SD Muhammadiyah 1 Solo Deklarasikan Sekolah Anti-Perundungan Saat MPLS

Print Friendly and PDF

 

Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo Sri Sayekti memimpin deklarasi Sekolah Anti-Perundungan bersama 112 murid baru saat kegiatan MPLS Tahun Ajaran 2026/2027 di Solo.


SD Muhammadiyah 1 Solo Deklarasikan Sekolah Anti-Perundungan Saat MPLS

Solo - majalahlarise.com – SD Muhammadiyah 1 Solo menegaskan komitmennya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, ramah anak, dan bebas dari perundungan melalui kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026/2027. Komitmen tersebut diwujudkan dengan deklarasi Sekolah Anti-Perundungan (Anti Bullying) yang digelar pada Kamis (16/7/2026) sebagai bagian dari pembentukan karakter murid sejak hari pertama masuk sekolah.

Kegiatan MPLS bertajuk "Belajar Gembira Anti Bully" diikuti 112 murid baru kelas I. Selama MPLS, para murid dikenalkan pada budaya positif sekolah sekaligus diajak memahami pentingnya saling menghargai, menyayangi teman, serta membiasakan perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta lingkungan belajar yang aman dan menyenangkan.

Kepala SD Muhammadiyah 1 Solo, Sri Sayekti, menjelaskan MPLS tidak sekadar mengenalkan lingkungan sekolah, tetapi menjadi fondasi awal pembentukan karakter peserta didik. Menurutnya, sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah, anak-anak perlu memahami sekolah sebagai tempat yang aman, menggembirakan, mencerahkan, dan bebas dari segala bentuk perundungan.

"Sejak awal masuk sekolah, anak-anak perlu mendapatkan pemahaman bahwa sekolah adalah tempat yang aman, menggembirakan, mencerahkan, dan bebas dari segala bentuk perundungan. Setiap siswa harus tumbuh dengan rasa percaya diri, saling menghormati, dan memiliki kepedulian terhadap sesama," ujar Sri Sayekti.

Ia menjelaskan, selama MPLS murid memperoleh pengenalan mengenai program pendidikan, sarana dan prasarana, tata tertib sekolah, serta budaya pembelajaran yang diterapkan di SD Muhammadiyah 1 Solo yang berlokasi di Jalan Kartini Nomor 1, Ketelan, Surakarta. Selain itu, peserta didik juga dikenalkan pada dimensi profil pembelajaran yang meliputi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.

"Pembelajaran di sekolah tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik, tetapi juga membentuk anak-anak yang memiliki integritas, empati, dan keterampilan yang dibutuhkan di abad ke-21," jelasnya.

Sebagai bagian dari pembiasaan karakter, murid mengikuti Gerakan Tujuh Kebiasaan Anak Indonesia Hebat (G7KAIH) yang meliputi bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat bergizi, gemar belajar, bermasyarakat, serta tidur cepat. Program tersebut diharapkan menjadi kebiasaan positif yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Melalui deklarasi Sekolah Anti-Perundungan, SD Muhammadiyah 1 Solo yang dikenal sebagai Sekolah Model Pembelajaran Mendalam berharap seluruh warga sekolah bersama-sama menjaga budaya yang inklusif, penuh kasih sayang, dan saling menghormati sehingga setiap anak dapat belajar dengan nyaman dan bahagia.

"Kami ingin menghadirkan sekolah yang membuat anak merasa dihargai, diterima, dan bahagia dalam belajar. Tidak ada tempat bagi bullying di sekolah kami," pungkas Sri Sayekti. (Sofyan)


Baca juga: PETAMU Hari Keempat, Santri PonpesMU Manafi'ul 'Ulum Dibekali Bahaya NAPZA dan Pencegahan Kenakalan Remaja


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top