Cegah Stunting dan Pernikahan Dini, Mahasiswa KKN UNS Gelar Program SEHATI di SMPN 2 Ngadirojo

Print Friendly and PDF



Cegah Stunting dan Pernikahan Dini, Mahasiswa KKN UNS Gelar Program SEHATI di SMPN 2 Ngadirojo

WONOGIRI – majalahlarise.com – Upaya pencegahan stunting dan pernikahan usia anak terus didorong melalui edukasi sejak usia remaja. Hal tersebut dilakukan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta Kelompok 273 melalui program SEHATI (Sehatkan Generasi, Hindari Stunting dan Pernikahan Dini) di SMP Negeri 2 Ngadirojo, Desa Ngadirojo Lor, Kabupaten Wonogiri, Selasa (21/7/2026).

Kegiatan tersebut menyasar 126 siswa-siswi kelas IX. Edukasi dirancang secara interaktif agar siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan mengenai kesehatan, tetapi juga memahami hubungan antara pola hidup sehat, kesehatan reproduksi, kesiapan menikah, dan pencegahan stunting.

Stunting dan pernikahan usia anak masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pencegahan stunting tidak dapat hanya dilakukan ketika seseorang sudah menjadi orang tua. Intervensi perlu dilakukan sejak remaja sebagai calon orang tua di masa depan.

Melalui program SEHATI, mahasiswa KKN UNS Kelompok 273 berupaya memperkenalkan pemahaman tersebut kepada siswa SMP. Remaja didorong untuk memiliki kesadaran menjaga kesehatan, memenuhi kebutuhan gizi, menghindari perilaku berisiko, melanjutkan pendidikan, serta mempersiapkan masa depan sebelum memasuki jenjang pernikahan.

“Pencegahan stunting perlu dimulai dari hulu. Remaja merupakan calon orang tua sehingga mereka perlu dibekali pengetahuan mengenai gizi, kesehatan reproduksi, pola hidup sehat, dan kesiapan dalam membangun keluarga,” jelas ketua tim KKN UNS Kelompok 273, Benediktus Bagus Nugroho Saputra.

Hubungkan Stunting dengan Pernikahan Dini

Program SEHATI mengangkat isu stunting dan pernikahan dini dalam satu rangkaian edukasi. Pendekatan tersebut dilakukan karena kedua persoalan memiliki keterkaitan dengan kesiapan seseorang dalam membangun keluarga.

Pernikahan pada usia terlalu muda dapat menghadapkan remaja pada berbagai persoalan. Selain belum siap secara psikologis dan ekonomi, remaja juga dapat menghadapi persoalan kesehatan reproduksi, termasuk risiko anemia dan kehamilan berisiko ketika memasuki masa kehamilan pada usia yang belum matang.

Ketidaksiapan tersebut dapat berpengaruh terhadap kemampuan pasangan muda dalam memenuhi kebutuhan kesehatan dan gizi keluarga. Karena itu, siswa diberikan pemahaman mengenai pentingnya merencanakan masa depan, menyelesaikan pendidikan, serta menunda pernikahan sampai memiliki kesiapan yang memadai.

Materi juga memberikan perhatian khusus kepada remaja putri. Pencegahan anemia menjadi salah satu bagian penting karena kondisi kesehatan remaja putri berkaitan dengan kesiapan mereka dalam memasuki fase kehidupan berikutnya.

Gandeng Forum GenRe Kabupaten Wonogiri

Untuk memperkuat materi dan pendekatan kepada peserta, mahasiswa KKN UNS Kelompok 273 menggandeng Forum Generasi Berencana (GenRe) Kabupaten Wonogiri.

Edukasi disampaikan oleh dua figur Duta GenRe Kabupaten Wonogiri 2025, yakni Nazahra Dhafin Shafa, Juara 3 Duta GenRe 2025, dan Monita Pradhipta Salma, Juara Favorit Duta GenRe 2025.

Kehadiran Duta GenRe diharapkan membuat penyampaian materi lebih dekat dengan karakter peserta yang berada pada usia remaja. Bahasa yang komunikatif dipadukan dengan aktivitas interaktif sehingga siswa tidak hanya menjadi pendengar.

Sejumlah materi yang diberikan mencakup gizi seimbang, Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kesehatan reproduksi, pentingnya pematangan usia pernikahan, serta pencegahan anemia pada remaja putri.

Peserta juga diberi ruang untuk bertanya dan menyampaikan pendapat. Sesi games interaktif serta diskusi kelompok berhadiah digunakan untuk membangun suasana belajar yang lebih menarik.

“Pendekatan interaktif kami gunakan agar siswa lebih mudah menerima materi. Kami ingin mereka tidak sekadar mengetahui istilah stunting atau pernikahan dini, tetapi memahami dampaknya dan mampu mengambil keputusan yang lebih baik untuk masa depan,” ungkap tim pelaksana.

Siswa Awalnya Pasif, Diatasi dengan Games

Pelaksanaan kegiatan tidak sepenuhnya berjalan tanpa kendala. Pada awal kegiatan, sebagian siswa masih terlihat pasif dan belum banyak berpartisipasi dalam sesi diskusi.

Tim KKN kemudian melakukan penyesuaian metode dengan memasukkan games interaktif dan diskusi kelompok yang disertai hadiah. Strategi tersebut secara bertahap mendorong siswa untuk lebih berani menjawab pertanyaan, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat.

Kendala teknis juga muncul pada tahap evaluasi. Tim sebelumnya merencanakan pelaksanaan post-test menggunakan Google Form. Namun, aturan sekolah melarang siswa membawa telepon genggam sehingga evaluasi berbasis perangkat digital tidak dapat dilakukan.

Kondisi tersebut tidak menghambat evaluasi. Tim KKN UNS segera mengganti metode dengan menggunakan lembar soal cetak secara manual.

Perubahan metode tersebut memungkinkan seluruh peserta tetap mengikuti evaluasi untuk mengukur tingkat pemahaman mereka setelah memperoleh materi SEHATI.

102 Siswa Lulus Indikator Keberhasilan

Hasil evaluasi menunjukkan capaian positif. Dari 126 siswa yang mengikuti kegiatan, nilai rata-rata post-test mencapai 85,24.

Sebanyak 102 siswa atau 80,95 persen berhasil memperoleh nilai di atas kriteria batas keberhasilan, yakni lebih dari 80. Sementara itu, 10 siswa berhasil mendapatkan nilai sempurna 100.

Capaian 80,95 persen tersebut melampaui target awal indikator keberhasilan program yang ditetapkan sebesar 80 persen.

Data tersebut menjadi salah satu indikator bahwa materi yang diberikan melalui program SEHATI dapat dipahami sebagian besar peserta. Metode edukasi yang memadukan penyampaian materi, games, diskusi, dan evaluasi juga menjadi bagian dari strategi untuk meningkatkan keterlibatan siswa.

“Dari hasil post-test, rata-rata nilai peserta mencapai 85,24 dan 102 siswa atau 80,95 persen melampaui batas keberhasilan. Capaian ini melebihi target yang ditetapkan sehingga menjadi evaluasi positif bagi pelaksanaan program,” jelas tim KKN UNS Kelompok 273.

Edukasi sebagai Investasi Generasi Masa Depan

Program SEHATI tidak diarahkan hanya sebagai kegiatan edukasi satu kali. Mahasiswa KKN UNS Kelompok 273 berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat menjadi bekal dalam mengambil keputusan terkait kesehatan dan masa depan.

Remaja diharapkan mampu memahami pentingnya menjaga pola makan bergizi, menerapkan PHBS, mencegah anemia, menjaga kesehatan reproduksi, serta menghindari keputusan menikah pada usia yang belum matang.

Selain itu, siswa didorong untuk memprioritaskan pendidikan dan pengembangan diri. Penyelesaian pendidikan dipandang sebagai salah satu modal penting bagi remaja untuk mempersiapkan kehidupan keluarga dan masa depan secara lebih baik.

Dukungan SMP Negeri 2 Ngadirojo menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program. Kolaborasi antara mahasiswa KKN, sekolah, dan Forum GenRe menunjukkan perlunya sinergi berbagai pihak dalam memberikan edukasi kesehatan kepada generasi muda.

Bagi mahasiswa KKN UNS, keterlibatan remaja dalam program pencegahan stunting menjadi langkah strategis. Edukasi yang diberikan sejak bangku SMP diharapkan dapat membentuk pola pikir dan kebiasaan sehat sebelum mereka memasuki fase dewasa.

Dengan pemahaman yang lebih baik, siswa diharapkan tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga kesehatan diri, menyelesaikan pendidikan, merencanakan masa depan, serta memiliki kesiapan fisik, mental, dan ekonomi sebelum membangun keluarga.

Pada akhirnya, program SEHATI menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa KKN UNS Kelompok 273 dalam mendukung lahirnya generasi Desa Ngadirojo Lor yang sehat, cerdas, berdaya, dan bebas dari risiko stunting sejak dari hulu. (Sofyan)


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top