Seni Jaranan dan Batik Carnival SMP Negeri 2 Giritontro Curi Perhatian di Karnaval HUT RI ke-81

Print Friendly and PDF

Ratusan siswa SMP Negeri 2 Giritontro tampil membawa beragam kreativitas, mulai dari pendidikan, kerohanian, seni, budaya, olahraga hingga kreasi inovatif yang sukses mencuri perhatian masyarakat.


Seni Jaranan dan Batik Carnival SMP Negeri 2 Giritontro Curi Perhatian di Karnaval HUT RI ke-81

WONOGIRI - majalahlarise.com - Karnaval Budaya dan Pembangunan Kecamatan Giritontro dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Selasa (18/8/2026), berlangsung meriah. Ratusan siswa SMP Negeri 2 Giritontro tampil membawa beragam kreativitas, mulai dari pendidikan, kerohanian, seni, budaya, olahraga hingga kreasi inovatif yang sukses mencuri perhatian masyarakat.

Barisan SMP Negeri 2 Giritontro tidak sekadar mengikuti iring-iringan karnaval. Para siswa menampilkan berbagai potensi yang dikembangkan di lingkungan sekolah. Beragam kostum dan atribut menghiasi barisan siswa yang tampil kompak dan penuh percaya diri hingga tiba di depan panggung utama.

Salah satu penampilan yang menjadi magnet perhatian masyarakat yakni Batik Carnival. Busana yang dikenakan para siswa merupakan hasil kreativitas dengan memanfaatkan bahan bekas, seperti plastik dan kertas, yang diolah menjadi kostum bernuansa batik.

Batik Carnival. Busana yang dikenakan para siswa merupakan hasil kreativitas dengan memanfaatkan bahan bekas, seperti plastik dan kertas, yang diolah menjadi kostum bernuansa batik.


Kostum tersebut tampil mencolok dengan desain yang unik. Para siswa yang menjadi pemeran berjalan percaya diri memperlihatkan detail busana hasil karya mereka. Kreativitas itu membuat sejumlah penonton mengabadikan penampilan melalui kamera telepon seluler, bahkan mengajak para pemeran berfoto bersama.

Kepala SMP Negeri 2 Giritontro, Retno Wulandari, S.Pd., M.Pd., mengatakan keikutsertaan dalam karnaval menjadi sarana bagi siswa untuk mengembangkan kreativitas sekaligus membangun karakter.

“Karnaval kali ini menjadi wadah bagi anak-anak untuk mengekspresikan kreativitas dan potensi yang mereka miliki. Tidak hanya dalam bidang seni dan budaya, tetapi juga bagaimana mereka mampu memanfaatkan barang bekas menjadi sebuah karya yang menarik dan memiliki nilai,” ujar Retno.

Menurut Retno, Batik Carnival menunjukkan pembelajaran dapat diwujudkan dalam bentuk karya nyata. Siswa tidak hanya mendapatkan pembelajaran secara teori, tetapi juga belajar merancang, membuat karya, bekerja sama, bertanggung jawab serta berani menampilkan hasil kreativitasnya di hadapan masyarakat.

Selain Batik Carnival, penampilan seni jaranan juga menjadi salah satu daya tarik SMP Negeri 2 Giritontro. Puluhan siswa tampil penuh semangat di depan panggung utama membawakan kesenian tradisional yang menjadi bagian dari kekayaan budaya lokal.

Jaranan dipilih sebagai media untuk mengenalkan sekaligus menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya daerah. Melalui penampilan tersebut, siswa mendapatkan pengalaman langsung dalam mempelajari, mengembangkan dan melestarikan seni tradisional.

Penampilan seni jaranan juga menjadi salah satu daya tarik SMP Negeri 2 Giritontro.


Suasana semakin semarak ketika siswa menampilkan seni oklik atau kotekan. Irama khas yang dihasilkan membuat kawasan sekitar panggung utama semakin hidup. Penampilan jaranan dan oklik disaksikan Forkopimcam Giritontro, tamu undangan serta masyarakat.

Koordinator Lapangan SMP Negeri 2 Giritontro, Marsudhi Wibowo, S.H., menjelaskan beragam penampilan tersebut memiliki tujuan utama memberikan ruang kepada siswa untuk berkarya sekaligus memperkuat kebersamaan.

“Selain beragam yang ditampilkan, ujungnya tetap satu, yaitu bagaimana anak-anak dapat menunjukkan kreativitas, kekompakan dan potensi yang mereka miliki. Kami ingin mereka berani tampil, percaya diri dan mampu memberikan sesuatu yang positif bagi masyarakat,” ungkap Marsudhi.

Ia menambahkan, keterlibatan siswa dalam karnaval memberikan pengalaman pembelajaran di luar kelas. Mereka belajar bekerja sama, disiplin, bertanggung jawab serta menghargai budaya yang berkembang di masyarakat.

Penampilan SMP Negeri 2 Giritontro memperlihatkan perpaduan antara kreativitas, seni tradisional, pendidikan karakter dan kepedulian terhadap lingkungan.

Batik Carnival menjadi bukti kreativitas siswa dalam mengolah bahan bekas menjadi busana bernilai estetika. Sementara jaranan dan oklik menjadi representasi kecintaan terhadap budaya lokal yang perlu terus diwariskan kepada generasi muda.

Kehadiran para siswa dalam Karnaval Budaya dan Pembangunan Kecamatan Giritontro akhirnya tidak sekadar menjadi bagian dari pawai peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut berubah menjadi panggung bagi siswa untuk menunjukkan potensi, kreativitas dan keberanian tampil di ruang publik.

Dari jaranan hingga Batik Carnival, dari oklik hingga berbagai atribut pendidikan dan kerohanian, siswa SMP Negeri 2 Giritontro membawa pesan penting: kreativitas, budaya dan kepedulian lingkungan dapat berjalan bersama untuk melahirkan generasi muda yang percaya diri dan berkarakter. (Syarif)


Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top