemen masyarakat mampu menjadi teladan yang baik, pendidikan akan melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berakhlak mulia, berintegritas, dan siap memberikan manfaat bagi bangsa serta kemanusiaan.
Artikel Pengembangan Profesi
Kampus Harus Siapkan Profil Lulusan Program Studi yang Kompeten dan Siap Kerja Sesuai Kebutuhan Dunia Usaha dan Industri Era Digital
Oleh: Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum.
Dosen PBSI FKIP UNS, Penggiat Literasi Arfuzh Ratulisa, & DIKLISA
Email: rohmadi_dbe@yahoo.com/Youtube/Tiktok: M. Rohmadi Ratulisa
![]() |
| Prof. Dr. Muhammad Rohmadi,S.S. M.Hum. |
"Kawan, bergerak dan berkarya merajut cerita dengan kata untuk dikenang sepanjang masa saat senja menuju ke peraduannya”
Indonesia meluluskan lebih dari 1,3 juta calon sarjana (lulusan pendidikan tinggi) setiap tahun. Meskipun angka kelulusan sangat tinggi, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mencatat ada sekitar 1 juta lulusan sarjana yang belum terserap oleh lapangan kerja (https://www.google.com/search?q=jumlah+calon+sarjana+di+Indonesia+tahun+2026&oq=jumlah+calon+sarjana+di+Indonesia+tahun+2026&gs). Data yang dideskripsikan tersebut merupakan dasar penulis untuk menuliskan kegelisahan dan renungan bagi dosen, pengelola program studi, fakultas, kampus, dan Kemdiktisaintek Republik Indonesia di Indonesia. Perkembangan zaman digital yang terus diwarnai dengan kecerdasan buatan (AI) dan aplikasi digital lainnya tentu akan menjadi kekhawatiran dan keraguan bagi multigenerasi NKRI. Banyak hal yang sudah disajikan dalam berbagai sumber literasi digital dan nondigital untuk dinikmati seluruh masyarakat Indonesia. Namun demikian, apakah dunia kampus yang melahirkan para sarjana juga sudah menyiapkan berbagai perangkat dan membekali para mahasiswanya dengan aneka keterampilan digital yang diperlukan oleh seluruh masyarakat Indonesia dan industri saat ini.
Berdasarkan data Kemdiktisaintek RI bahwa sarjana yang lulus setiap tahun sekitar 1,3 juta dan sekitar 1 juta menganggur merupakan pekerjaan rumah bagi pemangku kepentingan terkait. Data ini menjadi bahan renungan bagi para pengelola program studi, fakultas, dan rektor pada kampus negeri dan swasta di seluruh wilayah Indonesia. Mengapa demikian? Pertanyaan ini harus dijawab oleh pengelola kampus yang disebut rektor/ketua/direktur. Pertama, bagaimanakah profil lulusan sarjana yang akan dihasilkan? Pertanyaan tersebut merupakan target dan realisasi Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL) yang harus ditetapkan dan diwujudkan oleh rektor/ketua/direktur sebagai penanggung jawab dan pengelola kampus. Kemudian kedua, Sarjana bidang apa? Misalnya sarjana pendidikan, saintek, sosial humaniora, dan sarjana lainnya itu menjadi CPL yang harus dirumuskan dan diwujudkan oleh seorang pengelola fakultas atau dekan. Kemudian ketiga, sarjana bidang tertentu yang bagaimanakah? CPL program studi dan Capaian Pembelajaran Mata Kuliah (CPMK) tersebut merupakan CPL dna CPMK yang harus direalisasikan oleh dosen pada program studi tersebut. Semua CPL dan CPMK tersebut harus menjadi rujukan dan dikolaborasikan dengan hasil evaluasi kurikulum yang disurvei melalui alumni program studi dan pengguna lulusan. Dengan demikian, peninjauan dan pengembangan kurikulum prodi untuk menyiapkan profil lulusan yang kompeten, siap kerja, melek literasi digital, kreatif, inovatif, berkarakter, siap bersaing dan bersanding dengan tenaga kerja lain di tingkat nasional dan internasional. Para sarjana yang dihasilkan era digital harus didasarkan pada evaluasi kurikulum, pendapat alumni, dan pengguna lulusan program studi yang sudah bekerja sehingga akan dapat disiapkan evaluasi kurikulum secara mikro dna makro sebagai dasar pengembangan kompetensi sarjana yang dihasilkan oleh program studi yang mengelola tersebut.
Perkembangan zaman yang terus bergerak dan didominasi dengan perangkat digital, maka diperlukan persiapan dan pembekalan yang benar-benar sesuai kebutuhan perkembangan zaman dan era digital kekinian. Program studi yang didirikan oleh kampus-kampus di seluruh Indonesia harus mulai bergerak dan berubah mindsetnya untuk adaptif dengan kebutuhan industri dan dunia usaha saat ini. Pemilihan materi, bahan ajar, media, bahan kajian untuk mendukung capaian kompetensi lulusan yang didasarkan pada CPL dan CPMK harus betul-betul diselaraskan dan disesuaikan kebutuhan perkembangan zaman. Program studi saat ini saling berlomba melakukan peninjauan dan mengembangkan kurikulum berbasis Outcame Based Education (OBE) harus benar-benar didasarkan dengan kebutuhan industry dan dunia kerja sesuai dengan perkembangan zaman dan generasi Z saat ini. Oleh karena, gen Z yang yang dihasilkan sebagai sarjana kurun waktu 5 sampai 10 tahun ke depan harus benar-benar sarjana yang menguasai 4 keterampilan abad XXI, antara lain: (1) berpikir kreatif, (2) berpikir kritis, (3) kolaboratif, dan (4) komunikatif. Selain itu, generasi digital juga harus dibiasakan dan dibekali dengan enam literasi dasar, antara lain literasi: (1) menulis dan membaca, (2) numerasi, (3) sains, (4) digital, (5) keuangan, (6) budaya & kewargaan. Hal ini sejalan dengan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan oleh pemerintah Republik Indonesia, Gerakan Literasi Arfuzh Ratulisa (GELAR) yang dicanangkan oleh Lembaga Literasi Arfuzh Ratulisa Surakarta dan Komunitas DIKLISA (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) yang didirikan oleh Muhammad Rohmadi tanggal 2 Mei 2025 bersamaan peringatan hari Pendidikan Nasional setiap tahun.
Fakta dan data yang terjadi saat ini, rata-rata setiap bulan atau 3 bulan atau 6 bulan sekali kampus-kampus di seluruh wilayah Indonesia meluluskan sarjana melalui wisuda. Sesuai data yang disajikan oleh Kemdiktisaintek RI ternyata belum semua sarjana yang diluluskan perguruan tinggi terserap dalam dunia kerja yang diharapkan. Semua orang tua, mahasiswa, sarjana yang baru lulus ingin bekerja sesuai bidang keahlian dan kompetensi yang dimilikinya setelah lulus wisuda. Hal ini sesuai dengan indikator kinerja utama perguruan tinggi yang ditetapkan oleh pemerintah melalui Kemdiktisaintek RI antara lain: mengukur kualitas lulusan (bekerja/wirausaha), kompetensi dosen, pengalaman mahasiswa di luar kampus, riset, kemitraan dengan industri, serta kemandirian finansial (Data & Sumber: Kemdiktisaintek RI). Bahan renungan dan harus dipikirkan solusinya, bagaimana menyiapkan sarjana lulusan program studi masing-masing (prodi tempat kita sebagai dosen mengabdi/mengajar) agar dapat menjadi sarjana yang kompeten dan siap bekerja atau berwirausaha dalam dunia usaha dan industri sesuai dengan perkembangan zaman. Ruang-ruang diskusi untuk peningkatan kualitas dosen, mahasiswa, pengelola program studi, fakultas, dan rektorat harus sering dilaksanakan untuk mewujudkan mimpi besar merealisasikan CPL dan CPMK yang dirumuskan program studi, fakultas, dan universitas secara kolaboratif dan berkelanjutan.
Kesiapan mental dan karakter sebagai sarjana yang kompeten dan memiliki penguasaan kompetensi hardskill dan softskill yang diperlukan pasar kerja dna industri kreatif akan sangat bermanfaat dan memberikan ruang gerak para sarjana untuk terus berkreasi, berinovasi tiada henti sesuai perkembangan zaman. Demikian pula, dosen harus terus memberikan aneka model kasus yang didasarkan pada perkembangan zaman digital dan kekinian sebagai sumber belajar digital dan nondigital. Kemudian upaya untuk meningkatkan kualitas diri para mahasiswa dan calon sarjana era digital harus terus dilakukan melalui pembelajaran berbasis proyek dan dipraktikkan untuk menghasilkan proyek unggulan yang dapat dipamerkan kepada dunia usaha dan industri secara kolaboratif. Upaya untuk membiasakan dan menyelaraskan kebutuhan dunia kerja dan industri maka kerja sama untuk magang, kolaborasi praktisi kerja, dan kolaborasi akademik di kelas dan luar kelas harus terus dilaksanakan secara berkelanjutan. Orientasi kurikulum OBE yang dikembangkan oleh semua prodi pada kampus negeri dan swasta di Indonesia semoga bukan sekadar perangkat administrasi untuk memenuhi persyaratan akreditasi, bukan sekadar selebrasi, tetapi harus menjadi rujukan untuk menyiapkan sarjana era digital yang siap berkreasi dan berinovasi tiada henti sepanjang zaman.
Komitmen semua pihak, pemerintah pusat melalui Kemdiktisaintek RI, daerah, rektor/ketua/direktur, dekan, ketua prodi, dosen, tenaga administrasi, pustakawan, praktisi, penggiat literasi, asosiasi program studi, asosiasi dosen, dunia usaha dan dunia industri untuk bersatu, bergerak, dan menyamakan persepsi menjadi jawaban bagi perguruan tinggi agar prodi-prodinya tetap diminati oleh masyarakat dan industri secara berkelanjutan. Dengan demikian tidak akan pernah ada kekhawatiran saat ada wacana prodi-prodi yang tidak diminati oleh masyarakat akan ditutup oleh Kemdiktisaintek RI.
Pengelola kampus, fakultas, dan program studi harus dapat meyakinkan kepada masyarakat dan pemerintah bahwa prodi-prodi yang dikelola oleh fakultas dan universitas di Indonesia memang layak berdiri tegak, bersaing, bersanding karena memiliki pembeda dan menghasilkan sarjana yang siap bekerja dan bersaing pada dunia usaha dan industri era digital. Apabila prodi-prodi yang dikelola memang sudah tidak relevan dengan kebutuhan industri dan dunia usaha maka dengan kesadaran mandiri program studi, fakultas, dan perguruan tinggi untuk menutup dan mengganti prodi baru yang sesuai dengan kebutuhan industri dan pasar sesuai dengan perkembangan zaman.
“Komitmen untuk terus ikut serta bergerak dan memantik semangat multigenerasi Indonesia untuk terus berliterasi dengan Ratulisa (rajin menulis dan membaca) bersama Komunitas Diklisa (Dialog Pendidikan, Literasi, Bahasa, dan Sastra) merupakan langkah nyata untuk wujudkan mimpi dna imajinasi hidup sekali mati sekali harus bermanfaat untuk kemaslahatan umat sepanjang hayat”
Istana Arfuzh ratulisa dan Diklisa Yogyakarta, 16 Juli 2026
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...















