Membangun Wellbeing Siswa Broken Home Melalui Pendekatan Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Bimbingan Konseling

Print Friendly and PDF

Membangun Wellbeing Siswa Broken Home Melalui Pendekatan Al-Islam Kemuhammadiyahan dan Bimbingan Konseling


Oleh: Misi Kamia Wati, S.Pd.

Mahasiswa S2 Uniiversitas Ahmad Dahlan Yogyakarta


Misi Kamia Wati, S.Pd.



       Fenomena keluarga broken home bukan lagi persoalan yang asing di lingkungan pendidikan. Banyak siswa broken home mengalami kesedihan, kecemasan, rasa tidak berharga, kesulitan mengendalikan emosi, hingga kehilangan motivasi belajar. Dalam konteks inilah, pendidikan tidak cukup hanya berfokus pada pencapaian nilai, tetapi juga harus hadir sebagai ruang pemulihan dan penguatan jiwa Ilmu Bimbingan Konseling (BK) memiliki peran penting dalam membantu siswa mencapai kesejahteraan psikologis. Integrasi antara ilmu BK dan AIK dapat menjadi kekuatan besar dalam mendampingi siswa broken home, karena tidak hanya menyentuh aspek psikologis, tetapi juga spiritual dan moral. Dalam perspektif Islam, setiap manusia memiliki kemuliaan yang tidak bergantung pada kondisi keluarganya. Allah SWT, berfirman: “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (QS. Al-Isra’: 70).

       Ayat ini memberikan pesan bahwa siswa yang berasal dari keluarga broken home tetap memiliki martabat yang sama di hadapan Allah. Pendekatan BK modern, khususnya Cognitive Behavioral Therapy (CBT), menekankan bahwa pikiran memengaruhi perasaan dan perilaku. Ketika siswa terus-menerus memikirkan bahwa dirinya tidak berharga, maka ia akan merasa sedih, menarik diri, dan kehilangan semangat belajar. Menariknya, prinsip ini sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya menjaga prasangka dan pikiran. Rasulullah saw, bersabda: “Jauhilah prasangka, karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

      BHadis tersebut dapat dimaknai bahwa pikiran negatif yang tidak berdasar dapat merusak kondisi batin seseorang. Dalam layanan BK berbasis AIK, konselor dapat membantu siswa mengidentifikasi pikiran negatifnya, kemudian menggantinya dengan keyakinan yang lebih sehat dan sesuai ajaran Islam. Konsep wellbeing dalam BK mencakup kemampuan menerima diri, memiliki hubungan positif dengan orang lain, memiliki tujuan hidup, serta mampu mengelola emosi. Islam sebenarnya telah mengajarkan fondasi wellbeing melalui konsep sakinah, thuma’ninah, dan tawakal. Allah berfirman: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28). Ayat ini menunjukkan bahwa ketenangan batin merupakan bagian penting dari kesejahteraan manusia. Siswa broken home sering mengalami kegelisahan karena merasa hidupnya tidak aman. 

       Oleh karena itu, layanan BK tidak cukup hanya memberikan nasihat umum, tetapi perlu membimbing siswa menemukan sumber ketenangan yang lebih dalam, yaitu kedekatan dengan Allah. Praktik sederhana seperti doa, dzikir, membaca Al-Qur’an, dan refleksi diri dapat menjadi bagian dari strategi konseling yang membantu menurunkan kecemasan dan meningkatkan rasa aman. Nilai Kemuhammadiyahan juga relevan dalam pendampingan siswa broken home. Muhammadiyah menekankan gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang diwujudkan melalui pelayanan kemanusiaan dan pendidikan. Artinya, sekolah Muhammadiyah harus menjadi tempat yang ramah bagi siswa yang sedang mengalami masalah keluarga. Guru BK, wali kelas, guru mata pelajaran, dan teman sebaya perlu membangun budaya empati, bukan stigma. Melalui AIK mengajarkan bahwa setiap ujian hidup memiliki hikmah dan peluang pertumbuhan. Allah berfirman: “Karena sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6).

      Ayat ini penting untuk membangun harapan pada diri siswa. Banyak tokoh besar lahir dari keluarga yang tidak ideal, tetapi mampu berkembang karena memiliki dukungan sosial dan keyakinan diri. Konselor dapat membantu siswa menyusun tujuan hidup, mengenali potensi diri, dan merencanakan masa depan. Dengan demikian, siswa tidak terjebak pada masa lalu keluarganya, tetapi bergerak menuju masa depan yang lebih baik. Menurut saya, tantangan terbesar pendidikan saat ini bukan hanya meningkatkan prestasi akademik, tetapi memastikan setiap siswa merasa aman, dihargai, dan memiliki harapan. Siswa broken home sering hadir di kelas dengan luka yang tidak terlihat. Mereka mungkin tersenyum, tetapi menyimpan kecemasan tentang rumahnya. Jika sekolah hanya menilai dari nilai rapor dan kedisiplinan, maka banyak penderitaan siswa yang tidak pernah tersentuh.

       Karena itu, integrasi Al-Islam Kemuhammadiyahan dengan ilmu Bimbingan Konseling perlu diperkuat secara nyata. BK berbasis AIK bukan sekadar menambahkan ayat atau hadis dalam sesi konseling, tetapi menghadirkan pendekatan yang memandang manusia secara utuh: sebagai makhluk psikologis, sosial, dan spiritual. Pada akhirnya, kesejahteraan siswa broken home bukan hanya tanggung jawab guru BK, melainkan tanggung jawab seluruh komunitas sekolah. Ketika sekolah mampu menjadi rumah kedua yang penuh kasih, maka banyak siswa yang semula merasa hancur dapat kembali bangkit. Pendidikan yang berlandaskan AIK dan didukung ilmu BK memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga tangguh, beriman, dan memiliki kesejahteraan psikologis yang baik meskipun berasal dari latar belakang keluarga yang tidak sempurna.


Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top