Ketika Batik Tak Lagi Bergantung pada Matahari, PISN 2026 Perkuat Daya Saing Batik Sendang Mulyo

Print Friendly and PDF

Pelaksanaan Program bertajuk Penguatan Daya Saing UMKM Batik melalui Inovasi Motif dan Mesin Pengering Berbasis Teknologi Tepat Guna pada Kelompok Batik Sendang Mulyo.


Ketika Batik Tak Lagi Bergantung pada Matahari, PISN 2026 Perkuat Daya Saing Batik Sendang Mulyo

SUKOHARJO - majalahlarise.com – Tradisi membatik di Kelompok Batik Sendang Mulyo kini memasuki babak baru. Melalui Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) 2026, para perajin tidak hanya didampingi untuk melahirkan motif batik yang lebih inovatif, tetapi juga diperkuat dengan teknologi tepat guna dan transformasi digital guna meningkatkan daya saing usaha. Program bertajuk Penguatan Daya Saing UMKM Batik melalui Inovasi Motif dan Mesin Pengering Berbasis Teknologi Tepat Guna pada Kelompok Batik Sendang Mulyo tersebut berlangsung selama hampir satu bulan, mulai 2–30 Juli 2026.

Selama ini para perajin menghadapi kendala klasik, terutama saat musim hujan. Proses pengeringan kain batik yang masih bergantung pada sinar matahari membuat produksi melambat dan pengiriman pesanan sering tertunda. Di sisi lain, persaingan pasar menuntut inovasi motif sekaligus kemampuan memasarkan produk secara digital agar mampu menjangkau konsumen yang lebih luas.

Salah satu kegiatan utama adalah Workshop Desain Motif Batik Lombok Gendhayakan yang dipandu Evelyne Henny Lukitasari. Workshop mengajak para perajin menggali potensi cabai lokal lombok gendhayakan sebagai sumber inspirasi motif khas yang mencerminkan identitas daerah. Peserta diajak mengamati bentuk alami tanaman, memahami nilai filosofisnya, hingga mengolahnya menjadi pola batik yang memiliki ritme, keseimbangan, dan karakter visual yang kuat.



"Motif adalah wajah pertama sebuah batik. Ketika sebuah motif lahir dari kekayaan lokal, ia bukan hanya menjadi ornamen, tetapi juga menjadi identitas yang membedakan produk dengan daerah lain," jelas Evelyne Henny Lukitasari.

Selain inovasi desain, PISN 2026 juga membekali pelaku UMKM dengan kemampuan pemasaran digital melalui pelatihan penyusunan katalog digital yang dipandu Farid Fitriadi. Para peserta belajar menyusun katalog yang tidak hanya menampilkan foto produk, tetapi juga mengangkat cerita mengenai filosofi motif, proses pembuatan, serta keunikan Batik Sendang Mulyo sebagai nilai tambah produk.

"Pembeli sekarang ingin mengetahui cerita di balik produk. Katalog digital menjadi media yang mampu menjembatani produk dengan konsumennya," terang Farid Fitriadi.

Transformasi digital semakin diperkuat melalui pelatihan fotografi produk menggunakan telepon pintar yang dipandu Ahmad Khoirul Anwar. Peserta mempelajari teknik pencahayaan, komposisi, pemilihan latar belakang, hingga penyuntingan foto agar hasil produk tampil lebih profesional di berbagai platform digital tanpa harus menggunakan peralatan mahal.

"Sering kali keputusan membeli diawali dari foto yang menarik. Karena itu, visual menjadi investasi penting bagi UMKM," ujar Ahmad Khoirul Anwar.


Inovasi yang paling dirasakan manfaatnya oleh para perajin adalah hadirnya mesin pengering batik berbasis teknologi tepat guna yang dikembangkan di bawah koordinasi Erna Indriastiningsih. Mesin tersebut menjadi solusi atas persoalan pengeringan kain saat musim hujan sehingga proses produksi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cuaca.

"Kami ingin teknologi hadir untuk menjawab kebutuhan nyata UMKM. Mesin ini bukan sekadar alat, tetapi solusi agar proses produksi menjadi lebih efisien, kualitas tetap terjaga, dan produktivitas meningkat," jelas Erna Indriastiningsih.

Program PISN 2026 dipimpin Erna Indriastiningsih bersama tim yang terdiri atas Evelyne Henny Lukitasari, Farid Fitriadi, dan Ahmad Khoirul Anwar. Kolaborasi multidisiplin tersebut memadukan pengembangan desain motif, komunikasi visual, fotografi produk, pemasaran digital, hingga penerapan teknologi tepat guna sebagai upaya meningkatkan daya saing UMKM batik.

Melalui rangkaian pendampingan tersebut, Kelompok Batik Sendang Mulyo tidak hanya menghasilkan motif baru maupun teknologi baru, tetapi juga menumbuhkan optimisme bahwa batik tradisional tetap mampu berkembang di tengah perubahan zaman. PISN 2026 menunjukkan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan inovasi, sehingga warisan batik tidak hanya terjaga, tetapi juga semakin memberi nilai ekonomi bagi para perajinnya. (Sofyan)


Baca juga: Galeri Investasi UNISRI dan BEI Edukasi Warga Desa Brojol Lewat Sekolah Pasar Modal


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top