GIVE RADIO IKOM UNIVET
Redaksi / Pemasangan Iklan
Total Tayangan Halaman
Pameran Seni Grafis “Tan Keno Kiniro” Ubah Limbah Sampah Jadi Karya Bernilai Seni Tinggi
Pameran Seni Grafis “Tan Keno Kiniro” Ubah Limbah Sampah Jadi Karya Bernilai Seni Tinggi
SOLO - majalahlarise.com - Seniman grafis Sigit Purnomo Adi menginisiasi Pameran Tunggal Seni Grafis bertajuk “Tan Keno Kiniro” yang mempertemukan disiplin seni grafis konvensional dengan realitas materialitas kontemporer, terutama limbah dan sampah plastik. Pameran ini mengajak publik memandang sampah bukan sebagai akhir dari fungsi utilitas, melainkan sebagai titik mula lahirnya impresi dan nilai estetika baru.
Di tengah laju konsumerisme yang terus menghasilkan residu visual dan ekologis, seni grafis dalam pameran ini ditantang untuk mendefinisikan kembali mediumnya. Teknik cetak tinggi atau relief print, cetak dalam atau intaglio, cetak saring (silkscreen), hingga teknik eksperimental monotipe tidak lagi semata menggunakan plat logam maupun papan kayu baru.
Berbagai material sisa seperti kardus bekas, kemasan plastik, limbah industri, lembaran karet sisa hingga kertas domestik dimanfaatkan sebagai matriks atau acuan cetak dan substrat penopang karya. Melalui pendekatan tersebut, karya-karya yang dipamerkan menghadirkan jejak material sekaligus narasi tentang kehidupan manusia dan lingkungan.
Kurator pameran sekaligus seniman mural, Bagus Nofianto, menjelaskan Pameran Tunggal “Tan Keno Kiniro” menawarkan tiga pendekatan konseptual. Pertama, Matriks Residu, yakni eksplorasi sampah anorganik keras seperti kaleng dan silet bekas yang ditoreh serta dikikis untuk menghasilkan detail garis puitis sekaligus getir.
“Kedua, Memori Material, yaitu penggunaan limbah kertas dan tekstil rumah tangga sebagai medium serap tinta yang membawa narasi domestik dan sejarah personal pemilik sebelumnya. Ketiga adalah Replikasi Ekologis, sebagai kritik visual terhadap replikasi sampah massal melalui teknik cetak saring yang mereproduksi ironi konsumsi modern secara berulang,” jelas Bagus.
Menurutnya, pameran tersebut bukan sekadar upaya romantisasi daur ulang atau upcycling, melainkan sebuah subversi estetik. Seni grafis berbasis limbah menjadi medium untuk merekam jejak zaman dan menghadirkan sebuah cetakan peradaban.
“Pameran ini mengingatkan kita bahwa apa yang kita buang tidak pernah benar-benar hilang. Jejaknya tetap membekas dan membentuk lanskap kehidupan kita hari ini,” ungkapnya.
Pameran “Tan Keno Kiniro” juga memiliki keterkaitan dengan Program Pengabdian kepada Masyarakat UNS SMART IN INCINERATOR Kebakan Sukoharjo yang diinisiasi oleh Ristu Saptono dan Getut Pramesti bersama tim. Kolaborasi tersebut bergerak dalam ranah seni rupa, terutama melalui proyek mural yang menjadi bagian dari transformasi lingkungan di Dukuh Kebakan.
Proyek mural tersebut dikerjakan oleh Sigit Purnomo Adi, Bagus Nofianto, Jefri Nur Sasongko, Bagas, Raditya Luthfi Saputra, Mizan Al Lathief, Artaste Firel Ardana, Muhammad Fachry Rasyad, dan Karithi Anggita Mukti. Karya mural tidak hanya menghadirkan nilai estetika, tetapi juga merekam sejarah pengelolaan sampah di Dukuh Kebakan.
“Dahulu sampah di wilayah Kebakan dibakar sehingga menghasilkan asap pekat dan berbahaya. Kini, melalui perubahan sistem pengelolaan sampah, lingkungan tersebut bertransformasi menjadi lebih bersih, asri dan sehat. Sejarah itu kemudian kami hadirkan dalam visual mural agar menjadi media edukasi bagi masyarakat,” kata Bagus.
Ia menilai keberadaan program incinerator dan pengembangan seni grafis berbasis limbah memiliki nilai penting bagi masyarakat Kebakan khususnya dan masyarakat secara umum. Kolaborasi antara teknologi, pengelolaan lingkungan dan seni rupa diharapkan mampu membangun kesadaran baru mengenai pentingnya mengolah limbah.
“Pameran dan mural ini mengajarkan kepada kita bahwa limbah yang semula dianggap berbahaya dan tidak bernilai dapat diolah menjadi produk seni yang bermanfaat serta memiliki nilai estetika tinggi. Seni dapat menjadi bahasa yang mudah diterima masyarakat untuk memberikan edukasi tentang lingkungan,” pungkasnya.
Pameran Tunggal Seni Grafis “Tan Keno Kiniro” menjadi ruang refleksi mengenai hubungan manusia dengan benda-benda yang ditinggalkan. Melalui jejak cetak, material residu dan bahasa visual, pameran ini menawarkan kesadaran bahwa sampah bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga bagian dari rekam jejak peradaban yang dapat dimaknai ulang melalui seni. (Sofyan)
Baca juga: Orang Tua Diimbau Perkuat Fondasi Religius Generasi Alpha di Era AI
Top 5 Popular of The Week
-
Noah Nexus Protocol, menggelar kegiatan HOPE (Happy Of Presentation) dengan tajuk “Solo Kuasai Masa Depan Lewat Teknologi Blockchain”. NOAH ...
-
TRADISI KROBONGAN Oleh: Aris Prihatin SMPN 1 Manyaran, Kecamatan Manyaran, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah Aris Prihatin Masyarakat J...
-
5 KOMPONEN PEMBELAJARAN BERDIFERENSIASI Oleh: Novi Astutik, S.Pd.SD SD Negeri 4 Wonogiri, Wonogiri Jawa Tengah Novi Astutik, S.Pd.SD ...
-
ICE BREAKING SALAM PANCASILA TINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR MENGGALI IDE PENDIRI BANGSA TENTANG DASAR NEGARA Oleh : Suheti Priyani, S.Pd Guru M...
-
Menikmati makan gendar pecel di Gazebo. Watu Plenuk Mutiara Wisata Perbatasan Weru–Ngawen yang Menyuguhkan Alam, Kuliner, dan Kedamaian Gunu...
-
PEMANFAATAN APOTEK HIDUP DI LINGKUNGAN SEKOLAH Oleh : Rosi Al Inayah, S.Pd Guru SMK Farmasi Tunas Harapan Demak, Jawa Tengah Rosi Al Inayah...
-
Rektor Univet Bantara Sukoharjo, Prof. Farida Nugrahani, M.Hum dan Bupati Wonogiri, Setyo Sukarno menunjukkan naskah penandatanganan kerjasa...
-
GENERASI KEDUA (LULUSAN) MASA CORONA Oleh: M. Nur Salim, SH. M.Pd Guru PPKn dan Kepala Sekolah SMK Kesehatan Cipta Bhakti Husada Yogyakarta ...
-
Warung Makan Sri Rejeki yang berada di Dusun Tandan, Desa Kepatihan, Kecamatan Selogiri, Wonogiri. Warung Sri Rejeki, Kuliner Pinggir Sawah ...
-
Kepala SMP Negeri 8 Surakarta, Triad Suparman, M.Pd beserta bapak ibu guru dan siswa foto bersama dengan karya tulisan kata-kata mutiara. ...


Tidak ada komentar: