REFLEKSI AL QURAN DALAM KOLABORASI PENDIDIKAN ANAK

Print Friendly and PDF

REFLEKSI AL QURAN DALAM KOLABORASI PENDIDIKAN ANAK


Oleh: Vina Virginia Hendrawati, S.Pd

Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 21 Kota Surakarta


Vina Virginia Hendrawati, S.Pd



       Pada awal tahun ajaran baru, anak-anak yang memasuki usia sekolah melaksanakan kegiatan yang Bernama MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah). Kegiatan ini bersamaan dengan program pemerintah yang Bernama GAMAS ( Gerakan Ayah Mengantar Anak di Hari Pertama Masuk Sekolah). Gerakan ini menjadi tamparan keras bagi fenomena “fatherless house” sebuah kondisi dimana ayah ada secara fisik, namun absen secara psikologis. Masyarakat Indonesia masih banyak yang terjebak pada pemikiran yang kolot seperti tugas ayah yang bekerja mencari uang sedang mengasuh anak adalah tugas ibu. Pembagian tugas dalam pengasuhan anak sampai saat ini menjadi perdebatan yang serius. Lantas siapa sih yang berhak dalam pengasuhan anak? Ibu, ayah atau guru di sekolah? Sebelum memberikan jawaban, silahkan pembaca terlebih dahulu merenungi pendapat saya tentang pengasuhan anak.

       Apakah Ibu berperan dalam pengasuhan anak? Jauh sebelum anak mengenal bangku sekolah, ibu menjadi sosok yang pertama kali anak kenal selama di rumah. Secara psikologis, ibu adalah sosok yang mengajarkan tentang kasih sayang , kelembutan, serta cara mengelola emosi. Peran ibu diidentikkan sebagai seorang Madrasatul Ula (sekolah utama) dalam penanaman karakter dan fondasi spiritual, seperti yang tertuang dalam QS Ali Imran ayat 35

إِذْ قَالَتِ ٱمْرَأَتُ عِمْرَٰنَ رَبِّ إِنِّى نَذَرْتُ لَكَ مَا فِى بَطْنِى مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّىٓ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلسَّمِيعُ ٱلْعَلِيمُ

Artinya: (Ingatlah), ketika isteri 'Imran berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui".

Dari ayat di atas bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang ibu harus memiliki visi, agar anaknya kelak menjadi hamba yang shaleh dan bermanfaat bagi agama sejak anak tersebut masih dalam kandungan.  

       Apakah Bapak hanya bertugas mencari nafkah? Menurut BKKBN, peran ayah bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga menjadi teladan, pelindung, pendidik serta mitra setara bagi ibu. Ayah dalam kehidupan berumah tangga berperan penting dalam membangun keharmonisan, kestabilan, dan kesejahteraan keluarga. Dalam ayat Al quran bahwasanya Alloh SWT sudah mengukuhkan bahwa tugas ayah sebagai pemimpin, sekaligus benteng pertama dalam membentuk akidah dan mental anak. Al-Qur'an juga mengabadikan keteladanan pengasuhan melalui nasihat Luqman kepada putranya.

 Allah Swt. berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, 'Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.'" (QS. Luqman [31]: 13).

Ayat ini menunjukkan bahwa pendidikan sejatinya dimulai dari dialog, keteladanan, dan kedekatan orang tua dengan anak. Luqman tidak hanya memberi perintah, tetapi juga menghadirkan komunikasi yang penuh kasih sayang. 

      Seberapa penting guru dalam mendidik anak? Tujuan utama guru di sekolah bukan hanya sekedar mengajar, tetapi juga membentuk karakter, membimbing, dan mengembangkan potensi peserta didik. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua akan membantu memahami kebutuhan anak secara menyeluruh. Sejalan dengan teori konseling yang dikembangkan oleh Carls Rogers yaitu Person-Centered Counseling. Inti dari konseling ini adalah setiap individu memiliki potensi bawaan untuk berkembang, menyembuhkan diri sendiri, dan mencapai aktualisasi diri jika berada dalam lingkungan yang tepat. Dalam pendekatan ini, guru yang bertindak sebagai konselor berperan sebagai fasilitator yang menyediakan iklim psikologis yang aman agar konseli dapat memahami diri mereka sendiri. 

      Gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah seyogianya tidak dipahami sebagai agenda seremonial tahunan. Gerakan ini perlu dimaknai sebagai momentum membangun kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Ayah memperkuat kehadiran dan keteladanan, ibu menumbuhkan kasih sayang dan ketangguhan, sedangkan guru mengembangkan ilmu pengetahuan dan karakter. Ayah, ibu, dan guru menjadi benteng utama dalam membimbing anak agar mampu menggunakan kemajuan zaman secara bijaksana.




Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top