Dari Layar Digital ke Ruang Pamer, Karya Mahasiswa DKV Hadirkan Tafsir Visual Budaya Indonesia

Print Friendly and PDF

Rektor Universitas Sahid Surakarta, Dr. Sri Huning Anwariningsih, S.T., M.Kom., saat membuka pameran mengangkat tema “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” sekaligus menjadi bentuk asesmen pengganti sidang Tugas Akhir.


Dari Layar Digital ke Ruang Pamer, Karya Mahasiswa DKV Hadirkan Tafsir Visual Budaya Indonesia

Surakarta - majalahlarise.com - Layar digital menyala di ruang Signature Coffee, STP Sahid Surakarta, Kamis (18/9/2026). Beragam visual budaya Indonesia hadir melalui karya lukisan digital mahasiswa Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Sahid Surakarta, Muhammad Praditya Arifian Zein, NIM 2022021027. Pameran tersebut mengangkat tema “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” sekaligus menjadi bentuk asesmen pengganti sidang Tugas Akhir.

Pameran menjadi bagian penting dari perjalanan akademik Praditya karena karya dan proses kreatifnya dapat disaksikan secara terbuka oleh sivitas akademika. Kegiatan dibuka Rektor Universitas Sahid Surakarta, Dr. Sri Huning Anwariningsih, S.T., M.Kom., serta dihadiri jajaran pimpinan Universitas Sahid Surakarta dan STP Sahid Surakarta bersama seluruh dosen Program Studi DKV Universitas Sahid Surakarta. Melalui pameran tersebut, proses akademik mahasiswa tidak hanya ditampilkan dalam bentuk presentasi, tetapi juga melalui karya visual yang dapat diapresiasi secara langsung.

Gagasan Praditya berangkat dari upaya memperkenalkan budaya Indonesia melalui komunikasi visual yang sesuai dengan perkembangan teknologi. Kereta api, arsitektur Surakarta, dan berbagai unsur budaya dipadukan dalam karya ilustrasi digital. Bentuk, warna, komposisi, karakter, serta teknik ilustrasi digunakan untuk menerjemahkan kekayaan budaya ke dalam bahasa visual generasi masa kini. 


“Melalui lukisan digital, saya mencoba menghadirkan budaya Indonesia dalam bentuk visual yang lebih dekat dengan perkembangan teknologi dan cara masyarakat menikmati karya visual saat ini,” ujar Praditya.

Karya yang dipamerkan tidak hanya menunjukkan hasil akhir Tugas Akhir, tetapi juga memperlihatkan proses kreatif di balik pembuatannya. Salah satu bagian pameran menampilkan video presentasi dan dokumentasi perjalanan pengerjaan karya, mulai dari pengembangan gagasan, eksplorasi visual, pengerjaan ilustrasi secara digital, hingga penyelesaian karya. Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk memahami proses pengambilan keputusan visual serta berbagai tahapan yang dilalui mahasiswa dalam menghasilkan sebuah karya desain.

Pameran juga memberikan pengalaman berbeda dalam pelaksanaan asesmen Tugas Akhir. Karya Praditya tidak hanya dipresentasikan di hadapan tim penguji dalam ruang sidang, tetapi dihadirkan dalam ruang yang memungkinkan sivitas akademika dan pengunjung melihat karya secara langsung. 

“Pameran ini menjadi ruang untuk menunjukkan karya, gagasan, proses, sekaligus kemampuan komunikasi visual secara lebih utuh,” kata Praditya.

Dalam konteks pendidikan DKV, kehadiran karya dalam ruang pamer memperlihatkan pentingnya proses kreatif dalam pembelajaran. Kemampuan mahasiswa tidak hanya terlihat dari hasil akhir, tetapi juga dari bagaimana gagasan dikembangkan, masalah desain dihadapi, kemudian diterjemahkan menjadi solusi visual. Pameran tersebut sekaligus membuka ruang pertemuan antara mahasiswa, dosen, pimpinan perguruan tinggi, dan pengunjung dalam satu ruang apresiasi serta evaluasi akademik.

Pameran Praditya juga memperlihatkan ruang pendidikan desain yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menunjukkan kompetensi melalui kekuatan kreatifnya. Sebagai mahasiswa autis, perjalanan akademiknya menjadi bagian dari proses pendidikan yang memberikan ruang bagi keberagaman cara belajar, berekspresi, dan berkarya. Namun, fokus pameran tetap berada pada karya dan pencapaian akademiknya sebagai mahasiswa DKV. Ada gagasan budaya yang diterjemahkan, proses kreatif yang ditampilkan, serta karya yang menjadi bukti perjalanan akademik.

Pameran “Lukisan Digital sebagai Media Komunikasi Visual Budaya Indonesia” menjadi penanda berakhirnya perjalanan Tugas Akhir Muhammad Praditya Arifian Zein sekaligus membuka kemungkinan bagi pengembangan karya selanjutnya. Lukisan digital dapat terus dikembangkan menjadi portofolio, ilustrasi, proyek desain, maupun media komunikasi budaya melalui berbagai platform digital. Dari layar komputer, tablet, telepon pintar hingga ruang pamer, budaya Indonesia menemukan kemungkinan bahasa visual baru. Di Signature Coffee, STP Sahid Surakarta, proses akademik ditutup melalui karya, sementara perjalanan kreatif berikutnya mulai terbuka. (Sofyan)


Baca juga: Wawali Astrid: Lomba Estafet UNSA Simbol Kebersamaan dan Keberlanjutan Antargenerasi


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top