Dari Tembang Jawa ke Busana Menswear, Seniman Pascasarjana ISI Surakarta Hadirkan Kidung Rumeksa Ing Wengi

Print Friendly and PDF



Dari Tembang Jawa ke Busana Menswear, Seniman Pascasarjana ISI Surakarta Hadirkan Kidung Rumeksa Ing Wengi

SURAKARTA - majalahlarise.com - Warisan budaya Jawa kembali dihadirkan melalui bentuk seni kontemporer. Muhammad Abdulfattah AS, seniman sekaligus mahasiswa Pascasarjana Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta, menghadirkan enam karya busana menswear yang terinspirasi dari Kidung Rumeksa Ing Wengi dalam fashion show di Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta, Jumat (21/8/2026).

Enam karya tersebut masing-masing berjudul Ratri Khesema, Atma Shakti, Divya Rakshana, Atma Wibawa, Vahitra Cahya, dan Bija Sancara. Karya-karya itu dikembangkan berdasarkan interpretasi terhadap bait-bait Kidung Rumeksa Ing Wengi, dengan mengangkat gagasan tentang perlindungan, kekuatan, keselamatan, dan dimensi spiritual ke dalam motif, struktur visual, material, serta karakter busana menswear.

Abdulfattah tidak menerjemahkan tembang Jawa tersebut secara harfiah. Setiap bait dieksplorasi untuk menemukan simbol, karakter, bentuk, dan struktur visual yang kemudian diwujudkan melalui motif tenun dan batik tulis. Motif tenun digunakan sebagai elemen struktural sekaligus identitas visual, sedangkan batik tulis memperkuat simbol dan narasi pada permukaan busana.

“Kidung Rumeksa Ing Wengi tidak sekadar ditempatkan sebagai objek budaya yang dipelajari, tetapi diterjemahkan dari tembang menjadi bahasa visual melalui tenun, batik tulis, dan busana kontemporer,” demikian gagasan karya Abdulfattah yang tertuang dalam siaran pers.

Dalam proses penciptaannya, tenun dan batik tulis dipadukan dengan material Toyobo serta organza untuk membangun karakter menswear yang mempertemukan unsur tradisional dengan pendekatan desain kontemporer. Pengembangan karya juga dilengkapi aksesori berupa ikat penutup kepala berbahan Toyobo dan tenun melalui teknik pengikatan manual, serta sandal etnis dengan sistem tali lace-up ankle berbahan kulit sintetis.

Proses penciptaan dilakukan melalui tahapan eksplorasi, perancangan, dan perwujudan menggunakan metode penciptaan seni S.P. Gustami. Tahapan tersebut meliputi pengkajian Kidung Rumeksa Ing Wengi, eksplorasi visual dan material, pengembangan motif, perancangan busana, pembuatan tenun dan batik tulis, hingga konstruksi serta penyelesaian detail busana.

Karya ini juga membawa gagasan alih wahana, yakni memindahkan gagasan dari satu medium ke medium lain. Tembang yang semula hadir melalui medium verbal kemudian diterjemahkan menjadi motif tekstil dan busana. Pendekatan tersebut membuka ruang agar warisan budaya tidak hanya dipertahankan dalam bentuk aslinya, tetapi ditafsirkan kembali melalui bahasa seni yang relevan dengan kehidupan kontemporer.

Pemilihan Masjid Raya Sheikh Zayed Surakarta sebagai lokasi presentasi memberikan konteks tersendiri bagi karya tersebut. Ruang itu menjadi titik temu seni, budaya, desain, dan gagasan spiritual yang menjadi salah satu landasan penciptaan. Melalui fashion show, tubuh manusia, gerak, siluet, material, motif, dan detail busana dipadukan untuk menghadirkan interpretasi visual terhadap Kidung Rumeksa Ing Wengi.

Melalui enam karya menswear tersebut, Abdulfattah menawarkan cara baru dalam menghidupkan warisan budaya Jawa. Karya ini tidak berhenti pada pelestarian, tetapi berupaya menjadikan warisan budaya sebagai sumber kreativitas yang dapat dikenali, dikenakan, dan diapresiasi melalui pengalaman visual generasi masa kini. (Sofyan)


Baca juga: Gelar Karya "Shiboriku, Untukmu Indonesia” Warnai Penutupan Program PKW LKP Amalia


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top