Parenting SMA Manafiul Ulum Canden Bahas “Panduan Cerdas Remaja Jatuh Cinta”

    Boyolali - majalahlarise.com - Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden menggelar kegiatan parenting bertajuk “Panduan Cerdas Remaja Jatuh Cinta”, Sabtu (26/9/2026), di Aula Ponpes Muhammadiyah Canden. Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi sekaligus silaturahmi antara orang tua dan pihak pesantren dalam mendampingi perkembangan remaja menghadapi berbagai tantangan zaman.

    Kegiatan menghadirkan Etik Rahmawati, S.Psi., MM., Psikolog sebagai narasumber dan diikuti para wali santri SMA Manafiul Ulum Canden. Parenting tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman orang tua mengenai cara membangun komunikasi dan pendampingan yang tepat terhadap putra-putrinya, terutama ketika memasuki fase remaja dan mulai mengenal ketertarikan terhadap lawan jenis.

    Acara diawali pembacaan Al-Qur’an oleh Aulia Azkiatuz Zahra dan dipandu Triana N selaku MC. Kegiatan turut dihadiri Mudir Ponpes Manafiul Ulum Canden Ustaz Pujiono, S.Si., MM., didampingi Wadir Ustaz Suradi, S.P.

    Dalam sambutannya, Mudir Ponpes Manafiul Ulum Canden Ustaz Pujiono menjelaskan masa remaja merupakan fase penting yang membutuhkan perhatian, kedekatan, dan pendampingan dari orang tua.

    Menurut Pujiono, persoalan ketertarikan dan jatuh cinta pada remaja tidak cukup dihadapi dengan larangan maupun kemarahan. Orang tua perlu hadir sebagai pendamping yang mampu membangun komunikasi terbuka sehingga anak memiliki ruang yang aman untuk bercerita.

    “Anak-anak kita tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka membutuhkan orang tua yang mau mendengarkan, memahami dunianya, kemudian mengarahkannya dengan nilai-nilai agama dan akhlak,” pesan Pujiono.

    Ia juga menjelaskan pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama antara keluarga dan lembaga pendidikan. Pesantren memberikan pembinaan selama santri berada di lingkungan pendidikan, sedangkan keluarga memiliki peran penting dalam membangun karakter dan kebiasaan anak di rumah.

    “Ketika anak mulai mengenal rasa cinta, tugas kita bukan memusuhi rasa itu, tetapi mengajarkan bagaimana mengelolanya agar cinta tidak menjadi jalan menuju kemaksiatan, melainkan menjadi energi untuk menjaga kehormatan, prestasi, dan masa depan,” tambahnya.

    Sementara itu, Etik Rahmawati, S.Psi., MM., Psikolog memberikan penguatan kepada para wali santri mengenai karakteristik psikologis remaja, dinamika perasaan pada masa pubertas, serta strategi komunikasi orang tua ketika menghadapi anak yang mulai mengenal hubungan dengan lawan jenis.

    Melalui materi tersebut, orang tua diajak memahami perubahan yang dialami remaja secara lebih utuh. Pendekatan komunikasi yang terbuka dan penuh empati diharapkan dapat membantu orang tua memberikan arahan tanpa membuat anak merasa dihakimi atau dijauhi.

    Ketua Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden, Triana N, menyampaikan kegiatan parenting tersebut menjadi bagian dari upaya paguyuban mempererat ukhuwah dan meningkatkan kebersamaan antara wali santri dengan pihak pesantren.

    “Melalui kegiatan ini kami berharap hubungan antara wali santri dan pesantren semakin dekat. Orang tua juga mendapatkan wawasan untuk mendampingi anak-anak menghadapi fase remaja dengan lebih baik,” ujarnya.

    Paguyuban Wali Santri SMA Manafiul Ulum Canden terdiri atas Triana N sebagai ketua, Sri Yamtini sebagai sekretaris, dan Wahyono sebagai bendahara.

    Kegiatan parenting tersebut diharapkan memperkuat sinergi keluarga dan pesantren dalam mendampingi generasi muda. Dengan komunikasi yang baik, orang tua diharapkan mampu menjadi sahabat bagi anak sekaligus tetap menjalankan peran sebagai pendidik dan pengarah.

    Melalui pendampingan yang tepat, keluarga dan pesantren dapat membangun kesamaan visi agar generasi muda tumbuh menjadi pribadi yang berilmu, berakhlak, memiliki kendali diri, serta mampu menghadapi dinamika kehidupan remaja secara bijak.(Sofyan)


    Baca juga: Wakil Walikota Astrid Widayani Ajak Gen-Z Bangun Gaya Hidup Halal, Cerdas dan Sehat

    Astrid saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan MES Surakarta & ASBISINDO Goes to School: Gaya Hidup Halal Gen-Z di SMA Al-Islam 1 Surakarta, Sabtu (26/9/2026). 


    Wakil Walikota Astrid Widayani Ajak Gen-Z Bangun Gaya Hidup Halal, Cerdas dan Sehat

    SURAKARTA - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota (Wawali) Surakarta Astrid Widayani mengajak generasi muda membangun gaya hidup halal yang diterapkan secara menyeluruh dalam kehidupan sehari-hari. Gaya hidup halal tidak hanya berkaitan dengan makanan dan produk yang dikonsumsi, tetapi juga mencakup cara mengelola keuangan, menggunakan media sosial, menjaga kesehatan mental, memilih pergaulan, hingga mengambil keputusan.

    Pesan tersebut disampaikan Astrid saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan MES Surakarta & ASBISINDO Goes to School: Gaya Hidup Halal Gen-Z di SMA Al-Islam 1 Surakarta, Sabtu (26/9/2026). Astrid hadir sebagai Wawali Surakarta sekaligus Ketua Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Surakarta.

    Kegiatan tersebut menjadi ruang edukasi bagi para siswa untuk mengenal konsep gaya hidup halal sekaligus mempersiapkan diri menghadapi berbagai tantangan kehidupan dan dunia kerja.

    Di hadapan para siswa, Astrid mengingatkan pentingnya setiap anak muda memiliki cita-cita dan optimisme dalam menatap masa depan.


    “Semua harus memiliki cita-cita. Untuk meraih masa depan yang sukses, kita perlu membangun gaya hidup yang halal, cerdas dan sehat,” kata Astrid.

    Astrid menjelaskan, halal lifestyle perlu dimaknai secara luas. Halal tidak hanya berkaitan dengan apa yang dikonsumsi, tetapi juga bagaimana seseorang menjalani kehidupan sehari-hari.

    “Apa yang kita makan, dengan siapa kita berteman, apa yang kita tonton, bagaimana kita mengambil keputusan, bagaimana menggunakan uang, bagaimana memperlakukan orang lain, sampai apa yang kita upload di media sosial, semuanya perlu kita pertimbangkan,” ujarnya.

    Bijak Mengelola Keuangan

    Astrid juga mengajak siswa menjadi generasi yang financially wise atau bijak dalam mengelola keuangan. Menurutnya, kebiasaan mengatur keuangan perlu dibangun sejak usia sekolah melalui langkah sederhana, seperti mencatat pemasukan dan pengeluaran serta membedakan kebutuhan dengan keinginan.

    Para siswa juga didorong menggunakan uang untuk hal-hal yang produktif. Kemampuan tersebut dinilai penting agar generasi muda tidak mudah terjebak dalam persoalan keuangan, termasuk risiko pinjaman online.

    “Jangan sampai karena ingin mengikuti gaya hidup, kita justru terjebak masalah keuangan. Mulai dari sekarang belajar mencatat pemasukan dan pengeluaran, bedakan mana kebutuhan dan mana keinginan,” tutur Astrid.

    Jaga Kesehatan Mental

    Selain literasi keuangan, Astrid menyoroti pentingnya menjaga kesehatan mental. Menurutnya, kesehatan mental menjadi salah satu fondasi bagi generasi muda dalam mempersiapkan masa depan.

    “Tekanan yang dihadapi Gen-Z saat ini tidak sedikit. Karena itu, menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kesehatan fisik. Kita harus optimis dan mampu mengenali diri sendiri,” katanya.

    Astrid juga mengajak para siswa menggunakan gadget dan media sosial secara bijak. Menurutnya, setiap unggahan dapat menjadi bagian dari jejak digital yang perlu dipertimbangkan dengan baik.

    “Media sosial bukan hanya tempat kita berekspresi. Jejak digital kita juga bisa dilihat ketika memasuki dunia kerja. Jadi, pikirkan baik-baik sebelum mengunggah sesuatu,” ujarnya.

    Edukasi Halal Lifestyle

    Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai bidang. Dani Ilham Pratama dari Paragon Corp membahas pentingnya memilih produk halal, Salwaa Fauziyyah Jatmiko dari OJK membahas Islamic financial planning, sedangkan H. Muhammad Ismail dari Bank Syariah Indonesia membahas perbankan syariah untuk remaja.

    Astrid berharap edukasi gaya hidup halal tidak berhenti sebagai pengetahuan yang diperoleh siswa di sekolah, tetapi dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

    “Halal lifestyle harus menjadi kebiasaan kita sehari-hari. Jadikan itu sebagai bagian dari cara kita memilih, mengambil keputusan dan membangun masa depan,” pungkasnya.(Mas Is/Sofyan)


    Baca juga: MPBI Pascasarjana Univet Bantara Gelar Seminar Akademik Bahas Pemanfaatan AI untuk Publikasi Jurnal Bereputasi

    Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dosen Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS) selaku narasumber saat menyampaikan materi menulis ilmiah diera AI: Etika, Strategi dan Publikasi.


    MPBI Pascasarjana Univet Bantara Gelar Seminar Akademik Bahas Pemanfaatan AI untuk Publikasi Jurnal Bereputasi

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia (MPBI) Program Pascasarjana Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menggelar Seminar Akademik Pascasarjana bertema “Pemanfaatan AI secara Etis dan Efektif dalam Penulisan Karya Ilmiah Pembelajaran Bahasa menuju Publikasi Jurnal Bereputasi”, Sabtu (26/9/2026).

    Kegiatan yang berlangsung di Ruang Seminar Gedung H Lantai 3 Univet Bantara tersebut menghadirkan Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., Dosen Pascasarjana Universitas Sebelas Maret (UNS), sebagai narasumber. Seminar diikuti mahasiswa MPBI Pascasarjana dan menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk meningkatkan wawasan serta keterampilan mahasiswa dalam penulisan dan publikasi karya ilmiah.

    Direktur Pascasarjana Univet Bantara, Dr. Veronika Unun Pratiwi, M.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan yang membahas pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (AI) secara aktif dan praktis dalam dunia akademik.


    Menurutnya, perkembangan AI semakin berpengaruh dalam berbagai bidang, termasuk pendidikan, pembelajaran, teknologi, penelitian, serta pengembangan karya ilmiah. Pendidik dan mahasiswa perlu mengikuti perkembangan tersebut sekaligus memahami cara memanfaatkan AI secara tepat.

    “AI dapat digunakan sebagai alat bantu dalam proses kerja. Namun, hasil yang diberikan AI tidak selalu benar sehingga tetap membutuhkan pemeriksaan dan penyuntingan manusia,” jelasnya.

    Ia menjelaskan, AI tidak semestinya menggantikan peran manusia dalam proses pendidikan maupun akademik. Kemampuan manusia untuk memahami persoalan, mengarahkan penggunaan teknologi, memeriksa informasi, serta mengembangkan gagasan tetap diperlukan untuk menghasilkan karya berkualitas.

    Direktur Pascasarjana Univet Bantara berharap pemanfaatan AI dilakukan secara bijak dan produktif, terutama untuk mendukung pendidik dan mahasiswa menghasilkan artikel maupun karya ilmiah yang layak dipublikasikan.

    Sementara itu, Ketua Panitia, Arif Wahyudi, S.Pd., menyampaikan kegiatan tersebut dilaksanakan sebagai bagian dari tugas perkuliahan mahasiswa sekaligus merespons perkembangan kecerdasan artifisial yang semakin luas digunakan dalam dunia pendidikan dan penelitian.

    “Workshop ini bertujuan meningkatkan wawasan dan keterampilan peserta dalam memanfaatkan AI untuk penulisan karya ilmiah dengan tetap memperhatikan etika, integritas akademik, dan kualitas publikasi,” ujarnya.

    Ia menyebut kegiatan diikuti 79 peserta yang terdiri atas 60 mahasiswa kelas I, 10 mahasiswa kelas RPL, dan 9 mahasiswa kelas reguler. Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan dari pimpinan, dosen Pascasarjana, serta Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia.

    Kegiatan dilaksanakan secara mandiri melalui kontribusi peserta sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk membangun tanggung jawab, kerja sama, dan kemampuan mengelola kegiatan akademik secara profesional.

    Sementara itu, Rektor Univet Bantara, Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum., selaku keynote speaker, menyampaikan apresiasi atas seminar yang mengangkat pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara etis dan efektif dalam pendidikan, khususnya pembelajaran bahasa dan publikasi karya ilmiah.

    Prof. Farida menjelaskan kehadiran AI telah membawa perubahan dalam ekosistem pendidikan. AI tidak hanya berfungsi sebagai perangkat teknologi, tetapi juga dapat mendukung transformasi pedagogis melalui adaptive learning, analitik pembelajaran, pemberian umpan balik secara real time, serta dukungan data dalam pengambilan keputusan selama proses pembelajaran.

    Menurutnya, AI dapat memberikan manfaat dalam mendukung penguasaan keterampilan abad ke-21, meningkatkan efisiensi administrasi, serta mendukung peningkatan kualitas pendidikan agar lebih inklusif, relevan, dan responsif terhadap perkembangan global.

    Namun, pemanfaatan AI juga menghadirkan tantangan, antara lain bias algoritmik, privasi dan keamanan data, ketimpangan akses teknologi, ketergantungan terhadap teknologi, serta perubahan peran manusia dalam pembelajaran.

    “AI perlu ditempatkan sebagai mitra yang membantu pekerjaan manusia, bukan sebagai pengganti manusia,” jelas Prof. Farida.

    Ia mengingatkan mahasiswa, guru, kepala sekolah, pengawas, calon pendidik, dan akademisi untuk menggunakan AI secara aktif, kritis, etis, dan bertanggung jawab. AI dapat membantu proses analisis maupun penyusunan karya ilmiah, tetapi integritas akademik tetap perlu menjadi landasan.

    Prof. Farida berharap seminar tersebut memberikan pengetahuan praktis kepada peserta dalam memanfaatkan AI secara bijaksana untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus mengembangkan karya ilmiah.

    Pada kesempatan tersebut, Prof. Dr. Sarwiji Suwandi, M.Pd., menjelaskan AI dapat diposisikan sebagai tool atau alat yang membantu mahasiswa maupun dosen dalam kegiatan pendidikan, penelitian, dan penulisan karya ilmiah.

    “AI sebagai tool dapat membantu kita dalam berbagai pekerjaan akademik. Namun, pemanfaatannya harus tetap berlandaskan kejujuran dan etika akademik,” tuturnya.

    Menurut Prof. Sarwiji, AI sebaiknya digunakan sebagai mitra yang memperkuat proses berpikir manusia, membantu menemukan informasi, mengolah gagasan, dan mendukung pekerjaan akademik. Penggunaan AI secara tidak bertanggung jawab berpotensi menimbulkan persoalan akademik, termasuk plagiarisme dan menghasilkan karya yang tidak mencerminkan kemampuan penulis.

    Karena itu, tanggung jawab penggunaan AI tidak hanya berada pada mahasiswa atau penulis. Dosen dan supervisor juga memiliki peran dalam mengawasi serta mengarahkan mahasiswa agar menggunakan teknologi tersebut secara bertanggung jawab.

    Supervisor, lanjutnya, tidak cukup hanya mengingatkan mahasiswa mengenai etika penggunaan AI, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk mengenali penggunaan AI yang tidak bertanggung jawab. Apabila ditemukan persoalan seperti plagiarisme atau penggunaan sumber tanpa mencantumkan rujukan, dosen dapat memberikan penilaian sekaligus mengarahkan mahasiswa untuk memperbaiki karya ilmiahnya.

    Pada tingkat institusi, Prof. Sarwiji juga mendorong adanya regulasi atau pedoman yang jelas mengenai penggunaan AI. Pedoman tersebut diperlukan agar dosen dan mahasiswa memiliki acuan yang sama dalam memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk kepentingan akademik.

    Selain pemanfaatan AI, Prof. Sarwiji mengajak mahasiswa pascasarjana memperhatikan kualitas sumber referensi dalam penyusunan karya ilmiah. Menurutnya, kemudahan memperoleh buku, jurnal, dan artikel melalui internet membuat mahasiswa memiliki akses yang lebih luas terhadap sumber ilmiah. Namun, kemudahan tersebut juga menuntut kemampuan untuk memilih sumber yang kredibel.

    Mahasiswa perlu mampu menemukan jurnal bereputasi dan membedakan publikasi ilmiah yang berkualitas dengan jurnal yang kurang kredibel. Dalam penulisan karya ilmiah, mahasiswa dapat memanfaatkan artikel dari jurnal internasional yang terindeks Scopus atau Web of Science serta jurnal nasional terakreditasi Sinta.

    Meski demikian, ia mengingatkan kualitas artikel tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan peringkat jurnal. Artikel yang diterbitkan pada jurnal Sinta 5 atau Sinta 6, misalnya, tidak otomatis memiliki kualitas yang rendah.

    “Artikel tetap perlu dibaca dan dikaji. Kita perlu melihat metodologi, argumentasi, data, serta relevansinya dengan penelitian yang sedang dilakukan,” jelasnya.

    Prof. Sarwiji juga mengingatkan mahasiswa agar cermat dalam memilih jurnal untuk publikasi. Perkembangan industri penerbitan membuat publikasi ilmiah juga bersinggungan dengan kepentingan bisnis. Karena itu, peneliti perlu mencermati karakteristik pengelolaan jurnal sebelum menjadikannya sebagai tempat publikasi maupun sumber referensi.

    Salah satu hal yang dapat diperhatikan adalah konsistensi jumlah artikel yang diterbitkan dalam setiap edisi. Namun, indikator tersebut tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan kualitas jurnal. Penilaian tetap perlu dilakukan secara menyeluruh dengan melihat berbagai aspek pengelolaan dan kualitas publikasi. (Sofyan)


    Baca juga: Empat Hari, Tri Haryoko Bikin Wayang Daur Ulang Janaka dan Srikandi Ukuran Jumbo untuk Kriya Nusa 2026

    Tri Haryoko bersama dua wayang jumbo karakter Janaka dan Srikandi dengan tinggi mencapai 150 sentimeter menggunakan bahan dasar sak semen yang telah didaur ulang.


    Empat Hari, Tri Haryoko Bikin Wayang Daur Ulang Janaka dan Srikandi Ukuran Jumbo untuk Kriya Nusa 2026

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Kreativitas mengolah bahan daur ulang menjadi karya seni kembali ditunjukkan Tri Haryoko dari Sanggar Omah Wayang Mas Kamto, Sukoharjo. Ia berhasil membuat dua wayang jumbo karakter Janaka dan Srikandi dengan tinggi mencapai 150 sentimeter menggunakan bahan dasar sak semen yang telah didaur ulang. 

    Karya tersebut akan dipamerkan dalam Kriya Nusa 2026, Pameran Kerajinan Nusantara yang berlangsung 26-30 September 2026 di Hall A-B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Pameran yang diselenggarakan Dewan Kerajinan Nasional (Dekranas) ini diikuti 257 peserta dengan 410 booth.

    Pembuatan wayang jumbo tersebut membutuhkan waktu empat hari. Prosesnya diawali dengan membuat sketsa pada sak semen yang sudah dipress, kemudian dipahat seperti proses pembuatan wayang kulit. Setelah itu dilakukan pewarnaan dan pemasangan gapit menggunakan kayu sawo serta rotan.

    Tri Haryoko sebagai dalang sekaligus Ketua Sanggar Omah Wayang Mas Kamto mengaku bersyukur mendapat kesempatan menghasilkan karya wayang dengan konsep berbeda.

    “Dengan selesainya karya wayang jumbo ini, saya sangat bersyukur diberi kesempatan membuat wayang yang tidak seperti biasanya. Bahannya menggunakan sak semen daur ulang. Walaupun menggunakan bahan daur ulang, proses pembuatannya masih sama seperti pembuatan wayang kulit,” ungkap Tri Haryoko dalam rilis yang dikirim.

    Menurutnya, ukuran jumbo menjadi tantangan tersendiri dalam proses pengerjaan. Ukuran yang mencapai 150 sentimeter membuat proses pembuatan membutuhkan kehati-hatian lebih dibandingkan wayang berukuran normal.

    “Yang paling berkesan, wayang ini ukurannya jumbo, jadi harus ekstra hati-hati membuatnya karena berbeda dengan ukuran pada umumnya,” jelasnya.

    Tri Haryoko berharap karya tersebut membuka peluang kolaborasi dan pengembangan seni wayang dengan berbagai bentuk kesenian serta material yang tersedia di lingkungan sekitar.

    “Kami berharap ke depannya ada pihak-pihak yang mau menggandeng Sanggar Omah Wayang Mas Kamto agar tetap berkarya. Semoga wayang tidak hanya berjalan di ranah tradisi, tetapi juga bisa dikolaborasikan dengan apa saja, misalnya musik kontemporer maupun musik Barat,” katanya.

    Ia menambahkan, bahan pembuatan wayang tidak selalu harus menggunakan kulit. Pemanfaatan material daur ulang seperti sak semen dapat menjadi alternatif untuk mengeksplorasi bentuk baru dalam seni pewayangan.

    “Bahan pembuatan wayang ternyata bisa menggunakan bahan yang ada di sekitar kita. Semoga bisa menambah inspirasi dalam mengembangkan seni wayang dengan bahan selain kulit,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: Super Hero Sanggar Bhinneka dan TK Teladan Kenalkan Kereta Api Lewat Dongeng Wisata

    Yoga Pratista Kepala Stasiun Sukoharjo Daop 6 Yogyakarta saat meniup lilin roti ulang tahun bersama anak-anak TK Teladan.


    Super Hero Sanggar Bhinneka dan TK Teladan Kenalkan Kereta Api Lewat Dongeng Wisata

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Upaya mengenalkan dunia perkeretaapian kepada anak-anak dilakukan melalui kegiatan edukatif dan menyenangkan. Super Hero Sanggar Bhinneka bekerja sama dengan TK Teladan Sukoharjo, Literasi Dongeng Wisata Gatotkoco Disporapar, dan Duta Wisata mengajak anak-anak menikmati perjalanan sekaligus belajar tentang kereta api melalui kegiatan bertajuk Sehari Ceria Bersama Kereta Api, Jumat (25/9/2026).

    Kegiatan dalam rangka memperingati Hari Kereta Api Nasional tersebut dikemas dengan konsep mendongeng wisata di dalam Kereta Wisata Batara Kresna. Peserta terdiri atas murid TK Teladan Sukoharjo dan anak-anak yatim binaan Sanggar Bhinneka, termasuk anak-anak yang menjadi korban Covid-19.

    Selama perjalanan, karakter Super Hero menjadi daya tarik bagi anak-anak. Mereka diajak berinteraksi, menikmati perjalanan kereta api, sekaligus menyimak dongeng yang mengangkat kisah Kancil dan Monyet penghuni kawasan tepian Sungai Bengawan Solo di wilayah Nguter.

    Dongeng juga dikaitkan dengan berbagai potensi wisata dan lingkungan yang dilewati kereta. Anak-anak dikenalkan dengan kawasan Nguter yang dikenal sebagai sentra jamu. Saat kereta berhenti di Stasiun Nguter, mereka mendapatkan pengalaman mengenai jamu sebagai salah satu potensi khas daerah.

    Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Wonogiri. Setibanya di Stasiun Wonogiri, anak-anak diajak berjalan-jalan ke kawasan pasar di depan stasiun dan mengenal kuliner khas, salah satunya bakmi pentil. Setelah itu rombongan kembali menuju Sukoharjo menggunakan kereta api.


    Danar, Super Hero Sanggar Bhinneka, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kolaborasi edukasi perkeretaapian dan literasi wisata yang dilakukan bersama KAI Daop 6.

    “Superhero Sanggar Bhinneka menjadi mitra KAI Daop 6 dalam kegiatan edukasi perkeretaapian sekaligus literasi wisata bagi anak-anak. Dalam kegiatan Sehari Ceria Bersama Kereta Api, kami mengajak anak-anak mengenal kereta api sekaligus berbagai potensi wisata yang dilalui selama perjalanan,” ujarnya.

    Menurut Danar, konsep mendongeng di dalam kereta membuat anak-anak memperoleh pengalaman belajar yang lebih dekat dengan kehidupan mereka. Cerita yang disampaikan tidak hanya menjadi hiburan, tetapi dikaitkan dengan lokasi yang secara langsung mereka lihat selama perjalanan.

    “Kami mendongeng di dalam perjalanan Kereta Wisata Batara Kresna dengan mengangkat tempat-tempat yang dilewati kereta, seperti Sungai Bengawan Solo dan kawasan Nguter yang dikenal sebagai sentra jamu. Anak-anak tidak hanya diajak mencintai kereta api, tetapi juga mengenal lingkungan dan potensi wisata di sepanjang perjalanan,” jelasnya.

    Danar menambahkan, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari upaya menumbuhkan kecintaan anak terhadap transportasi umum sekaligus budaya literasi. Menurutnya, pendekatan melalui pengalaman langsung membuat literasi terasa lebih menyenangkan bagi anak-anak.

    Konsep tersebut sejalan dengan upaya KAI Daop 6 dalam mengenalkan literasi melalui kereta api, termasuk keberadaan Rail Library atau perpustakaan kereta. Anak-anak diharapkan semakin mengenal kereta api sekaligus memiliki pengalaman positif selama menggunakan transportasi umum tersebut.

    Sementara itu, Yoga Pratista selaku Kepala Stasiun Sukoharjo Daop 6 Yogyakarta menyampaikan kegiatan ini bagian dari menyambut HUT KAI ke-81 sekaligus sarana mengenalkan dunia perkeretaapian kepada anak-anak sejak dini.

    “Kegiatan edukasi ini kami apresiasi karena menjadi bentuk kebersamaan sekaligus edukasi untuk mengenalkan perkeretaapian sejak dini kepada anak-anak. Semoga kegiatan ini memberikan pengalaman yang menyenangkan dan menumbuhkan rasa bangga serta cinta terhadap kereta api,” kata Yoga.

    Yoga mengatakan KAI terbuka memberikan edukasi perkeretaapian kepada anak-anak, mulai jenjang TK hingga SD. Edukasi secara langsung diharapkan memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk mengenal lebih dekat berbagai hal terkait dunia perkeretaapian.

    Rangkaian kegiatan ditutup di Sukoharjo dengan perayaan ulang tahun kereta api. Anak-anak bersama Super Hero Sanggar Bhinneka memberikan kue tart kepada masinis dan kepala stasiun serta bunga sebagai bentuk apresiasi.

    Salah satu siswa TK Teladan Sukoharjo, Melova, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. Ia merasa gembira dapat naik kereta api sekaligus berinteraksi dengan Super Hero.

    “Senang naik kereta dan bertemu Super Hero. Nanti ikut lagi,” ungkap Melova.

    Melalui kegiatan tersebut, pesan “Super Hero mendongeng wisata di dalam kereta wisata” menjadi cara kreatif memperkenalkan transportasi kereta api sekaligus literasi wisata kepada generasi muda. Semangat tersebut diwujudkan melalui pesan, “Selamat Hari Kereta Api Nasional, kami tetap cinta kereta api.” (Sofyan)


    Baca juga: Univet Bantara Kembali Dipercaya Kelola PPG, Rektor Dorong Lahirkan Guru Profesional Berbasis Hati

     

    Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani meresmikan sekaligus meninjau Kantor Pusat Bahasa Mandarin (PBM)/Confucius Institute Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (24/9/2026).


    Wawali Astrid Widayani Apresiasi Peresmian Kantor Pusat Bahasa Mandarin UNS, Dorong Penguatan Kolaborasi Indonesia-Tiongkok

    Surakarta - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani menghadiri peresmian Kantor Pusat Bahasa Mandarin (PBM)/Confucius Institute Universitas Sebelas Maret (UNS), Kamis (24/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di Aula Utara Javanologi UNS tersebut dirangkai dengan Perayaan Hari Confucius dan Festival Musim Gugur.

    Astrid menyampaikan apresiasi Pemerintah Kota Surakarta atas hadirnya kantor baru PBM/Confucius Institute UNS. Ia juga menyambut kedatangan mitra dari Xihua University, para pendidik, mahasiswa, serta mitra dari Tiongkok yang hadir di Kota Surakarta.

    “Pemerintah Kota Surakarta menyampaikan selamat dan apresiasi kepada Universitas Sebelas Maret atas hadirnya kantor baru Pusat Bahasa Mandarin/Confucius Institute ini. Kami juga menyampaikan selamat datang kepada para mitra dari Xihua University, para pendidik, mahasiswa, serta seluruh sahabat dari Tiongkok yang hadir di Kota Surakarta,” kata Astrid.


    Confucius Institute UNS merupakan hasil kerja sama UNS dengan Xihua University. Kerja sama kedua perguruan tinggi tersebut dimulai sejak 2018, sebelum Confucius Institute UNS resmi diresmikan pada 11 Maret 2019. Saat diresmikan, Confucius Institute UNS menjadi Confucius Institute pertama di Jawa Tengah dan ketujuh di Indonesia.

    Menurut Astrid, keberadaan Confucius Institute tidak sekadar menyediakan ruang pembelajaran bahasa Mandarin. Lembaga tersebut juga menjadi ruang bertemunya pendidikan, kebudayaan, pertukaran pengetahuan, serta hubungan antarmasyarakat Indonesia dan Tiongkok.

    Hal tersebut terlihat dari berbagai program kerja sama yang telah dijalankan, termasuk program pendidikan dan double degree UNS bersama Xihua University. Pada 2026, sebanyak 17 mahasiswa Program Studi Bahasa Mandarin dan Kebudayaan Tiongkok FIB UNS menyelesaikan studi selama dua tahun di Xihua University dan meraih gelar Bachelor of Arts. Pada tahun yang sama, 12 mahasiswa BMKT UNS mengikuti program double degree di Tiongkok.

    “Ini tentu menjadi modal penting dalam menyiapkan generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga mampu berkomunikasi, memahami budaya, serta membangun jejaring dalam lingkungan global,” ujar Astrid.

    Ia menjelaskan, pengalaman belajar di lingkungan internasional memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk mengenal langsung masyarakat dan kebudayaan negara lain. Karena itu, pembelajaran bahasa perlu berjalan beriringan dengan pemahaman budaya.

    Astrid melihat keberadaan Confucius Institute semakin memperkuat posisi Surakarta sebagai kota pendidikan sekaligus kota budaya yang terbuka terhadap kerja sama internasional.

    “Surakarta memiliki ruang yang sangat besar untuk terus mempertemukan berbagai budaya melalui pendidikan, seni, kreativitas, dan pertukaran pengetahuan. Ini yang harus terus kita kembangkan,” katanya.

    Ia juga menjelaskan pentingnya akulturasi budaya dalam proses pertemuan masyarakat Indonesia dan Tiongkok. Menurut Astrid, Surakarta memiliki pengalaman panjang dalam mempertemukan budaya Jawa dan Tionghoa dalam kehidupan masyarakat.

    “Pertemuan budaya bukan berarti menghilangkan identitas masing-masing. Justru dari pertemuan itu kita bisa saling mengenal, saling menghargai, kemudian melahirkan akulturasi yang memperkaya kehidupan masyarakat,” jelasnya.

    Jejak pertemuan budaya Jawa dan Tionghoa tersebut dapat dilihat dalam berbagai tradisi dan kehidupan masyarakat Surakarta. Sejumlah bentuk akulturasi berkembang dalam tradisi Grebeg Sudiro dan Cap Go Meh, kuliner, hingga interaksi sosial masyarakat Jawa dan Tionghoa.

    “Nilai-nilai budaya yang kita miliki sebenarnya banyak yang memiliki titik temu. Semangat guyub rukun, gotong royong, kebersamaan dan keharmonisan merupakan nilai yang bisa menjadi ruang bersama dalam pertemuan budaya,” ujarnya.

    Perayaan Festival Musim Gugur yang menjadi bagian kegiatan tersebut, menurut Astrid, juga memiliki pesan yang relevan dengan kehidupan masyarakat Surakarta. Tradisi Festival Pertengahan Musim Gugur identik dengan bulan purnama, kebersamaan, keharmonisan, serta berkumpul bersama keluarga dan orang-orang yang dicintai.

    Ia berharap kegiatan semacam itu tidak berhenti sebagai perayaan budaya, tetapi berkembang menjadi ruang pertukaran dan kolaborasi antara Indonesia dan Tiongkok.

    “Kita tidak hanya belajar budaya Tiongkok, tetapi juga harus menjadikan ruang seperti ini untuk memperkenalkan budaya Jawa dan budaya Indonesia kepada masyarakat Tiongkok,” kata Astrid.

    Kolaborasi tersebut telah berjalan dalam berbagai bentuk. Salah satunya melalui program pertukaran dan pembelajaran kebudayaan Jawa yang melibatkan mahasiswa Xihua University. Program kolaborasi PBM Confucius Institute UNS dan PUI Javanologi UNS bahkan pernah diikuti 35 mahasiswa Tiongkok untuk mempelajari keris, batik, tari, bahasa dan aksara Jawa, serta kebudayaan Surakarta.

    Astrid berharap mahasiswa dan generasi muda Surakarta dapat memanfaatkan keberadaan Confucius Institute. Belajar bahasa Mandarin, menurutnya, bukan hanya tentang kemampuan berkomunikasi, tetapi juga membuka pintu untuk memahami masyarakat dan kebudayaan Tiongkok serta memperluas peluang pendidikan dan pekerjaan.

    PBM UNS juga telah mengembangkan jejaring dengan dunia industri. Dalam kegiatan UNS pada 2025 disebutkan sejumlah mahasiswa dan alumni memperoleh kesempatan bekerja di perusahaan yang berada di Batang, Morowali, Palembang maupun di Tiongkok. Selain pendidikan dan kebudayaan, kerja sama tersebut juga diarahkan pada kebutuhan dunia kerja dan industri.

    “Ke depan, kami berharap hubungan dan pertukaran antara Surakarta dengan berbagai perguruan tinggi maupun kota dan provinsi di Tiongkok dapat terus berkembang, khususnya dalam bidang pendidikan, kebudayaan, pariwisata, ekonomi kreatif, perdagangan, dan bidang-bidang lain yang memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Astrid.

    Ia berharap peresmian kantor baru tersebut menjadi momentum untuk memperluas kolaborasi sekaligus memperkuat hubungan masyarakat Indonesia dan Tiongkok.

    “Semoga peresmian kantor baru ini menjadi awal dari semakin banyaknya program kolaborasi, semakin luasnya pertukaran pengetahuan dan budaya, serta semakin kuatnya persahabatan antara masyarakat Indonesia dan Tiongkok,” pungkasnya.(Sofyan)


    Baca juga: Univet Bantara Kembali Dipercaya Kelola PPG, Rektor Dorong Lahirkan Guru Profesional Berbasis Hati

    Penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Univet Bantara dan Dirjen GTK di Jakarta. Kamis (24/9/2026).


    Univet Bantara Kembali Dipercaya Kelola PPG, Rektor Dorong Lahirkan Guru Profesional Berbasis Hati

    SUKOHARJO - majalahlarise.com - Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) kembali mendapat kepercayaan Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) untuk mengelola mahasiswa Pendidikan Profesi Guru (PPG). Kepercayaan tersebut ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara Univet Bantara dan Dirjen GTK di Jakarta. Kamis (24/9/2026).

    Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum menyampaikan, kerja sama tersebut menjadi bagian dari komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pemerintah menyiapkan calon guru profesional. Setiap tahun Univet Bantara dipercaya mengelola mahasiswa PPG yang dipersiapkan menjadi guru profesional.

    "Alhamdulillah pada setiap tahunnya Univet Bantara senantiasa dipercaya oleh Dirjen GTK untuk mengelola mahasiswa PPG, yaitu mahasiswa calon guru profesional," ujarnya.

    Menurutnya, dalam kesempatan penandatanganan PKS tersebut Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah menyampaikan harapan agar perguruan tinggi membangun kerja sama secara baik untuk menghasilkan guru profesional. Guru tidak hanya dituntut memiliki ilmu, tetapi juga mampu mengajar dengan hati serta memiliki kepedulian terhadap peserta didik.

    "Guru itu mempunyai kepedulian terhadap muridnya. Peran guru itu sesungguhnya tidak akan pernah bisa tergantikan dengan mesin ataupun dengan teknologi," jelasnya.

    Prof. Farida menjelaskan, perkembangan artificial intelligence (AI) saat ini memang memberikan banyak kemudahan dalam membantu pekerjaan manusia. Namun, guru memiliki peran yang berbeda karena pendidikan tidak hanya berkaitan dengan transfer pengetahuan dan keterampilan, tetapi juga membutuhkan sentuhan hati dan perasaan.

    Guru diharapkan mampu menciptakan suasana belajar tanpa tekanan sehingga peserta didik memiliki semangat untuk belajar dan berkembang. Pendekatan tersebut juga sejalan dengan harapan penerapan kurikulum deep learning dalam pendidikan Indonesia.

    "Guru diharapkan tidak berperan sebagaimana artificial intelligence dalam memberikan pengetahuan maupun keterampilan kepada murid-muridnya, tetapi lebih pada pekerjaan yang menggunakan hati dan perasaannya," jelasnya.

    Kepercayaan Dirjen GTK kepada Univet Bantara akan dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Univet Bantara berkomitmen terus membantu pemerintah menghasilkan guru-guru profesional yang memiliki kompetensi sekaligus kepedulian terhadap peserta didik.

    Dari sisi kesiapan penyelenggaraan, Univet Bantara memiliki Program Studi PPG yang telah meraih akreditasi unggul. Selain itu, sumber daya manusia yang dimiliki juga memenuhi ketentuan Dirjen GTK, bahkan memiliki kualifikasi yang mendukung pengelolaan program PPG.

    "Univet tentu saja sudah cukup representatif dalam mengelola PPG karena program studi PPG yang ada di Univet juga sudah terakreditasi unggul. SDM-nya juga sesuai dengan ketentuan dari GTK," ujarnya.

    Melalui kerja sama tersebut, Univet Bantara berharap dapat terus memberikan kontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia. Pengelolaan PPG diarahkan untuk menghasilkan guru profesional yang tidak hanya menguasai ilmu dan keterampilan, tetapi juga mampu mendidik dengan kepedulian, empati, dan hati. (Sofyan)


    Baca juga: Univet Bantara dan Kemendag RI Jalin Kerja Sama Tridharma, Dorong UMKM dan Wirausaha Mahasiswa

    Penandatanganan dilakukan Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum bersama Sekretaris Jenderal Kemendag RI dan disaksikan Menteri Perdagangan RI Dr. Budi Santoso, M.Si.


    Univet Bantara dan Kemendag RI Jalin Kerja Sama Tridharma, Dorong UMKM dan Wirausaha Mahasiswa

    Jakarta - majalahlarise.com - Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menjalin kerja sama dengan Kementerian Perdagangan (Kemendag) Republik Indonesia melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) tentang pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi. Kerja sama tersebut diarahkan untuk memperkuat program kewirausahaan kampus, pengembangan UMKM, serta membuka peluang mahasiswa mengenal dunia perdagangan dan ekspor.

    Penandatanganan MoU berlangsung di Auditorium Kementerian Perdagangan RI, Jakarta, Selasa (22/9/2026), bersamaan dengan peluncuran aplikasi InaExport Kemendag RI. Penandatanganan dilakukan Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum bersama Sekretaris Jenderal Kemendag RI dan disaksikan Menteri Perdagangan RI Dr. Budi Santoso, M.Si.

    Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Pembina, Ketua Pengurus, dan Humas YPPP Veteran. Sejumlah perwakilan kementerian dan perguruan tinggi juga hadir, antara lain Kementerian UMKM, Kementerian Perindustrian, Universitas Airlangga Surabaya, serta IBI Kosgoro 1957. Hadir pula para direktur jenderal, direktur, dan kepala biro di lingkungan Kemendag RI.



    Rektor Univet Bantara Prof. Dr. Farida Nugrahani, M.Hum menyampaikan kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya Univet Bantara memperkuat pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi sekaligus mengembangkan program kampus preneur.

    "Kerja sama dengan Kementerian Perdagangan ini berkaitan dengan Tridharma Perguruan Tinggi. Salah satunya melalui program kampus preneur yang sejalan dengan upaya Univet Bantara menjadi kampus berdampak," jelasnya.

    Dalam rangkaian kegiatan peluncuran InaExport, Univet Bantara juga mendapat kesempatan memamerkan sejumlah produk UMKM di sekitar kampus yang selama ini menjadi binaan universitas. Produk tersebut diperkenalkan sebagai bagian dari upaya memperluas akses pemasaran dan mengenalkan potensi produk lokal kepada pasar yang lebih luas.

    Selain produk UMKM, Univet Bantara turut menampilkan produk mahasiswa yang berasal dari hasil penelitian. Produk-produk tersebut dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan dan dipasarkan hingga ke luar negeri.

    Menurutnya, keterlibatan Univet Bantara dalam kegiatan Kemendag memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa mengenai dunia perdagangan internasional. Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengetahuan melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga dapat melihat secara langsung proses pengembangan produk hingga peluang memasuki pasar ekspor.

    Ketua Pembina, Ketua Pengurus, Humas YPPP Veteran serta Rektor Univet Bantara Sukoharjo saat foto bersama Menteri Perdagangan RI Dr. Budi Santoso, M.Si.


    Univet Bantara juga memperoleh kesempatan mengirimkan mahasiswa untuk mengikuti program magang di Kementerian Perdagangan. Program tersebut diharapkan memberikan pengalaman praktis kepada mahasiswa mengenai perdagangan, pengembangan usaha, pemasaran, dan peluang ekspor.

    Kerja sama tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pendampingan terhadap UMKM di sekitar kampus. Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, mahasiswa, dan pelaku UMKM, Univet Bantara berharap dapat membantu meningkatkan kapasitas usaha sekaligus melahirkan mahasiswa yang memiliki jiwa kewirausahaan.

    "Harapannya, kerja sama ini memberikan manfaat bagi Univet Bantara dalam mendampingi UMKM agar berkembang, sekaligus melatih mahasiswa menjadi wirausahawan dan calon eksportir," ungkapnya.

    Program tersebut sejalan dengan konsep kampus berdampak yang dikembangkan Univet Bantara. Kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat diarahkan tidak berhenti pada lingkungan akademik, tetapi dapat menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk peningkatan kesejahteraan dan pengembangan potensi ekonomi daerah.

    Dalam waktu dekat, Univet Bantara juga akan mengikuti pameran produk yang diselenggarakan dalam rangkaian Expo Internasional TEI 2026 dan Expo Pangan Nusa 2026 di ICE BSD Tangerang, 14-18 Oktober 2026. Keikutsertaan tersebut menjadi bagian dari tindak lanjut kerja sama sekaligus kesempatan memperkenalkan produk UMKM binaan dan produk hasil penelitian mahasiswa.

    Sejumlah produk UMKM di sekitar kampus serta produk hasil penelitian dan pengabdian mahasiswa telah melalui proses seleksi Kementerian Perdagangan dan terpilih untuk dipamerkan dalam kegiatan tersebut.

    "Produk UMKM binaan di sekitar kampus dan produk hasil penelitian serta pengabdian mahasiswa sudah melalui proses seleksi dari Kementerian Perdagangan dan terpilih untuk dipamerkan. Kami berharap kesempatan ini dapat membuka peluang produk-produk tersebut memasuki pasar ekspor," jelas Farida.

    Setelah penandatanganan MoU, Univet Bantara akan aktif mengikuti berbagai program Kementerian Perdagangan yang berkaitan dengan kampus preneur bersama perguruan tinggi lainnya. Kolaborasi tersebut diharapkan memperluas ruang pembelajaran mahasiswa sekaligus memperkuat ekosistem kewirausahaan di lingkungan kampus.

    Kerja sama Univet Bantara dan Kemendag RI juga diharapkan memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat Sukoharjo dan sekitarnya. Pengembangan UMKM, kewirausahaan mahasiswa, penelitian, pengabdian masyarakat, program magang, hingga pengenalan peluang ekspor menjadi bagian dari langkah Univet Bantara membangun keterhubungan antara pendidikan tinggi dan kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. (Sofyan)


    Baca juga: Penyambutan Mahasiswa Baru Tahun 2026, Fakultas Pertanian Univet Bantara Kenalkan Laboratorium dan Praktik Lapangan



    Berhenti Melihat Naskah sebagai Benda Keramat, Selamatkan sebelum Terlambat

    KARANGANYAR — majalahlarise.com — Naskah kuno tidak semestinya hanya dipandang sebagai benda pusaka yang disakralkan dan disimpan tertutup. Di balik lembaran naskah tersimpan pengetahuan, sejarah, serta rekam budaya yang perlu dijaga agar tetap dapat dipelajari generasi mendatang.

    Kesadaran tersebut menjadi salah satu pesan dalam kegiatan Sosialisasi, Pendaftaran, dan Digitalisasi Naskah Kuno Nusantara Tahun 2026 yang digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Karanganyar di Kantor Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Karanganyar, Rabu (23/9/2026).

    Kegiatan menghadirkan dua narasumber dari kalangan akademisi filologi, yakni Ahmad Wahyu Sudrajad, M.Hum., dosen Institut Studi Qur'an dan Ilmu Keislaman (ISQI) Sunan Pandanaran Yogyakarta, serta Dr. Asep Yudha Wirajaya, S.S., M.A., dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sebelas Maret (UNS).


    Keduanya membahas pentingnya inventarisasi, pendaftaran, dan digitalisasi naskah kuno yang masih tersebar dan tersimpan di tengah masyarakat. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menyelamatkan warisan intelektual bangsa agar tidak hilang akibat kerusakan fisik maupun kurangnya perawatan.

    Dalam paparannya, Asep Yudha Wirajaya menjelaskan, ancaman terhadap kelestarian naskah bersejarah tidak selalu berasal dari luar. Pemilik atau orang yang menyimpan naskah juga memiliki peran penting dalam menentukan keberlangsungan naskah tersebut.

    Setidaknya terdapat empat faktor yang dapat mengancam kelestarian naskah kuno, yakni jamur dan serangga, kondisi lingkungan penyimpanan, faktor waktu, serta kelalaian manusia dalam merawat dan memperlakukan naskah.

    Karena itu, menyimpan naskah secara tertutup tanpa perawatan yang tepat tidak otomatis membuatnya aman. Sebaliknya, kondisi penyimpanan yang kurang sesuai dapat mempercepat kerusakan naskah.

    Sementara itu, Ahmad Wahyu Sudrajad menjelaskan klasifikasi naskah berdasarkan usia dan bentuknya. Naskah dapat dikategorikan sebagai naskah kuno apabila telah berusia 50 tahun atau lebih.

    “Naskah yang ditulis tangan disebut manuskrip, sedangkan naskah cetak meskipun tergolong naskah kuno bukan merupakan manuskrip. Manuskrip sendiri dimaknai sebagai rekaman peristiwa pada masa lalu yang memiliki nilai sejarah dan budaya tinggi,” ujarnya.

    Menurutnya, pemahaman tersebut penting agar masyarakat dapat mengenali nilai yang terdapat pada naskah yang mereka simpan. Naskah tidak hanya memiliki nilai sebagai benda lama, tetapi juga dapat menjadi sumber informasi untuk memahami pengetahuan, pemikiran, dan kehidupan masyarakat pada masa lalu.

    Melalui kegiatan sosialisasi, pendaftaran, dan digitalisasi, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Karanganyar mendorong masyarakat untuk mulai membuka akses pendataan terhadap naskah yang masih berada di lingkungan keluarga maupun komunitas.

    Digitalisasi menjadi salah satu langkah penting karena memungkinkan isi naskah memiliki salinan dalam bentuk digital. Dengan demikian, informasi yang terkandung di dalamnya dapat lebih mudah diakses untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan pelestarian budaya, tanpa harus terus-menerus menggunakan naskah fisik sebagai sumber utama.

    Upaya tersebut sekaligus menjadi langkah penyelamatan sebelum naskah mengalami kerusakan permanen akibat usia, jamur, serangga, lingkungan penyimpanan, maupun kelalaian manusia.

    Dengan perubahan cara pandang dari sekadar menyimpan menjadi mengenali, mendaftarkan, merawat, dan mendigitalisasi, naskah kuno diharapkan tidak berhenti sebagai benda pusaka yang tertutup dari publik. Lembaran-lembaran bersejarah tersebut dapat terus hidup sebagai sumber pengetahuan bagi generasi sekarang dan mendatang.

    Penulis: Tiara Putri Maharani

    Dokumentasi: Rezty Putri Ariana Gunarso

    Editor: Sofyan


    Baca juga: Siswa Kelas 1 SD Muhammadiyah PK Banyudono Belajar Mengolah Singkong melalui Fun Games, Tour and Cooking Class


     Penanaman dilakukan oleh Dekan, Ketua program studi, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP), dan dosen sebagai bagian dari pengenalan praktik pertanian sekaligus membangun kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan.


    Penyambutan Mahasiswa Baru Tahun 2026, Fakultas Pertanian Univet Bantara Kenalkan Laboratorium dan Praktik Lapangan

    SUKOHARJO — majalahlarise.com — Sebanyak sekitar 94 mahasiswa baru Fakultas Pertanian Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo mengikuti kegiatan pengenalan lingkungan dan fasilitas laboratorium di Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian, Desa Jagan, Kecamatan Bendosari, Kabupaten Sukoharjo, Selasa (22/9/2026).

    Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian penyambutan mahasiswa baru tahun akademik 2026/2027. Melalui kegiatan ini, mahasiswa diajak mengenal lebih dekat berbagai fasilitas yang mendukung proses pembelajaran dan praktik di bidang pertanian.

    Mahasiswa baru diperkenalkan dengan sejumlah fasilitas, antara lain kandang ternak ayam, Laboratorium Agroklimatologi, serta fasilitas rekayasa pangan. Pengenalan tersebut memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai berbagai aktivitas praktikum dan pengembangan ilmu yang dapat dilakukan selama menempuh pendidikan di Fakultas Pertanian.


    Selain pengenalan fasilitas, kegiatan juga diisi dengan penanaman tanaman secara simbolis. Penanaman dilakukan oleh dekan, ketua program studi, Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMP), dan dosen sebagai bagian dari pengenalan praktik pertanian sekaligus membangun kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan.

    Dr. Novian Wely Asmoro, S.TP., M.Sc menyampaikan harapan agar mahasiswa baru tidak hanya mengenal lingkungan kampus dan praktik lapangan, khususnya di bidang pertanian.

    "Harapannya nanti untuk mahasiswa baru selain kenal dengan lapangan khususnya pertanian, mahasiswa juga menjadi lebih bersemangat untuk mengembangkan pertanian, bersemangat untuk bisa bersosialisasi dengan teman-teman, dan bersemangat untuk menempuh pendidikan," ujarnya.

    Menurutnya, pengalaman mengenal fasilitas dan lingkungan praktik sejak awal perkuliahan diharapkan dapat membantu mahasiswa membangun semangat belajar sekaligus memahami penerapan ilmu pertanian secara lebih dekat.

    Kegiatan di Laboratorium Terpadu Fakultas Pertanian ini menjadi salah satu langkah awal bagi mahasiswa baru untuk beradaptasi dengan lingkungan akademik sekaligus mengenal ruang belajar dan praktik yang akan mendukung perjalanan pendidikan mereka di Fakultas Pertanian.(Sofyan)


    Baca juga: Siswa Kelas 1 SD Muhammadiyah PK Banyudono Belajar Mengolah Singkong melalui Fun Games, Tour and Cooking Class

     

    Siswa SMPN 8 Kota Surakarta tampilkan pertunjukan drama tari berjudul “Condrodimoko: Rise of Gathotkaca”. 

    Siswa SMPN 8 Kota Surakarta Tampilkan Drama Tari “Condrodimoko: Rise of Gathotkaca” di KREASSO 2026

    SURAKARTA — majalahlarise.com — Siswa SMP Negeri 8 Kota Surakarta turut memeriahkan Kreativitas Anak Sekolah Solo (KREASSO) 2026 melalui pertunjukan drama tari berjudul “Condrodimoko: Rise of Gathotkaca”. Pertunjukan tersebut memadukan seni drama dan tari dengan kisah pewayangan untuk mengenalkan nilai kepahlawanan dan budaya kepada generasi muda.

    Pertunjukan berlangsung di Terminal Tirtonadi Convention Hall, Surakarta, Selasa (22/9/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran di luar kelas yang diikuti siswa SMPN 8 Surakarta.

    Drama tari “Condrodimoko: Rise of Gathotkaca” mengangkat kisah pewayangan yang diawali dengan serangan Prabu Kala Pracana terhadap Kahyangan Suralaya. Serangan tersebut membuat para dewa kewalahan menghadapi kekuatan sang raja.

    Dalam situasi tersebut, Batara Guru mengutus Batara Narada untuk mencari seorang ksatria yang mampu mengalahkan Prabu Kala Pracana. Pilihan kemudian jatuh kepada Tetuka, bayi putra Bima dan Arimbi.

    Untuk mendapatkan kekuatan sakti mandraguna, Tetuka dimasukkan ke dalam kawah Candradimuka. Setelah melalui proses tersebut, Tetuka muncul sebagai ksatria tangguh dan mendapatkan nama Gathotkaca.

    Dalam pementasan siswa SMPN 8 Surakarta, perjalanan tersebut divisualisasikan melalui perpaduan adegan drama dan gerak tari. Gathotkaca kemudian tampil sebagai ksatria yang memiliki kekuatan untuk menghadapi Prabu Kala Pracana hingga berhasil mengalahkannya.

    Kepala SMP Negeri 8 Kota Surakarta, Sarjoko, menjelaskan kegiatan KREASSO memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperoleh pengalaman belajar di luar lingkungan sekolah. Selain menambah wawasan dan pengetahuan, kegiatan tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk mengenal sekaligus mengapresiasi berbagai bentuk seni dan kreativitas.

    “Kegiatan seperti ini memberikan pengalaman belajar yang berbeda bagi siswa. Mereka dapat menyaksikan secara langsung berbagai bentuk seni dan kreativitas sehingga wawasan serta pengalaman mereka semakin bertambah,” jelasnya.

    Sarjoko menjelaskan, pembelajaran di luar kelas melalui kegiatan seni seperti KREASSO juga dapat menjadi ruang bagi siswa untuk membangun pengalaman, kedisiplinan, serta apresiasi terhadap karya seni dan budaya.

    “Melalui pengalaman langsung, siswa tidak hanya belajar dari buku, tetapi juga melihat dan merasakan proses kreativitas dalam sebuah pertunjukan. Hal ini menjadi bagian dari pengalaman belajar yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan siswa,” lanjutnya.

    Sementara itu, Guru Pembina Radhian Wrahatnolo menyampaikan keikutsertaan SMPN 8 Kota Surakarta dalam KREASSO 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana cerita pewayangan dapat dikemas dalam pertunjukan yang menarik bagi pelajar. "Perpaduan drama dan tari membuat kisah Gathotkaca hadir dalam bentuk pertunjukan yang komunikatif dan sarat nilai budaya," terangnya.

    Kegiatan tersebut menjadi pengalaman bagi siswa untuk mengenal lebih dekat seni pertunjukan sekaligus menumbuhkan apresiasi terhadap kekayaan budaya Indonesia. (Sofyan)


    Baca juga: Siswa Kelas 1 SD Muhammadiyah PK Banyudono Belajar Mengolah Singkong melalui Fun Games, Tour and Cooking Class

    Siswa kelas 1 SD Muhammadiyah PK Banyudono mengikuti kegiatan Fun Games, Tour and Cooking Class di Singkong Keju Argotelo, Salatiga.


    Siswa Kelas 1 SD Muhammadiyah PK Banyudono Belajar Mengolah Singkong melalui Fun Games, Tour and Cooking Class

    SALATIGA — majalahlarise.com — Sebanyak 113 siswa kelas 1 SD Muhammadiyah PK Banyudono mengikuti kegiatan Fun Games, Tour and Cooking Class di Singkong Keju Argotelo, Salatiga. Rabu, 23 September 2026. Kegiatan tersebut didampingi sembilan guru pendamping.

    Kegiatan yang menjadi bagian dari Pembelajaran di Luar Kelas (PPL) tersebut dikemas secara edukatif dan menyenangkan. Para siswa diajak mengenal secara langsung proses pengolahan singkong sebagai salah satu bahan pangan lokal yang dikembangkan menjadi produk bernilai tambah melalui usaha rumahan.

    Tidak sekadar melihat proses produksi, siswa juga mendapat kesempatan mempraktikkan langsung cara mengolah singkong. Pengalaman tersebut memberikan ruang bagi siswa untuk belajar melalui aktivitas nyata sekaligus menumbuhkan rasa ingin tahu dan kreativitas.

    Melalui kegiatan tour dan cooking class, siswa dapat memahami bahwa bahan pangan sederhana seperti singkong dapat diolah menjadi berbagai produk yang menarik dan memiliki nilai ekonomi. Pembelajaran tersebut diharapkan semakin dekat dengan dunia anak sehingga lebih mudah dipahami dan diingat.

    Selain kegiatan tour dan cooking class, siswa mengikuti fun games yang dirancang untuk membangun kerja sama dan kebersamaan. Permainan tersebut sekaligus melatih kedisiplinan dan kemandirian siswa serta memperkuat ukhuwah Islamiyah antar siswa.

    Sembilan guru yang mendampingi kegiatan tersebut yakni Ust. Eka, Ust. Lian, Ust. Ikhah, Ust. Kharis, Ust. Rahma, Ust. Iis, Ust. Vinda, Ust. Lulux, dan Ust. Adit.

    Kepala SD Muhammadiyah PK Banyudono, Pujiono, mengatakan pembelajaran bagi siswa kelas 1 perlu dikemas melalui pengalaman yang dekat dengan dunia anak.

    “Anak-anak tidak hanya belajar melalui buku dan ruang kelas. Mereka juga perlu melihat, mencoba, dan mengalami secara langsung. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan menyenangkan,” ujarnya.

    Menurut Pujiono, pembelajaran di luar kelas juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar tentang kemandirian, kedisiplinan, kerja sama, dan ukhuwah melalui pengalaman nyata.

    “Harapannya, anak-anak pulang tidak hanya membawa oleh-oleh, tetapi juga membawa pengalaman, keterampilan, dan nilai-nilai kebaikan yang mereka dapatkan selama kegiatan,” pungkasnya. (Sofyan)


    Baca juga: SAMARU 2026 FISH Univet Bantara Kenalkan Lingkungan Akademik dan Prospek Kerja kepada Mahasiswa Baru

    Muhammad Fadli Rabbani, Gadang Akbar Sofyan Riskyananda, dan Rizky Achmad Ramadhan.


    Bareng Desainer 38 Negara, Karya Mahasiswa DKV ISI Surakarta Dipajang di Things That Almost Happened 2026

    SURAKARTA - majalahlarise.com - Tiga mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV), Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD), ISI Surakarta berhasil lolos kurasi dan memamerkan karya dalam ajang TTAH Things That Almost Happened 2026 - Virtual Exhibition yang digelar secara online di Irak.

    Pameran internasional tersebut dibuka mulai 15 September 2026. Karya mahasiswa DKV ISI Surakarta bersanding dengan 308 karya dari 202 peserta yang berasal dari 38 negara, di antaranya Belarus, Yunani, China, Kolombia, Mesir, India, Ekuador, dan Hungaria.

    Ketiga mahasiswa angkatan 2025 yang berhasil mengikuti pameran internasional tersebut yakni Muhammad Fadli Rabbani, Gadang Akbar Sofyan Riskyananda, dan Rizky Achmad Ramadhan. Ketiganya mengirimkan karya dalam kategori Desain Grafis yang kemudian dinyatakan lolos melalui tahapan kurasi.

    Muhammad Fadli Rabbani menampilkan karya berjudul Crossed Line. Melalui digital illustration, karya tersebut menggambarkan dua siluet manusia yang berjalan melintasi garis-garis diagonal seperti zebra cross dengan arah berlawanan. Visual tersebut menyimbolkan dua takdir yang saling bersimpangan tanpa pernah benar-benar menyatu.

    Sementara itu, Gadang Akbar Sofyan Riskyananda menghadirkan karya berjudul Start Now. Poster tersebut menggambarkan seseorang yang mendapatkan kesempatan, tetapi tidak segera mengambilnya ketika waktu terus berjalan. Kesempatan akhirnya berlalu dan meninggalkan orang tersebut.

    Pesan serupa juga disampaikan melalui karya Think It milik Rizky Achmad Ramadhan. Karya tersebut menggambarkan konsekuensi ketika seseorang tidak segera mengambil kesempatan yang datang. Waktu yang terus bergerak dapat membuat kesempatan berlalu sehingga kegagalan mendapatkan kesempatan tersebut bisa berasal dari keputusan diri sendiri.

    Dalam proses berkarya, ketiga mahasiswa mendapatkan pendampingan dari Basnendar Herry Prilosadoso, dosen Prodi DKV ISI Surakarta. Pendampingan dilakukan mulai dari pencarian ide, proses eksekusi, hingga penyelesaian karya.

    Rizky Achmad Ramadhan yang mewakili kedua rekannya menyampaikan rasa syukur atas kesempatan mengikuti pameran internasional tersebut.

    "Kami sangat bersyukur akhirnya bisa mengikuti pameran internasional dan lolos kurasi. Ke depannya kami berharap bisa mengikuti lebih banyak pameran untuk terus mengeksplorasi kemampuan kami," ungkap Rizky.

    Kepala Prodi DKV ISI Surakarta M Harun Rosyid Ridlo turut mendukung kiprah mahasiswa dalam berkarya dan mengikuti ajang internasional. Menurutnya, pencapaian tersebut dapat menjadi pengalaman sekaligus pemantik motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk berani mengembangkan karya dan mengikuti berbagai forum seni maupun desain di tingkat internasional.

    Keikutsertaan tiga mahasiswa DKV ISI Surakarta dalam TTAH Things That Almost Happened 2026 menunjukkan ruang bagi mahasiswa untuk mengembangkan gagasan visual sekaligus memperkenalkan karya mereka di tengah komunitas kreatif internasional.

    Pameran virtual tersebut dapat diakses secara online melalui laman TTAH Things That Almost Happened 2026 - Virtual Exhibition. (Sofyan)


    Baca juga: SAMARU 2026 FISH Univet Bantara Kenalkan Lingkungan Akademik dan Prospek Kerja kepada Mahasiswa Baru



    Komunitas Belajar KoSP Kembali Gelar Berbagi Praktik Baik, Bedah TKA Jadi Fokus Diskusi

    WONOGIRI - majalahlarise.com - Komunitas Belajar (Kombel) KoSP kembali menggelar kegiatan berbagi praktik baik antar kepala sekolah, Selasa (22/9/2026). Kegiatan yang berlangsung di SMP Negeri 1 Jatipurno tersebut menjadi ruang bagi para kepala sekolah untuk berbagi pengalaman, berdiskusi, sekaligus membahas berbagai persoalan dalam pengelolaan sekolah.

    Kombel KoSP terdiri atas kepala sekolah dari SMP Negeri 1 Baturetno, SMP Negeri 2 Baturetno, SMP Negeri 1 Giritontro, SMP Negeri 2 Giritontro, SMP Negeri 3 Jatisrono, SMP Negeri 1 Karangtengah, SMP Negeri 2 Slogohimo, dan SMP Negeri 1 Jatipurno.

    Kegiatan berbagi praktik baik tersebut digelar secara rutin setiap tiga bulan. Forum ini dimanfaatkan para kepala sekolah untuk saling bertukar pengalaman mengenai pengelolaan sekolah, perkembangan pendidikan, serta berbagai hal yang berkaitan dengan peningkatan kualitas layanan pendidikan.

    Kegiatan diawali dengan pembukaan dan ucapan selamat datang dari Suwarto, S.Pd., M.Pd., Kepala SMP Negeri 1 Jatipurno selaku tuan rumah.

    Selanjutnya, Cundoko, S.Pd., M.Pd., Kepala SMP Negeri 1 Baturetno, menyampaikan berbagai informasi terkait perkembangan pendidikan secara umum. Informasi tersebut menjadi bahan awal untuk memperkaya pembahasan dan diskusi antar anggota Kombel KoSP.

    Agenda inti kegiatan diisi dengan diskusi dan bedah Tes Kemampuan Akademik (TKA) yang disampaikan sekaligus dipandu oleh Anggit Joko Pratomo, S.Pd., M.Pd., Kepala SMP Negeri 3 Jatisrono.

    Dalam pemaparannya, Anggit Joko Pratomo mengupas hasil TKA yang dapat diakses melalui laman resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Para peserta diajak mencermati informasi hasil TKA serta mendiskusikan berbagai hal yang berkaitan dengan pemanfaatan data tersebut dalam konteks pendidikan.

    “Melalui forum ini, kita tidak hanya melihat hasil TKA, tetapi juga mencoba memahami informasi yang tersedia secara bersama-sama sehingga tidak terjadi perbedaan pemahaman dalam menyikapinya,” ujar Anggit Joko Pratomo.

    Diskusi berlangsung aktif. Para peserta secara proaktif menyampaikan pertanyaan, pendapat, dan pengalaman masing-masing. Perbedaan pandangan beberapa kali muncul dalam pembahasan, namun perdebatan berlangsung secara konstruktif hingga menemukan titik temu dan kesamaan persepsi.

    Forum berbagi praktik baik ini tidak hanya menjadi sarana bertukar informasi, tetapi juga memperkuat kolaborasi antar kepala sekolah dalam menghadapi berbagai perkembangan dan tantangan pendidikan.

    Kegiatan berakhir sekitar pukul 12.30 WIB dengan tercapainya kesamaan persepsi dan pemahaman para peserta mengenai TKA.

    Melalui kegiatan yang digelar secara berkala tersebut, Kombel KoSP terus mendorong budaya belajar bersama di kalangan kepala sekolah, sehingga pengalaman dan praktik baik dari satu sekolah dapat menjadi bahan pembelajaran bagi sekolah lainnya. (Sofyan)


    Baca juga: MTs Negeri 5 Wonogiri Raih Prestasi OMI 2026, Dean Juara 1 IPS Terintegrasi dan Siti Fatimah Harapan 3 IPA

    Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani membuka Kreativitas Anak Sekolah Solo (KREASSO) 2026 di Terminal Tirtonadi, Surakarta, Selasa (22/9/2026). 


    Wawali Astrid Widayani Buka KREASSO 2026, Gelorakan Seni Digital Anak Hebat Solo

    Solo - majalahlarise.com - Wakil Wali Kota Surakarta Astrid Widayani membuka Kreativitas Anak Sekolah Solo (KREASSO) 2026 di Terminal Tirtonadi, Surakarta, Selasa (22/9/2026). Tahun ini, KREASSO mengangkat tema “Gelorakan Seni Digital Anak Hebat Solo”.

    KREASSO 2026 menghadirkan 85 penampilan seni pelajar dan expo yang diikuti sekitar 20 peserta. Penampilan seni tersebut terdiri atas 29 peserta tingkat SD, 40 SMP, 12 SMA, serta empat sanggar seni.

    Peserta KREASSO 2026 tidak hanya berasal dari Kota Surakarta. Sejumlah pelajar dari luar Solo juga turut ambil bagian, salah satunya SMA Pradita Dirgantara. Beragam karya ditampilkan dalam kegiatan tersebut, mulai dari seni tradisi hingga karya kontemporer.

    Dalam sambutannya, Astrid mengatakan perkembangan teknologi digital perlu diikuti kemampuan anak dalam memanfaatkannya sebagai ruang berkarya. Teknologi tidak hanya digunakan sebagai sarana konsumsi informasi, tetapi juga dapat menjadi media untuk berkreasi dan menghasilkan karya positif.



    “Teknologi juga dapat menjadi ruang untuk berkreasi, berekspresi, berkarya, dan menghasilkan sesuatu yang positif. Karena itu, kemampuan menggunakan teknologi perlu berjalan bersama dengan kreativitas, karakter, dan kecintaan terhadap seni serta budaya,” kata Astrid.

    Menurut Astrid, KREASSO menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan mereka dalam menciptakan karya di tengah perkembangan teknologi digital. Pelajar didorong tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menghasilkan karya kreatif.

    “Melalui seni digital, anak-anak dapat menuangkan ide, imajinasi, dan gagasan dengan cara yang kreatif dan sesuai dengan perkembangan zaman,” ujarnya.

    Astrid juga meminta pelajar memanfaatkan KREASSO bukan sekadar untuk tampil maupun berkompetisi. Menurutnya, kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi pelajar untuk membangun kepercayaan diri, memperluas pertemanan, serta mendapatkan pengalaman baru.

    “Jangan takut untuk berkarya, jangan takut untuk mencoba hal baru, dan jangan takut untuk menunjukkan kreativitas kalian. Tidak harus selalu sempurna. Yang paling penting adalah berani berproses, berani berekspresi, dan terus belajar,” pesan Astrid.

    Pada pembukaan KREASSO 2026 juga dilakukan penyerahan karya dari MGMP Seni Budaya SMP Kota Surakarta oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Surakarta kepada Wakil Wali Kota Surakarta.

    Selain menjadi peserta pertunjukan, pelajar turut dilibatkan dalam penyelenggaraan KREASSO sebagai panitia, pembawa acara hingga liaison officer (LO). Keterlibatan tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran untuk melatih keberanian, kemandirian, kepemimpinan, komunikasi, serta kemampuan mengelola kegiatan.

    KREASSO merupakan agenda tahunan yang menjadi ruang ekspresi dan kreativitas pelajar di Kota Surakarta. Kegiatan ini tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga expo karya serta berbagai aktivitas kreativitas pelajar.

    Astrid berharap dukungan terhadap kreativitas pelajar tidak hanya datang dari sekolah, tetapi juga guru dan orang tua. Setiap anak memiliki potensi, bakat, dan cara masing-masing dalam berkarya sehingga perlu diberikan ruang untuk berkembang.

    “Kami ingin anak-anak Surakarta tumbuh menjadi generasi yang kreatif, percaya diri, adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus tetap memiliki karakter dan kecintaan terhadap seni dan budaya,” katanya.

    Sementara itu, Koordinator KREASSO 2026 Joko Susilo mengatakan antusiasme pelajar tahun ini cukup tinggi. Jumlah pendaftar bahkan melebihi kapasitas yang disiapkan panitia. Pendaftaran yang awalnya direncanakan ditutup pada 20 Agustus akhirnya ditutup lebih awal.

    Menurut Joko, proses kurasi dilakukan melalui Google Form dan pengumpulan video penampilan calon peserta. Setiap karya mendapat durasi maksimal 20 menit agar seluruh penampilan dapat terakomodasi dalam rangkaian kegiatan.

    KREASSO 2026 digelar di Terminal Tirtonadi dan terbuka gratis untuk masyarakat umum. Masyarakat dapat menyaksikan langsung beragam karya dan penampilan pelajar yang ditampilkan sepanjang kegiatan.

    KREASSO terus dikembangkan sebagai agenda kreativitas pelajar dari tahun ke tahun. Setiap penyelenggaraan menghadirkan tema dan konsep berbeda, sekaligus memberikan ruang bagi pelajar untuk menampilkan karya dan belajar terlibat langsung dalam pengelolaan kegiatan.

    Melalui KREASSO 2026, ruang ekspresi pelajar dipadukan dengan perkembangan teknologi digital. Seni, kreativitas, karakter, dan pengalaman berorganisasi menjadi bagian dari proses pelajar untuk terus berkembang dan menghasilkan karya.(Mas Is/ Sofyan)


    Baca juga: MTs Negeri 5 Wonogiri Raih Prestasi OMI 2026, Dean Juara 1 IPS Terintegrasi dan Siti Fatimah Harapan 3 IPA

    Tim angklung KJNI Kota Surakarta saat tampil di Solo Square.


    KJNI Kota Surakarta Perkuat Olahraga Masyarakat Lewat Harmoni Angklung

    SOLO - majalahlarise.com - Suasana berbeda terlihat di Solo Square, Selasa (22/9/2026). Di tengah aktivitas masyarakat, lantunan suara angklung terdengar berpadu dalam sebuah penampilan yang menghadirkan keceriaan sekaligus kekompakan.

    Para anggota Komunitas Jalan Nordik Indonesia (KJNI) Kota Surakarta tampil memainkan angklung. Bagi mereka, kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan bagian dari aktivitas komunitas yang menjadi ruang untuk bersilaturahmi, menjaga kebugaran, sekaligus menyalurkan kreativitas.

    Ketua KJNI Kota Surakarta, Dr. Ir. R. Ngt. Retno Setyowati, M.S., mengatakan penampilan angklung tersebut menjadi momentum membahagiakan bagi anggota setelah secara rutin berlatih dua kali dalam seminggu.

    Tim angklung KJNI Kota Surakarta kompak dan harmonis saat memainkan alat musik angklung.


    “Alhamdulillah sekali, hari ini merupakan happy day bagi kami karena bisa tampil penuh kekompakan,” ujar Retno.

    Kekompakan menjadi hal yang terasa dalam permainan angklung. Setiap anggota harus memainkan alat musik sesuai irama dan bagian masing-masing. Dari aktivitas sederhana tersebut tumbuh semangat kebersamaan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan komunitas.

    Bagi KJNI Kota Surakarta, olahraga masyarakat tidak selalu harus berlangsung dalam bentuk latihan fisik. Aktivitas seni dan budaya juga dapat menjadi ruang interaksi yang membuat anggota tetap aktif, kreatif, dan menikmati kebersamaan.

    Retno menjelaskan KJNI merupakan organisasi yang berada di bawah KORMI (Komite Olah Raga Masyarakat Indonesia) dan tetap menjalankan fokus kegiatan olahraga masyarakat, khususnya senam dan jalan nordik. Namun, aktivitas anggota kemudian berkembang dengan berbagai kegiatan lain seperti angklung, line dance hingga membaca pantun.

    Kegiatan tersebut memperlihatkan cara komunitas mengemas olahraga masyarakat menjadi aktivitas yang menyenangkan. Setelah bergerak menjaga kebugaran, anggota memiliki ruang untuk berekspresi melalui seni dan kreativitas.

    Tidak hanya mengembangkan kegiatan rutin, KJNI Kota Surakarta juga telah mendapatkan izin dari KORMI untuk menyelenggarakan perlombaan olahraga masyarakat. Konsepnya berbeda dengan kompetisi olahraga prestasi karena lebih diarahkan pada partisipasi, kebersamaan dan ketepatan dalam melakukan gerakan.

    “Lombanya dalam bentuk olahraga masyarakat, misalnya jalan beregu dan ketepatan serta ayunan stick nordik yang benar. Jadi tetap berada pada koridor olahraga masyarakat,” ungkap Retno.

    Bagi anggota KJNI, olahraga akhirnya tidak hanya tentang bergerak dan menjaga kondisi tubuh. Ada pertemanan, kegembiraan, seni dan kesempatan untuk terus aktif bersama.

    Melalui perpaduan olahraga, seni dan budaya, KJNI Kota Surakarta membangun suasana komunitas yang dinamis. Angklung menjadi salah satu medium yang mempertemukan gerak, irama dan kebersamaan sebuah cara sederhana untuk menjaga semangat hidup aktif sekaligus menikmati kebahagiaan bersama. Ketepatan dalam teknik gerakan ayunan stick nordik dan langkah nordik. (Sofyan)


    Baca juga: SAMARU 2026 FISH Univet Bantara Kenalkan Lingkungan Akademik dan Prospek Kerja kepada Mahasiswa Baru

    Dean Aprianto Wibowo berhasil menjadi Juara 1 IPS Terintegrasi, serta Siti Fatimah Azzahra meraih Juara Harapan 3 IPA Terintegrasi.


    MTs Negeri 5 Wonogiri Raih Prestasi OMI 2026, Dean Juara 1 IPS Terintegrasi dan Siti Fatimah Harapan 3 IPA


    Wonogiri - majalahlarise.com - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan peserta didik MTs Negeri 5 Wonogiri. Dua siswa madrasah tersebut berhasil meraih prestasi dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) Jenjang MTs Tahun 2026 tingkat Kabupaten Wonogiri.


    Dua prestasi tersebut diraih Dean Aprianto Wibowo yang berhasil menjadi Juara 1 IPS Terintegrasi, serta Siti Fatimah Azzahra yang meraih Juara Harapan 3 IPA Terintegrasi.


    Prestasi tersebut menjadi capaian positif bagi MTs Negeri 5 Wonogiri yang berlokasi di Tawangrejo, Pagutan, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri. Data resmi pendidikan Kemendikdasmen mencatat MTs Negeri 5 Wonogiri sebagai satuan pendidikan jenjang MTs berstatus negeri di bawah Kementerian Agama. 


    Keberhasilan Dean dan Siti Fatimah menunjukkan kemampuan siswa dalam mengikuti kompetisi akademik pada bidang yang berbeda. Dean berhasil menunjukkan kemampuan pada bidang IPS Terintegrasi, sedangkan Siti Fatimah berprestasi melalui bidang IPA Terintegrasi.


    OMI menjadi salah satu ajang yang memberikan ruang bagi siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan akademik, penalaran, serta kompetensi sesuai bidang yang dilombakan.


    Kepala MTs Negeri 5 Wonogiri, Umi Muslikhah, S.Ag., M.Pd menyampaikan capaian prestasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong siswa untuk terus mengembangkan potensi dan berani berkompetisi pada berbagai tingkatan.


    Sebelumnya, MTs Negeri 5 Wonogiri juga mencatat prestasi di bidang teknologi. Tim robotiknya meraih Juara 1 Madagascar Robotic Fair 2026 pada Mei lalu melalui tim yang salah satunya diperkuat Dean Aprianto Wibowo. 


    "Capaian tersebut memperlihatkan keberagaman potensi peserta didik MTs Negeri 5 Wonogiri, mulai dari bidang akademik hingga teknologi.


    "Prestasi Dean Aprianto Wibowo dan Siti Fatimah Azzahra di OMI 2026 diharapkan menjadi motivasi bagi siswa lainnya untuk terus belajar, mengembangkan kemampuan, serta mengukir prestasi sesuai minat dan bakat masing-masing," harapannya. (Sofyan)


    Baca juga: Lolos Kurasi Pameran Internasional, Karya Mahasiswa DKV ISI Surakarta Dipajang Bersama Karya dari 28 Negara


⬆
Top