FISIP UNISRI Gelar Pengabdian Internasional dan Jalin Kerja Sama dengan Perusahaan Malaysia

    SELANGOR – majalahlarise.com – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta memperluas jejaring internasional melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Internasional di Barokah Jaya Abadi SDN. BHD., Balakong, Selangor, Malaysia, belum lama ini. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum penguatan kerja sama strategis antara perguruan tinggi dan dunia industri di tingkat internasional.

    Barokah Jaya Abadi SDN. BHD. merupakan perusahaan yang bergerak di bidang jasa pengiriman barang, khususnya cargo dan logistik dari Malaysia ke Indonesia. Melalui kegiatan tersebut, FISIP UNISRI tidak hanya memberikan kontribusi dalam peningkatan kapasitas sumber daya manusia perusahaan, tetapi juga membangun fondasi kemitraan jangka panjang yang diharapkan memberikan manfaat bagi kedua institusi.

    Delegasi FISIP UNISRI dipimpin Wakil Dekan FISIP, Dra. Sri Riris Sugiyarti, M.Si., bersama Dr. Aris Tri Haryanto, S.Sos., M.Si., Dr. Purbayakti Kusuma Wijatanto, S.Sos., M.Si., Dra. Damayanti Suhita, M.Si., Riska Wirawan, S.Sos., M.Si., Haryo Kusumo Aji, S.I.Kom., M.I.Kom., Estu Widiyowati, S.I.Kom., M.I.Kom., Sihabuddin, S.I.Kom., M.I.Kom., Sritami Santi Hatmini, S.I.P., M.A., serta Untari Narulita Madyar Dewi, S.I.P., M.H.I.


    Kegiatan diawali dengan penyambutan delegasi oleh Direktur Barokah Jaya Abadi SDN. BHD., Ahmad Saini bin Sulaiman, bersama jajaran manajemen dan staf perusahaan. Sebelum kegiatan pengabdian berlangsung, kedua pihak melaksanakan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara Universitas Slamet Riyadi Surakarta dan Barokah Jaya Abadi SDN. BHD.

    Penandatanganan tersebut dilanjutkan dengan Memorandum of Agreement (MoA) antara FISIP UNISRI dan Barokah Jaya Abadi SDN. BHD. Kerja sama ini menjadi langkah awal dalam membangun kemitraan strategis antara dunia akademik dan industri pada tingkat internasional.

    Usai penandatanganan, kegiatan dilanjutkan dengan Employee Capacity Building Program. Dalam program tersebut, dosen FISIP UNISRI berbagi pengetahuan dan pengalaman kepada karyawan Barokah Jaya Abadi SDN. BHD. Materi yang diberikan mencakup komunikasi efektif di lingkungan kerja, komunikasi lintas budaya, komunikasi digital dalam dunia bisnis, kepemimpinan, tata kelola organisasi, etika profesi, pelayanan prima, administrasi publik, serta pengembangan kemitraan internasional.

    Para peserta mengikuti kegiatan secara interaktif melalui diskusi mengenai tantangan komunikasi dalam perusahaan yang melayani pelanggan lintas negara, pentingnya pelayanan berkualitas, serta pengembangan kompetensi karyawan dalam menghadapi persaingan bisnis internasional. Pertukaran pengalaman antara akademisi dan praktisi tersebut memberikan perspektif baru bagi kedua belah pihak.

    Direktur Barokah Jaya Abadi SDN. BHD., Ahmad Saini bin Sulaiman, menyampaikan apresiasi atas kehadiran delegasi FISIP UNISRI sekaligus menyambut baik terjalinnya kerja sama tersebut. Menurutnya, kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia perusahaan sekaligus membuka peluang pengembangan program internasional.

    Sementara itu, Wakil Dekan FISIP UNISRI, Dra. Sri Riris Sugiyarti, M.Si., menjelaskan pengabdian kepada masyarakat internasional merupakan salah satu bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi di tingkat global.

    “Melalui kegiatan ini, kami ingin membangun hubungan yang tidak hanya bersifat seremonial, tetapi berkelanjutan. Dunia industri merupakan mitra penting bagi perguruan tinggi dalam menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi global,” ungkapnya.

    Sri Riris menambahkan, kerja sama tersebut diharapkan dapat diwujudkan dalam berbagai program nyata yang melibatkan sivitas akademika dan dunia industri.

    “Kami berharap kerja sama ini dapat diwujudkan dalam berbagai program nyata seperti magang internasional, penelitian kolaboratif, hingga pengabdian kepada masyarakat yang melibatkan dosen dan mahasiswa,” tambahnya.

    Selain pengabdian, FISIP UNISRI dan Barokah Jaya Abadi SDN. BHD. membahas sejumlah peluang kerja sama lanjutan. Program yang menjadi perhatian antara lain magang internasional mahasiswa, KKN Internasional, penelitian bersama atau joint research, pengabdian kepada masyarakat internasional, practitioner lecture, serta program peningkatan kompetensi yang menghubungkan kebutuhan akademik dengan dunia industri.

    Rangkaian kegiatan ditutup dengan penyerahan cendera mata dan foto bersama. Kedua institusi juga berkomitmen melanjutkan komunikasi untuk merealisasikan berbagai program kerja sama yang telah dibahas.

    Melalui kegiatan tersebut, FISIP UNISRI menunjukkan komitmennya memperluas jejaring internasional sekaligus memperkuat kolaborasi perguruan tinggi dengan dunia industri. Kerja sama dengan Barokah Jaya Abadi SDN. BHD. diharapkan menjadi pintu masuk bagi berbagai program kolaboratif yang memberikan manfaat bagi sivitas akademika, dunia industri, dan masyarakat.(Sofyan)


    Baca juga: Pelatihan Content Creator for Social Media BLK Wonogiri Dorong UMKM Kuasai Pemasaran Digital

     

    Penyerahan seragam oleh Kepala BPVP Surakarta yang diwakili Subkoordinator Bidang Penyelenggaraan, Ardanto Jati Winarno, S.T., M.M. kepada perwakilan peserta tandai pembukaan Pelatihan Content Creator for Social Media. Senin (10/8/2026)


    Pelatihan Content Creator for Social Media BLK Wonogiri Dorong UMKM Kuasai Pemasaran Digital

    WONOGIRI - majalahlarise.com - BLK Wonogiri bersama BPVP Surakarta dan Komunitas UMKM-KU Wonogiri menggelar Pelatihan Basic Content Creator for Social Media pada 10–14 Agustus 2026. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan keterampilan masyarakat, khususnya pelaku UMKM, dalam membuat konten kreatif dan menarik untuk mendukung pemasaran produk melalui media sosial.

    Pelatihan berlangsung selama 40 jam pelajaran dan diberikan secara gratis bagi peserta terpilih. Peserta mendapatkan sejumlah fasilitas, antara lain sertifikat, uang saku, makan siang, seragam, dan asuransi. Kegiatan tersebut secara resmi dibuka Kepala BPVP Surakarta yang diwakili Subkoordinator Bidang Penyelenggaraan, Ardanto Jati Winarno, S.T., M.M.

    Ardanto menjelaskan pelatihan Basic Content Creator for Social Media relevan dengan perubahan perilaku konsumen sekaligus perkembangan kebutuhan keterampilan pelaku usaha. Menurutnya, pelaku UMKM perlu mengikuti perkembangan pemasaran digital agar mampu memperluas pasar dan meningkatkan pendapatan.

    “Sebagai pelaku usaha, kita harus bisa mengikuti tren-tren. Salah satunya, kalau ingin meningkatkan pendapatan, kita memang harus mengikuti tren yang ada,” ujarnya.


    Ia menjelaskan media sosial kini menjadi salah satu strategi penting dalam memasarkan produk. Konsumen tidak lagi harus datang langsung ke pasar, supermarket, atau toko untuk mencari informasi dan membeli produk. Perkembangan teknologi memungkinkan masyarakat mencari produk hingga melakukan transaksi melalui telepon seluler dari rumah.

    “Konten-konten ini memang cukup efektif sekali,” katanya.

    Karena itu, peserta didorong memahami teknik pembuatan konten pemasaran yang menarik dan efektif. Kemampuan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha meningkatkan jangkauan promosi, mendongkrak penjualan, sekaligus meningkatkan pendapatan.

    Ardanto juga meminta peserta mengikuti seluruh rangkaian pelatihan secara serius. Pelatihan selama sekitar satu minggu tersebut dirancang dengan mempertimbangkan kondisi peserta yang sebagian besar merupakan pelaku UMKM sehingga tidak terlalu mengganggu aktivitas usaha.

    “Kami mohon komitmennya untuk mengikuti pelatihan dari awal sampai akhir. Ini merupakan fasilitas yang anggarannya dari negara, salah satunya berasal dari pajak,” tuturnya.

    Suasana peserta mengikuti pelatihan.


    Ia berharap peserta tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi mampu menerapkan keterampilan yang diperoleh dalam aktivitas usaha sehari-hari. Menurutnya, keberhasilan pelatihan dapat dilihat dari perubahan produktivitas peserta setelah kembali menjalankan usaha.

    “Yang terpenting bukan sekadar mendapatkan ilmu dari pelatihan ini, tetapi bagaimana Bapak-Ibu bisa mengimplementasikannya sehingga meningkatkan produktivitas dan pada akhirnya income bisa naik,” pungkasnya.

    Sementara itu, Kepala UPTD Balai Latihan Kerja Kabupaten Wonogiri, Adi Rohmadi Abdullah, S.T., menjelaskan pelatihan tersebut merupakan hasil kerja sama BLK Wonogiri dengan BPVP Surakarta dan disusun menggunakan pola pelatihan yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan masyarakat serta dunia usaha.

    Ia menyambut peserta yang hadir dengan latar belakang beragam, mulai dari peserta yang baru pertama kali mengikuti pelatihan hingga mereka yang sudah beberapa kali mengikuti kegiatan di BLK.

    “Saya ucapkan selamat datang. Ada yang baru pertama ke BLK, ada yang sudah beberapa kali ikut pelatihan di BLK,” ujarnya.

    Menurut Adi, keberagaman peserta menjadi modal penting dalam proses pembelajaran. Peserta dapat saling bertukar pengetahuan, pengalaman, jaringan, dan sudut pandang. Dengan demikian, pelatihan tidak hanya menjadi ruang memperoleh keterampilan teknis, tetapi juga membangun jejaring antarpelaku usaha.

    Adi menerangkan pola pelatihan di lingkungan Kementerian Ketenagakerjaan terus berkembang. Selain pelatihan berbasis kompetensi, terdapat model Tailor-Made Training (TMT) yang memungkinkan materi dan pelaksanaan pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan pengguna.

    “Tailor-made training adalah sebuah pelatihan di mana konsepnya disesuaikan dengan kebutuhan mereka yang menggunakan, dan fleksibilitasnya lebih tinggi,” jelasnya.

    Pelatihan kali ini diarahkan pada peningkatan produktivitas peserta. Program tersebut berawal dari diskusi antara BPVP Surakarta, BLK Wonogiri, dan komunitas pelaku UMKM mengenai keterampilan yang paling dibutuhkan. Sejumlah kebutuhan yang muncul meliputi digital marketing, pemasaran, kecantikan dan rias, hingga public speaking.

    Dari berbagai kebutuhan tersebut, pembuatan konten kreator berbasis media sosial dipilih sebagai salah satu program percontohan. Materi dinilai sesuai dengan kondisi peserta yang sebagian besar telah memiliki produk, usaha, aktivitas pemasaran, maupun akun media sosial.

    “Kita coba dulu. Programnya yaitu pelatihan pembuatan basic program kreator berbasis media sosial,” katanya.

    Adi menegaskan pelatihan tidak diarahkan untuk membuat peserta memulai semuanya dari nol. Peserta justru didorong memperbaiki teknik, strategi, konsistensi, serta menentukan target konten agar aktivitas digital yang dilakukan memberikan dampak terhadap produktivitas usaha.

    Ia juga mengingatkan peserta agar tidak mudah menyerah ketika konten yang dibuat belum memperoleh banyak penonton. Perubahan algoritma media sosial membuat peluang jangkauan konten tetap terbuka, termasuk bagi akun yang masih baru.

    “Kuncinya di dalam dunia konten cuma satu, konsistensi,” tegasnya.

    Selama lima hari pelatihan, peserta didorong berkolaborasi dan mempraktikkan pembuatan konten menggunakan produk masing-masing. Produk lokal Wonogiri, mulai batik, kaos, kerajinan, makanan, kopi, hingga berbagai produk UMKM lainnya, dapat menjadi bahan praktik.

    Adi menilai pelatihan juga menjadi kesempatan membangun jejaring antar peserta. Perbedaan latar belakang dan pengalaman dapat menjadi sumber pembelajaran bersama.

    “Pelatihan itu kadang tidak hanya ilmunya saja yang dipakai, jaringannya juga dipakai, pengalamannya dipakai, sudut pandangnya,” ujarnya.

    Ia menegaskan orientasi pelatihan bukan sekadar membuat peserta mampu menghasilkan konten, tetapi memastikan keterampilan tersebut berdampak pada peningkatan produktivitas usaha.

    “Kalau pelatihan PBK targetnya penempatan, yang di sini targetnya apa yang sudah Anda laksanakan setelah keluar dari BLK itu harusnya ada peningkatan,” jelasnya.

    Menurut Adi, keberhasilan program akan terlihat dari perubahan kualitas konten peserta setelah mengikuti pelatihan. Konten diharapkan semakin baik dan tertata, sekaligus mampu meningkatkan follower, reach, dan views yang pada akhirnya berdampak terhadap perkembangan usaha.

    “Ending-nya bukan kepintaran, tetapi peningkatan produktivitas. Kami berharap setelah mengikuti pelatihan, konten peserta lebih baik dan tertata, follower, reach, serta views meningkat, hingga pada akhirnya berdampak pada peningkatan usaha,” jelasnya.

    Melalui pelatihan tersebut, BLK Wonogiri dan BPVP Surakarta berharap keterampilan content creator dapat menjadi bekal praktis bagi masyarakat dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital. Kolaborasi dengan komunitas UMKM juga diharapkan terus berkembang sehingga mampu mencetak sumber daya manusia kompeten sekaligus memperkuat pemasaran dan produktivitas produk lokal Wonogiri. (Sofyan)


    Baca juga: Semarak HUT RI ke-81, Ratusan Warga Sukoroyom Kulon Giritontro Tumpah Ruah Ikuti Jalan Sehat



    Guru dan Tendik SD Muhammadiyah 16 Karangasem Ikuti Capacity Building di Kemuning

    KARANGANYAR – majalahlarise.com – Sebanyak 49 guru dan tenaga kependidikan SD Muhammadiyah 16 Karangasem Surakarta mengikuti touring sekaligus capacity building di Kemuning, Karanganyar, Sabtu (3/8/2026). Kegiatan bertajuk Recharge Spirit, Rebuild Teamwork tersebut menjadi momentum memperkuat kebersamaan, komunikasi, dan kerja sama keluarga besar sekolah.

    Rombongan yang dipimpin Kepala SD Muhammadiyah 16 Karangasem Surakarta, Maghfirotun Na’imah, berangkat dari Solo menuju Kemuning dengan perjalanan sekitar 1 jam 15 menit. Sebanyak 21 sepeda motor digunakan dalam kegiatan tersebut, ditambah empat armada roda empat untuk guru dan tenaga kependidikan yang belum memungkinkan menempuh perjalanan jauh menggunakan kendaraan roda dua.

    Setibanya di Kemuning, rombongan singgah di Resto Bale Botram yang memiliki fasilitas arena indoor dan outdoor. Selain menjadi ruang rekreasi bersama, lokasi tersebut digunakan untuk mengikuti agenda utama berupa capacity building dengan menghadirkan Faris Isnawan, founder Esensial Training dan Consulting.

    “Kegiatan touring bersama ini untuk membangun kebersamaan, apalagi banyak guru-guru muda yang masih suka berpetualang. Sedangkan guru tendik yang belum memungkinkan berkendara jarak jauh disediakan empat armada roda empat,” ujar Maghfirotun Na’imah.


    Dalam sesi capacity building, Faris mengangkat pentingnya service excellence dalam meningkatkan kualitas layanan sekolah. Menurutnya, pelayanan prima tidak hanya menjadi tanggung jawab wali kelas ketika berinteraksi dengan orang tua siswa, tetapi menjadi tanggung jawab seluruh unsur sekolah.

    “Service excellence dari garda depan hingga bagian belakang menjadi kunci kepuasan pelanggan. Orang tua siswa bukan lagi raja, melainkan mitra dalam mendidik,” jelas Faris.

    Ia menjelaskan, sekolah perlu memiliki standar operasional prosedur (SOP) pelayanan yang jelas sekaligus dinamis. SOP tersebut mencakup seluruh lini pelayanan, mulai wali kelas, guru mata pelajaran, tata usaha, keamanan, kantin hingga petugas kebersihan.

    Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00 hingga 15.00 WIB tersebut juga diisi sesi refleksi yang dipandu Waka Kesiswaan, Deby, bersama Alfa dari tim humas MunasSka Official. Sesi tersebut menjadi ruang bagi peserta untuk melakukan evaluasi, membangun komunikasi, sekaligus memperkuat komitmen bekerja sebagai satu tim.

    Guru Tahfidz, Ustaz Sumadi, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, agenda bersama seperti ini memberi kesempatan bagi guru dan tenaga kependidikan untuk lebih dekat secara personal sehingga tercipta hubungan kerja yang semakin solid.

    “Kegiatan ini sangat positif karena dapat mempererat persaudaraan, meningkatkan saling mengenal, dan membangun budaya saling menguatkan di antara keluarga besar sekolah,” ungkapnya.

    Kegiatan ditutup dengan pembagian doorprize berupa berbagai peralatan rumah tangga. Setelah seluruh rangkaian selesai, rombongan kembali melakukan touring menuju Solo dengan membawa semangat baru untuk memperkuat teamwork dan memberikan pelayanan pendidikan yang semakin baik. (Sofyan)


    Baca juga: Murid SD Muhammadiyah 1 Solo Belajar Jurnalistik Lewat Smartphone

    Murid saat mengikuti ekstrakurikuler Jurnalistik Cilik dengan memanfaatkan smartphone sebagai media belajar menulis berita. 


    Murid SD Muhammadiyah 1 Solo Belajar Jurnalistik Lewat Smartphone

    SOLO – majalahlarise.com – Puluhan murid SD Muhammadiyah 1 Solo, Jawa Tengah, mengikuti ekstrakurikuler Jurnalistik Cilik dengan memanfaatkan smartphone sebagai media belajar menulis berita. Kegiatan yang digelar rutin setiap Jumat ini mengajak siswa tidak hanya memahami dasar-dasar jurnalistik, tetapi juga mempraktikkan penulisan berita secara langsung melalui aplikasi notepad di telepon pintar, Jumat (7/8/2026).

    Kegiatan berlangsung pukul 12.30 hingga 14.00 WIB dengan bimbingan Humas SD Muhammadiyah 1 Solo, Dwi Jatmiko, bersama jurnalis profesional dari Solopos, Adam Aryo. Pembelajaran dirancang agar keterampilan jurnalistik dapat dipelajari secara dekat dengan kehidupan digital yang sehari-hari dijalani siswa.

    Dwi Jatmiko menjelaskan pemanfaatan smartphone dalam pembelajaran jurnalistik menjadi salah satu cara untuk mengarahkan perangkat digital ke aktivitas yang produktif. Smartphone yang selama ini identik dengan hiburan dapat dimanfaatkan siswa untuk mencari informasi, mencatat fakta, menyusun berita hingga mempublikasikan karya secara bertanggung jawab.

    “Anak-anak sebanyak 70 bersemangat belajar. Smartphone bukan hanya untuk bermain. Anak didik bisa menggunakannya untuk mencari informasi, mencatat fakta, menyusun berita, kemudian mempublikasikannya secara bertanggung jawab,” ujarnya.

    Dalam pembelajaran tersebut, siswa dikenalkan dengan konsep ADIKSIMBA, yakni Apa, Di mana, Kapan, Siapa, Mengapa, dan Bagaimana sebagai dasar dalam menggali informasi sebuah peristiwa. Konsep tersebut kemudian dikembangkan dengan dua pertanyaan tambahan, yakni What Unique atau apa hal unik dari peristiwa yang diberitakan serta What Impact atau apa dampak yang ditimbulkan dari peristiwa tersebut.

    Menurut Dwi Jatmiko, dua pertanyaan tambahan tersebut diperlukan agar tulisan siswa tidak berhenti pada pemenuhan unsur dasar berita. Siswa didorong mampu menemukan sisi menarik dari sebuah peristiwa sekaligus memahami dampak yang ditimbulkannya.

    Selain menulis, murid juga mendapatkan materi dasar foto jurnalistik untuk memperkuat berita yang mereka hasilkan. Dengan demikian, siswa belajar menggabungkan kemampuan mengamati peristiwa, menggali informasi, menulis, serta memilih visual yang relevan.

    Hasil karya jurnalistik para murid selanjutnya akan dipasang di majalah dinding sekolah sebagai bentuk apresiasi sekaligus ruang bagi siswa untuk menunjukkan hasil belajar mereka. Kegiatan ini diharapkan dapat membangun literasi digital, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, serta keberanian berkomunikasi berdasarkan fakta.

    “Mengenalkan jurnalistik sejak dini berarti melatih anak berpikir kritis, berani bertanya, dan jujur menyampaikan fakta. Dari menulis berita sederhana, murid belajar bahwa kebenaran, empati, dan tanggung jawab adalah karakter yang harus dibangun sejak dini,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Semarak HUT RI ke-81, Ratusan Warga Sukoroyom Kulon Giritontro Tumpah Ruah Ikuti Jalan Sehat


     



    Ust. Pujiono Pompa Semangat Guru SMKN 1 Ngawen dalam Sarasehan Keluarga

    KLATEN – majalahlarise.com – Keluarga menjadi sumber kekuatan, kasih sayang, keteladanan, sekaligus motivasi untuk terus berkembang. Semangat tersebut mengemuka dalam Sarasehan Keluarga Besar SMK Negeri 1 Ngawen Gunungkidul bertema “Keluarga Menguatkan, STEMSANGA Membanggakan: Bersama Menjaga Harmoni, Bersinergi Meraih Prestasi”, Jumat (7/8/2026).

    Kegiatan yang digelar di rumah Bapak Samsu Sartono, S.Pd., Trucuk, Klaten, diikuti Kepala SMK Negeri 1 Ngawen Gunungkidul Drs. Sriyono, M.Ds. bersama keluarga besar sekolah. Hadir sebagai pemateri Ust. Pujiono, S.Pd., S.Si., MM, Mudir PonpesMU Manafi’ul ‘Ulum Canden, Sambi, Boyolali.

    Dalam sarasehan tersebut, Pujiono memompa semangat para guru agar tidak terjebak dalam rutinitas pekerjaan. Menurutnya, rutinitas yang dijalani tanpa refleksi dapat membuat seseorang kehilangan kesempatan untuk terus berkembang.

    “Jangan sampai guru terjebak dalam rutinitas harian. Pergi pagi-pagi, pulang petang, begitu setiap hari. Tahu-tahu kita sudah tua,” ujar Pujiono.

    Ia mengingatkan, profesi guru bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan, tetapi merupakan amanah Allah SWT yang perlu dijalani dengan kesadaran, keikhlasan, dan rasa syukur. Karena itu, guru perlu melihat kembali kontribusi yang telah diberikan melalui profesinya.


    “Allah telah mengamanahkan kita sebagai guru. Maka jangan hanya bertanya, apa yang kita dapat dari profesi ini? Tetapi mari bertanya, apa yang sudah kita berikan melalui profesi ini?” pesannya.

    Pujiono mengajak guru SMKN 1 Ngawen mewujudkan rasa syukur atas amanah profesi melalui tiga sikap. Pertama, tidak mendholimi profesi dengan menjalankan tugas secara sungguh-sungguh dan penuh tanggung jawab.

    “Jangan kita mendholimi profesi dengan mengajar sekadar menggugurkan kewajiban. Anak-anak berhak mendapatkan guru terbaik yang kita mampu berikan,” ungkapnya.

    Kedua, guru harus mau mengembangkan profesi. Perubahan zaman, teknologi, karakter peserta didik, hingga perkembangan kecerdasan buatan menuntut guru untuk terus belajar dan meningkatkan kompetensi.

    “Guru yang hari ini sama dengan guru lima atau sepuluh tahun yang lalu, tanpa ada perkembangan, harus bertanya kepada dirinya sendiri: apakah saya masih mau bertumbuh?” katanya.

    Menurut Pujiono, guru hebat bukanlah guru yang merasa dirinya sudah hebat, melainkan guru yang terus belajar, terbuka terhadap perubahan, dan bersedia memperbaiki diri.

    Ketiga, guru perlu ridha dengan ketentuan Allah SWT. Setiap orang memiliki jalan, rezeki, posisi, dan tantangan masing-masing. Karena itu, proses pengabdian perlu dijalani dengan ikhlas dan penuh keyakinan.

    “Jalani profesi ini dengan ikhlas. Ada kalanya kita mendapatkan sesuatu yang sesuai harapan, ada kalanya tidak. Ada kalanya perjuangan kita langsung mendapatkan penghargaan, ada kalanya tidak terlihat. Tetapi yakinlah, tidak ada satu pun amal kebaikan yang sia-sia di hadapan Allah,” tuturnya.

    Lebih lanjut, Pujiono mengajak keluarga besar SMKN 1 Ngawen membangun budaya sekolah yang harmonis, saling menguatkan, dan mampu bersinergi. Prestasi sekolah dinilai penting, tetapi harus tetap berpijak pada nilai pengabdian dan karakter.

    “Jangan hanya mengejar sekolah berprestasi, tetapi mari membangun guru yang berprestasi sekaligus berkarakter. Jangan hanya hebat di dunia, tetapi juga selamat di akhirat,” pesannya.

    Pujiono optimistis kepemimpinan Drs. Sriyono, M.Ds. bersama kebersamaan seluruh keluarga besar sekolah mampu membawa SMKN 1 Ngawen Gunungkidul semakin berkembang dan membanggakan.

    “Insya Allah, guru-guru SMK Negeri 1 Ngawen adalah guru-guru hebat. Hebat dalam mengajar, hebat dalam mendidik, hebat dalam memberi keteladanan, dan yang paling penting: hebat dalam menjalankan amanah Allah. Semoga menjadi guru yang selamat dunia dan akhirat,” pungkasnya.

    Sarasehan tersebut menjadi momentum bagi keluarga besar SMKN 1 Ngawen untuk kembali menyegarkan niat dalam menjalankan profesi. Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, melainkan amanah dan jalan pengabdian. Rutinitas boleh berulang setiap hari, tetapi semangat, ilmu, keteladanan, dan kebermanfaatan seorang guru harus terus bertumbuh. (Sofyan)


    Baca juga: Semarak HUT RI ke-81, Ratusan Warga Sukoroyom Kulon Giritontro Tumpah Ruah Ikuti Jalan Sehat



    KBIHU Aisyiyah Surakarta Buka Manasik Haji 1448 H, Siapkan Jamaah Sesuai Sunnah

    SURAKARTA - majalahlarise.com - Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) Aisyiyah Kota Surakarta membuka program bimbingan manasik haji tahun 1448 Hijriah/2027 Masehi melalui pengajian perdana di Balai Muhammadiyah Kota Surakarta, Ahad (9/8/2026). Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 calon jemaah haji dari berbagai wilayah di Kota Surakarta.

    Kegiatan diawali pembukaan dan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, dilanjutkan menyanyikan lagu Indonesia Raya, Sang Surya, dan Mars Aisyiyah. Acara kemudian diisi prakata Ketua KBIHU Aisyiyah Kota Surakarta, H. Agus Thontowi Mahdi, S.E., M.M., sambutan Ketua Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kota Surakarta, Dr. Hj. Mahasri Shobahiya, M.Ag., serta tausiyah Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Surakarta, Drs. K.H. Subari.

    Ketua PDA Kota Surakarta, Dr. Hj. Mahasri Shobahiya, M.Ag., menyampaikan ucapan selamat kepada para calon jemaah yang telah mempersiapkan diri untuk memenuhi panggilan Allah SWT. Menurutnya, persiapan ibadah haji perlu dilakukan sejak jauh hari, terutama dengan memperkuat bekal ilmu.

    “Selamat kepada Bapak Ibu yang sudah bersemangat untuk bertarbiyah dalam rangka mempersiapkan diri untuk memenuhi undangan Allah SWT yang tentu disiapkan jauh-jauh hari, belasan tahun, bahkan mungkin sudah 14 tahun mendaftar sebagai calon haji,” ujarnya.

    Ia berharap seluruh calon jemaah yang mengikuti program tersebut dapat mematangkan persiapan menjelang keberangkatan pada 2027. “Tahun ini insyaallah semua sudah terdaftar berangkat haji di tahun 2027 sehingga dalam rangka mematangkan persiapan Bapak Ibu semua. Selamat, semoga dalam proses mempersiapkan diri dalam keberangkatan ibadah haji betul-betul dilandasi dengan ilmu,” katanya.

    Mahasri menjelaskan KBIHU Aisyiyah Kota Surakarta mendapat dukungan penuh dari PDM Kota Surakarta. Program bimbingan manasik akan dilaksanakan sedikitnya 22 kali pertemuan sehingga calon jemaah memiliki waktu cukup untuk memahami seluruh rangkaian ibadah haji.

    Sementara itu, Ketua KBIHU Aisyiyah Kota Surakarta, H. Agus Thontowi Mahdi, S.E., M.M., mengatakan pengajian perdana sekaligus pembukaan manasik menjadi awal pelaksanaan program bimbingan yang akan digelar secara rutin setiap Ahad.

    “Hari ini kami melaksanakan pengajian perdana sebagai pembukaan bimbingan manasik haji. Kegiatan ini akan kami lanjutkan secara rutin setiap hari Ahad sebagai bagian dari upaya sosialisasi sekaligus menjaring calon jemaah haji tahun 2027,” ujarnya.

    Agus menegaskan bimbingan manasik diarahkan untuk membekali calon jemaah agar mampu melaksanakan ibadah haji sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Kesiapan yang dibangun tidak hanya menyangkut aspek fisik dan finansial, tetapi juga pemahaman ilmu manasik.

    “Kami ingin jamaah benar-benar siap, tidak hanya secara fisik dan finansial, tetapi juga memiliki bekal ilmu yang cukup agar dapat melaksanakan ibadah haji dengan baik dan benar,” tambahnya.

    Ia berharap jumlah jemaah yang mengikuti bimbingan KBIHU Aisyiyah Surakarta tahun ini minimal menyamai capaian tahun sebelumnya. Pada musim haji sebelumnya, KBIHU Aisyiyah Surakarta memberangkatkan 101 jemaah.

    “Harapannya tahun ini bisa sama atau bahkan lebih dari tahun kemarin. Kami menyampaikan materi dengan cara yang mudah dan praktis, serta tetap mengedepankan program tarwiyah sebagai unggulan,” ungkap Agus.

    Dalam tausiyahnya, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Surakarta, K.H. Subari, mengingatkan para calon jemaah agar mengikuti proses bimbingan secara sungguh-sungguh. Menurutnya, ibadah haji merupakan kewajiban yang hanya dilaksanakan sekali seumur hidup bagi yang mampu sehingga persiapannya tidak boleh dilakukan secara sembarangan.

    “Ibadah haji adalah kewajibannya hanya sekali seumur hidup. Oleh karena itu, para calon tamu Allah harus mempersiapkan diri sebaik mungkin, salah satunya dengan mengikuti bimbingan manasik secara sungguh-sungguh,” tuturnya.

    Ia menambahkan, kesiapan fisik dan finansial perlu diimbangi dengan penguasaan ilmu. Pemahaman tata cara ibadah menjadi bekal penting agar jemaah mampu menjalankan seluruh rangkaian haji secara tertib dan sesuai tuntunan.

    “Ilmu menjadi bekal utama agar pelaksanaan ibadah haji berjalan lancar, tertib, dan sesuai tuntunan. Dengan mengikuti bimbingan dari para pembimbing yang berpengalaman, jamaah akan lebih siap dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah,” tandasnya.

    Melalui program bimbingan manasik tersebut, KBIHU Aisyiyah Kota Surakarta berkomitmen mendampingi calon jemaah sejak masa persiapan hingga keberangkatan. Pembekalan yang dilakukan secara rutin diharapkan mampu membentuk jemaah yang lebih siap, mandiri, memahami tata cara ibadah sesuai tuntunan Rasulullah SAW, serta mampu meraih predikat haji mabrur. (Sofyan)


    Baca juga: Semarak HUT RI ke-81, Ratusan Warga Sukoroyom Kulon Giritontro Tumpah Ruah Ikuti Jalan Sehat

     

    Ratusan warga dari berbagai usia tumpah ruah mengikuti jalan sehat yang menjadi bagian rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 RI.


    Semarak HUT RI ke-81, Ratusan Warga Sukoroyom Kulon Giritontro Tumpah Ruah Ikuti Jalan Sehat

    WONOGIRI – majalahlarise.com – Semangat memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 tahun 2026 terasa meriah di Dusun Sukoroyom Kulon, Desa Pucanganom, Kecamatan Giritontro, Kabupaten Wonogiri. Ratusan warga dari berbagai usia tumpah ruah mengikuti jalan sehat yang menjadi bagian rangkaian kegiatan peringatan HUT RI.

    Sejak pagi, anak-anak, remaja, hingga orang dewasa terlihat antusias mengikuti kegiatan. Jalan sehat tidak sekadar menjadi aktivitas olahraga bersama, tetapi juga menjadi momentum mempererat silaturahmi, persaudaraan, serta kekompakan masyarakat.

    Tokoh masyarakat sekaligus panitia kegiatan, Lukman Efendi, mengatakan jalan sehat merupakan agenda rutin tahunan yang digelar warga Sukoroyom Kulon untuk memeriahkan peringatan kemerdekaan.

    “Kegiatan ini merupakan rutinitas tahunan yang digelar warga Sukoroyom Kulon. Selain jalan sehat, ada banyak agenda kegiatan yang melibatkan warga dan masyarakat sekitar, seperti bola voli, permainan anak-anak maupun dewasa, panggung hiburan dan berbagai kegiatan lainnya,” ujar Lukman.

    Menurut Lukman, rangkaian kegiatan HUT RI tidak hanya ditujukan untuk menciptakan kemeriahan, tetapi juga menjadi sarana membangun kebersamaan dan menumbuhkan semangat gotong royong masyarakat.

    “Kegiatan dalam rangka memperingati HUT RI ke-81 ini sebagai bentuk semangat warga dalam membangun masyarakat yang sejahtera dan mandiri. Kami memiliki slogan SEMESTA, yaitu Semangat Menuju Sejahtera,” tambahnya.

    Kemeriahan jalan sehat semakin bertambah dengan disiapkannya beragam hadiah bagi peserta. Tahun ini, panitia menyediakan lima ekor kambing sebagai doorprize utama, selain ratusan hadiah lainnya berupa barang elektronik rumah tangga dan berbagai kebutuhan sehari-hari.

    Beragam hadiah tersebut menjadi daya tarik bagi peserta. Kendati demikian, antusiasme warga tidak semata-mata dipicu hadiah. Kegiatan ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk berolahraga, berkumpul, bersilaturahmi, dan merayakan kemerdekaan secara bersama-sama.

    Peserta berjalan menyusuri rute yang telah ditentukan panitia sebelum kembali ke garis finis. Setelah tiba di lokasi, warga tidak langsung membubarkan diri. Sambil menunggu pembagian doorprize, peserta menikmati hiburan organ tunggal yang menambah semarak suasana.

    Kebersamaan semakin terasa ketika warga menikmati nasi bungkus secara bersama-sama. Makan bersama menjadi salah satu gambaran kekompakan dan persaudaraan masyarakat Sukoroyom Kulon.

    Di sekitar lokasi kegiatan, sejumlah pelaku UMKM warga turut membuka lapak dengan menjajakan aneka makanan, minuman, dan produk kebutuhan masyarakat. Kehadiran UMKM tersebut memberikan kesempatan bagi warga untuk memperkenalkan sekaligus memasarkan produk usaha mereka.

    Keramaian kegiatan juga turut menggerakkan ekonomi masyarakat. Warga yang hadir menjadi konsumen potensial bagi pelaku usaha lokal sehingga kegiatan peringatan HUT RI tidak hanya menghadirkan hiburan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

    Peringatan HUT RI ke-81 di Sukoroyom Kulon menjadi gambaran semangat kemerdekaan yang diwujudkan melalui berbagai aktivitas masyarakat. Olahraga bersama, gotong royong, hiburan rakyat, pemberdayaan UMKM, hingga makan bersama menjadi bagian dari upaya menjaga kebersamaan warga.

    Melalui rangkaian kegiatan tersebut, masyarakat Sukoroyom Kulon menunjukkan semangat untuk mempertahankan tradisi kebersamaan sekaligus membangun lingkungan yang semakin kompak, mandiri, dan sejahtera.

    Semangat kemerdekaan pun tidak berhenti pada perayaan. Bagi warga, momentum HUT RI menjadi pengingat untuk terus menjaga persatuan, meningkatkan gotong royong, serta bersama-sama membangun desa menuju kehidupan masyarakat yang lebih sejahtera. (Sofyan) 


    Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, UNISRI Kenalkan Domino Games untuk Pembelajaran Matematika di Thailand

    Grup Angklung KJNI tampil dengan identitas pita berwarna hijau daun yang dipasang pada angklung.


    Grup Angklung KJNI Surakarta Ramaikan Musik Angklung Kolosal 12 Grup Se-Solo Raya


    SURAKARTA – majalahlarise.com – Grup Angklung KJNI (Komunitas Jalan Nordik Indonesia) Surakarta turut ambil bagian dalam perhelatan Musik Angklung Kolosal 12 Grup Angklung Se-Solo Raya yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Ngarsopuro, Kota Surakarta, Minggu (9/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi komunitas angklung untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan musik tradisional angklung kepada masyarakat.

    KJNI tampil dengan identitas pita berwarna hijau daun yang dipasang pada angklung masing-masing pemain. Selain KJNI, setiap grup memiliki warna pita berbeda sebagai penanda identitas kelompok, sehingga penampilan 12 grup semakin semarak secara visual.

    Pentas kolosal yang dimulai pukul 06.30 WIB tersebut melibatkan 12 grup angklung dengan total 381 pemain dari berbagai wilayah Solo Raya. Para peserta berasal dari sejumlah komunitas, di antaranya Angklung DWP UNS, Simponi Angklung Kiryani Mbah Wongso Soekarjo, Angklung PERPEN Bank Jateng Wilayah Surakarta, Angklung KJNI Solo, Angklung PMHK STIE Surakarta, serta kelompok angklung dari Boyolali, Karanganyar, dan Surakarta.

    Ketua Grup Angklung KJNI Surakarta, Dr. Ir. R. Ngt. Retno Setyowati, M.S., menyambut positif kesempatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan KJNI menjadi pengalaman berharga bagi anggota untuk belajar dan tampil bersama komunitas angklung lainnya. Meskipun baru menjalani satu bulan latihan setiap hari Senin siang para anggota tetap menunjukkan antusiasme mengikuti pentas kolosal.

    “Kami sangat senang mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan ini. Meskipun kami baru satu bulan berlatih, kami tetap bisa mengikuti dan menjadi bagian dari kegiatan ini,” ujar Retno.

    Grup Angklung KJNI Surakarta, pimpinan Dr. Ir. R. Ngt. Retno Setyowati, M.S saat foto bersama usai pertunjukan menghibur masyarakat di kawasan Car Free Day (CFD) Ngarsopuro Solo.


    Menurut Retno, kegiatan bermusik secara bersama-sama memberikan pengalaman positif bagi anggota. Musik angklung tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang kreatif yang dapat membangun kebersamaan, kepercayaan diri, dan semangat berkegiatan.

    Retno juga berharap grup angklung dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari kegiatan positif yang mendukung keberadaan komunitas. “Kita berharap grup angklung ini menjadi bagian dari KJNI, karena Komunitas Jalan Nordik Indonesia ada di dalamnya untuk kesehatan masalah jiwa dan raga maupun seni agar kita berkembang dalam hal yang sangat membuat kita baik-baik saja,” tuturnya.

    Sementara itu, Ketua Pelaksana Musik Angklung Kolosal, Widiastuti Hartono, menjelaskan kegiatan tersebut menjadi pentas perdana musik angklung di kawasan CFD Kota Surakarta. Pemilihan ruang publik diharapkan membuat angklung semakin dekat dengan masyarakat dan tidak hanya dimainkan dalam lingkungan komunitas.

    “Pentas musik Angklung Kolosal ini diikuti oleh 12 grup Angklung Se-Solo Raya yang melibatkan 381 pemain angklung,” ujar Widiastuti.

    Widiastuti menjelaskan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi antar komunitas pencinta angklung. Masih terdapat sejumlah grup angklung di Surakarta dan wilayah Solo Raya yang belum bergabung dalam paguyuban. Karena itu, Dharma Wanita Persatuan UNS berupaya memprakarsai terbentuknya Paguyuban Pencinta Angklung Se-Solo Raya sebagai wadah silaturahmi dan penguatan gerakan pelestarian musik angklung.

    “Semoga di waktu mendatang akan semakin banyak grup angklung yang bergabung, sehingga semangat pelestarian budaya ini semakin berkembang,” ungkapnya.

    Rangkaian kegiatan diawali sesi persiapan sejak pukul 05.30 WIB berupa pemotretan masing-masing kelompok, pengecekan sound system, serta pengarahan oleh Coach Edhi. Pada pukul 06.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, sambutan ketua penyelenggara, serta perkenalan masing-masing grup dan ketuanya.

    Memasuki sesi pertunjukan, para pemain membawakan sejumlah lagu secara berkelompok maupun kolosal. Beberapa lagu yang masuk dalam rangkaian pentas di antaranya Hip Hip Hura, Suket Teki, Karanganyar Kemayoran, Anak Sekolah, Seperti Mati Lampu, Memakai Kacamata Hitam, You Raise Me Up, Taman Jurug, dan Cendol Dawet.

    Widiastuti menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelatih, panitia, komunitas peserta, dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Menurutnya, pentas di ruang publik seperti CFD menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan angklung kepada masyarakat yang lebih luas.



    “Saya berharap Paguyuban Angklung Se-Solo Raya semakin berkembang, semakin kompak, dan semakin banyak kelompok baru yang bergabung untuk bersama-sama melestarikan budaya bambu,” pungkasnya.

    Pentas Musik Angklung Kolosal tersebut ditutup sekitar pukul 08.30 WIB. Kegiatan tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga memperlihatkan semangat kebersamaan 12 komunitas dalam menjaga keberlanjutan seni musik tradisional angklung di Solo Raya. (Sofyan)


    Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, UNISRI Kenalkan Domino Games untuk Pembelajaran Matematika di Thailand

    Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengunjungi kegiatan Liga Angkasa 2026 yang berlangsung di kawasan Sangkrah, selatan Stasiun Solo Kota.


    Kunjungi Liga Angkasa 2026, Astrid Widayani Apresiasi Semangat Guyub Warga Sangkrah

    SURAKARTA - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani, mengunjungi kegiatan Liga Angkasa 2026 yang berlangsung di kawasan Sangkrah, selatan Stasiun Solo Kota, Sabtu (8/8/2026). Kehadiran Astrid menambah semarak kompetisi sepak bola anak yang digelar di tengah permukiman warga tersebut.

    Liga Angkasa menjadi ruang bermain sekaligus bertanding bagi anak-anak yang memiliki minat terhadap sepak bola, termasuk mereka yang belum bergabung dengan Sekolah Sepak Bola (SSB). Kompetisi dengan konsep street ball tersebut diselenggarakan secara swadaya oleh panitia bersama masyarakat sekitar.

    Sekitar 50 anak usia SD hingga SMP ambil bagian dalam kompetisi. Selain memberikan pengalaman bertanding, Liga Angkasa menjadi wadah untuk melihat potensi bibit-bibit pemain sepak bola sekaligus membangun mental, karakter, dan semangat berkompetisi sejak usia dini.

    Astrid mengaku menikmati suasana kompetisi yang berlangsung meriah dan dipenuhi antusiasme warga. Menurutnya, Liga Angkasa tidak sekadar menjadi kegiatan olahraga, tetapi juga mencerminkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat di tingkat kampung.


    “Sangat seru. Ini menjadi bentuk guyub warga. Anak-anak bisa belajar kompetisi, belajar sportivitas, kerja sama, dan kejujuran,” kata Astrid.

    Menurut Astrid, pengalaman bertanding sejak usia dini penting untuk membentuk karakter anak. Dalam sebuah kompetisi, anak-anak tidak hanya belajar bagaimana meraih kemenangan, tetapi juga belajar menghargai lawan, bekerja sama dengan teman satu tim, menaati aturan, serta menerima hasil pertandingan dengan sikap sportif.

    “Bukan masalah menang atau kalah. Yang penting anak-anak senang, semangat, rukun, dan bisa belajar dari prosesnya,” ujarnya.

    Astrid juga mengapresiasi inisiatif warga Sangkrah yang secara swadaya menghadirkan ruang positif bagi anak-anak melalui olahraga. Penyelenggaraan yang tumbuh dari masyarakat tersebut dinilai menjadi contoh bagaimana lingkungan kampung dapat menciptakan aktivitas yang mendorong anak-anak untuk aktif, sehat, sekaligus membangun karakter.

    Menurutnya, kegiatan olahraga yang melibatkan anak-anak dan masyarakat memiliki nilai lebih karena mampu mempertemukan berbagai unsur dalam suasana yang positif. Lapangan tidak hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga ruang interaksi dan kebersamaan warga.

    Liga Angkasa 2026 diarahkan tidak berhenti sebagai kompetisi perdana. Panitia mulai membuka peluang untuk menambah jumlah peserta dan memperluas jangkauan turnamen sehingga ke depan dapat berkembang menjadi agenda kompetisi tahunan.

    Bagi Astrid, semangat tersebut sejalan dengan upaya menciptakan ruang tumbuh yang positif bagi anak-anak di Kota Surakarta. Melalui olahraga, anak-anak dapat belajar banyak hal sekaligus menikmati masa tumbuh dalam suasana yang menyenangkan, penuh semangat, dan guyub bersama masyarakat.

    “Harapannya kegiatan seperti ini terus hidup dan bisa menjadi ruang bagi anak-anak untuk berkembang, tidak hanya dalam olahraga, tetapi juga dalam karakter dan kebersamaan,” pungkasnya. (Mas Is/ Sofyan)


    Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, UNISRI Kenalkan Domino Games untuk Pembelajaran Matematika di Thailand

    Asia Small Business Federation (ASBF) Indonesia Wonogiri bersama Dream and Action (DnA) Entrepreneur Wonogiri menggelar Pelatihan Public Speaking untuk Promosi dan Konten, Sabtu (8/8/2026).


    ASBF dan DnA Entrepreneur Wonogiri Gelar Pelatihan Public Speaking untuk Dongkrak Promosi UMKM

    WONOGIRI - majalahlarise.com - Asia Small Business Federation (ASBF) Indonesia Wonogiri bersama Dream and Action (DnA) Entrepreneur Wonogiri menggelar Pelatihan Public Speaking untuk Promosi dan Konten, Sabtu (8/8/2026), di Resto Kambing Guling Aprilia Wonogiri. Kegiatan yang dimulai pukul 08.30 WIB tersebut menghadirkan Ina Andhi, Owner Dhavlen Batik Grup, sebagai mentor untuk meningkatkan kepercayaan diri peserta dalam berbicara di depan umum sekaligus membekali kemampuan membuat konten promosi yang lebih menarik.

    Ketua ASBF Wonogiri, Karsi, menjelaskan pelatihan tersebut digelar untuk membantu pelaku UMKM menyampaikan dan mempromosikan produk secara lebih baik, komunikatif, dan percaya diri.

    “Kita adakan pelatihan public speaking supaya UMKM kita bisa menyampaikan atau mempromosikan produknya dengan baik dan percaya diri. Peserta juga dibekali kemampuan komunikasi, teknik presentasi, membuka pembicaraan, menyampaikan materi, hingga menutup pembicaraan dengan benar dan baik,” jelasnya.

    Menurut Karsi, kemampuan public speaking menjadi keterampilan penting bagi pelaku UMKM. Tidak hanya untuk mempresentasikan produk, tetapi juga membantu peserta mengendalikan rasa gugup dan emosi ketika tampil di hadapan orang lain. Kemampuan tersebut juga dibutuhkan seorang pemimpin ketika memberikan arahan, motivasi, maupun mengambil keputusan.


    “Kita melatih UMKM agar berani mempresentasikan produknya tanpa merasa takut dan gugup. Kemampuan berbicara dengan baik sangat diperlukan oleh UMKM maupun seorang pemimpin. Keterampilan ini juga penting untuk mendukung aktivitas organisasi, pekerjaan, kegiatan sosial, dan kehidupan di masyarakat,” ujarnya.

    Pelatihan tersebut diikuti 51 peserta. Peserta tidak hanya berasal dari kalangan pelaku UMKM, tetapi juga tenaga pendidik. Karsi menyampaikan apresiasi kepada Resto Kambing Guling Aprilia yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut.

    Sementara itu, Ketua Dream and Action (DnA) Entrepreneur Wonogiri, Sarmidi, menyampaikan apresiasi atas antusiasme peserta selama mengikuti pelatihan. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya mendorong UMKM Wonogiri semakin berkembang, khususnya dalam pemasaran melalui komunikasi dan konten digital.

    “Alhamdulillah acara berjalan lancar. Peserta juga sangat antusias belajar public speaking. Harapan dan tujuannya, UMKM Wonogiri bisa semakin berkembang dalam pemasaran. Dengan public speaking untuk promosi dan konten, diharapkan UMKM Wonogiri bisa bersaing dalam membuat promosi dan video konten yang menarik sehingga penjualan dan omzet semakin meningkat,” kata Sarmidi.

    Selain peningkatan kapasitas promosi, Sarmidi berharap kegiatan tersebut memperkuat jejaring antar pelaku usaha. Pertemuan dalam pelatihan diharapkan membuka peluang silaturahmi, kerja sama, dan kolaborasi antar-UMKM di Wonogiri.

    Dalam pemaparannya, mentor pelatihan, Ina Andhi, Owner Dhavlen Batik Grup, menjelaskan public speaking memiliki peran penting dalam membangun branding usaha. Konsumen membeli produk atau jasa tidak hanya berdasarkan kualitas, tetapi juga karena adanya kepercayaan. Kepercayaan tersebut salah satunya dibangun melalui komunikasi yang baik.

    “Produk yang berkualitas tanpa didukung kemampuan komunikasi akan sulit berkembang. Public speaking dapat menjadi bagian dari proses membangun personal branding, kepercayaan, hingga meningkatkan penjualan,” terang Ina.

    Menurut Ina, setiap kali pelaku usaha berbicara di hadapan orang lain, baik ketika melakukan presentasi, live TikTok, live Instagram, bertemu pelanggan, networking, maupun mengikuti seminar, pada saat yang sama pelaku usaha sedang membangun citra bisnis.

    Namun, masih banyak kesalahan yang dilakukan pelaku usaha saat mempromosikan produknya. Di antaranya hanya menjelaskan produk, terlalu banyak melakukan promosi, tidak memiliki cerita, kurang percaya diri, serta menggunakan suara yang datar. Pola komunikasi seperti itu berpotensi membuat audiens cepat bosan dan mengurangi kepercayaan terhadap produk maupun pelaku usaha.

    Ina memaparkan lima hal penting dalam public speaking yang dapat membantu menjual produk sekaligus memperkuat branding, yakni percaya diri, storytelling, bahasa tubuh, intonasi suara, dan call to action yang jelas.

    Storytelling dapat digunakan untuk menceritakan alasan memulai usaha, perjuangan membangun bisnis, nilai yang dibawa, hingga manfaat produk bagi pelanggan. Sementara komunikasi yang meyakinkan perlu didukung senyum, kontak mata, gesture yang natural, suara jelas, tempo bicara tidak terlalu cepat, serta jeda pada poin-poin penting.

    Di era digital, kemampuan public speaking semakin penting karena dapat diterapkan dalam berbagai kanal promosi, seperti live shopping, video Reels, TikTok, webinar, podcast, maupun seminar. Semakin sering pelaku usaha tampil dan berkomunikasi secara konsisten, semakin kuat pula branding yang dibangun.

    Materi tersebut merumuskan alur sederhana yang dapat menjadi pegangan pelaku usaha, yakni public speaking → personal branding → kepercayaan → follower bertambah → pelanggan bertambah → omzet naik.

    “Produk hebat membuat orang mencoba. Komunikasi hebat membuat orang kembali,” pesan Ina.

    Melalui pelatihan tersebut, ASBF Indonesia Wonogiri dan DnA Entrepreneur Wonogiri berharap pelaku UMKM semakin berani tampil, mampu mengemas pesan promosi secara menarik, serta memanfaatkan kemampuan komunikasi untuk memperluas pasar dan meningkatkan daya saing usaha.(Sofyan)


    Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, UNISRI Kenalkan Domino Games untuk Pembelajaran Matematika di Thailand

     



    MI Muhammadiyah Blumbang Gelar Awalussanah dan Seminar Parenting, Hadirkan Narsum dari Pusat

    BOYOLALI – majalahlarise.com – Menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027, MI Muhammadiyah Blumbang Boyolali menggelar kegiatan Awalussanah dan Seminar Parenting, Sabtu (8/8/2026). Kegiatan mengusung tema “Menyelaraskan Kompas Pengasuhan di Rumah dan di Madrasah” sebagai upaya memperkuat sinergi antara madrasah dan orang tua dalam mendampingi pendidikan serta tumbuh kembang anak.

    Seminar parenting menghadirkan Pujiono, anggota Tim Diksuspala Penjamin Mutu Sekolah Muhammadiyah Pimpinan Pusat, yang juga Mudir PonpesMu Manafiul 'Ulum Canden, Sambi. Kehadiran narasumber dari tingkat pusat tersebut memberikan perspektif sekaligus penguatan bagi orang tua dalam membangun pola pengasuhan yang selaras dengan pendidikan di madrasah.

    Kepala MI Muhammadiyah Blumbang, Waginah, S.Pd., menyampaikan kegiatan parenting menjadi bagian penting dalam membangun kesamaan visi antara madrasah dan keluarga. Menurutnya, pendidikan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada madrasah, tetapi membutuhkan keterlibatan aktif orang tua di rumah.

    “Pendidikan anak membutuhkan sinergi antara madrasah dan keluarga. Apa yang dilakukan guru di madrasah perlu mendapatkan penguatan dari orang tua di rumah. Sebaliknya, nilai-nilai baik yang dibangun keluarga juga perlu diperkuat di madrasah,” ujarnya.


    Menurut Waginah, keselarasan pola pengasuhan menjadi salah satu fondasi penting dalam membentuk karakter peserta didik. Melalui kegiatan Awalussanah dan Seminar Parenting, orang tua diharapkan semakin memahami peran strategis keluarga dalam mendampingi proses pendidikan anak.

    Kegiatan tersebut dihadiri unsur Majelis Dikdasmen PDM Boyolali, Komite Madrasah, serta orang tua/wali siswa. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi bentuk dukungan terhadap upaya MI Muhammadiyah Blumbang meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus membangun kolaborasi yang lebih kuat.

    Majelis Dikdasmen PDM Boyolali yang diwakili Safii'i, S.Pd., menyampaikan sambutan sekaligus memberikan penguatan kepada keluarga besar MI Muhammadiyah Blumbang. Dukungan Majelis Dikdasmen diharapkan semakin memperkuat langkah madrasah dalam menghadirkan pendidikan yang berkualitas dan berkarakter.

    Sementara itu, doa dalam rangkaian kegiatan dipimpin Sholeh Wiyono, S.Ag. dari Komite Madrasah. Doa menjadi bagian penting dalam mengawali tahun pelajaran dengan memohon keberkahan, kemudahan, dan kesuksesan dalam mendampingi proses pendidikan generasi.

    Turut hadir Rukani, anggota Komite Madrasah, yang memberikan dukungan terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.

    Seminar parenting menjadi ruang refleksi bagi orang tua untuk melihat kembali pola pengasuhan yang diterapkan di lingkungan keluarga. Perubahan zaman yang berlangsung cepat menuntut orang tua memiliki arah pengasuhan yang jelas agar anak mampu tumbuh sebagai pribadi yang memiliki karakter kuat.

    Pujiono menjelaskan rumah dan madrasah tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Keduanya perlu memiliki arah yang sama dalam mendidik dan mendampingi anak.

    “Rumah dan madrasah harus menyamakan kompas pengasuhan. Apa yang ditanamkan guru di madrasah perlu diperkuat orang tua di rumah. Demikian pula nilai-nilai baik yang dibangun keluarga perlu mendapatkan penguatan di madrasah,” jelas Pujiono.

    Ia menambahkan, guru memiliki peran penting sebagai pendidik di madrasah, sedangkan orang tua merupakan pendidik utama di rumah. Karena itu, keduanya perlu membangun komunikasi dan kerja sama yang baik agar proses pendidikan anak berjalan secara berkesinambungan.

    “Keduanya harus memiliki kompas yang sama, yaitu mengantarkan anak menjadi pribadi yang beriman, berakhlak, cerdas, mandiri, dan memiliki karakter yang kuat,” tegasnya.

    Menurut Pujiono, keselarasan pengasuhan bukan berarti orang tua dan guru harus menerapkan cara yang sama persis. Hal yang lebih penting ialah adanya kesamaan nilai, tujuan, serta arah dalam mendampingi anak sehingga pesan pendidikan yang diterima anak tidak saling bertentangan.

    Kegiatan Awalussanah dan Seminar Parenting ini diharapkan menjadi langkah awal yang positif bagi MI Muhammadiyah Blumbang dalam membangun kolaborasi pendidikan yang semakin erat antara madrasah, orang tua, komite, dan persyarikatan.

    Dengan kompas pengasuhan yang selaras, rumah dan madrasah tidak menjadi dua dunia yang berjalan sendiri-sendiri. Keduanya menjadi dua kekuatan yang saling melengkapi untuk mengantarkan anak tumbuh menjadi generasi yang beriman, berkarakter, mandiri, cerdas, dan siap menghadapi masa depan. (Sofyan)


    Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, UNISRI Kenalkan Domino Games untuk Pembelajaran Matematika di Thailand

    Sembilan murid peserta ekstrakurikuler (ekskul) fotografi SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo memanfaatkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) sebagai ruang belajar di luar kelas.


    Sembilan Murid SD Muhammadiyah PK Solo Asah Keterampilan Fotografi di Hari Anak Nasional

    Solo - majalahlarise.com - Sembilan murid peserta ekstrakurikuler (ekskul) fotografi SD Muhammadiyah Program Khusus (PK) Kottabarat Solo memanfaatkan peringatan Hari Anak Nasional (HAN) sebagai ruang belajar di luar kelas. Mereka tidak hanya turut menyukseskan kegiatan HAN, tetapi juga melakukan praktik liputan fotografi secara langsung di Taman Lingkar Lokananta, Solo, Sabtu (8/8/2026).

    Keikutsertaan tersebut merupakan tindak lanjut SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo atas surat pemberitahuan Dinas Pendidikan Kota Surakarta terkait keikutsertaan peserta didik dalam peringatan HAN ke-42 Tahun 2026 yang mengusung tema “Sayang Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depan”. Para murid ekskul fotografi ditugaskan mengikuti kegiatan sekaligus mengabadikan berbagai aktivitas melalui karya fotografi.

    Penanggung jawab ekskul fotografi SD Muhammadiyah PK Kottabarat Solo, Widardiyanto Kurnia Fachruddin, mengatakan kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi murid untuk mempraktikkan materi yang sebelumnya telah dipelajari dalam kegiatan ekskul.

    “Pada pertemuan ekskul pekan sebelumnya, mereka sudah belajar teknik pemotretan. Kebetulan ada kegiatan Hari Anak Nasional sehingga sekaligus menjadi ajang untuk mempraktikkan teori yang sudah didapatkan,” ujarnya.

    Dalam praktik tersebut, murid dibebaskan menggunakan kamera maupun gawai yang dibawa dari rumah. Mereka belajar menentukan objek, memilih sudut pengambilan gambar, menangkap momen, serta menyesuaikan teknik pemotretan dengan kondisi di lapangan.

    Menurut Widardiyanto, pengalaman memotret secara langsung dalam sebuah kegiatan memberikan tantangan tersendiri bagi murid. Mereka dituntut lebih peka terhadap lingkungan dan mampu menemukan momen menarik yang dapat dituangkan dalam sebuah karya visual.

    “Anak-anak belajar bahwa fotografi bukan sekadar mengambil gambar. Mereka juga belajar mengamati, menentukan momen, dan menyampaikan sebuah cerita melalui foto,” katanya.

    Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya sekolah mengembangkan minat dan bakat murid melalui pembelajaran yang kontekstual. Pengalaman di lapangan diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan diri serta kreativitas peserta didik dalam menghasilkan karya. 

    Widardiyanto berharap ekskul fotografi dapat menjadi ruang bagi murid untuk terus mengembangkan kemampuan sekaligus mendapatkan apresiasi atas karya autentik yang mereka hasilkan.

    “Harapannya, kegiatan ekskul ini bermanfaat untuk pengembangan minat dan bakat anak-anak sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap karya autentik mereka,” tuturnya.

    Karya fotografi hasil praktik murid selanjutnya akan dikurasi oleh tim ekskul. Sebagian karya akan dicetak dan dipajang di dinding sekolah, sedangkan karya terpilih lainnya berkesempatan dimuat dalam majalah sekolah PK Media.

    Melalui praktik liputan fotografi di Hari Anak Nasional, pembelajaran ekskul tidak berhenti di ruang kelas. Murid mendapatkan pengalaman langsung untuk mengamati peristiwa, mengasah keterampilan teknis, menghasilkan karya, dan belajar menghargai proses kreatif.

    Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk pembelajaran berbasis pengalaman yang memberi kesempatan kepada murid untuk belajar dari peristiwa nyata sekaligus menemukan bahwa karya mereka dapat menjadi cara untuk merekam dan menceritakan sebuah peristiwa. (Sofyan)


    Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, UNISRI Kenalkan Domino Games untuk Pembelajaran Matematika di Thailand

    Pagelaran Wayang Babad Kartasura yang dipadukan dengan teknologi motion graphic. Pertunjukan yang digelar di halaman SD Negeri Dadapsari, Surakarta.


    Tim PISN FSRD ISI Surakarta Hadirkan Wayang Babad Kartasura Berkolaborasi Motion Graphic untuk Edukasi Siswa SD

    SURAKARTA - majalahlarise.com – Tim Program Inovatif Seni Nusantara (PISN) Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Surakarta menghadirkan inovasi dalam pelestarian seni tradisi melalui pagelaran Wayang Babad Kartasura yang dipadukan dengan teknologi motion graphic. Pertunjukan yang digelar di halaman SD Negeri Dadapsari, Surakarta, Jumat (7/8/2026), menjadi puncak rangkaian Hibah PISN Kemdiktisainstek Tahun 2026 bertajuk Revitalisasi Sejarah Babad Kartasura Melalui Eksistensi Dalang Wanita Lewat Pagelaran Kolaborasi Wayang dengan Motion Graphic.

    Berbeda dari pementasan wayang pada umumnya, pertunjukan kali ini mengombinasikan permainan wayang dengan visual motion graphic yang ditayangkan melalui LCD proyektor di balik kelir. Kolaborasi tersebut membuat alur cerita lebih mudah dipahami sekaligus menghadirkan pengalaman menonton yang lebih menarik bagi siswa sekolah dasar.

    Lakon Kembang Ngargayasa dipilih sebagai sajian utama. Kisah ini mengangkat tokoh Matah Ati, seorang perempuan pemberani yang melawan ketidakadilan dan memimpin pasukan perlawanan terhadap pribumi yang bersekutu dengan kompeni. Nilai-nilai keberanian, kepemimpinan, dan semangat perjuangan disampaikan melalui bahasa yang sederhana agar mudah dipahami para siswa.

    Suasana pertunjukan semakin meriah ketika ratusan siswa bersama-sama menyanyikan lagu-lagu dolanan seperti Wajibe Dadi Siswa dan Kidang Talun. Antusiasme peserta terlihat sejak awal hingga akhir pementasan. Mereka tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga terlibat aktif dalam berbagai sesi interaktif yang disiapkan tim penyelenggara.

    Dalang sekaligus Ketua Sanggar Wayang Gamelan Sangswara Kartasura, Nia Dwi Raharjo, menjelaskan konsep interaktif sengaja diterapkan agar anak-anak lebih dekat dengan seni wayang.

    “Melalui tembang dolanan dan kesempatan bagi siswa untuk memegang wayang secara langsung, kami ingin menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan. Pementasan ini menjadi upaya mengenalkan seni tradisi, khususnya Wayang Babad Kartasura, kepada generasi muda sejak usia sekolah dasar,” jelas Nia Dwi Raharjo.

    Pagelaran tersebut merupakan hasil kolaborasi Tim Hibah PISN FSRD ISI Surakarta yang diketuai Basnendar Herry Prilosadoso bersama anggota Ana Rosmiati, Indriati Suci Pravitasari, dan Sri Murwanti, didukung mitra sanggar serta tim mahasiswa. Seluruh rangkaian pertunjukan dirancang dengan mempertimbangkan karakteristik penonton anak-anak sehingga materi sejarah dapat disampaikan secara edukatif sekaligus menghibur.

    Salah satu anggota tim, Ana Rosmiati, mengatakan penggunaan multimedia menjadi alternatif baru dalam memperkenalkan wayang kepada generasi muda.

    “Pentas ini bertujuan memberikan alternatif media pengenalan wayang melalui kolaborasi dengan teknologi motion graphic. Kami berharap konsep ini mampu menggabungkan unsur edukasi dan rekreasi sehingga siswa lebih tertarik mengenal budaya. Penggunaan multimedia juga menjadi inovasi agar pertunjukan wayang semakin sesuai dengan segmentasi penonton anak-anak,” ujarnya.

    Sementara itu, Kepala SD Negeri Dadapsari Surakarta, Nuning Harmini, mengapresiasi pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman menyaksikan wayang dengan sentuhan teknologi menjadi hal baru yang memberikan kesan mendalam bagi para siswa.

    “Kami sangat senang karena kegiatan seperti ini baru pertama kali diselenggarakan di sekolah kami. Anak-anak memperoleh pengalaman baru mengenal Wayang Babad Kartasura, bahkan mereka bisa memegang wayang secara langsung. Tayangan motion graphic juga membuat pertunjukan semakin menarik sehingga siswa lebih mudah memahami cerita,” ungkap Nuning Harmini.

    Melalui inovasi kolaborasi antara seni pedalangan dan teknologi multimedia, Tim PISN FSRD ISI Surakarta berharap Wayang Babad Kartasura dapat semakin dikenal oleh generasi muda. Pendekatan kreatif tersebut menjadi salah satu upaya revitalisasi budaya lokal agar tetap hidup, relevan, dan mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai tradisi yang diwariskan kepada masyarakat. (Sofyan)


    Baca juga: Semarak Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 SMPN 2 Giritontro, 648 Siswa Ditempa Jadi Generasi Tangguh dan Berkarakter

    Upacara api unggun Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3.


    Semarak Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 SMPN 2 Giritontro, 648 Siswa Ditempa Jadi Generasi Tangguh dan Berkarakter

    Wonogiri - majalahlarise.com – Lapangan SMP Negeri 2 Giritontro selama tiga hari, Kamis-Sabtu (6-8/8/2026), berubah menjadi kawasan perkemahan yang dipenuhi semangat, keceriaan, kedisiplinan, dan kebersamaan. Sebanyak 648 peserta didik kelas VII, VIII, dan IX mengikuti Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 Gugus Depan 09.047-09.048 SMP Negeri 2 Giritontro.

    Kegiatan tersebut menjadi salah satu agenda besar kepramukaan sekolah sekaligus wahana pembentukan karakter melalui pengalaman belajar secara langsung. Para peserta tidak hanya diajak mendirikan tenda dan mengikuti aktivitas kepramukaan, tetapi juga belajar mandiri, bertanggung jawab, bekerja sama, memimpin, menjaga lingkungan, serta peduli terhadap sesama.

    Sejak awal kegiatan, antusiasme peserta terlihat dari aktivitas setiap regu. Dengan mengenakan seragam Pramuka dan perlengkapan kemah, para siswa bersama kelompoknya menyiapkan tempat, mengatur perlengkapan, menjaga kebersihan, mengikuti kegiatan kepramukaan, hingga menyelesaikan berbagai tugas secara bersama-sama.


    Ketua Panitia Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3, Ahmad Sidik Pranoto, S.Pd., menjelaskan kegiatan tersebut dirancang sebagai bagian dari pendidikan karakter, bukan sekadar agenda berkemah.

    “Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 ini bukan sekadar kegiatan berkemah. Di dalamnya terdapat proses pendidikan karakter yang sangat penting bagi anak-anak. Mereka belajar bagaimana hidup bersama, bekerja sama dalam regu, bertanggung jawab terhadap tugas, menjaga kebersihan, disiplin mengikuti jadwal, serta belajar mandiri,” ungkapnya.

    Menurut Ahmad, keterlibatan seluruh peserta didik kelas VII, VIII, dan IX memberikan pengalaman sosial yang lebih luas. Peserta tidak hanya berinteraksi dengan teman sekelas, tetapi juga membangun persaudaraan dengan siswa dari tingkat kelas berbeda.

    “Kami berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan penuh semangat, tertib, dan gembira. Pengalaman selama tiga hari ini diharapkan menjadi kenangan positif sekaligus bekal bagi mereka untuk menerapkan nilai-nilai Pramuka dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

    Kepala SMP Negeri 2 Giritontro sekaligus Kamabigus, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd, memberikan apresiasi kepada panitia, pembina Pramuka, guru, karyawan, serta seluruh peserta didik yang mendukung pelaksanaan Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3.


    Ia menilai kegiatan kepramukaan memiliki peran penting dalam mendukung pendidikan karakter di sekolah. Nilai-nilai yang ditanamkan melalui Pramuka dinilai relevan dengan kebutuhan generasi muda.

    “Kegiatan Pramuka bukan hanya tentang berkemah, mendirikan tenda, atau mengikuti berbagai permainan. Di dalamnya ada pendidikan karakter. Anak-anak belajar disiplin, mandiri, bertanggung jawab, mampu bekerja sama, menghargai orang lain, serta belajar menjadi pribadi yang tangguh,” ungkap Retno.

    Ia berpesan kepada seluruh peserta agar menjadikan kegiatan tersebut sebagai kesempatan untuk belajar sekaligus mempererat persaudaraan.

    “Ikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh. Jaga kekompakan, patuhi aturan, hormati pembina dan teman, jaga kebersihan serta keamanan lingkungan. Jadikan kegiatan ini sebagai pengalaman yang menyenangkan dan memberikan manfaat untuk kehidupan kalian,” pesannya.

    Retno juga mengingatkan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik. Karakter dan sikap peserta didik dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dari keberhasilan pendidikan.

    “Anak-anak tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik. Mereka juga harus memiliki karakter yang baik, mandiri, disiplin, bertanggung jawab, peduli kepada lingkungan dan sesama, serta mampu bekerja sama,” ujarnya.

    Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 juga menjadi momentum untuk menghidupkan nilai-nilai yang terkandung dalam Tri Satya dan Dasa Darma Pramuka.

    Nilai ketakwaan, cinta alam, kasih sayang kepada sesama, patriotisme, kedisiplinan, tanggung jawab, serta kesucian pikiran, perkataan, dan perbuatan tidak berhenti pada hafalan. Peserta didik diajak mempraktikkannya melalui aktivitas nyata selama mengikuti perkemahan.

    Menjaga kebersihan lingkungan, menaati tata tertib, menghormati pembina dan teman, membantu anggota regu yang mengalami kesulitan, serta menyelesaikan tugas dengan penuh tanggung jawab menjadi bagian dari proses pembelajaran.

    Ketika berada dalam satu regu, setiap peserta memiliki peran. Ada yang mengatur perlengkapan, menjaga kebersihan, memimpin kelompok, mengikuti kegiatan, maupun membantu anggota lainnya.

    Situasi tersebut melatih kemampuan komunikasi, kepemimpinan, pemecahan masalah, pengambilan keputusan, dan kepedulian terhadap sesama.

    Selain membentuk karakter peserta didik, Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 menjadi ruang mempererat hubungan antara siswa, guru, pembina, dan seluruh warga sekolah.

    Kegiatan selama tiga hari menghadirkan suasana berbeda dari pembelajaran di ruang kelas. Interaksi yang lebih dekat membuat peserta didik dapat mengenal teman maupun guru dalam suasana yang lebih santai, tetapi tetap edukatif.

    Bagi peserta didik kelas VII, kemah menjadi pengalaman untuk mengenal lebih dekat budaya kehidupan Pramuka sekaligus beradaptasi dengan lingkungan dan teman-teman baru.

    Sementara bagi kelas VIII dan IX, kegiatan tersebut menjadi kesempatan meningkatkan pengalaman organisasi dan kepemimpinan sekaligus memberikan teladan kepada adik kelas.

    Semangat gotong royong pun terlihat dalam berbagai aktivitas regu. Peserta belajar berbagi tugas, menata perlengkapan, menjaga kebersihan, mengikuti kegiatan bersama, dan menyelesaikan tantangan secara kolektif.

    Dengan jumlah peserta mencapai 648 siswa, pelaksanaan Kemah Bakti Penggalang AMERTA 3 membutuhkan koordinasi dan kerja sama seluruh unsur sekolah. Panitia, pembina Pramuka, guru, dan karyawan bersama-sama memastikan kegiatan berlangsung tertib, aman, dan sesuai tujuan. (Sofyan)


    Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, UNISRI Kenalkan Domino Games untuk Pembelajaran Matematika di Thailand

    Mahasiswa KKN UNS Kelompok 18 mengajak siswa-siswi SDN Kendayaan, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, untuk mencintai bahasa, sastra, dan budaya Jawa melalui proses pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. 



    Mahasiswa KKN UNS Kelompok 18 Dorong Minat Belajar Siswa SDN Kendayaan, Lahirkan Buku Antologi Geguritan Lewat Program SIBAYA MAKARYA

    BLORA - majalahlarise.com – Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta kembali menghadirkan program pengabdian yang berdampak nyata bagi masyarakat. Melalui program SIBAYA MAKARYA (Sinau Basa, Sastra, lan Budaya Jawa Lumantar Karya), mahasiswa KKN UNS Kelompok 18 mengajak siswa-siswi SDN Kendayaan, Kecamatan Ngawen, Kabupaten Blora, untuk mencintai bahasa, sastra, dan budaya Jawa melalui proses pembelajaran yang kreatif dan menyenangkan. Program tersebut tidak hanya berhasil meningkatkan semangat belajar siswa, tetapi juga menghasilkan sebuah karya monumental berupa buku "Antologi Geguritan Sekolahku Kendayaan" yang ditulis bersama para siswa.

    Kegiatan KKN UNS Kelompok 18 berlangsung selama 45 hari, mulai 7 Juli hingga 21 Agustus 2026. Selama masa pengabdian tersebut, delapan mahasiswa melaksanakan berbagai program pemberdayaan masyarakat, salah satunya mendampingi proses pembelajaran bagi sekitar 80 siswa SDN Kendayaan. Selama tiga minggu berturut-turut, mahasiswa hadir setiap hari di sekolah untuk memberikan pembelajaran di dalam maupun luar kelas dengan metode yang interaktif dan berpusat pada siswa.

    Program ini memperoleh dukungan penuh dari Pemerintah Desa Kendayaan, pihak SDN Kendayaan, guru, serta masyarakat setempat. Kolaborasi tersebut membuat seluruh rangkaian kegiatan berjalan lancar. Selain dukungan dari berbagai pihak, kekompakan seluruh anggota KKN menjadi modal utama dalam menyukseskan setiap agenda pembelajaran.



    SIBAYA MAKARYA lahir dari kepedulian mahasiswa terhadap semakin terkikisnya identitas budaya lokal di tengah derasnya arus globalisasi. Bahasa daerah, sastra, dan budaya lokal dinilai sebagai aset bangsa yang harus terus diwariskan kepada generasi muda. Karena itu, mahasiswa memilih pendekatan pembelajaran yang tidak hanya mengajarkan teori, tetapi juga mengajak siswa mengenal, mencintai, dan mengabadikan budaya daerah melalui karya tulis.

    Pemilihan bahasa Jawa sebagai materi utama bukan tanpa alasan. Kabupaten Blora berada dalam wilayah budaya Jawa Mataram yang memiliki kekayaan bahasa dan tradisi yang khas. Namun demikian, Desa Kendayaan juga memiliki berbagai karakteristik bahasa, ungkapan, dan budaya yang berbeda dengan wilayah budaya Jawa di Surakarta maupun Yogyakarta. Keunikan tersebut dipandang sebagai kekayaan budaya yang perlu dijaga, dikenalkan, sekaligus didokumentasikan agar tidak hilang ditelan perkembangan zaman.

    Ketua Pelaksana SIBAYA MAKARYA, Ridho Bayu Kurniawan, menjelaskan bahwa menulis merupakan salah satu cara paling efektif untuk menjaga ingatan kolektif masyarakat.

    "Menulis merupakan upaya mengabadikan sesuatu yang ada. Pada dasarnya kapasitas otak manusia terbatas, demikian pula ingatan manusia. Oleh karena itu, menulis menjadi sarana untuk tetap mengingat apa yang telah terjadi. Kami ingin anak-anak memiliki kenangan belajar yang tidak hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga tertulis dan dapat dibaca kembali di masa mendatang," jelas Ridho Bayu Kurniawan.

    Melalui pendampingan intensif, para siswa diajak memahami dasar-dasar geguritan atau puisi berbahasa Jawa. Mereka kemudian diberi kebebasan menuangkan pengalaman, cita-cita, lingkungan sekolah, keluarga, hingga kehidupan sehari-hari ke dalam karya sastra. Proses tersebut menjadi ruang bagi anak-anak untuk belajar menyampaikan gagasan, melatih keberanian, sekaligus mengembangkan kemampuan literasi.

    Hasil dari proses kreatif tersebut kemudian dihimpun menjadi buku "Antologi Geguritan Sekolahku Kendayaan". Kehadiran buku ini menjadi bukti bahwa anak-anak sekolah dasar mampu menghasilkan karya yang bernilai sekaligus menjadi dokumentasi perjalanan pendidikan mereka di SDN Kendayaan.

    Ridho menuturkan, karya tulis akan menjadi warisan yang jauh lebih bertahan dibandingkan ingatan semata.

    "Dengan menulis buku Antologi Geguritan Sekolahku Kendayaan, anak-anak dapat terus mengingat masa belajar mereka di sekolah dasar. Lebih dari itu, kegiatan ini membekali mereka agar berani berkarya di era modern. Tulisan merupakan senjata yang sulit dimusnahkan. Bacaan adalah bukti sebuah peradaban," ujarnya.

    Menurutnya, penulisan geguritan juga memiliki manfaat dalam perkembangan psikologis anak. Melalui puisi berbahasa Jawa, siswa dapat mengekspresikan perasaan, ide, serta imajinasi secara positif. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi media untuk mengarahkan emosi anak-anak yang sedang berada pada masa pertumbuhan sehingga berkembang menjadi pribadi yang kreatif dan percaya diri.

    Selain mengajarkan bahasa dan sastra Jawa, mahasiswa KKN UNS Kelompok 18 juga menanamkan nilai-nilai karakter kepada para siswa. Tata krama, sopan santun, penghormatan kepada guru dan orang tua, serta adab dalam kehidupan sehari-hari menjadi bagian penting dalam setiap proses pembelajaran. Mahasiswa meyakini pembentukan karakter harus dimulai sejak usia dini agar kelak tumbuh menjadi generasi yang berintegritas.

    Pelaksanaan SIBAYA MAKARYA juga tidak hanya berfokus pada pelajaran bahasa Jawa. Mahasiswa turut membantu pembelajaran berbagai mata pelajaran umum dengan metode yang lebih menyenangkan. Permainan edukatif, belajar sambil bernyanyi, diskusi kelompok, membaca bersama, hingga berbagai aktivitas kreatif diterapkan untuk menghilangkan kejenuhan siswa selama belajar.

    Suasana belajar yang santai namun tetap serius membuat siswa lebih antusias mengikuti pembelajaran. Mahasiswa juga mengajak anak-anak bermain, mengeja, mencari makna kata, berdiskusi, hingga berlatih tampil di depan teman-temannya. Pendekatan tersebut diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar sekaligus mengurangi risiko anak kehilangan semangat bersekolah atau putus sekolah.

    Seluruh anggota KKN UNS Kelompok 18 berharap program SIBAYA MAKARYA menjadi langkah kecil yang memberikan dampak besar bagi pembangunan sumber daya manusia di Desa Kendayaan. Mereka percaya pendidikan yang dipadukan dengan pelestarian budaya dan penguatan karakter akan melahirkan generasi yang mampu menjaga identitas daerah sekaligus siap menghadapi tantangan zaman.

    "Kami berharap kegiatan pembelajaran di Sekolah Dasar ini dapat berkontribusi dalam pembangunan desa dan menjadi cikal bakal pembangunan bangsa yang lebih cerah. Sebagai bentuk ekspresi anak-anak, kegiatan ini diharapkan mampu membentuk pribadi yang berani bersuara, berekspresi, dan berkarya dalam keadaan apa pun serta di mana pun. Semua akan mudah hilang dan terlupakan, kecuali tulisan," tutur seluruh anggota KKN UNS Kelompok 18.

    Melalui SIBAYA MAKARYA, mahasiswa KKN UNS membuktikan bahwa pengabdian kepada masyarakat tidak hanya diwujudkan dalam pembangunan fisik, tetapi juga melalui pembangunan karakter, peningkatan literasi, dan pelestarian budaya. Program ini menjadi contoh bahwa kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, sekolah, dan masyarakat mampu melahirkan inovasi pendidikan yang berdampak nyata bagi generasi penerus bangsa. (Sofyan)



Top