ISI Surakarta dan Universitas AUB Perkuat UMKM Gerabah Melikan Bayat melalui Inovasi Desain dan Pemasaran Digital

Print Friendly and PDF

 

Tim PISN ISI Surakarta memberikan pendampingan inovasi desain dan pemasaran digital kepada perajin AI Gerabah di Desa Melikan, Klaten.


ISI Surakarta dan Universitas AUB Perkuat UMKM Gerabah Melikan Bayat melalui Inovasi Desain dan Pemasaran Digital

Klaten - majalahlarise.com – Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta bersama Universitas AUB Surakarta memperkuat pelestarian gerabah tradisional khas Bayat melalui program pendampingan bagi pelaku UMKM di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten. Program yang dilaksanakan Tim Program Inovasi Seni Nusantara (PISN) ini berfokus pada inovasi desain produk, peningkatan kualitas produksi, diversifikasi produk, serta penguatan pemasaran digital guna meningkatkan daya saing gerabah tradisional tanpa meninggalkan nilai budaya yang diwariskan secara turun-temurun.

Gerabah Melikan dikenal sebagai salah satu warisan budaya khas Bayat yang masih mempertahankan teknik putaran miring (tilting wheel), teknik pembuatan gerabah yang telah diwariskan selama ratusan tahun dan menjadi identitas budaya masyarakat setempat. Keunikan tersebut menjadikan gerabah Melikan memiliki nilai sejarah, seni, sekaligus potensi ekonomi yang besar.

Meski demikian, para perajin masih menghadapi berbagai tantangan. Produk yang dihasilkan umumnya masih berdesain konvensional, proses produksi dilakukan secara tradisional, sedangkan pemasaran masih didominasi penjualan melalui pengepul. Kondisi tersebut menjadi tantangan di tengah perubahan selera konsumen yang semakin mengutamakan desain menarik, fungsi produk, dan kemudahan berbelanja secara digital.

Ketua Tim PISN ISI Surakarta, Eko Sri Haryanto, menjelaskan pelestarian budaya memerlukan inovasi agar tetap mampu mengikuti perkembangan zaman sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

"Program ini merupakan wujud nyata komitmen perguruan tinggi dalam mendukung pelestarian seni tradisi sekaligus memperkuat kapasitas UMKM berbasis budaya lokal. Gerabah Melikan bukan hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga melalui inovasi desain, peningkatan kualitas produk, dan penguatan pemasaran sehingga mampu menjawab kebutuhan pasar tanpa kehilangan identitasnya," jelas Eko.

Ia menambahkan, teknik putaran miring yang masih dipertahankan para perajin Melikan merupakan kekayaan budaya yang sangat langka di Indonesia. Teknik tersebut berkembang dari tradisi perempuan pembuat gerabah di kawasan Bayat sejak ratusan tahun silam dan menjadi pembeda utama dibandingkan sentra gerabah lainnya.

Program pendampingan menggandeng AI Gerabah, usaha milik Alim Miyanto, sebagai mitra utama. Usaha yang berdiri sejak 2008 tersebut masih memproduksi berbagai gerabah tradisional seperti pot bunga, kendi, cobek, vas, hingga peralatan rumah tangga menggunakan teknik putaran miring dan proses pembakaran tradisional berbahan bakar kayu.

Melalui pendampingan PISN, para perajin memperoleh pelatihan eksplorasi desain sesuai tren pasar, pengembangan produk dekorasi dan interior, peningkatan kualitas produksi, dokumentasi visual produk, branding, serta pemanfaatan media sosial dan marketplace sebagai sarana promosi dan pemasaran.

Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk gerabah sehingga tidak hanya dipasarkan sebagai produk setengah jadi, tetapi berkembang menjadi produk kriya bernilai tinggi yang mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

Saat ini AI Gerabah memproduksi sekitar 150 hingga 200 unit gerabah setiap bulan. Melalui inovasi desain dan penguatan pemasaran digital, tim pendamping menargetkan peningkatan omzet sekitar 20–40 persen sekaligus memperluas jaringan pemasaran bagi para perajin.

Pemilik AI Gerabah, Alim Miyanto, mengaku memperoleh banyak manfaat dari program pendampingan tersebut.

"Kami sangat senang dengan adanya program ini. Selama ini kami memiliki kemampuan membuat gerabah, tetapi masih membutuhkan pendampingan dalam pengembangan desain dan pemasaran digital. Kami berharap gerabah Melikan semakin dikenal masyarakat luas, memiliki nilai jual yang lebih tinggi, dan mampu meningkatkan kesejahteraan para perajin," ungkap Alim.

Kolaborasi ISI Surakarta dan Universitas AUB Surakarta menjadi wujud sinergi perguruan tinggi dalam mendukung pengembangan ekonomi kreatif berbasis budaya. Melalui inovasi yang tetap berpijak pada kearifan lokal, gerabah tradisional khas Bayat diharapkan terus lestari, berkembang menjadi produk unggulan Indonesia, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat perajin di Desa Melikan. (Sofyan)


Baca juga: Koyem, S.Pd, M.Si Kembali Pimpin SMA Veteran 1 Sukoharjo Periode 2026–2030, Siap Perkuat Karakter dan Keterampilan Siswa



Tidak ada komentar:

Write a Comment


Top