Grup Angklung KJNI Surakarta Ramaikan Musik Angklung Kolosal 12 Grup Se-Solo Raya

Print Friendly and PDF

Grup Angklung KJNI tampil dengan identitas pita berwarna hijau daun yang dipasang pada angklung.


Grup Angklung KJNI Surakarta Ramaikan Musik Angklung Kolosal 12 Grup Se-Solo Raya


SURAKARTA – majalahlarise.com – Grup Angklung KJNI (Komunitas Jalan Nordik Indonesia) Surakarta turut ambil bagian dalam perhelatan Musik Angklung Kolosal 12 Grup Angklung Se-Solo Raya yang digelar di kawasan Car Free Day (CFD) Ngarsopuro, Kota Surakarta, Minggu (9/8/2026). Kegiatan tersebut menjadi ruang bersama bagi komunitas angklung untuk memperkenalkan sekaligus melestarikan musik tradisional angklung kepada masyarakat.

KJNI tampil dengan identitas pita berwarna hijau daun yang dipasang pada angklung masing-masing pemain. Selain KJNI, setiap grup memiliki warna pita berbeda sebagai penanda identitas kelompok, sehingga penampilan 12 grup semakin semarak secara visual.

Pentas kolosal yang dimulai pukul 06.30 WIB tersebut melibatkan 12 grup angklung dengan total 381 pemain dari berbagai wilayah Solo Raya. Para peserta berasal dari sejumlah komunitas, di antaranya Angklung DWP UNS, Simponi Angklung Kiryani Mbah Wongso Soekarjo, Angklung PERPEN Bank Jateng Wilayah Surakarta, Angklung KJNI Solo, Angklung PMHK STIE Surakarta, serta kelompok angklung dari Boyolali, Karanganyar, dan Surakarta.

Ketua Grup Angklung KJNI Surakarta, Dr. Ir. R. Ngt. Retno Setyowati, M.S., menyambut positif kesempatan tersebut. Menurutnya, keterlibatan KJNI menjadi pengalaman berharga bagi anggota untuk belajar dan tampil bersama komunitas angklung lainnya. Meskipun baru menjalani satu bulan latihan setiap hari Senin siang para anggota tetap menunjukkan antusiasme mengikuti pentas kolosal.

“Kami sangat senang mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan ini. Meskipun kami baru satu bulan berlatih, kami tetap bisa mengikuti dan menjadi bagian dari kegiatan ini,” ujar Retno.

Grup Angklung KJNI Surakarta, pimpinan Dr. Ir. R. Ngt. Retno Setyowati, M.S saat foto bersama usai pertunjukan menghibur masyarakat di kawasan Car Free Day (CFD) Ngarsopuro Solo.


Menurut Retno, kegiatan bermusik secara bersama-sama memberikan pengalaman positif bagi anggota. Musik angklung tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga ruang kreatif yang dapat membangun kebersamaan, kepercayaan diri, dan semangat berkegiatan.

Retno juga berharap grup angklung dapat terus berkembang dan menjadi bagian dari kegiatan positif yang mendukung keberadaan komunitas. “Kita berharap grup angklung ini menjadi bagian dari KJNI, karena Komunitas Jalan Nordik Indonesia ada di dalamnya untuk kesehatan masalah jiwa dan raga maupun seni agar kita berkembang dalam hal yang sangat membuat kita baik-baik saja,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Pelaksana Musik Angklung Kolosal, Widiastuti Hartono, menjelaskan kegiatan tersebut menjadi pentas perdana musik angklung di kawasan CFD Kota Surakarta. Pemilihan ruang publik diharapkan membuat angklung semakin dekat dengan masyarakat dan tidak hanya dimainkan dalam lingkungan komunitas.

“Pentas musik Angklung Kolosal ini diikuti oleh 12 grup Angklung Se-Solo Raya yang melibatkan 381 pemain angklung,” ujar Widiastuti.

Widiastuti menjelaskan, kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum mempererat silaturahmi antar komunitas pencinta angklung. Masih terdapat sejumlah grup angklung di Surakarta dan wilayah Solo Raya yang belum bergabung dalam paguyuban. Karena itu, Dharma Wanita Persatuan UNS berupaya memprakarsai terbentuknya Paguyuban Pencinta Angklung Se-Solo Raya sebagai wadah silaturahmi dan penguatan gerakan pelestarian musik angklung.

“Semoga di waktu mendatang akan semakin banyak grup angklung yang bergabung, sehingga semangat pelestarian budaya ini semakin berkembang,” ungkapnya.

Rangkaian kegiatan diawali sesi persiapan sejak pukul 05.30 WIB berupa pemotretan masing-masing kelompok, pengecekan sound system, serta pengarahan oleh Coach Edhi. Pada pukul 06.30 WIB, kegiatan dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, doa, sambutan ketua penyelenggara, serta perkenalan masing-masing grup dan ketuanya.

Memasuki sesi pertunjukan, para pemain membawakan sejumlah lagu secara berkelompok maupun kolosal. Beberapa lagu yang masuk dalam rangkaian pentas di antaranya Hip Hip Hura, Suket Teki, Karanganyar Kemayoran, Anak Sekolah, Seperti Mati Lampu, Memakai Kacamata Hitam, You Raise Me Up, Taman Jurug, dan Cendol Dawet.

Widiastuti menyampaikan apresiasi kepada seluruh pelatih, panitia, komunitas peserta, dan pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan. Menurutnya, pentas di ruang publik seperti CFD menjadi langkah strategis untuk memperkenalkan angklung kepada masyarakat yang lebih luas.



“Saya berharap Paguyuban Angklung Se-Solo Raya semakin berkembang, semakin kompak, dan semakin banyak kelompok baru yang bergabung untuk bersama-sama melestarikan budaya bambu,” pungkasnya.

Pentas Musik Angklung Kolosal tersebut ditutup sekitar pukul 08.30 WIB. Kegiatan tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik, tetapi juga memperlihatkan semangat kebersamaan 12 komunitas dalam menjaga keberlanjutan seni musik tradisional angklung di Solo Raya. (Sofyan)


Baca juga: Perkuat Kerja Sama Internasional, UNISRI Kenalkan Domino Games untuk Pembelajaran Matematika di Thailand


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top