GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Penerapan Jembatan Bambu Modular Univet Bantara Dongkrak Akses Petani Desa Purwosari
![]() |
| Penyerahan Desain Jembatan oleh Ibu Rida kepada Bapak Kamto. |
Penerapan Jembatan Bambu Modular Univet Bantara Dongkrak Akses Petani Desa Purwosari
Wonogiri – majalahlarise.com – Hilirisasi hasil pertanian tidak hanya berkaitan dengan pengolahan produk, tetapi juga membutuhkan dukungan infrastruktur yang mampu memperlancar jalur logistik dari lahan produksi menuju pasar. Menjawab kebutuhan tersebut, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) Universitas Veteran Bangun Nusantara (Univet Bantara) Sukoharjo menerapkan teknologi Jembatan Bambu Modular Berbasis Rangka Batang Cremona bagi Kelompok Tani Timun Mas di Desa Purwosari, Kabupaten Wonogiri.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi menghadirkan teknologi tepat guna yang dapat menyelesaikan persoalan aksesibilitas masyarakat sekaligus mendukung peningkatan produktivitas dan perekonomian petani.
Kegiatan ini memperoleh pendanaan penuh dari Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia Tahun Anggaran 2026 melalui Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat.
Tim ahli Univet Bantara diketuai Rida Handiana Devi, S.S.T., M.Sc., M.T., dosen Teknik Sipil, bersama anggota Ir. Iwan Ristanto, S.T., M.T., dan Rahmatul Ahya, S.T., M.M. Program tersebut juga melibatkan mahasiswa dalam berbagai tahapan kegiatan.
Atasi Kendala Akses Lahan Pertanian
Desa Purwosari merupakan wilayah agraris dengan kondisi topografi bergelombang yang didominasi lahan pertanian kering dan tadah hujan. Kelompok Tani Timun Mas menjadi salah satu kelompok masyarakat yang aktif mengembangkan komoditas hortikultura.
.
![]() |
| Lokasi penelitian untuk proyek jembatan di Desa Purwosari, Wonogiri. |
Namun, aktivitas petani selama ini menghadapi persoalan akses transportasi, terutama ketika musim hujan. Sejumlah lahan produksi terpisah oleh alur sungai dan saluran irigasi sehingga menyulitkan mobilitas petani maupun pengangkutan hasil panen.
Sebelum jembatan dibangun, petani harus menggunakan titian bambu darurat yang licin atau mengambil jalur alternatif dengan jarak lebih jauh. Kondisi tersebut berdampak terhadap biaya angkut, waktu distribusi, hingga kualitas komoditas pertanian.
“Hadirnya jembatan modular ini dirancang secara khusus untuk memotong rantai logistik yang panjang tersebut, menurunkan biaya angkut, sekaligus menjamin keselamatan petani saat beraktivitas di sawah,” jelas Rida Handiana Devi.
Menurutnya, persoalan infrastruktur sederhana di tingkat desa dapat memberikan dampak cukup besar terhadap efisiensi kegiatan pertanian. Karena itu, teknologi yang diterapkan tidak hanya mempertimbangkan kekuatan struktur, tetapi juga kemudahan pembangunan dan pemeliharaan oleh masyarakat.
Manfaatkan Material Lokal
Jembatan yang dikembangkan memiliki panjang total 13 meter dengan bentang rangka utama 8 meter. Lebar dek lintasan mencapai 1,8 meter, sedangkan tinggi lengkung puncak sekitar 2 meter.
Material utama memanfaatkan potensi lokal berupa bambu petung atau bambu ori pilihan yang sebelumnya melalui proses pengawetan atau preservasi. Pemanfaatan material lokal menjadi bagian penting dalam konsep teknologi tepat guna yang dikembangkan tim Univet Bantara.
Inovasi lainnya terdapat pada sistem sambungan. Jembatan menggunakan pelat baja ringan dengan ketebalan 6 milimeter serta baut-mur mekanis tipe knock-down.
Sistem tersebut membuat komponen jembatan dapat dirakit, dibongkar, maupun diganti secara modular. Dengan demikian, masyarakat tidak bergantung pada alat berat ketika melakukan perawatan atau penggantian bagian tertentu.
Rangka Cremona Tingkatkan Efisiensi Struktur
Dari sisi rekayasa struktur, jembatan menggunakan konfigurasi rangka batang Cremona berbentuk lengkung atau arch-truss. Sistem tersebut dirancang untuk mendistribusikan beban melalui gaya aksial tarik dan tekan pada elemen rangka.
![]() |
| Idealisasi geometri rangka batang Cremona, bentang 8 m |
Berdasarkan simulasi awal dengan beban sebesar 5,5 kPa, lendutan maksimum di tengah bentang tercatat sekitar 10,64 milimeter. Hasil tersebut menunjukkan performa struktur yang dirancang untuk mendukung aktivitas mobilitas masyarakat, termasuk pejalan kaki, sepeda motor, serta gerobak pengangkut hasil pertanian.
Penerapan teknologi ini juga tidak berhenti pada pembangunan fisik. Tim PPM Univet Bantara melakukan pengukuran lapangan, penyusunan desain, persiapan material, hingga pendampingan dalam proses penerapan teknologi.
Keterlibatan warga menjadi bagian penting karena jembatan dirancang dengan prinsip mudah dirakit dan dirawat. Model tersebut diharapkan dapat meningkatkan kemandirian masyarakat dalam menjaga keberlanjutan infrastruktur.
Hilirisasi Riset untuk Masyarakat
Keberhasilan penerapan Jembatan Bambu Modular di Desa Purwosari menunjukkan potensi hilirisasi hasil riset perguruan tinggi untuk menjawab persoalan nyata di sektor pertanian.
![]() |
| Persiapan material; pasir, kerikil, semen dan tulangan untuk membuat jembatan. |
Teknologi yang lahir dari lingkungan akademik tidak berhenti pada konsep atau hasil penelitian, tetapi dapat diterapkan secara langsung untuk memperbaiki akses produksi, memperlancar distribusi, dan mendukung aktivitas ekonomi masyarakat.
Bagi Kelompok Tani Timun Mas, keberadaan jembatan diharapkan mampu memangkas waktu dan jarak tempuh pengangkutan hasil pertanian. Akses yang lebih baik juga membuka peluang bagi petani untuk meningkatkan efisiensi kegiatan produksi dan distribusi.
Sinergi antara dosen, mahasiswa, kelompok tani, dan masyarakat menjadi kekuatan utama dalam pelaksanaan program tersebut. Semangat gotong royong dipadukan dengan pendekatan rekayasa teknik sipil menghasilkan infrastruktur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga mempertimbangkan ketersediaan sumber daya lokal.
Program ini sekaligus menjadi contoh bagaimana teknologi tepat guna dapat dikembangkan sesuai karakteristik wilayah. Konsep jembatan modular berbahan bambu tersebut diharapkan dapat direplikasi di wilayah agraris lain yang memiliki persoalan serupa, sehingga hasil riset perguruan tinggi semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. (Sofyan)
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...





Tidak ada komentar: